—Disclaimer—
Every SMT series and Persona series belong to ATLUS
Summary: Oh, kau tahu bahwa fakta itu hampir selalu mengejutkanmu, namun dapatkah kamu mempercayai omongan dari seorang pengkhianat?
Persona 3: Forgotten Memories
—Chapter 13—
The Devil Raise It's Curtain
Semuanya tampak buram.
Aku tidak ingat apa yang terjadi, segalanya terjadi dalam waktu hitungan detik, pandangan yang direfleksikan oleh mataku tampak buram, perlahan-lahan kabur menjadi warna sunyi putih pucat. Di sampingku, aku melihat Ken, dengan wajah yang pucat seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan nilai ulangannya yang buruk, lalu aku menoleh ke arah depan. Takaya, pemimpin Strega, seperti biasa memiliki selera berpakaian yang buruk dan dengan wajah—tepatnya senyum iblisnya lebih lebar seperti biasa. Jin, diam tidak berkomentar, membenarkan letak kacamatanya, namun aku berani bertaruh untuk semangkok gyudon dia tersenyum sinis.
Apa yang terjadi?
Di dalam kekacauan batinku, aku mendengar suara yang memanggilku, tunggu, aku yakin aku tahu suara ini. Aku pernah mendengarnya—aku yakin aku mendengarnya setiap hari, suara lembut ini selalu memanggilku dengan niat tidak lain adalah ajakan untuk bermain.
Tapi suara siapakah ini?
Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?
"SANADA-SENPAII!"
Suara itu terdengar lagi—tunggu, apakah ini adalah suara yang sama? Tidak, dia tidak memanggilku dengan kata 'sanada-senpai'. Suara ini, suara Amada Ken… junior—serta 'adik'ku, bukan suara yang tadi. Suara yang tadi… sedikit lebih… lembut?
Tapi aku merasa suara tadi mirip dengan suara Ken…
"SANADA-SENPAAAIIIII!"
Kali ini suara itu membangunkanku dari kegilaan dalam pikiranku, aku menoleh, melihat Ken—masih bertampang pucat seperti tadi, hanya kali ini aku melihat keringat mengalir cukup deras di wajahnya. Kuangkat tanganku, hendak meraihnya dengan lengan kiriku, tapi tubuhku tidak mau menuruti perintahku, yang ada justru pandanganku semakin kabur. Mataku bergerak tidak sesuai keinginanku, kenapa aku dapat melihat Ken dengan tinggi yang sama denganku?
Ah, kurasa memang dia sudah bertambah tinggi… ia sudah hampir menyaingi tinggi badanku…
Tunggu dulu…
Bukan…
Tidakkah aku yang bertambah pendek? Atau sesuatu terjadi dengan tubuhku? Kenapa semua menjadi gelap? Aku tidak dapat mendengar suara-suara di sekelilingku dengan jelas…
'BRUKK!'
.
"SANADA-SEENPAAAAIII!"
Anak berambut coklat itu berteriak sekuatnya, berharap suaranya dapat membangungkan entah jiwa maupun raga dari Sanada Akihiko, namun usaha gigihnya kurang membuahkan hasil yang memuaskan, tubuh putih itu kini telah dinodai oleh merah darah yang mengalir dari badannya. Tak bertenaga, Ken mencoba merangkak mendekati tubuh Sanada Akihiko.
'Detak jantungnya masih ada… senpai masih hidup.' Pikir Ken lega.
"Wah, wah… kelihatannya kami cukup dilupakan disini rupanya." Kata Takaya menyeringai.
Ken berusaha mengangkat kepalanya, badannya masih sangat lemas akibat pertarungan dengan Shinjiro sebelumnya, luka tidak terdapat pada dirinya, tapi seluruh staminanya habis, jangankan bertarung, berdiri saja sudah hal yang sulit baginya sekarang. Namun walau dengan kondisi seperti itu, anak kecil itu meraih evokernya, mengarahkannya ke arah kepalanya sementara seluruh badannya masih terletak di lantai.
"Usaha yang sia-sia…" sahut Jin, lelaki berambut biru itu menendang evoker dari tangan Ken, lalu kemudian menginjak anak berambut coklat itu. "Jangan khawatir, kalian berdua akan kupastikan menyusul si bodoh Aragaki itu ke dunia sana."
Ken memaksakan dirinya untuk membalas perkataan itu, "Apa maksudmu itu? Aragaki Shinjiro masih hidup! Dan begitu juga kami, kami akan hidup—aku aku akan hidup! Dan aku… aku akan membunuh dia dengan tanganku sendiri!"
Sekilas kedua anggota Strega itu nampak terkejut, namun setelah beberapa saat Jin mulai tertawa mendengar perkataan anak berambut coklat itu.
"U..fufufu, kuhahahahahahaha! Apa-apaan perkataanmu itu anak bodoh? Shinjiro sudah mati! Takaya mem—
Tangan Takaya menutupi mulut Jin, memberi isyarat dia untuk berhenti berkata-kata. Walau heran, Strega berambut biru itu mengikuti isyarat perintahnya.
Takaya membuka mulutnya perlahan, "Hoo, jadi kau mau membunuh Shinjiro 'kah?" tanyanya pelan, sebuah senyum dingin mulai terbentuk di wajahnya.
Dan Jin mengetahui, apapun yang ada di pikiran rekan berambut putihnya itu, hal itu akan menjadi sebuah drama yang indah di matanya.
