Happy reading..

.

Beautiful Accident

By liJunYi

.

.

EXO fanfiction - Official Couple - GS for uke

ChanBaek

.

.

Ini sudah kesekian kalinya Baekhyun masuk rumah sakit selama ia mengandung dan Jongdae seolah tak merasa terkejut saat mendapati Chanyeol yang berlari mendatangi ruang ICU dengan Baekhyun di gendongannya. Meski tak lama menjadi dokter, Jongdae selalu tanggap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Bahkan ia terlanjur hafal dengan kondisi tubuh Baekhyun karena terlalu sering menanganinya.

"Apa dia gadis yang waktu itu?"

Jongdae menoleh sejenak saat mendapati suara Minseok yang bertanya padanya. Jongdae mengangguk kecil lalu kembali fokus pada pekerjaannya.

"Apa yang terjadi dengannya?"

"Ia mengalami hipotermia," Jongdae berujar pendek seraya menyuntikkan sesuatu di lengan Baekhyun. Tubuh gadis itu memang sangat dingin, bahkan dibawah temperatur normal manusia. Kondisi itu tentu tidak baik untuknya dan kandungannya.

Minseok mengangguk mengerti lalu mulai membantu Jongdae, tangannya bergerak menekan lembut sisi perut buncit Baekhyun dan beberapa kali menempelkan stetoskopnya di sana.

.

Chanyeol duduk di depan ruang ICU dengan cemas. Beberapa kali rambutnya ia acak dengan kesal dan matanya tak lepas dari pintu ICU yang baru saja dimasuki Baekhyun. Entah sebesar apa penyesalannya saat ini, namun Chanyeol merasa benar-benar seperti sudah menghancurkan hidupnya.

Kyungsoo dan Jongin datang tak lama kemudian. Mereka kini hanya bisa menunggu dengan cemas.

Pintu ICU mulai terbuka dan satu-persatu dari mereka seketika berdiri dan mneghampiri Jongdae yang keluar bersama Minseok. Keduanya tampak tak menunjukkan senyum membuat mereka yang menunggu seketika menahan nafas. Chanyeol menjadi sosok yang paling merasa takut saat ini.

"Baekhyun baru saja mengalami hipotermia," Jongdae mulai menjelaskan secara perlahan dan menatap satu per satu sosok di depan ruangan itu sekilas. "Hal itu membuat aliran darah di tubuhnya tidak normal, begitu juga dengan detak jantungnya,"

"Kami sudah berhasil menormalkan suhu tubuhnya sekarang begitu pula dengan detak jantungnya, namun untuk kondisi janinnya," Minseok melanjutkan penjelasan Jongdae dan menjeda sejenak. "Detak jantung mereka sangat lemah. Kami harus melihat kondisi mereka selama 24 jam ke depan untuk memutuskan langkah selanjutnya,"

"Langkah apa maksud dokter?" Chanyeol bertanya dengan tidak sabar, sedangkan Kyungsoo sudah mulai menangis di pelukan Jongin. Meski mereka tak paham dengan penjelasan Minseok seluruhnya namun mereka tau jika itu bukanlah kabar yang baik.

"Apakah janinnya harus dikeluarkan dengan paksa atau tidak," ucapan Jongdae itu membuat tubuh Chanyeol semakin melemah.

Bayinya. Bayi mereka. Anak kembar mereka.

Ia sudah melukai mereka secara tidak sengaja.

"Tapi kami akan tetap berusaha semaksimal mungkin agar kedua janinnya dapat bertahan, karena itu tetaplah berdoa untuk keselamatan mereka,"

Jongdae dan Minseok segera memasuki ruang Icu itu kembali setelah memberi penjelasan. Baekhyun memang harus menempati ruang ICU selama seminggu ke depan agar kondisinya terus terkontrol dengan maksimal.

"Ini semua karena kau, oppa. Jika kau tidak membuatnya salah paham, Baekhyun tidak akan seperti ini," Kyungsoo menatap marah pada Chanyeol dengan wajahnya yang basah, seolah tidak peduli dengan kondisi Chanyeol yang tidak bisa juga dikatakan baik. Lelaki itu terduduk di bangku dengan pandangannya yang kosong.

Ibu Chanyeol datang tak lama kemudian dengan wajah yang tak kalah khawatir.

"Apa yang terjadi, Chanyeol? Mengapa Baekhyun bisa masuk rumah sakit?"

Pertanyaan itu menggantung beberapa saat. Tak ada di antara mereka yang berniat untuk menjelaskan kabar buruk yang terjadi.

"Ada apa? Kenapa tak ada yang menjawab?" Sang Nyonya Park semakin tak sabaran, kini beralih menatap Kyungsoo dan Jongin yang duduk tak jauh dari Chanyeol.

"Kami tak bisa menjelaskan panjang lebar, Bibi. Tapi kondisi Baekhyun saat ini tidak baik,"

Wanita paruh baya itu menghela nafas kasar.

