Falling to You

Pairing : HoMin / YunJae / YooSu

Rate : M

Length :14 of ?

Warn : alur lambat.

Lelaki ini masih bernama Jung Yunho.

Masih.

Tampannya masih utuh. Tingginya tidak menciut.

.

.

.

Yunho hampir merusak kepalanya.

Ada satu penyakit.

Tidak lebih parah dari tumor ganas. Tidak lebih ringan dari vertigo.

Kepalanya bodoh.

Tidak ada kesalahan.

Yunho bodoh.

Harusnya dua kata itu dicantumkan pada halaman enam The Korea Times besok pagi.

Tapi tidak apa-apa. Setidaknya dia masih mengingat alamat ini.

Destinasi mengherankan yang membawanya begitu saja. Secara random.

Begitukah?

Jalan pulang berada disini?

Beginikah yang dicatat otak bawah sadarnya?

Menarik.

Yunho berjalan merambat. Padahal tidak mabuk.

Sengaja di dramatisir?

Kau pikir ini music video?

Untuk situasi tertentu alkohol tidak menjadi satu-satunya ultimate reason bagi langkah limbung. Anggap saja begitu.

Kriett.

Sepertinya pintu ini perlu diberi pelumas. Deriknya mengganggu.

Yunho masih menyeret paksa setiap langkahnya. Beringsut menyedihkan seperti seseorang yang tersedot jiwanya. Oleh dementor, barangkali.

Tidak ada satu bentuk cerminan yang mestinya ada dan terasa disini.

Semua yang menjadi seharusnya telah dibawa pergi.

Orang itu membawanya tanpa sisa.

Habis sudah dia dijungkirbalikkan.

"Fuck!"

Yunho mengumpat dengan luar biasa.

Mengulang terus menerus tanpa risih.

Ruang yang berbahaya.

.

.

.

Jaejoong membuka matanya pelan-pelan.

Tidak benar-benar tertidur.

Terhitung sejak tiga jam yang lalu.

Jiji menjilat hidungnya.

Bagaimana kucing itu bisa masuk?

Pintu terkunci, kan?

Jaejoong menarikan mata indahnya . Berpikir dengan cara paling tampan seperti biasanya.

Tangannya mengelus helai bulu lembut yang disayanginya.

Sekarang dia ingat.

.

.

.

Rasanya Jaejoong mengerti kenapa dia tidak pernah merasa bahagia.

Dia ingin semua terulang dua kali.

Saat belum membedah rahang.

Saat menaiki panggung debutnya.

Saat mencium Yunho pertama kali.

Saat Yunho belum menyebut nama Changmin.

Ini tidak bisa disebut sakit.

Tidak.

Demi segala nama Tuhan, dia tidak merasa sakit.

Jaejoong ingin tertawa.

Tertawa untuk entah kepada siapa.

What a perfect day.

Ini lima tahun anniversary hubungan dia dan Yunho tersayang.

Jiji lari dari pelukannya.

Mungkin hewan itu kesal karena didekap terlalu erat.

Jaejoong mengamati lompatan sederhana makhluk anggun yang tidak memberi solusi.

Kemudian lidahnya mengecap asin.

Payah.

Dia menangis lagi.

.

.

.

Tidak lebih baik dari gembel.

Yunho tidak tampak lebih menarik dari sudut manapun.

Lelaki itu menyentuh ujung kaos mahal yang terlihat murahan. Tidak menarik kusutnya.

Lalu membuang dengan semena-mena. Ke satu pojok untuk kemudian membentur pada frame yang setengah pecah.

Di kekacauan ini, Yunho cukup waras untuk melangkah hati-hati. Mengantisipasi pecahan beling yang mungkin ada.

Bahkan melangkah lebar pada sofa terbalik.

Si bangsat Takeshi rupanya tidak keliru.

Sakit sendirian tidak baik untuk siapa pun.

Yunho membanting tubuh setengah telanjangnya pada hamburan busa bantal yang koyak mengerikan.

Ranjang yang empuk. Buatan Amerika ya?

Yunho membentang lengan selebar-lebarnya. Begitupun kedua kakinya.