-Souji, Izanami, & Pharos
Mata pemuda berambut abu-abu itu membelalak lebar untuk sejenak, tidak disadarinya katana yang ada di tangannya telah jatuh membuat bunyi 'klontang, klontang' yang menggema di tangga tak berujung itu. Iris keabu-abuannya itu masih tidak bergerak, muka pemuda itu seperti baru saja melihat hantu di depannya, atau lebih parah—mystery food X, tapi kedua hal itu bukanlah sesuatu yang membuat pemuda itu diam seribu bahasa disana.
Melainkan anak kecil yang ada di depannya.
"Souji-kun?" Sang dewi heran akan kondisi pemuda yang ada di hadapannya itu.
Souji menggelengkan kepalanya, dia berkata dengan ketidak percayaan, "Tidak, ini tidak mungkin, hal ini tidak mungkin terjadi.."
Pharos, masih berdiri di hadapan pemuda itu, ia menggeleng dan kemudian mengatakan dengan nada yang terdengar sedih, "Maaf, Souji-kun, tapi ini memang kenyataannya." Pharos melanjutkan, "Suka tidak suka, kamu dan yang lain harus segera mengetahui dan menerima kenyataan i—
Tubuh kecil makhluk malang bernama Pharos itu terlempar dengan ringannya akibat tinju seorang Souji terhadap pipinya, ia menabrak dinding terdekat disitu, untuk hal ini Pharos sedikit menyesal tidak mengajak Shinji untuk menyertainya dalam menjemput kedua tamunya (dimana yang satu sebenarnya tidak diundang dan tidak diperkirakan), setidaknya keberadaan Shinji cukup berguna untuk menangkap dirinya yang terlempar. Sementara di sisi lain, Izanami menahan kedua lengan pemuda beriris abu-abu itu dimana kedua tangannya tersebut berusaha untuk melepaskan diri.
Bagi Souji mungkin ini kali pertamanya ia merasakan kekuatan fisik Izanami, selama ini ia mengira bahwa fisik sang Dewi itu tidak akan sekuat penampilannya, tapi ia salah. Tidak peduli bagaimana ia mengerahkan tenaganya untuk melepaskan diri, Izanami tetap menahannya dengan kuat, bahkan semakin kuat.
"Tenangkan dirimu, putra manusia, amarahmu tidak akan menyelesaikan apa-apa." Kata Izanami, tidak menyadari bahwa ia telah kembali memanggilnya dengan panggilan 'putra manusia' dan bukan 'Souji'.
Souji tidak mengindahkan peringatan yang diberikan oleh Izanami, kali ini ia mencoba menggerakkan kakinya dengan paksa untuk mendekat ke arah Pharos berada. Izanami tentunya tidak akan mengizinkan semudah itu.
"Lepaskan aku Izanami!" bentaknya seraya semakin kuat ia memaksa badannya untuk bergerak (yang semakin lama membuat Izanami terpaksa menggunakan tenaga lebih).
Sang Dewi, sedikit kesal dengan sikap pemuda di hadapannya yang keras kepala itu, ia kemudian meremas pergelangan lengan Souji hingga pemuda itu mengerang kesakitan. "Kau tidak seperti ini ketika aku mengamatimu dari kabut dulu, manusia…"
Tetapi Souji tetap tidak mendengar kata-kata Izanami, semakin kuat Izanami menahannya, semakin kuat juga resistansi yang ia berikan untuk bisa melepaskan diri.
Sementara di lain pihak, Pharos, sedang mencoba berdiri, anak berkulit pucat itu mengibas-ibaskan debu yang berada di pakaiannya. "Apa boleh buat, aku tidak memiliki pilihan selain—
Souji menyela omongannya, "Selain apa? Selain menipu kami? Kau telah menipu nyx, dan sekarang kau telah menipu kami pula, bagaimana kau bisa begitu tidak bertanggung jawab?"
Izanami meremas lebih kuat lagi.
"Dengarkan dulu penjelasanku hingga selesai, Souji-kun. Aku terpaksa berbohong karena aku tidak mau menghilangkan harapan kalian untuk memusnahkan Nyx.."
"Lalu bagaimana kami dapat mengalahkan Nyx jika ingatan yang lain tidak bisa dikembalikan?"
Pharos berjalan mendekat ke arah Souji, kedua tangannya yang berwarna pucat itu memegang pipi pemuda yang sedang dipenuhi amarah itu. Dengan nada pelan namun jelas, ia berkata "Untuk hal itulah, aku membawa kalian kesini, disini memori kalian akan lebih kuat sehingga ada kemungkinan bahwa kalian bisa membangkitkannya lagi."
Entah karena mendengar perkataan Pharos atau karena perasaan tertekan yang sekilas ia rasakan ketika Pharos menyentuh pipinya, pemuda itu kini telah sedikit memperoleh ketenangannya. "Kemungkinan itu seberapa besar?"
Bocah berambut biru itu terdiam sejenak, untuk sesaat ia nyaris saja mengatakan 'kecil' sebagai jawabannya, namun ia tahu hal itu tentunya tidak akan membuat situasi lebih baik, melainkan ia mengubah perkataan itu menjadi "Itu tergantung pada setiap individu…"
Kurang puas terhadap respon anak di depannya itu, namun Souji berusaha keras untuk tidak kehilangan temperamennya lagi. "Sejauh ini… adakah bukti bahwa percobaanmu ini akan berhasil?"
Sebuah senyum kecil polos, yang nampak seperti senyuman seorang anak kecil normal menghiasi wajah Pharos. Dengan nada yakin, ia menjawab, "Sudah, kok. Salah satu dari kalian telah mendapatkan kekuatannya kembali, dan itu juga pertanda bahwa hal yang sama bisa terjadi pada yang lain." Souji masih sedikit kurang puas dengan cara pikir anak di depannya itu yang terlalu menitik beratkan pada keberuntungan daripada perencanaan. Namun mengetahui bahwa sebuah hasil telah didapat, ia tidak memiliki pilihan lain selain daripada bungkam.
