Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Salam manis buat shinichi kudo-san, shirayuki nao, Poyo-chan, Lionel Sanchez Afellay, c0n4n, Jessica Kristiaji, Fujita Hoshiko, Kongming the Fierce, XXXKAWAAIIIMAYTANTAYLILJAXXXX, poppysjahbandi, Nami-chan, L-ThE-MyStEriOuS, Sakura-chaNoRuffie-chan and c-amu-isn-gie's!
shinichi kudo-san : Re-type itu ketik ulang. Nah, kalau udah selesai daftar, tunggu email konfirmasi dari FFn. Nanti setelah terima email, kamu disuruh nge-klik link aktivasi akunmu yang ada di email itu. Setelah itu akunnya baru bisa dipakai.
shirayuki nao : Ya gitu deh. Gin kan kelihatannya lebih tinggi dari Heiji dan pasti lebih berotot. Secara dia kan pembunuh. Apalagi rambut pirangnya yang panjang itu. Kalau fic Gin x Sherry, mungkin suatu saat nanti.
Poyo-chan : Yah, siap-siap aja. He he he.
Lionel Sanchez Afellay : Nggak apa. Kalau itu, masih harus bersabar dulu. He he he.
c0n4n : Nggak tahu juga ya, mereka cocok atau nggak. Cuma kelihatannya menarik aja kalau bikin mereka sebagai pasangan karena sifat mereka berdua. Para pembaca nanti bisa menilai dari cerita ini, apa mereka cocok atau nggak.
Jessica Kristiaji : Heiji agresif kalau lagi nggak sadar. He he he. Good luck remed matematikanya.
Fujita Hoshiko : Shinichi akan terus bimbang sampai hari yang ditakdirkan itu. Hari dimana cerita ini akan pindah ke section M. He he he. Yah, kalau nggak dicoba, gimana bisa tahu? Jadi nyoba dulu, baru pesimis. XD
Kongming : Nggak kok. Dia kan setengah tertidur jadi dia nggak sadar sepenuhnya. Makanya dia jadi agresif. KPU sih nggak mau dipanggil, adanya kita yang disuruh main ke kantornya.
XXXKAWAAIIIMAYTANTAYLILJAXXXX : I don't understand. What are you talking about?
poppysjahbandi : Ooo gitu. Ya udah, good luck tes SMA-nya.
Nami-chan : Heiji kan pacarnya. Pacar emang harus gitu. He he he.
L-ThE-MyStEriOuS : Memang rencananya di rumah Profesor Agasa, tapi tidak sekarang.
Sakura-chaNoRuffie-chan : Mau nulis HeiShi juga? Wah, aku tunggu banget tuh!
c-amu-isn-gie's : Penname-ku itu sebenarnya nama panggilanku sesuai pengucapannya, bukan tulisannya. Apa kamu juga begitu atau tulisannya bener-bener Enji? Waduh, aku jadi terbang nih setelah membaca komenmu. Aku harus segera turun biar bisa ngetik cerita lagi. He he he. Mari kita cintai produk-produk dalam negeri karena kalau bukan kita, siapa lagi? XD. Btw, tulisan penname-mu kalau pakai titik nggak bisa di-save sama FFn, jadi harus kupanggil siapa?
Chapter 14 sudah datang! Selamat membaca dan berkomentar!
Semalam Bersamamu
By Enji86
Tindakan Ran
Heiji merasa jantungnya hampir copot ketika dia terbangun keesokan paginya. Dia menatap Shiho yang ada di pelukannya dengan horor tapi kemudian dia sadar bahwa dia dan Shiho masih berpakaian lengkap dan Shiho masih memakai selimut sehingga dia menghela nafas lega.