Seperti bintang laut.

Samar-samar tubuhnya merasa gatal.

Yunho berguling-guling tanpa tujuan. Lalu menatap langit-langit kamar. Mengabsen satu per satu ukiran Bohemian di sudut-sudut plafon.

Dia hanya ingin melihat apa yang diingatnya saja.

Ranjang ini sering berderit bising.

Bantal sobek ini sering basah oleh keringat yang punya.

Selimut ini sering lembab berbau menyengat.

Yunho menarik sudut bibirnya.

Selimut..

Dia menggulung tubuhnya seperti kepompong dan menciumi kain kusut itu.

Tidak bau.

"Fuck!"

Yunho mengumpat sekali lagi.

Dia ingin selimut itu bau!

Bau seperti milik yang punya.

Apa yang menghancurkan ruang matanya adalah sama dengan yang memporandakan hati tandusnya.

Jung Yunho.

Itu jawabannya.

Dan bertepuklah imaji liar. Dirinya memulai proses penghancuran sendiri.

.

.

.

Aku masih saja terkejut dengan diriku.

Ini akibatnya berusaha menjadi benar.

Rupanya memang benar.

Benar benar salah.

Menjadikan hancur sejadi-jadinya.

Mungkin sejak awal tidak masalah bila berbuat salah.

Katakanlah Changmin adalah kesalahan.

Benar, kan?

.

.

.

Junsu mengambil cumi pedasnya. Ujung sumpitnya bergerak cepat.

"telan dulu Su-ie.."

Beberapa kru yang makan bersebelahan ikut tertawa.

Kebiasaan. Makan buru-buru.

Dasar Kim Junsu..

Lampu kembali dinyalakan.

Junsu meneguk airnya lebih pelan. Sambil melihat dengan ekor matanya.

Jaejoong yang bersiap.

Tampak menawan dengan jas beludru mahal penuh bulu sintetis.

Lampu dihidupkan kembali. Cukup cepat hingga satu jepretan memulai bagian Jaejoong.

Junsu masih memperhatikan serius.

Wajah malaikat yang menghibur sekian ratus ribu penggemar.

Wajah malaikat yang menyuapkan sereal padanya pagi tadi.

Wajah malaikat yang meninggikan Jung Yunho.

Junsu mendudukkan tubuhnya pada kursi lipat yang disediakan untuknya. Secarik kertas berisi konsep untuknya diambil, tidak lupa dengan senyum jenaka hadiah bagi pegawai magang yang beruntung.

Junsu kembali menatap Si Malaikat.

Malaikat yang membuat Changmin terbirit pergi.

.

.

.

Dua..

Tiga..

Lima..

Berhenti berhitung.

Bosan dan tidak efisien.

"hei!"

Kesal singkat memakinya berkali-kali.

Yoochun merapatkan bibir.

Topi dan syal abu-abu kamuflase klasik yang dicintai segenap hati. Sangat membantu. Ironi lucu kalau saja dua gadis muda yang memaki di kejauhan tadi tahu siapa dia. Dia yang cuek menabrak terburu-buru. Mengejar penerbangan terakhir ke Suwon.

Anggaplah lompatan waktu mempercepat langkah yang dituju. Si tampan telah tiba sekiranya dua puluh meter dari yang ingin dicapai. Rumah besar di turunan landai. Penuh warna kekuningan pada halaman depan. Dari jauh benar-benar terlihat. Guguran daun lebar entah dari pohon yang bernama apa.

Yoochun berjalan pelan. Bukan meragu.

Setiap sudut tungkai kakinya menghisap semua kekuatan bumi untuk mengaplus yakin. Bahwa dia tidak akan berbalik. Kata orang, lelaki sejati harus begitu.

Suwon memberi semilir menggelitik. Efek yang cukup untuk mendatangkan Sutradara Shin kemari. Dan memulai sekuel Rooftop Prince.

Yoochun masih mengawang cabang-cabang otaknya. Batinnya mengada-ada. Mencari alasan untuk menghindar dari pemikiran yang seharusnya bercokol disana.

