Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K Rowling

Warning: AU, Slash, OOC, Creature!fic, Twin!Draco, Ron!Bashing, etc

Pairing: DMHP, AMHG, BZNL, etc

Rating: T

Genre: Adventure, Romance, Drama, etc


AN: Hai semuanya, maaf ya aku baru bisa update sekarang ini. Semoga chapter yang ini tidak mengecewakan kalian semua. Nah, selamat membaca!


CHASING LIBERTY

By

Sky


Hogwarts, Britania Raya

Untuk sesaat mereka semua tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari sosok seorang Alexander Lucius Malfoy yang saat itu tengah memperlihatkan lengan kirinya kepada mereka semua di aula besar. Senyum puas yang muncul di wajah Ron dan beberapa Gryffindor lainnya secara perlahan-lahan langsung memudar, untuk sesaat mereka tercengang sebelum perasaan marah menghampiri mereka. Kali ini berbeda dengan apa yang dirasakan Hermione, yang juga seorang Gryffindor seperti temannya. Dia merasa sangat lega, wajahnya yang mencerminkan rasa kekhawatiran pada awalnya, kini sedikit demi sedikit berubah menjadi lega, seolah bebannya yang berat terasa terangkat dari pundak kecilnya. Mata kecoklatan milik gadis itu bertemu dengan sepasang mata biru milik Alex, Hermione tidak bisa membantu untuk memberikan seulas senyum manis kepada pemuda tersebut.

Sementara itu, Alex sendiri memandang Weasley dan beberapa Gryffindor dengan perasaan penuh kemenangan, lengangnya yang mereka pikir mempunyai tanda seperti yang Voldemort miliki sama sekali tidak terbukti. Yang ada di sana hanya kulit putih yang bersih, sama sekali tidak ternoda dengan tatto yang menandakan kalau dia adalah seorang pelahap maut. Teori dari Weasley sama sekali tidak meyakinkan.

"Sekarang bagaimana, Weasley?" tanya Alex dengan nadanya yang masih penuh kemenangan, ia menurunkan lengan bajunya ke tempat semula. "Apa kau sudah puas dengan hasilnya? Ini membuktikan kalau kau dan para pengikutmu itu adalah orang bodoh yang mengada-ada."

Mata biru milik Ron berkilat-kilat, "Diam kau, Malfoy. Aku tahu kalau kau memiliki tatto pelahap maut itu, cepat tunjukkan padaku!" teriaknya dengan suara lantang.

"Weasley, kau tadi sudah melihatnya sendiri kalau aku bukanlah seorang pelahap maut karena aku tidak memiliki tatto yang kau sebut-sebut itu, Weasel. Apa kau masih belum puas mempermalukan dirimu sendiri." Kata Alex dengan nada mencemooh. "Atau mungkin matamu yang mulai rabut seperti orang tua."

Hampir semua murid Slytherin yang berada di pihak Alex tertawa terang-terangan, Daphne dan Pansy memberikan seringai kemenangan kepada para Gryffindor bodoh yang ada di hadapan mereka semua. Bahkan beberapa murid dari Ravenclaw ataupun dari Hufflepuff juga menemukan kalau kebodohan para Gryffindor yang dipimpin oleh Ron adalah sekelompok orang-orang bodoh yang berpikiran begitu dangkal. Wajah Weasley terlihat begitu merah sebelum berubah menjadi keunguan, tanda kalau dia benar-benar tengah murka.

"MALFOY, AKU TAHU KALAU KAU MENYEMBUNYIKANNYA. DAN AKU YAKIN KALAU KAU JUGALAH YANG MENYEMBUNYIKAN HARRY!" teriakan dari seorang Ron Wealey terdengar begitu membahana.

Hermione yang tidak tahan akan hal itu lagi segera mengambil tindakan, gadis itu berjalan menghampiri Ron dan mengucapkan Silencio sebelum menariknya mundur.