"Apa yang sudah kau lakukan, Heiji Hattori? Kau seharusnya menjaga Shiho tapi kau malah memeluknya dan mengambil keuntungan darinya di tempat tidur saat dia sedang terlelap," omel Heiji pada dirinya sendiri dalam hati sambil mengamati wajah Shiho. "Tapi tubuhnya sangat lembut dan hangat, sangat enak untuk dipeluk dan wajahnya begitu cantik ketika dia tertidur," pikirnya yang sudah mulai lepas kendali setelah menatap wajah Shiho selama beberapa saat. Dia akhirnya tidak tahan dan mencium pipi Shiho dengan wajah memerah. Dia tahu dia seharusnya melepaskan Shiho dan bangkit dari tempat tidur tapi tubuhnya tidak mau menurutinya.
"Ehem," ucap Profesor Agasa yang sudah berdiri di dekat tempat tidur yang ditempati Shiho dan Heiji sehingga Heiji kembali merasa jantungnya hampir copot untuk kedua kalinya pagi ini. Dia buru-buru melepaskan Shiho dengan hati-hati agar Shiho tidak terbangun lalu bangkit dari tempat tidur untuk menghadapi Profesor Agasa. Mereka berdua berjalan ke ruang makan dalam diam.
"Profesor, aku bersumpah aku tidak melakukan apapun. Percayalah padaku," ucap Heiji sebelum Profesor Agasa membuka mulutnya.
"Lalu kenapa kau ada di atas tempat tidur dan memeluk Ai-kun?" tanya Profesor Agasa dengan nada menuduh.
"Aku juga tidak tahu. Ketika aku terbangun pagi ini, posisinya sudah seperti itu," jawab Heiji.
"Hattori-kun, aku harap kau bisa mengendalikan dirimu. Aku tidak mau kau berbuat macam-macam pada Ai-kun sebelum kalian menikah. Apa kau mengerti?" ucap Profesor Agasa dengan galak.
"Ya, aku mengerti. Maafkan aku," ucap Heiji sambil menunduk.
"Baiklah kalau begitu, sekarang aku harus siap-siap berangkat ke rumah temanku untuk mengerjakan proyek," ucap Profesor Agasa kemudian dia melangkah menuju kamarnya.
"Sepertinya aku harus mengawasi Hattori-kun dengan lebih ketat sekarang. Hah, ternyata menjadi ayah dari seorang anak perempuan itu sungguh sulit," ucap Profesor Agasa dalam hati lalu dia tersenyum. "Tapi juga sangat menyenangkan."
XXX
Shinichi mampir sebentar ke rumah Profesor Agasa untuk melihat keadaan Shiho lalu berangkat ke sekolah sementara Heiji membolos dan tetap tinggal di rumah Profesor Agasa karena dia harus memaksa Shiho istirahat. Heiji pun sekali lagi menerima peringatan dari Profesor Agasa sebelum Profesor Agasa berangkat untuk mengerjakan proyek karena dia akan tinggal berdua saja dengan Shiho di rumah.
"Heiji-kun, aku ingin laptopku," ucap Shiho.
"Tidak bisa. Kau harus istirahat," ucap Heiji.
"Tapi aku tidak bisa tidur seharian. Oh, ini sungguh membosankan," ucap Shiho dengan kesal.
"Ya sudah, bagaimana kalau kau nonton TV sambil tiduran di sofa biar kau tidak bosan?" tanya Heiji.
"Baiklah. Apa boleh buat," jawab Shiho sambil bangkit dari tempat tidurnya.
Heiji menyuruh Shiho berbaring di sofa tapi Shiho malah menarik Heiji untuk duduk di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Heiji. Heiji pun melingkarkan lengannya di bahu Shiho dan berusaha membuat Shiho nyaman.
Heiji pulang ke Osaka sore harinya setelah demam Shiho benar-benar turun dan Profesor Agasa sudah sampai di rumah. Sebelum pulang, Shiho mengecup bibirnya sebagai ucapan terima kasih sehingga senyum selalu setia menghiasi wajahnya dalam perjalanan pulang. Namun senyum itu segera lenyap begitu dia menemukan ibunya yang kelihatan marah menunggunya di depan pintu rumahnya.
