[Chaptered]
Title : Sasuke itu Kamseupay
Chapter : 14 / ?
By : Gatsuaki Yuuji
Main Cast : Namikaze Naruto & Uchiha Sasuke
Disclaimer : All Chara punya Papi Kishi. FYI, Papi Kishi itu Papiku.
Genre : Family, Sad
BGM : Home Made Kazoku - Kimi ga Kureta Mono
- Naruto PoV -
"Tidak apa jika kau membenciku. Aku tetap menyayangimu. Karena kau adikku",
Adik?
Mengapa kau masih menganggapku adik? Apa perbuatanku selama ini pantas kau sebut adik?
"Darimana makhluk aneh sepertimu berasal?", tanyaku pada omamori pemberian Sasuke yang sedang kupegang.
CeKLeeeeK
Pintu ruangan terbuka.
"Ah! Kau sudah bangun, Naruto?", tanya Kabuto-sensei, dokter yang merawatku. Sebelum makan, Kabuto-sensei selalu datang untuk mengecek keadaanku.
Kusimpan omamori itu di bawah bantal.
"Ya. Tidak ada yang bisa kulakukan selain bangun, tidur, bangun dan tidur lagi", jawabku bosan, tidak ada yang menemaniku.
Dokter berkacamata itu tersenyum padaku.
"Kau pasienku yang kuat",
"Sensei adalah orang yang kesekian, yang mengatakan bahwa aku kuat",
"Wah! Berarti sensei tidak salah kan?",
"Ya!", anggukku membenarkan pertanyaannya.
Sambil mengecek kesehatanku, Kabuto-sensei bertanya banyak hal padaku. Kabuto-sensei juga menyinggung tentang operasiku yang kurang dari 2 bulan. Aku tidak memberi respon apapun untuk hal itu.
Apakah aku harus bereaksi senang? Atau malah sebaliknya?
"OK! Makan siang segera datang. Harus dihabiskan, ya!", pesan Kabuto-sensei sebelum pergi.
Aku membawa makan siangku ke ruangan Sasuke. Aku ingin dia membantuku menghabiskan makan siangku yang menunya itu-itu terus.
Besok, aku sudah diizinkan pulang, tapi Sasuke belum. Luka di wajahnya masih basah. Dokter juga harus mengecek mata kirinya.
CeKLeeeeK
Kubuka pintu ruangan.
Samar-samar terdengar sebuah percakapan.
Kubuka pintu lebar-lebar. Kulihat Sasuke sedang terduduk di lantai, kedua tangannya menutupi telinganya. Di hadapannya ada Orochimaru yang tengah tertawa setan.
"Mengapa kau ada di sini?", teriakku, aku ingin melempar nampan yang berisi makan siangku ini ke wajah jijik pria itu, tapi tidak jadi, aku takut lemparanku akan mengenai Sasuke juga.
Kuletakkan nampan di meja dekat sofa. Kuhampiri Sasuke yang tubuhnya gemetaran ketakutan.
"Tidak boleh percaya...", guman Sasuke yang masih menutupi telinganya.
Apa yang sudah Orochimaru katakan pada Sasuke?
"Mengapa kau ada di sini? Seharusnya kau ada di penjara, membusuk di sana!", aku membentengi Sasuke agar Orochimaru tidak mengusiknya.
"Kekeke...", Orochimaru semakin memperbesar ketawa setannya, meskipun wajahnya masih bonyok, dengan perban di lehernya.
"Kalau kau tidak percaya padaku, kau bisa bertanya pada adikmu itu, dan itupun kalau dia mau jujur padamu... Kekeke...",
"Apa yang kau katakan pada Sasuke!", teriakku kesal, karena mendengar suara tawanya itu.
"Kekeke... Sampai jumpa, jalang! Aku akan datang mengunjungimu lagi. Semoga kau masih hidup... Kekeke..", bukannya menjawabku, dia malah pergi meninggalkan ruangan.
Kujauhkan tangan Sasuke yang menutupi telinganya.
"Hey! Apa yang dikatakan pria itu padamu?", tanyaku cemas, aku takut pria itu berkata yang aneh-aneh tentang keluargaku.
"Tidak boleh percaya...tidak boleh percaya... Tuan Orochimaru berbohong... Tidak boleh percaya...", kedua lengan yang kugenggam ini dingin dan bergetar.
"Kebohongan apa yang dia katakan padamu?",
Sasuke mencoba untuk tenang, pandangannya lurus menatap lantai.
"Tuan bilang, mama tidak menyayangiku, mama hanya menginginkan...", Sasuke mencengkram dada kirinya.
Tidak! Jangan katakan itu!
"...jantungku...", sambung Sasuke.
Kuso! Darimana Orochimaru bisa tahu rencana mama?
Sasuke mencengkram piyamaku, tersirat rasa kecewa di mata kanannya yang tidak tertutup perban.