"Apa yang terjadi pada Baekhyun sebenarnya? Pernikahan kalian sebentar lagi tapi dia justru bersikap ceroboh seperti ini,"

"Ibu, ini bukan salahnya. Ini salahku," Chanyeol akhirnya menjawab dengan suara lirih yang terdengar serak.

"Iya, ini salahmu, oppa! Ini salahmu karena bertemu dengan Luhan di belakang Baekhyun!" Kyungsoo menyela dengan nada marah di sela isak tangisnya.

"Luhan?" Alis Nyonya Park menyatu mendengar nama yang tak asing baginya itu. "Kau masih sering menemuinya?"

Chanyeol menggeleng lemah, merasa ingin membela diri namun lidahnya seolah tak punya kekuatan. Rasa khawatirnya pada Baekhyun lebih menguasainya sekarang.

"Jawab Eomma, Chanyeol. Kau masih berhubungan dengan Luhan?" sang ibu bertanya dengan tidak sabar, membuat Chanyeol akhirnya memutuskan untuk berdiri dari duduknya.

"Aku tak akan menjawab apapun, Eomma. Karena eomma pasti tak akan pernah mengerti," lelaki jangkung itu akhirnya berjalan menjauh, meninggalkan sang ibu yang berdecak dengan diliputi rasa marah.

Dan Jongin pun pada akhirnya memilih turun tangan untuk sahabatnya. Lelaki itu merasa menjadi sosok yang paling berpikiran jernih saat ini.

"Chanyeol sudah lama tidak berhubungan lagi dengan Luhan, saya rasa ini hanya salah paham. Dan Chanyeol hanya butuh waktu untuk menjelaskan, ia pasti masih sangat syok saat ini,"

Nyonya Besar Park itu akhirnya memilih diam, duduk di salah satu kursi tunggu di sana bersama Kyungsoo dan Jongin.

.

Kepergian Chanyeol yang mereka kira hanya sebentar itu ternyata menyita waktu lebih lama. Bahkan setelah berganti hari dan orangtua Baekhyun telah tiba di Korea, Chanyeol masih belum juga terlihat kembali.

"Sebenarnya dimana putra anda, Tuan Park? Apa dia tidak khawatir dengan kondisi Baekhyun saat ini?" Ayah Baekhyun menjadi yang pertama mempertanyakan keberadaan Chanyeol, membuat Ibu dan Ayah Chanyeol secara bersamaan merasa gugup dan bersalah.

"Saya sempat memarahinya dan ia pergi setelah itu. Saya pikir ia hanya ingin mencari udara segar tapi entah bagaimana ia belum kembali sampai sekarang," jawab Ibu Chanyeol.

Beruntunglah, belum sampai 24 jam, kondisi Baekhyun dan bayinya sudah kembali normal. Ia telah dipindahkan ke ruangan VIP dan hanya ada orangtua Baekhyun dan orangtua Chanyeol. Kyungsoo dan Jongin pulang pada dini hari atas paksaan Ibu Chanyeol yang tak ingin keponakannya ikut sakit karena menunggu bersama mereka.

"Semoga saja dia tidak benar-benar melepas tanggung jawabnya," ucap Ayah Baekhyun dengan sedikit menahan kesal, lalu memutuskan untuk menuju kantin rumah sakit atas bujukan sang istri, mengingat dirinya yang juga belum memakan apapun semenjak mendengar kabar mengenai sang anak.

Keadaan hening kemudian menghampiri sepasang suami istri keluarga Park yang tersisa itu. Suasana canggung terasa meski keduanya kini duduk secara berdampingan.

"Apa yang kau katakan hingga membuat anak itu pergi?" ayah Chanyeol bertanya lebih dulu, mengalihkan perhatian sang istri dari ponsel yang digenggamnya.

"Aku bertanya mengenai Luhan,"

"Luhan?"

Nyonya Park mengangguk dengan wajah khawatir.

"Kondisi Baekhyun drop setelah melihat Chanyeol berpelukan dengan Luhan,"

"Kau yakin?"

Ibu Chanyeol mengangguk sekali. "Kyungsoo yang menjelaskannya padaku,"

Tuan Park menghela nafas panjang, raut bersalah terlihat di wajah tuanya.

"Kau tidak seharusnya memaksa bertanya padanya," lelaki paruh baya itu kembali berujar. "Apa yang terjadi sekarang juga mungkin karena kesalahan kita,"

"Kesalahan apa?" sang istri bertanya bingung.

"Chanyeol sudah tau mengenai keinginan kita untuk bercerai," penjelasan sang suami membuat Nyonya Park membulatkan matanya.

"Bagaimana bisa? Sejak kapan?"

"Sejak pembicaraan kita tempo dulu, sesaat sebelum pernikahan Chanyeol dibatalkan,"

Kening Nyonya Park berkerut bingung.

"Maksudmu, ia mendengar pembicaraan kita di ruang kerjamu saat itu?"

