Title : The Pearl Jade

Author : Sulis Kim

Main C, : Jung Yunho

Kim Jaejoong

DBXQ & SUJU

Other

Genre : Drama, Mixed Fictional History, Sejarah, Romance ..etc.

Rate : T~ M

Desclaimer : Kisah ini fiksi yang berpatokan pada sejarah korea dan china, hanya sebagian fakta sejarah yang sisanya adalah hasil imajinasi storyline Author sendiri. Author tidak ada niat untuk mengubah atau menyalah gunakan sejarah, ini hanya imajinasi Author, mohon maaf seandainya ada pihak yang kurang berkenan.

Para pemain dalam FF ini milik diri mereka sendiri dan ini hanya Fanfiction karya saya tidak ada hubungan tentang sifat dan kebiasaan mereka di dunia nyata.

WARNING

GS, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon di maklumi. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Happy Reading...!

Tembok pembatas Istana Goguryeo terbuat dari batu alam yang di tumpuk sedemikian rapi dengan tatanan sederhana namun terlihat kokoh dari berbagai sisi mata memandang. Gerbang yang terbuat dari kayu serta besi di setia sisi itu menjulang tinggi begitu angkuh menghalangi siapapun yang berniat melewati perbatasan antara Istana yang berada di wilayah Manchuria. Sebelah utara semenanjung Korea.

Persis seperti gambaran dalam benak Jaejoong tidak akan mudah untuk dapat melewati pintu gerbang besi yang memiliki tinggi dan lebar sampai memerlukan yang empat orang berbadan tinggi dengan otot besar di lengan untuk mampu menggerakan pintu tersebut agar terbuka.

Puluhan prajurit bersenjata pedang berjajar membungkuk memberi hormat di luar maupun di balik gerbang utama menyambut kepulangan Pangeran. Ucapan selamat datang terdengar sepanjang mereka melewati gerbang dan sesudahnya sampai mereka tidak mendengar suara riuh mereka setelah kuda melaju melewati gerbang tinggi yang tidak dapat Jaejoong ukur berapa meter tingginya.

Yang ia tahu tidak akan mudah bisa memanjat gerbang tersebut jika kau seorang diri terlebih seorang wanita. Sial, apakah dirinya akan berakhir disini sebagai tawanan Pangeran Yunho selamanya?

Hamparan tanah kosong terbentang lebar sepanjang ratusan meter, mereka memasuki hutan kecil serta perkebunan buah dan melewati taman bunga dan sampailah mereka pada Paviliun pertama yang ada di dalam istana. "Paviliun para petinggi kerajaan juga kaisar penjaga berada di bagian luar mengelilingi kediaman utama keluarga Kerajaan." Yunho berkata. Pangeran seakan mampu membaca pikiran Jaejoong.

Mereka mencapai bangunan tinggi lain yang Jaejoong tahu sebagai tembok lain menuju istana, dimana hanya keluarga kerajaanlah yang bertempat tinggal didalamnya. Mereka kembali melewati gerbang yang sama besarnya dengan pengawalan yang sama persis seperti gerbang utama dan ia melihat bangunan utama Istana jauh di depan sana.

Istana Goguryeo terlihat mengerikan dimata Jaejoong dengan jarak sedekat ini. Ia merasa jarak kebebasan dengan dirinya semakin jauh dari hadapannya dan ia tidak yakin dapat meraih kebahagiaan serta kebebasan itu tanpa adanya sesuatu yang harus ia korbankan untuk mendapatkan kembali kebebasan miliknya.

Perpustakaan Kerajaan Sanko memang menulis sejarah kerajaan lain dan Jaejoong pernah melihat gambaran kerajaan sebelum Goguryeo tetapi tidak seperti apa yang ada di hadapanya saat ini. Suara derap kuda seakan tak terdengar kala manik mata bulat Jaejoong memperhatikan Istana yang terbentang di hadapanya. Istana Goguryeo memang tidak lebih besar dari Istana Sanko, namun Istana ini memiliki bangunan dan setruktur yang mampu membuat Jaejoong takjub akan kemewahan bangunan bangunan yang mereka lewati saat ini.

