Rain

By: Azumaya Miyuki

A Hunter x Hunter Fan Fiction.

Disclaimer: Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.


Chapter 14: Untold Fairytale

"Target kita adalah seorang pemuda bergaya visual kei, berprofesi sebagai pendiri dan patissier di sebuah café dessert, dan terobsesi dengan kisah 'Alice in Wonderland'," suara Kuroro memecah keheningan. "Menarik. Sangat menarik."

"Apa maksudmu? Aku nyaris mengalami retardasi mental karena berbincang dengannya. Seleranya payah," timpal Kurapika. "Kukira kau akan berpendapat sama."

"Benar, selera pemuda itu memang payah, tetapi…" Kuroro menarik segaris senyuman di bibirnya. "…hal itu yang membuatnya jadi target yang menarik."

"Mendengarmu bicara seperti itu, aku nyaris percaya kalau kau ini penyuka sesama jenis," Kurapika bergidik. "Jadi, apa rencana kita selanjutnya?"

"Tentunya kita harus mendengarkan deduksi darimu terlebih dahulu, Kuruta," sahut Kuroro.

"Yah…" Kurapika menghela napas. "Apa yang harus kujelaskan lagi? Cain hanyalah seorang polos bagaikan anak kecil berusia kurang dari sepuluh tahun yang tergila-gila dengan sebuah kisah lebih dari itu."

"'Tidak lebih dari itu'?" Kuroro mengulang kalimat Kurapika. "Apa kau yakin?"

"Sebentar, aku lupa menambahkan," Kurapika berujar dengan napas tertahan. "Cain mengatakan aku mirip dengan tokoh Alice di dongeng kegemarannya itu."

Kurapika bisa melihat Kuroro nyaris menyemburkan tawa. Wajah Kurapika berubah merah padam.

"Diamlah," Kurapika berkata tajam. "Jangan sampai aku tergerak untuk menghancurkan mulut kotormu itu."

"Sekadar informasi, aku sama sekali tidak mengutarakan apa-apa." Kuroro lekas menguasai dirinya dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi tenang kembali. "Bukankah apa yang kukatakan memang benar, Kuruta? Konsekuensi kutukan itu membuatmu jadi semakin mirip dengan perempuan."

"Tingkah lakumu menunjukkan seolah aku harus bergembira dengan fakta itu," dengus Kurapika pendek.

"Tentu saja," senyum tipis di wajah Kuroro membuat Kurapika bergidik. "Kita bisa menggunakan ketertarikannya padamu sebagai senjata untuk membuatnya lumpuh."

"Jangan bilang aku harus menyamar menjadi perempuan lagi," suara Kurapika meninggi. "Kau memang gemar membuatku menderita, Kuroro Lucifer."

"Tidak. Kali ini tidak perlu," Kuroro menjawab mantap.

"Mengapa begitu?" Kurapika bertanya dengan alis terangkat.

"Karena Cain sudah memandangmu sebagai seorang perempuan."

"Itu jauh lebih parah, bodoh." Kurapika nyaris menenggelamkan wajahnya di bantal. "Lalu, apa yang harus aku lakukan?"

"Kau hanya perlu bersikap baik padanya. Buat dia percaya bahwa kau adalah sosok Alice yang dia khayalkan selama ini," ujar Kuroro. "Sisanya tinggal menunggu dengan tenang."

"Menunggu dengan tenang? Maksudmu aku harus menunggu sampai ia menyerahkan bola mata merah yang tersembunyi di Mag Mell dengan suka rela, tanpa melakukan apapun? Tidak, tidak. Yang benar saja," geleng Kurapika kuat. "Kita akan membuang terlalu banyak waktu."

"Kuruta, kau kehilangan imajinasimu. Analisismu dangkal. Kesimpulan yang dibuat dengan tergesa-gesa. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa jika terlalu memaksa patissier itu. Jika kau membuatnya percaya, ia sendiri yang akan mengantarkan bola mata merah itu hingga ke tanganmu tanpa cacat sedikit pun."

"Bagaimana kau bisa begitu yakin? Pemikiranmu sangat tidak logis." Kurapika tampak tidak setuju. "Aku tidak mau kita mengalami stagnansi di tempat ini karena mengikuti kata-katamu."

"Aku tidak mungkin akan membuat keputusan tanpa informasi yang relevan. Tidak lama lagi kau sendiri yang akan membuktikan bahwa apa yang kukatakan sekarang adalah kebenaran."

"Kenapa aku harus percaya pada pencuri licik dan penipu ulung sepertimu?" tantang Kurapika.

"Sederhana. Karena hanya aku rekan seperjalananmu saat ini," balas Kuroro dingin. "Hanya aku harapanmu – dengan segala keterbatasanmu yang kau sebut sebagai 'konsekuensi kutukan' itu. Jelas?"

Kurapika menelan ludah. Dalam situasi seperti ini, ia tidak mampu membantah Kuroro.

"Bagaimana caranya aku meyakinkan Cain bahwa aku adalah Alice yang ia inginkan?" suara Kurapika terdengar mengecil. "Aku tidak mengerti."

"Gunakan imajinasimu, kutu buku."

"Katakan padaku bagaimana caranya," ulang Kurapika. "Daripada berimajinasi, aku lebih suka menggunakan logikaku untuk berpikir."

"Teoritis sekali," Kuroro membalas. "Kenapa? Apakah imajinasimu terkubur di dalam tanah bersama mayat kedua orang tuamu?"

"Beraninya kau bicara begitu!" Kurapika langsung bangkit dan menarik kerah kemeja Kuroro. "Coba katakan sekali lagi, akan kuhantam mulut kotormu itu sampai hancur!"

"Aneh sekali. Matamu tidak berubah warna," Kuroro berujar. "Kau tidak marah padaku?"

Kurapika terdiam. Pelan-pelan, ia mengendurkan cengkramannya – menatap sosok pria berambut hitam di hadapannya. Warna-warna yang dilihatnya tampak biasa. Bola matanya sama sekali tidak berubah merah menyala.

Ia bergerak mundur, menjauhi Kuroro. Tidak. Biasanya tidak seperti ini. Pikiran Kurapika berkecamuk. Apa ini juga pengaruh dari konsekuensi kutukanku?

"Kalau kau tidak lagi memiliki dendam padaku, sisa perjalanan kita ini tidak akan seru," Kuroro seolah menyahuti kebingungan Kurapika. Pemuda itu berlalu dan membuka pintu kamar. "Istirahatlah. Kalau kau butuh sesuatu, aku ada di kamar sebelah."

Pintu pun tertutup rapat tanpa Kurapika sempat menyebutkan apapun. Bibirnya seolah membeku.