Sebuah anggukan dari sang suami membuat wanita itu hanya bisa menghela nafas panjang.

Chanyeol masuk ke rumah besarnya dengan langkah bersemangat. Pernikahannya tinggal seminggu lagi dan seluruh persiapan sudah ia lakukan dengan matang. Hanya tinggal mencocokkan pakaian yang sudah ia pesan, dan Chanyeol datang ke rumah untuk alasan itu. Kedua orang tuanya harus ikut mencocokkan pakaian yang dipesannya untuk mereka agar semua semakin berjalan sempurna.

Langkah besar Chanyeol mulai menaiki tangga dengan hening. Rumah besar yang selalu kosong itu memang jarang terisi oleh sang pemilik rumah, oleh karena itu Chanyeol sangat antusias saat mengetahui kedua orang tuanya pulang ke rumah hari ini. Kedua orang tua Chanyeol sangat sibuk, masing-masing dari mereka memegang perusahaan yang berbeda. Meski begitu, Chanyeol sendiri justru enggan mewarisi salah satu perusahaan mereka. Alasannya hanya satu, karena ia ingin mewujudkan cita-citanya menjadi dokter.

Menjadi seorang dokter seperti yang diimpikannya selama ini memang tak semudah yang ia kira. Otaknya memang cerdas, namun kedua orang tuanya justru sangat menentang pilihannya saat ia pertama kali mengutarakannya. Mereka beranggapan bahwa Chanyeol harus melanjutkan perusahaan mereka.

Namun bukan Chanyeol namanya jika tidak keras kepala. Meski ditentang habis-habisan, ia tetap teguh pada pendiriannya. Bahkan ketika sang kekasih juga ikut membujuknya untuk mengikuti keinginan kedua orang tuanya, Chanyeol masih tak bergeming dari pilihannya.

Tak lama, Chanyeol sudah tiba di depan kamar orang tuanya. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu kamar itu namun sebuah suara terdengar dari dalam. Chanyeol mengurungkan niatnya sejenak dan memutuskan untuk mencuri dengar.

"Aku hanya perlu tanda tangan di sini, bukan?" suara sang ibu terdengar jelas dari tempatnya berdiri.

"Ya. Jika berkasnya sudah lengkap semua aku akan mengurusnya setelah Chanyeol resmi menikah,"

Mengurus apa? Apakah salah satu perusahaan orang tuanya?

Batin Chanyeol terus bertanya-tanya dengan penasaran.

"Jangan katakan pada Chanyeol sebelum pesta pernikahannya berlangsung, ia pasti tak akan setuju jika kita bercerai,"

Mata Chanyeol membulat sempurna.

Bercerai? Kedua orang tuanya akan bercerai? Tapi kenapa?

"Ya, tentu saja. Setelah ia menikah nanti, maka kita sudah lepas dari tanggung jawab kita sebagai orang tua dan kita bisa menjalani kehidupan kita masing-masing,"

"Dan aku juga tak perlu makan hati lagi karena terpaksa harus hidup bersamamu,"

Tangan Chanyeol mengepal kuat menahan marah, tak pernah menyangka jika kedua orang tuanya akan lepas tanggung jawab begitu saja padanya. Bahkan setelah selama ini terlalu sibuk pada pekerjaan mereka dan mengabaikannya. Chanyeol selalu berpikiran positif bahwa suatu saat nanti, setelah ia menikah dan kedua orang tuanya mendapatkan cucu darinya, ia berharap bahwa keluarganya dapat menjadi keluarga yang harmonis seperti impiannya. Namun saat itu juga semua angannya itu hilang dalam sekejap.

Chanyeol melangkah meninggalkan rumahnya dengan menahan marah.

"Jadi hal itu yang membuatnya membatalkan pernikahannya?"

"Ya. Mungkin ia tak ingin melihat kita berpisah setelah ia menikah,"

Keduanya terdiam cukup lama, larut dalam penyesalan masing-masing.

"Tapi bagaimana kau bisa tau?" Nyonya Park kembali bertanya.

"Aku memintanya menemuiku. Aku berniat ingin membicarakan mengenai warisan yang akan kuberikan padanya, tapi dia justru meminta kita untuk bercerai,"

"Bercerai?" wanita paruh baya itu semakin bingung. Bukankah Chanyeol tak ingin mereka bercerai dulu, tetapi mengapa sekarang meminta mereka untuk bercerai?

"Ya, ia meminta kita untuk berpisah dan menjalani kehidupan kita masing-masing dengan bebas,"

Nyonya Park terdiam, matanya tampak berkaca-kaca.

"Chanyeol bilang begitu?"

Tuan Park mengangguk kembali dengan sebuah senyum di wajahnya.

"Ia meminta kita untuk bahagia dan menikmati kehidupan kita,"

Tangis Nyonya Park seketika pecah, ada rasa terharu di hatinya namun di sisi lain ia juga merasa sedih.