"Ronald Weasley, sudah cukup kau mempermalukan kami di depan semua murid-murid!" ujar Hermione, terdengar begitu berbahaya dan sangat dingin.

"Tapi, 'Mione..." kata-kata Ron terputus saat pintu besar yang menjadi pintu masuk ke aula besar terbuka.

Pandangan dari semua murid tertuju pada dua sosok yang berdiri di sana. Salah satu dari kedua sosok tadi adalah orang sama yang saat ini tengah 'hilang' dan menjadi sumber pokok pertengkaran di antara mereka, Harry Potter berdiri di samping murid baru yang berasal dari Durmstrang, Christopher Hammond, yang terlihat begitu bosan seperti biasanya. Harry menatap Ron dengan tatapan tajam, mereka yang ada di sana bisa melihat kilatan-kilatan petir yang muncul di balik sepasang mata emerald tersebut. Tatapan itu mencoba untuk menyayat-nyayat sosok dari mantan sahabat baiknya, Harry berjalan menghampiri mereka semua.

"Harry... syukurlah kau selamat." Ujar suara kecil dari seorang Ginny Weasley, ia berlari dan menghampiri Harry.

Gadis itu berniat ingin memeluk Harry dengan sangat erat. Namun sebelum hal itu terjadi, Harry segera menghindar dari pelukan Ginny. Ia tidak mempedulikan ekspresi marah dan kecewa yang Ginny perlihatkan padanya, Harry terus berjalan menghampiri Ron, menciptakan penghalang di antara Alex dan Ron.

"Jadi sekarang kau khawatir padaku sehingga mau mencariku? Atau ini hanya sebuah trik saja agar kau bisa mencari alasan untuk menghancurkan Malfoy dan para Slytherin di depan yang lainnya?" tanya Harry dengan nada dingin.

"Harry, Hermione dan yang lainnya begitu khawatir padamu. Aku lega Kau-Tahu-Siapa tidak menangkapmu saat ini. Atau kemungkinan terburuk adalah membunuhmu." Ujar Ron, mencoba mengelak.

"Voldemort, Ron. Kau bahkan tidak bisa mengucapkan namanya secara jelas. Dan kau pikir dirimu seorang Gryffindor?" ujar Harry, suaranya begitu lantang. "Kau berpikir begitu karena kau takut aku akan mati sehingga tidak ada pahlawan yang akan menyelamatkanmu lagi, 'kan!"

Daphne yang melihat hal itu berbisik kepada Pansy dengan suara lirih, "Wow, Potter punya nyali."

Pansy hanya membalas bisikan itu dengan seringai tipis di wajah cantiknya.

"Tu... tunggu, Harry." Ron tidak bisa membalas perkataan Harry, ia mencoba untuk mencari objek baru dan menemukan seorang Slytherin yang tidak lain adalah Chris a.k.a Draco tengah mengawasi mereka dari arah pintu masuk.

"Dan ini pasti adalah ulahmu telah mempengaruhi Harry untuk memalingkan dia dari Gryffindor!" tuduh Ron dengan suara membahana kepada Draco.

Draco atau Christopher mengedipkan kelopak matanya sekali saat semua perhatian tertuju ke arahnya, tidak terkecuali tatapan garang yang diberikan Weasley padanya.

"Jangan menuduh Dra...Chris seperti itu, Ron!" pekik Harry, ia sedikit panik karena hampir saja nama 'Draco' keluar dari lidahnya. Harry tidak menyangka kalau dirinya sebodoh ini.

"Jadi sekarang dia menjadi 'Chris', Harry? Apa kau mengencaninya atau kau memang ada hubungan dengan Slytherin busuk itu?" ujar Seamus Finnigan yang sama murkanya dengan Ron.