"Naru, mama tulus menyayangiku kan?", tanya Sasuke, "Bukan karena jantungku kan?",
"Ya, tentu saja! Mama menyayangimu, sangat menyanyangimu", jawabku berbohong, "Semua menyayangimu, mama, kakek, juga...",
...aku...
"...juga Kakashi-san", sambungku asal.
Sasuke tersenyum tipis mendengar jawabanku.
"Terima kasih, Naru...", ucapnya lega.
Setetes air mata turun membasahi pipinya. Bahkan mata kirinya yang diperban itupun mengalirkan air mata bercampur darah dari luka yang belum mengering.
"Mama tulus menyayangimu, meskipun kau bukan anak kandungnya. Mereka semua menyayangimu", kuusap air mata di pipi kanannya.
Sasuke mengangguk.
"Aku percaya padamu, Naru...",
"Ya, kau harus percaya padaku, pada orang yang kau anggap adik ini",
"Hn. Aku harus percaya, karena kau adikku",
Aku memang pintar berbohong.
Tidak. Sebenarnya dialah yang mudah dibohongi. Dia memang bodoh.
Kuceritakan pada mama tentang kejadian tadi siang. Mama tidak menyangka bahwa Orochimaru datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan Sasuke dan menceritakan rencana mama.
Mama hanya tahu, bahwa Orochimaru mengetahui rencana mama. Maka dari itu, mama terpaksa mencabut tuntutan dan membebaskan Orochimaru dari penjara, lalu mengajak Orochimaru untuk bernegosiasi.
Mama membayar biaya perobatan Orochimaru. Mama juga memberi sejumlah uang kepada Orochimaru agar dia pergi dan tidak mengusik ketenangan keluarga Namikaze lagi. Mama tidak ingin memperpanjang masalah ini, apa lagi sampai tersebar ke publik. Itu adalah kesepakatan mereka. Tapi ternyata, Orochimaru menipu mama. Beruntung, aku bisa membohongi Sasuke.
Meskipun mama meyakinkanku bahwa Orochimaru tidak akan datang lagi. Tapi aku tetap tidak tenang, pria licik itu pasti akan datang lagi untuk memeras mama.
"Sebenarnya apa hubungan Orochimaru dengan Sasuke? Mengapa Sasuke memanggilnya 'tuan' dan Orochimaru memanggilnya...'jalang atau pelacur'?",
Mama marah sambil menggebrak meja di dekatnya.
"Bakoro sialan! Berani sekali dia memanggil anakku seperti itu!",
Bukan hanya aku yang marah, mama juga marah jika mendengar Sasuke dipanggil seperti itu. Bagaimanapun juga, Sasuke masih bagian dari keluarga Namikaze yang terhormat dan terpandang.
"Mama, tolong ceritakan padaku yang sebenarnya tentang Sasuke", pintaku, berharap mama mau menjelaskan agar aku tidak penasaran lagi.
Kalau bukan mama, kepada siapa lagi aku akan bertanya dan memperoleh jawaban?
"Tolong rahasiakan ini dari kakek, OK?", mama menjulurkan jari kelingking kanannya padaku, memintaku untuk berjanji.
Kukaikatan jari kelingking kananku ke jari kelingking mama, sebagai tanda kesepakatan.
Mamapun mulai bercerita. Ternyata mama tidak mengadopsi Sasuke dari panti asuhan, mama membelinya dari Orochimaru, seorang lintah darat yang suka memungut anak-anak gelandangan untuk dijadikan budak.
Karena mama membutuhkan seorang pendonor untuk jantungku, maka mama menemui Orochimaru. Orochimaru menawarkan Sasuke pada mama, mamapun setuju untuk membeli. Mengingat Sasuke hidup sebatang kara, tidak punya sanak keluarga yang menginginkannya. Jika Sasuke meninggal, tidak akan ada yang peduli bukan?
"Keluarga Sasuke seperti apa?", tanyaku.
"Tidak tahu. Bakoro bilang, setelah orang tua Sasuke meninggal, dia diangkat anak oleh pamannya. Karena pamannya butuh uang, lalu dia menjual Sasuke pada Bakoro",
"Mengapa pamannya tega menjual Sasuke? Apa dia tidak menyayangi keponakannya sendiri?", aku miris mendengar penjelasan mama.
"Tidak ada yang menginginkan Sasuke, karena dia dianggap...", mama merasa berat untuk berkata, "...pembawa bencana",
Sepintas ingatan lama bergema di pikiranku.
"Keberadaanmu sangat tidak menguntungkan bagiku!",
"Ternyata aku memang anak sial pembawa bencana",
"Betul itu!",
"Mengapa aku harus mati?",
"Karena kau adalah bencana bagiku!",
"Aku merasa bahwa kelahiranku adalah bencana. Apa kau merasa begitu, Naru?",
"Tidak peduli apa kata orang. Bagi mama, dia adalah harapan untuk anak kesayangan mama yang paling berharga ini", mama mencium lembut puncak kepalaku.