Aroma roti bakar dan madu memenuhi dapur. Cain menyenandungkan lagu-lagu bernada ceria sembari menuang teh ke dalam dua cangkir keramik berwarna maroon. Irisan bunga chamomile mengapung di atas teh yang tengah dibuatnya. Setelah menata meja makan mungil di tengah ruangan dengan taplak kotak-kotak merah dan putih, Cain menuruni beberapa anak tangga yang mengantarkannya pada sebuah kamar – tempat di mana seorang gadis berpakaian serba hitam dengan sepasang mata turquoise-nya mengerjap dalam cahaya yang termaram. Meredith.

"Selamat pagi," Cain menyapa gadis itu dengan senyuman yang begitu lebar hingga matanya tampak menyipit. "Tidur nyenyak?"

Meredith – yang tahu pasti bahwa pertanyaan Cain itu ditujukan kepadanya, tetap tidak bergeming layaknya boneka yang dipajang di etalase toko antik. Posisinya sama sekali tidak berubah dari semalam, tetap duduk di kursi kayu mungil yang tampaknya sengaja dibuat khusus untuknya. Cain membuka lemari kecil yang terletak di bawah meja rias dan menarik seragam sekolah model sailor berwarna hitam dengan garis-garis putih di bagian kerah dan lengan. Ia mengangsurkan seragam itu kepangkuan Meredith tanpa mengatakan apapun, namun Meredith tampaknya sudah paham apa yang harus dilakukan.

"Saya akan menunggu Anda berganti pakaian di luar," Cain berkata sopan sembari mengulum senyum, lalu keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu. Ia menghitung mundur selama sepuluh menit, kemudian kembali memasuki kamar. Meredith telah siap dengan seragamnya. Cain menarik kedua tangan gadis itu, menuntunnya keluar kamar dan duduk di ruang makan. Meredith menatap sarapan dan teh yang dipersiapkan Cain dengan pandangan kosong.

Cain memotong-motong roti bakar untuk Meredith hingga berukuran sangat kecil. Pemuda bergaya nyentrik itu lantas berlutut di samping Meredith dan mulai menyuapinya. Meredith mengunyahnya perlahan dan langsung menelannya, tanpa membuat gerakan sedikit pun.

"Ini waktu sarapan, Meredith," Cain seolah mengingatkan. "Sesuai perjanjian, Anda boleh bicara selama sarapan. Apa ada yang ingin Anda katakan?"

Nyaris tersedak karena terburu-buru menelan makanannya, Meredith menghela napas panjang. Lega. Kata-kata Cain itu seolah mantra ajaib baginya. Meskipun ia tetap tidak diperbolehkan untuk banyak bergerak, namun setidaknya ia bisa bersuara.

"Niisan," ia berkata dengan suara lirih.

"Ya?" balas Cain.

"Kau bilang Sang Alice sudah datang."

Cain mengutak-atik potongan roti di atas piring dengan pisau di tangannya. "Lalu?"

Meredith menggigit bibirnya, merasakan nada bicara Cain yang tidak bersahabat.

"Lalu?" Cain mengulang kalimatnya.

Meredith tidak menjawab. Ia mulai terisak. Air mata membanjiri mata turquoise miliknya.

"Meredith," Cain berujar. "Saya tidak akan mengerti apa yang Anda maksud jika Anda menangis."

"Kau akan membuangku, 'kan?" tanya Meredith dengan suara parau. "Ketika Sang Alice datang, kau tidak membutuhkanku lagi. Kau pasti akan menyerahkanku padanya, 'kan?"

"Saya tidak suka arah pembicaraan ini," balas Cain. "Bisakah kita berhenti?"

"Niisan, apa kau sama sekali tidak peduli pada diriku?" Meredith bertanya lirih. "Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini? Bagaimana dengan masa mudaku? Kebebasanku?"

"Apakah Anda tahu betapa munafiknya orang-orang di luar sana, Meredith? Saya hanya berusaha melindungi Anda dari orang-orang seperti itu. Mereka hanya akan menyakiti Anda, Anda tahu?"

"Tapi kenapa kau harus memperlakukanku sebagai boneka?" Meredith setengah menjerit. "Bentuk protesmu pada okaasan, ya? Sudahi saja, niisan – okaasan tidak akan kembali! Kau membunuhnya, ingat? Kau menjadikannya sup lalu memakan dagingnya!"

"Kita menyantapnya bersama, Meredith – Anda mengatakan hal itu seolah-olah hanya saya yang bertanggung jawab atas kematian okaasan," Cain tersenyum dingin. "Cukup bincang-bincangnya. Anda terlalu banyak bicara hari ini, Meredith. Jangan sampai saya tidak bisa menahan diri lagi. Anda masih ingat bagaimana sakitnya tidak bisa pergi ke sekolah, bukan?"

Meredith seketika bungkam. Refleks, tangan kanannya menarik kain seragam hingga menutupi pergelangan tangan kirinya, seolah menyembunyikan rona memar yang mulai memudar.

"Tampaknya saya harus kembali mendisiplinkan Anda. Sepulang sekolah Anda harus menebus dosa yang Anda lakukan pagi ini. Mengerti?"

"Niisan, maafkan aku"

"Diam," Cain membalas tajam. "Boneka tidak boleh bicara jika tidak diizinkan oleh pemiliknya."

Meredith tidak bisa membantah. Mata turquoise-nya hanya menatap Cain dengan nanar.

Selepas menyuapi Meredith, Cain menyiapkan kotak bekal dan menyusun beberapa potong roti di dalamnya. Sembari mengambil payung warna transparan karena hari sedikit mendung, Cain menggamit tangan Meredith lembut, menemaninya menuju sekolah. Di sepanjang jalan, orang-orang tampak membicarakan mereka. Sosok keduanya yang terlihat nyaris sempurna mampu menarik perhatian setiap penduduk Dentora dengan mudah. Terlebih, café Mag Mell yang dikelola oleh Cain cukup terkenal hingga hampir ke seluruh penjuru kota – membuat keduanya semakin dikenal sebagai kakak-beradik yang rupawan.

Figur misterius yang dimiliki oleh Meredith juga tak luput dari pembicaraan orang-orang sekitar. Wajah cantik layaknya boneka Perancis namun tampak sendu itu mustahil tidak mampu membuat para pemuda berdebar. Orang-orang juga berspekulasi tentang jarangnya ia terlihat, bahkan untuk membantu di Mag Mell pada saat ramai pelanggan sekalipun. Namun, mereka tidak pernah berani mengungkapkannya pada gadis berambut panjang itu. Ia dinilai terlalu sulit untuk diajak bicara.

Berjalan diiringi tatapan penduduk sekitar selalu membuat Meredith rikuh, oleh karena itu ia merasa lega ketika gedung sekolahnya sudah terlihat di antara gerimis. Meredith melangkah menuju gerbang setelah Cain melepaskan tangannya. Setelah menyerahkan tas sekolah Meredith, Cain pun berlalu setelah tersenyum sekilas. Meredith menatap pemuda dengan payung warna transparan itu hingga menjauh, lalu beranjak menuju kelas.