Ibu jarinya telah menekan bel.

Tahu-tahu saja sudah tiba setengah meter dari pintu rumah indah itu.

Yoochun menghitung ruas-ruas kayu besar antik di depannya.

Ini bukan kunjungan pertama.

Tahun lalu para penghuni rumah menyanjungnya hangat.

Hari ini..

Entahlah.

Klek.

"Yoochun.."

.

.

.

Keduanya sama terkejutnya.

Kemudian saling memetakan yang terjadi.

Yoochun mengobservasi cetakan samar-samar pada pipi di hadapannya.

"kau menangis, Su-ie?" ucapnya.

"…"

Sekawan burung gereja sesekali menukik rendah dan mematuk biji-bijian di samping dua orang ini berdiri.

Jauh dari kesederhanaan suasana, Yoochun merasa ini saatnya. Simultan otaknya telah sepakat berada pada satu hal yang seharusnya.

"aku ingin bertemu ibumu.."

Junsu mengerjap matanya. Seperti baru sadar.

Matanya masih sedikit merah.

Kenapa di saat seperti ini pria itu harus datang.

"Yoochun, ini bukan saat yang "

"…"

Yoochun berkacak pinggang. Membentur kepalan tangannya pelan-pelan pada dagunya. Dan kemudian kakinya telah melangkah menerobos Junsu.

"Yoochun! Apa yang-… kubilang pergi.."

.

.

.

Junsu menghempas udara sekuat-kuatnya.

Masih tidak terima. Secangkir teh hijau dihadapan tamu yang tidak dikehendakinya itu rasanya ingin diambil kembali. Biar saja kalau dibilang pelit.

"Bibi, aku minta maaf.."

Dua pertiga kesadaran Junsu seperti enyah. Matanya bergantian mengawasi ibunya dan lelaki itu.

Nyonya Kim menatap si tamu tak diundang dalam diam.

Hampir tidak ada suara di ruang tamu rumah keluarga itu.

"aku melakukan begitu banyak kekeliruan. Pada Junsu."

"…"

"Aku tidak akan berbohong lagi. Tahun lalu, Bibi membiarkan kami berbagi ranjang yang tidak cukup besar. Saat itu aku adalah kekasihnya.."

Junsu benar-benar hampir mati kehabisan napas.

Yoochun sialan..

"sampai saat ini, tidak peduli bagaimana aku mengacaukan segalanya.. aku hanya benar-benar mencintai Kim Junsu"

"…"

Nyonya Kim tidak bergeming. Wanita itu hanya memberi balasan pupil mata yang melebar. Persis seperti Junsu.

Yoochun merasa ini tidaklah cukup.

"Yoochun!"

Lengkingan serupa ultrasonik itu mengiring pertemuan lututnya pada permukaan permadani lembut.

Ini pertama kalinya dia berlutut.

Justru bukan pada orang tuanya sendiri. Melainkan pada ibu orang lain.

"Bibi.. entah apa yang telah dikatakan ibuku padamu.. mungkin kedatanganku bahkan tidak mampu memperbaiki apapun. Junsu tidak pernah membuat kesalahan. Akulah yang melakukannya. Aku hanya tidak pandai memberikan cinta dengan benar.."

.

.

.

PLAK!

Yoochun mengusap ubun-ubun kepala.

Pertama kalinya seseorang memukul kepalanya.

Justru bukan oleh orang tuanya. Melainkan oleh ibu orang lain.

"itu untuk meniduri anakku di rumah kami.."

PLAK!

Pukulan kedua.

"itu untuk membuat Junsu-ku bersedih.."

Junsu menatap ibunya dengan rasa tidak percaya yang tidak dilebih-lebihkan.

Thank you Yoochun!

Sekarang dia menjadi remaja tolol yang ketahuan melakukan seks pranikah.

"anakku luar biasa. Lain kali, bukan tanganku yang melakukannya.. "

"…"

"samurai milik ayah Junsu sangat tajam, kau tahu?"

Yoochun menahan oksigen di batang tenggorokannya. Dia cukup pintar menilai keseriusan. Walaupun sayangnya, tidak cukup berpengalaman untuk berbuat yang seperti itu.

