Warn: Yaoi . Mature . HunKai . KaiUke . BoysLove . Dont Like Dont Read . BitHentai . Long Story
Wind Portal
-Love Forever-
©BocahLanang
.
.
.
Ӝ-Summer-Ӝ
...
Bel berbunyi cukup nyaring di akhir sore hari ketika para siswa sudah sangat lelah untuk sekedar mendengarkan guru yang mengoceh didepan sana menunjuk-nunjuk kesalahan tulisan salah satu siswanya di papan tulis yang penuh rumus kimia.
"Setidaknya aku lebih menyukai mr Zhang kimia daripada mr Kevin sejarah." Jongin bergumam sembari menata buku kimia kembali kedalam tasnya. Sedang Sehun di sampingnya duduk menyandar jendela masih mengamati guru klimis tua yang sedikit lemot menyadari bel pulang sudah berbunyi. Matanya memancarkan ketidak sukaan, karena Jongin bilang 'lebih menyukai' untuk pangkat guru kimia lola itu.
"Hei kenapa kau jadi terlihat cemburu begitu pada orang tua? Ayo pulang. Astaga sudah dua jam berlalu kau belum mengeluarkan buku satupun?" Jongin tercengang melihat meja yang mereka bagi berdua, pada bagian namja pucat itu terlihat debu tak terusik disana, seolah seminggu penuh tidak ada satu bukupun berani mendarat disana. Jari telunjuk lentiknya menunjuk debu debu itu.
Berbeda sekali dengan bagian Jongin yang bersih karena selalu digunakan sebagaimana mestinya. Untuk menjadi meja menaruh buku dan peralatan selama pelajaran.
"Aku tidak bawa buku. Ini kotor karena Tao tadi menaruh sepatu olah raganya di sini saat kita istirahat di atap gedung tadi. Lalu aku membuangnya keluar jendela" Sehun menjawab santai seolah melempar sepatu orang dari lantai tiga bukanlah masalah serius. Ingatkan Jongin untuk meminta maaf pada Tao nanti sore karena kelakuan nakal iblis kecil disampingnya yang sangat masa bodoh itu. Pasti ada yang marah-marah terkena lempararan sepatu dibawah sana tadi.
Selama perjalanan pulang Sehun terus mengikuti langkah kaki Jongin. Bahkan saat Kris, sunbae mereka datang dan mengobrol mengenai tugas klub Biologi cukup lama, Sehun dengan setia menunggu. Lebih tepatnya duduk menempeli Jongin sampai lelaki tan itu kegerahan dan beberapa kali meninju ulu hati namja pucat yang membuatnya terasa berat seperti digendongi jin.
"Kau kenapa sih hari ini terlihat sensitif sekali? Wajahmu yang biasanya datar sekarang terlihat marah. Sikapmu juga sangat menyebalkan" kembali Jongin mengeluh pada Sehun untuk entah keberapa kalinya hari ini. Lihat, bahkan selama perjalanan pulang melewati trotoar kini Sehun melempari punggungnya dengan kerikil kecil beberapa kali seakan dia adalah berhala yang wajib dilempari saat sesi jumrah.
"Kau yang menyebalkan. Aku tadi malam bertanya lewat chat tapi kau tidak membalas" akhirnya Sehun mengakui apa yang membuatnya jadi semenyebalkan itu seharian ini.
"Yang mana? Kita terlalu cepat saling membalas chat dan sangat banyak. Mungkin tertimbun. Kau mengirimiki banyak pertanyaan sampai aku lelah membalasnya" tubuh Jongin berbalik. Memandang sengit Sehun dan sialnya namja putih itu belum sempat berhenti berjalan, lalu berakhirlah dada rata mereka saling bertubrukan keras.
Brug!
Tentusaja Jongin yang oleng karena tubuh Sehun sekarang lebih bidang dan lebih tinggi. Tapi saat Jongin memejamkan kedua matanya mempersiapkan kesakitan mendarat di trotoar yang keras, Sehun sudah memutar kakinya sehingga ia jatuh dalam pelukan namja pucat itu.
"Sehun?" segera Jongin bangkit, duduk berjongkok menolong namja putih yang terlentang kesakitan disana. Sok pahlawan.
"Aku sudah menyelamatkanmu. Beri aku hadiah" seperti biasa Sehun adalah orang yang wajib memintai jongin hak setelah kewajiban yang ia buat. Padahal tidak seberapa, tapi balas budinya minta lebih. Lihatlah ia kini masih enggan berdiri, hanya duduk selonjoran disana dan menepuk pipi kanannya pelan. Memberi kode.
"Dalam mimpimu aku mencium pipimu!" alih-alih memberikan ciuman, Jongin memukul kuat pipi kanan Sehun hingga namja itu tersungkur kesamping dengan suara pukulan cukup nyaring.
"Aish! Bibirku robek" Sehun berdecih dan meludah darah. Mata tajamnya menatap sendu Jongin yang dudah berjalan meninggalkannya dengan langkah mantap-mantap.
