Disclaimer : I do not own Naruto. All characters belong to Masashi Kishimoto.

Warning : SasuIno. Fantasy content. Adventure alert. Romance detected. Rating 17+ for violence, skinship and intimacy of touch.


BLEND X BOND

Perpaduan X Ikatan

- deception-

Eksistensinya hampir tampak bagai perpaduan sempurna antara maskulinitas dan keindahan. Membuat Ino harus menahan keinginan supaya tidak menjulurkan tangan untuk menggapai ke arah sang vampir. Menyentuhnya. Menariknya. Merasakannya.


Sepasang mutiara biru milik Yamanaka Ino kini tengah menilik sebuah bangunan megah yang berdiri hampir satu mil di depan sana.

Kediaman elit itu terletak di pusat sederetan pepohonan tinggi yang membentang luas mengelilinginya. Sebuah taman hutan yang tampak sengaja dibuat untuk memisahkan bangunan tersebut dari keramaian kota.

Perempuan penyihir itu mencermati detail sekeliling mansion yang sedang diamatinya tersebut. Namun usahanya tentu tak akan membuahkan banyak hasil. Sejeli apa pun pandangannya, tentu saja jarak penglihatannya masih terbatas. Ino menghela napas singkat.

Sang penyihir sedang mengamati mansion itu dari atas sebuah pohon ek tertinggi di taman hutan tersebut, namun ia tetap tidak bisa menyimpulkan banyak. Hal paling jelas yang bisa dilihatnya hanyalah keberadaan gerbang besar dan pagar tinggi yang dibangun melingkupi seluruh area mansion mewah itu.

Ino agak merengut.

Kemampuan penglihatannya tidak bisa dibandingkan dengan kapabilitas pandangan seorang vampir yang kini sedang berdiri di sampingnya. Mendekati saja tidak. Lelaki itu seperti menanamkan benda semacam teropong tercanggih di sepasang matanya.

Menyisir markas big boss mafia yang menjadi target mereka sama sekali bukanlah masalah untuknya. Meski kini mereka tetap menjaga jarak seaman mungkin, hal itu tidak menghambat aktivitas pindai sang vampir. Lelaki itu bisa melakukannya dengan mudah hanya dengan memakai kemampuan sepasang pupil merahnya.

Tak perlu menunggu lama sampai Uchiha Sasuke selesai memperoleh informasi yang mereka butuhkan.

Dan benar saja.

Ketika Ino menoleh ke arah lelaki itu, dilihatnya sharingan Sasuke sudah kembali memekat hitam.

"Selesai?" gumam Ino.

"Hn," Sasuke menyahut singkat.

Ino memandang lelaki itu sejenak, lalu menggeserkan tubuhnya mendekat. "Ayo," ajaknya.

Sasuke menengok ke arah perempuan itu. Ia mengagguk, lalu membalikkan badannya untuk mulai meraih tubuh Ino. Sang penyihir membiarkan vampir itu merangkul tubuhnya, lalu membawanya terjun bebas dari atas pohon kayu tinggi tersebut.

Setelah kembali berpijak di atas tanah, keduanya langsung menghampiri motor mereka yang sedang terparkir tidak jauh dari sana.

Cukup untuk sekarang. Ino merasa tidak perlu bertanya apa pun dulu. Yang mereka butuhkan hanyalah informasi mengenai target, sebelum keduanya benar-benar bergerak untuk menerobos tempat itu nantinya.

Ino tak berkata apa pun lagi, begitu pula dengan Sasuke. Mereka telah sama-sama melewati hari yang cukup melelahkan. Keduanya hanya ingin segera menemukan tempat untuk singggah dan menginap.

Kini sinar mentari mulai memudar, pertanda sore telah datang.

Sang vampir memang harus mengistirahatkan diri setelah beberapa kali menggunakan kekuatan sharingannya untuk berteleportasi, juga memindai sepenjuru kota untuk melacak letak tempat tujuan mereka ini.

Setelah akhirnya mereka menemukan dan mencapai markas mafia besar itu sesuai arahan dari Samui, keduanya sepakat untuk singgah sebentar hanya untuk mengamati keadaan. Ino meyakinkan Sasuke untuk tidak bergerak gegabah.

Setelah mengetahui lokasi target mereka, sepasang vampir dan penyihir itu segera beranjak pergi dari sana, dan akan kembali lagi nanti setelah menyusun rencana invasi yang matang.

X X X

Bulan sabit tengah membayangi malam dengan cahaya oranye kemerahan.

Ino menengadahkan kepalanya yang sedang tersandar di puncak sofa ke arah jendela untuk sejenak mengamati langit malam.

Sungguh remang kegelapan yang menenangkan.

Perlahan Ino memejamkan mata. Benaknya mereka-ulang informasi yang telah dibeberkan secara rinci oleh Sasuke sesaat setelah mereka sampai di kamar hotel ini beberapa waktu lalu.

Info mengenai kediaman sang mafia. Keamanan ketat yang tidak mudah ditembus yang melindungi tempat mafia itu.

Ino mendesah pelan. Ia tahu invasi kali ini tidak akan berjalan mudah. Bukannya ia meragukan kemampuan lelaki Uchiha itu atau kemampuannya sendiri, hanya saja, ini akan cukup merepotkan.

Target mereka kali ini adalah kelompok mafia besar nan ternama yang notabene disegani dan dihormati oleh seluruh komunitas. Dengan pengaruh sebesar itu, tidak heran jika anggota mafia tersebut berjumlah beberapa kali lipat dari jumlah family Samui dengan keahlian bertarung yang mumpuni.

Dengan kata lain, yang terburuk, Ino harus mempersiapkan diri untuk bisa melumpuhkan semua orang di sana yang jumlahnya entah mencapai berapa banyak.

Ino membuka mata ketika menyadari suara shower dari dalam kamar mandi sudah berhenti terdengar. Bibir kemerahan perempuan itu sempat mengerucut sebentar. Lalu dengan gerakan malas, ia segera beranjak dari sofa dan mulai berjalan menghampiri meja yang telah penuh dengan berkas pengamatan mereka.

Ino masih menggerutu dalam hati.

Vampir itu selalu saja keluar dari kamar mandi dalam waktu yang singkat. Tak bisakah lelaki itu menikmati rasa berendam air hangat dengan santai seperti yang sering dilakukan oleh dirinya?