"Heiji Hattori, darimana saja kau? Kazuha-chan bilang kau bolos sekolah hari ini. Dan kenapa kau mematikan HP-mu setelah mengirim SMS bahwa kau akan menginap di rumah temanmu kemarin malam? Jelaskan padaku, sekarang!" seru Shizuka ketika Heiji muncul di depannya.
"Mati aku," gumam Heiji dalam hati.
XXX
"Shiho, besok sore aku ada pertandingan sepakbola. Kau mau datang kan?" tanya Shinichi saat makan malam.
"Kenapa aku harus datang?" Shiho balik bertanya.
"Shiho, bisa tidak sih kau langsung menjawab tanpa banyak bertanya?" Shinichi juga balik bertanya dengan kesal.
"Tidak," jawab Shiho dengan cuek.
Shinichi hanya bisa menghela nafas.
"Sudahlah Ai-kun, datang saja. Kau tidak ada acara kan besok sore?" ucap Profesor Agasa.
"Yah, aku memang tidak ada acara besok sore. Baiklah kalau begitu," ucap Shiho.
"Jadi kau mau datang?" tanya Shinichi dengan wajah berseri-seri sehingga Shiho tertawa geli.
"Kudo-kun, wajahmu lucu sekali," ucap Shiho masih sambil tertawa.
"Eh?" ucap Shinichi dengan wajah memerah.
Shiho menjadi heran dengan reaksi Shinichi tapi dia tidak mengatakan apapun. Lalu mereka bertiga kembali melanjutkan makan malam mereka.
"Hei Shiho, kalau besok aku mencetak gol, apa kau akan memberiku hadiah?" tanya Shinichi saat mereka berdua sudah duduk di depan TV.
"Kenapa aku harus melakukan itu?" Shiho balik bertanya.
"Lagi-lagi kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan," ucap Shinichi kesal sehingga Shiho tersenyum.
"Ya, baiklah. Karena kemarin dulu kau sudah membelikanku jepit rambut, aku akan memberimu hadiah asal kau bisa mencetak gol yang indah," ucap Shiho.
"Benarkah? Kalau begitu aku pasti akan mencetak gol yang indah. Kau juga harus membuat makan malam yang enak ya besok," ucap Shinichi dengan gembira.
"Kau ini banyak maunya ya?" ucap Shiho dengan sedikit kesal sehingga Shinichi nyengir padanya.
"Lho, memang apa salahnya? Kau juga banyak maunya waktu aku jadi pembantu di sini," ucap Shinichi sehingga Shiho tertawa.
"Yah, kita ini memang sama saja," ucap Shiho.
XXX
Besok sorenya, Shiho duduk bersama Ran di tribun penonton untuk menonton pertandingan. Setiap Shinichi membawa bola, para fans Shinichi yang ada di sekitar mereka dan kebanyakan adalah wanita langsung berteriak histeris sehingga Shiho tersenyum geli ketika mendengarnya.
Setelah pertandingan selesai, Shiho dan Ran turun ke lapangan untuk menemui Shinichi yang berhasil membawa pulang kemenangan berkat golnya.
"Shinichi," ucap Ran sambil berlari kecil menghampiri Shinichi yang berjalan agak terpincang-pincang sementara Shiho tetap berjalan di belakangnya. "Kau baik-baik saja?" tanya Ran dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawab Shinichi sambil tersenyum menenangkan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Shiho ketika Shiho sudah sampai di depannya. "Bagaimana? Indah tidak?" tanya Shinichi.
"Indah sekali," jawab Shiho sambil tersenyum.
"Benarkah?" ucap Shinichi sambil nyengir.
"Apa kau senang sekarang setelah aku bilang begitu?" ucap Shiho sambil nyengir juga.
"Oi! Oi!" ucap Shinichi kesal.
"Uhm, Shinichi, golmu yang tadi benar-benar bagus kok," ucap Ran.
