137darkpinku Present
KYUMIN FANFICTION
Fifty Shades of Cho
Chapter 14
Cast: Cho Kyuhyun , Lee Sungmin , and other cast
Rate : M
Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan
(Ada beberapa MARGA yang diganti demi kepentingan cerita)
DLDR
Please enjoy ^^
Disclaimer : Remake Novel karya EL James 'Fifty Shades of Grey'.
P.M : All is Sungmin's POV
Ok. Let's check this out !
.
.
.
JOYER
.
.
.
Bertumpu di tangannya, aku bergeser keluar dan berdiri di sampingnya. Dia melepaskanku, dan tangannya meraih sikuku. Dia memimpinku kembali melewati bar dan menaiki tangga besar. Seorang pemuda berseragam mendekati kami.
"Mr. Cho, lewat sini, Sir."
Kami mengikutinya dan sampai di ruangan yang lebih pribadi tempat duduknya sangat mewah. Hanya sebuah meja terpisah. Ruangan yang kecil tapi mewah. Di bawah sebuah lampu gantung berkilauan, taplak meja dari kain linen berkanji, gelas kristal, sendok garpu perak, dan karangan bunga mawar putih. Sangat kuno, ruang berdinding kayu keindahannya sudah tak asli. Pelayan menarik kursi untukku, dan aku duduk. Ia menempatkan serbet di pangkuanku.
Kyuhyun duduk di depanku. Aku mengintip ke arahnya. "Jangan menggigit bibirmu," Bisiknya.
Aku mengerutkan kening. Sialan. Aku bahkan tak sadar jika aku melakukannya.
"Aku sudah memesan makanannya. Aku harap kau tak keberatan."
Terus terang, aku lega, aku tak yakin aku bisa membuat keputusan lebih lanjut.
"Tidak, itu bagus," aku menyetujui.
"Ada baiknya untuk tahu bahwa kau bisa lebih terbuka. Sekarang, sampai di mana kita tadi?"
"Pokok permasalahan." Aku meneguk banyak anggur lagi. Ini benar-benar lezat. Cho Kyuhyun benar-benar tahu tentang anggur yang enak.
"Ya, masalah keberatanmu." Tangannya merogoh ke dalam saku jaket dan menarik keluar secarik kertas.
Isi email-ku.
"Ayat 2. Setuju. Hal ini untuk kepentingan kita berdua. Aku akan merumuskan kembali."
Aku berkedip padanya. Sialan ... kita akan membahas masing-masing poin satu per satu. Tapi aku tidak begitu berani membahas langsung dengannya. Dia terlihat begitu sungguh-sungguh. Aku menguatkan diri dengan meneguk anggurku lagi. Kyuhyun terus melanjutkan.
"Kesehatan seksualku. Semua pasanganku sebelumnya harus menjalani tes darah, dan aku selalu menjalani tes rutin setiap enam bulan untuk menghindari semua risiko kesehatan yang kau sebutkan. Semua tes terakhirku sangat jelas. Aku tak pernah minum obat-obatan terlarang. Bahkan, aku sangat tegas anti-narkoba. Aku punya kebijakan tak akan mentoleransi yang berkaitan dengan obat-obatan untuk semua karyawanku, dan aku bersikeras untuk melakukan tes secara acak."
Wow ... seorang gila kontrol sedang marah. Aku berkedip padanya terkejut.
"Aku belum pernah melakukan transfusi darah. Apa ini bisa menjawab pertanyaanmu?"
Aku mengangguk, tanpa ekspresi.
"Poin berikutnya sudah aku sebutkan sebelumnya. Kau dapat pergi setiap saat, Sungmin. Aku tak akan menghentikanmu. Jika kau ingin pergi, kiranya itu saja. Hanya supaya kau tahu."
"Oke," jawabku pelan. Jika aku ingin pergi, itu saja.
Pelayan datang dengan hidangan pertama kami.
Bagaimana mungkin aku bisa makan? Dia memesan seafood.
