·
·
Naruto © Mashashi Kishimoto
·
Break the Ice
·
Genre : Romance, Hurt/Comfort
·
Disclaimer : This story is original comes from my mind
·
Rated : T
·
Sakura
·
Summary : "Jangan dekat-dekat dia nanti kau membeku" / "Sakura Haruno sudah mati" / "Brengsek!" / Sasuke, murid pindahan dari Oto tertarik pada gadis yang disebut Manusia Es yang sebangku dengannya. Sayangnya, gadis itu sudah kehilangan hatinya sejak lama
·
·
The Ball
School trip-Day 5
Thursday, November 7, 2013
Hall, Haruno's Private Villa
Haruno's Heaven
8.30 AM
Suasana Hall tampak ramai. Masih dengan kursi-kursi berbalut kain satin putih, meja-meja berhiaskan hidangan sarapan pagi—dua tumpuk piring berisi beberapa potong sandwich, segelas susu, lemon tea hangat, milk coffee, roti selai dan beberapa buah apel—dan suara-suara percakapan di beberapa titik.
Setelah kejadian dimana Sakura dibawa Sasori—lebih seperti Sakura melemparkan dirinya sendiri untuk diambil Sasori, sih—kemarin, gadis itu sukses membuat suasana Sasori-Sasuke-Gaara menjadi tegang. Sasuke masih sering menggerutu sendiri, apalagi mengingat dua laki-laki merah yang seenaknya menyentuh Sakura (hell, kayak dia tidak saja!) di depannya. Apalagi dua orang itu bisa dengan mudah mengobrol santai dengan Sakura.
Gaara mendengus kesal mengingat kejadian kemarin. Sejak dulu Sasori selalu bisa memenangkan perhatian Sakura. Kakak sepupunya itu ingin sekali punya adik perempuan, dan tepat saat Sakura datang ke Suna lima tahun yang lalu, Sasori langsung menempel pada gadis pink itu dan tiba-tiba mengidap sister complex akut.
Cih, padahal mereka bukan saudara kandung!
Lain Gaara dan Sasuke, lain pula Sasori. Pemuda berambut merah itu menggumam-gumam kesal mengingat kedua laki-laki belum dewasa yang kemarin seenaknya saja menarik-narik tangan Sakura seolah dia boneka. Untung saja Sasori gerak cepat, kalau tidak, gadis itu bisa saja terjebak dalam keadaan berbahaya. Hii~
Dan disinilah ketiga pemuda itu. Duduk sebangku bersama Itachi, Temari, Kankurou, Sai dan Naruto.
Sasori, Gaara dan Sasuke saling melempar pandang dingin satu sama lain. Dalam anime, mungkin akan ada efek petir menyambar-nyambar di antara mata mereka.
"Kau suka sandwich tuna kan, Saku?" tawar Sasori, memberi beberapa potong sandwich ke piring Sakura yang masih kosong.
"Minum ini, hangat" Gaara mendorong gelas berisi lemon tea hangat ke arah Sakura.
"Apel katanya bisa menghilangkan bau mulut. Makan ini" Sasuke memberi Sakura beberapa potong apel.
Sakura mendelik, memandang ketiga laki-laki aneh di depannya yang terus saja mendorong berbagai makanan ke arahnya. Sakura menatap makanan di depannya tak percaya. Potongan sandwich tuna (dari Sasori), dua gelas lemon tea (dari Gaara), segelas susu (dari Gaara), roti selai blueberry (dari Sasuke), tiga buah apel utuh (dari Sasuke) dan segelas milk coffee (dari Sasori). Mereka ini mau membunuhnya secara perlahan, ya?!
Sakura memelototi mereka secara bergantian, membuat ketiga laki-laki itu bergidik ngeri karena merasakan aura gelap di sekeliling tubuh mereka. Sasori berdeham canggung sambil membuang mukanya. Gaara memejamkan matanya sambil membuang nafas pelan sementara Sasuke berdecak sambil melirik tak tentu arah.
"Dasar sinting" caci Sakura. Gadis itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah meja Ino dan Hinata. Kemana saja asal tidak bersama tiga laki-laki kurang kerjaan itu.
Sasuke, Sasori dan Gaara sama-sama terpaku. Roh mereka seolah ditarik keluar dari raganya, menyisakan tatapan kosong sarat keterkejutan di wajah tiga laki-laki tampan tersebut. Itachi memandang Sasori dan Sasuke bergantian sebelum tertawa keras sekali.
"Sinting, katanya!" dengus Itachi di sela-sela tawanya. "Sakura hebat sekali!" puji anak sulung Fugaku dan Mikoto Uchiha itu.