"sekali kau melangkah pada Junsu kami.. artinya kau melepaskan setengah nyawamu"

Nyonya Kim tahu betul bagaimana membuang hal yang tidak perlu. Tipikal yang menyerang dengan sepenuh hati. Apalagi menyangkut sebagian nyawanya.

Tapi dia melihat dengan dua bagian hati.

Ada yang membuatnya percaya.

Pada pria muda yang membeber tamparan moral menyangkut putra kesayangannya.

Mistaken miracle?

"Junsu, antar temanmu pulang.."

Junsu menatap penuh amarah pada satu orang.

Membunuh dan masuk neraka itu.. harga mati ya?

.

.

.

Yoochun masih menghangat. Kepalanya masih utuh. Tidak ada retakan vas bunga atau benda tumpul yang tertancap. Hampir satu langkah dia menjejak keluar halaman depan,

"Yoochun, aku belum pernah bertemu ibumu"

Sepenggal kalimat perpisahan dari Nyonya Kim.

"…"

.

.

.

Flashback..

"Tuan, saya mendapat informasi kalau Nyonya berangkat ke Suwon dengan penerbangan pagi.."

Yoochun mengangkat satu alisnya.

Si asisten tampak yakin.

"untuk?"

"tidak ada jadwal formal. Aneh, karena biasanya Nyonya tidak mau berpergian tanpa tujuan. Tapi informasi mengatakan bila Nyonya akan menemui seorang teman. Dan.."

Kalimat yang sengaja ditahan, selalu saja membuat risih dan geram.

"dan apa?"

"maaf.. sepertinya ada hubungannya dengan anda, Tuan.."

Yoochun mengepal erat buku jarinya hingga memutih.

Tidak pernah ada kepentingan baginya untuk mengetahui kemana wanita itu pergi. Bertahun-tahun lewat tidak ada panggilan hati baginya untuk mencoba tertarik.

Tapi Suwon..

Rumah orang tua Junsu.

Flashback end..

.

.

.

"Park yoochun! Kau menunggui apa?"

"…"

"tidak ada piala bagimu! Cukup mempermalukanku dan menjadikan keluargaku sebagai scene drama murahan!"

Junsu mendorong bahu pria itu sekuat tenaga.

"Su-ie, mengapa kau tadi menangis?"

Desakan itu berhenti begitu saja.

Yoochun memutar pelan tubuhnya. Melingkupi Junsu dengan hujan perhatian matanya.

"bukan urusanmu.."

Reflek menahan lengan pria yang membalik tanpa minat dengannya.

Junsu menjejak marah.

"aku baru saja dari pemakaman nenekku sebelum kau datang. Apa itu masalah bagimu!"

Junsu meredakan napasnya beberapa saat. Sedikit puas setelah menyalak keras pada Yoochun.

Si Menyebalkan..

.

.

.

Junsu membuka bibirnya. Terpaksa karena dorongan yang tidak asing.

BLAM!

Bunyi bising saat dia membanting pagarnya.

Yoochun hanya tertawa. Sambil mengecap sisa-sisa rasa manis bibir yang dirindunya.

Park Yoochun masih samar-samar kesal pada ibunya. Setengah mati berlagak heroik, ternyata dia dicurangi wanita licik itu.

Tapi untuk pertama kalinya dia akan berterima kasih dalam hati.

Wanita itu membuatnya berlutut, dipukul, dan bangun.

Cinta itu ya.. Kim Junsu.

.

.

.

Jaejoong melepas apron kuning miliknya. Telur setengah matang dan secangkir kopi hangat untuknya saja. Sudah siap. Langkah pelannya menyambangi pintu depan rumah minimalis miliknya. Koran pagi pasti sudah ada dibalik sana.

Gagang pintunya memutar pelan. Tepat setelah dia membuka gerendel besi safety lock pintu halaman samping.

Benar.

Gulungan koran tergeletak pasrah setelah dilempar asal oleh agen bersepeda.

Tapi sneakers itu tidak asing.