"Benar kau tidak baca? Harusnya aku tidak buru-buru bertanya yang lain-lsin agar ia balas yang itu dulu.." helaan nafas lelah terdengar juga saat Sehun bangkit berdiri dan menepuk celana seragamnya yang kotor. Ia tidak ada niatan sama sekali untuk membalas Jongin. Dan luka di pelipisnya masih meninggalkan darah kering akibat mereka adu tonjok di atas atap saat istirahat tadi.
Sehun berhasil memberikan pukulan di pipi Jongin hingga sedikit lecet disana. Tapi itu hanya serempetan pukulan. Sehun sengaja menyelewengkan tinjuannya, karena Sehun lebih kuat dari Jongin dan ia tidak ingin melukai namja tan itu meski Jongin dengan serius melawannya.
Langkah kakinya jadi lambat. Jalanan sore itu sangat sepi karena langit sudah menjadi jingga bahkan tidak ada burung yang terbang pulang ke sangkar menghiasinya. Beberapa orang yang lewat memandangi Sehun tanpa berkedip seplah lelaki itu adalah patung sempurna yang hidup. Sangat tampan dengan ekspresi dingin dan bola matanya yang redup.
Pelan-pelan bibirnya menggumamkan lagu patah hati menambah kesan kesedihan yang tampan. Dia benar-benar seperti sedang melakukan shooting drama.
Karena jalannya yang sedikit menunduk dan hanya memperhatikan langkah kakinya sendiri, tanpa sempat menghindar Sehun kembali menabrak tubuh seseorang didepannya.
Bruk!
Kali ini Sehun memilih pasrah jatuh. Persetan dengan orang yang menghalanginya didepan kini harus tertimpa tubuhnya. Rasakan berat tubuhnya! Rasakan sakitnya jatuh di kerasnya trotoar. Siapa suruh tidak melihat betapa sedihnya ia hari ini, malah menghalangi.
"Sudah impas kan? Aku sekarang yang dibawahmu. Jalanmu lama sekali" nadanya masih terdengar kesal seperti tadi. Itu Jongin. Lelaki yang ditabraknya dan kini ia tiduri itu Jongin.
Sehun sedikit terkejut, pantas aroma tubuh itu sangat familiar dan membekas dalam ingatannya. Tanpa perlu beranjak dari atas tubuh Jongin, wajah Sehun yang terbenam di ceruk leher Jongin kini sedikit mendangak untuk beradu pandang dengan namja tan manis yang kini juga sedang memandangnya.
Terlalu dekat.
"Apa lihat-lihat. Bangun cepat" Jongin risih dipandangi dari jarak sedekat itu, kurang dari satu kilan. Segera menepuk-nepuk bahu bidang Sehun, sedikit mendorongnya agar namja itu segera beranjak dari atas tubuhnya. Namun nihil. Sehun masih diam dan malah menyamankan tidurannya sembari meletakkan kedua sikunya di kanan kiri kepala Jongin.
"Yak, aku akan menendang burungmu kalau kau tidak bangun sekarang" Jongin mengancam sembari menyentuh dahi Sehun dengan telunjuknya. Matanya memicing tajam dengan pipinya yang sedikit memerah.
"Lakukan dan kau tidak akan punya anak kelak" Sehun merendahkan wajahnya sehingga bibir mereka hampir bersentuhan. Jongin sudah kepayahan karena namja diatasnya itu segera mengunci pergerakan kedua kakinya. Lalu gundukan besar yang menekan dibawah sana.
"A-apa hubungannya 'itu' mu dengan anakku. Jangan menyumpahi masa depan! kalau benar terjadi, aku tidak bisa punya anak bagaimana ha?!" Jongin panik sendiri. Ingatkan bahwa setiap manusia juga akhirnya akan punya anak. Jika kelak Jongin jadi luntang-luntung single perjaka lapuk tak beranak kan miris.
"Karena 'itu' penentu anak masa depan kita. Kau harus merawatnya dengan baik" Sehun semakin merunduk. Saat berujar bibirnya sesekali bergesekan dengan bibir penuh Jongin yang lembut. Membuat jantung namnja tan itu berdebar sangat kencang. Ia berdoa semoga Sehun tidak mendengarnya. Beberapa kali namja tan itu memilih menggigit atau mengulum bibirnya agar tidak bersentuhan.
Lalu Jongin mengecap rasa asin darah. Oh.. bibir Sehun terluka karena pukulannya tadi. Kenapa ia jadi mencicipi darah namja tampan diatasnya?
Nafas hangat Sehun dan tubuh tegap yang semakin rebah itu membuat Jongin semakin menahan nafasnya. Angin dingin sore itu bahkan terasa panas. Kedua tangan Jongin tidak bisa berbuat apa-apa. Sehun secara tidak langsung mengancamnya 'memukulku sama saja kau memintaku berbuat lebih'.
