[A Secret Splendor ― Sandra Brown]

DON'T LIKE! DON'T READ!

pichaa794 present

remake novel HunHan ver

A Secret Splendor

Chapter 14

.

.

[ BGM: Lee Hi - Breathe ]

Kamar motel itu persis seperti sebuah apartemen kelas ekonomi, sebuah motel kecil yang murah dan tertinggal oleh kemajuan zaman dan kecanggihan arsitektur modern. Namun demikian tarifnya sesuai dengan budget dan kebutuhan Luhan untuk melewatkan hari-harinya yang panjang dan sepi.

Luhan menelusuri pantai sambil memikirkan Minguk, dan membayangkan apa yang sedang dilakukannya, dan apakah anak itu merasa kehilangan dirinya. Dan ia juga memikirkan Sehun, apa yang sedang dikerjakannya, dan apakah ia merasa kehilangan dirinya.

Selain itu Luhan juga menulis tentang ide-idenya atau kesan-kesannya mengenai apa saja. Ia benar-benar merasa terdorong sekali untuk mengekspresikan dirinya di atas kertas.

Ia sedang asyik melakukan itu pada hari keempat setelah ia meningglkan Maui. Tapi sudah lima belas menit ia hanya memandangi halaman kosong itu, rupanya inspirasinya belum keluar.

Sebuah bayangan melintasi lembaran kertasnya, dan ketika ia mengangkat wajahnya ke arah jendela, ia melihat Sehun sedang berdiri di sana.

Sehun.

Untuk sesaat mereka saling menatap. Dalam keadaan tertegun, pena di dalam genggamannya terlepas, jatuh ke atas permukaan meja kemudian menggelinding jatuh ke lantai beralas karpet murah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sehun bergerak ke arah pintu.

Luhan memaksa otot-ototnya untuk bergerak. Dengan lutut bergetar ia berdiri. Tanpa sadar ia merapikan rambutnya kemudian mengusapkan telapak tangannya pada celana jeans-nya.

Konyol memang, tapi ia menyesal ia tidak memakai bra di balik T-shirtnya. Entah kenapa ia merasa seperti telanjang. Ia melangkah ke pintu. Sehun belum mengetuk, tapi ia sudah membukanya lebih dahulu.

Tampang Sehun kacau sekali, sehingga Luhan sempat khawatir bahwa ia habis minum-minum lagi. Tapi meskipun lingkaran di bawah matanya agak gelap, bola matanya yang terang, dan tubuhnya yang atletis bergerak dengan sigap saat ia memasuki ruangan itu. Rambutnya kelihatan lebih panjang dan acak-acakan daripada biasanya. Ia mengenakan celana pendek putih dan polo shirt kuning. Di mata Luhan, ia belum pernah tampak lebih baik.

Setelah melayangkan matanya ke seluruh ruangan sebentar, ia berpaling ke Luhan.

"Hai."

"Hai."

"Kau baik-baik?"

Luhan menunduk, kemudian cepat-cepat mengangkat wajahnya kembali.

"Ya." Ia dapat merasakan ke tegangannya. "Kau? Kau baik-baik? Minguk?"

"Aku baru kembali ke Maui tadi pagi."

"Oh."

"Aku cuma sebentar di rumah tapi Minguk baik-baik saja. Sehat, maksudku. Menurut Mrs. Laani, ia sering menangis belakangan ini."

Sepertinya pohon palem yang ada di luar jendela menarik perhatiannya. Ia masih melihat ke arah pohon itu saat menambahkan,

"Rupanya ia merasa kehilangan dirimu."

Luhan menunduk lagi. "Aku juga merasa kehilangan dirinya."

Sesuatu di dalam dirinya terasa pedih sekali. Dan aku juga merasa kehilangan dirimu!

"A-aku... ehm... aku baru tahu bahwa kau pergi setelah aku pulang."

Sehun berdehem. Kedengarannya keras sekali di ruangan yang sempit itu.

"Aku langsung terbang kembali ke Honolulu."

Luhan berpaling ke arah jendela. Denyut jantungnya terasa cepat sekali, dan tangannya bergetar saat ia menyentuh tali penarik gorden.