Sudah menjadi hal yang biasa pula bagi gadis berambut hitam sepunggung itu untuk mendengar puja-puji dari teman-teman sekelasnya mengenai Cain, terutama dari teman-teman perempuannya. Betapa tampan pemuda itu atau betapa beruntungnya Meredith memiliki kakak sekeren dia, itu yang kerap mereka utarakan. Mereka juga berpendapat bahwa Meredith begitu bernasib baik karena setiap hari bisa menikmati dessert yang tersaji di Mag Mell secara gratis, atau dibawakan bekal makan siang ala Barat, atau diantar-jemput ke sekolah oleh Cain. Mereka benar-benar iri dengan Cain dan Meredith – sosok yang mereka khayalkan bagai ksatria dan tuan putri dalam dongeng.

Meredith sudah kenyang dengan pujian dan kata-kata manis yang mereka sampaikan tanpa paham kebenaran sesungguhnya – dongeng busuk yang terkubur di balik sebuah 'kenikmatan surgawi'.


Memento mori. Setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Aku sudah mengetahui dengan pasti bahwa suatu hari kematian akan menjemputku, cepat atau lambat. Meskipun aku takut menghadapinya, aku tak akan bisa berkelit. Begitulah yang diajarkan kepadaku dan niisan sejak kami masih kanak-kanak. Dengan mudah, kalimat yang berulang kali dikatakan oleh okaasan itu terinternalisasi di pikiranku.

Aku tidak pernah menduga bahwa masa mudaku sebagai seorang gadis remaja berusia 18 tahun – yang seharusnya sedang bingung-bingungnya memilih pakaian dan riasan yang sesuai untuk berkencan – menjadi kelam legam seperti yang kualami saat ini. Bukan, bukan kematian. Meskipun kurasa ini lebih buruk dari yang namanya mati.

Manusia memang tidak pernah membuat asumsi yang berseberangan dengan persepsi mereka. Banyak orang yang menyangka hidupku tanpa cacat, dengan niisan sebagai ksatria pelindung yang selalu berada di sisiku. Mungkin itu memang benar. Walau bagaimanapun, aku pernah menganggap niisan sebagai satu-satunya hal baik yang terjadi dalam hidupku.

Tumbuh di dalam keluarga yang disharmonis membuatku akrab dengan pertikaian dari hari ke hari. Sedari kecil, seluruh hidupku selalu dipenuhi oleh tekanan. Otoosan, adalah seseorang yang sangat keras dan selalu menuntut kesempurnaan. Tak jarang ia akan menghujaniku dengan berbagai hinaan, celaan, segala sesuatu yang membuatku merasa rendah diri bila aku melakukan sesuatu yang salah. Tidak cukup sampai disitu, otoosan akan memukul – tidak jarang sampai berdarah-darah – tubuh niisan jika ia membantah perintah otoosan, meskipun niisan adalah sosok yang dapat melakukan segala sesuatu dengan sempurna, sesuai dengan harapan otoosan. Okaasan juga tak luput dari tamparan dan cercaannya. Jika hal itu terjadi, aku hanya bisa bersembunyi di balik tirai dan menangis. Kututup mata dan telingaku erat-erat. Aku tidak sanggup mendengar suara mereka.

Niisan adalah anak pertama dalam keluargaku. Bertubuh tinggi dan berwajah tampan, sontak ia menjelma bagaikan sosok pangeran berkuda putih dalam buku dongeng yang biasa kubaca ketika kecil. Ia juga cerdas dalam segala bidang dan memiliki tutur bahasa yang sangat santun. Kepiawaiannya dalam meracik hidangan jenis apapun tidak diragukan sama sekali. Tak heran, sejak kecil niisan dianggap mampu memenuhi harapan otoosan yang begitu perfeksionis. Beda denganku yang sepertinya sangat suka mengacau dan berbuat onar – hanya menjadi bayang-bayang kelam dari sosok niisan yang begitu menyilaukan. Aku adalah awan mendung yang mengganggu kehadirannya sebagai serein, hujan berintensitas ringan yang seringkali turun ketika langit tanpa awan selepas matahari terbenam.

Namun ia tidak pernah menanggapku sebagai seorang pengganggu – yah, setidaknya begitu yang ia katakan – sekalipun aku mengacau di Mag Mell, café penyaji makanan penutup yang dikelola oleh niisan. Ia akan memarahiku, tentu saja, tapi beberapa menit kemudian ia akan meminta maaf dan mengacak rambutku lembut dengan tangannya yang hangat. Aku sangat menyukainya. Ia selalu memperlakukanku seperti seorang tuan putri, bahkan menyebutku secantik boneka Perancis. Rasanya aku jadi tidak perlu memiliki pacar seperti gadis-gadis seusiaku.

Seringkali ia mampu membuat jantungku berdebar, padahal aku tahu pasti kalau kami berdua adalah saudara sedarah. Aku senang ketika perhatian niisan hanya tertuju padaku. Ketika ia berjalan di sisiku, aku akan menggenggam tangannya sembari mengawasi sosoknya. Aku selalu merasa kesal ketika melihat orang-orang, terutama teman-teman sekelasku yang mencoba mencuri perhatian niisan. Ya, aku tahu niisan memang tampan, tapi jangan memandangnya dengan tatapan manja seperti itu!

"Kamu terlalu memonopoli kakakmu, Meredith," keluh salah satu temanku suatu hari.

"Maksudmu?" balasku dengan pertanyaan.

"Yah… kamu selalu bersikap buruk pada orang yang mencoba mendekatinya," imbuhnya. "Seperti memasukkan obat pencahar ke dalam hidangan yang mereka makan."

Aku mengetukkan jemariku ke bibir, sembari mengingat kejadian bersejarah dua hari silam. Saat itu dua orang gadis dari kelas sebelah datang ke Mag Mell. Aku masih ingat mereka memesan blueberry tart berukuran besar. Melihat sosok niisan yang tengah melayani pelanggan, mereka berdua mulai mengambil foto dengan ponsel dan berusaha menarik perhatian niisan – seperti pura-pura tidak sengaja menjatuhkan makanan mereka. Aku yang menyadari hal itu tentu saja geram, kemudian menyelinap ke dapur dan membubuhkan obat pencahar ke adonan dessert pengganti yang mereka pesan. Belakangan niisan mengetahui tingkah usilku dan memarahi diriku yang dinilai ceroboh. Entah kenapa lantas beredar kabar di sekolah mengenai hal tersebut, sehingga teman-teman sekelas menjadi gempar.

"Apa-apaan… Aku tidak paham apa yang kau bicarakan," kataku membela diri. Lagipula, gadis-gadis itu tidak pantas untuk berada di sisi niisan. Niisan millikku seorang, tidakkah kalian mengerti? Aku tidak sudi berbagi niisan dengan orang-orang seperti kalian!