"Jangan tahan nafasmu, Jongin." suara Sehun menjadi berat dan ia semakin menunduk. Kedua matanya menatap mata Jongin dengan gelap. Jongin semakin menciut. Bagaimana bisa Sehun memiliki aura yang sangat mendominasi seperti ini?
Akhirnya Jongin memilih melepas nafasnya yang sedari tadi ia tahan. Akibatnya parah karena Sehun langsung menekan dibawah sana.
"Engh.." tanpa sadar Jongin mendesah lirih dan memejamkan kedua matanya.
"Aku menginginkan ini sedari dulu.." Sehun berkata lirih dengan suaranya yang semakin berat. Jongin tidak bisa berpikir jernih apalagi mengartikan kalimat itu. Ia seolah tidak dengar karena telinganya yang berdengung dengan detak jantungnya yang terpacu cepat. Suhu tubuh Sehun sangat panas membuat tubuhnya ikut membara.
"Hun.." Jongin memilih pasrah, melemaskan kakinya yang semula tegang, dan kedua tangannya bergerak hendak memeluk punggung lebar Sehun namun namja pucat itu segera bangkit.
"Sudah malam, aku antar pulang" namja pucat itu membantunya berdiri seolah yang terjadi tadi itu adalah mimpi di sore hari.
Jongin hanya mengangguk kikuk dan berjalan kaku disamping Sehun yang memeluk pinggang rampingnya dengan sebelah tangan. Sesekali Jongin mencuri pandang pada Sehun disebelahnya, namun namja pucat itu diam saja memandang kedepan dengan tatapan lurus. Berhenti saat lampu pejalan kaki berwarna merah. Keheningan masih melanda.
Dalam sesaknya para pejalan kaki yang kebetulan merupakan para pekerja kantor yang barusaja selesai jam kerjanya lima menit yang lalu, Sehun menggiring Jongin untuk lebih dekat agar tidak berdempetan dengan ajushi berbadan tegap yang terlihat kaya. Terlihat sangat posesif. Sehun menekan tubuhnya pada punggung Jongin. Sesekali mengecup belakang kepala Jongin yang masih berkedut sakit setelah jatuh tadi.
"Kalau masih sakit nanti aku kompres" bisikan Sehun membuat Jongin terlonjak kaget. Namun ia hanya membalas dengan mengangkat jempolnya dan keduanya ikut berjalan bersama rombongan pekerja kantor itu saat rambu berganti hijau.
Piipp-Closed.
Entah apa yang terjadi, Jongin malah berada di apatermen Sehun sekarang. Ia sedikit memarahi dirinya sendiri yang terlalu kahwatir pada namja pucat itu. Memandangi orang yang terlihat diam aneh selama perjalanan sampai melewati rumahnya sendiri dan saat pintu apatermen Sehun berbunyi mengunci keduanya didalam, Jongin baru sepenuhnya sadar.
"Sudah malam, kirimi ibumu pesan kau menginap di apatermenku. Lagipula mulai besok kita liburan musim panas." tangan Sehun mengambil alih tas di pundak Jongin untuk diletakkan di meja samping sofa. Setelahnya didorongnya tubuh tan Jongin sehingga terduduk di sofa. Jongin mandesah lelah. Ia mengacak rambut pirangnya kesal lalu merogoh smartphone disakunya.
Mengetikkan sederet kalimat yang intinya persis seperti saran Sehun. Membiarkan namja pucat itu berjongkok diantara kedua kakinya dan mulai melepas kancing kemejanya. Memperlihatkan kaos hitam tanpa lengan, dalaman Jongin yang bergambar tengkorak.
Ting-
bunyi notifikasi pesan masuk ponsel Jongin berbunyi.
Dengan mudah kemeja seragam Jongin ditanggalkan oleh Sehun dan diletakkan dilantai. Lalu Sehun juga melepas kemejanya sendiri, sialnya Jongin melirik sekilas namja yang berjongkok di depannya itu sembari membaca balasan ibunya.
"Fuck" Jongin tanpa sadar mengumpat ketika melihat Sehun berhasil menanggalkan kemeja seragam itu ternyata langsung shirtless. Namja pucat itu tidak mengenakan kaus dalaman apapun. Memperlihatkan absnya yang tercetak sempurna.
"Ada apa? Ibumu tidak memperbolehkan?" Sehun bertanya dengan nada penasaran sembari memegangi kedua lurut Jongin yang mengangkang. Mendekat pada Jongin yang sedang menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Rambut hitam Sehun yang cepak sesekali menggelitik leher dan bahu Jongin ketika hendak ingin melihat pesan yang tertampil di ponsel Jongin. Kuat-kuat Jongin menahan desahan saat Sehun bernafas disana. Aroma tubuh Sehun memang selalu membuatnya lemas. Terlalu penuh feromon lelaki. Jongin tanpa sadar memejamkan kedua matanya dan meneguk ludah kelu. Sehun benar-benar bajingan menurutnya.
Sehun yang semula fokus pada ponsel ditangan Jongin tanpa sengaja melirik jakun Jongin yang bergerak lambat. Sangat sexy. Sehun ingin mengecup buah adam itu. Pasti lezat.