Harry memberinya glare kepada remaja dari Irlandia tersebut, sejak Harry kembali ke Hogwarts tahun ini, Seamus selalu mencari kesempatan untuk menidurinya, tapi Harry yang sigap selalu bisa berkelit dari taringnya yang tajam itu. Hal ini sama sekali tidak membantu karena baik Seamus maupun Dean sama-sama mempunyai hasrat yang begitu besar kepada Harry, mereka akan menggunakan segala kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan saat ini Harry merasa lega karena ia telah menemukan mate-nya dalam diri Draco, ia yakin kekasihnya itu mampu untuk melindunginya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau itu memang benar!" kata Harry dengan nada marah. "Chris dan aku memang ada hubungan!"

Harry bisa mendengar nada kecewa dari beberapa murid perempuan, mereka tidak pernah mengetahui kalau Harry itu gay, namun ada beberapa juga yang merasa setuju karena baik Harry maupun Chris itu sama-sama keren. Dan tidak sedikit juga murid laki-laki yang telah mengincar Harry sejak dulu juga merasa kecewa.

"Tapi, Harry... dia Slytherin." Tunjuk Ron kepada Chris yang mulai beranjak dari posisi awalnya untuk berjalan menghampiri grupnya.

"Lalu apa masalahnya kalau dia Slytherin, Ron. Chris itu juga manusia, sama seperti dirimu dan yang lainnya. Jangan katakan lagi kalau ini gara-gara persaingan di antara Gryffindor-Slytherin, Ron, semuanya itu Cuma omong kosong!" Harry beradu mulut dengan Ron.

"Harry... kau harus membuka matamu, dia itu orang brengsek yang licik. Buka matamu lebar-lebar! Apa jangan-jangan si brengsek itu telah memberimu ramuan cinta?" kata Ron, mencoba untuk meyakinkan Harry.

Daphne yang berdiri di samping Draco mencoba untuk menahan dirinya agar tidak menyerang pemuda berandal itu menggunakan kutukan maut, berani-beraninya dia mengatakan Draco 'Brengsek'. Apa Weasley tidak mengaca pada dirinya sendiri? Dia jauh lebih Brengsek dari Draco. Tindakannya di masa lalu yang menyerang Harry adalah hal yang tidak bisa dimaafkan oleh siapapun dan sekarang berani-beraninya dia memanggil Draco dengan sebutan Brengsek?

Sebuah lengan kuat mencengkeram pinggangnya, Daphne menoleh ke samping dan menemukan Alex menahan tubuhnya agar ia tidak maju ke depan dan memberi Weasley pelajaran yang tidak akan dia lupakan.

Tindakan dari Daphne tadi cukup untuk membuat Draco terkesan luar biasa, apa yang dilakukan oleh Daphne tersebut mirip seperti seorang ibu yang mencoba untuk melindungi anak-anaknya dari seorang pemangsa seperti Weasley.

"Lalu, dari mana kau mengetahui kalau aku itu 'Brengsek' dan 'tidak bertanggung jawab' seperti yang kau katakan, Weasley?" tanya Draco dengan nada bosan, seolah-olah menanggapi Weasley adalah hal yang paling membosankan dan tidak berguna di dunia.

"Karena kau adalah Slytherin, mereka itu semuanya adalah orang paling brengsek di dunia."

"Cukup, Mr. Weasley." Ujar sebuah suara dalam yang sudah tidak asing lagi.

Di depan aula besar telah berdiri Severus Snape dengan jubah hitamnya yang melambai-lambai di belakangnya. Mantan profesor di bidang ramuan yang sekarang menjadi pengajar pada pertahanan terhadap ilmu hitam tersebut memberikan glare kepada para Gryffindor, terutama kepada Ron yang sedari tadi menghina murid Slytherin. Ron yang menatap Snape terlihat tidak berkutik, ia memang tidak menyukai Slytherin dan juga Snape, tapi dia cukup pintar untuk tidak melawan seorang profesor, apalagi bila nama dari profesor itu adalah Severus Snape yang Ron ketahui adalah mata-mata dari pihak Order, serta orang yang terkenal sebagai orang berbahaya di Hogwarts.