"Tch, jadi? Siapa yang telah berhasil memperoleh kembali ingatannya?" tanya Souji.
Sebuah senyum lain kembali terbentuk di wajah Pharos, "Seniormu yang tadi menyerangku, ia yang memakai topi biru."
Dari semua orang yang ada di S.E.E.S. Souji harus berterus terang bahwa ia tidak memperkirakan hal itu, ia lebih mengira bahwa setidaknya antara Sanada-senpai atau Mitsuru senpai lah yang pertama dapat membangkitkan ingatan mereka, namun mengetahui bahwa Junpei lah yang telah berhasil, ia kini harus berpikir lagi akan kemungkinan berhasilnya eksperimen 'kecil' milik Pharos ini…
Ya, ini mungkin bisa berhasil—tidak, ini harus berhasil. Sudah merupakan kewajiban pasti bagi kita semua untuk mendapatkan kembali personanya secara maksimal jika kita mau mengalahkan Nyx.
Souji memaksa dirinya untuk menolak segala keinginan untuk marah maupun menentang pernyataan Pharos. Ia tahu, sebuah argumen lain tidak akan membuat keadaan menjadi sedikit lebih baik. Pharos melihat usaha pemuda berambut abu-abu itu dalam mengontrol dirinya, dan ia sangat menghargai itu, mengingat rasa sakit yang ia dapat barusan itu setengahnya adalah karena kesalahannya sendiri. Izanami melepaskan genggamannya terhadap lengan Souji.
Souji membuang pandangannya ke tempat lain, ia membuka mulutnya perlahan, mengatakan sebuah 'maaf' yang kemudian dilanjutkan dengan kata 'aku kehilangan kendali barusan..'
Kedua inhuman yang berada di sebelahnya itu mengangguk dalam pengertian, mereka tahu sangatlah wajar apabila seorang manusia akan panik dan kehilangan kontrol mereka dalam emosi dalam keadaan seperti ini—hal itu pun berlaku tidak terkecuali terhadap seseorang yang biasa berpikir dengan penuh ketenangan macam Souji sekalipun, bahkan mengetahui betapa cepatnya pemuda itu mendapatkan kembali ketenangannya, dan berani untuk meminta maaf, sudah merupakan cukup bukti bahwa pemuda itu berbeda dari remaja biasa.
"Ah…"
Izanami bereaksi terhadap reaksi Pharos barusan, ia bertanya kepada anak berkulit pucat itu. "Ada apa tuan penyambut? Kau nampak terkejut…"
Pharos hanya diam, ia memegangi dahinya sebelum akhirnya ia merespon. "Kita, harus segera kembali ke Tartarus…"
Keduanya melihat ke arah anak kecil itu dengan heran, Izanami yakin sesaat yang lalu anak kecil itu nampak biasa-biasa saja, masih dalam dirinya yang penuh senyum kesana kemari, namun kini sebuah ekspresi yang unik nampak di wajahnya. Terkejut, panik, kekhawatiran, tidak nyaman—bukan, mungkin dari semua kata yang ada, kata 'takut' jauh lebih efektif untuk mendeskripsikannya. Ia bisa melihat ekspresi pucat yang kini menghiasi wajah anak itu.
"Tidak ada waktu lagi, kita harus segera turun…" kata anak itu tidak memedulikan wajah heran yang lain. Pharos mengulurkan tangannya terhadap udara kosong di hadapannya, ia menggenggamkan tangannya seakan-akan terdapat sesuatu di hadapannya itu. Kegelapan berkumpul di sekeliling tangan anak itu, sedikit retakan muncul dalam dimensi tangga tidak berujung itu dengan paksa. Lemah, namun Souji dapat merasakan getaran dari setiap anak tangga yang ia pijak, seakan-akan langit akan terbuka di hadapannya. Izanami masih tetap mengamati tingkah anak itu yang semakin nampak panik.
Pharos kemudian menggunakan kedua tangannya, menarik dengan kuatnya sekaligus dengan paksa, membuat sebuah lubang retakan di dimensi itu. Souji dapat melihat kegelapan-kegelapan yang berada di dalam lubang itu bergerak-gerak, seperti sebuah black hole yang sering ia lihat di buku pelajaran fisika namun lebih kecil dari itu. Pharos kemudian mengarahkan kedua tangannya kepada lubang itu, terlihat beberapa percikan bunga api diiring petir berwarna violet nampak di sekeliling lubang itu, lubang itu semakin lebar dan semakin besar saja. Kemudian sekali lagi Pharos menarik tangannya ke samping seakan dia sedang bersentuhan dengan lubang itu.
Lubang itu melebar sekali lagi.
Kini di hadapan Souji, terletak sebuah lubang yang besar di udara. Di bagian pinggir lubang itu terdapat retakan-retakan bagai kaca yang pecah, Souji dapat melihat beberapa bagian dari kaca itu yang jatuh kemudian terpantul kembali ketika membentur tanah menuju lubang itu, seakan pecahan lubang itu dapat melokasikan dirinya kembali ke tempat yang benar. Petir-petir kecil berwarna ungu terkadang muncul dari pecahan-pecahan kecil itu, yang secara tidak langsung telah menutupi jalan menuju anak tangga ke bawah. Cahaya-cahaya kecil dengan variasi warna kelam; ungu, biru tua, abu-abu, hijau pucat, dan lain-lain berada di dalam lubang itu, berenang kesana kemari, lalu menjadi satu dan berpencar lagi. Pharos menarik lengan Souji dengan paksa, "kita tidak punya banyak waktu." Sahut anak itu seraya ia melompat ke dalam lubang itu bersama Souji dalam genggamannya.