"Ehm! Eomma bilang tidak apa-apa dan.. 'ingatkan Sehun untuk tidak perlu pakai pengaman nanti malam, eomma ingin segera menimang cucu'.." keduanya terdiam cukup lama. Sehun yang diajak bicara akhirnya sadar dari lamunannya dan ikut membaca pesan itu karena tidak begitu fokus pada apa yang dikatakan Jongin tadi.
Alih-alih menarik tangan Jongin agar memiringkan ponselnya sedikit kearahnya sehingga ia bisa lebih jelas membaca, Sehun malah semakin maju, menyandarkan dahinya di ceruk leher Jongin.
Keduanya terdiam cukup lama mengamati pesan itu dan berpikir keras mengartikan maksud pesan ibu-ibu yang memang biasanya ibu-ibu itu kalau mengirim pesan pasti kalau tidak lebay, typo, ya tidak nyambung.
"Apa maksudnya?" Jongin berujar pelan namun mendesis kesal karena suaranya yang keluar malah serak. Sial ia terangsang karena ada lelaki berbahu lebar sedang berlutut dibawah sana dan bersandar padanya.
Apa maksudnya pengaman adalah ibunya sudah berencana dengan Sehun untuk memukuli Jongin tanpa pengaman apapun sampai babak belur kesakitan tidak bisa bergerak esok paginya? Lalu cucu? Apakah jika Sehun berhasil membuat Jongin lemas bertarung semalaman maka Sehun akan memberi ibunya sebuah bayi yang dijadikan cucu? Kenapa ibunya sadis sekali pada anak tunggalnya yang sexy ini? kurang apa coba? Jongin menangis dalam hati. Tidak tahu kalau pertarungan di otaknya dan pertarungan yang dimaksud ibunya berbeda jauh. Yuri yakin jika Jongin akan ketagihan 'bertarung' dengan Sehun.
Sehun mengedipkan kedua matanya beberapa kali lalu meraih ponsel itu cepat tanpa sempat Jongin cegah. Ponsel adalah salah satu benda kesayangan bewr itu. Hanya dia yang boleh sentuh. Namja tan itu memandangi ponselnya yang disentuh-sentuh layarnya oleh Sehun dengan pandangan horor seolah jemari itu sedang menggerayangi tubuhnya.
"Biar aku yang balas" Sehun menekan 'send' dan balasan itu terkirim. Setelahnya namja pucat itu menegakkan tubuhnya kembali berjongkok diantara kedua kaki Jongin yang menggantung lemas duduk di sofanya. Jongin merebut ponselnya paksa dan melihat pesan balasan Sehun.
'Akan saya lakukan malam ini juga. Tante, bolehkah saya pinjam Jongin selama liburan musim panas? -Sehun' begitulah tulisannya.
Jongin melotot dan menunjuk-nunjuk layarnya dengan bibir meringis kejam meminta penjelasan pada namja pucat uang jongkok didepannya selesai melepas sabuk di celana Jongin.
"Kita akan menghabiskan liburan dengan berkemah ke gunung. Semalam itu chatku. Kau tidak menjawabnya. Diam berarti setuju" kedua mata Sehun menatap Jongin datar-datar saja. Sial. Pandangan tak berdosa yang menyebalkan. Jongin mendengus kesal dan meletakkan kembali kepalanya di sandaran sofa. Mengerang kesal disana dengan kedua tangan memukul-mukul ringan sofa mahal itu. Kedua kakinya yang mengapit Sehun itu dihentak-hentakan dilantai. Imut sekali saat kesal.
Ting-
Yuri ternyata termasuk ibu yang cepat dalam membalas pesan. Jemarinya sudah terlatih secepat balasan chat grup gossip ibu-ibu yang sering membuat Jongin pengang mendengar notifikasi yang berbunyi terus menerus dari ponsel ibunya itu karena ibunya tidak mau membisu grup itu. Katanya agar tidak ketinggalan berita. Ibu-ibu itu benar-benar rempong.
"Kau culik anak itupun aku rela, yang penting usaha untuk cucu jangan lupa. Saranghae Sehunna" Jongin membaca pesan itu dengan nada robot. Ia menyinyir kembali mengutuk ibunya pengguna bahasa alien dan sebagainya hanya karena namja tan itu tidak mengerti apa bahasan antara Sehun dan ibunya itu.
Jongin yang sudah terlanjur badmood segera menyerahkan ponselnya pada Sehun agar namja pucat itu saja yang membalas. Jongin mengamati Sehun yang tersenyum samar. Jongin jadi curiga.. apaan itu? Sehun tersenyum karena membaca kalimat 'sarangae' dari ibunya atau karena apa? Jadi ibunya selingkuh begitu? Tapi Jongin segera menampik pemikiran itu karena sejak kecil, sejak sekolah dasar ibunya memang selalu menyayang Sehun dan mengucapkan 'saranghae Sehunna' 'andai kamu jadi anakku' dan sebagainya setiap si pucat itu menginap dirumahnya.