"Gaara pasti shock sekali" kekeh Kankurou pelan, dibalas anggukan setuju oleh Temari.
Ketiga pemuda yang berhasil mendapat kembali kesadaran mereka mulai sadar kalau dijadikan bahan tertawaan oleh kakak dan teman mereka. Ketiga laki-laki itu langsung melayangkan tatapan tidak terima yang tidak ditanggapi sama sekali. Malah, tawa Itachi, Temari dan Kankurou semakin kencang.
"Diam, Aniki!"
"Diam, Itachi!"
"Diam, Temari, Kankurou!"
Ah, rasanya tiga laki-laki itu ingin menenggelamkan diri mereka di dasar laut sekarang juga.
Semua mata menoleh ketika Kurenai Yuuhi menaiki panggung buatan di ujung hall. Wanita yang merupakan istri dari guru mata pelajaran Bisnis dan Menejemen—Asuma Sarutobi—itu tampak anggun dengan pakaiannya yang biasa. Casual dan sexy. Mata merahnya yang tajam menyapu ke seluruh sisi hall. Sakura memuji selera Asuma dalam hal ini.
"Selamat pagi, students!" sapa Kurenai diiringi senyum anggunnya. Sakura sampai melupakan fakta penting kalau Kurenai termasuk guru yang paling ditakuti di angkatannya.
"Malam ini adalah malam terakhir kita menginap di Haruno's Heaven" kata Kurenai diiringi sorakan kecewa di berbagai penjuru. "Besok, kita akan berlayar menuju Rio de Jeneirountuk melakukan bakti sosial. Jadi persiapkan diri kalian untuk The Ball nanti malam!"
Riuh terdengar dimana-mana. Beberapa siswa malah iseng bersiul-siul dan beberapa lagi mulai gencar melirik gadis-gadis. Sakura sendiri bersyukur Tsunade mengingatkannya untuk membawa salah satu gaun formal miliknya. Ia meminum lemon tea yang baru saja diambilnya pelan-pelan sambil memasang kuping.
"Kukira ungu akan cocok untukku" kata suara lembut yang berhasil di tangkap telinga Sakura.
"Hinata, kau sudah punya gaun?" suara melengking itu pasti milik Ino Yamanaka.
"Aku pasti bisa mengajaknya ke pesta bersama!" oh, dia tahu suara ini. Milik Rock Lee. Salah satu fans abadi Sakura.
Pasangan, ya? Sudah lama sekali sejak Sakura memikirkan kata itu. Cih, pasangan apa. Ayahnya saja bisa mengkhianati ibunya hanya karena godaan wanita murahan. Lalu apa yang diharapkannya dari kata pasangan, cinta dan sebagainya? Tidak. Sakura bukan wanita bodoh seperti ibunya yang akan dibutakan cinta tolol semacam itu.
"Heh, Jidat, kau sudah punya gaun, kan?" tanya Ino, mencolek bahu sahabat pink nya.
Sakura mengangguk.
"Woah, kalau seleramu, sih, aku percaya" kata Ino dengan mata berbinar. "Nanti kasih lihat ke aku, ya?" kata Ino memohon.
"Iya" jawab Sakura singkat. Percuma saja menolak permintaan Ino. Gadis itu punya seratus juta cara jitu membuat Sakura Haruno mau menuruti permintaan tidak masuk akalnya.
"Aku bawa beberapa gaun dan tolong kau pilihkan, ya? Kalau soal pesta formal begini, aku percaya pada kemampuanmu" pinta Ino lagi.
"Kau ini banyak maunya, ya?" dengus Sakura.
Ino nyengir, di sampingnya, Hinata hanya geleng-geleng kepala melihat kelakukan sahabat pirangnya. Gadis itu menunduk kemudian, merasa tidak bisa masuk dalam lingkaran persahabatan Ino dan Sakura. Kedua gadis itu sudah bersama sejak kecil, dan dia hanya orang luar. Ino Yamanaka dan Sakura Haruno sudah saling mengenal luar-dalam. Apalagi, kedua orangtua mereka merupakan mitra bisnis yang tidak bisa dipisahkan. Lalu siapa dia? Hinata Hyuuga hanya gadis yang pernah diselamatkan Sakura—menurut persepsi Hinata—dan tiba-tiba masuk dalam lingkaran persahabatan mereka.
Uh, semakin memikirkan soal itu, Hinata semakin ingin menangis.
"Kau bawa gaun kan, Hinata?" Sakura memecah keheningan, menyadari raut wajah yang agak sendu dari sahabat indigo nya. "Tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak perlu, apalagi membuatmu sedih, Hinata".