"Tu-tunggu Pharos, jelaskan du—
Kedua lelaki itu lenyap, Izanami yang tertinggal hanya menggelengkan kepala. "Kenapa para laki-laki itu selalu saja terburu-buru?" gumamnya.
-Minato & Aigis-
Minato membuka matanya, ia mendapati dagu Aigis lah yang pertama tertangkap dalam retinanya, ia menyadari posisinya saat itu—masih tidur diatas pangkuan Aigis. Untuk sesaat, ia berpikir untuk kembali tidur dan menikmati posisi itu untuk beberapa saat lagi. Suka maupun hanya teman biasa, bukankah itu hal wajar jika laki-laki menikmati posisi seperti itu? Tidakkah itu cukup logis—bukan, tidakkah itu cukup manusiawi?
Tetapi Minato mengurungkan niatnya, teramat tidaklah sopan apabila ia bersantai tiduran di situ sementara kondisi keselamatan temannya tidak ia ketahui. Ia memaksa badannya untuk bangun walau tubuhnya sendiri masih berteriak karena kesakitan. Pertarungan sebelumnya telah menguras banyak tenaganya, baik fisik maupun mental. Dan kini ia mendapati dirinya belum pulih sepenuhnya, stamina tubuhnya sudah lumayan terobati oleh tidur barusan, namun tidak untuk kepalanya. Dalam posisi duduknya ia memegangi kepalanya dengan sebelah tangannya, sementara tangannya yang lain mencoba untuk mengambil evoker yang ada di dekatnya.
"Kau tidak apa-apa, Minato-kun? Detektorku mengindikasikan kondisi kesehatan badanmu, terutama otakmu mengalami kelelahan yang berlebihan."
Tidak memandang lawan bicaranya, Minato menggelengkan kepalanya, sebuah kalimat dusta berupa 'Aku tidak apa-apa' lah yang hanya dapat ia ucapkan saat ini. 'Teman-temanku mungkin dalam bahaya, bukan waktunya untuk diam saja disini' Minato mengambil pedangnya yang tergeletak lumayan jauh dari posisinya.
'PRAAANGG!'
Dari arah jam 3, Minato mendengar suara seperti pecahan kaca, ia menoleh. Memang nampak sebuah serpihan-serpihan kecil kaca nampak terpental dari udara kosong, sesaat kemudian, sebuah bunyi 'praang!' yang lebih keras lagi muncul dari arah yang sama. Sebuah lubang udara timbul dari ruang stagnan itu, tampak seperti baju atau kain yang disobek—bukan, melainkan dicabik dengan paksa dengan beberapa serpihan kecil kaca yang lain keluar dari sobekan itu.
Dari lubang itu, sebuah tangan kecil nampak. Tangan itu kemudian masuk lagi ke dalam lubang itu.
'PRAAAAANGGG!'
Sebuah cahaya berwarna ungu yang berbentuk seperti bulan sabit muncul dari lubang kecil itu, merobek lubang itu lebih besar lagi. Dari situ, Minato melihat seorang anak kecil turun lalu terpeleset jatuh di lantai Tartarus.
Ya, kekuatannya mungkin ada pada level yang bisa dibilanglevel seorang monster, namun tetaplah badan yang menjadi media kekuatan besar itu tetaplah anak kecil.
Anak kecil yang biasa disebut Pharos itu memberi sebuah senyuman nakal yang seakan berkata uups-maaf-mengganggu-kalian, namun sesaat kemudian dia segera berdiri menghindari lubang itu sebelum—
'BRUUUKK!'
Terlambat.
Seorang pemuda lain turun dari lubang itu, ia tidak sengaja menginjak punggung anak kecil itu yang kemudian segera merespon dengan keluhan berupa 'aduh' atau semacamnya.
"Pharos?" ucap Minato.
"Minato-senpai?" kata pemuda itu.
"Souji-san?" Respon Minato dan Aigis bersamaan.
Untuk sesaat, Souji melihat ke arah dua temannya itu. Satu dalam keadaan setengah berdiri dan satu lagi nampak sedang dalam posisi duduk seiza. Otak Souji berpikir, secara nalar sangatlah aneh bagi seseorang untuk tertangkap—maaf—terlihat sedang duduk di menara yang juga merupakan medan perang ini, mungkin hal itu bisa dilakukan jika tidak ada shadow, namun orang biasa akan tidak memilih duduk dalam posisi seiza dan akan cenderung bersandar dalam tembok. Karena itu jika dua orang—maaf—satu orang laki-laki dan satu perempuan (walau Souji menyadari perempuan itu adalah robot sekalipun) ditemukan dalam posisi seperti ini…
Souji memerintahkan otaknya untuk berhenti berpikir sekarang juga.
"Umm, m-maaf telah mengganggu kalian, err…. Minato-senpai…"
Minato menyadari cara bicara Souji yang terdengar segan, "Apa maksudmu, Souji-san? Aku hanya sedang duduk bersama Aigis karena perlu mendengar informasi yang ia dapatkan daritadi kok." Kata Minato.
Dan Aigis, seperti biasa tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Pharos yang telah bangkit dari posisinya sebelumnya (Souji menginjaknya dan ia terjatuh) memecahkan keheningan di tempat itu. "Ok, jadi, bisa kita tunda dulu acara reuni kita? Kita sedang terburu-buru. Souji-san, Aigis tolong ikut aku. Minato-kun… kondisimu tidak memungkinkan, tetaplah disitu."