Kuda Pangeran berbelok untuk memasuki bangunan lain sebelah kanan berbelok dari arah jalan utama menuju Istana sebelum memasuki sebuah kediaman yang di jaga oleh pengawal bertubuh tinggi di kedua sisi cengkungan pintu masuk yang Jaejoong tahu adalah kediaman seseorang yang entah ia tidak tahu milik siapa sampai ia melihat kedua pengawal itu membungkuk kearah mereka. Atau tepatnya Pangeran Jung Yunho.

Seorang dayang menjatuhkan perabotan yang di bawanya saat Pangeran Yunho menyerbu masuk melewati gerbang kediamanya sendiri sebelum pengawal mengumumkan kepulangan beliau. "Pangeran." Membungkuk hormat seorang pelayan pria menangkap pelana kuda yang dilemparkan Pangeran Yunho kearahnya.

"Turunlah." Setelah perjalanan panjang yang melelahkan tanpa adanya perbincangan di antara mereka akhirnya Jaejoong bisa mendengar suara Pangeran angkuh itu. Seluruh tubuhnya kaku akibat perjalanan kuda dengan kecepatan gila dalam jarak entah berapa puluh kilometer jauhnya.

"Aku tidak bisa bergerak kakiku mati rasa, bodoh." Para dayang juga pengawal yang menyambut kedatangan Pangeran membungkuk terkejut mendengar umpatan Jaejoong yang di tunjukan kepada Pangeran mahkota mereka.

Tanpa berkata Pangeran Yunho mengulurkan tangan dan membantu Jaejoong turun dari atas punggung kuda lalu menggendongnya. "Aku peringatkan kau Jaejoong, aku tidak peduli jika kau menyebutku bodoh dungu atau kerdil sekalipun. Tetapi itu jika hanya kita berdua di ruang tertutup tanpa adanya pelayan atau dayang yang mendengarkan kita atau kau harus kehilangan kepala cantikmu itu dari tubuhmu." Sepasang Pintu besar terbuka dan Jaejoong mendapati itu sebuah lorong panjang mewah dengan karpet bulu indah di sepanjang lantai sampai di ujung ruangan dan ia mendapati ruangan minum teh atau sebuah ruangan belajar luas dengan meja dan kursi tertata rapi.

"Kau berada di kediamanku." Pangeran menjelaskan. "Untuk sementara kau tinggal disini sebelum aku memutuskan kau akan di tempatkan di kediaman sebelah mana." Menurunkan Jaejoong duduk di sebuah kursi besar beralas bantalan empuk di sebuah meja Pangeran berlutut untuk memeriksa kaki Jaejoong yang terluka.

"Aku tidak ingin tinggal disini."

Pangeran mengabaikan tendangan lemah Jaejoong dan menangkap pergelangan kaki kurus Jaejoong. "Aku tahu! Tetapi tidak ada pilihan lain selain kau menurut atau kau lebih suka tinggal di penjara bawah tanah." Jaejoong berhenti memberontak, ia memebiarkan Yunho membersikan telapak kakinya yang perih akibat kerikil dan juga rumput yang telah ia injak di hutan sore ini.

"Maafkan aku karena menyeretmu sampai kesini tanpa memperhatikan kau tidak memakai apapun untuk melindungi kaki indah ini." Jaejoong menahan nafas saat bibir dingin Yunho mencium punggung kakinya.

"Pelayan akan membantumu membersihkan diri sementara aku mandi dan bersiap siap untuk menghadap Raja memberi penghormatan atas kepulanganku." Pangeran mendongak untuk menatap langsung wajah Jaejoong. "Jadilah anak baik selama aku pergi karena disini aku tidak dapat selalu membelamu di setiap kesalahan kecil yang kau perbuat karena itu hanya akan membuat semua orang mencari cari kesalahanmu untuk menghukum dan menyakiti wanita kesayangan Pangeran." Tangan besar itu melingkupi wajah Jaejoong dengan usapan menenangkan yang entah mengapa membuat Jaejoong merasa nyaman berdiam diri seperti ini.