"Kau simpanan ibuku ya?" Jongin menatap menelisik.
"Ya, aku berondong yang disimpan untuk dijadikan menantunya" Sehun menjawab enteng dan mengembalikan ponsel itu pada Jongin yang berdecak kesal tidak mengerti.
"Ibuku sudah cukup tua untuk melahirkan anak wanita, Sehun. Dan jika memang ibuku segera melahirkan bayi perempuan kau terlalu tua untuk menikahi bayi yang baru lahir sekarang" Jongin semakin berapi-api kesal dan mengamati kembali deretan pesan di ponselnya.
Sehun tidak ambil pusing, ia yang telah selesai melepas sabuknya sendiri kini kembali melepaskan milik Jongin. Ia kini meraih kancing celana panjang seragam yang masih melekat di tubuh berlekuk bak yeoja yang sedang duduk pasrah di sofa itu.
'Terimakasih sudah mempercayakan Jongin padaku. Aku akan mencoba sekuat tenaga agar berhasil dan memberi anda cucu segera (emot senyum)' apa-apaan? Jemari Jongin menjambak rambut hitam Sehun yang dibalas pekikan kecil lelaki yang sedang menunduk serius di selangkangan Jongin, menurunkan resletingnya itu. Pemandangannya seperti adegan sex masokis.
Tling-
'Panggil aku eomma, sudah berapa kali kukatakan padamu. Lagipula kita akan segera menjadi keluarga, Sehun.' karena Jongin sudah malas membaca balas membalas antara Yuri dan Sehun yang mulai merambah ke pembahasan yang sama sekali tidak ia tahu, Jongin membalas pesan itu dengan sedikit kesal.
'Eomma waraslah sedikit. Jongin sudah cukup menjadi anak tunggal. Tidak butuh Sehun atau kalau eomma ingin anak perempuan lagi karena Jongin bisa kok jadi cantik! Jangan meremehkan Jongin! - Jongin' tanpa berpikir ulang langsung mengirimkannya dan tak kalah cepat balasan sudah datang.
Tling-
'Bagus kalau begitu. Kalau begitu aku minta cucu laki-laki saja. Sana pakai rok di apatermen Sehun, cium dia seperti perempuan terangsang dan kirimkan pada eomma. Eomma tunggu' jawaban yang sangat diluar ekspektasi si beruang manis, ia kira ibunya akan minta maaf.
Karena sudah lelah akhirnya Jongin memilih meletakkan ponselnya di dalam tasnya diatas meja disampingnya. Ia merasakan jemari Sehun mulai menurunkan celananya sudah sampai lututnya. Kasar telapak tangan Sehun bergesekan dengan kulit tan pahanya. Jongin mendesis pelan merasakan sensasi itu.
"Angkat kakimu" Sehun memerintah dan Jongin menekukkannya sehingga celananya berhasil lolos. Jatuh bersama tumpukan baju mereka di lantai. Jongin terlihat seperti mengangkang didepan Sehun sebelum akhirnya kembali meluruskan kakinya ke lantai.
Celana pendek longgar diatas lutut berwarna merah muda bergaris-garis putihlah yang menutupi pinggulnya kini.
"Jongin" suara Sehun terdengar sedikit merengek berhasil mengalihkan perhatian Jongin yang semula menatap langit-langit apatermen mewah itu.
"Hm?"
Belum sempat Jongin bereaksi lebih, Sehun sudah membenamkan wajahnya di perut namja tan yang duduk di sofa itu. Terlihat manja sekali. Jongin terkekeh sejenak dan mengusap-usap rambut hitam Sehun yang berkilau. Dibalas dengan erangan seperti kucing yang menggeram senang dielus tuannya. Catman.
"Kau jadi manja sekali, lelah ya tadi bolos pelajaran jam keempat malah bermain basket dengan Chanyeol lalu langsung aku pukuli di atap sekolah?" jemari Jongin masih mrngusap rambut hitam itu. Sehun hanya mengangguk pelan dan mengangkat kaus hitam Jongin. Mengusak pipinya kedalam sana, membenamkan kepalanya kedalam kaus yang beraroma tubuh Jongin itu.
"Hei apa yang kau lakukan!" Jongin hendak menarik keatas kausnya yang menutupi kepala lelaki tampan itu namun kalah cepat karena Sehun menarik kausnya kebelakang punggung segingga menempel erat.
"Jangan mesum!" perut Jongin merasakan beberapa kecupan di pusarnya dan semakin turun kebawah perutnya hingga ke kolor celana. Ditepuknya beberapa kali punggung lebar Sehun yang terlihat lebih kekar dari seminggu yang lalu.
Sehun tidak menggubris malah menggigit kolor itu hingga longgar, menjulurkan lidahnya menelisik kedalam, lebih kebawah.
"A-ah! Sehun!" Jongin ingin sekali bangun dan menendang lelaki putih yang umbar punggung kekar di selangkangannya itu namun kalah kuat dan berakhir mencakar punggung itu hingga memberi beberapa garis samar merah.