Pharos berlari, ia menarik lengan Souji dan Aigis secara paksa. Souji melawan, "Tunggu dulu, jelaskan apa yang sedang terjadi!" katanya.
Pharos melepaskan kedua tangan persona user itu, jawabnya "Ikuti aku, akan kujelaskan sambil berlari." Souji mengejar anak itu dengan terpaksa, sementara Aigis, walau tidak mengerti segala huru-hara yang sedang terjadi, tetap berlari mengejar keduanya itu.
.
.
"Jadi bisa jelaskan apa yang sedang terjadi? Kau nampak aneh dari tadi." Tanya Souji seraya ia berlari mengejar Pharos yang masih berlari di depannya.
Sementara kaki Pharos masih mengayuh dengan cepatnya untuk tepat berlari, mulut Pharos terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Souji. "Baiklah, Souji, Aigis, aku butuh perhatian kalian sebentar. Dari kondisi saat ini yang kudengar, kita mendapat masalah. Dua orang persona user lain yang tidak diundang, tengah berada di dalam menara ini, dan mereka kini berada dengan teman kalian, Sanada Akihiko dan Amada Ken."
Aigis terkejut mendengarnya, robot itu mempercepat larinya hingga ia berada di sebelah anak kecil itu. "Persona user? Strega 'kah yang kau maksud, Pharos-san?"
Tidak menoleh, Pharos menjawab, "Aku tidak mengenal orang yang kau sebutkan Aigis-san, yang jelas saat ini…" Pharos sebenarnya hendak mengatakan bahwa Akihiko telah tertembak, namun ia tidak mau untuk memperlambat gerakan yang lain dengan memberi tahu hal yang tentunya bukan kabar baik seperti itu. "Saat ini, mereka dalam bahaya, kita harus bergegas menuju mereka sekarang ini."
Souji yang dari tadi telah mendengarkan penjelasan dari keduanya, bertanya "Kalau memang begitu kenapa kau tidak mengeluarkan kita di tempat Akihiko-senpai dan Ken? Melainkan membawa Aigis terlebih dahulu?"
"Tidak bisa, mereka berdua bukanlah lawan yang lemah. Lagipula, semula rencanaku adalah membawa Minato-san, namun kondisinya tidak memungkinkan. Shinjiro-san sedang menuju ke arah mereka saat ini, tiga orang kuharap cukup untuk melawan mereka."
-Yukari, Mitsuru & Naoto-
Ketiga perempuan itu masih duduk tidak melakukan apa-apa di seberang tembok itu. Ketiganya tidak sedang dalam mood yang baik, menunggu dalam waktu yang lama dan hanya bisa mendengarkan suara dari seberang tembok tentunya bukanlah hal yang menyenangkan, walau telah mengetahui bahwa temannya di balik tembok saat ini sedang baik-baik saja. Dan Yukari tentunya sangat kurang suka keadaan itu, dari balik tembok itu ia bisa mendengar semua yang telah terjadi. Baik dari pertarungan Minato melawan shadow itu, bagaimana shadow itu hendak meledakkan diri dan terutama suara Aigis yang terdengar tidak lama setelahnya, tidak terlupakan ia juga mendengar perkataan Souji dengan nada segan.
Yukari sama sekali tidak senang akan hal itu.
Di lain pihak, Mitsuru dan Naoto bisa sedikit lega mengetahui kondisi rekan mereka baik-baik saja. Walau keduanya tidak sempat untuk berteriak memanggil mereka, rekan mereka masih hidup dan itu saja yang mereka butuhkan untuk bisa menarik nafas lagi.
Sebuah suara kian mendekat, dari kejauhan tiga gadis itu bisa mendengar suara langkah kaki yang cepat dan semakin mendekat. Mitsuru kemudian berdiri dan berteriak menuju arah suara itu.
"Yamagishi, kau disitu?"
Daripada jawaban berupa suara manusia, Mitsuru mendengar suara gonggongan khas milik Koromaru. Kedua perempuan lainnya turut berdiri untuk menyambut asal suara itu. Mereka kini bertambah dua orang lagi.
"Mitsuru-senpai! Yukari-chan! Naoto-kun! Kalian baik-baik saja!" kata gadis berambut hijau itu begitu ia melihat ketiga temannya yang lain, tidak lupa disertai dengan gonggongan riang anjing bermata merah itu.
Mitsuru mendapatkan rekannya itu, "Kami baik-baik, saja, bagaimana denganmu?"
Butuh beberapa saat bagi gadis bernama Fuuka itu untuk mendapatkan lagi nafasnya, sebelum akhirnya ia dapat berbicara dengan lancar. Berada di bagian belakang S.E.E.S. untuk waktu yang cukup lama memang membuatnya menjadi gadis yang tidak terlalu memilik banyak stamina, dan kini gadis itu harus menderita akan hasilnya. "Tidak terlalu baik, Mitsuru-senpai… Aku mendeteksi Strega.."
Mata wanita berambut merah itu membesar, namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, sebuah suara lain telah mendahului dia.
"Jangan khawatir…"
Mitsuru dan Fuuka menoleh ke asal suara itu, suara itu berasal dari seberang tembok, suara milik pemimpin mereka, Minato, dengan penuh keyakinan di nadanya.
Mitsuru menjawab pernyataan Minato dengan sebuah pertanyaan, "Kau sudah tahu akan hal itu, Arisato?". Minato menjawabnya, "Tidak, aku baru saja mendengar akan hal itu. Namun sesaat yang lalu Pharos bersama Souji-san dan Aigis telah bergegas, kelihatannya karena hal itu. Kalian juga mendengarnya kan?"