"Chanyeol mencoba memperbaiki kesalahannya, yeobo," panggilan manis itu akhirnya keluar dari mulut Tuan Park. Lengan kokohnya pun perlahan meraih tubuh sang istri yang bergetar di dalam pelukannya.

"Apa, apa mungkin ia bertemu Luhan, juga karena ingin memperbaiki semuanya?" Nyonya Park bertanya terbata di dalam isakannya yang semakin mengeras.

Meski tak ada jawaban, namun keduanya yakin, jika memang itulah yang terjadi.

"Dan aku justru menyudutkannya setelah semua ini terjadi?" perasaan bersalah memenuhi hati Nyonya Park seketika.

"Tak apa, kau hanya tidak mengerti apa yang terjadi. Lagipula, aku bisa melihat bahwa Chanyeol sudah berubah dan sudah menemukan kebahagiaannya juga di dalam diri Baekhyun. Ia hanya butuh waktu dan ia pasti akan kembali meraih kebahagiannya,"

Ucapan sang suami perlahan membuat ketenangan di hati Nyonya Park, membuat hatinya yang lama terasa dingin mulai menghangat, seperti bertahun-tahun lalu.

"Kuharap begitu,"

.

Jongin sebenarnya memiliki banyak hal yang harus ia kerjakan hari ini, namun hatinya merasa tak bisa tenang semenjak kepergian Chanyeol dari rumah sakit semalam. Jadi setelah melakukan tugasnya untuk mengajar, ia memutuskan untuk mencari Chanyeol. Lelaki itu tau benar dimana Chanyeol akan pergi di saat masa tertekannya.

"Aku seperti merasa de javu melihatmu di sini lagi," Jongin menyapa lebih dulu sembari mendudukkan dirinya di bangku bar.

Lelaki di sebelahnya tidak menoleh, hanya berdecak seraya tetap menunduk dengan tatapan kosong.

"Kau bahkan terlihat lebih buruk dari lima tahun lalu,"

"Jangan membahas saat itu, Jongin,"

"Oh maaf," Jongin meminta maaf setengah hati, lalu memutuskan untuk memesan minuman.

"Botolmu masih penuh. Kau tidak minum atau memang ini sudah botol kesekianmu?"

"Aku ingin minum, tapi hatiku menolak hal itu. Minum membuatku teringat akan kesalahanku,"

Jongin mengangguk mengerti, lalu mulai meminum pesanannya.

"Benar. Minumanlah yang membuat amarahmu hilang kendali. Kau bisa menjadi orang yang berbeda, bahkan menghamili seseorang tanpa sadar," Jongin kembali berujar sarkas membuat Chanyeol hanya bisa tersenyum miris.

"Tapi kalau tidak minum, untuk apa kau di sini?"

Chanyeol lagi-lagi tak menjawab, dan hanya memandangi gelasnya yang masih penuh.

"Ayah Baekhyun sudah ada di rumah sakit dan ia pasti menunggumu untuk memarahimu,"

Keduanya akhirnya tertawa kecil, meski tawa itu terasa hambar bagi keduanya.

"Apa menurutmu Baekhyun akan memaafkanku?" Chanyeol akhirnya mulai bertanya pada sang sahabat.

"Tentu saja, jika kau menjelaskannya dengan baik,"

"Bagaimana jika tidak?"

"Hei, ada apa dengan rasa pesimismu itu? Kalian sudah akan menikah, Baekhyun pasti akan mengerti jika kau jelaskan semuanya,"

Chanyeol tersenyum miring. "Kau tau aku selalu pesimis dengan hidupku,"

"Dan itulah yang membuatmu tak pernah maju," Jongin menjawab dengan cepat. "Kau selalu saja tenggelam dalam lukamu sendiri. Semua bisa diselesaikan jika kau ingin,"

"Tapi aku sudah terlalu menyakiti Baekhyun,"

"Itu hanya karena kau tidak pernah mau jujur padanya. Jika sejak awal kau jujur, ini tak akan terjadi, bukan?"

Chanyeol mengangguk kecil, setuju dengan ucapan Jongin.

"Sekarang yang harus kau lakukan hanyalah kembali ke rumah sakit dan jelaskan semuanya pada Baekhyun,"

"Tapi aku tidak yakin, Jongin,"

"Apa lagi, Chanyeol?" tanya Jongin sedikit gemas.

"Aku tak yakin Baekhyun akan bahagia bersamaku,"

Jongin membuang nafas lelah, sedikit banyak tahu mengenai sifat Chanyeol yang seperti ini.

"Kenapa kau tak yakin?"

"Kau tau sifatku, Jongin. Aku egois, keras kepala, sering memutuskan semua hal dengan pemikiranku sendiri hingga seringkali menyakiti orang lain," Chanyeol berujar sembari mengacak kasar rambutnya yang sudah kusut. "Dan ini sudah ketiga kalinya aku menyakiti orang lain karena sifatku ini,"

Jongin tak tau harus menjawab apa. Sahabatnya itu memang seringkali terlalu larut dalam rasa pesimisnya, dan karena itulah ia selalu berusaha akan meluangkan waktunya untuk Chanyeol saat ia dibutuhkan.