"sshh.. jangan dicakar Jong.." Sehun mendesis didalam sana sembari meremas dua bongkah bulat butt Jongin. Tindakannya malah membuat pinggang Jongin melenting indah bersamaan dengan desahan beratnya.
Dapat ia rasakan buttnya yang diremas-remas oleh kedua telapak tangan besar Sehun. Sedang lidah itu mulai membasahi perut bawahnya dan suara nafas berat Sehun seperti banteng yang mendengus kasar.
"Jangan, jorok! Ah!" semakin Jongin mencakar maka semakin turun jilatan Sehun hingga indra pengecap itu menyentuh bulu pubisnya. Sengatan nikmat seketika datang pada tubuh Jongin. Sehun dapat merasakan pinggul Jongin yang berkontraksi dan kedua kaki yang menjepit punggungnya itu merapat mendesaknya untuk semakin mendekat.
Jika memang reaksi tubuh Jongin bisa sehebat itu hanya dengan sentuhan ringannya, maka Sehun semakin menginginkannya.
Bibir tipis Sehun mengecup dari pusar Jongin turun hingga kebawah sembari dengan perlahan menurunkan celana pendek itu. Dengan cepat Jongin menahan kedua pergelangan tangan Sehun agar tidak menarik lepas celana terakhirnya.
"Jangan menghalangi" Sehun berbisik serak disana. Nafas hangatnya membuat tubuh Jongin meremang dan jemarinya bergetar. Sehun selalu berhasil membuatnya lemas.
"Tidak Hun, ini sudah berlebihan." Jongin menarik lepas kaus hitamnya sehingga keduanya kini shirtless. Terlihat dada Jongin yang naik turun bernafas cepat terengah-engah. Lalu pipinya bersemu melihat Sehun yang menguburkan wajahnya di bawah perutnya. Terlalu vulgar. Bahu bidang Sehun yang dua kali pinggangnya itu terlihat sangat tangguh, Jongin ingin jatuh pada punggung lebarnya.
Sehun hanya diam saja dengan sesekali mengecupi bulu pubis Jongin lalu menjilat disana. Menghirup aroma kelelakian namja tan itu. Kedua tangannya berhenti di pertengahan pinggul Jongin, sedikit menurunkan celana merah muda itu.
"Ayo mandi bersama lagi seperti saat kecil dulu" Sehun berujar pelan. Sesekali menggesek hidung mancungnya disana lalu mendapat desahan nikmat Jongin.
"Tidak. Kau duluan yang mandi, aku mau-ack!" Jongin berjengit ketika Sehun berhasil membuat kissmark di pinggul dalamnya. Ia merasakan beberapa kali jilatan yang basah saliva disana sedikit menetralkan sakitnya. Namja pucat itu mengangkat kepalanya dan Jongin melihat tanda baru itu merah sekali. Pasti sebentar lagi akan berganti lebam.
Kedua mata bulat Jongin menatap Sehun menghakimi.
"Aku hanya memberu tanda kepemilikan. Tidak mungkin kan aku menandai penismu?" Sehun bertanya datar namun Jongin berfikir mengerikan. Hell no! Penis pendarahan adalah opsi mengerikan! Terjepit resleting saja rasanya seperti dijagal.
Jongin berdiri didepan Sehun yang masih duduk berlutut dan memegangi celana melorot di pinggul bak biolanya.
"Sampai kau melakukan itu maka aku akan menarikmu ke rumah sakit untuk disunat kedua kalinya!" Jongin menoyor dahi Sehun yang menatapnya datar.
"Kalau itu terjadipun penisku tetap lebih besar dari milikmu" dengan kurangajarnya Sehun langsung menghentak turun celana satu-satunya yang melekat di tubuh Jongin.
"Sehun!" Jongin tidak sempat menahan gerakan tangan namja putih itu. Ia lengah.
Penis setengah tegangnya langsung dilahap Sehun bulat-bulat.
"Aangghhhh.. jangan.. eungh.." tubuh Jongin langsung lemas. Namun Sehun langsung mendekap erat pinggul itu, menjaganya tetap berdiri tegak. Meremas but bulat itu penuh nafsu.
"Ohhss.. berhenti.. ahhss.." kedua kaki Jongin sudah gemetaran dan bertambah parah ketika Sehun mulai menaik turunkan kepalanya. Mengulum dan menyedot penis Jongin yang dengan cepat bangun dalam rongga nulutnya yang hangat. Dirematnya rambut hitam Sehun dengan sensual. Kepalanya mendongak dengan mata terpejam dan bibir merahnya yang terbuka mendesah. Sehun mengamati itu dari bawah. Jongin sangat sexy.
"Hunh.." Jongin hampir dekat, setang tubuhnya kini dipeluk erat oleh sebelah lengan Sehun yang cukup mudah menahan beban tubuhnya. Sebelah tangan Sehun mulai menggerayang paha Jongin dan memainkan twinsballnya. Terlihat sangat menyukai itu seperti bayi yang terobsesi pada dotnya. Sehun menghisap dan mengulum rakus penis Jongin yang tidak seberapa dibandingkan ukuran miliknya sendiri.