Hinata tersentak pelan ketika Sakura mengusap puncak kepalanya dengan lembut. Sakura benar, tidak seharusnya dia berpikiran yang tidak-tidak dan meragukan ketulusan sahabatnya. Hinata mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang menggenangi matanya.
"Kalau begitu kau harus minta pendapat Sakura soal gaunmu, Hinata! Dan biarkan aku yang mengatasi make-up. Aku jagonya!" kata Ino sambil tersenyum lebar.
"Aku juga!" seru Tenten yang memang sebangku dengan mereka. Sakura mengangguk. Bergaul dengan putri tunggal perusahaan senjata api—Tenten—itu memang menyenangkan. Tenten adalah tipe gadis yang mengucapkan isi kepalanya secara gamblang dan blak-blakan. Gadis itu tampak tidak peduli pada bagaimana orang akan memandangnya. Tipe yang penting senang. Sedikit banyak, ia merasa Tenten dan dirinya agak mirip, apalagi di bagian blak-blakan tadi.
"Kalian tega membiarkan aku sendirian?" dengus Temari yang ternyata melarikan diri dari meja penuh laki-laki sinting tadi. Ia mengerucutkan bibirnya, tanda agak kesal.
"Tidak kok~" kekeh Ino geli. "Nanti malam ke kamarku saja" kata Ino. Gadis itu menempati kamar nomor 28 di 2nd Building. Sekamar dengan Shion. Mereka berdua tidak pernah punya masalah, juga tidak pernah saling menyukai. Ino jengah juga di kamar itu mengingat ia senang sekali bicara tapi merasa tidak sudi membuka percakapan dengan gadis pirang yang sekamar dengannya.
Cih, tidak sadar kalau sendirinya pirang, heh?
"Terus Shion?" tanya Tenten.
"Dia ke kamar Karin" jawab Ino.
Mendengar nama Karin mau tak mau membuat Sakura kembali mengingat Sasuke. Belakangan ini bayangan laki-laki itu tak mau enyah dari pikirannya, membuat Sakura agak gusar juga. Perkataan laki-laki itu di perpustakaan dua malam lalu membuatnya memutuskan untuk merubah pola pikirnya, hal yang selama ini tidak pernah dilakukannya. Entah kenapa rasanya keberadaan Sasuke secara langsung ataupun tidak membawa banyak pengaruh dalam dirinya. Sakura benci mengakui ini tapi dia harus.
Free time
Room 25
2nd Building, 2nd Floor
Haruno's Private Villa, Haruno's Heaven
3.00 PM
Sasuke memainkan ponselnya dengan wajah tanpa minat. Sudah hampir dua jam ia ada di posisi ini, duduk di sofa hijau kecil di samping ranjang tempat ia tidur. Kamar Sasuke merupakan ruangan luas dengan empat bedroom besar dan suasana yang mirip hotel. Di sisi tiap ranjang terdapat nakas yang terbuat dari kayu kecoklatan. Di atas nakas itu terdapat lampu tidur berukuran sedang yang cukup mahal. Terlihat dari ukiran rumit di kaca lampu dan keramik yang menjadi badan lampunya.
Tidak hanya Sasuke, Gaara juga tidak mengubah posisinya sejak laki-laki itu kembali dari Hall. Ia sibuk membolak-balikkan buku di tangannya dengan wajah tanpa minat. Bagi kedua orang yang juga penghuni kamar itu—Shikamaru dan Kankurou—tentu merupakan hal yang biasa saja saat Sasuke dan Gaara hanyut dalam kebisuan. Tanpa Kankurou dan Shikamaru ketahui, dua laki-laki yang menjadi roommate mereka sedang mengalami keadaan yang biasa disebut...
Over thinking.
Sasuke menggeser layar touch screen di ponselnya, memasang wajah seolah ia sedang sibuk dengan gadget keren miliknya, padahal otaknya berpetualang ke dunia antah barantah. Ia sibuk memikirkan tentang Sakura, makian gadis itu tadi pagi dan berbagai kelakuan bodohnya jika dekat dengan si gadis. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Uchiha Sasuke, ia dikatai—dan yang lebih buruk lagi, oleh gadis yang disukainya. Sial.
Pernah dengar kalau karma itu berlaku, Uchiha? Oh yeah.
"Kankurou, kakakmu itu, si Temari. Dia kosong, kan?" kata Shikamaru. Mengingat keheningan yang mendera ruangan yang mereka isi, suara Shikamaru sukses membuat ketiga kepala di ruangan itu menoleh padanya dengan tatapan bermacam-macam.