"Bukan hanya sekali, Jongin. Ini ketiga kalinya aku gagal melindungi Baekhyun dan anak-anak kami,"

"Aku tak ingin menyakiti Baekhyun dan bayi kami lagi Jongin,"

Ucapan Chanyeol itu membuat Jongin mengenyit kebingungan.

"Apa maksudmu, Chanyeol?"

"Aku ingin Baekhyun bahagia," ucap Chanyeol lirih.

.

"Baekhyun, akhirnya kau sadar," Kyungsoo yang baru saja datang kembali ke rumah sakit, memekik senang saat dilihatnya Baekhyun sudah sadar.

"Aku khawatir sekali sampai-sampai rasanya aku ingin segera berlari ke sini setelah ujian selesai,"

Baekhyun hanya bisa tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.

"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir," jawab gadis itu akhirnya dengan suara lemah.

"Oh ya, bi. Bagaimana kondisi si kembar?" Kyungsoo bertanya pada Ibu Chanyeol yang duduk di sofa ruangan Baekhyun bersama ayah dan ibu Baekhyun. Ayah Chanyeol sudah kembali mengurus urusan kantornya yang sempat terbengkalai.

"Syukurlah Profesor Minseok menangani Baekhyun dengan baik, si kembar sudah tak apa-apa," jawab Ibu Chanyeol dengan senyuman kecil.

"Wah, syukurlah," pekikan bahagia Kyungsoo seolah menjadi penghibur mereka di ruangan itu. Seluruh pusat perhatian kini teralih pada sosok polos Kyungsoo yang secara tidak langsung mencarikan suasana tegang yang sempat meliputi ruangan Baekhyun.

"Ayah, ayah batuk sejak tadi. Sebaiknya ayah pulang saja dan tidur di rumah," ujar Baekhyun tak lama kemudian. Memang, penyakit tuberculosis yang diidap Ayah Baekhyun seringkali kambuh, apalagi dalam kondisi lelah dan banyak pikiran seperti sekarang.

"Ayah tidak apa-apa. Ayah di sini saja," ucap sang ayah keras kepala, namun bukan Byun Baekhyun namanya jika tidak sama-sama keras kepala.

"Tidak, Ayah. Ayah pulang saja. Ayah sudah dengar sendiri aku tidak apa-apa, jadi pulanglah bersama ibu,"

"Lalu kau akan dengan siapa, nak? Ibu Chanyeol juga harus pulang setelah ini, bukan?"

"Aku kan ada di sini, bi. Aku yang kan menemani Baekhyun," Kyungsoo menjawab kemudian.

"Tapi bukankah kau harus kuliah besok?" kali ini Ibu Chanyeol yang bertanya pada keponakannya.

"Tidak bi, mulai besok aku libur semester. Jadi aku bisa bebas menemani Baekhyun di sini," jawab Kyungsoo lagi dengan senyuman lebar.

"Baiklah, jika itu yang terjadi. Ayahmu harus pulang dan beristirahat. Kau juga beristirahatlah Baekhyun," pamit Nyonya Byun kemudian.

Setelah Orangtua Baekhyun pergi, tak lama kemudian Ibu Chanyeol juga pamit setelah hampir seharian penuh menunggui Baekhyun di rumah sakit. Hingga kini meninggalkan Baekhyun dan Kyungsoo berdua di ruangan besar itu.

"Kau tau? Kupikir hari ini aku akan melihat keponakanku, karena kemarin Dokter Kim dan Profesor Kim mengatakan bahwa mereka akan mengeluarkan si kembar dengan paksa," celotehan Kyungsoo itu membuat Baekhyun kembali tersenyum.

"Belum waktunya, Kyungsoo. Mereka harus berumur minimal 35 minggu untuk dilahirkan," Baekhyun menjelaskan mengenai pengetahuan yang sudah diketahuinya selama mengandung.

"Jika tidak?" Kyungsoo bertanya penasaran.

"Hmm, berarti mereka terlahir prematur dan bisa jadi memiliki kelainan dalam tubuh mereka,"

"Ugh, jangan sampai itu terjadi pada keponakanku," Baekhyun dalam hati mengamini ucapan Kyungsoo.

Mereka kembali terdiam, sibuk dengan alat rajut yang Kyungsoo bawakan. Baekhyun memang sudah lama meminta diajari merajut, namun baru sekarang terlaksana karena mereka baru bisa lepas dari ujian hari ini.

"Hmm, Baek, boleh aku bertanya?" Kyungsoo kembali membuka suara, kali ini tampak bertanya ragu.

"Mengenai apa?"

"Mengapa kau tidak mengatakan apapun mengenai kejadian kemarin?" tanya Kyungsoo akhirnya, menghentikan aktivitas merajut mereka.