"Aku harap kau suka tiram," suara Kyuhyun lembut.
"Aku belum pernah makan tiram." Sungguh.
"Benarkah? Nah." Dia mengambil satu. "Yang kau lakukan hanya memegang ujungnya dan menelannya. Aku pikir kau bisa melakukannya." Dia menatap padaku, dan aku tahu apa yang dia maksud.
Aku tersipu memerah. Dia tersenyum, menyemprotkan air jeruk lemon ke tiram, dan memegang ujungnya kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.
"Hmm, ini sangat enak," dia tersenyum lagi. "Cobalah," dia memberikan padaku.
"Jadi, aku tak perlu mengunyahnya?"
"Tidak, Sungmin, tidak perlu." Matanya menyala dengan humor. Dia tampak begitu muda seperti ini.
Aku menggigit bibir, dan ekspresinya langsung berubah. Dia tampak tegang melihatku. Aku mengulurkan tangan dan mengambil tiram pertamaku.
Aku menyemprotkan airnya jeruk lemon di atasnya dan memegang ujungnya. Meluncur ke tenggorokan, semua air laut, garam, bau tajam jeruk, dan kenyal. Aku menjilat bibirku, dan dia menatapku penuh perhatian, matanya berkabut.
"Bagaimana?"
"Aku harus mencoba satu lagi," kataku datar.
"Gadis baik," katanya bangga.
"Apakah kau sengaja memilih ini? Bukankah tiram terkenal dengan afrodisiak yang bisa meningkatkan libido?"
"Tidak, itu adalah makanan pertama di menu. Aku tidak perlu afrodisiak saat di dekatmu. Aku pikir kau tahu itu, dan aku pikir kau bereaksi dengan cara yang sama saat di dekatku," katanya singkat. "Jadi sampai di mana kita?" Dia melirik email-ku saat aku meraih tiram lain.
Dia bereaksi dengan cara yang sama. Aku bisa mempengaruhi dia ... wow.
"Patuh padaku dalam segala hal. Ya, aku ingin kau melakukan itu. Aku perlu kau melakukan itu. Anggap saja sebagai bermain peran, Sungmin."
"Tapi aku khawatir kau akan menyakitiku."
"Menyakitimu yang bagaimana?"
"Secara fisik." Dan secara emosional.
"Apa kau benar-benar berpikir aku akan melakukannya? Melampaui batasmu yang tidak bisa kau terima?"
"Kau bilang kau telah menyakiti seseorang sebelumnya."
"Memang, aku pernah. Tapi itu sudah lama."
"Bagaimana kau menyakiti mereka?"
"Aku menggantung mereka di langit-langit ruang bermainku. Bahkan, itu adalah salah satu pertanyaanmu. Menggantung. Itu gunanya karabiner ada di ruang bermain. Permainan tali. Salah satu tali diikat terlalu kuat."
Aku mengangkat tanganku dan memohon dia untuk berhenti.
"Aku tak perlu tahu lagi. Jadi kau tak akan menggantungku?"
"Tidak jika kau benar-benar tidak mau. Kau bisa buat itu sebagai batas keras."
"Oke."
"Jadi tentang mematuhi, apa kau berpikir bahwa kau bisa melakukannya?" Dia menatapku dengan mata onyx nya yang intens.
"Aku akan mencoba," bisikku.
"Bagus." Dia tersenyum. "Sekarang jangka waktu. Satu bulan bukannya tiga bulan adalah waktu yang terlalu singkat, terutama jika kau ingin akhir pekan jauh dariku setiap bulan. Aku tidak berpikir aku akan bisa menjauh darimu untuk waktu yang lama. Aku nyaris tak bisa mengendalikannya sekarang," ia berhenti sejenak.
Dia tak bisa tinggal jauh dariku? Apa?
"Bagaimana kalau, satu hari selama satu akhir pekan per bulan kau mendapatkan waktu untuk dirimu sendiri, tapi aku mendapatkan malam pertengahan minggu pada minggu itu?"