Aku tersenyum tipis menanggapi mama.
Apa benar orang yang kuanggap bencana itu adalah harapanku satu-satunya? Apa tidak ada pengganti yang lain?
Beberapa hari kemudian.
Persiapan sebelum pergi ke pesta.
Sasuke membantuku merapikan penampilanku. Meskipun tangan kirinya masih di gips, itu tidak menghambat pekerjaannya. Luka di wajahnya sudah mengering, tapi masih belum dikatakan sembuh.
"Sepatuku", kutunjuk ke arah lemari kecil berisi kumpulan sepatu.
Sasuke berlari kecil menuju lemari yang kumaksud dan mengambil sepasang sepatu hitam untukku.
"Ada lagi, Naru?", wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekpresi kesal karena tidak kuajak ke pesta, yang ada malah tersenyum tanpa beban, seperti biasa.
Dia memang tidak diizinkan ikut ke pesta. Karena itu sama saja dengan bunuh diri. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan jika dia diajak ke pesta. Dia akan menatap takjub dengan mulut menganga pada gedung dan dekorasi yang megah. Dia juga akan mencicipi semua hidangan dan berkata 'Naru ini enak! Kau harus mencobanya'. Jika itu sampai terjadi, mau ditaruh dimana wajah Namikaze yang terhormat ini?
Ah! Lagi pula, selain Shikamaru dan Kiba, tidak ada yang tahu bahwa keluarga Namikaze mengadopsi seorang anak. Tidak ada yang boleh tahu keberadaan Sasuke, karena Sasuke hanya tinggal sebentar.
"Ada yang kurang, Naru?", tanya Sasuke.
"Pergilah mandi!", perintahku.
"Mandi?",
"Sebelum pergi, aku akan mengobati lukamu itu",
"Aku bisa sendiri, Naru",
"Ini perintah!",
Sasuke langsung mengambil pakaian dan handuknya, lalu berlari kecil ke kamar mandi.
Huf~ Mengapa aku menawarkan bantuan untuk mengobatinya? Dia kan bisa sendiri? Tidak. Bisa apa dia hanya dengan 1 tangan?
Kulirik jam dinding yang terpasang di kamar.
"Belum waktunya berangkat. Jadi, aku masih punya waktu untuk bersantai", kurebahkan tubuhku di atas ranjang, bersantai sejenak sambil menunggu Sasuke selesai mandi.
Setelah Sasuke mandi, aku menyuruhnya berbaring di pangkuanku.
"Kau akan terlambat, Naru", dia enggan mendekatiku.
"Berbaring! Atau kulempar obat ini ke wajahmu!",
Sasuke terpaksa menuruti perintahku.
"Kau tidak perlu melakukan ini, Naru",
"Kau bisa apa dengan 1 tangan? Membuka salap saja kau tidak bisa",
"Maafkan aku...", Sasuke memejamkan matanya saat kuolesi salap di wajah bagian kirinya.
"Kau beruntung, mata kirimu tidak buta",
"Hn", guman Sasuke menahan perih.
"Tidak seharusnya kau membiarkan wajahmu dipukul",
"Aku pantas dipukul. Luka ini menunjukkan bahwa aku lemah",
"Ya. Kau memang lemah dan juga bodoh",
"Aku akan berubah. Akan akan menjadi lebih kuat dan pintar. Aku ingin, suatu saat nanti kau berkata 'Ini kakakku' dengan bangga",
"Mengapa kau ingin sekali menjadi kakakku?",
"Karena aku telah berjanji pada mama. Aku akan menjadi kakak yang baik untukmu",
"Jika kau tidak berjanji pada mama, apa kau masih mau menjadi kakakku?",
Sasuke menatapku dengan lembut.
"Keluarga Namikaze telah memberi lebih dari apa yang kuinginkan. Mereka memberiku kehangatan, perhatian, kasih sayang dan juga pertemanan. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka",
Setahuku, keluarga Namikaze tidak pernah memberikan itu. Dia terlalu berlebihan.
"Kau sudah siap, Naru?", tanya kakek yang sudah menungguku di depan pintu kamar.
"Ah! Iya!", jawabku.
Sasuke menjauh dari pangkuanku. Aku menyimpan obat ke dalam laci.
"Terima kasih, Naru",
Aku tidak menjawab, aku merapikan penampilanku sebelum pergi.
"Aku akan menunggumu pulang. Aku ingin mendengar ceritamu tentang pesta yang menyenangkan itu",
"Kau tidak perlu menungguku",
"Hn. Aku akan menunggu",
"Whatever!",
BLaaaaM
Kututup pintu kamar dengan kuat.