Kaget, heran dan puas. Kankurou memandang Shikamaru dengan tatapan kagetnya. Baru kali ini Kankurou mendengar seseorang berani bertanya seputar Aneki nya yang terkenal 'ganas' itu. Gaara sendiri heran, apa yang menjadi daya tarik kakaknya sehingga keturunan satu-satunya dari keluarga Nara itu menaruh perhatian yang tampak khusus pada Temari. Lain dengan dua Sabaku lainnya, Sasuke terlihat menyeringai puas. Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Shikamaru, laki-laki itu akhirnya memperlihatkan ketertarikannya pada seorang gadis.
"Kau ada urusan apa dengan Temari?" dengus Kankurou, memicingkan mata.
Oh, Gaara hampir lupa kalau Kankurou mengidap semacam siscon akut.
"Sudahlah, Kankurou. Lagipula kau tega membiarkan Temari datang sendirian ke The Ball, huh?" kata Gaara mencoba menenangkan kakak-lebih-tua-dua-bulannya itu.
"Dia bisa datang denganku, kok" kata Kankurou, masih menatap Shikamaru dengan tatapan tak suka.
"Kau pikir Temari incest?" timpal Gaara. "Dia kosong, Nara. Silahkan saja kalau kau bisa menjinakkan dia" Gaara menoleh ke arah Shikamaru.
"Merepotkan, tapi akan kucoba" kata Shikamaru sambil menyeringai.
"Lalu kau mau mengajak siapa, Gaara?" tanya Kankurou. Tangan kanannya ia pakai memegang sebuah mug berisi kopi hitam panas sementara tangan lainnya ia gunakan mengetik di laptopnya.
"Sakura" jawab Gaara mantap. Sasuke mendelik, mungkin karena ia mulai kehilangan fokus, iPhone 5S miliknya lolos dari tangannya dan jatuh ke lantai. Beruntung lantai kamar mereka dilapisi karpet coklat tua yang agak tebal.
"Oh, iya. Sakura, kan, pernah mengatakan kalau dia juga mencintaimu" kata Kankurou.
Gaara membelalak, Sasuke apalagi. Rasanya Uchiha muda itu ingin meremukkan apa saja yang ada di hadapannya. Membayangkan Gaara dan Sakura bersama-sama membuatnya seperti terhempas sesuatu dan Sasuke tidak menyukai itu.
"Darimana kau tahu?" tanya Gaara dengan tatapan selidik.
Holly shit! Jadi itu benar?!
"Aku dengar waktu Sakura bicara padamu saat ia mau pindah waktu itu" jawab Kankurou ringan.
Sasuke benci melihat wajah datar-tapi-malu-malu milik Gaara. Apalagi alasan dibalik meronanya wajah laki-laki itu adalah karena Sakura. Ia berdecih sebelum berjalan menuju pintu keluar kamarnya. Berada dekat dengan Gaara hanya akan membuatnya darah tinggi.
"Kenapa dia?" tanya Kankurou keheranan. Pasalnya, tadi Sasuke tampak diam saja, lalu tiba-tiba terlihat kesal.
Shikamaru mengangkat bahu sambil menggumamkan trademark miliknya. Ia menoleh ke arah Gaara yang tampak menyibukkan diri lagi dengan buku di tangannya. "Kau akan punya saingan yang lumayan, Sabaku Gaara" kata Shikamaru pelan.
Gaara mendengar perkataan Shikamaru, tapi dia diam saja. Ya, ia sudah tahu kalau Sasuke Uchiha akan menjadi rivalnya sejak laki-laki itu menatap Sakura di malam pertama mereka di Karibia.
Free time
Room 28, 2nd Building
Haruno's Private Villa, Haruno's Heaven
4.45 PM
Kamar Ino Yamanaka mendadak ramai sejak setengah jam yang lalu. Setelah mandi di kamar masing-masing, Sakura, Hinata, Tenten dan Temari segera mendatangi kamar yang hanya menyisakan Ino sendirian di kamarnya itu. Gadis bersurai blonde itu menyambut mereka dengan senang hati.
Ino menuangkan earl grey tea khas Inggris pada empat cangkir di atas nakas di samping tempat tidurnya kamar tidur bergaya perancis itu memang sangat nyaman, terlihat dari bagaimana Ino merawat kamarnya selama mereka ada di Haruno's Heaven. Sebagai pewaris perusahaan YMNas, Ino tentu punya selera yang bagus dalam berbagai hal, terutama fashion. Semacam bakat turun temurun, mungkin.
Tapi untuk urusan formal dress, dia menyerahkan semuanya pada Sakura.
"Sakura ini harusnya jadi event organizer. Seleranya itu tinggi" kata Ino, terselip bangga dalam kalimatnya.
"Berisik" dengus Sakura.