"Bagaimana jika kelak kakakmu memiliki kekasih, Meredith? Apa kau juga akan memusuhinya?"

"Niisan tidak boleh memiliki gadis spesial tanpa persetujuanku. Pokoknya hal itu tidak akan terjadi," jawabku mantap.

"Dasar brother complex." Begitu konklusi temanku, yang tidak bisa kubantah. Karena walau bagaimanapun, dan meski aku sadar bahwa kami berdua adalah saudara, aku selalu bisa mendeskripsikan niisan sebagai cinta pertamaku, cinta sejatiku. Cinta pertama yang aku tahu tidak akan pernah bisa kumiliki.

Tapi, seperti tuan putri dalam dongeng pada umumnya, perjalananku untuk sekadar mendapatkan perhatian sepenuhnya dari cinta sejatiku tentu tidak akan semulus yang dibayangkan.

"Sudah menunggu lama?"

Aku menatap lelaki yang berusia dua tahun diatasku itu. Ia berdiri di hadapanku. Bibirnya menyunggingkan senyum ramah yang kukenal. Payung warna transparan tergenggam erat oleh jari-jemarinya. Aku membalas senyumnya.

"Baru sepuluh menit."

Ia menggamit tanganku lembut. "Ayo pulang."

Sore itu niisan menjemputku seusai sekolah seperti biasanya. Aku menggandeng tangan kirinya yang hangat dengan sukacita – tangan yang tidak ingin kusentuh sehari setelahnya karena melihat apa yang ia lakukan pada tubuh okaasan. Merayunya, memeluknya, menciumnya… hal-hal menjijikkan yang tidak bisa kusaksikan lebih jauh karena aku terlanjur menangis sambil memuntahkan semua isi perutku. Kakak yang kucintai seumur hidupku adalah seorang penderita oedipus complex.

"Jangan sentuh aku!" jeritku ketika niisan menghampiriku dan ingin mengacak rambutku.

"Meredith, ada apa?" tanya niisan, raut wajahnya tampak bingung. "Apakah saya melakukan kesalahan?"

"Kumohon, menjauh dariku," jawabku dengan air mata memenuhi pelupuk mataku. Aku meninggalkan rumah, menginap di kediaman sahabat karibku selama beberapa hari. Rasanya aku ingin melarikan diri dari semua orang di rumah. Sayangnya, sahabatku memilih untuk mengambil tindakan yang sama sekali tidak bijak dengan memberitahukan keberadaanku pada niisan – yang mencariku ke mana-mana semenjak aku kabur dari rumah. Aku pun dibawa pulang tanpa punya kesempatan untuk menolak.

Aku memasuki rumah dengan ragu. Niisan tersenyum dan menggamit tanganku – seolah menyambutku dengan penuh kehangatan, tapi aku menghindarinya. Aku tidak ingin kecewa dan terjatuh semakin dalam ke perangkap manisnya. Raut wajah niisan – untuk pertama kalinya dalam hidupku – berubah dingin. Aku langsung berlalu ke ruang keluarga dengan terburu-buru.

Ruang keluarga begitu sepi malam itu. Tidak tampak sosok otoosan maupun okaasan. Aku berjalan mengelilingi rumah, namun tetap tidak menemukan mereka. Sensasi dingin merasuki tulang belakangku ketika niisan menepuk pundakku dari belakang.

"Makanlah dulu, Meredith. Saya sudah mempersiapkan semuanya."

Aku menelan ludah dan melangkah menuju ruang makan. Aku tidak pernah melihat hidangan sebanyak itu seumur hidupku, seperti sedang diadakan jamuan untuk menyambut kedatanganku. Tidak, tentu saja itu hanya khayalanku belaka. Seperti biasa, niisan membuat semuanya dengan sempurna – mulai dari hidangan pembuka sampai makanan pencuci mulut. Aku langsung tergugah untuk mencicipi semuanya.

Sup dengan irisan daging yang menjadi main course benar-benar menyita perhatianku. Kaldu yang kental membuat citarasa yang dikeluarkan oleh daging tersebut semakin kuat. Tanpa sadar, aku sudah menghabiskan mangkuk yang pertama. Masakan buatan niisan memang selalu jadi kelemahan mutlak bagiku. Niisan tertawa kecil melihatku makan dengan lahap.

"Apakah dagingnya lezat?"

Aku hanya mengangguk, sembari menyeruput kaldu yang tersisa.

"Syukurlah. Tampaknya Anda menyukainya," tutur niisan.

Setengah tidak mendengarkan, aku sudah siap untuk menyantap semangkuk sup lagi. Meskipun aku sedang marah pada niisan, tapi masakan yang dibuatnya memang tiada duanya.

"Pelan-pelan, Meredith. Dagingnya tidak akan lari," ia berkata lembut. "Saya sudah memastikan semuanya mati."

Aku tertegun. Perlahan genggamanku mengendur dan sendok di tanganku terjatuh. Firasatku buruk. Benar-benar buruk.

"Niisan."

"Ya, Meredith?"

"Daging apa ini?"

Senyum niisan melebar sementara kedua matanya menyipit, membuat rasa cemasku memuncak.

"Di mana otoosan dan okaasan?" tanyaku ngeri.

Tanpa kuduga, niisan tertawa renyah mendengar pertanyaanku. Ia tertawa begitu keras sampai-sampai membuatku bangkit dari kursiku.

"Niisan, jawab aku!" seruku. "Di mana otoosan dan okasaan?"

"Mereka ada di sini, Meredith," niisan menyeka air mata yang keluar dari pelupuk matanya karena terlalu banyak tertawa.

"Jangan bercanda, niisan."

"Saya tidak bercanda, mereka memang ada di sini," niisan melanjutkan kata-katanya dengan sebuah pernyataan mengejutkan, "kita sedang menyantap mereka. Bukankah rasanya lezat?"

Seketika aku tersedak. Perutku terasa berputar-putar. Mual. Aku memuntahkan semua yang kumakan. Makanan yang belum sempat dicerna itupun mengotori lantai kayu yang kupijak. Kututup mulutku, tak percaya pada apa yang baru saja kudengar dari mulut niisan. Air mata berderai membasahi pipiku.

Pernah aku merasa ingin membunuh otoosan karena kepedihan yang ia torehkan kepadaku, dan merasa okaasan pantas mati karena berhubungan seksual dengan putranya sendiri tapi aku tahu pasti bahwa aku terlalu pengecut untuk melakukannya. Aku pernah berdoa pada Tuhan – hampir setiap hari – untuk mengambil nyawa keduanya sesegera mungkin. Sekarang aku sedikit menyesal kenapa Tuhan mengabulkan permohonanku begitu cepat, dengan cara yang sama sekali tidak pernah kuduga.