Di pesta, aku bertemu dengan Shikamaru dan Kiba. Keluarga mereka adalah sahabat papa sekaligus mitra kerja Namikaze Corp.
Kami berbicara dan bercanda seperti biasa. Ah! Rasanya kangen sekali dengan suasana ini. Sudah lama kami tidak berkumpul.
Aku juga bertemu dengan Sakura-chan, perempuan yang kutaksir. Sakura-chan bersekolah di Shinratensei High School, asrama putri terelite di Konoha. Seandainya dia satu sekolah denganku, mungkin aku akan sering bertemu dengannya.
"Apa kau tidak ingin berbicara dengannya?", tanya Kiba melirik ke arah Sakura-chan.
Ini bukan rahasiaku lagi. Shikamaru dan Kiba tahu bahwa aku menyukai Sakura-chan.
"Ya. Akan kucoba untuk memulai pendekatan", jawabku.
Selama ini, aku segan untuk berbicara dengan Sakura-chan. Aku takut dia sudah ada yang punya, soalnya Sakura-chan itu cantik dan baik hati. Padahal dulu, kami teman sepermainan. Semakin kami beranjak dewasa, hubungan kami semakin merenggang.
"Sakura-chan!", aku mulai menyapanya.
"Naruto-kun!", sahutnya sambil tersenyum manis.
Kami berbicara banyak hal, mulai dari sekolah hingga hobby masing-masing. Sayang sekali, aku tidak membawa ponsel sehingga kami tidak bisa saling menukar nomor ponsel. Karena penyakitku, aku jarang membawa ponsel kemana-mana bahkan nyaris tidak menggunakannya.
Meskipun tidak mendapat nomor ponsel Sakura-chan, setidaknya aku senang bisa berbicara dan membuat Sakura-chan tertawa.
Ah! Sungguh beruntung jika aku bisa memiliki gadis seperti malaikat ini. Aku pernah bermimpi menikahinya dan memiliki sepasang anak kembar.
NYuuuuT
Kuso! Nyeri di dadaku kambuh lagi.
"Kau baik-baik saja, Naruto-kun?", tanya Sakura-chan.
"Ah! I, iya..hahaha...", sebisa mungkin bersikap rileks di hadapan Sakura-chan, agar dia tidak cemas.
"Yo, Naru-chan! Kami butuh bantuanmu untuk mengambil sesuatu", sela Kiba.
"Permisi!", Shikamaru langsung menggandeng tanganku.
Aku berpamitan pada Sakura-chan sebelum pergi.
Di private room.
Shikamaru memberiku segelas air minum.
"Thanks", kuteguk habis air itu.
Kiba dan Shikamaru tahu bahwa penyakitku kambuh, dengan cepat mereka membawaku ke sini untuk beristirahat. Mereka tidak ingin membuatku terlihat lemah di hadapan perempuan yang kusuka.
"Kau ingin kami mengantarmu pulang?", tawar Kiba.
"Acara belum selesai, bagaimana aku bisa pulang?", tolakku.
"Kau harus istirahat", bujuk Shikamaru.
"Ya. Aku akan beristirahat sebentar di sini", kuhempaskan tubuhku di sofa.
"Haa~ Rasanya senang sekali bisa bertemu dengan Sakura-chan!", seruku senang agar mereka tidak mencemaskanku berlebihan.
"Sudah lama tidak bertemu, Sakura-chan semakin cantik dan sexy", timpa Kiba.
"Dadanya semakin berisi", sambung Shikamaru yang dihadiahi lemparan bantal sofa oleh Kiba dan aku.
Kami kembali berbicara, kali ini membahas tentang Temari-senpai, kakak kelas yang sukai Shikamaru. Aku baru tahu bahwa Shikamaru menyukai senpai galak itu.
Membahas dari perempuan yang disukai, hingga curhatan Kiba tentang kakaknya yang suka memperbudaknya. Dan entah mengapa bisa tersebut nama 'Kamseupay'.
Kiba menepuk pelan mulutnya, karena merasa salah bicara.
"Kita kan sudah janji jangan membahas itu", bisik Shikamaru pada Kiba yang masih bisa terdengar olehku.
"Ma, maaf...",
Pantas saja, mereka tidak pernah bertanya tentang Sasuke lagi. Ternyata mereka tidak ingin menghancurkan moodku, karena saat aku bercerita tentang Sasuke, moodku selalu jelek.
"Tidak apa-apa. Kamseupay itu baik-baik saja kok, apa kalian merindukannya?", candaku.
Aku berharap mereka bersikap santai, dan tidak perlu menahan diri untuk berbicara.
"Kiba merindukannya", jawab Shikamaru.
"Hey! Aku tidak mungkin merindukannya! Wajahnya saja, aku nyaris lupa", elak Kiba.
"Dia semakin tampan lho", godaku.
Huf~ Mengapa aku berkata seperti itu? Kamseupay itu kan tidak tampan! Masih tampan aku daripada dia!