Temari mengangguk, diamini Tenten dan Hinata. Mereka sebenarnya tidak pernah mengira kalau Sakura punya selera bagus mengingat gadis itu selalu berpakaian casual. Tapi penilaian Ino Yamanaka juga tidak boleh diremehkan.
"Nah, ayo kita mulai!" seru Ino bersemangat.
Setelah membongkar kopernya, Ino mengeluarkan dua buah short dress dan dua buah long dress. Setelahnya, gadis itu menatap Sakura, mencoba meminta penilaian gadis itu.
Short dress pertama berwarna biru tua dengan bahan agak tebal dan bercorak. Panjangnya sampai lutut dengan lengan gaun sampai siku. Sakura menatap dress itu lama sebelum akhirnya menggeleng. "Tidak cocok dengan suasana pesta" kata Sakura.
Short dress kedua adalah dress berwarna peach berbahan chiffon dengan potongan diagonal di bagian bawahnya. Memanjang dari paha kiri sampai mata kaki kanan. Dress tanpa lengan itu memiliki sejenis belt warna gold di pinggangnya. Cocok, sih, dengan tubuh Ino yang sexy, tapi...
"Terlalu non-formal" jawab Sakura.
Perhatian gadis pink itu beralih ke blue chiffon beaded dress yang panjang. Cocok sekali untuk acara-acara formal. "Terlalu tua" kata Sakura.
Ino mulai harap-harap cemas. Harapannya tinggal Portland bridesmaid dress tanpa lengan panjang yang berbuku-buku warna peach. Sakura memandangi dress itu lama sekali, bergantian melirik Ino dan si dress sebelum akhirnya mengangguk.
"Yatta!" seru Ino bahagia. "Sekarang tinggal make over!" katanya. Ino bergegas mengganti pakaiannya sementara Sakura beralih pada Hinata.
"Mana gaunmu?" tanya Sakura. Hinata menunjukkan padanya sebuah gaun warna merah darah bermodel klasik yang panjang dengan satu buah tali di bahu kanan. Ia memandang gaun itu dan Hinata secara bergantian. "Coba buat sanggul kecil tinggi yang agak miring ke kanan, dengan poni depan" kata Sakura pada Ino.
Tenten disuruh memakai sebuah simple long dress dengan karet yang melingkari bagian pinggul dan berwarna merah. Sakura memerintahkan—lebih seperti mengancam, sih—padanya untuk melepas cepol di dua sisi kepalanya hanya untuk malam ini dan menggantinya dengan rambut ikal coklat yang cantik.
Ia memberikan sebuah long dress pink muda yang pucat dengan bagian bahu berbahan transparan pada Temari. Sakura juga meminta Ino melepas ikat rambut Temari dan menggantinya dengan sebuah jepit rambut kupu-kupu besar yang manis di sisi kanan kepalanya.
Ketika teman-temannya sibuk berganti baju dan make up, Sakura berjalan ke arah kamar mandi. Tangannya menggenggam sebuah long dress biru tua cantik berbahan chiffon buatan Tom Ford. Sakura sedikit banyak bangga pada selera tinggi yang turun-temurun diwarisi keluarga Senju. Keluarga pemimpin Konoha itu memang benar-benar bangsawan kelas atas!
Lima menit berlalu, Sakura berjalan keluar kamar mandi dengan blue chiffon long dress yang ternyata backless alias memperlihatkan punggungnya. Rambut pinknya ia biarkan tergerai ke kiri dan diikat asal di bagian ujung memakai sebuah ikat rambut kecil warna hijau tua. Poninya ia biarkan menjuntai di sisi kiri wajahnya, sementara rambut kanannya ia sematkn di belakang telinga.
Penampilan Sakura bahkan sudah memukau sebelum ia tersentuh make up.
"Kau mau kudandani atau dandan sendiri?" tawar Ino.
"Dandani aku" tukas Sakura, langsung mengambil posisi di depan cermin besar di kamar Ino.
Ino paling senang mendandani Sakura. Gadis itu sudah sejak kecil terpahat dengan sempurna, mahakarya Sang Pencipta yang tidak mampu diganggu gugat lagi keindahannya. Dengan teliti, jemari lentik nan halus milik Yamanaka itu menyapu permukaan wajah Sakura. Membubuhkan eye shadow, blush on, lipstick dan tak lupa aksesoris yang ia bawa secara pribadi dari apartemennya di Konoha.
Tak perlu menunggu waktu lama sampai Sakura Haruno selesai di dandani. Ia memandang kalung swarovski berlian biru di lehernya dengan tatapan tak terbaca. Telinganya sudah dihiasi anting-anting panjang berbahan perak yang cantik. Tentu saja jika kedua gadis ini mau, mereka bisa jadi make up crew terbaik yang pernah ada.