Snape berjalan menghampiri kerumunan yang ada di tengah aula besar, jubahnya yang melambai-lambai memberikan kesan begitu mendramatisir yang mengikutinya. Laki-laki berambut hitam sebahu tersebut diikuti oleh profesor Mc. Gonnagall yang bermuka masam. Sama seperti Gryffindor lainnya, wanita yang mempunyai bentuk animangus seekor kucing juga tidak menyukai Slytherin, tetapi Mc. Gonnagall masih bisa menekan rasa ketidaksukaannya dan berlaku cukup adil bagi semuanya.

"Aku sudah melihat perdebatan yang tidak ada artinya ini dalam waktu yang cukup lama. Mr. Weasley, kurasa otakmu sama sekali tidak berkembang sejak dulu, kau menilai orang hanya dari asal asrama mereka. Kupotong 100 poin dari Gryffindor karena telah membuat keributan yang tidak ada gunanya seperti ini, dan 50 poin kuberikan pada Slytherin karena telah berani untuk membela anggota asramanya." Ujar Snape dengan seringai lebar di wajahnya.

"Tapi, Professor..." Ron mencoba untuk protes tapi ia dipotong oleh Snape. Apa yang dilakukan Snape tidak adil.

"Dan detensi bersama Mr. Filch selama sebulan untukmu dan Finnigan." Tambah Snape kepada Ron.

Harry melihat Ron dan yang lainnya memberikan tatapan tidak percaya kepada professornya tersebut. Detensi bersama Filch adalah hukuman yang jauh lebih buruk daripada dengan Hagrid. Bukan rahasia umum lagi kalau Filch adalah seorang squib tersadis yang pernah ada. Harry meringis kecil melihat ekspresi dari Ron, semoga saja dengan apa yang Snape berikan itu mampu membuatnya jera, sayangnya Harry tidak berpikir kalau Ron adalah seorang Weasley dan seorang Weasley itu tidak akan pernah menyerah dalam keadaan apapun.

Snape membalikkan badannya kepada semua murid-murid yang tengah menonton pertunjukan yang mendebarkan tersebut, ia memberikan glare kepada mereka, termasuk kepada Slytherin. Kelihatannya mood sang professor tersebut sangat buruk, bahkan Mc Gonnagall yang sedari tadi berdiri di belakang Snape tidak mampu memberikan komentar apapun kepadanya. Wanita itu memilih untuk diam saja, meskipun Snape jauh lebih muda darinya tetapi reputasi Snape sebagai mata-mata dari pihak Order serta kemampuannya yang hebat membuat Mc Gonnagall bungkam.

"Anggap kebodohan yang dilakukan oleh Weasley dan teman-temannya itu adalah kesalahan mereka." Gumam Snape, ia menatap ke arah Alex. "Berikan instruksi kepada yang lainnya untuk kembali ke asrama masing-masing, aku tidak ingin melihat seorang murid pun yang berkeliaran di dalam kastil setelah makan malam selain para prefect atau ketua murid yang bertugas atau aku akan memberikan detensi yang tidak akan terlupakan."

Nadanya yang dingin dan cara pengucapannya yang pelan tersebut mampu membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya berdiri, cara Snape memang sadis seperti seorang pembunuh, tetapi cara itu memang jauh lebih efektif daripada berteriak. Alex menganggukkan kepalanya, menandakan kalau ia setuju dengan Snape tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Mereka semua yang berada di aula besar melihat Snape berjalan meninggalkan tempat itu diikuti dengan lambaian jubah hitamnya yang terlihat begitu mendramatisir. Sementara itu Mc Gonnagall yang menatap Ron, memberikan tatapan penuh kekecewaan.

"Aku tidak percaya dengan apa yang kau lakukan, Weasley. Aku berharap banyak padamu tetapi kau malah bertindak di luar rasionalitas, menuduh salah seorang murid terlebih lagi seorang ketua murid menjadi pelahap maut adalah hal yang tidak bisa diterima.