"Benarkah? Terima kasih, Ran," ucap Shinichi kembali tersenyum tapi kemudian dia melihat Shiho yang berusaha menahan tawa sehingga dia menatap Shiho dengan tajam.
Shiho yang menyadari tatapan Shinichi akhirnya mengendalikan dirinya lalu tersenyum.
"Hari sudah mulai gelap, apa kita akan pulang sekarang?" tanya Shiho untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku masih harus berkumpul dengan rekan setimku dan pelatih. Kalau mau, kau bisa pulang duluan dengan Ran," jawab Shinichi.
"Aku akan menunggumu dan pulang bersamamu, Shinichi," ucap Ran.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa di rumah, Kudo-kun. Sampai jumpa, Mouri-san," ucap Shiho.
"Oke," ucap Shinichi.
"Sampai jumpa," ucap Ran.
Shiho pun berbalik dan melangkah pergi. Kemudian Shinichi bergabung dengan rekan-rekan setimnya bersama Ran.
XXX
"Shinichi, bagaimana kalau setelah kau mandi, kita pergi makan malam bersama untuk merayakan kemenangan timmu?" tanya Ran saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Lho, bukankah kita akan merayakannya besok? Kita sudah janjian kan dari kemarin dulu kalau timku menang, besok kita akan jalan-jalan seharian?" Shinichi balik bertanya.
"Ya, memang. Tapi tidak ada salahnya kan merayakannya dua kali," ucap Ran.
"Tapi aku capek sekali hari ini jadi aku ingin makan di rumah saja," ucap Shinichi.
"Begitu ya? Kalau begitu aku akan memasak makan malam untukmu. Kita mampir sebentar ke supermarket ya untuk membeli bahan makanan," ucap Ran.
"Tidak perlu repot Ran. Kemarin aku sudah minta Shiho untuk membuatkan makan malam untukku. Lagipula kalau kau masak untukku, nanti Paman Kogoro akan mengeluh kelaparan sepanjang malam. Kasihan kan," ucap Shinichi sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu," ucap Ran lalu dia menundukkan kepalanya sehingga poninya menutupi matanya.
XXX
"Aduh, aku capek sekali," ucap Shinichi sambil berbaring di lantai ruang tengah rumah Profesor Agasa.
"Kudo-kun, mandi dulu sana. Kau membuat rumah ini jadi bau," ucap Shiho dengan kesal.
"Tapi aku capek sekali," ucap Shinichi mengeluh.
"Sudah cepat sana. Katanya kau mau makan malam yang enak," ucap Shiho.
"Baiklah," ucap Shinichi sambil bangkit dengan enggan. "Oh iya, aku harus mengambil baju bersih dulu di rumah. Hah, malas sekali," ucap Shinichi.
"Kalau kau mau, kau bisa memakai baju yang kau pinjamkan pada Heiji-kun saat Heiji-kun menginap di sini. Aku sudah mencucinya," ucap Shiho.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu," ucap Shinichi lega.
"Hei, ada apa denganmu? Sepertinya tadi kau baik-baik saja waktu di lapangan?" tanya Shiho.
"Yah, aku kan tidak bisa mengeluh kecapekan di depan semua orang," jawab Shinichi.
"Ya sudah, aku ambilkan dulu baju dan handuknya," ucap Shiho.
Tak lama kemudian, Shiho sudah kembali dengan baju dan handuk dan menyerahkannya pada Shinichi. Lalu Shinichi melangkah ke kamar mandi masih dengan kaki yang terpincang-pincang sehingga Shiho menatapnya sambil berpikir.
Setelah mandi, mereka makan malam lalu duduk di depan TV untuk menonton siaran langsung Liga Jepang. Shiho membawa kompres es dan krim otot ke ruang TV sehingga Shinichi menatapnya dengan heran.
"Engkelmu masih sakit kan?" tanya Shiho.
"Oh, mmm, tapi itu hanya cedera ringan kok. Sebentar juga sembuh," jawab Shinichi.