Kalau mau. Tolong tebalkan dan garis bawahi itu!
"Ready?" tanya Temari, tersenyum miring.
"Yeah!" jawab ketiga temannya—minus Sakura yang hanya tersenyum tipis.
The Ball
Ballroom, Haruno's Private Villa
Haruno's Heaven
7.00 PM
Siswa-siswi Konoha dan Sunagakure Gakkuen mulai berdatangan tepat jam tujuh malam. Hall—atau sekarang berubah menjadi ballroom—disulap menjadi sebuah tempat pesta kelas atas yang keren. Dominasi warna merah dan emas membuat kesan glamor yang ingin ditampilan event organizer terasa kental. Karpet bulu halus bercorak rumit berwarna senada dengan tema pesta melapisi lantai marmer yang dingin. Meja-meja berlapis taplak warna merah darah tersebar di beberapa titik lengkap dengan hidangan pesta seperti baked potatoes with caviar, creme brulee, foie gras, baked dover sole, lemonade, white and red wine serta beberapa hidangan lain.
Jeritan-jeritan mulai membahana saat Sasuke, Naruto, Shikamaru dan Sai berjalan beriringan memasuki ballroom. Sasuke Uchiha tampil dengan kemeja peach tertutup tuxedo biru tua sewarna rambutnya. Poni panjang yang biasa membingkai sisi kiri wajahnya terselip rapi di belakang telinga. Dasinya yang terpasang rapi memperkuat wibawa yang dibawanya kemana-mana. Kakinya dibalut Giant Flames's shoes berbahan kulit warna coklat kehitaman. Di tangan kanannya, terpasang jam tangan GP warna silver yang mewah. Oh, beberapa siswi sampai nosebleed memandang ketampanan bungsu Uchiha itu.
Naruto Namikaze tampil lebih simple. Sebuah kaus polos warna abu-abu model v neck dilapisi tuxedo hitam membuat penampilan casualnya tampak menawan. Laki-laki itu melempar senyum ramah khas miliknya yang seketika membuat jeritan-jeritan makin membahana. Lupakan soal Shion dan Karin. Gadis-gadis di dalam seolah tak mampu menolak pesona tak terbantahkan duo buddies itu.
Shikamaru Nara menyampirkan tuxedo miliknya di bahu. Ia tetap tampan meski hanya memakai kemeja panjang dengan lengan yang digulung sampai siku serta dasi dan rompi hitam. Rambutnya masih sama, berantakan dan dikuncir asal-asalan. Meski tampil ogah-ogahan, aura mematikan yang dipancarkan laki-laki penyandang nama Nara itu membuat fangirlsnya histeris tak karuan.
Sai Shimura merasa tidak perlu memakai pakaian yang terlalu formal di acara ini. Ia—seperti Naruto—hanya memakai sebuah kaos v neck abu-abu kehijauan dengan tuxedo abu-abu miliknya. Rambut klimisnya yang biasanya berantakan kini disisir ke belakang dengan rapi, membuat wajah pucat tampan miliknya terlihat jelas. Si senyum palsu, begitulah biasanya Naruto mengatai Sai. Meski palsu, senyuman darinya terbukti mampu membuat gadis-gadis histeris seperti kesetanan.
Yeah, sebut mereka F-4 atau apapun itu, tapi fakta bahwa Sasuke Uchiha, Naruto Namikaze, Shikamaru Nara dan Sai Shimura adalah empat laki-laki terkeren di Konoha Gakkuen memang tidak bisa dibantah.
"Menyedihkan sekali kita ini" dengus Naruto, memasang wajah sedih yang tidak dibuat-buat. "Datang ke pesta dansa sendirian. Cih".
"Mendokusai..." keluh Shikamaru. Ia masih kesal karena niatnya mengajak Temari hancur lebur. Beberapa jam lalu, saat ia menghampiri gadis itu ke kamarnya, Temari menolak tanpa berpikir sama sekali. Gadis itu berkata kalau ia sudah punya janji. Oh, ini sungguh bukan Shikamaru sekali, tapi dia sangat geram sampai ingin mematahkan sesuatu.
Sai dan Sasuke memilih diam. Mereka sama-sama beraura suram hari ini, begitulah yang dapat Naruto simpulkan. Sejak tiba-tiba datang ke kamarnya beberapa jam lalu, Sasuke—yang memang sudah sangat menyebalkan—bersikap lebih menyebalkan dibanding biasanya. Naruto tahu laki-laki itu sedang banyak pikiran, dan alasannya pasti Sakura Haruno. Siapa lagi yang bisa membuat Sasuke Uchiha melupakan tomat? (Sasuke itu maniak tomat. Naruto bahkan mengira Sasuke lebih memilih mengorbankan dirinya sendiri daripada melihat tomat dilindas ban sepeda).