Penisnya sendiri merasa sakit dan sesak dibawah sana, jadi ia mengarahkan sebelah kaki Jongin untuk sedikit menginjak memanjakan selangkangannya yang masih tertutup celana. Jongin berjengit kaget merasakan penis Sehun yang besar meronta didalam sana.
"Hahangh" Sehun mencoba berbicara ditengah kulumannya. Dan Jongin yang mengerti kalau Sehun berkata 'tahan' hanya bisa mengangguk dengan suaranya yang berubah merintih.
Sehun yang merasakan penis Jongin sudah berkedut itu segera mengakhiri gerakan kulumannya, melahap penis kecil itu hingga hidungnya menyentuh bulu pubis itu, lalu mencekungkan pipinya serta lidah panasnya yang membelit erat.
"Aaahh.. Sehunn!" Jongin mengerang kencang lalu mengejang dalam pelukan Sehun. Dengan cepat Sehun menelan sperma Jongin tanpa tersisa, menyesap ujungnya sampai Jongin yang sudah lemas tersampir di pundaknya itu memukuli punggung lebarnya.
"Jahat.. sudah.. sudah.." susra Jongin sangat lirih. Tubuhnya masih bergetar kecil-kecil dan kedua kakinya yang lemas. Ia benar-benar menyandar pada Sehun. Ia meraih kaus hitamnya yang terjatuh di lantai susah payah, lalu memakainya kembali.
Keringat menghiasi tubuh tannya, begitu pula Sehun.
Beberapa kali Sehun menjilat dan memutar penis lemas basah salivanya itu. Mengecup di beberapa sisi sebelum akhirnya dengan terpaksa menyudahinya karena Jongin yang menjewer telinga kanannya. Dan merintih lelah.
"Sudah.. sudah.." Jongin merengek lelah.
"Iya, sudah kok." Sehun mengusap butt bulat Jongin dan menpuknya beberapa kali lalu menggendong tubuh lemas Jongin di pundaknya seperti karung.
Jongin hanya bisa pasrah saja dengan kepala terbalik, menatap lantai dan kedua kaki jenjang Sehun yang membawanya entah kemana. Kedua tangan Jongin menggantung lemas sesekali mencubit pinggang Sehun ketika tangan kasar itu dengan pervertnya menampari buttnya hingga terasa panas.
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
"Akh! Berhenti Sehun!" Tepukan itu membuat penisnya merasa akan tegang kembali.
"Good. Pantatmu memerah Jongin" Sehun berujar sembari menciumi merah butt Jongin. Sedang namja yang sedang terbalik itu melirik, mereka berhenti di dalam kamar mandi ternyata. Dengan cermin di depan Sehun. Sial Sehun sedang memandangi intens butt dan tangan kekar itu meremasi kedua pahanya dan mengusap kasar betisnya. Berulang kali seolah sedang menggosok guci aladin.
"Ungh.. Se.. ahh.. kasar.." Jongin merasakan pusing karena kepalanya terbalik cukup lama ditambah sentuhan kasar telapak tangan Sehun yang menggerayanginya. Entah mengapa tubuhnya merespon itu dengan sensasi nikmat dan desahan setiap kali Sehun mengusapnya.
Jemari Sehun memegangi kedua bongkah buttnya, lalu perlahan menyibaknya. Sementara kedua mata tajamnya terpejam sembari membuat kissmark baru pada butt Jongin.
"Ah! Tidak Jang- Sehun!" Butt Jongin melenting ketika jari tengah itu mengusap hole merah berkerutnya.
"Ssh.. tenang" Sehun menepuk beberapa kali butt Jongin namun tidak menenangkan Jongin sama sekali karena malah membuat buttnya semakin menjepit jari tengah itu. Rasanya sangat gatal hingga tanpa sadar pinggulnya bergerak pelan sehingga holenya menggesek jari tengah Sehun.
"Jong?" Sehun terkesima melihat bagaimana butt Jongin yang berusaha bergerak itu. Sangat gatalkah?
Jongin menginjak meja wastafel lalu beranjak dari bahu Sehun. Ia berbalik memunggungi Sehun. Menghadap wastafel dengan jongkok mengangkang. Baju hitamnya jatuh menutupi selangkangan dan buttnya.
Melihat itu, Sehun secara tidak langsung merasa diundang untuk mendekat. Ia segera mendekap tubuh Jongin dari belakang. Memeluknya erat dengan kedua tangsn kokohnya. Keduanya mendesah hanya karena saling bersentuhan saja.
"Jongin.. aku ingin memasukimu.." Sehun berbisik serak sembari menelusupkan tangannya kedalam kaus hitam Jongin. Membelai perut disana dan naik perlahan.
"Engh.. tidak. Aku namja.. sadarlah.." Jongin membelai pipi Sehun ketika lelaki itu mulai menggerayangi dadanya dan memijatnya perlahan.