"Kau bahkan tak bertanya apapun tentang Chanyeol oppa,"

"Aku hanya tak ingin mendengar apapun, Kyung," Baekhyun menjawab lirih sembari menatap tali rajutan di tangannya.

"Aku tak ingin bertanya jika pada akhirnya hal buruk yang akan ku dengar,"

"Hal buruk apa?" Kyungsoo bertanya tak mengerti.

"Chanyeol sama sekali tak terlihat di sini. Bukankah dengan itu kau sudah tau jawabannya?" Baekhyun bertanya retoris, yang masih belum dipahami oleh Kyungsoo.

"Jawaban apa? Aku tak mengerti maksudmu, Baek,"

Baekhyun menghela nafas sejenak sebelum kembali menjawab.

"Ia sudah tak peduli denganku, karena ia sudah kembali bersama Luhan, bukan?"

Kyungsoo buru-buru menggelang. "Kau salah, Baek,"

Kali ini Baekhyun yang tampak kebingungan.

"Chanyeol oppa mencarimu seharian kemarin. Ia juga yang menemukanmu di Paju dan mengantarmu ke rumah sakit tadi malam. Ia menunggumu di depan ruang ICU bersamaku dan Jongin oppa. Ia terlihat sangat khawatir pada keadaanmu,"

Baekhyun terdiam sejenak, merasa tak percaya dengan penjelasan Kyungsoo.

"Lalu mengapa ia tak ada di sini sekarang?"

"Aku tak tau mengapa, Baek. Bibiku kemarin memarahinya dan bertanya mengenai Luhan, lalu kemudian ia pergi tiba-tiba,"

Baekhyun hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Kyungsoo, tak tau harus bereaksi seperti apa.

"Ah, dan juga, aku bertemu dengan Luhan hari ini. Dia menanyakan keadaanmu,"

"Luhan?" Kyungsoo mengangguk, membuat Baekhyun semakin mengernyit heran.

"Kau tau, aku marah-marah padanya di koridor kampus hingga dilihat anak-anak lainnya," Kyungsoo berujar dengan berapi-api, membuat Baekhyun meringis ngeri. Sahabatnya itu memang terkadang bisa bersikap brutal jika tengah marah.

"Dan tahu apa yang ia katakan? Ia minta maaf, Baek. Aku bahkan harus bertanya ulang untuk memastikan ucapannya saat itu,"

Baekhyun semakin membulatkan matanya, "Kau serius?"

Kyungsoo mengangguk sekali, "Ia meminta maaf padaku, kemudian menanyakan keadaanmu dan menanyakan dimana kau dirawat. Ia bilang ia juga akan meminta maaf padamu,"

Mulut mungil Baekhyun terbuka tanpa sadar, merasa terkejut dengan apa yang baru saya ia dengar.

"Kurasa ini mengenai apa yang terjadi kemarin, Baek," Kyungsoo melanjutkan dengan hati-hati.

"Kita pasti sudah salah paham pada Chanyeol oppa,"

Ucapan Kyungsoo itu kembali membuat Baekhyun berpikir dalam diam.

.

Perkataan Kyungsoo semalam ternyata bukan sebuah candaan karena besok paginya, Luhan ternyata benar-benar datang menemui Baekhyun. Hal itu tentu saja mengejutkan Baekhyun dan juga Kyungsoo yang masih berada di ruangan Baekhyun.

"Hai, Baek. Bagaimana kabarmu?" Luhan bertanya ramah seolah melupakan perseteruan yang selama ini terjadi antara dirinya dan Baekhyun.

Wanita yang ditanyai itu masih terdiam dalam keterkejutannya.

"Aku tidak menyangka kau akan benar-benar kemari," Kyungsoo menjadi pihak yang menjawab pada akhirnya.

"Aku tak pernah berbohong mengenai ucapanku," ujar Luhan tegas.

"Bolehkah aku masuk?"

Baekhyun akhirnya hanya bisa mengangguk dan membiarkan gadis berambut ikal itu untuk masuk dan duduk di sofa ruang inapnya.

"Wow, ruang VIP. Kau benar-benar mendapatkan perawatan terbaik di sini,"

"Jadi, apa tujuanmu kemari, Luhan?" Baekhyun berbalik bertanya, mengabaikan kalimat basa-basi Luhan sebelumnya.

Gadis itu tersenyum, kemudian menatap Kyungsoo dan Baekhyun bergantian.

"Aku ingin membicarakan sesuatu padamu," Luhan berujar seraya menatap Baekhyun dalam.

"Dan sedikit meminta maaf mungkin,"

"Mengenai apa?" Baekhyun bertanya penasaran.

Luhan tak menjawab langsung, ia sedikit melirik ke arah Kyungsoo seolah merasa tak nyaman dengan keberadaannya.

"Ada apa? Apa aku tak boleh mendengarkan juga?" Kyungsoo yang merasa ditatap, memprotes seketika.

"Akan lebih baik begitu," jawab Luhan dengan senyum kecil yang membuat Kyungsoo merasa kesal.