"Bagaimana cara kau menemukan aku?"

"Dengan sekantong uang receh."

Luhan menoleh. "Apa?"

"Aku mendapat sekantong uang receh dari bank kemudian aku mencari sebuah telepon umum dan mulai memutar beberapa nomor."

"Oh."

Luhan berpaling ke arah jendela kembali sebelum ia membiarkan dirinya tersenyum.

"Aku memutuskan untuk tinggal di Hawaii sampai sudah ada kepastian dari Los Angeles. K-karena... karena aku tidak tahu sampai berapa lama aku akan tinggal di sini. Aku sudah melepaskan apartemenku di sana sebelum aku pergi. Aku sedang menunggu kabar dari seorang teman. Ia sedang mencarikan sebuah tempat untukku."

"Jadi kau akan kembali, kalau begitu? Kembali ke L.A., maksudku?"

Apakah ia menangkap nada khawatir dalam suaranya? Luhan tidak berani mengangkat wajahnya. Bagaimana kalau itu justru merupakan ungkapan rasa leganya?

"Kukira begitu," gumam Luhan.

Ia mendengar suara langkah. Sehun berhenti di dekat meja yang ditinggal Luhan tadi. Luhan mendengar suara gerisik kertas.

"Kau habis menulis?"

"Ya," sahut Luhan serak.

Rupanya Sehun tidak berniat untuk mempermasalahkan soal perpisahan mereka. Ia akan membiarkannya pergi. Ia akan membiarkannya berlalu ke suatu kehidupan yang steril dan tanpa warna.

"Aku menulis mengikuti dorongan dari dalam hatiku,"

Tambahnya dalam nada setenang mungkin. Ia mendengar suara gerisik kertas lagi.

"Bagaimana suasana hatimu saat menulis ini?"

Luhan langsung mengenali tulisan tangannya sendiri. Setelah membaca baris pertama, ia menyadari bahwa itu sebuah puisi yang pernah ia tulis lebih dari sebulan yang lalu. Seperti semua hasil tulisannya yang lain, di bagian paling atas halaman itu tercantum sebuah tanggal.

Mereka sedang berada di San Francisco hari itu. Mrs. Laani sudah membawa Minguk lebih dahulu ke restoran di lantai bawah untuk sarapan.

Setelah menikmati sarapan yang santai di atas tempat tidur, mereka bercinta dengan santai. Dan ketika Sehun sudah berangkat untuk latihan, Luhan meraih notes dan penanya dan, masih dalam suasana santai sehabis menikmati percintaan mereka, ia merangkai sebuah puisi.

Isinya mengungkapkan perasaannya terhadap Sehun. Dua barisnya yang terakhir berbunyi,

Di saat keberadaanmu menggubah tubuhku / Cintamu mengukir jiwaku.

Air mata mengaburkan pandangannya dan membuat baris-baris itu tampak seakan membaur menjadi satu.

"Kurasa cukup jelas."

Luhan mengangkat wajahnya dan mendapati bahwa mata Sehun juga dalam keadaan basah.

"Aku menemukan itu di pojok koperku kemarin."

"Aku tidak ingat kenapa bisa ada di situ."

"Sudah berhari-hari aku menganggap diriku laki-laki paling brengsek di dunia ini. Kau berhak benci kepadaku untuk apa yang sudah aku katakan padamu, belum lagi untuk kekeraskepalaanku, keangkuhanku, dan temperamenku yang buruk. Aku sudah berniat untuk minta maaf padamu, dan berjanji padamu untuk tidak pernah lagi menganggapmu sebagai lawan mainku. Tapi baru setelah aku menemukan ini, aku berani pulang untuk menemuimu. Aku berharap, jika kau memang pernah merasakan ini untukku, mungkin kau bersedia untuk membuka hatimu kembali."

"Kau punya niat untuk meminta maaf kepadaku?"

"Ya. Untuk kelakuanku yang idiot, seperti seorang pecundang, seperti seorang anak kecil yang manja."

"Tapi, Sayang, kemarahanmu itu wajar sekali. Aku sudah menjebakmu ke dalam suatu pernikahan."