"Oke."
"Dan kumohon, mari kita coba selama tiga bulan. Jika tiba-tiba kau tak menyukainya maka kau dapat pergi kapan saja."
"Tiga bulan?" Aku merasa agak kecewa dengan pendapatnya. Aku meneguk anggur cukup banyak untuk mengobati kekecewaanku dan mengambil tiram lain. Aku harus bisa belajar untuk menyukai ini.
"Mengenai kepemilikan, itu hanya istilah dan kembali ke prinsip tentang mematuhi. Ini untuk membuatmu berpikir dengan tepat, dan memahami dimana aku berasal. Dan aku ingin kau tahu bahwa begitu kau melewati ambang batasku sebagai submisif , aku akan melakukan apa yang aku suka pada dirimu. Kau harus menerima itu dengan rela. Itulah mengapa kau harus percaya padaku. Aku akan menidurimu, kapanpun, dengan cara apapun, di tempat mana pun aku mau. Aku akan mendisiplinkanmu, karena kau pasti akan gagal. Aku akan melatihmu untuk menyenangkanku. Tapi aku tahu kau belum pernah melakukan ini sebelumnya. Pertama-tama, kita akan melakukannya pelan-pelan, dan aku akan membantumu. Kita akan membangun berbagai skenario. Aku ingin kau percaya padaku, tapi aku tahu aku harus lebih dulu mendapatkan kepercayaanmu. Dan aku akan melakukannya."
Dia begitu bergairah, mempesona. Ini jelas obsesinya, cara dia ... aku tak bisa mengalihkan pandangan dari dia. Dia benar-benar menginginkan ini. Dia berhenti berbicara dan menatapku.
"Masih denganku?" Bisiknya, suaranya lucu, hangat dan menggoda. Ia meneguk anggurnya, menatapku dengan tajam.
Pelayan muncul di pintu, dan Kyuhyun secara halus mengangguk mengizinkan pelayan untuk membersihkan meja kami.
"Apakah kau ingin anggur lagi?"
"Aku nanti akan menyetir."
"Mungkin air?"
Aku mengangguk.
"Air putih atau soda?"
"Soda, boleh."
Pelayan meninggalkan kami.
"Kau sangat tenang," bisik Kyuhyun.
"Bicaramu sangat bertele-tele."
Dia tersenyum.
"Disiplin. Ada garis sangat tipis antara kenikmatan dan rasa sakit, Sungmin. Itu adalah dua sisi mata uang, satu takkan ada tanpa yang lain. Aku bisa menunjukkan padamu cara mendapatkan rasa nyeri yang menyenangkan. Kau tak percaya padaku sekarang, tapi ini adalah apa yang aku maksud tentang kepercayaan. Akan ada rasa nyeri, tapi aku yakin kau bisa menerimanya. Sekali lagi, ini tentang kepercayaan. Apa kau percaya padaku, Ming?"
Ming!
"Ya, aku akan mencoba." Aku merespon secara spontan, tanpa berpikir ... karena itu benar, aku percaya padanya.
"Baik," dia tampak lega. "Sisanya hanya berupa rincian."
"Rincian yang penting."
"Oke, mari kita bicara tentang ini juga."
Kepalaku mengambang dengan semua kata-katanya. Aku seharusnya membawa mini disc-nya Eunhyuk supaya aku bisa mendengarkan lagi. Ada begitu banyak informasi, begitu banyak untuk diproses. Pelayan muncul kembali dengan hidangan kami. Aku tak pernah merasa kekurangan makanan.
"Aku harap kau suka ikan," kata Kyuhyun ringan.
Aku menusuk makananku dan minum air sodaku. Aku berharap itu anggur.
"Aturan. Mari kita bicara tentang itu. Makanan adalah pembatal perjanjian?"
"Ya."
"Dapatkah aku mengubahnya untuk mengatakan bahwa kau harus makan setidaknya tiga kali sehari?"