"Aku harap detensi yang diberikan oleh profesor Snape bisa membuatmu untuk berfikir dua kali sebelum mengambil tindakan yang gegabah." Ujar Mc Gonnagall, ia berjalan meninggalkan Ron untuk menghampiri Harry.

"Aku senang kau baik-baik saja, Mr. Potter." Katanya sebelum meninggalkan aula besar juga.

Harry memberikan senyuman kecil karena hal itu, ia senang karena kesalahpahaman yang ada di antara mereka sudah bisa terselesaikan. Senyuman itu tidak bertahan lama saat Harry mengetahui kalau Ron masih menatapnya dengan penuh dendam seperti biasanya, mata biru yang biasanya melihat Harry dengan keluguan itu kini berubah menjadi penuh emosi, Harry tidak mengerti dengan apa yang merubah Ron menjadi seperti ini. Apakah sejak dulu Ron telah seperti ini? Harry tahu kalau Ron dan beberapa anggota dari keluarga Weasley telah memanfaatkannya, tetapi apa pantas mereka memanfaatkan seseorang yang tidak tahu apa-apa mengenai sihir seperti Harry? Rasanya Harry tidak ingin percaya dengan kenyataan yang ada, tetapi seberapa lamapun ia berada dalam penyangkalan tetap saja tidak akan merubah kenyataan yang ada.

"Mungkin kali ini kau menang, Potter. Tapi lihat saja, aku akan membuatmu membayar semua yang pernah kau lakukan pada kami. Dasar pengkhianat!" hardik Ron, nadanya penuh kemarahan dan dendam yang ditujukan kepada Harry.

Setelah puas mengatakan itu, Ron bersama para Gryffindor lainnya meninggalkan aula besar.

Harry menundukkan wajahnya, sementara kedua tangannya memeluk tubuhnya sebagai comfort untuk dirinya sendiri. Remaja manis tersebut masih menundukkan kepalanya meskipun Draco memeluk tubuhnya dengan erat, ia sedikit lega dengan apa yang dilakukan oleh Draco padanya, membuatnya merasa terlindungi meskipun Harry tahu kalau semua mata saat ini tengah tertuju kepada mereka berdua.

"Aku tidak percaya dengan semua ini, aku pikir pada awalnya Ron adalah temanku." Kata Harry dengan suara kecil, suaranya sedikit mengecil karena ia membenamkan wajahnya pada dada Draco.

"I'm sorry, Harry." Gumam Draco di telinga Harry.

Harry menggeleng pelan tanpa mengangkat wajahnya, ia menggenggam kemeja yang dikenakan oleh Draco dengan erat di bagian depan.

"Apakah semuanya baik-baik saja, Chris?" tanya Hermione, ia cukup pintar untuk memanggil Draco dengan nama samarannya.

"Aku harap begitu." Jawab Draco kalem. Pemuda itu membelai rambut Harry dengan lembut, dan mencium puncak kepalanya. Dalam hati ia akan membuat Weasley untuk membayar apa yang telah ia lakukan pada Harry.

Harry adalah mate-nya, dan tidak ada seorangpun yang boleh menyakitinya terutama orang-orang yang tidak berguna seperti Weasley. Kalau Harry tidak akan bertindak, maka Draco-lah yang akan melakukannya terlebih dahulu. Ia akan membuat Weasley menyesal sampai ia memohon-mohon untuk diampuni oleh Harry. Tidak ada yang boleh main-main dengan orang terpenting bagi Draco. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya itu, Draco merasakan sebuah emosi aneh yang dinamakan kemarahan dan ambisi ingin membalas dendam.


AN: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca, apabila ada salah atau kurang sesuai, aku minta maaf. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat aku nantikan, dan terima kasih lagi n_n

Author: Sky