Rambut pirang panjang Ino bahkan belum kering sepenuhnya. Dan kini mereka sudah harus memulai lagi kegiatan yang tadi sempat tertunda, menyusun rencana untuk invasi nanti.

Ino mulai menatap coretan yang dibuatnya. Deretan garis itu membentuk denah kediaman sang mafia. Beberapa tempat telah ditandai sesuai titik posisi para penjaga, menurut informasi yang disampaikan Sasuke sebelumnya.

Melihat banyaknya titik manusia di sana, Ino kembali diyakinkan bahwa sistem kemanaan tempat itu memang terjaga rapat. Tentu saja markas selevel big boss tidak akan mudah ditembus.

Gerbang mansion yang dibuat tinggi memang bukan penghalang besar bagi sang vampir karena lelaki itu bisa dengan mudah meloncati pagar mansion, namun hal tersebut akan terlalu mencolok untuk dilakukan. Jika mereka mengundang perhatian sedari awal, maka kehadiran mereka –yang pastinya tidak diinginkan di sana— akan langsung ketahuan.

Akan lebih baik jika semuanya dilakukan secara cepat dan diam-diam. Tentu saja itu akan menghemat tenaga mereka juga. Mereka hanya perlu menemukan manusia indigo itu untuk membayar rasa penasaran sang vampir, kan? Jika beruntung, mereka juga akan memperoleh informasi mengenai alkemis.

Ino menekan dagunya dengan jari telunjuk, berpikir. Lantas apa yang harus mereka lakukan? Perlukah dirinya melancarkan sihir hipnotis sedari awal?

Pintu kamar mandi di belakang sang penyihir mulai menjeblak terbuka.

Sasuke keluar dengan badan atas belum terlapisi pakaian dan handuk masih tersampir di pundaknya. Rambut hitam legamnya masih meneteskan bulir air. Dilihatnya, sang penyihir sedang berdiri memunggunginya, masih asik berkutat dengan arsip di atas meja.

Tetap memandang lekat sosok perempuan bertubuh jenjang itu, sang vampir berjalan ke arahnya.

"Apa yang akan kau lakukan jika kita benar-benar menemukan manusia indigo yang menjadi targetmu itu?" tanya Ino tanpa menoleh, menyadari Sasuke tengah mendekat dari suara langkah kakinya.

"Kita lihat nanti," jawab Sasuke tak acuh. Ia dapat melihat bahu Ino terkedik singkat saat perempuan itu membuang napas dalam.

"Well, asalka— ekh!"

Ino terkesiap saat ia merasakan kedua lengan sang vampir tiba-tiba melingkari leher dan menyusupi satu sisi pinggangnya, memeluk tubuhnya dari arah belakang. Tak lama kemudian bahu Ino memberat saat dagu Sasuke mulai bersandar di pundaknya.

Seketika Ino berjengit, masih kaget dengan perlakuan tiba-tiba tersebut. Refleks dua tangannya mencengkeram masing-masing lengan lelaki itu. Ia tahu apa yang akan dilakukan sang vampir sekarang.

Sasuke sedang menagih bayarannya. Lelaki itu hendak mengisap chakranya.

Ino tahu sang vampir akan melakukannya cepat atau lambat, tetapi kini ia masih belum mempersiapkan diri. Mereka bahkan belum selesai berunding.

Berusaha tetap tenang, perempuan itu bergumam, "Tunggu. Masih ada yang harus dibicara— emmh,"

Sasuke tak berniat mendengarkan.

Ucapan Ino terhenti saat ia merasakan mulut sang vampir mulai singgah di tepi tengkuknya. Ino segera menunduk dan menarik cepat kepalanya ke depan, berusaha menjauh dari jajahan sentuhan bibir si lelaki yang terasa menggelikan di kulitnya itu.

"Sasuke, tunggu dulu..."

Lelaki itu tetap mengabaikan. Bibirnya kini sudah mulai menciumi garis tengkuk perempuan dalam dekapannya. Meninggalkan jejak basah di sepanjang sana.

Ino menghela napas dalam. Ia bisa merasakan jantungnya mulai berdegup dengan irama lebih kencang.

Sementara Sasuke memejamkan matanya yang kini sudah mulai berubah warna menjadi semerah darah. Ia mengeratkan pelukannya atas tubuh semampai Ino selagi hidungnya mengendusi aroma khas milik perempuan itu melalui batang leher jenjangnya. Menikmati harum wewangian bunga dan dedaunan herbal yang selalu menguar dari tubuh perempuan penyihir itu.

Sasuke bisa merasakan tubuh Ino menegang. Kuku-kuku jari tangan perempuan itu menancap kuat di lengannya. Tetapi sang lelaki malah menyenangi rasa gigitan tumpul ujung jemari milik penyihir itu yang terasa seperti sedang menggelitiki kulitnya.

Ketika Sasuke mulai menjulurkan lidahnya untuk mencicipi kulit sensitif di daerah sekitar leher Ino, perempuan itu melenguh sambil sedikit memiringkan kepalanya ke samping. Tubuhnya merespon dengan geliatan lemah. Beberapa kali lidah lelaki itu bergerak naik-turun menggodai batang leher jenjang si perempuan. Melembabkan kulit di sekitar sana.

Berhasil membuat Ino merintih lebih dalam. "Nnhh,"

Perempuan penyihir itu tak berkata lagi. Atau pun berontak. Hanya suara napasnya yang terdengar berembus dalam beberapa kali setiap saat mulut Sasuke menghisap dan menggigit pelan lehernya. Ino tahu, percuma saja jika ia terus menolak atau berusaha mengulur, karena sang vampir tidak akan peduli dengan alasannya.

Maka Ino tetap membiarkan saat tangan lelaki itu mulai menarik dan melonggarkan kerah kemejanya, membuat semakin banyak kulit di puncak bahunya terekspos.

Sampai akhirnya Sasuke mencuatkan taringnya keluar dan mulai menusukkan ujung tajamnya menembus leher si perempuan.

"Ukh," Ino menahan pekikan di mulutnya dengan mengatupkan giginya kuat-kuat.

Tubuhnya mulai memanas dan kulitnya yang sedang ditancapi taring berangsur terasa gatal. Sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak terakhir kali sang vampir mengisap chakranya. Gairahnya seolah tersulut.