Jaejoong mengangkat kepalanya yang sibuk menunduk sejak membuka pintu.

Jung Yunho berdiri tegak dan hanya melihat padanya saja.

.

.

.

"ini telur yang sangat matang.."

"…"

"black coffee dengan dua kreamer.."

Jaejoong meliuk menata sarapan ekstra yang baru dibuatnya.

"habiskan sarapanmu, Love.."

Satu kecupan di dahi cukup untuk membuat Yunho bergerak mengangkat gelasnya.

Satu bulan meninggalkan Jaejoong tidak membuatnya asing.

Apakah yang sebulan kemarin hanya fatamorgana?

"Boo.."

"Love, nanti siang aku ada syuting. Maaf ya tidak bisa menemani makan siang.."

Jaejoong menatapnya penuh cinta. Persis sama dengan keharusan normal mereka.

Sepertinya lelaki itu telah melewati metamorfosa abnormal untuk rasa manusia.

Jaejoong mengangkat tinggi hatinya.

Sederhanakan saja dengan penyangkalan.

Anggaplah.. tidak terjadi apa-apa.

Yunho merasa malu.

Untuk dirinya yang satu bulan bersikap hiperbolis. Seolah kutub utara bertukar tempat dengan kutub selatan…

Jaejoong bahkan telah me-refresh kepala.

.

.

.

Berbulan-bulan lewat.

Si CEO keparat masih sekeparat biasa. Mengangsur setumpuk tinggi jadwal. Sudah waktunya TVXQ memeras keringat. Saatnya berlatih koreografi. Beberapa materi baru harus direkam.

Akhir tahun ini. Batasnya adalah Christmas eve.

Minimal dua single harus menempati chart nomor satu.

Untuk yang ini Yunho mengambil banyak porsi pada vokal. Bagiannya tidak lagi melulu rap. Sepertinya banyak yang menghargai suaranya sejak berduo.

"gomawo.."

Yunho mengelap keringat di sisi lehernya. Dengan handuk kecil yang diberi Jaejoong. Ruang latihan terasa lebih sempit. Sejak kembali berlima.

Harap maklum dengan rasa lapang saat dia hanya berlatih dengan.. Ya kau tahu siapa itu, kan?

Yoochun dan Junsu bertengkar kecil di sudut ruang. Entah untuk yang ke berapa kali. Sebenarnya yang terdengar dari tadi adalah sungut protes Junsu yang mendapat formasi bersebelahan dengan Yoochun. No surprise.

Dan disela keributan tiada henti, tidak tahu siapa oknumnya.. TV ruang koreo memainkan Sponge kuning menggelikan. Seperti tanpa dosa.

Whooo… lives in a pineapple under the sea?

Spongebob Squarepants!

Absorbent and yellow and porous is he.

Spongebob Squarepants!

Demi Squidward Tentacle yang menyisiri uban..

Ini hanya suatu pagi yang agak mendung.

Yunho mencubit lengan dalamnya diam-diam.

.

.

.

He's there.

The one that got away.

.

.

.

"pagi semua.." sapanya pada semua orang.

Shim Changmin.

He looks fine.

"oh, Neptunus.." gumam Yunho.

.

.

.

Tbc.

Halo^^

Sorry nggak bisa cepat-cepat update. *bow

Eh iya, happy banget liat HoMin fanfic makin banyakk *iyeeeyyy *banzaiii

Balik ke Falling To You, ehem.. Mas Changmin balikk! Author juga nggak tahan nyimpennya lama-lama. Jadi ya.. begitulah.

Karena mau akhir tahun, Author mau kasih tau sedikit behind the story fanfic ini.

Sebenernya… jeng jeng jeng.. Author salah memberi Judul! *zoom in zoom out*

Aslinya fanfic ini berjudul Falling For You. Tapi karena kedodolan.. malah salah ketik jadinya Falling To You T.T

Nyadarnya pas udah post seminggu.. bego bener *plak

Tapi ya udahlah.. terlanjur gini.

See you in next chapter!

Hehehe^^

p.s.: thanks for reviews in chapter13^^

RnR ya..