"Coba aku lihat," ucap Shiho sambil bergerak ke kaki Shinichi. Lalu Shiho memijat-mijat pergelangan kaki Shinichi sehingga Shinichi mendesis kesakitan.
"Apa sih yang kau lakukan?" seru Shinichi.
"Aku hanya memeriksanya. Ternyata memang hanya cedera ringan," ucap Shiho.
"Aku kan sudah bilang tadi," ucap Shinichi dengan kesal.
"Tapi meskipun begitu, kau seharusnya tidak membiarkannya begitu saja," ucap Shiho sambil mengompres pergelangan kaki Shinichi.
"Uh, baiklah," ucap Shinichi dengan agak gugup karena Shiho merawat pergelangan kakinya.
Mereka hanya berdua saja di rumah Profesor Agasa karena Profesor mengikuti konferensi sampai besok malam. Setelah mengoleskan krim otot di pergelangan kaki Shinichi, Shiho kembali duduk di samping Shinichi.
"Terima kasih ya," ucap Shinichi dengan enggan.
Shiho hanya tersenyum mendengarnya tanpa menoleh ke Shinichi. Lalu mereka berdua memusatkan perhatian mereka pada layar TV. Beberapa saat setelah pertandingan dimulai, Shiho merasakan beban di bahunya. Shiho pun menoleh dan melihat kepala Shinichi di bahunya.
"Aku capek sekali," ucap Shinichi ketika dia menyadari tatapan Shiho.
Shiho tertawa geli sehingga Shinichi menjadi cemberut dan mengangkat kepalanya dari bahu Shiho tapi Shiho meraih kepalanya dan menahannya. Shinichi pun tidak jadi mengangkat kepalanya.
"Aku tahu kau capek. Kau tidak perlu mengatakannya. Dan aku juga tidak keberatan," ucap Shiho sambil melepaskan tangannya dari kepala Shinichi.
"Uh, oke," gumam Shinichi dengan wajah merona.
Setelah itu, mereka berdua tidak bicara lagi dan menonton TV kembali. Keesokan harinya, Shinichi menemukan dirinya berbaring di sofa. Selimutnya sudah jatuh ke lantai dan dia terkejut ketika dia sadar bahwa dia memakai topi. Dia bangkit untuk duduk lalu mengambil topi itu dari kepalanya dan mengamatinya.
"Topi siapa ini?" pikir Shinichi kemudian dia teringat sesuatu sehingga dia tersenyum. "Dasar wanita itu! Dia selalu saja begitu."
Shinichi memakai kembali topi yang ada di tangannya itu lalu bangkit dari sofa dan melangkah ke dapur sambil tersenyum karena engkelnya sudah tidak sakit lagi. Dia melihat sarapan dan sebuah memo di atas meja. Memo itu ditulis oleh Shiho yang berisi pemberitahuan bahwa dia ada janji dengan Heiji di Tokyo Zoo jadi dia menyuruh Shinichi membawa kunci rumah Profesor Agasa untuk sementara jika Shinichi mau pergi. Shinichi pun hanya bisa tersenyum pahit kemudian dia mulai sarapan.
Ketika Shinichi keluar dari pagar rumah Profesor Agasa, dia bertemu Ran yang baru keluar dari pagar rumahnya.
"Ran, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shinichi.
"Aku sudah menunggumu selama setengah jam di rumah tapi kau tidak muncul juga. Lalu HP-mu juga tidak bisa dihubungi. Dan kau masih bertanya kenapa aku ada di sini?" jawab Ran dengan marah sehingga Shinichi melihat jam tangannya lalu menatap Ran dengan tatapan minta maaf.
"Maaf, maaf. Aku ketiduran dan Shiho pergi tanpa membangunkan aku. HP-ku kemarin lowbat jadi mungkin HP-ku mati," ucap Shinichi.
"Miyano-san tidak membangunkanmu?" tanya Ran dengan horor.