"Anak baik, aku akan segera kembali secepatnya setelah bertemu Raja." Pangeran berdiri untuk meneriakan perintah agar dayang menyiapkan semua kebutuhan tamu Pangeran dan menjaga kenyamanan wanitanya selama ia pergi.

Tidak terpikirkan sebelumnya oleh Jaejoong Yunho dapat menjadi sesosok laki laki selembut dan perhatian seperti saat ini, disaat ia di kelilingi oleh peraturan dan tata krama yang sudah menjadi makanan sehari seharinya selama hidup di Kerajaan Sanko. Menarik, ia akan memerankan rakyat jelata yang baru pertama kali berada di dalam istana untuk membuat Pangeran itu kalang kabut karena ulahnya. Sampai Yunho memberi kebebasan yang Jaejoong inginkan tanpa menuntut apapun.

Baiklah Pangeran Jung, permainan lain di mulai.

Ratu Hye kyo atau lebih di kenal dengan Ratu Gongwon Menerima uluran jubah mewah Raja Chun Jeong ~Jung Jiwoon~ dari tangan dayang, menyelipkan lengan Raja dan membantu suaminya berpakaian.

Sedikit terburu buru para dayang hilir mudik keluar masuk Kediaman Raja sore ini setelah mendengar kasim mengumumkan Pangeran telah kembali. Raja sendiri baru saja memadusi kediaman untuk beristirahat setelah hari panjang menangani masalah Negara, Raja Chun Jeong atau yang lebih di kenal sebagai Kaisar Ji Hoon itu merasa heran dengan putra mahkota yang seharusnya sampai tengah malam dan tiba lebih cepat dari apa yang di katakan oleh pembawa berita Pangeran sendiri .

Ratu Hye Kyo membantu Raja mengenakan kembali jubah dan mengikat jubah itu dengan cekatan. "Pangeran pasti memiliki alasan mengapa beliau mengundur kepulangan beliau beliau beberapa hari lalu." Ratu berujar. Memutari tubuh sang Raja untuk mengambil Mahkota beliau dan memakaikan mahkota indah itu di atas rambut Raja yang sudah di sisir dan tertata rapi.

"Tidak perlu membelanya, Pangeran sudah keterlaluan dengan mengabaikan perintahku, jadi jangan salahkan aku jika aku menghukumnya." Raja Ji Hoon memperhatikan istri cantiknya mondar mandir di hadapanya untuk membantu Raja merapikan diri. Ratu lebih suka dirinya yang menyiapkan segala kebutuhan Raja secara langsung ketimbang menerima bantuan Dayang membantunya. Tiga puluh tahun kebersamaan mereka Tiga puluh tahun pula Ratu Hye Kyo mengabdikan diri untuk suaminya tanpa lelah.

"Raja Silla telah menetap dua hari dan Pangeran calon suami dari putri mahkota yang seharusnya menyambut kedatangan beliau malah berhalangan untuk hadir, sebagai Raja dan seorang Ayah aku merasa malu mengakui keteledoran putraku itu."

"Pangeran pasti memiliki alasan mengapa beliau mengundur kepulanganya, aku yakin beliau akan menjelaskan mengapa." Mengikat tali terakhir jubah Ratu menunduk untuk tersenyum kepada sang Raja yang duduk di hadapanya. "Tersenyumlah untuk menyambut Putramu, Ji Hoon." Suara Ratu begitu lirih ketika berbisik. "Sudah sangat lama sejak Yunho terakhir kali kembali sampai sekarang. Anak itu tidak sepenuhnya menyukai Istana jangan kau tambah dengan wajah murungmu itu dan membuat Putraku ingin cepat kabur dari Istana."

Raja menyahut."Dia juga putraku, Manis." Ia balas berbisik.

"Mama, Pangeran telah kembali." Suara gadis kecil menerobos masuk kedalam kediaman Raja. "Pangeran telah kembali."