"Niisan... bagaimana bisa..."

"Meredith, Anda menodai lantai kayu yang baru saya sikat," niisan mengaduh, mendekatiku. "Saya jadi harus membersihkannya kembali. Melelahkan sekali."

Aku memunggungi niisan yang mendekatiku, tak kuasa untuk melarikan diri. "Kau pembunuh..."

"Meredith, jangan membuat saya terdengar kejam begitu," ia berbisik tepat di telingaku. "Akuilah. Bukankah itu sebenarnya yang Anda inginkan?"

Aku terpaku. Kepalaku terasa penuh.

"Anda egois sekali, Meredith menyelamatkan diri sendiri. Saksi mata seharusnya tidak boleh dibiarkan bebas, Anda tahu? Anda seharusnya bersyukur bukan daging Anda yang berada dalam sup ini sekarang."

Napasku tercekat. Apakah itu berarti niisan tahu kalau aku memergoki hubungan terlarangnya dengan okaasan?

"Kenapa kau melakukan semua ini?"

Niisan menatapku dengan ekor matanya. "Maksud Anda?"

"Okaasan. Kenapa kau tega melakukan hal sekejam ini padanya?"

"Okasaan tidak mau meninggalkan pria tua itu. Cintanya pada orang yang tega berbuat kasar padanya itu sangat besar sehingga membuatnya buta. Perempuan bodoh," ucap niisan. "Saya tergila-gila padanya, tapi ia sama sekali tidak mengindahkan perasaan saya. Karena itu saya membunuhnya dengan cara ini memutilasinya dan memakannya potongan tubuhnya sampai habis. Dengan begitu okaasan akan hidup di dalam diri saya selamanya."

Tubuhku gemetar. Niisan seolah berubah menjadi sosok yang sama sekali tidak kukenal. Ke mana sosok serein yang tidak pernah membenci awan mendung itu?

"Niisan," panggilku dengan suara parau.

"Ya?"

"Apakah kau akan membunuhku juga?

Niisan tertawa. "Tentu saja tidak. Saya akan selalu menjadi ksatria pelindungmu."

"Kau… kau berjanji?" tanyaku penuh harap, mengulurkan jari kelingking kananku yang gemetar kepada niisan – seperti yang selalu kulakukan sejak kami masih kecil.

"Janji," niisan menautkan kelingkingnya di jemari mungilku. "Saya mencintai Anda, Meredith."

Perasaanku campur aduk mendengarnya. Bahagia. Benci. Takut. Semua jadi satu.

"Aku juga mencintaimu, niisan."

"Sungguh?"

"Sungguh," kataku, tidak bisa mengontrol air mata yang mengalir di pipiku. "Kau adalah kakakku. Aku sangat mencintaimu."

"Kalau begitu saya mempersiapkan sesuatu yang lebih istimewa untuk Anda."

Rasa sakit yang luar biasa membuatku ambruk seiring dengan hentakan gagang pisau di tengkorak kepalaku. Hampir tidak sadarkan diri, aku bisa merasakan darah yang hangat membanjiri pelipisku. Di saat aku tidak kuasa melawan, niisan memasang untaian rantai di sekeliling leherku. Ia menggenggam ujung rantai tersebut dengan angkuh, seolah-olah nyawaku berada di tangannya.

"Mulai hari ini, Anda adalah boneka milik saya. Saya tidak akan mengizinkan Anda untuk beranjak dari sisi saya. Dengan cara ini saya akan melindungi Anda dari tangan-tangan kotor manusia. Mengerti, Meredith?"

"Tapi"

"Tidak ada tetapi. Jangan bergerak atau mengeluarkan suara tanpa persetujuan saya."

"Niisan–"

"Dan satu lagi..." niisan menarik blindfold hitam ke arah mataku. "Boneka tidak boleh memuntahkan masakan buatan pemiliknya."

Otoosan, okaasan, ternyata ada yang lebih mengerikan dibandingkan kematian.

Kegelapan tanpa akhir.


Kurapika melangkahkan kakinya menapaki Dentora seorang diri. Tanpa mengindahkan kata-kata Kuroro yang berspekulasi bahwa Kurapika tidak perlu melakukan apa-apa agar Cain menyerahkan bola mata suku Kuruta, ia tetap keras kepala untuk berbicara empat mata dengan pemuda yang begitu terobsesi dengan kisah 'Alice in Wonderland' itu. Dengan mantap, ia membuka pintu kayu yang menghiasi Mag Mell hingga menimbulkan dering lonceng.

"Selamat datang di Mag Mell," Cain menyapanya dengan senyum sumringah. "Alice-san? Suatu kejutan Anda kembali berkunjung ke sini."

"Cain," Kurapika berkata cepat. "Aku butuh bantuanmu."

"Ada apa?" Cain tampak kebingungan melihat ekspresi Kurapika yang nyaris datar.

"Bisakah kita berbicara berdua saja?" ujar Kurapika mendesak. "Di sini terlalu ramai."

Melihat tatapan serius di mata Kurapika, Cain kemudian menggiring pemuda bertubuh ramping itu ke bagian café yang tidak dipadati pengunjung. Mereka bisa berbicara dengan leluasa di sudut ruangan tersebut.

"Anda ingin meminta bantuan saya? Mengenai hal apa?"

"Cain, kau percaya dengan sihir, bukan?" Alih-alih menjawab, Kurapika malah balik mengajukan pertanyaan.

"Tentu," balas Cain. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya sangat mempercayai kekuatan magis."

"Begitu pula dengan diriku," kata Kurapika, setengah berbohong. Bahkan orang yang sekali berbicara dengannya akan paham bahwa Kurapika adalah orang yang sangat mengedepankan logika. "Kau masih ingat dengan batu pendeteksi bola mata merah yang pernah kuceritakan?"

"Jadi semua ini tentang bola mata merah yang sedang Anda cari?" Cain menyimpulkan dengan segera. "Mohon maafkan saya, Alice-san. Hingga sekarang saya belum menemukan benda tersebut di Mag Mell."

Kurapika menghela napas kecewa. "Kau tahu, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi di Dentora. Aku harus segera pergi dan mencari bola mata merah di lokasi berikutnya. Waktuku semakin menipis."

"Saya mengerti," Cain mengangguk. "Jika begitu, bantuan seperti apa yang bisa saya tawarkan?"

"Bisakah kau membiarkanku mencarinya sendiri?"

Alis Cain terangkat. "Maksud Anda?"

"Aku ingin mencari bola mata merah itu sendiri, di Mag Mell – yah, jika kau tidak keberatan," suara Kurapika terdengar semakin samar. Ia sendiri ragu Cain akan memberinya izin untuk berbuat selancang itu.

"Wah, benar juga." Cain tiba-tiba memandang Kurapika dengan wajah ekspresif. "Itu gagasan yang sangat bagus. Entah kenapa saya tidak memikirkannya sebelumnya. Tentu saja boleh. Terlebih, saya akan sangat senang jika dapat berinteraksi lebih dekat dengan Anda, Alice-san."