"Tidak." Aku tak akan mundur dalam hal ini. Tak ada yang akan mendikte apa yang kumakan. Bagaimana aku bercinta, boleh, tapi makan ... tidak, tidak bisa.
Dia mengerutkan bibirnya. "Aku perlu tahu bahwa kau tidak akan merasa kelaparan."
Aku mengerutkan kening. Mengapa? "Kau harus percaya padaku."
Ia menatap padaku selama beberapa saat, dan dia rileks. "Setuju, Nona Lee," katanya pelan. "Aku menyerah mengenai makan dan tidur."
"Mengapa aku tak boleh menatapmu?"
"Itu hanya masalah tentang seorang Dominan-Submisif. Kau akan terbiasa."
Maukah aku?
"Mengapa aku tak boleh menyentuhmu?"
"Karena kau tidak bisa." Mulutnya membentuk garis keras kepala.
"Apakah karena Nyonya Park?"
Dia tampak bingung mendengar pertanyaanku. "Kenapa kau berpikir begitu?" Dan segera dia mengerti. "Kau pikir aku trauma karena dia?"
Aku mengangguk.
"Tidak, Sungmin. Dia bukan alasannya. Selain itu, Nyonya Park tidak akan menerima omong kosong itu dariku."
Oh ... tapi aku harus. Aku cemberut. "Jadi tak ada hubungannya dengan dia."
"Tidak. Dan aku tak ingin kau menyentuh dirimu sendiri."
Apa? Ah ya, pasal tentang dilarang masturbasi.
"Penasaran saja ... mengapa?"
"Karena aku menginginkan semua kenikmatanmu," suaranya serak penuh tekad.
Oh ... aku tak punya jawaban untuk itu.
Makanan, tidur, aku bisa menatap matanya. Dia akan menerimanya dengan perlahan, dan kami belum membahas tentang batas lunak. Tapi aku tidak yakin aku bisa menghadapi lebih dari makanan.
"Aku sudah memberikan banyak hal untuk berpikir bukan?"
"Ya."
"Apa kau ingin membahas batas lunak sekarang juga?"
"Tidak saat makan malam."
Dia tersenyum. "Mual?"
"Semacam itulah."
"Kau tak makan banyak."
"Aku sudah cukup."
"Tiga tiram, empat gigitan ikan, dan satu tangkai asparagus, tak makan kentang, tak makan kacang, tak makan buah zaitun, dan kau tak makan seharian. Kau bilang aku bisa percaya padamu."
Astaga. Dia memberikan daftar rincian makanannya.
"Kyuhyun, tolong, tak setiap hari aku duduk melakukan percakapan seperti ini."
"Aku membutuhkan kau bugar dan sehat, Sungmin."
"Aku tahu."
"Dan sekarang, aku ingin mengupasmu keluar dari gaun itu."
Aku menelan ludah. Mengupasku keluar dari gaun Eunhyuk. Aku merasa ada tarikan di dalam perutku.
Ototku sekarang mencengkeram semakin akrab saat mendengar kata-katanya. Tapi aku tak bisa memiliki ini. Senjatanya yang paling ampuh, digunakan untuk melawanku lagi. Dia begitu nyaman dengan seks, bahkan aku sudah tahu ini.
"Aku berpikir itu bukan ide yang bagus," bisikku pelan. "Kita belum makan makanan penutup."
"Kau ingin makanan penutup?" Dia mendengus.
"Ya."
"Kau bisa menjadi makanan pencuci mulut," bisiknya penuh arti.
"Aku tak yakin aku cukup manis."
"Sungmin, kau nikmat dan manis. Aku tahu itu."
"Kyuhyun. Kau menggunakan seks sebagai senjata. Itu benar-benar tak adil," bisikku, menatap tanganku, dan kemudian menatap langsung padanya. Dia mengangkat alis, terkejut, dan aku melihat dia mempertimbangkan kata-kataku.