"Kyung, bisakah kau tinggalkan kami?" Baekhyun meminta sembari menatap lembut sahabatnya itu.

"Oh, apa aku baru saja diusir?" tanya Kyungsoo tak terima, namun melihat tatapan memelas Baekhyun, akhirnya mau tak mau ia menurut untuk meninggalkan keduanya.

"Maafkan aku, Kyung,"

"Ya, ya. Aku akan pergi makan saja kalau begitu," ucap Kyungsoo sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu.

"Kyungsoo sudah tak ada. Kau bisa membicarakan hal yang kau inginkan," fokus Baekhyun beralih kembali pada Luhan yang kini sudah berjalan mendekatinya.

"Aku tidak melihat Chanyeol oppa di sini? Apa dia tengah pulang?" bukannya menjawab, Luhan justru bertanya, membuat Baekhyu berdesis kesal.

"Aku tidak memintamu bertanya, Luhan,"

"Oh, maaf," ucap gadis itu sembari meringis kecil, lalu duduk di kursi samping ranjang Baekhyun.

"Aku hanya ingin memastikan tak ada Chanyeol oppa di sini,"

"Apakah yang ingin kau bicarakan berkaitan dengannya?"

Luhan mengangguk kecil. "Sangat,"

Baekhyun menyipitkan matanya, raut penasaran memenuhi wajahnya.

"Aku cukup terkejut mendengar kau masuk rumah sakit hanya karena kejadian kemarin,"

Ucapan Luhan itu membuat Baekhyun berdecak menahan kesal.

"Yang kau katakan 'hanya' itu adalah sesuatu yang sangat menyakitiku, Luhan,"

Luhan tersenyum kecil, membuat Baekhyun semakin merasa kesal.

"Maaf kalau begitu, tapi kami sungguh-sungguh tak melakukan apapun kemarin,"

"Kalian berpelukan dan kau bilang tak melakukan apapun?" Baekhyun bertanya sinis.

"Ia memelukku untuk menenangkanku yang menangis, Baekhyun. Hanya itu,"

Baekhyun berdecih, merasa tak ingin mendengar lebih lanjut.

"Kau tak percaya pada kami?" pertanyaan Luhan itu tidak Baekhyun jawab.

"Kau tak percaya pada Chanyeol oppa? Calon suamimu?"

"Apa hakmu bertanya seperti itu padaku?" Baekhyun bertanya kesal, tak suka Luhan mencampuri urusan perasaannya seperti ini.

"Tak ada memang," Luhan mengendikkan bahunya, namun kemudian tersenyum kecil. "Tapi aku merasa harus bertanya. Ini untuk kebahagiaan Chanyeol oppa,"

Baekhyun menatap Luhan tak suka, "Apa maksudmu?"

"Aku hanya tak ingin kau melakukan kesalahan seperti apa yang aku lakukan sebelumnya,"

Kening Baekhyun semakin berkerut mendengar ucapan Luhan.

"Kesalahan apa?"

Luhan terdiam, mengambil nafas panjang sebelum mulai menceritakan kisah cinta terburuknya lima tahun lalu.

"Kau tau apa yang membuat aku dan Chanyeol oppa berpisah?"

Baekhyun menggeleng, karena memang ia benar-benar tak tau apapun.

"Chanyeol oppa membatalkan pernikahan kami seminggu sebelum harinya, Baek,"

Mata sipit Baekhyun membulat, merasa terkejut sekaligus tak percaya dengan ucapan Luhan.

"Kami bertengkar hebat hanya karena aku yang merubah apartemennya tanpa seijinnya," Luhan menghela nafas lelah sebelum kembali melanjutkan.

"Dia terbawa amarahnya dan memutuskan membatalkan pernikahan kami, dan aku yang juga merasa terluka akhirnya menyetujui hal itu. Pernikahan kami batal, orangtuaku marah besar padaku dan pada akhirnya aku dipaksa pergi ke Paris untuk melanjutkan sekolahku di sana,"

Baekhyun terdiam, lidahnya kelu. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja Luhan ceritakan panjang lebar.

"Saat itu, tentu saja aku sangat marah padanya. Ia membatalkan pernikahan kami secara sepihak hanya karena amarahnya sesaat dan menyuruhku untuk memikirkan kembali hubungan kami," Luhan terdiam sejenak, teringat dengan kejadian yang sempat membuatnya tertekan saat itu.

"Namun setelah aku pergi, dan benar-benar memikirkannya, aku tau ternyata bukan hanya Chanyeol oppa yang salah," Baekhyun terkejut, merasa penasaran dengan apa yang kan Luhan ucapkan selanjutnya.

"Aku juga salah saat itu. Aku tidak percaya padanya. Aku terbawa oleh rasa marah dan kecewaku sendiri sehingga melupakan perasaan Chanyeol oppa saat itu,"

Baekhyun lagi-lagi hanya bisa tertegun, ucapan Luhan sedikit banyak mengingatkannya mengenai salah paham yang terjadi di antara dirinya dan Chanyeol.