"Aku tidak suka yang tampan! Aku suka yang imut seperti Hinata-chan",
"Hinata-chan? Siapa dia?", tanyaku merasa asing dengan nama itu.
"Siswi dari sekolah sebelah, sekaligus perempuan yang ditaksir Kiba", jawab Shikamaru.
Ternyata banyak hal yang tidak kuketahui selama aku tidak bersama mereka.
Pesta selesai pukul 10 malam. Seharusnya aku pulang lebih awal, tapi mengingat bahwa tidak sopan jika tuan rumah meninggalkan pesta lebih awal sebelum acara berakhir, terpaksa aku menunggu hingga para undangan pulang.
Kami sampai di rumah pukul 11 malam. Aku tidak melihat Sasuke, kupikir dia akan menunggu kepulanganku. Aya-san bilang, Sasuke menunggu di ruang keluarga hingga tertidur. Kakashi-san menggendong Sasuke ke kamarnya.
Aku bergegas ke kamarku untuk mengganti pakaian dan mandi. Setelah itu, aku ke kamar Sasuke untuk melihatnya sebentar.
Tampak Sasuke sedang berbaring di ranjang.
"Hey!", panggilku tanpa menyentuhnya.
Tidak ada sahutan, tidurnya benar-benar lelap.
Aku berbaring di samping kanannya, menatap wajahnya, lebih tepatnya luka jahitan di dekat alis kirinya. Luka itu pasti akan membekas nantinya.
"Hey, kau bilang akan menungguku pulang, tapi kau malah tidur", ucapku pelan.
"Pesta tadi sangat menyenangkan, aku bertemu dengan teman-temanku dan juga Sakura-chan, perempuan yang kutaksir",
Entah mengapa aku berceloteh sendiri, mungkin karena aku belum mengantuk dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan?
"Kelak aku akan memimpin perusahaan bersama mama, lalu menikah dengan Sakura-chan", ucapku dengan penuh percaya diri.
Banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku ingin hidup lebih lama lagi. Aku ingin terus tumbuh bersama orang-orang yang kusayangi. Kalau memang jantungmu adalah harapan untukku, maka tolong izinkan aku untuk memilikinya.
"Kau mau menolongku kan?", tanyaku pada Sasuke yang masih tidur.
KLooooNTaaaaNG
Bunyi kaleng jatuh membuatku terbangun.
"Maaf, sudah membuatmu terbangun...hehehe...", kulihat Sasuke sedang tersenyum bodoh padaku.
Dia telah mandi dan berpakaian rapi. Dia baru saja memungut sesuatu dari bawah ranjang. Tutup salap, pasti dia baru saja menjatuhkan salapnya.
"Kemari!", kutarik lengannya hingga dia berbaring di sampingku. Kuambil salap dan cotton swabs untuk mengolesi luka di wajahnya.
"Mengapa kau tidak membangunkanku?",
"Aku tidak ingin mengganggu tidurmu",
"Kau baru saja mengganggu tidurku dengan menjatuhkan salap ini",
"Maaf", sesalnya sambil mengangkat lengan kirinya yang masih di gips, "Kapan ini akan dilepas?",
"Apa itu masih sakit?",
"Kadang-kadang",
"Mungkin beberapa hari lagi",
"Oo...",
Setelah mengobati luka Sasuke, aku melanjutkan tidurku.
"Kau tidak ke sekolah, Naru?",
"Tidak",
Aku malas ke sekolah. Aku tidak ingin pingsan di sekolah, itu akan membuat teman-temanku cemas.
"Apa masih sakit, Naru?",
"Hn",
Sasuke terdiam.
Kualihkan pandanganku ke arahnya.
"Apa yang kau pikirkan?",
"Mengapa 2 bulan itu terasa begitu lama ya?",
Baka! Mengapa dia bertanya tentang itu?
"Aku ingin melihatmu sembuh secepatnya. Aku tidak ingin melihatmu sakit. Jika kau sakit, akupun...", Sasuke mencengkram dadanya, "...sakit...",
Kutarik selimut hingga menutupi wajahku, aku tidak ingin melihat ekspresinya yang begitu sendu. Aku tidak ingin dia iba padaku.
"Ini tinggal 1 bulan lagi, kurang lebih 1 bulan lagi. Bersabarlah menunggu!", ucapku.
"Hn. Aku akan menunggu",
Sasuke melompat turun dari kasur.
"Semangat, Kamseupay! Semangat, adikku!", serunya.
Beberapa hari kemudian.
Gips di lengan Sasuke sudah dilepas, tangan kirinya masih kaku untuk digunakan. Walaupun begitu, dia bersikeras ingin mengobati lukanya sendiri dan melakukan berbagai hal sendiri. Biarkan saja, kalau dia bikin rusuh, aku tidak akan segan untuk memarahinya.