Dia mengusap dagunya sambil berpikir. "Kau benar. Akan aku lakukan. Dalam hidupmu kau menerapkan apa yang kau tahu, Sungmin. Ini tidak mengubah betapa aku menginginkanmu. Di sini. Sekarang."
Bagaimana dia bisa merayuku hanya dengan suaranya? Aku sudah terengah-engah, darahku memanas mengalir melalui pembuluh darahku, kegelisahan menggelitikku.
"Aku ingin mencoba sesuatu," dia mengambil nafas.
Aku mengerutkan kening. Dia hanya membebaniku dengan ide omong kosong untuk dialah pada saat ini.
"Jika kau adalah subku, kau tak harus berpikir tentang hal ini. Ini akan lebih mudah." Suaranya lembut, menggoda.
Aku memperdalam kerutan. Bagaimana dia bisa tahu?
"Aku bisa mengatakan ini karena ..."
Sialan, dia menjawab pertanyaan tak terucapku. Apa dia paranormal juga?
"... Tubuhmu memperlihatkan semuanya. Kau menekan pahamu bersama-sama, Mukamu memerah, dan tarikan napasmu berubah."
Oh, ini terlalu banyak.
"Bagaimana kau tahu tentang pahaku?" Suaraku pelan, tak percaya. Ya ampun padahal pahaku di bawah meja.
"Aku merasa taplak meja bergerak, dan tebakanku dihitung berdasarkan bertahun-tahun pengalaman. Bukankah aku benar?"
Mukaku memerah dan menunduk menatap tanganku. Aku sangat terganggu oleh permainannya yang menggoda. Dia satu-satunya yang mengetahui dan memahami aturan. Aku terlalu naif dan tak berpengalaman.
"Aku belum selesai dengan ikanku."
"Kau lebih suka ikan dari pada aku?"
Aku tersentak sampai melotot kearahnya, dan matanya membakar dan meleleh, dengan kebutuhan yang meyakinkan.
"Kupikir kau suka aku menghabiskan makananku."
"Saat ini, Nona Lee, aku tidak peduli dengan makananmu."
"Kyuhyun. Kau tak bertarung dengan adil."
"Aku tahu. Aku tak pernah melakukannya."
Dewi batinku merengut padaku. Kau dapat melakukan ini, dia merayuku, mainkan dewa seks ini pada permainannya sendiri. Bisakah aku? Oke. Apa yang harus kulakukan?
Mengambil asparagus, aku menatapnya dan menggigit bibirku. Kemudian dengan sangat perlahan meletakkan ujung asparagus dingin ke mulutku dan menghisapnya.
Mata Kyuhyun membelalak, dan aku menyadari itu. "Sungmin. Apa yang kau lakukan?"
Aku menggigit ujungnya. "Makan asparagusku."
Kyuhyun bergeser di kursinya. "Aku pikir kau bermain-main denganku, Nona Lee."
Aku berpura-pura merasa tak bersalah. "Aku hanya menghabiskan makananku, Tuan Cho."
Tiba-tiba pelayan mengetuk dan tanpa diminta lalu masuk. Dia melirik sebentar ke arah Kyuhyun, yang mengerutkan kening padanya tapi kemudian mengangguk, jadi pelayan itu membersihkan piring kami.
Kedatangan pelayan telah merusak mantra. Dan aku mengambil momen berharga ini untuk menjernihkan pikiranku. Aku harus pergi. Pertemuan kami hanya akan berakhir dengan satu cara jika aku menundanya, dan aku perlu batasan sehabis melakukan percakapan yang begitu bersemangat.
Tubuhku sangat membutuhkan sentuhan pria itu, pikiranku memberontak. Aku butuh jarak untuk berpikir tentang semua yang dikatakannya. Aku masih belum membuat keputusan, dan daya tarik seksual dan kehebatannya tak membuatnya menjadi lebih mudah.