Mitsuru, Yukari dan Naoto mengangguk dalam kebersamaan, Yukari membalasnya, "Kau tidak apa-apa Minato-kun?"
"Aku hanya kehabisan tenaga saat ini, Yukari-san, saat ini percayakan saja kepada mereka tentang Strega."
Dan sekali lagi, para gadis itu menggangguk bersamaan.
Saat itu, tidak ada diantara kami yang menduga hal yang akan terjadi.
Kami semua percaya dengan Souji, Aigis dan Pharos yang akan menangani Strega
Namun tidakkah pola pikir itu bisa dibilang 'naif'?
Oh, harusnya aku ingat, fakta tidak selalu seindah yang kita harapkan.
-Strega-
Takaya mengangkat Ken yang tidak sadar dengan sebelah tangannya, walau mulutnya tidak berbicara apa-apa raut wajahnya sudah memberikan ekspresi yang licik. Ia hanya tersenyum memandang anak berambut coklat yang kini ada di dalam genggamannya itu. Sebuah siluet nampak dari salah satu koridor di labirin menara itu, dinilai dari bentuknya itu adalah siluet sebuah pria. Dengan pakaian berupa trenchcoat, dan rambut yang terlihat sedikit panjang. Selain itu, siluet itu nampak membawa sesuatu di tangannya, sebuah benda dengan gagang yang panjang dengan ujung yang tidak nampak jelas, sebuah kapak yang besar jika dipikir nalar… atau sebuah bus stop sign?
Takaya menyerahkan Ken yang ada dalam tangannya kepada Jin. Pemuda berambut biru itu menerimanya dan menaruhnya di bahunya.
"Maaf ya Jin, tolong duluan untuk sementara ini."
"Tidak masalah, aku akan duluan menuju altar."
"Bisakah kau membukanya?"
"Entahlah, akan kucoba. Seandainya tidak bisa pun, aku hanya perlu menunggumu lagi."
"Hahaha, aku tidak menjamin akan datang tepat waktu."
"Kau tidak pernah datang tepat waktu." Jawabnya dingin. Takaya hanya tersenyum sinis ke arah yang berlawanan dari rekannya itu.
Menunggu rekannya menghilang dari pandangan, Takaya mengambil pistol yang ada di sakunya. Iris kuning keemasannya terarahkan menuju siluet yang makin mendekat itu. Ia melebarkan senyum iblisnya, "Wah, wah, memang tempat ini telah menjadi sebuah menara yang penuh nostalgia yah. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini… Shinji."
Siluet itu kini telah jelas di pandangan, sosok Aragaki Shinjiro berjalan dengan lambat menuju lawannya yang bermata kuning itu. Pria tinggi itu nampak tidak terlalu senang dengan reaksi lawan bicaranya. "Kau… tidak nampak terkejut dengan keberadaanku... Kelihatannya kau tahu sesuatu, Takaya.." balas pria berambut coklat itu. Pria bermata kuning itu tidak menjawab.
Shinjiro berkata, "Sudahlah, tidak perlu menjawab… lagipula memang aku tidak berniat kemari untuk ngobrol denganmu iblis. Aku kemari untuk menghajarmu…"
Takaya menjawab, "Oh, bisakah kau? Kau ingat aku pernah membunuhmu dulu 'kan?"
Shinji hanya mengambil evokernya dari saku trenchcoatnya, ia memanggil Castor lalu berkata, "Yaah, hal itu bisa kita lihat siapa yang terbunuh kali ini.." Takaya hanya menjawab dengan sebuah helaian tangan yang disambung oleh munculnya Hypnos di sampingnya, ia lalu berkata, "Jadi? Apakah kita akan mendapatkan sebuah tragedi disini?"
Shinji menggeleng, ia tersenyum kepada pria berambut panjang itu, "Bukan… tapi sebuah komedi…"
Shinjiro mengangkat benda yang ada di tangannya, sebuah kapak besar dengan dua mata kampak yang tajam berwarna perak, sementara badan kapak itu sendiri berwarna hitam dengan gagang yang sama warnanya. Pria itu berlari menerjang ke arah Takaya didahului oleh persona miliknya. Takaya mengambil revolver miliknya dari saku kirinya, ia menembakkan beberapa peluru yang dihalau Shinji dengan kapaknya.
Castor kemudian melompat melancarkan sebuah heat wave kepada Takaya. Pria bermata kuning itu mengerahkan Hypnos menggunakan bufudyne untuk menjadi perisai dingin yang melindunginya dari ombak merah itu. Takaya tidak berhenti menggunakan pistolnya untuk terus menembaki Shinji yang kian lama kian mendekat, namun Shinji dapat terus menangkisnya atau setidaknya menghindari luka fatal. Castor kembali menyerang Takaya dengan menggunakan fatal end.
Takaya melompat ke depan, menghindari serangan barusan sekaligus menerjang mendekat ke arah Shinjiro.
"Menyerang langsung? Tidak biasanya pengecut yang memilih jarak jauh sepertimu kini berani menyerang langsung jarak dekat seperti ini." Takaya telah sampai pada jarak kapaknya. Tanpa ragu-ragu, Shinji mengayunkan kapaknya menuju leher kurus Takaya. Pria bermata kuning itu menunduk menghindari serangan barusan, kemudian tanpa melihat ke arah target ia mengarahkan pistolnya dan menarik pelatuknya tanpa ragu-ragu.
'DOOOR!'
Hanya menepis pipi sang target.