Ratu menjauh dari hadapan Raja untuk menatap tegas kearah Putri Mahkota yang masih berusia sepuluh tahun. "Dimana Tata kramamu sebagai Putri mahkota Jung Junsu."

Gadis kecil dengan pakaian Hanbok berwarna hijau muda itu menunduk hormat. " Maafkan Hamba Mama,,," Mendapat delikan sang Ratu ia meralat. "Ratu,,, tetapi Pangeran telah kembali menunggang kuda dengan seorang wanita bersamanya."

Ratu membungkuk untuk menutup mulut Putri mahkota dengan jari telunjuknya. "Seorang putri tidak boleh berkata sembarangan, kau tahu!"

Bocah manis itu mengangguk, menarik jari telunjuk Ratu untuk di genggamnya erat. "Tetapi itu bukan gosip, aku melihatnya Mama, Yunho Oppa kembali dengan seorang wanita bersamanya di atas kuda."

"Kalau kau masih suka membicarakan Pangeran Putri, Raja akan menghukummu karena lancang membicarakan Pangeran. ''Ratu berkata tegas.

Mata Doe kecil bocah itu memperhatikan Raja yang duduk di kursi besar di dalam kediaman beliau. "Raja tidak akan menghukumku, bukan? Karena aku anak baik."

Tawa Raja menggelegar melihat wajah Purti mahkota yang memelas, kebiasaan bocah itu untuk meminta maaf sungguh menjadi suatu hiburan tersendiri untuk Raja. "Kemarilah sayang, aku akan menghukummu kalau kau berbohong, dan tidak boleh membicarakan Pangeran lagi dengan siapapun."

"Janji." Jung Junsu menerjang ke pangkuan Raja untuk memeluk dan mendaratkan ciuman di pipinya. "Bolehkan aku menemui Pangeran, Ayahanda."

Terdengar suara Kasim mengumumkan kedatangan pangeran. Raja menatap putri kecilnya sambil tersenyum. "Sekarang kau tidak perlu menemui Pangeran kekediaman belaiu karena Pangeran telah datang."

"Tetapi aku penasaran dengan wanita itu." Suara Junsu terpotong oleh kehadiran Pangeran Jung Yunho yang memberi salam untuk Raja dan Ratu.

Ratu mengangguk kepada para dayang untuk meninggalkan ruangan. "Kau terlambah dua hari Pangeran."

"Maafkan aku, Mama." Pangeran sudah rapi dengan hanbok santai berwarna ungu, tubuhnya terlihat segar usai membersihkan diri dan menjulang di hadapan Ratu untuk memeluk wanita yang telah melahirkan dirinya kedunia. "Aku merindukanmu, Ibunda Ratu." Ia menunduk untuk mencubit pipi Junsu sebelum mengangkat adiknya kedalam pelukanya.

"Kau membawa wanita kedalam kediamanmu Pangeran, Paduka Raja akan menghukummu." Ia berbisik.

"Tidak jika wanita itu akan menjadi istriku."

"Tapi kau akan menikah dengan putri kerajaan Silla." Tanpa sadar Junsu mengatakan itu dengan suara yang jukup keras untuk dapat di dengar oleh Raja dan Ratu.

Dari tempat Raja duduk pria yang masih tampan di usia paruh baya itu berkata. "Secara tidak langsung kau mempermalukan putri Ga Eun, Pangeran. Dia seorang putri yang dalam setengah bulan lagi akan kau nikahi. Dan kau membawa wanita entah dari mana dan mengatakan akan kau jadikan selirmu."

"Bukan selir, tetapi Istri Ayah." Yunho meralat. Meskipun terdengar tidak sopan ia lebih tidak suka jika Jaejoong dengar dan wanita itu pasti akan marah marah kemudian menolak lamaran Yunho nantinya.