Karena merasa bosan, aku menyuruhnya untuk memboncengku berkeliling dengan sepeda. Diluar dugaan, dia menolak perintahku, dia takut untuk keluar rumah, dia takut Orochimaru datang dan membawanya pergi. Rasa takutnya sama seperti rasa takut pada kegelapan.
Aku kasihan melihatnya ketakutan seperti itu.
Kakek mengajak kami berlibur ke onsen. Sasuke juga diajak, daripada membiarkannya sendirian di rumah.
Sasuke tampak senang, karena dia belum pernah ke onsen. Bahkan dia juga tidak tahu onsen itu apa?
Sesampainya di penginapan. Sasuke dengan cepat menyambar barang-barang kami di bagasi mobil. Tidak ada yang menyuruhnya untuk mengambil barang-barang kami dan memasukkannya ke penginapan.
"Kakek suka inisiatifnya", ucap kakek tertawa kecil melihat ulah Sasuke.
"Apa itu pujian?",
"Apa itu terdengar seperti pujian?",
"Ya",
"Hahaha...", kakek tertawa sambil menepuk bahuku.
Ada yang bisa mengartikan tertawa kakek barusan?
Waktunya onsen.
"Airnya hangat, Naru!", seru Sasuke sambil menyirami wajahnya dengan air. Luka di wajahnya telah sembuh, meskipun meninggalkan bekas di sekitar alis kirnya.
"Ya, inilah yang dinamakan onsen", jelasku.
"Onsen sangat menyenangkan. Aku suka! Terima kasih telah mengajakku, Naru!",
"Berterimakasilah pada kakek",
"Hn!", Sasuke langsung berenang menuju kakek yang sedang berendam di bawah curahan air hangat.
"Kakek, terima kasih telah mengajakku ke onsen! Onsen sangat menyenangkan!",
"Kau suka?",
"Hn! Aku suka!",
"Ahahaha... My precious!", kakek mengusap-usap rambut basah Sasuke.
Ada perasaan aneh mengganjal di dadaku, ketika melihat tingkah kakek terhadap Sasuke. Apakah kakek mulai peduli pada Sasuke? Atau hanya sekedar acting belaka?
Waktu makan malam.
"Mmmm~ Ini enak, Naru! Kau harus mencobanya!", Sasuke menyumpitkan gyoza ke mangkukku.
Benar-benar kampungan. Apa dia tidak pernah makan gyoza? Setahuku, koki di rumah pernah menyajikan menu gyoza.
"Kau harus makan yang banyak, nak!", kakek memberikan jatah gyozanya untuk Sasuke.
"Kakek tidak mau? Ini enak, kakek!",
"Untukmu saja",
Sasuke sempat ragu untuk mengambil jatah kakek.
"Kakek tidak suka penolakan", bisikku.
"Terima kasih, kakek!", Sasuke langsung melahap gyoza yang diberikan kakek.
Mama tersenyum melihat betapa kampungannya Sasuke ini.
"Nah, makan sayur juga, agar jantungmu tetap sehat", kakek menyodorkan semangkuk sayuran hijau pada Sasuke.
Tubuh Sasuke membatu, dia menjatuhkan sumpitnya, pandangannya terkejut menatap kakek.
"Jantung...", Sasuke mencengkram dadanya, bibirnya bergetar tidak bisa berkata apa-apa.
Jangan-jangan Sasuke teringat dengan perkataan Orochimaru waktu itu.
Dengan cepat, aku mengambil sumpit Sasuke yang terjatuh.
"Jantungmu harus tetap sehat, agar tidak sakit-sakitan sepertiku", kuletakkan sumpit itu di tangannya, "Sakit itu tidak enak lho",
Sasuke menatapku dengan cemas dan takut.
"Kau harus percaya padaku", bisikku.
"Maafkan aku...", lirih Sasuke.
"Kakek juga harus makan sayur, biar jantung kakek tetap sehat!", mama menyodorkan semangkuk penuh berisi sayuran hijau.
Kakek terpaksa memakannya dengan wajah masam. Sasuke tertawa kecil melihat ekspresi sengsara kakek saat memakan habis sayuran hijau itu.
Malam harinya. Aku sekamar dengan Sasuke, sedangkan mama dan kakek di kamar yang berbeda.
"Maafkan aku, Naru", ucap Sasuke yang dari tadi sibuk menatap langit-langit.
Aku tahu apa yang dipikirkannya.
"Harus berapa kali kau mengucapkan kalimat itu", dengusku.
Sasuke meraih tangan kananku, mengarahkan telunjukku ke dahinya.
"Maafkan aku... Aku sempat meragukanmu...", sesalnya.
"Sudah aku katakan, jika kau percaya pada seseorang, kau harus mempercayainya sepenuhnya, jangan setengah-setengah! Apa kau lupa?",
TuuuuK
Kusentil dahinya dengan telunjukku.