Kurapika memutar bola matanya. Mendengar kata-kata Cain, lelaki berwajah 'cantik' itu menjadi ragu apakah ide yang dikemukakannya itu tidak akan membawa masalah kepada dirinya. Masalahnya, pemuda yang tengah duduk di hadapan Kurapika itu begitu terobsesi dengan figurnya yang menyerupai tokoh Alice dalam sebuah dongeng. Ya, setidaknya itulah yang ada di pikiran Cain.

"Saya akan memperbolehkan Anda untuk mencarinya, tapi dengan satu syarat," Cain melanjutkan sembari mengangkat jari telunjuknya. "Anda harus mau menerima tawaran makan malam dengan saya."

Hampir saja Kurapika terjatuh dari kursinya. "Apa katamu?"

"Saya ingin mengajak Anda makan malam," Cain mengulangi permintaannya. "Malam ini juga boleh. Bukankah Anda bilang ingin segera pergi dari Dentora secepatnya?"

"Ya…" Kurapika tidak bisa menolak. Menilai dari kepiawaiannya menyuguhkan makanan penutup, Cain sepertinya bukan koki yang buruk. "Baiklah. Malam ini kurasa tidak masalah."

"Suatu kehormatan bagi saya jika Anda bersedia mencicipi masakan buatan saya," tutur Cain senang. "Wah, mohon maafkan saya – tidak menawarkan apapun untuk Anda. Bagaimana dengan secangkir teh? Saya traktir."

Kurapika mengangguk samar. "Terima kasih."

Cain berlalu ke dapur untuk membuat teh. Sesaat kemudian ia menghampiri Kurapika dengan teh beraroma wangi di tangannya.

"Chamomile tea," Cain berucap. "Silakan dicoba. Sangat baik untuk kesehatan."

Kurapika meneguknya perlahan. Atmosfer menenangkan terasa melingkupi seluruh tubuhnya. Hangat. Bahkan secangkir teh dapat memberikan suasana yang berbeda ketika Cain yang membuatnya. Seperti sihir.

"Kau luar biasa, Cain," ujar Kurapika. "Bagaimana caranya kau bisa membuat teh seenak ini?"

"Alice-san, apakah Anda tahu, banyak sekali orang yang tidak bisa makan jenis makanan tertentu karena tidak suka. Sebagian besar dikarenakan penyajian makanan yang keliru," Cain menjelaskan sambil tersenyum. "Saya adalah orang yang mencintai makanan. Karena saya mencintai makanan dan proses pembuatannya, saya akan berusaha untuk mengeluarkan citarasa terbaik dari setiap bahan dan menyajikannya dengan sempurna. Dengan begitu, orang yang tadinya tidak menyukai suatu makanan pun pada akhirnya bisa menghargai makanan tersebut. Itu saja. Apakah Anda mengerti?"

"Singkatnya, itu karena rasa cintamu terhadap makanan, begitu bukan?"

"Benar," tukas Cain mantap. "Dan juga, karena saya mencintai makanan, saya sangat membenci orang-orang yang membuang-buang makanannya. Bukankah itu ironis, Alice-san? Anda tentu paham bahwa tidak sedikit pula orang yang tidak mampu menikmati makanan karena tidak memiliki uang, atau mungkin alasan lain, padahal mereka menginginkannya."

Kurapika seolah melihat sisi lain dari pemuda bergaya visual-kei dihadapannya. Ternyata ia bukan sekadar maniak kisah dongeng sebelum tidur yang sangat tidak sesuai dengan usianya itu. Kata-kata Kuroro terngiang di benak Kurapika, bahwa Kurapika terlalu cepat mengambil kesimpulan terhadap orang yang ditemuinya, padahal masih banyak jawaban dari teka-teki yang menunggu untuk ditemukan.

"Saya tidak melihat si Kelinci Hitam yang kemarin datang bersama Anda," tutur Cain, ketika Kurapika menghabiskan tehnya. "Apa kalian berdua sedang bertengkar?"

"'Kelinci Hitam'?" Kurapika merasa sedikit asing dengan julukan yang diberikan oleh Cain tersebut. "Ah, maksudmu Kuroro – pemuda berambut hitam yang mengenakan setelan itu? Dia sedang tidak bisa bangun dari tempat tidur karena sakit perut."

Tentu saja Kurapika berbohong. Kamar Kuroro telah kosong bahkan sebelum Kurapika terjaga tadi pagi. Entah ke mana lelaki berusia 26 tahun itu pergi. Sama sekali tidak ada jejak yang mampu menggambarkan keberadaannya.

"Terima kasih atas bantuanmu, Cain," kata Kurapika. "Aku akan datang ke Mag Mell sekitar pukul tujuh, tentunya jika kau tidak keberatan."

"Akan saya nantikan," Cain tersenyum tulus. "Pasti Anda akan terlihat manis dalam balutan gaun malam."

Kurapika – sekali lagi – harus menahan dirinya agar tidak menghunjamkan Judgement Chain miliknya ke jantung Cain.

"Kalau begitu aku mohon diri dulu." Kurapika bangkit dari kursi, sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Sampai jumpa nanti malam," Cain seolah menambahkan, seraya mengantar Kurapika menuju pintu depan dan melambaikan tangan ke arahnya – membuat lelaki bermata biru safir itu tersenyum simpul.

Kurapika pun kembali ke kamar sebuah penginapan yang sedari hari kemarin ditempatinya. Setengah terperanjat karena menemukan kamarnya tidak terkunci, ia menghela napas lega di dalam hati ketika melihat Kuroro Lucifer duduk di tepi tempat tidurnya, memandang ke arahnya dengan tatapan multitafsir.

"Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?" Spontan, pertanyaan itu yang keluar dari mulut Kurapika.

"Kunci cadangan," Kuroro menyahuti. "Aku membuat duplikatnya begitu aku menerima kunci ini dari pemilik penginapan, jadi aku bisa masuk ke kamarmu kapan saja."

"Apa-apaan kau ini…" Kurapika mendengus. "Darimana saja kau seharian ini?"

"Hanya berkeliling." Lalu disambung dengan seringai nakal, "Kenapa? Kau merindukanku?"

"Sama sekali tidak," Kurapika menggeleng cepat. "Aku ada urusan nanti malam. Kau bisa menemukanku di café Mag Mell jika kau perlu sesuatu."

"Aku sudah tahu."

Kurapika mengernyitkan dahinya. "Apa katamu?"

"Aku sudah tahu," Kuroro mengulang kata-katanya. "Tapi kau pergi menemui pria pemilik café itu dan meminta bantuannya untuk menemukan bola mata sukumu, bukan?"

Kurapika terdiam. "Kau mengikutiku?"