Apapun itu, asal dapat menjadikan Jaejoong istrinya ia akan berusaha untuk melaluinya dengan tenang, ia sudah memutuskan hal ini dan memikirkan dengan matang sepanjang perjalanan mereka kembali ke Istana dengan Jaejoong dalam pelukanya. "Aku ingin membatalkan pernikahan ini dengan Putri Ga Eun, aku ingin menikahinya dan menjadikan dia Ratu Goguryeo selanjutnya. Karena aku mencintai Kim Jaejoong." Pangeran Yunho berujar tegas.

Keheningan menjadi musik tersendiri dalam kediaman sang Raja. Sungguh bukan maksud Yunho untuk menentang pernikahan ini tetapi jika pernikahan ini tetap di lakukan akan ada banyak pihak yang terluka terlebih Jaejoong juga Putri kerajaan Silla yang kemungkinan akan ia abaikan usai pernikahan yang di dasari penyatuan dua kerajaan ini.

"Raja akan marah." Junsu berbisik kembali. Gadis kecil itu meminta Yunho menurunkan tubuhnya agar ia bisa menghampiri Ratu untuk membisikan. "Benar bukan? Pangeran tidak menyukai wanita itu."

"Namanya Kim Ga Eun dan 'wanita itu' yang kau maksud adalah seorang putri dan harus kau hormati Putri Junsu." Ratu meralat.

Dengan tidak rela ia meralat. "Baiklah, Putri Ga Eun, aku sudah mengatakanya kepada Raja bahwa Pangeran tidak menyukai Putri itu. Maksudku Putri Ga Eun." Jemari ratu mendiamkan Putri Junsu karena telah banyak bicara. "Pergilah menyiapkan diri bersama dayang, sebentar lagi waktu jamuan malam dan kau tidak boleh terlambat untuk datang dalam pelajaran tata krama sebelum tidur." Putri Junsu tidak memprotes meski ia tidak menyukai ide yang Ibunda Ratu sarankan untuknya.

Pintu tertutup, rungan luas itu tetaplah hening untuk beberapa saat. "Duduklah pangeran." Ratu menunjuk kursi di sisinya dan menuang secangkir teh untuk putra tampanya. "Kurasa kau masih bisa mempertimbangkan pernikahan kedua kerajaan ini setelah mengistirahatkan diri sampai pikiranmu jernih kembali untuk memikirkan ulang kesalahan Anda pangeran."

"Aku sudah yakin dengan keputusanku Ratu, aku tidak ingin menyakiti Jaejoong terutama Ga Eun karena aku tidak mencintainya."

Dalam diam Ratu Hye Kyo melirik sang Suamin yang masihlah diam di tempat Raja duduk. "Cinta tidak di perlukan dalam sebuah pernikahan, lambat laun kau akan menyayangi putri Ga Eun setelah Putri melahirkan keturunan untukmu Pangeran."

Pangeran Yunho akan menjawab ketika Raja berujar. "Kedua kerajaan akan menjadi musuh jika kau membatalkan pernikahan ini nak. Peperangan antar kerajaan tidak dapat di hindari jika kau tetap memilih membatalkan pernikahan ini terlebih karena alasan yang tidak masuk akal."

"Cintaku kepada Jaejoong bukan hal yang tidak masuk akal, Ayah." Jemari lembut Ratu terulur untuk menahan tangan Yunho yang berada di atas pangkuan pangeran.

"Kau dapat menikahi wanita manapun, dan berapa pun yang kau inginkan setelah menikahi Putri Ga Eun. Tidak akan ada yang berani melarang seorang Pangeran, seorang calon Raja memiliki banyak selir sesuai keingananmu. "Bangkit dari tempat duduknya Raja berjalan kearah dimana dua orang yang ia sayangi duduk.

Ratu Hye Kyo menekan jemari Yunho seakan Ibu dari seluruh negara cantik itu berusaha menahan agar Yunho tidak membantah apapun yang akan membuat Ayahnya marah.