Belum lama jeritan meredam, gadis-gadis norak—begitulah menurut keempat laki-laki tadi—tadi kembali menjerit. Sasuke dan Sai masih setia dengan gelas wine putih mereka sementara Naruto dan Shikamaru sudah mengalihkan pandangan mereka ke pintu masuk ballroom.
Oh, shit. Rahang Naruto sukses jatuh, menyisakan lubang menganga di mulutnya. Shikamaru memang tidak memasang ekspresi se-idiot Naruto, tapi pupil matanya melebar dan ia tampak kaget. Sangat.
Di sana, di pintu masuk ballroom, berjalan lima gadis yang sekarang sudah jadi pusat perhatian. Mata kedua laki-laki itu terkunci pada salah dua dari gadis-gadis yang baru masuk itu. Lebih spesifiknya pada gadis bergaun merah darah dan pink muda pucat. Yeah, lebih spesifiknya lagi, pada Hinata Hyuuga dan Temari Sabaku.
Naruto tidak tahu kenapa tangannya bergerak sendiri menoyor kepala Sasuke saat iris blue sapphire miliknya menangkap sosok gadis bergaun biru tua indah. Yang ditoyor sudah siap-siap melancarkan makiannya jika saja tak melihat wajah bodoh yang ditampilkan Naruto. Penasaran, akhirnya Sasuke mengikuti arah pandang Naruto, menatap tak percaya pada pemandangan yang tersaji tak jauh di depannya.
Sakura Haruno berjalan beriringan bersama teman-temannya dengan sebuah blue chiffon backless long dress anggun yang juga seksi. Rambut merah muda miliknya ia sampirkan di bahu kanan dengan hiasan ikat rambut warna hijau tua. Gaya yang sederhana tapi elegan.
Sasuke menggertakkan giginya saat beberapa laki-laki sialan bersiul karena melihat Sakura. Dengan agak tergesa-gesa laki-laki itu berjalan membelah kerumunan, menuju Sakura yang masih belum menyadari keberadaannya.
Semuanya terjadi begitu cepat. Sasuke tiba-tiba saja membuka tuxedo yang menutupi kemeja peach dan rompi miliknya, lalu memasangkannya di tubuh Sakura sambil memelototi laki-laki yang berani memandangi gadis itu.
Nyaris semua gadis di ball room menjerit histeris.
"Hei!" protes Sakura saat Sasuke selesai memakaiakan tuxedonya.
"Hn?" Sasuke hanya bergumam ambigu.
Sakura mendesah frustasi. Ia memijat pelipisnya, mengurangi rasa stress yang kemungkinan bisa menyebabkan kerutan di dahinya. Tangannya terjulur, hendak melepaskan tuxedo Sasuke yang menutupi punggungnya.
"Jangan dilepas" dengus Sasuke. Matanya yang setajam elang memelototi Sakura seolah memberi penegasan atas kata-katanya.
"Gaunku ini memang backless. Untuk apa kubeli backless kalau tak kuperlihatkan?" protes Sakura.
"Aku tidak peduli" timpal Sasuke.
Malas berdebat, akhirnya Sakura menurut saja. Tangannya memperbaiki posisi tuxedo Sasuke di bahunya. Dalam hatinya, terbersit sedikit rasa senang melihat si pangeran es begitu memperhatikannya. Sakura menyadari kalau Sasuke berhasil menarik keluar sisi dirinya yang dulu. Sisi hangatnya.
Give applause for our prince, Sasuke Uchiha.
"Want some drink?" tanya Sasuke, tersenyum lembut.
"I think Lychee punch's not bad" jawab Sakura, membalas senyuman Sasuke dengan seulas senyum tipis.
Sasuke mengulurkan tangannya, meminta izin untuk menggandeng tangan Sakura. Matanya yang setajam elang menangkap tatapan tak suka yang dilayangkan putra bungsu Nagato Sabaku yang berdiri beberapa meter di belakang Sakura. Sudut bibir Sasuke terangkat membentuk sebuah seringai.
Sakura menghela nafas sebentar, menghilangkan kegugupannya sebelum akhirnya menyambut uluran tangan Sasuke. Ia bisa merasakan kalau laki-laki itu berjengit, seperti orang tersengat listrik ketika kedua tangan mereka bersentuhan. Sakura memandang Sasuke—yang meskipun dia sudah memakai stiletto—yang beberapa senti lebih tinggi dibanding dirinya.
"Hanya beberapa menit" kata Sakura diiringi sebuah seringai kecil.