Jemari itu kemudian menangkup dada Jongin. lalu semakin memucuk dan berakhir meremas nipplenya.
"Aaah! Sehunh.. ahss, Sehun Sehunh.." Jongin hanya bisa terus memanggil nama namja itu ketika jemari itu memilin, mencubit, menarik, dan menggesek nipplenya dengan gerakan cepat dan kasar hingga memerah dan bengkak.
Rangsangan itu tidak hanya datang dari depan ketika Jongin merasakan buttnya yang sebagian tertutup kaos hitamnya itu merasakan gundukan di selangkangan Sehun.
"Besar sekalihh.." Jongin memerah merasakan betapa besar penis Sehun yang masih tersimpan didalam celana hitam seragam itu.
Jongin kemudian meraba kulit pundak Sehun, turun kebawah menelusuri lengan kokoh itu,lalu sampai pinggang, ke abs yang kencang itu dan berhenti di kancing celana Sehun.
"Buka, sayang.." Sehun berkata dengan desahannya lalu menggigit pelan cuping Jongin.
Jongin kesulitan membuka celana Sehun karena selain posisinya yang memunggungi Sehun sehingga ia hanya bisa menggunakan insting perabaan tangannya, tubuhnya juga habis-habisan disentuh oleh tangan kasar Sehun. Beberapa kali ia harus menahan desahan dan tubuhnya tersentak menerima rangsangan yang terlalu nikmat.
riiiiitsss... Bruskk..
Celana panjang Sehun berhasil tanggal dan langsung jatuh kebawah. Menyisakan dalaman boxer hitam yang sama sekali tidak bisa menutupi besarnya sang 'monster' di selangkangannya.
Tubuh Jongin bergetar merasakan sensasi penis itu semakin mrndesak diantara celah buttnya.
"Turunkan sedikit agar dia bebas" Sehun kembali memberi arahan pada Jongin yang merasa panas dingin saat ini. Entah ia kerasukan apa, tapi ia mengikuti permainan dan perintah Sehun. Kedua tangsnnya meraba dan menemukan kolor boxer Sehun. Menariknya kebawah perlahan dengan ragu-ragu.
"Jangan ragu, dia hebat dan memuaskan" bisikan Sehun dan pemikirannya yang mulai gila membuat Jongin memejamkan kedua matanya dan mendesah lirih sembari menyentak turun boxer itu. Sehun meneruskannya hingga sampai lutut.
Lalu kembali menempelkan tubuhnya ke punggung Jongin dan keduanya mendesis nikmat. Penisnya yang besar tegang itu menempel pada belahan butt Jongin.
"Aah.. besar.. besar sekali.." Jongin memejamkan kedua matanya merasakan ukuran itu. Bahkan urat penis itu terasa sekali. Buttnya secara refleks mundur menekan dan penis besar Sehun menyambut dengan menyentak kuat kedepan.
"Aahh!" keduanya memekik nikmat bersamaan.
–TBC–
Yang minta full hunkai siapa? Hayo ngaku!
jadi gak ada hubungannya sama ch sebelumnya kan? Pasti pertama kali baca ch ini malah kayak 'BocahLanang lagi mabuk ya? Salah update chapter apa gimana sih ini? Dia salah masukin ff ya? kok tiba-tiba Jongin dah balik sekolah lagi?' hehehehe
Enggak-enggak, ini cuma selingan karena BocahLanang sendiri juga pengen baca ff hunkai lalu 'i know what you feel bro'
Dan pastinya ada yang penasaran mereka tu ngapain aja sih di sekolah/sehabis sekolah di ff ini? Itu yang Jongin mengingat kejadian berkemah dengan Sehun di ch sebelumnya gue pengen baca ceritanya, dan itu terjawab di ch ini dan ch depan.. jeng-jeng-jeng~~
Sehari gak ada ff HunKai NC tu rasanya kayak 'piiiipp di piiiiipp' *sensor hehe
Jadi ini semacam 'ch extra' buat selingan karena ff ini beberapa kedepan hunkainya dikit beut..
Hope you enjoy this chapter! Thankyouuuu
Lanjutannya ada kok tapi tunggu update selanjutnya yaps,
ini 4k+, lumayan panjang kan? jadi di stop disini dulu ya, hehe
see you later
Thanks for reviews:
Kaisyaa, 2 Hkhs9488, rinb, Elidamia98, SeKaiStalker, KimJonginKai, Viukookie, jongiebottom, istrikaisoo, lightdarklord88, dyla28, Yookihyun94, ParkRinhyun-Uchiha, Arcana Dictator
Thanks all! Aku baca semua review kalian, bahkan selalu kenotif di email hp dan itu bikin tambah semangat.
Semangat ya hunkai shipper!
Salam HunKai
note tolong dibaca dan dibalas: gue ada ff parade agustus, semacam kompilasi ff hunkai rate M gitu.. mending di publish atau disimpen dulu ya? mohon sarannya, thankss all