Menurut, ia kembali menelan apapun yang akan ia ucapkan karena ia tahu percuma mengutarakan penolakan pernikahan yang sudah di depan mata. Bukannya Yunho tidak mencoba, ia sudah mencoba menolak tetapi ia lebih sadar akan konsekuensi yang akan terjadi di antara kedua kerajaan jika dirinya menolak atau membatalkan pernikahan besar yang di tunggu tunggu oleh seluruh penghuni kerajaan sampai seluruh rakyat dari dua negara.

Goguryeo dan Silla memang sudah bermusuhan sejak lama dan pernikahan ini adalah penyatuan kedua negara yang akan mempererat tali kekeluargaan maupun perdamaian. Ia tidak bisa melepaskan begitu saja jika seluruh rakyat juga kedua kerajaan akan mengalami kembali penderitaan akibat perang panjang yang tidak di inginkan.

Kepemimpinan Goguryeo jauh lebih tinggi, memiliki prajurit juga panglima perang jauh lebih kuat dari kerajaan Silla. Akan tetapi Silla juga bukanlah kerajaan bodoh dan mudah di taklukan. Silla jauh lebih kecil tetapi kerajaan itu sekokoh baja yang tidak mudah di runtuhkan dan peperangan yang berlanjut hanya akan membuat kedua rakyat dari dua Kerajaan menjadi korban dalam banyak hal.

Pangeran Jung Yunho tersentak ketika tangan Raja menyentuh bahunya dengan sedikit remasan ringan. "Banyak hak yang tidak mudah seperti apa yang kita inginkan, Nak. Banyak hal yang tidak dapat kita dapatkan meskipun kita sangat menginginkan hal itu. Aku sendiri pernah seumuran denganmu Yunho." Jika Kaisar dengan gelar Chung Jeong itu sudah menyebut nama Yunho, Pria tua sudah menanggalkan Tahta Raja yang ia sandang dan menjadi seorang Ayah dengan nasehat nasehatnya yang tidak pernah Yunho sangkal.

Mengerti akan adanya pembicaraan pribadi antar Ayah dan Anak Ratu Hye Kyo undur diri dan menatap kedua pria yang paling berarti di dalam hidupnya sedikit lebih lama. "Aku harap kalain menemukan keputusan yang tepat dan bijak sana dengan masalah ini. Kau Yunho," Wanita itu menyentuh wajah sang Putra penuh sayang. "Kau tahu kami, Aku dan Ayahmu menikah bukan karena daras cinta tetapi kami dapat melaluinya dan lihatlah sekarang." Wanita itu beralih menatap Jung Ji Hoon sang suami. "Kami bahagia dan saling mencintai. Sama seperti apa yang Ayahmu katakan, semua tidak semudah seperti apa yang kita inginkan. Kau pangeran yang terlahir dengan garis kelahiranmu sendiri yang tidak bisa kau belokkan, begitu juga kami ketika kami di jodohkan dan menikah dahulu."

Wanita itu tersenyum penuh sayang, khas Ibunya saat menasehati kedua pria yang ia sayangi. "Kau Juga Jung Ji Hoon. Jangan memaksakan kehendakmu jika itu tidak perlu, Yunho sudah cukup dewasa untuk memilih keputusan apa yang tepat untuk dirinya juga masa depan kerajaan, juga kita."

Atau lebih tepatnya untuk keharmonisan seluruh Rakyat. Yunho membatin. Tetapi bagaimana dengan perasaanya sendiri, apakah ia harus merelakan cinta dan kebahagiaanya untuk kedua Kerajaan juga kedua orang tuanya.

Jaejoong menutup pintu setelah berhasil mengusir seluruh dayang yang di tugaskan Pangeran Yunho untuk membantu dirinya membersihkan diri. Tidak perlu!

Lebih dari satu bulan meninggalkan Istana dan ia sudah terbiasa mengerjakan semuanya seorang diri begitu juga dulu, ketika ia sering kabur dari Istana bersama Hankyung.

Mulai dari membersihkan tubuh yang penuh debu menanggalkan pakian dan ia sudah akan berendam dengan air hangat yang sudah disiapkan Dayang sebelum ia mendengar Pintu kediaman Pangeran kembali di buka.