"Kalau begitu aku akan meminta lagi untuk beberapa menit lainnya" kekeh Sasuke pelan.
Kedua orang itu kemudian berjalan menjauhi kerumunan yang tiba-tiba terbentuk untuk menyaksikan opera sabun khas Sasuke dan Sakura. Meninggalkan tatapan benci dari gadis bergaun hitam panjang. Karin hari ini tampil seksi dengan v-neck black chiffon long dress miliknya dengan lempengan bertahtakan berlian yang menjadi sabuk gaunnya. Rambutnya yang merah disanggul ke atas, menyisakan bahu putihnya yang dihiasi kalung berlian putih.
Kakinya menghentak, membuat stiletto silver rancangan Ivanka Trump miliknya mengeluarkan bunyi ketukan yang cukup keras. Kepalanya pening luar biasa. Sasuke—yang selama bertahun-tahun dikejarnya—dengan mudah menyerahkan diri pada gadis brengsek yang baru dikenalnya beberapa bulan belakangan.
"Aku rasanya ingin sekali mencabik-cabik gadis itu" dengus Shion yang tiba-tiba muncul dengan wajah memerah. Gadis itu tampak cantik dengan sebuah Red beaded lace mesh cap sleeve long dress dengan gaya rambut hampir sama seperti Karin. Matanya tak hentinya menghujani Hinata Hyuuga dengan tatapan membunuh. Bukan tanpa alasan, Shion melakukan itu lantaran Naruto sejak tadi tak mengalihkan pandangannya barang sekali saja dari Hinata.
"Aku ingin menghancurkannya sampai tidak tersisa sekeping pun" desis Karin dingin. Mata merahnya menatap nyalang Sakura yang sedang mengobrol dengan Sasuke sambil menikmati segelas punch.
Sementara itu, di tengah ball room, dihujani ratusan pasang mata, dua orang sedang berdansa mengikuti alunan musik ballad. Tangan si gadis melingkar di leher laki-laki di depannya, sementara pasangan dansanya memegang pinggang si gadis sambil tak mengalihkan tatapannya sama sekali dari emerald di depannya.
Sakura menurunkan sebelah tangannya, hendak melepas tuxedo yang sejak tadi membungkus bagian atas tubuhnya.
"Berani melepas itu, mati kau" ancam Sasuke.
"Ho~ lihat Uchiha ini. Dia berani mengancamku" kata Sakura sarkastik.
"Siapa yang membawakan gaun brengsek itu, sih?" tanya Sasuke.
Sakura mengerutkan dahinya. "Apa katamu?" desisnya tak percaya. "Gaun brengsek? Dengarkan aku, Uchiha. Tom Ford men-design gaun ini khusus untukku dan kau mengatainya brengsek? Kau gila, hah?"
"Kau tidak melihat tatapan lapar para laki-laki tadi saat kau masuk ball room" elak Sasuke.
"Lalu? Apa kau ada masalah dengan itu?" tanya Sakura, menyeringai kecil.
"Tentu saja!" jawab Sasuke lantang. "Ayolah, Sakura. Jangan pura-pura bodoh. Kau tau dengan jelas kenapa aku melakukan ini" kata Sasuke gusar.
"Aku tidak mengerti" tukas Sakura. "Aku tidak mengerti kenapa kau harus membuang waktumu mengurusi hidupku, keluargaku, pakaianku, perilakuku, semuanya!"
Sasuke menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi kesal. Ditariknya pinggang gadis itu sampai tubuh mereka berdua sukses menempel. Tangannya melingkari pinggang dan bahu Sakura, membawa gadis itu dalam sebuah pelukan panjang.
"Karena aku mencintaimu," bisik Sasuke tepat di telinga Sakura. "Sejak hari dimana kita bertemu di sekolah, jam enam pagi, bulan Agustus lalu".
"Liar" desis Sakura. "Tidak ada yang namanya cinta di dunia ini..."
Sasuke terkekeh. "Ya, mungkin kau benar..." katanya. Entah kenapa Sakura merasa kecewa mendengar kalimat itu keluar dari bibir Sasuke.
"Tapi cintaku, ada" lanjut Sasuke. "Jadi maukah kau memberiku kesempatan, Sakura?" tanya Sasuke. Mata hitamnya menyanyu, seolah memohon pada Sakura.
Sakura menggigit bibirnya. Air matanya sudah menggenang, memaksa minta keluar. Ia tidak mengerti kenapa hatinya sakit, atau kenapa ia merasa ingin sekali menangis. Ia hanya bahagia dan merasa sedih di saat bersamaan.
Dan senyum sumringah Sasuke berkembang saat Sakura menganggukkan kepalanya.
to be continued