"Kurasa kau lupa",
"Maaf...",
"Jangan terus meminta maaf, keluarga Namikaze tidak pernah melakukan itu",
"Apa yang harus aku lakukan?",
"Pijat aku!",
"Hn!", Sasuke langsung bangun dan memijat pundakku.
Pijatannya mantap, wajar karena dulunya dia seorang budak.
Budak.
Aku tidak bisa membayangkan jika aku di posisinya. Bekerja ekstra keras, dipukul jika tidak becus bekerja.
Aku jadi teringat dengan bekas luka di tubuhnya, itu pasti ulah Orochimaru.
Ah! Aku teringat sesuatu. Aku ingin menghilangkan rasa takutnya untuk keluar rumah. Aku kasihan melihatnya terus mendekam di rumah.
"Hey, besok bawa aku berkeliling dengan sepeda!", perintahku.
Dia menghentikan pijatannya.
"Tidak boleh keluar, ada tuan!", tolaknya.
"Dia tidak akan muncul lagi!",
"Tuan akan membawaku pergi",
"Keluarga Namikaze tidak akan membiarkanmu pergi!",
"Aku takut, Naru... Aku takut...", dia menggigit kuku tangan kanannya.
"Jika kau takut, bagaimana kau bisa melindungiku? Selamanya kau akan menjadi orang lemah dan bodoh!",
Aku berbaring membelakanginya, menarik selimut lalu tidur. Tidak peduli padanya.
"Terserah! Kau tidak akan pernah bisa berubah! Selalu ketakutan pada hal-hal konyol",
Keesoka paginya, setelah sarapan, aku berkeliling dengan sepeda. Aku tidak mengajak Sasuke, karena aku tahu dia pasti menolak dan lebih memilih untuk mengurung diri di kamar.
Tapi ternyata dugaanku salah. Saat aku meninggalkan penginapan, dia langsung berlari mengejarku.
"Aku...ingin kuat, tidak boleh takut...", ucap Sasuke ngos-ngosan.
"Kau tidak takut jika Orochimaru muncul?",
"Aku lebih takut jika kau terluka atau disakiti",
Dia memang bodoh, tapi dia bisa membalikkan ejekanku menjadi perkataan yang sukses membungkamku.
Sepulang dari onsen, Sasuke langsung bercerita pada Kakashi-san dan Aya-san tentang pengalamannya di onsen.
"Onsen sangat menyenangkan!", serunya.
Aku sudah bosan mendengar kalimat yang sama persis seperti itu. Dia selalu mengulang kalimat yang sama. Apa kosa katanya hanya itu-itu saja?
"Kapan-kapan, kita akan ke sana lagi, sayang", sambung mama yang mendengar pembicaraan itu.
"Pergi bersama-sama ke onsen lagi?", tanya Sasuke meyakinkan perkataan mama.
"Hn!", angguk mama.
"Terima kasih, mama!", Sasuke melompat senang.
Tidak seharusnya mama berjanji seperti itu. Seharusnya mama tahu bahwa waktu Sasuke hanya tinggal beberapa minggu.
Waktu semakin lama semakin cepat berlalu. Tidak terasa, seminggu lagi aku akan dioperasi.
Sasuke tidak sabar menunggu seminggu lagi. Kini dia tengah berguling-guling senang di atas ranjangku.
"Seminggu lagi, kau akan sembuh Naru! Setelah itu, kita akan melakukan banyak hal!", serunya.
Kurebahkan tubuhku di sampingnya.
"Apa yang akan kita lakukan?",
"Bersepeda, berlari, bermain bola bersama, pergi ke onsen. Lalu... Ah! Konoha Land!",
"Konoha Land?",
Sudah lama aku tidak ke sana.
Eits, darimana dia tahu tempat itu?
"Konoha Land sangat menyenangkan!",
"Kau pernah ke sana?",
"Hn! Neji pernah mengajakku ke sana. Itu sangat menyenangkan!",
Kuso! Aku kalah cepat dari Neji.
"Itu sangat menyenangkan! Kita harus ke sana, Naru!",
"Ya, Konoha Land memang menyenangkan",
"Kita akan ke sana kan, Naru?",
Kita?
"Kita akan ke sana kan, Naru?", tanya Sasuke lagi dengan tatapan penuh harap.
Bukan kita, tapi kami, kau tidak termasuk.
"Kau tidak ingin pergi ke sana?",
Aku ingin ke sana, tapi aku tidak bisa mengajakmu.
"Kau tidak suka Konoha Land?",
"Mmmm~ Bagaimana dengan bermain basket? Aku bisa menembak dengan benar sekarang", Sasuke mengganti pertanyaan karena tidak mendapat tanggapan dariku.
"Kau tidak suka? Lalu apa yang kau suka? Ayo, kita lakukan bersama-sama!",
"Kau berisik! Keluar dari kamarku sekarang!", ketusku sambil menendangnya hingga terjatuh dari ranjang.