"Apa kau ingin makanan penutup?" Kyuhyun bertanya dengan sopan, tapi matanya masih membara.
"Tidak, terima kasih. Aku rasa aku harus pulang." Aku menatap tanganku.
"Pulang?" Dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Pelayan buru-buru meninggalkan kami.
"Ya." Ini keputusan yang tepat. Jika aku tinggal di sini, di kamar ini bersama dia, dia akan meniduriku. Sengaja aku langsung berdiri. "Kita berdua akan mengikuti upacara wisuda besok."
Kyuhyun berdiri secara otomatis, memperlihatkan kesopanan. "Aku tak ingin kau pergi."
"Tolong ... aku harus."
"Kenapa?"
"Karena kau telah memberiku begitu banyak hal untuk dipertimbangkan ... dan aku perlu jarak."
"Aku bisa membuatmu tinggal," dia mengancam.
"Ya, kau pasti bisa, tapi aku tak ingin kau melakukan itu."
Dia mengacak-acak rambutnya, sangat hati-hati mengamatiku. "Kau tahu, saat kau jatuh ke dalam kantorku, untuk mewawancaraiku, yang bisa kau katakan adalah ya sir, tidak sir. Kupikir kau terlahir sebagai submisif yang alami. Tapi terus terang saja, Sungmin, aku tak yakin kau memiliki sebuah tulang submisif dalam tubuhmu yang lezat." Dia bergerak perlahan ke arahku saat berbicara, suaranya tegang.
"Kau mungkin benar," aku mengambil napas.
"Aku ingin memberimu peluang untuk melakukan penyelidikan," bisiknya, menatap ke arahku. Dia membelai wajahku, ibu jarinya menelusuri bibir bawahku. "Aku tak tahu cara yang lain, Sungmin. Ini adalah aku yang sebenarnya."
"Aku tahu."
Dia membungkuk ingin menciumku, tapi berhenti sebentar sebelum bibirnya menyentuh bibirku, matanya langsung melihat mataku, ingin meminta izin.
Aku menempelkan bibirku ke bibirnya, dan dia langsung menciumku dan karena aku tak tahu apakah aku akan menciumnya lagi, aku membiarkan tanganku bergerak atas kemauanku sendiri dan memutar ke dalam rambutnya, menariknya padaku, mulutku membuka, lidahku membelainya. Tangannya menggenggam tengkukku saat dia memperdalam ciumannya, menanggapi semangatku. Tangan satunya meluncur ke punggungku dan menempel ke dasar tulang belakangku sambil mendorongku ke tubuhnya.
"Aku tak bisa membujukmu untuk tinggal?" dia mengambil nafas diantara ciuman.
"Tidak."
"Habiskan malam bersamaku."
"Dan tak boleh menyentuhmu? Tidak"
Dia mengerang. "Kau gadis yang keras kepala." Dia menarik diri, menatap ke arahku. "Mengapa aku berpikir kau akan mengucapkan 'selamat tinggal'?"
"Karena aku akan pergi sekarang."
"Bukan itu maksudku, dan kau tahu itu."
"Kyuhyun, aku harus berpikir tentang hal ini. Aku tak tahu apakah aku bisa memiliki jenis hubungan yang kau inginkan."
Dia menutup matanya dan menekan dahinya di bibirku, memberi kami berdua kesempatan mengatur pernapasan kami. Setelah beberapa saat, ia mencium keningku, menghirup dalam-dalam, mencium rambutku, kemudian dia melepaskan aku, melangkah mundur.
"Terserah kau, Nona Lee," katanya, tanpa ekspresi di wajahnya. "Aku akan mengantarmu ke lobi."
Dia mengulurkan tangannya. Aku mengambil dompet dan tangannya menahan tanganku. Sialan, ini mungkin bisa terjadi. Aku pasrah mengikutinya menuruni tangga besar dan ke lobi, kulit kepalaku menusuk-nusuk, darahku memompa. Ini bisa menjadi saat terakhir mengucapkan selamat tinggal jika aku memutuskan untuk mengatakan tidak.