Aquamarine Ino terpejam. Ia sengaja menggigit bibir bawahnya untuk tetap mempertahankan kesadaran, berusaha untuk tidak terlena dengan rasa hisapan itu. Mulut sang vampir yang sengaja bergerak lambat saat menghisap, terasa semakin menggelitiki kulitnya.

Ino berusaha mengalihkan fokusnya ke tempat lain.

Rambut dan tengkuknya berangsur terasa dingin akibat tetesan air dari rambut basah Sasuke yang mulai merembes juga padanya. Begitu pula tubuh bagian belakangnya yang juga ikut melembab akibat badan basah lelaki itu kini sedang menempel rapat pada tubuhnya. Kelembaban tubuh topless sang vampir ikut menyesap ke kain kemeja putih di punggungnya.

Rasa hangat tubuhnya dan dingin bajunya bercampur begitu saja. Tanpa sadar Ino menyandarkan badannya ke belakang. Merapatkan punggungnya pada dada telanjang si lelaki.

Sementara Sasuke masih sibuk meneguk chakra sang penyihir. Aliran energi itu tetap terasa manis di mulutnya. Seperti saat pertama kali ia mencicipinya. Sasuke menyenangi rasa panas yang mengalir melalui kerongkongannya dan rasa terbakar di dalam tubuhnya.

Perlahan sang lelaki menaikkan tangannya sejajar dada Ino untuk mulai mencari kerah kemeja putih yang dikenakan perempuan itu. Setelah berhasil meraih ujungnya, Sasuke mulai membukai kancing kemeja longgar itu satu per satu.

Jemari Ino masih menangkup kuat masing-masing lengan Sasuke. Ia menyadari apa yang sedang dilakukan lelaki Uchiha itu sekarang, namun ia tak bisa menghentikan. Sepertinya, perempuan itu sudah mulai terbuai. Ino bisa merasakan kerah bajunya semakin ditarik terbuka dan terus direndahkan sampai seluruh sisi bahunya terekspos.

Akhirnya Sasuke menarik taringnya keluar dari leher Ino. Namun ternyata, lelaki itu tidak berhenti. Alih-alih segera menggerakkan mulutnya menelusuri pundak Ino, lalu beralih menancapkan sepasang gigi tajamnya itu di pundak bawah si perempuan.

"Ummhh..." Ino merintih lagi.

Vampir itu kembali mengisap chakranya. Napas Ino sudah mulai terengah dan tubuhnya melemas. Bagaimana tidak, energi terus tersedot keluar dari tubuhnya dengan cara yang... cukup menggairahkan. Ino mulai kehilangan tenaga untuk berdiri, maka ia membiarkan punggungnya ditopang sepenuhnya oleh badan Sasuke.

Setelah membiarkan sang vampir berbuat seenaknya untuk waktu yang cukup lama, akhirnya Ino berdesis lirih. "Sasuke.. Berhenti," mohonnya. Satu tangannya mulai menangkup sebelah sisi kepala si lelaki.

Mendengar itu, sang vampir terdiam sejenak, lalu mulai membuka mata merahnya. Ino bernapas keras saat Sasuke mencabut taringnya.

Sasuke mengangkat kepalanya dan melongok ke depan, memandang paras cantik sang penyihir. Dilihatnya sosok cantik bermanik biru itu tengah memandangnya dengan tatapan memohon. Aquamarinenya sedang tergenang, pipinya bersemu merah. Bibir ranumnya merenggang, seakan sedang sengaja mengundang. Tubuh perempuan itu bersandar lemah dan kelelahan dalam dekapnya.

Sasuke membelai lembut surai pirang Ino selagi mulutnya kembali menjilati bekas gigitan di leher dan pundak perempuan itu, untuk menghapus jejak chakranya yang tertinggal. Setelah cukup menghujani dua tempat tersebut dengan serangkaian kecupan lembut, Sasuke mulai menegakkan diri. Lalu dengan perlahan, lelaki itu mengangkat Ino ke dalam gendongan dan segera membawa tubuh semampainya menuju tempat tidur.

Perempuan Yamanaka itu merasakan tubuhnya dibaringkan pelan ke atas kasur, membuatnya sempat mendesah lega.

Namun hanya untuk sesaat.

Tak lama kemudian safir biru Ino memerhatikan Sasuke ikut menumpukan satu lutut untuk naik ke atas kasur, bergabung bersamanya. Sang perempuan menatap lemah ke arah lelaki itu.

Tubuh tegap sang vampir yang masih terekspos kini dapat terlihat jelas oleh jarak pandang Ino. Otot perut dan dadanya terbentuk dengan baik. Kulit putih bersihnya mulus tanpa noda. Bahunya kokoh, garis rahangnya tegas dan kuat. Rambut ebony basahnya yang sedang menjuntai di setiap sisi wajah tampannya tampak mengkilat hitam memantulkan cahaya malam. Eksistensinya hampir tampak bagai perpaduan sempurna antara maskulinitas dan keindahan.

Membuat Ino harus menahan keinginan supaya tidak menjulurkan tangan untuk menggapai ke arah sang vampir. Menyentuhnya. Menariknya. Merasakannya.

Perempuan itu menyadari pupil merah Sasuke masih menyala dan taringnya masih bertengger di antara celah mulutnya. Tatapan ruby-nya yang masih digenangi hasrat, tetap tampak begitu indah dan mengundang.

Ino hanya terdiam menatapnya, namun aquamarinenya segera melebar saat menyaksikan Sasuke mulai merendahkan diri untuk menindih tubuhnya yang sedang terbaring lemah.

Rupanya sang vampir masih belum merasa puas.

"Sudah.. cukup," bisik Ino menunjukkan sedikit penolakan, ketika Sasuke terus menundukkan kepala ke arahnya.

Dua jari Ino ditempatkan di mulut Sasuke, mencegah lelaki itu untuk kembali mengisap chakranya. Seharusnya sang vampir bisa tahu bahwa energi spiritual sang penyihir kini sudah mulai menipis. Lelaki itu sudah menghisap cukup banyak.

Namun upayanya sia-sia, karena Sasuke malah menangkap tangan Ino dan mengecup pelan jemarinya. Sang Uchiha tetap merendahkan kepalanya.

Ino mendesah pelan. Lelaki itu tak berniat untuk berhenti, rupanya. Satu tangan besarnya malah menyelinapi leher Ino dan menangkup tengkuknya.