Tubuh mereka sudah mendekat ke arah satu sama lain. Tiba-tiba Sehun menarik Luhan ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya ke dalam rambut Luhan.

"Kau tidak melakukan itu. Aku menikahimu karena aku mencintaimu. Aku menginginkan dirimu sebagai istriku. Dan sekarang pun masih. Jantungku hampir berhenti begitu Mrs. Laani mengungkapkan kepadaku bahwa kau sudah pergi. Jangan tinggalkan aku, Luhan."

"Aku pun tidak mau melakukan itu," isak Luhan. "Aku pergi karena aku mengira kehadiranku hanya akan menjadi duri bagimu." Ia menarik dirinya untuk melihat ke dalam mata suaminya. "Aku tidak bisa hidup bersamamu dengan perasaan bersalah. Bagiku berarti sekali bahwa kau mengerti mengapa aku melakukan hal itu."

"Ayo ke sini,"

Ujar Sehun dengan lembut, sambil menarik Luhan ke arah tempat tidur. Mereka duduk di atas seprainya yang usang, kemudian Sehun menggenggam kedua belah tangan Luhan.

"Apa yang kau lakukan itu sebetulnya tidak salah, Luhan. Memang tidak lumrah, tapi tidak salah. Ketika Jonghyun mengungkapkan kepada YoonA dan aku bahwa ia sudah menemukan seorang wanita muda yang sehat dan bersedia mengandung anak kami, di dalam hati kami ia pantas untuk kami sanjung. Pada hari Minguk dilahirkan, kami menganggapnya sebagai wanita yang paling baik di muka bumi ini."

Dengan penuh perasaan, Sehun menyentuh wajahnya, rambutnya.

"Kenapa kemudian aku bertingkah seperti itu setelah aku tahu bahwa kau adalah wanita itu, sulit bagiku untuk menjelaskannya. Mungkin karena aku merasa dibodohi karena kau tidak mengungkapkan sejak awal bahwa kau adalah ibu kandung Minguk. Sakit rasanya hatiku mengetahui kau tidak cukup mempercayai cintaku kepadamu dan mengungkapkan semua itu kepadaku. Yang seharusnya kulakukan setelah aku tahu adalah seperti yang kurasakan pada saat pertama kali aku melihat putraku. Seharusnya aku segera berlutut di hadapanmu dan mengucap kan terima kasihku dari dalam lubuk hatiku."

"Apakah respekmu kepadaku tidak berkurang setelah kau tahu bahwa aku menjual bayiku?"

Sehun mengusap air mata yang turun di pipi Luhan dengan ujung jarinya.

"Aku tidak pernah punya pikiran negatif terhadapmu sebelum aku tahu siapa kau. Kenapa aku harus punya pikiran negatif itu sekarang? Aku tahu bahwa kau melakukannya karena mencoba menyelamatkan nyawa Yuji. Andai kata aku menganggap bahwa aku dapat menyelamatkan Minguk dari nasib seperti itu, berhubungan dengan setan pun akan kulakukan."

"Itulah yang telah kulakukan."

Sehun tersenyum sedih. "Setelah mengenal mantan suamimu dengan lebih baik, aku betul-betul sependapat denganmu. Sulit rasanya untuk percaya bahwa aku pernah menganggap dia begitu istimewa."

"Kau tidak khawatir ia akan menimbulkan masalah lagi?"

"Kurasa ia tidak akan melakukan itu. Ia seorang pengecut yang sekarang sedang lari ketakutan."

"Mestinya aku tahu itu sejak pertama kali ia menghampiriku di Maui. Aku begitu ketakutan waktu itu. Siapa tahu ia mau menculik Minguk atau entah apa."

"Ia sudah punya cukup banyak masalah yang lebih serius. Tapi kalau ia mau macam-macam, aku akan menghadapinya, selama aku masih memiliki kau dan Minguk."

Dengan lembut ia mencium telapak tangan Luhan.

"Kau mau kan pulang bersamaku? Dan tidak pernah meninggalkanku lagi?"

"Itukah yang kau mau?"