Dengan marah ia kembali menyampirkan jubah miliknya di atas bahu dan mengikat kembali tali jubah asal sebelum keluar dari sekat kamar mandi untuk memarahi siapapun yang telah berani menggangu acara yang paling ingin ia lakukan saat ini. "Kalian,,," Jari telunjuk Jaejoong kembali bergabung dengan empat jari lain menjadi sebuah kepalan tangan yang terjatuh di sisi tubuhnya begitu ia menyadari siapa yang telah dengan lancang mengganggu waktu istirahatnya. Ia juga menyesali nada marah serta ketidak sopanan dalam suaranya tadi.

Jubah merah panjang yang wanita itu kenakan terlihat begitu mewah dengan sulaman sutra emas disetiap sisi pakaian yang wanita itu kenakan. Mahkota kecil yang Jaejoong yakini terbuat dari emas dengan berlian juga tusuk konde emas berukiran cantik menghiasi sanggul dan di tata sedemikian rapi di atas kepala wanita cantik yang berdiri di hadapan Jaejoong. Ratu Gongwon atau yang lebih di kenal sebagai Ratu Hye Kyo atau itulah yang Jaejoong baca di sebuah buku perpustakaan kerajaan Sanko beberapa bulan lalu sebelum ia memutuskan untuk bergabung dengan sang kakak dalam pelayaran mereka.

Kerah jubah Ratu menjulang tinggi dengan hiasan manik berlian juga bebatuan indah tergantung di leher jenjang Ratu Hye Kyo. Jaejoong menelan ludah susah payah kala manik matanya menyusuri wajah cantik Ratu Hye Kyo dengan lancang dan mendapati Ibu dari Pangeran Yunho berdiri mengamati dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki dan ia mengeram mengetahui petapa berantakan dirinya saat ini dengan rambut terurai juga jubah kusut penuh debu.

"Aku harap kau memiliki sopan santun untuk menyapaku anak muda." Suara Ratu menyadarkan Jaejoong dan ia berlutut di atas kedua lututnya memberi hormat.

Ia menggeram, merasakan kerasnya lantai saat kehilangan keseimbangan dan jatuh karena terburu buru membungkuk. "Maafkan Hamba Ratu, hamba tidak tahu Ratu akan datang. Dan,,, dan,,," Ia terdiam dan mendongak.

Tidak ada senyum maklum terlihat di bibir wanita cantik yang Jaejoong akui masihlah cantik di usia Wanita itu yang mungkin tidak lagi muda. "Berdirilah. "Jaejoong menurut dan mendapati wajah tegas Ratu Hye Kyo memandangnya penuh selidik.

Ini bukanlah kali pertama seseorang memperhatikan dirinya seperti ini, tetapi berbeda jika wanita dari ibu pria yang kau cintailah yang menatapmu penuh tanda tanya dan Jaejoong menyesali dirinya yang tidak lebih cepat membersihkan diri. Menunduk, Jaejoong tidak berani menatap wajah Ratu maupun ujung kaki Ratu yang berbalut sepatu kulit mahal.

"Pangeran telah lancang dengan membawamu masuk kedalam kediaman beliau, tetapi bukan berarti kau bisa mengusir semua dayang keluar pintu dan berbangga diri menempati kediaman beliau sesuka hati." Kaki Jaejoong mundur saat Ratu Hye Kyo melangkah maju dan berhenti di hadapanya. "Aku tidak akan meminta maaf karena harus memintamu pergi dari kediaman Pangeran, Beliau memang melupakan tata krama dan kesopanan karena tinggal di luar Istana terlalu lama. Dayang," Ratu berbalik membelakangi Jaejoong. "kumpulkan barang Nona muda ini karena Dia tidak akan tinggal di Kediaman Pangeran seperti apa yang Pangeran inginkan. Kediaman Violet sepertinya cocok untuk menjadi tempat tinggalmu untuk sementara waktu." Jaejoong menghela nafas lega saat melihat Ratu berjalan penuh wibawa keluar melesati Pintu.