"Apa kau memiliki tiket valet?"
Aku merogoh ke dalam tasku dan menyerahkan tiket, kemudian dia memberikan kepada penjaga pintu.
Aku mengintip ke arahnya saat kami berdiri menunggu.
"Terima kasih untuk makan malamnya," gumamku.
"Sangat menyenangkan seperti biasa, Nona Lee," katanya sopan, meskipun dia tampak tenggelam dalam pikirannya, benar-benar terganggu.
Saat aku mengintip ke arahnya, aku memasukkan wajah tampannya ke dalam ingatanku. Gambaran bahwa aku mungkin tak akan melihatnya lagi membayangiku, tak diinginkan dan terlalu menyakitkan untuk direnungkan. Tiba-tiba dia menatap ke arahku, ekspresinya sangat dalam.
"Kau akan pindah akhir pekan ini ke Seoul. Jika kau mengambil keputusan yang tepat, bisakah aku bertemu denganmu pada hari Minggu?" Dia terdengar ragu-ragu.
"Kita akan lihat nanti. Mungkin." Aku menarik napas.
Sejenak, dia tampak lega, dan kemudian dia mengernyit. "Sepertinya sekarang bertambah dingin, apakah kau tidak membawa jaket?"
"Tidak."
Dia menggeleng dengan kesal dan melepas jaketnya. "Pakai ini. Aku tak ingin kau sakit."
Aku berkedip ke arahnya saat dia membuka jaketnya, dan saat meletakkan tanganku di belakang, aku teringat di kantornya saat dia menyelipkan mantel ke bahuku, pertama kali aku bertemu dengannya , dan pengaruhnya padaku saat itu. Pada kenyataannya tak ada yang berubah, rasanya bertambah dalam.
Jaketnya hangat, terlalu besar, dan aromanya. Oh... sangat lezat.
Mobilku berhenti di depan. Mulut Kyuhyun menganga. "Mobil itu yang kau kemudikan?" Dia terkejut. Mengambil tanganku, dia menuntunku keluar.
Petugas valet itu melompat keluar dan mengulurkan kunci padaku, dan dengan tenang Kyuhyun memberinya uang.
"Apa ini layak jalan?" Dia melotot padaku sekarang.
"Ya."
"Apa dia bisa membawamu sampai ke Seoul?"
"Ya. Dia bisa."
"Aman?"
"Ya," suaraku meninggi, putus asa. "Oke dia sudah tua. Tapi dia milikku, dan dia layak jalan. Ayah tiriku membelinya untukku."
"Oh, Sungmin. Aku pikir kita bisa melakukan lebih baik dari ini."
"Apa maksudmu?" kesadaranku muncul. "Kau tak bisa membelikan aku mobil."
Dia menatap marah padaku, rahangnya tegang. "Kita akan lihat nanti," katanya kuat.
Dia meringis saat membuka pintu pengemudi dan membantuku masuk, aku melepas sepatu dan menurunkan kaca jendela. Dia menatapku dengan ekspresi tak terduga, matanya gelap.
"Hati-hati," katanya pelan.
"Selamat tinggal, Kyuhyun" suaraku serak dari tanpa diminta, air mata yang tertahan, ya ampun aku tak mau menangis. Aku memberinya senyuman kecil.
Saat sudah jauh, dadaku menegang, air mataku mulai jatuh, dan aku menahan isakan. Tak lama kemudian air mata mengalir di wajahku, dan aku benar-benar tak mengerti mengapa aku menangis.
Aku menahan diriku sendiri. Dia menjelaskan segalanya. Dia jelas. Dia menginginkan aku, tapi sebenarnya, aku membutuhkan lebih banyak lagi. Aku ingin, dia menginginkan aku seperti aku menginginkan dan membutuhkan dia, dan dalam hatiku tahu itu tak mungkin. Aku merasa kewalahan.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