Aqua dan ruby sempat berpandangan lebih lama sebelum Sasuke mulai mengecup singkat bibir Ino.

Ah. Ino sudah tidak mempunyai tenaga untuk menolak.

Perempuan itu hanya bisa memejamkan mata saat sang vampir kembali menurunkan kepalanya. Menelusurkan bibir melewati garis leher dan pundaknya. Meninggalkan jejak basah di sepanjang sana saat lidahnya kembali berulah.

Ino menghela napas dalam.

Sasuke berhenti untuk menempatkan mulutnya di dada atas Ino yang masih terbuka akibat perbuatan lelaki itu sebelumnya.

"Ah,"

Ino merasakan taring itu kembali menembus kulitnya. Membuat tubuhnya menggeliat tak berdaya. Satu tangan Ino segera meraup rambut hitam Sasuke, dan menjambaknya pelan. Sementara satu tangannya yang lain digunakan untuk membekap mulutnya sendiri. Menahan rintihan agar tidak lolos dari mulutnya.

Jika terus begini.. Ino bisa kehabisan chakra, dan kehilangan kesadaran.

"Haa..."

Perempuan itu mengisap punggung tangannya. Sampai pada akhirnya Ino menjambak rambut Sasuke lebih keras, sebelum lelap mulai menjemput kesadarannya... pelan-pelan.

Membawa Ino tenggelam bersama kegelapan malam.

x x x

Sang penyihir terbangun esok harinya saat mentari sudah menggantung lumayan tinggi di ufuk timur.

Sorot cahaya siang terhalang masuk oleh kanopi pepohonan, membentuk bayangan dedaunan yang menari-nari menerpa paras ayu perempuan itu.

Ino hanya mengedipkan mata birunya beberapa kali untuk beberapa saat. Merasakan energi telah kembali mengisi penuh dirinya.

Setelah cukup lama terdiam, Ino menyibakkan selembar selimut yang melapisi tubuhnya dan mulai berguling ke samping untuk mencari keberadaan Sasuke.

Tak perlu lama sampai manik birunya menangkap sosok sang vampir.

Lelaki itu sedang duduk santai bersandar pada sofa di seberang kanan tempat tidur, tengah membaca sebuah buku yang entah apa isinya dan entah didapatkannya dari mana.

Ketika Ino mulai bangkit ke dalam posisi duduk, vampir itu menoleh.

"Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Ino datar saat mata keduanya mulai bertemu. "Kukira kita akan mulai bergerak hari ini."

Sasuke mengamati perempuan itu sejenak, mencermati penampilan bangun tidurnya. "Masih ada yang perlu kita bicarakan sebelum pergi," jawabnya.

"Hoo," desis Ino malas, setengah mencibir. Salah siapa tiba-tiba menyerangnya semalam tadi sampai dirinya butuh istirahat yang cukup... lama?

"Oke," gumam Ino, memutuskan untuk menutup pembicaraan. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.

Perempuan itu berhenti di depan cermin untuk melihat pantulan bayangan dirinya di sana. Penampilannya sedang berantakan dengan baju yang masih setengah terbuka.

Ino mendesah pelan. Ia melepaskan sisa kancing terakhir yang masih menyambungkan bajunya, lalu membuka kemeja putih kebesaran milik Sasuke yang sedang dipakainya itu, karena ia memang sedang kehabisan gaun tidur. Lalu Ino memiringkan lehernya dan sedikit memutar tubuhnya, mengecek keberadaan bitemark yang ditinggalkan sang vampir semalam.

Aquamarine Ino menatap datar ke arah cermin. Ada tiga bekas gigitan disana. Satu di lehernya, satu di pundak belakangnya dan satu lagi di dada bagian atasnya. Tidak tanggung-tanggung lelaki itu menggigitnya di tiga tempat dan mengisap chakranya sebanyak tiga kali.

Bibir ranumnya mengerucut, tapi mata birunya memancarkan kelegaan.

Untunglah bekas merah itu tidak bertambah. Berarti Sasuke masih tahu diri dan berhenti mengisap chakranya setelah Ino tumbang duluan.

Meski demikian, perempuan itu tetap merengut. Ia bisa saja merasa kesal pada vampir itu sekarang, tapi Ino segera menyadari bahwa itu tidak akan ada gunanya. Lain kali, dirinya-lah yang harus lebih berhati-hati agar tidak mudah diserang seperti semalam.

Ino paham jika Sasuke memang sedang kelaparan, karena sudah cukup lama semenjak terakhir kali lelaki itu mengisap chakranya. Juga sang vampir pasti sedang sangat kelelahan akibat beberapa kali memakai sharingannya untuk berteleportasi dan memindai beberapa kota yang sempat mereka kunjungi sebelum akhirnya sampai di tempat ini.

Vampir itu tentu butuh mengisi ulang chakranya. Namun bukan berarti dia bisa mengambil energi dari tubuhnya dengan seenak hati.

Ino mendesah malas.

Tetapi jika ia protes dan menyuarakan hal itu, Sasuke hanya akan membalikkan perkataannya. Karena kenyataanya, lelaki itu telah lebih dulu membolehkan Ino untuk menyerap aura darinya dengan sesuka hati.

Oke. Mereka impas.

Kini Ino hanya bisa mengacak rambutnya.

Ia hanya belum merasa terbiasa... dengan cara vampir itu mengambil jatah chakranya.

.

.

Dua hari berlalu.

Kini sepasang vampir dan penyihir itu telah berada di taman hutan yang merupakan halaman rumah dari mafia target mereka lagi.

Keduanya masih menjaga jarak aman dari gerbang mansion, namun sharingan Sasuke tetap bisa menerawang ke dalam sana.

"Dua datang," ujar Sasuke.

Mereka menunggu sejenak sampai dua orang lelaki berpakaian formal dan bersenjatakan lengkap mulai memasuki hutan dan datang mendekat. Barangkali keduanya sedang berpatroli.

Setelah bayangan dua orang itu cukup tersembunyi oleh kanopi pepohonan rimbun, Ino segera mengangkat pistolnya. Ia sempat mencuri informasi yang diperlukan sebelum melumpuhkan mereka dengan mudah.

Sasuke menyeret tubuh dua anggota mafia itu dan menyembunyikannya di balik semak. Lalu ia menoleh ke arah Ino. Dilihatnya perempuan itu hanya berdiri diam sambil merengut.