"Mmm. Yah, aku memang tidak bilang minta dibangunkan sih tadi malam," jawab Shinichi sambil melangkah masuk ke pagar rumahnya, sama sekali tidak menyadari ekspresi wajah Ran.
Ketika Shinichi akan masuk ke dalam rumahnya, dia menyadari bahwa Ran masih berdiri di depan pagar rumahnya.
"Hei Ran, kenapa kau berdiri di situ? Ayo, masuklah. Aku harus mandi dulu," ucap Shinichi.
Ran pun melangkah masuk ke dalam pagar sambil menundukkan kepalanya.
"Ternyata Sonoko benar. Kalau begini aku harus berbuat sesuatu," ucap Ran dalam hati.
Senin paginya, Shinichi terkejut karena melihat Ran sudah berdiri di depan pintunya sambil membawa kotak makanan. Begitu juga malam harinya. Ketika Shinichi bilang padanya untuk tidak perlu repot-repot, Ran bersikeras akan mengantarkan makan pagi dan malam untuknya sehingga dia tidak bisa menolak. Dia mengenal Ran sejak kecil dan dia tahu Ran adalah wanita yang keras kepala. Dia menelepon Shiho setelah pembicaraannya dengan Ran untuk menjelaskan semuanya dan sejak saat itu dia tidak pernah bertemu Shiho lagi walaupun mereka bertetangga karena Ran selalu bersamanya sampai malam. Dia bahkan tidak bisa lagi nonton sepakbola bersama Shiho di akhir pekan karena Ran ingin menemaninya nonton.
XXX
"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Ran bersikap seperti ini," ucap Shinichi lewat telepon setelah Ran pulang. Dia benar-benar merasa aneh karena harus menelepon tetangganya seperti ini.
"Mungkin dia ingin segera menikah denganmu," ucap Shiho dengan nada menggoda.
"Oi! Oi! Jangan bercanda. Kami masih kelas 3 SMA. Bagaimana bisa Ran berpikir kami akan menikah sekarang?" ucap Shinichi sedikit kesal.
"Yah, Heiji-kun bersikeras ingin menikah denganku beberapa bulan lalu," ucap Shiho.
"Itu kan beda kasus!" seru Shinichi.
"Tapi bukankah ini lucu? Kau tinggal di sebelah rumahku dan kau meneleponku setiap malam seperti Heiji-kun," ucap Shiho sambil tertawa kecil.
"Yeah, lucu sekali," ucap Shinichi dengan muram.
"Mungkin dia hanya ingin selalu bersamamu. Kau kan pernah menghilang selama berbulan-bulan. Mungkin dia takut kau menghilang lagi. Kau harus lebih pengertian padanya," ucap Shiho.
"Tapi kami selalu bersama di sekolah selama seharian, apa itu tidak cukup?" tanya Shinichi.
"Mungkin baginya itu tidak cukup," jawab Shiho.
Shinichi menghela nafas.
"Kau tahu, aku rindu nonton sepakbola denganmu," ucap Shiho.
"Eh?" ucap Shinichi terkejut karena pengalihan pembicaraan yang tiba-tiba.
"Aku iri padamu. Kau pasti sangat senang bisa nonton sepakbola bersama pacarmu. Profesor Agasa bukan teman nonton yang baik. Dia kurang bersemangat. Dia juga tidak bisa kuajak bertengkar," ucap Shiho.
Shinichi pun sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Ran memang ingin menonton sepakbola bersamanya dan dia gembira karena itu tapi Ran sama sekali tidak mengerti tentang sepakbola. Ran juga selalu setuju dengan semua komentarnya dan entah kenapa itu malah membuat acara nonton sepakbolanya menjadi membosankan. Shinichi pun tersenyum pahit.
"Ya, aku senang. Tapi aku juga rindu nonton sepakbola denganmu," ucap Shinichi.
"Tapi mungkin dengan begini, aku bisa berkonsentrasi pada Ran dan melupakan perasaanku padamu, Shiho," ucap Shinichi dalam hati.
Bersambung...