Bagi Shinji sekarang ini, mangsa yang ia cari telah berada tepat di bawah hidungnya sendiri—siap untuk diserang. Dalam kondisi sesingkat itu ia harus memilih dari beberapa pilihan yang ada di kepalanya, tendang dia? Serang dengan kapak? Atau pakai Castor untuk menyerang dia? Namun dari semua pilihan itu ia memilih hal lain.
Shinji melepaskan kapaknya, ia menangkap belakang leher Takaya dengan lengan kirinya, menariknya lalu melemparnya ke atas dengan pelan. Kedua tangan Shinji bergerak dengan cepat, tangan kanannya menangkap tangan kiri Takaya yang memegang pistol, sementara tangannya yang lain meninju perut Takaya dengan keras.
"UUAAGHH!" Jerit Takaya, ia mencoba mundur namun tangan kirinya masih dipegang dengan erat oleh Shinji.
Pria itu telah menangkap Sang mangsa dalam genggamannya, ia tidak akan melepaskannya hingga ia telah selesai menghabisinya. Pemandangan di menara itu telah berubah dari pertempuran menjadi penyiksaan sepihak, lelaki tinggi itu terus menyerang lawannya yang tidak dapat bergerak. Pukulan, tinju, tendangan dan bahkan terkadang juga ia menarik kepala Takaya lalu membenturkan ke plat besi yang ada di beanie miliknya.
'Ini tidak dapat terus berlanjut, Hypnos… Garudyne'
Angin ribut berwarna hijau muncul di tengah-tengah mereka berdua, mementalkan keduanya ke arah berlawanan.
Takaya jatuh tergeletak, sementara Shinji berhasil menjaga kestabilan tubuhnya untuk tetap berdiri. Shinji kemudian mengambil kapaknya yang ia taruh sebelumnya dan berjalan mendekat kepada Takaya yang terlentang tidak bertenaga.
"Bukankah ini lucu? Di masa lalu akulah yang tergeletak tidak bertenaga dan kamulah yang berdiri dengan gagahnya seperti ini. Tidakkah salah jika aku menyebut ini komedi?" kata Shinji seraya ia mengarahkan evoker miliknya ke dahinya hendak melancarkan serangan terakhir.
Takaya melihat ke arah lawannya, darah mengalir dari mulutnya dan ia sadar akan hal itu. Kondisi tubuhnya sudah tidak lagi memungkinkan ia untuk bergerak cepat lagi, jangankan kabur, menghindari serangan biasa saja akan sulit untuknya.
Tapi apakah memang ia berniat untuk menghindar?
Seraya Shinji menarik pelatuk evokernya, Takaya tersenyum dingin sambil ia mengambil sebuah pistol lain dari saku belakang celananya, pistol yang tersembunyi berukuran kecil, namun pistol tetaplah pistol. Dengan cepat Takaya mengarahkan pistol mini itu ke arah lawannya yang lengah, ia menutup sebelah matanya lalu menembakkan pistol itu mengenai jari manis Shinji, membuat lawannya menjatuhkan evoker miliknya.
Sekali lagi, Takaya menembakkan pistol kecilnya secara acak, memaksa pria tinggi itu untuk menghindar mundur meninggalkan pistol putihnya tergeletak di depan Sang lawan.
Kaki kanan Takaya menyapu pistol putih bertuliskan 'S.E.E.S.' itu ke arah yang berlawanan dari Shinjiro, lalu otaknya dengan cepat berkonsentrasi memanggil persona miliknya. Hypnos, sebuah persona bersayap merah dengan kulit pucat berwarna kuning kehijauan bagai warna seorang pale rider, Sang penunggang kuda yang membawa kematian bagi umat manusia. Persona itu kemudian memanggil api, namun berbeda dari api agidyne biasa yang hanya menyerang target. Api itu jauh lebih besar—magma, mungkin jika harus dibilang. Dinding magma yang memisahkan antara serigala dan iblis itu.
Bagai seekor burung phoenix, atau mungkin zombie? Pria bermata kuning itu bangkit berdiri melupakan segala luka yang dideritanya. Ia tersenyum licik di balik tembok api itu, lalu mengatakan "Kau memang benar Shinjiro, ini memang komedi. Tahukah kau betapa lucunya kau nampak dari sini? Tidak ada persona, dan tidak ada keberanian untuk menembus dinding pemisah ini."
Takaya tertawa.
Mata Shinji menyipit, ia menggenggam kapaknya dengan erat lalu ia berlari tanpa ragu-ragu menuju dinding yang membara itu. Ia menggunakan bidang datar kapaknya untuk meminimalisir api yang mengenai tubuhnya. Namun yang didapati Shinji bukan hal yang yang ia sangka-sangka. Sebuah ular berwarna hitam dengan mata merah telah muncul di depannya siap seakan-akan telah menunggu Sang tamu kehormatan. Sementara di sisinya, Sang iblis yang telah memanggil ular hitam itu hanya memberikan sebuah senyuman hening tanpa ekspresi terhadap eksistensi Sang lawannya tersebut.
"Oh, shit…"
-Souji, Pharos & Aigis-
Keheningan menyelimuti ketiga orang itu, mereka hanya bisa berjalan perlahan dengan mulut terkunci bagai sebuah instrumen yang telah kehilangan fungsinya. Souji dan Aigis hanya berjalan menelusuri lantai hitam putih itu, lalu masing-masing berhenti pada waktu yang berbeda, sementara Pharos hanya bisa jatuh pada lututnya.
Mereka telah terlambat.
Aigis menundukkan badannya, ia mengecek kondisi Akihiko yang tidak sadar disitu. Darah mengalir dari mulut pria yang tidak pernah kalah bertinju itu, namun bisa dipastikan ia tidak akan mati karena luka itu—setidaknya setelah dengan sedikit diarahan tentunya.