Demi Tuhan, kenapa ia harus merasa gugup berhadapan dengan Ratu jika Ibunya sendiri adalah Ratu. Ia jatuh terduduk di lantai dan menyangga tubuhnya dengan kedua tangan. "Nona." Takut takut, seorang dayang mendekat kearahnya. "Maafkan saya,,,"

"Aku ikut dengan kalian, kemanapun asal jangan di kediaman Ratu." Berdiri ia terhuyung karena menginjak ujung jubahnya sendiri dan menabrak dayang sampai mereka berdua terjatuh. "Maafkan hamba." Dayang itu meminta maaf dan membungkuk hormat setelah Jaejoong menjauh dari atas tubuhnya..

Jaejoong tertawa terbahak bahak dan duduk di sisi dayang cantik yang ketakutan oleh kesalahan yang tidak ia perbuat. "Siapa namamu?"

Tanpa berani mengangka wajah dayang itu menjawab. "Nama hamba Shin She Hyung Nona."

"Nama yang cantik. Jadi She Hyung dimana aku akan tinggal."

Dayang itu tersenyum manis kearah Jaejoong dengan sorot mata berbinar bahagia. "Nona pasti akan menyukai tempat itu karena kediaman Violet berada di sebelah kiri Kediaman Ratu Hye Kyo." Ya Tuhan. Jaejoong merebahkan diri di lantai berlapis karpet yang masilah terasa keras di punggungnya. Dari seluruh Istana beserta ratusan kediaman juga paviliun dan juga kamar, kenapa Ratu menempatkan Jaejoong dalam jarak pengawasan wanita yang satu satunya membuat ia takut.

Demi ibunya yang cantik tidak biasanya ia takut menghadapi siapapum terlebih seorang wanita cantik. Oh, Ratu Hye Kyo memanglah Cantik seperti ibunya, dan Zao Wei tetaplah ibu tercantik di dunia bagi Jaejoong.

"Nona tidak boleh tidur di sini." Dayang Shin menunduk di atas Jaejoong untuk membantu wanita yang masih dalam keadaan berantakan itu berdiri. "Pangeran akan marah jika melihat Nona seperti ini."

"Apa peduliku dengan Pangeran kalian itu. Jadi kapan kita akan pergi ke kediaman Violet?"

"Sekarang, setelah barang barang Nona di kumpulkan. 'Mengibaskan tangan Jaejoong menarik jubah di kedua sisi tubuhnya lebih tinggi di atas mata kaki. Dayang Shin berlari mengekor Jaejoong karena dayang itulah dayang pribadi yang di tugaskan Pangeran untuk menemani kemanapun Jaejoong pergi. "Barang barangku hanya apa yang aku kenakan karena Pangeran kalian tidak memberiku waktu untuk berganti pakaian, bahkan kau lihat aku tidak memakai sepatu."

Dayang Shin menanggalkan sepatunya sendiri dan menghadang Jaejoong sebelum mereka keluar melewati pintu utama kediaman lajang Pangeran. "Pakailah Nona," Menunduk, Jaejoong melihat wanita itu hanya memakai kaos kaki putih yang sudah bolong di ujung jarinya. "Sepatu ini memang tidak sebagus sepatu kulit, hanya sepatu yang di buat dari kain biasa. Tetapi setidaknya pakailah untuk sementara sampai Pangeran memberi anda pakaian baru."

Jaejoong terharu, dan ia merindukan semua dayang di kediaman pribadinya, Sanko. Ia mengulum senyum dan kembali berjalan. "Pakailah, aku sangat berterima kasih karena kau memperhatikan keselamatanku tetapi kau lebih membutuhkanya."

Dengan tergopoh gopoh Dayang Shin mengekor Jaejoong keluar dan berhenti di ambang pintu. "Nona kearah sini."

Dayang muda itu tersenyum melihat tingkah Jaejoong yang memutar arah kearah lain sebelum menjulurkan lidah kearah penjaga.

"Oh kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal."

"Maafkan Hamba."

"Berhenti minta maaf dan pimpin jalan."

~TBC~