"Itu yang kuinginkan sejak pertama kali aku melihatmu, menyentuhmu, dan menciummu," ujar Sehun sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Luhan.

l..l

l..l

l..l

Minguk betul-betul senang karena ia mendapat begitu banyak perhatian. Kedua orangtuanya duduk di atas karpet di ruang keluarga sambil bertepuk tangan menyambut setiap ulahnya yang makin lama makin menjadi. Ia meloncat ke sana kemari, dan lari berputar-putar sampai akhirnya terjengkang, kepalanya membentur kaki piano, lalu ia menangis meraung-raung.

"Sebaiknya ia ditidurkan sebelum menjadi lebih nakal," ujar Mrs. Laani mengingatkan.

Mrs. Laani menyeka air mata bahagianya saat Sehun dan Luhan masuk melalui pintu depan, dengan saling bergandengan dan wajah berseri-seri.

"Oke, Bung, kau dengar itu,"

Ujar Sehun sambil menaikkan Minguk ke atas pundaknya. Minguk mencengkeram rambut ayahnya yang tebal, kemudian mereka menaiki tangga dengan lengan Luhan yang merangkul pinggang suaminya.

Rupanya mereka telat untuk menenangkan Minguk. Ia terus berontak saat mereka berusaha memakaikan celana piyamanya.

"Pi-pis, pi-pis!" teriaknya berulang-ulang.

"Mungkin dia serius," ujar Luhan.

Sehun menatapnya dengan pandangan seakan ia cuma mengada-ada. Entah masih berapa lama ia harus menunggu sampai ia bisa mengajak Luhan ke kamar tidur mereka sendiri. Ia sudah betul-betul tidak sabar lagi. Dengan cepat ia mengambil keputusan.

Ia membuka celana piama Minguk, dan sesudah itu popoknya yang tebal. Kemudian ia menggendong anaknya ke kamar mandi dan diturunkan di depan pispotnya.

Ternyata Minguk melakukan apa yang memang sudah lama diharapkan darinya. Keberhasilannya langsung disambut dengan pujian dari ibunya dan wajah tercengang ayahnya.

Dengan bangga ia menengadahkan wajahnya ke arah mereka dan menerima ucapan selamat berupa pelukan dan kecupan-kecupan mereka.

Bahkan Mrs. Laani dipanggil untuk ikut meramaikan perayaan itu. Dan itu semua akhirnya cukup melelahkannya. Begitu piyamanya sudah dikenakan kembali, ia segera meringkuk seperti sebuah bola di atas tempat tidurnya, dan jatuh terlelap sambil memeluk boneka Pooh-nya.

"Anak kita memang hebat sekali," bisik Sehun, sambil merangkul Luhan.

"Memang,"

Sahut Luhan sambil lebih merapatkan dirinya ke dalam pelukan suaminya.

"Sebelum aku menyerahkan uang sebesar lima ribu dolar kepada Jonghyun, ia masih sempat mengatakan bahwa ia telah melakukan sterilisasi atas diriku setelah Minguk lahir."

Sehun mengumpat. "Karena itu kau lantas seperti orang tanpa arah selama berminggu-minggu setelah itu."

Luhan menggigil. "Itulah sebabnya aku enggan memeriksakan diriku ke dokter. Aku tidak ingin kau tahu hal itu. Akibatnya aku menyembunyikan sesuatu lagi darimu."

"Sudahlah, Luhan. Kita tak perlu punya seorang anak lagi."

"Memang," sahut Luhan sambil mengisak pelan, agar anaknya tidak terganggu. "Tapi ternyata ia bohong. Ia mengatakan itu padaku hanya untuk menerorku."

"Bajingan," umpat Sehun.

"Dan karena itulah kemudian aku begitu lega dan senang setelah kita pulang dari tempat praktek dokter itu. Kau ingat?"

"Ya, aku ingat," sahut Sehun parau.

"Menurut si dokter, tidak ada alasan sama sekali kenapa aku tidak bisa punya anak lagi sebanyak kita mau."

Sehun mengecup dahi Luhan.

"Aku akan senang sekali punya lagi. Tapi kalau pun tidak, juga tidak apa-apa. Aku akan bertanding dalam tingkat profesional tahun depan."

Luhan meremas pinggang suaminya untuk menyatakan dukungannya.