Sementara di lain pihak, Souji mendatangi Shinji yang tergeletak di tengah-tengah menara itu. Ia tidak lagi bisa membedakan antara darah dengan warna merah jaket milik Shinjiro itu, ia memeriksa lukanya, nampak seperti luka bakar, tapi tidak juga setelah ia lihat sekali lagi. Luka ini lebih nampak seperti karena mendapat api bertemperatur super tinggi dalam waktu yang instan. Souji biasa menghancurkan shadow dengan berbagai macam spell, namun tak satupun shadow meninggalkan mayat yang dapat diperiksa—dan memang dia tidak berniat untuk memeriksanya.
Shinjiro membuka matanya, ia menyadari kehadiran pemuda berambut abu-abu itu di depannya, namun ia tidak dapat membuka mulutnya untuk berbicara. Ia tidak dapat merasakan apa-apa lagi, sakit, panas, bahkan sentuhan pun tidak dapat ia rasakan. Hanya mata dan telinganya yang masih berfungsi secara normal.
Pharos mendatangi Shinji yang dalam kondisi menyedihkan itu, tanpa ia sadari air telah mengalir dari mata anak kecil itu.
Anak kecil itu menaruh tangan kanannya di dada, ia memberi sebuah senyum lalu menunduk dengan hormat kepada pria sekarat itu, "Selamat tinggal Shinji, walau kau dibuat dari kenangan sekalipun, kau sudah banyak membantuku sebagi anak buah—dan juga sahabat. Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini…"
Shinji mendengarnya, ia hanya memberi sebuah senyum kepada Pharos. Ingin sekali pria berjubah merah itu untuk berbicara untuk terakhir kalinya, namun shock yang ia terima atas luka itu telah membisukan dia.
Perlahan-lahan, tubuh pria bermata coklat itu semakin memudar menjadi transparan. Bening, bagai kaca, lalu kemudian berubah menjadi butiran-butiran bubuk berwarna kuning di udara, seperti kunang-kunang yang terbang ke angkasa begitu juga dengan butiran-butiran bubuk berwarna kuning keemasan itu melayang di langit-langit menara akhir itu lalu menghilang, lenyap tidak berbekas. Sementara badannya telah menghilang, kapak dan pistol putihnya juga pecah menjadi serpihan-serpihan kaca kecil berwarna putih pucat, yang lalu menjadi debu perak yang tertiup angin dan menghilang bagaikan menyusul jasad pemiliknya.
Kedua persona user itu tidak berani berbicara kepada Pharos, terutama Aigis. Selama ini robot itu mengira bahwa baik Pharos dan Ryoji Mochizuki adalah seorang media hampa yang tidak memiliki perasaan, sebuah tubuh kosong yang hanya mencoba meniru perasaan manusia yang dia lihat sehari-hari saja.
Namun robot bermata biru itu salah.
Robot itu kemudian memberanikan diri untuk maju dan memegang pundak anak kecil itu. Walau ia hanya sebentar mengenali Shinji, ia juga turut berduka atas kematian bekas rekannya itu, baik di masa lalu maupun sekarang.
Pharos lalu mengangkat tangannya, ia menghilangkan segala tembok-tembok labirin itu. Tempat itu kini berubah dari sebuah labirin menjadi sebuah ruangan yang besar berbentuk persegi panjang dengan dua koridor yang berlawanan arah, satu adalah koridor dari mereka datang, dan yang lain adalah koridor dimana Sang pelaku telah pergi. Pharos mengatakan dengan suara yang pelan, namun terdengar seperti sebuah perintah yang absolut dari seorang raja, atau pemimpin.
Penjaga menara tua itu mengatakan, "Panggil yang lain… ada banyak hal yang harus dibicarakan…"
To be continued…
Author's Note
HELL—O! Maaf atas kelamaannya untuk chapter ini! Ok, saya telah membunuh seseorang di chapter ini, entah bagaimana ke depannya masih dirahasiakan tentang adanya chara's death lagi atau tidak.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca yang telah mereview fic ini antara lain, Shina Suzuki, Mactavish Van Den Bosch, Iwanishi Nana, Asahiko Sourei, Heylala, Lynn, Desiaaaaah, Snow Jou, Baekzzz, dan terakhir Ginryuumaru.
Lalu ini reply untuk Ginryuumaru, saya baru saja buka review ini beberapa hari yang lalu, jadinya saya belum membalas review anda: Kemunculan Seta Souji tidak bisa dikurangi maupun ditambah, ada masanya dia bakal banyak muncul ada masanya ia akan jarang muncul, tergantun jalan cerita, lagipula dia sendiri juga masih salah satu peran utama di cerita ini. Lalu untuk Minato, dia juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dan ketidak sempurnaan, jadi wajarlah jika dia bisa saja memilih jalan yang salah dengan membunuh Ryoji. Sekian, thanks for the review!
Lalu untuk Baekzzz: GYAAAA! Jangan bilang begitu dong! Kalau aku mati entar enggak bisa nulis n mbaca ffic lagi! Biarkan saya hidup –dijitak-
Ok, sekian dari Chapter 13, Segala review, kritik, saran, protes atau bahkan flame dan lain lain selalu diterima disini! Jadi jangan ragu-ragu untuk mengirim review berisi apapun itu! Flame saya terima! Walau saya lebih suka kalau anda memberi saya makanan, uang atau apa gitu –dibakar-
Chapter 14 Update ASAP
God Bless Us All
—Tetsuwa Shuuhei