"Mereka tidak akan bangun setidaknya untuk seharian," ujar Ino ketika Sasuke berjalan menghampiri. "Tampaknya kedua orang itu tidak tahu apa pun mengenai keberadaan orang yang kita cari," lanjutnya, menyelidik ke dalam memori baru yang barusan ia dapat. "Sepertinya mereka hanya pengawal rendahan."

"Hn," gumam Sasuke paham. Ia menunggu sejenak selama Ino mentransfer informasi tersebut langsung ke dalam benaknya. Setelah selesai, ia mulai melangkah ke arah jalan keluar dari hutan.

Ino mengikuti. "Kau benar-benar tidak menemukan keberadaan aura kaumku di dalam sana?" tanyanya pelan.

"Tidak," jawab Sasuke segera. "Tidak ada jejak Yamanaka atau pun Uchiha di sini."

"Itu berarti, Scarlet Eyes milik kaummu juga tidak ada di sini."

"Ya."

"Baguslah," Ino mendesah lega.

Sasuke melirik perempuan itu.

"Jika ada, maka hanya akan membuat kita terdistraksi," gumam si perempuan.

Sasuke menatap aqua milik Ino lebih lama. Benar kata penyihir itu. Jika ia dapat mendeteksi keberadaan bagian tubuh kaum mereka di suatu tempat di markas mafia tersebut, maka sudah pasti Sasuke akan sulit mempertahankan ketenangannya seperti sekarang.

Sang penyihir tersenyum tipis ke arahnya.

"Hn," respon Sasuke singkat.

Keduanya tidak bertukar kata lagi sampai mereka tiba di tepi gerbang pagar.

Ino kembali mengamati kediaman mafia yang akan dimasukinya sebentar lagi, sekarang dari jarak dekat. Dilihat dari luar, tempat itu terlihat cukup kosong.

'Kalian yakin? Ini akan jauh lebih berbahaya dari sekedar menginvasi dua kelompok mafia tempo hari.' Untuk sesaat, ia kembali mengingat peringatan cemas Samui tempo hari.

Ino meniupkan udara keluar dari antara celah mulutnya.

Menerobos masuk ke sarang big boss. Konfrontasi secara langsung. Hanya berdua saja. Mungkin jika tahu, Samui akan menganggap mereka sudah gila. Menahannya, menggapnya sengaja bunuh diri. Tapi entahlah... ada seorang vampir yang kehendaknya tidak bisa dihentikan di sini.

"Sistem keamanannya dikendalikan dari dalam. Kita perlu izin untuk masuk," ungkap Ino setelah selesai melamun. "Kau yakin kita bisa menangani ini?"

"Ya."

Ino menaikkan alis, namun ia tak berucap lagi. Perempuan itu memfokuskan pandangannya ke arah pintu gerbang yang menjulang tinggi di depannya. Pagar besi itu ternyata lebih tinggi dari prediksi pengamatannya tempo hari. Begitu pula pagar tembok yang menyertainya.

Saat manik biru Ino menangkap keberadaan bel, penyihir perempuan itu segera mengangkat tangannya dan menekan bel tersebut.

Tak berapa lama kemudian, muncul seorang pria tua berseragam rapi keluar dari balik sebuah pos yang berada tak jauh dari gerbang.

"Maaf," ujar pria tersebut terdengar sopan. "Ada yang bisa dibantu?"

Ino sempat mengerutkan alisnya ketika melihat orang itu. Pria tua berbadan kurus tersebut tak tampak seperti anggota gangster. Penyamaran, kah? Apa keberadaan markas mafia sebesar ini juga masih harus disamarkan dari dunia luar?

"Kami adalah kandidat bodyguard baru yang direkomendasikan oleh Senjikai," ujar Ino random.

Sasuke menatapnya dengan alis tertaut. Begitu juga dengan orang di seberang pagar.

"Jika tidak memiliki kepentingan, harap segera meninggalkan tempat ini," timpal si pria tua setelah sempat terdiam sebentar, nampaknya tidak terpengaruh.

"Sepertinya cara seperti ini memang tidak akan berhasil." Ino menoleh pada Sasuke yang masih memandangnya dengan tatapan tanya.

"Siapa itu Senjikai?" tanya lelaki itu.

"Entahlah, aku hanya bicara asal. Siapa tahu mereka terpancing dan membiarkan kita masuk begitu saja?" ucap Ino santai sambil mengedikkan bahu.

Sasuke hanya melempari perempuan itu dengan tatapan datar.

"Ahem," sang penjaga kembali menginterupsi, membuat Sasuke dan Ino kembali meluruskan kepalanya ke depan. "Jika tidak memiliki kepentingan—"

Pria itu terperangah saat menyaksikan Ino memalingkan muka padanya dan langsung melemparinya tatapan tajam.

Perempuan itu hendak mengangkat satu pistolnya, tetapi Sasuke segera menghentikan dan menurunkan lengan Ino yang hampir mengacungkan pistol hitam itu.

Dahi Ino mengkerut. "Apa yang—"

"Serahkan padaku," potong Sasuke. "Percuma melumpuhkan orang ini jika masih ada orang lain yang mengamati dari dalam."

Si lelaki ikut menempatkan tatapan tajamnya pada pria tua di dalam sana.

"Dengar," Sang vampir memulai.

Refleks, Ino segera menolehkan lagi kepalanya pada sang vampir ketika ia merasakan sharingan Sasuke mendadak diaktifkan. Kini lelaki itu memang tengah memandang pria penjaga gerbang dengan sepasang mata merahnya. Aqua Ino menyipit. Ia dapat melihat beberapa titik tomoe hitam muncul dan berputar cepat mengelilingi pupil merah sang vampir.

"Sambungkan aku dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas pintu gerbang ini," lanjut Sasuke.

"Baik," jawab pria tua itu, dengan mudahnya mengiyakan. "Silakan bergeser ke arah sana untuk pengecekan identitas." Ia menunjuk pada sebuah pilar penyangga di samping pagar. Pria tersebut segera kembali ke dalam posnya.

Ino masih memerhatikan Sasuke dengan dahi berkerut. Tetapi ia mengikuti arahan sang penjaga.

Sesaat kemudian, sebuah kamera pengawas muncul keluar dari sebuah ruangan kecil dalam dinding. Benda itu bergerak turun dan memindai ke arah Sasuke dan Ino berdiri.