"Kau kira aku akan membiarkanmu berbuat gegabah? Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu melakukan apa-apa untuk mendapatkan bola mata merah itu?" Kuroro membombardir Kurapika dengan pertanyaan bertubi-tubi. "Apakah sulit bagimu untuk sekadar duduk diam dan menunggu?"

"Jangan memerintahku," balas Kurapika tajam. "Aku bisa melakukan apa saja yang menurutku benar. Aku juga tidak akan melarangmu untuk berbuat sesuka hatimu."

"Benarkah?" Kuroro bangkit dari duduknya, tiba-tiba menarik paksa lengan Kurapika dan menghempaskannya ke tempat tidur. "Akan kita lihat apakah kau masih bisa mengatakan hal yang sama setelah ini."

Kurapika meronta ketika Kuroro merengkuh tubuhnya, tetapi kekuatan Kuroro yang lebih besar membuatnya tidak berdaya.

"Tatap mataku," suara Kuroro terdengar tepat di telinga Kurapika. "Apa kau benar-benar yakin akan membiarkanku berbuat semauku? Apa kau tidak akan menghalangiku untuk mencuri, membunuh, melakukan semua hal yang kau larang untuk kulakukan selama ini?"

"Lepaskan tangan kotormu dariku!" Kurapika berteriak dengan napas tertatih. "Atau aku akan membunuhmu, sekarang juga!"

"Bahkan menjamahmu sepuas hatiku, lalu meninggalkanmu seorang diri di sini – kau akan memperbolehkanku melakukan itu?"

"Kau gila, Kuroro Lucifer," Kurapika nyaris kehabisan suara. "Jangan. Hentikan. Kau tahu kita berdua laki-laki."

"Jangan bercanda, kau masih menstruasi, 'kan?" Kuroro tersenyum sinis. "Bukankah sudah kukatakan bahwa aku akan memperlakukanmu sebagai seorang perempuan ketika kau berada dalam konsekuensi kutukanmu? Ayolah, Kuruta, aku hanya melakukan hal yang kuanggap benar."

"Dan apakah kau keberatan jika aku juga melakukan hal yang kuanggap benar – seperti menusukkan satu lagi Judgement Chain ke jantungmu dan membuatmu mati seketika?" ancam Kurapika.

Seringai Kuroro semakin melebar. "Menarik," ucap Kuroro. "Tapi dalam keadaan benar-benar terpojok seperti ini, apakah kau bisa melakukannya?"

Kurapika menatap mata biru gelap itu – yang balik menatapnya dingin. Perasaan inferior seolah merayapi tubuhnya yang seketika kaku. Mirip seekor kupu-kupu mungil yang terjerat dan hanya mampu pasrah, menunggu laba-laba datang dan memangsanya. Tidak ada jalan keluar. Ia tidak bisa berbuat apa-apa di dalam perangkap maut seorang Kuroro Lucifer.

Kurapika menggigit bibir bawahnya ketika merasakan hembusan napas Kuroro di lehernya. Perlahan, Kuroro mengecup kelopak mata kirinya, kemudian kelopak mata kanannya – membuatnya merasakan sensasi aneh – seperti ada sesuatu yang menggelitik di bawah kulitnya. Melihat reaksi Kurapika yang begitu kaku, Kuroro berhenti – sejenak terpaku menatap perubahan warna di mata Kurapika. Merah menyala, seperti langit di waktu fajar.

"Kuruta," panggil pemuda berambut hitam itu dengan suara datar. "Kau marah karena aku memperlakukanmu seperti ini?"

Kurapika tidak menjawab, hanya warna merah di kedua bola matanya yang bertambah terang.

"Baguslah," Kuroro tertawa kecil. "Berarti kau masih menyisakan dendam untukku."

Kurapika menatap Kuroro heran, terlebih ketika Kuroro tiba-tiba beranjak dari tubuhnya dan berbaring di sebelahnya – seolah kehilangan minat untuk melanjutkan lebih jauh.

"Sudah kukatakan 'kan, perjalanan ini tidak akan seru kalau kau tidak memiliki dendam padaku lagi," ujar Kuroro. "Sama seperti yang kau lakukan tadi – menyerah begitu saja ketika aku menyerangmu."

"Brengsek kau–"

Kuroro membiarkan Kurapika melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arahnya. Meskipun sang Danchou mampu menangkis pukulan tersebut, namun ia memilih untuk tidak melakukannya.

"Nah, begitu," Kuroro berkata dengan tenang, meskipun darah segar mengucur dari mulutnya. "Seharusnya kau tadi bersikap seperti itu. Jangan diam saja."

Mata merah Kurapika berubah nanar, menunjukkan betapa marahnya lelaki Kuruta itu. "Aku bukan mainanmu. Kau boleh bersikap seenaknya tapi jangan libatkan aku. Kalau saja aku tidak membutuhkanmu, aku pasti sudah menghabisimu sekarang juga, bajingan."

"Baiklah, baiklah. Aku hanya ingin memastikan apakah kau masih menyimpan dendam sukumu terhadap Gen'ei Ryodan, terutama kepadaku sebagai pemimpin pembantaian waktu itu. Dan aku paham sekali dengan tipikalmu. Kau harus didesak seperti tadi," Kuroro seolah berdalih. "Tapi, bukankah kau juga senang, Kuruta – mengetahui bahwa dendammu pada kami sama sekali belum berkurang?"

Tersentak, pikiran Kurapika melayang tatkala bola matanya tidak berubah warna ketika Kuroro mengungkit soal kedua orang tuanya tadi malam. Lelaki berparas 'cantik' itu marah – tentu saja, tapi tubuhnya sama sekali tidak mengekspresikan kemarahan itu sebagaimana biasanya. Bahkan sekadar semburat warna merah saja sama sekali tidak muncul pada iris mata Kurapika yang cemerlang. Tetapi, ketika ia berada dalam keadaan 'tertindas' seperti tadi, amarah itu kembali muncul, dan tentu saja, selalu ditujukan kepada pihak yang mencoba menguasai dirinya.

"Kuruta," Kuroro bersuara. "Kau harus berhati-hati. Jangan seenaknya bertindak gegabah. Walaupun kau mengatakan bahwa kau bisa berbuat seenaknya hanya berdasarkan paradigma benar atau salah versimu, kau akan menyusahkanku."

"Setelah melakukan hal senista itu padaku sekarang kau mau menceramahiku dengan kata-kata bijak. Yang benar saja," tukas Kurapika.

"Kalau kau ingin terluka dan berakhir tanpa menyelesaikan perjalanan ini, silakan saja. Tidakkah kau ingat bahwa begitu banyak orang yang menginginkan bola mata merah? Kau bisa mati konyol jika bertindak tanpa kalkulasi apapun."