"Aku bahkan tak bertanya lebih lanjut saat itu dan memutuskan secara sepihak untuk pergi ke Paris, tanpa pertimbangan darinya," Luhan menunduk, rasa penyesalan tergambar jelas di wajahnya.

"Dan kau tau apa yang terjadi sebenarnya, Baekhyun? Chanyeol ternyata membatalkan pernikahan kami karena kedua orangtuanya. Ia tak ingin orangtuanya bercerai setelah kami menikah. Ia tak ingin berbahagia di atas perpisahan kedua orangtuanya," Luhan terisak, dan ini pertama kalinya Baekhyun melihatnya. Gadis itu bahkan tak tau lagi harus bereaksi seperti apa, diam-diam ia ikut merasa bersalah dengan apa yang dialami Luhan.

"Dan aku benar-benar merasa bersalah saat mengetahuinya, Baek. Aku bahkan merasa tak punya muka untuk bertemu dengannya, tapi Baek, hati tak bisa di bohongi, bukan? Aku merindukannya, terus merindukannya hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Korea untuk mencari tahu kabarnya,"

Isakan Luhan perlahan berhenti dan kini mulai menatap Baekhyun yang hanya membeku.

"Karena itu, aku merasa terkejut saat melihatmu dekat dengannya. Aku tak terima dengan semua yang terjadi, namun pertemuanku dengan Chanyeol oppa membuatku mengerti segalanya, Baek," Luhan tersenyum manis pada Baekhyun.

"Bahwa hubungan kami memang sudah berakhir sejak lama, bahwa tak ada lagi perasaan Chanyeol oppa padaku, bahwa ia memang sudah berbalik mencintaimu, Baek,"

Baekhyun terkejut untuk kesekian kali. Bahkan tak bereaksi apapun saat Luhan perlahan menyentuh tangannya.

"Kau, sudah mengerti arti dari semua yang kuceritakan, Baek?"

Baekhyun terdiam, matanya tiba-tiba terasa buram saat Luhan kembali tersenyum padanya.

"Kuharap kau belajar dari pengalamanku, Baek. Cinta bukan hanya mengenai kau menyukai, tapi juga bagaimana kau memahami dan mengerti seseorang,"

.

Chanyeol mungkin sudah menghabiskan waktu hampir dua hari di dalam bar, tapi ia masih cukup sadar saat dirinya tiba di rumah sakit malam itu. Hampir tengah malam, dan Chanyeol memang sengaja datang di saat-saat itu agar tidak ingin dilihat oleh siapapun. Ia hanya ingin mengetahui keadaan Baekhyun, itu saja.

Kaki panjangnya melangkah besar dan lambat menuju ruangan yang ia ketahui dari Jongin. Ia bersyukur Jongin bersedia menjadi pemberi informasi untuknya, terutama mengenai Baekhyun yang sudah dipindahkan dari ruang ICU. Itu tandanya kondisi Baekhyun dan anak-anaknya sudah mulai membaik.

Ia terdiam sejenak di depan ruangan VIP yang ditempati Baekhyun, merasa takut jika ternyata orangtuanya atau orangtua Baekhyun berada di sana. Hingga akhirnya ia memantapkan hatinya untuk membuka ruangan itu, dan terkejut kemudian karena menemukan ruangan itu kosong.

Kosong dan sudah rapi seolah tak pernah ditinggali sebelumnya.

Dahinya mengernyit bingung.

"Loh? Chanyeol hyung?" Chanyeol menoleh dan menemukan Sehun tengah berjalan tak jauh darinya dengan sebuah ponsel di telinganya.

"Kau baru datang? Dan kenapa kau terlihat buruk sekali?"

Sehun bukannya mengejek, namun penampilan Chanyeol memang benar-benar terlihat buruk. Kaos kelabu yang dipakainya terlihat kusut karena sudah dua hari ini tidak ia ganti, begitu pula dengan rambut acak-acakan dan tpi yang terpasang seadanya di kepalanya. Untungnya saja ia masih memakai celana dan sepatu yang terlihat pantas.

"Dimana Baekhyun?" Chanyeol bertanya tanpa basa-basi, karena ia yakin Sehun pasti tahu bahwa Baekhyun sebelumnya dirawat di sini.

"Oh, kau tidak tahu?" pertanyaan Sehun membuat Chanyeol mengernyit bingung.

"Apa?"

"Baekhyun noona sudah dipulangkan tadi sore. Kudengar ia akan dibawa ayahnya ke Jepang malam ini,"

.

.

.

TBC

Terimakasih untuk semangat yang kalian berikan. Dan juga untuk kesan pesan dari ff ini.

Chapter depan bakal jadi chapter penutup. Belum tau apakah akan ada sequelatau ga, tepi mungkin liat jumlah permintaan dan waktu yang aku punya.

Sekali lagi terimakasih banyak..