Ino kembali melirik heran Sasuke. Dengan sharingan yang masih aktif, lelaki itu menatap tajam ke arah kamera.

"Buka," titahnya.

Ino sedikit melebarkan aquanya ketika mendapati pintu gerbang di hadapan mereka berangsur terbuka.

Tanpa merasa sungkan, Sasuke mulai berjalan masuk.

"Apa yang barusan kau perbuat?" bisik Ino, mengiringi langkah lelaki Uchiha itu. "Sharinganmu... bisa digunakan untuk menghipnotis?"

"Tidak," tepis Sasuke.

"Lantas? Mengapa mereka tiba-tiba menuruti perintahmu begitu saja?" tanya Ino lagi, kentara keheranan.

Sasuke melirik ke arahnya.

"Sharinganku menanamkan sebuah ilusi ke dalam kepala mereka," jawab lelaki itu.

Ino menekukkan alisnya. "Ilusi? Tapi orang-orang itu berada jauh di dalam sana..."

"Mereka hanya perlu menatap pupil merahku saat aku mengaktifkan teknik itu," papar Sasuke.

Aqua Ino menyipit. "Jadi kau punya teknik untuk mengendalikan seseorang? Itu sungguh mirip dengan kemampuan hipnotis milikku."

"Cara kerjanya berbeda," koreksi Sasuke segera. "Teknik ilusi hanya membuat mata mereka melihat citra yang berbeda dari aslinya. Sharingan memanipulasi aliran chakra di otak target sehingga memberi gangguan pada indera mereka, membuatnya mengganti realitas dengan pemahaman ilusif."

Ino masih memandang lelaki itu dengan tanda tanya. Maka sang vampir melanjutkan,"Dengan kata lain, aku hanya mengontrol kerja panca indra mereka sementara kesadaran mereka masih bekerja," klarifikasi Sasuke. "Bukan merasuki benak mereka dengan sejenis sihir dan memperdaya mereka sepenuhnya sampai hilang kesadaran, seperti apa yang kau lakukan."

Ino merengut. "Kuperjelas untuk ke sekian kalinya. Bakatku bukan ilmu sihir, tetapi sebuah bentuk seni. Sihir dan seni memang serupa namun tidak sama," sanggahnya.

Wajah Sasuke masih tak menunjukkan ekspresi apa pun.

"Well, lupakan saja," ujar Ino pada akhirnya. Tak ada gunanya juga menjelaskan pada orang yang bahkan tidak berusaha mencoba untuk paham. "Jadi, karena alasan itu kau menolak untuk memakai contact lens hari ini," paham perempuan itu.

Ino mengamati jalanan yang sedang mereka lalui. Taman rumah tersebut terbentang luas mengelilingi mansion berdinding abu yang masih berjarak sekitar dua ratus meter di depan sana. Beberapa buah pohon palem memagari sepanjang jalanan keras yang sedang mereka pijaki. Rerumputan hijau terhampar menutup tanah dan semak-semak kerdil menghiasi kedua sisi jalan.

Beberapa penjaga mengamati keduanya dengan tatapan heran, namun mereka hanya diam di tempat. Barangkali orang-orang itu tidak segera bergerak karena belum menerima perintah apa pun. Sementara di tepi pagar dinding, sekumpulan anjing menggeram, sedang meneduh dan menyembunyikan diri di bawah naungan pohon maple. Namun mereka tetap terbaring di tempatnya, hanya memandangi sang vampir dan penyihir dalam waspada.

Ino menatap kerumunan berbeda spesies itu lumayan lama, memastikan kedua jenis penjaga tersebut tak akan menyerang, sebelum akhirnya menolehkan lagi kepala ke arah depan.

Sang vampir dan penyihir mulai mencapai tepi beranda, menghampiri tempat seorang pria bertubuh tegap dan berpakaian formal yang telah menunggui mereka di sana. Ia nampak seperti seorang pelayan.

Pria itu membungkuk singkat untuk memberi salam. Lalu ia berbalik, hendak memandu tamunya memasuki bangunan megah di belakangnya. Sepertinya, pria tersebut memang sengaja dikirim oleh orang-orang yang tadi mengawasi dengan kamera pengintai.

Keduanya diantarkan melewati sebuah koridor terbuka yang terbentang panjang di muka lain taman. Lantainya dilapisi karpet berplat merah di bagian tengah, sengaja dijadikan sebagai jalan dan corak papan catur di masing-masing sisinya sebagai hiasan. Patung-patung pahatan manusia berbagai bentuk dan ukuran ditempatkan di setiap sisi pilar-pilar yang menyangga atap koridor. Lukisan-lukisan besar berbagai objek disemat di sepanjang dinding.

Sasuke dan Ino masih belum bicara sampai keduanya diarahkan memasuki sebuah ruangan berpintu besar di ujung lorong.

Setelah mengetuk pintu dengan buku jarinya, si pelayan segera pamit dan berbalik pergi meninggalkan mereka.

Ino sempat mengamati kepergian pria itu, sebelum akhirnya memutar badan untuk menghadap pintu.

"Ilusi apa yang kau terapkan, omong-omong?" tanya Ino, masih merasa penasaran.

"Membuat mereka beranggapan bahwa kita adalah rekan," jawab Sasuke.

Ino terdiam sejenak. Mencermati pintu kayu berukir gambar singa pedang yang menjulang tinggi di hadapannya.

"Apa ilusi sharinganmu itu bisa berlaku juga padaku?" Ino menyuarakan apa yang dipertanyakan benaknya sejak tadi.

"Sepertinya tidak," jawab Sasuke jujur.

Ino menekukkan alis dan menengok pada lelaki itu.

"Sharinganku tidak dapat memanipulasi chakra di otakmu. Barangkali karena kau adalah seorang penyihir Enchanter, membuat indramu memiliki cara kerja sendiri dan sulit untuk diperdaya," jelas Sasuke.

"Oh," respon Ino singkat, masih berusaha untuk tidak menunjukkan kelegaannya.

Entah mengapa ia menyenangi dugaan bahwa sang vampir pernah mencoba untuk mengendalikannya dengan ilusi, namun sayangnya tak berhasil. Sang penyihir hampir merasa puas dengan pemikiran tersebut dan nyaris tersenyum.

Ino kembali menempatkan manik birunya pada pintu. "Jadi, apa yang perlu kulakukan di sini?" tanyanya. Ia tahu ilusi Sasuke tidak berlaku pada semua orang di rumah itu.