"Tidak banyak orang yang tahu bahwa keturunan terakhir suku Kuruta masih hidup. Jika memang ada orang yang mengincar bola mataku, aku curiga kaulah orangnya."

Kuroro tidak bisa menahan seringai di wajahnya. "Kau masih marah padaku atas kejadian tadi?"

Kurapika hanya membisu dan mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya 'menurutmu?' dalam hati.

Setengah tertawa, Kuroro menghapus sisa darah dari bibirnya dan bangkit dari tempat tidur. "Kau benar. Mungkin orang yang paling menginginkan bola mata merah milikmu memang aku."

"Kenapa aku tidak terkejut?" balas Kurapika sinis.

"Dari semua bola mata merah yang pernah kulihat dan kuingat, milikmu adalah yang terindah," tutur Kuroro. "Karena itu, meskipun kelihatannya kau tidak peduli dengan keselamatan dirimu sendiri, jangan sampai kau mengabaikan perasaan orang lain yang bersedia berada di sisimu. Jangan salah sangka, aku bicara dari sudut pandang ketiga sahabatmu itu."

"Entahlah. Kau membuatku bingung," sahut Kurapika. "Kau bilang aku harus hati-hati dengan semua pihak yang menginginkan bola mataku, padahal monster yang memiliki hasrat terbesar untuk memilikinya berdiri hanya beberapa meter di hadapanku sekarang."

Kuroro tersenyum tipis. "Untuk saat ini kau bisa mencoretku dari daftar itu – yah, setidaknya mungkin selama aku jadi rekan seperjalananmu. Play hard to get, Kuruta. Itu lebih menarik."

"Kau memang tidak waras."

"Aku tahu. Kau yang membuatku seperti itu."

"Hentikan." Kurapika bangkit dan menghindari tatapan Kuroro yang terasa bagaikan menembus dirinya.

"Kau sungguh-sungguh ingin menemui pemilik café itu malam ini?"

"Tentu saja," ucap Kurapika mantap. "Kau kita aku akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan bola mata sukuku lebih cepat? Sudah kubilang, waktuku semakin menipis."

"Kalau begitu aku tidak bisa berbuat apa-apa," Kuroro berkata seraya mengangsurkan sebuah kotak berukuran sedang. "Untukmu. Pakailah nanti malam."

"Hah?"

"Kau mau memenuhi undangan makan malam darinya dan datang dengan pakaian asal-asalan? Setelah kuamati, selera berpakaianmu memang kacau," dalih Kuroro.

"Sesuai dugaanku, kau memang seorang stalker. Penguntit yang tidak tahu privasi orang lain."

"Stalker, ya? Menarik juga." Kuroro beranjak dari kamar dan membuka pintu.

"Kau mau ke mana?"

"Aku lapar, belum makan siang."

"Manusiawi sekali jawabanmu."

"Kuruta," bisik Kuroro sebelum meninggalkan ruangan, "berhati-hatilah."

Terdengar suara pintu ditutup rapat. Yakin bahwa Kuroro sudah lenyap dari pandangan, Kurapika membuka kotak berwarna semarak yang diberikan Kuroro padanya. Loose dress biru pastel berbahan sifon yang sempat menangkap matanya ketika mereka baru saja menjejakkan kaki di Dentora tampak terlipat rapi didalamnya, disertai dengan selembar kartu yang ditulis dengan tinta hitam.

'Sayang sekali kau akan memakainya pertama kali untuk menemui pria lain. Oh ya, pastikan kau memakai celana rangkap ketika mengenakannya, kecuali kau ingin pria itu berbuat mesum padamu. Roknya pendek sekali. Haha.'

"Kuroro Lucifer," sengal Kurapika seperti kehabisan kata-kata. "Dibandingkan denganku, kurasa kau jauh lebih abnormal."

– to be continued –


Author's Note:

Mohon maaf lahir dan batin, minna-san! Tidak terasa sudah hampir enam bulan berlalu sejak saya terakhir update. Saya benar-benar minta maaf karena mungkin mengecewakan minna-san yang sudah menunggu-nunggu kelanjutan fanfic ini. Maaf ya saya update-nya memang suka lama gini. Hehe. *author ditimpuk* Semoga ke depannya saya lebih baik lagi dalam mengatur waktu dan bisa menghadirkan chapter yang lebih berkualitas. Aamiin :)

Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Hikari, Nukumi Yuki, HiNa devilujoshi, Hika Cenna, Kuroxkura, Tefu Choi, VermieHans, ve, Silent reader, PC-chan/PrimsoneClementine, Miho Fox, Yukilluakira, cassieswift, Uzumaki Naad-chan, Nagisa, dan macaroon waffle karena sudah membaca Rain dan meninggalkan review yang sangat manis, semanis dessert buatan Cain :) Semoga tetap bersedia untuk mendukung Rain sampai akhir ya.

Sedikit curhat, ketika mengerjakan chapter ini ada beberapa part yang harus saya kerjakan di HP dan disela-sela acara keluarga karena waktu itu harus mudik Lebaran dan tidak diperbolehkan membawa laptop. *sobs* Sebenarnya saya sudah membuat target untuk menyelesaikan chapter ini maksimal akhir Juli kemarin, tapi tidak terkejar karena saya sendiri masih ngaco banget kalau soal manajemen waktu :') Minna-san punya saran untuk saya? Hehe.

Lagu-lagu dari Fujita Maiko, Aimer, SID, dan Kim Jaejoong (entah kenapa akhir-akhir ini saya selalu membayangkan dia sebagai sosok yang tepat untuk memerankan Kuroro Lucifer, terutama setelah melihatnya di MV 'Mine') membantu saya untuk menulis chapter ini. Saya juga mencoba untuk menonton serial 'Shokuzai' dan 'Hannibal', juga film 'Me and 23 Slaves' untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan Cain-Meredith. Pada dasarnya saya memang suka genre psychological thriller sih, jadi banyak mendapat inspirasi menulis dari tayangan sejenis itu :)

Oh ya, saya juga mohon maaf kalau mungkin ada beberapa pembaca yang kurang suka saya terlalu menonjolkan cerita mengenai OC saya. Saya juga belum menemukan metode lain untuk membuat minna-san lebih mengenali mereka selain menggunakan flashback. Menurut saya, tentu perlu diberikan penjelasan mengenai masa lalu dari OC yang bersangkutan agar minna-san menjadi lebih paham alasan dan sudut pandang mengapa ia melakukan sesuatu, dan menurut saya hal itu juga memengaruhi perkembangan cerita di Rain sendiri. Tapi monggo jika minna-san ingin memberikan pendapat lain. Douzo yoroshiku :)

Yah, mungkin sekian dulu cuap-cuap author yang cukup panjang ini. Doakan saya bisa update kilat ya. Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Jangan lupa untuk selalu mencintai Rain. Selamat beraktivitas, semoga hari kalian menyenangkan!

Salam,

–A.M–