Sasuke terkejut melihat kemarahanku, dengan cepat dia berlari keluar kamar.
Sedari tadi, aku enggan bertatap mata dengan Sasuke. Sasuke hanya melirikku dengan takut-takut, tidak berani berbicara.
Aku tidak ingin bicara dengannya, dengan begitu aku akan mudah melepasnya. Aku harus terbiasa hidup tanpanya, tanpa mendengar suaranya lagi.
"Naru, apa aku melakukan kesalahan?", tanya Sasuke pelan sambil mengintip dari balik pintu kamarnya.
Aku menyuruhnya untuk tetap di kamar dan tidak boleh keluar sebelum kusuruh. Dia menurutinya, dia tidak berani melangkah keluar hingga makan malam tiba.
"Kau terlalu berisik. Aku ingin kau diam", jawabku sedingin mungkin.
Aku memasuki kamarku tanpa menghiraukannya lagi.
Aku harus membencinya seperti dulu. Aku tidak boleh menyayanginya, karena dia akan pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin merasakan sakit hati karena kehilangan lagi. Cukup Sai yang membuatku sakit hati.
Sasuke menuruti semua perintahku. Dia terus mendekam di kamar, diam tidak berbicara apapun, hanya bergumul di dalam selimut.
Saat maid mengantarkannya makanan, dia menyantapnya dalam diam. Tidak berseru tentang enaknya makanan yang dimakannya itu.
Melihat keanehan Sasuke, mama langsung mencurigaiku. Mama menyuruhku untuk berbaikan dengan Sasuke. Sasuke harus tetap sehat, jangan sampai sakit, beberapa hari lagi, dia akan dioperasi.
Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya di kamarnya.
"Bicaralah!", perintahku.
"Aku boleh bicara, Naru?", tanyanya ragu-ragu.
Sudah lama aku tidak mendengar suaranya, sudah lama juga dia tidak memanggil namaku.
"Bicaralah!", kubaringkan tubuhku di ranjangnya.
Dan sudah lama juga aku tidak berbaring di sini.
"Kau marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan?",
"Tidak",
"Hn?",
"Tidak ada yang salah",
"Lalu? Mengapa kau menyuruhku diam?",
"Karena aku tahu, kau akan melakukannya",
"Hn!", angguknya, dia ikut berbaring di sampingku.
Kutatap dia dengan intens.
"Jika aku menyuruhmu untuk pergi, apa kau akan melakukannya?",
"Tidak",
"Mengapa? Bukankah kau selalu menuruti apa yang aku perintahkan?",
"Kau menyuruhku tidak keluar kamar, akan kulakukan. Kau menyuruhku diam, aku akan diam. Jika kau menyuruhku untuk pergi, maaf aku tidak bisa melakukannya. Karena aku telah berjanji akan menjaga dan melindungimu sebagai kakak",
"Asal kau tahu, aku tidak ingin bersamamu",
"Tidak apa", dia tersenyum, "Saat sembuh nanti, aku ingin melihatmu tertawa bahagia. Meskipun aku tidak bersamamu",
"Maksudmu?",
Jangan-jangan dia sudah tahu tentang operasi itu.
"Kau mungkin lebih memilih ingin melakukan banyak hal bersama teman-temanmu daripada dengan si Kamseupay ini", jelasnya.
Dadaku terasa sesak melihatnya sepasrah ini.
Kujitak dahinya untuk melampiaskan rasa sesakku.
"Memang tidak ada isinya!",
"Ng?", Sasuke mengusap dahinya yang memerah, aku menjitaknya terlalu kuat.
Kujitak dahiku sendiri, bunyinya tidak senyaring punyanya.
Aku dan dia berbeda. Aku pintar dan dia bodoh, benar-benar bodoh.
"Ahahaha...", aku tertawa sekuat mungkin, tidak peduli pada tatapan keheranan Sasuke.
Sasuke menyeka air di sudut mataku. Aku tertawa sampai menangis, betapa konyolnya aku!
"Mengapa kau menangis", tanya Sasuke.
"Ini tangis bahagia, bodoh! Aku bahagia, karena aku akan sembuh. Tidak kah kau merasa begitu, Kamseupay?", kuseka air mata yang mulai turun mengenai pipiku.
Sasuke tersenyum kecil sambil ikut menyeka air mataku yang terus mengalir.
"Kau akan sembuh kan, Naru?",
"Hn! Tentu saja!",
"Aku tidak perlu menunggu lebih lama lagi kan?",
"Ya! Kau tidak perlu menunggu lagi!",
"Syukurlah...", setetes air mata turun membasahi pipinya.
Mengapa kau ikut menangis?
Terputus
Mungkin chapter depan adalah chapter terakhir, atau mungkin chapter depannya lagi.