"Mengumpulkan informasi mengenai detail tempat ini dan mencari keberadaan orang yang sedang kita cari," jawab Sasuke. "Lakukan sesuai caramu."

Saat pintu mulai terbuka dari dalam, Ino melambaikan satu tangan tanda persetujuan.

Sepasang safir biru itu memindai cepat ruangan yang sedang dimasukinya. Langsung bisa dilihatnya, seorang pelayan wanita berdiri di ambang pintu dengan tangan masih menggenggam knopnya. Maid yang barusan membukakan pintu untuk mereka.

Bukannya berterima kasih, Ino malah bergerak gesit untuk segera mengangkat satu pistolnya dan merapal mantra steal.

Sang maid yang menjadi target sempat memekik, namun hanya sebentar saja karena ia langsung menangkup puncak kepalanya yang mendadak terasa pening.

Sasuke menyaksikan belasan orang lain yang berada di dalam ruangan itu melonjak dan memekik bersamaan karena kaget. Mereka hendak bergerak namun Ino beraksi lebih cepat. Ia menarik slide pistol-pistolnya, lalu dengan tangkas mengangkat kedua tangannya dan menembak acak ke arah mereka.

Mind art, hypnotism!""

Meski terkesan ditembakkan secara asal, namun pendar biru lingkar sihirnya selalu memastikan ke mana arah misil auranya melesat, menembus tepat sasaran pada semua targetnya.

Penghuni ruangan itu sempat berhenti bergerak untuk beberapa detik, sebelum mereka mulai bergerak melakukan aktivitas seperti sebelumnya. Mengobrol, menjamu, berjaga, atau membersihkan tempat itu.

Benar-benar mengabaikan keberadaan sang penyihir dan vampir di sana.

Sasuke selalu berhasil dibuat kagum dengan karya sihir perempuan itu. Tampaknya, gerakan serangan Ino selalu menjadi lebih cepat, efektif dan tak ada ragu, di setiap kali mereka menyerang.

Barangkali, karena sang penyihir sudah tidak perlu risau dengan batasan aura yang bisa dipakainya.

Tanpa menoleh lagi, Ino berjalan cepat menuju ruangan lain. Ia tidak ingin membuang lebih banyak waktu. Jika mereka bisa menyerbu secara diam-diam seperti tadi tanpa sempat terjadi keributan, maka sedikit pertarungan yang akan mereka dapatkan.

Belum terdengar keributan dari sudut mana pun di mansion itu, berarti belum ada yang sadar atas invasi mereka. Bagus.

Ino mengulangi aksinya di beberapa ruangan lain. Tempat demi tempat, lantai demi lantai. Menumbangkan cukup banyak penjaga dan pelayan, serta mendapatkan info lebih banyak.

Jumlah mafia di markas itu boleh saja banyak, namun mereka tetap manusia.

Kini keduanya hampir mencapai lantai mansion paling atas, yang menurut informasi yang didapatkan Ino, merupakan tempat kediaman orang-orang penting dalam rumah megah tersebut.

Saat berjalan menyusuri lorong koridor lantai itu, Ino tiba-tiba membelokkan langkah dan berhenti tepat di depan dinding yang terlapisi oleh sebuah lukisan besar. Ino menjulurkan satu tangan di sana.

Sasuke memandangnya heran, menduga perempuan itu telah kehabisan pasokan aura dan butuh beristirahat.

Namun, Ino hanya menengadahkan kepalanya untuk mengamati potret seseorang di dalam lukisan tersebut.

"Ini aneh," gumamnya. "Aku tidak dapat melihat apa pun. Ingatan mereka kabur. Seolah ada yang memang sengaja mencuci otak mereka untuk membuyarkan info dan menyembunyikan sesuatu," paparnya. "Sesuatu yang penting."

Perempuan itu berbalik untuk menoleh pada Sasuke.

"Apa maksudmu?" tanya lelaki itu.

"Informasi mengenai orang yang kita cari masih buram. Siapa dia, atau apa kekuatannya. Satu-satunya hal yang bisa kupastikan adalah orang-orang di sini diperintahkan untuk melayani seorang nona, yang bahkan belum pernah mereka temui secara langsung. Aku yakin orang itu cukup penting sehingga perlu penjagaan seketat ini." Ino berkata sambil safirnya melirik beberapa pelayan wanita yang sedang terhipnotis, dan para pengawal yang sudah terkapar di lantai karena ulahnya.

"Jiga begitu, kita hanya harus menemukan tuan rumah ini, dan mengunjungi nona yang kau maksud," ujar Sasuke.

Ino mengangguk. Tapi tetap saja... ia masih merasa ada sesuatu yang janggal.

Ketika keduanya tiba di ujung koridor, Ino terkesiap saat melihat bayangan sesuatu yang bergerak cepat tiba-tiba menyerbu ke arahnya. Dengan sigap Sasuke meraih tubuh perempuan itu dan segera meloncat beberapa meter ke belakang.

Mata Ino menyipit waspada. Dua buah benda tampak melesat bersamaan ke tempat keduanya berdiri, menyerang acak ke berbagai arah secara brutal. Menghantam tembok, menyenggol jendela, menyebabkan kehancuran beberapa properti di sana.

Saat gerakan benda itu memelan, Sasuke dapat melihat sosoknya dengan lebih jelas.

Dua ekor anjing herder?

Ino mengerjap saat sekawanan anjing lain mulai ikut bergabung. Menggeram, menggonggong dan menyerang serentak. Perempuan itu yakin sebelumnya pernah melihat anjing-anjing tersebut beristirahat di taman bawah.

Namun kini hewan-hewan itu tampak buas. Dengan mata merah dan lidah menjuntai mengucurkan liur, mereka kembali menyerang secara beringas.

Ino menghindari serangan dengan meloncat ke belakang dan berguling ke samping. Beberapa kali ia menembaki hewan-hewan itu. Sebagian kena, namun ada beberapa yang masih luput dari tembakannya karena mereka bergerak sangat cepat.

Sementara Sasuke melompat maju dan menebaskan pedangnya ke udara, membuat anjing yang tersisa memekik keras sebelum akhirnya tumbang melemas ke lantai.