"Sesudah itu aku akan menggantung raketku. Aku sudah memiliki seorang anak yang luar biasa dan seorang istri yang kucintai dengan sepenuh hatiku. Apalagi yang masih kuperlukan?"

Mereka mengecup anak mereka yang sudah tertidur lelap itu sekali lagi, kemudian meninggalkan kamarnya. Lorong menuju kamar tidur mereka sendiri terbentang di depan mereka, dan tiba-tiba suatu perasaan was-was meliputi diri mereka.

Sehun menoleh ke arah istrinya. "Aku sungguh-sungguh tidak sabar lagi untuk segera mengajakmu naik ke atas tempat tidur, tapi aku tahu kau ingin bersiap-siap lebih dahulu."

Sinar mata Luhan meredup romantis. "Itu kan sebelum kita resmi menjadi suami-istri."

"Sekarang?"

"Sekarang adalah bercinta dengan suamiku."

"Sepertinya aku perlu mandi dulu."

"Aku juga."

"Aku akan memakai kamar mandi di bawah. Lima belas menit?"

Luhan tersenyum, senang bahwa Sehun memberikan kesempatan kepadanya untuk mempersiapkan dirinya baginya.

"Atau kurang."

l..l

l..l

l..l

Luhan mandi dan mencuci rambutnya cepat-cepat. Setelah mengeringkan tubuh dan rambutnya, ia memakai parfum dan pelembap untuk kulitnya.

Gaun tidur yang ia bawa pulang pada hari dunianya runtuh masih terbungkus di dalam bungkusannya. Setelah mengibas bahan transparan bernuansa ungu lembut itu, ia mengenakannya. Efeknya sungguh-sungguh memperindah ketelanjangan di baliknya.

Pada waktu ia merebahkan kepalanya ke atas bantalnya, Sehun masuk dengan hanya memakai selembar handuk yang melilit pinggangnya.

Sambil saling mengagumi, Sehun melangkah ke tempat tidur.

"Cantik sekali," komentarnya mengenai gaun tidur yang dikenakan Luhan.

"Terima kasih," sahut Luhan.

"Aku senang melihatmu dalam warna itu."

"Aku akan ingat itu. Aku juga suka melihatmu dalam warnamu itu."

Sehun tersenyum. sambil merebahkan diri di sebelah Luhan.

"Aku mencintaimu dan aku betul-betul tidak mau kita berpisah lagi."

"Aku juga mencintaimu. Sejak awal."

"Ceritakan padaku segalanya. Mulai dari awal. Semua detail yang tidak kuketahui, sampai ke hal yang sekecil-kecilnya. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu ketika kau tahu bahwa kau mulai mengandung. Apa yang terpintas di dalam dirimu dan bagaimana perasaanmu begitu kau tahu bahwa akulah ayah anakmu? Bagaimana caranya kau tahu mengenai keberadaanku? Ajaklah aku menelusuri itu semua kembali bersamamu."

Dengan penuh perasaan Luhan memulai kisahnya, dengan mengungkapkan segalanya kepadanya. Segala kepedihan dan juga kebahagiaan yang pernah ia rasakan. Suaranya yang empuk mengalun mengiringi desiran angin yang datang dari arah laut dan masuk melalui jendela-jendela kamar tidur mereka yang terbuka.

Sesekali bibir mereka saling bertemu, seakan untuk mengikat janji akan masa-masa yang lebih menyenangkan di waktu yang akan datang.

l..l

l..l

l..l

TAMAT

l..l

l..l

l..l

28 Desember 2017

yes! beginilah akhirnya hohoho... adakah disini yg baca chapter ini sambil dengerin lagunya Lee Hi? kkkkk~

aku suka banget ama novel ini, ceritanya bikin aku bener2 ngerasain sebagai luhan, gak bisa jujur dari awal karena gak mau kehilangan kesempatan ngeliat anaknya dan makin sini, makin sayang ama sehun dan gak mau kehilangan dia, mulai dari situ rasa takut bermunculan.

makasih buat kalian guys udah baca cerita ini, dan nanti aku bakal remake cerita lagi sesuai yg kalian pilih kemaren.

see yu in next story, byebyee~