Sang vampir menggapaikan satu tangannya ke ruang kosong di depannya lalu menyentakkan kuat jemarinya, membuat gerakan seperti sedang menarik sesuatu. Ino sempat heran saat melihat seorang pria berkulit gelap tiba-tiba muncul sambil menjerit.

Alis Ino menekuk. Jika diperhatikan lebih jelas ke arah tangan Sasuke, samar-samar Ino dapat melihat tali-tali chakra sedang dicengkeram lelaki itu, dan terhubung pada kedua tangan pria yang sekarang sedang di seretnya.

Beberapa tali yang tadi belum ditebas Sasuke ternyata masih terhubung pada anjing-anjing yang tergeletak pingsan di lantai.

Pemahaman datang pada Ino. Rupannya pria hitam itulah yang entah bagaimana telah mengendalikan anjing-anjing tersebut dengan menggunakan rantai chakranya.

Seorang indigo, rupanya.

Itukah orang yang sedang mereka cari?

Belum sempat Ino menyimpulkan lebih jauh, serangan lain datang dari arah belakangnya. Ino segera berbalik dan menghindar. Dilihatnya, seorang lelaki berotot dengan rambut jambul sedang memasang kuda-kuda dan menatapnya dengan penuh waspada.

Ino segera mengangkat pistolnya dan menembak. Tetapi lelaki itu bisa menghindar dan lanjut menyerangnya. Safir biru Ino melebar dalam kaget karena orang itu dapat lolos dari tembakanya dengan mudah. Ino menangkis tinju lelaki itu, sempat merasakan besitan gelombang energi keluar dari ujung pukulan tangan kekarnya.

Pemahaman datang pada Ino.

Lelaki itu dapat melihat peluru auranya.

Seorang indigo lain, rupanya.

Heh. Ino menyeringai tipis. Lelaki itu kembali menerjangnya, kali ini disertai dengan tendangan. Ino melentingkan tubuh atletisnya ke belakang. Meski tampak menguasai serangan fisik, laki-laki itu tak bersenjata. Tetap tak akan sebanding dengan dirinya.

Si perempuan balik menghantam wajah lelaki itu dengan satu punggung pistol hitamnya. Lawannya mengaduh keras. Sementara pistol putihnya ditempelkan pada dada sang gangster, lalu dengan cepat menembakkan sihirnya lagi.

Lawannya tumbang.

Ino menoleh ke samping dan melihat Sasuke juga telah melumpuhkan lawannya. Perempuan itu berjalan mendekatinya.

"Aku ti—"

Ino melebarkan aquanya saat merasakan sesuatu melesat cepat dari arah belakangnya. Refleks Ino menggeserkan tubuh. Tapi sedikit terlambat.

DOR!

Ukh. Ino menangkup lengan atasnya.

Tembakan itu nyaris menyerempet kulit lengannya.

Ino berbalik cepat, lalu menengadah. Ia segera menemukan Sasuke sudah berpindah tempat ke depannya.

DOR! DOR!

Trang Trang.

Terdengar suara pedang lelaki itu menangkis butir peluru yang terus berdatangan untuk ditujukan pada mereka. Ino menatap sebentar peluru yang jatuh ke lantai. Pendar chakra tampak menyelubunginya.

Ino mendongak. Dilihatnya di ujung sana, seorang indigo lain tengah memegang erat senapannya.

Sasuke menggerakkan tangannya cepat ke udara kosong, lalu menangkap sebuah tombak chakra berwarna ungu yang tiba-tiba saja terbentuk di sana.

Sang vampir melempar tombak tersebut ke arah sang snipper dan langsung menikam dadanya.

Pria bertubuh kurus itu segera terkapar.

"Rupanya mereka memiliki beberapa orang indigo sebagai pengawal," tafsir Ino, setelah memastikan tidak ada lagi yang akan menyerang.

"Sepertinya," setuju Sasuke. Ia berbalik untuk mengamati Ino. "Lukamu?"

Perempuan Yamanaka itu mengedikkan bahu sebagai respon tak acuh. "Hanya goresan ringan."

"Biar kulihat," Sasuke hendak menggapai lengan Ino, namun perempuan itu segera menghindar.

"Ini bukan masalah," elak Ino. Ia memutar badan dengan cepat dan kembali bergegas untuk meneruskan langkah. "Kita harus bergerak cepat. Kegaduhan barusan pasti akan segera mengundang keributan lain di sini," Ia menyimpulkan.

Sasuke terdiam sesaat untuk memandang kepergian perempuan Yamanaka itu, lalu mulai mengikutinya dalam diam.

Sang penyihir benar.

Bagaimana pun, aksi mereka kali ini lumayan berbahaya. Semua harus diselesaikan dengan lebih cepat.

-TBC-


A/N.

Adegan isap-mengisap chakra dan sedot-menyedot aura a.k.a transfer energi disini semakin memanas LOL. Jadi aku memutuskan untuk memberi warning 17+

As for my late of update, I apologize. Aku sudah menyelesaikan beberapa fanfic di bulan Pebruari kemarin, so I thought I am worth for having a short break?

Mohon dimengerti XD

Thanks for ur wait. Ditunggu lagi reviewnya :)


-Kolom balas review reader yang tidak login-

Hana : makasih, semangat!

sasuino23 : yeaay sama aku juga suka bagian itu. aamiin, makasih udah pengertian~

Guest : baca terus ya

Name nis nisa : siip ini udah lanjut

Azzura yamanaka : jadi ratingnya dinaikin jangan nih? XD yg pasti keren banget~

Koalasabo : tebakanmu tepat ehehe diusahakan terus di next chap. Thanks udah setia nunggu :)

IstriSasuke : hahaha okeey diusahakan deh, tapi jgn minta buat cepet2 ditamatin juga kalo gitu. Hmm. Maaf, aku ga ada rencana untuk nulis ItaIno :( masih belum nemu feelnya sih, harus bikin aku sukaaaaa pake banget dulu sama pair itu baru bisa aku tulisin hmmm
Komengtator : jadi ratingnya naikin jangan? lololol aku juga suka adegan yg bikin deg deg ser soalnya *PLAK/

Aliaros : iya sasu nya lempeng-lempeng aja sih. Makin hot haha syukurlah udh diatas umur (?)

Juwita830 : siap dek

R136AN : makasih, akan diusahakan supaya ga discon. Aku juga suka sama karakter ino yg ini~

rina domani : siaap, ini udah up kok

See you in next chap.


Updated : 08/03/2017