Saat itu, siang yang cerah tidak membahagiakannya. Atau mungkin yang paling tepat adalah ia tidak pernah bahagia. Seperti hari ini, pura-pura bersikap tegar malah membuat dirinya makin berat hati. Meskipun yang paling ia pikirkan adalah keluarganya. Ia merasa Kyuhyun sudah banyak susah hidup dengannya.
Srag
Suara pintu geser yang dibuka dengan pelan terdengar di belakang tubuhnya. Cukup jauh di sana, tetapi Ryeowook tidak akan menoleh. Mana berani ia melakukan itu. Memandangi tangannya yang berada di atas pangkuan, Ryeowook merasakan angin halus menerpa di samping tubuhnya, lalu ia lihat siluet seseorang duduk berhadapan dengannya.
"Wah, kau benar-benar datang." Ryeowook memejamkan matanya. "Apa pelayanku memaksamu kemari? Mereka melakukan kekerasan?"
Ragu-ragu Ryeowook menggeleng. "Aniya, Yang Mulia."
Panggilan itu menimbulkan sebuah senyuman miring di paras tampan namja di depannya. Namja paling dihormati di wilayahnya, Raja Jung Yunho. Dan kali ini Ryeowook harus menghadapinya, apa yang diinginkan Raja darinya?
"Arraseo, kurasa kau tidak terlalu nyaman berdua denganku. Langsung ke intinya saja, apa kau pernah tinggal di Kerajaan Kim?"
Ryeowook bergumam lirih, bingung mau menjawab apa. Kalau ia jujur, bisa-bisa dirinya dalam bahaya. Tapi kalau bohong, ia dalam bahaya juga. Takut terlalu lama terdiam, Ryeowook pun mengangguk.
"Pernah dengar tentang Permaisuri Raja Yesung?"
Ah, ia sudah menebaknya. Pasti ada persekongkolan di sini. Pasti Ratu Heechul membuat perjanjian dengan Raja Jung. Mereka mau menangkapnya.
"A-aniya. Tidak per-nah dengar."
"Ah, begitukah?" Raja di depannya terkekeh mengerikan. Sampai-sampai membuat Ryeowook meneguk ludah susah payah.
"Kalau begitu akan kuberi tahu." Ryeowook sedikit berani melirik depanya. Di mana ia lihat sang raja yang lumayan tampan menyeringai dengan tatapan tajam padanya. Langsung saja Ryeowook kembali menunduk.
"Dia menjadi permaisuri pilihan Raja Yesung, rakyat biasa yang mendapat kesempatan istimewa. Suatu hari dia dituduh melakukan percobaan pembunuhan, lalu melarikan diri dari penjara, membawa serta anak dalam kandungannya. Yakin belum pernah dengar?"
Tentu saja aku tahu, bodoh. Akulah yang menjalaninya. Begitu kata-kata yang Ryeowook rangkai di batinnya, namun sayang takkan pernah bisa keluar dari mulutnya.
"Ini sudah satu setengah tahun, belum diketahui di mana permaisuri dan putera mahkota kerajaan itu berada. Akan tetapi, ada kabar burung kalau permaisuri itu ada di wilayahku."
Ryeowook masih membisu.
"Jadi kau masih belum mau bicara?" Yunho mendengus. "Ah, begini saja. Bagaimana kalau kau menjadi selirku?"
Ryeowool tercekat, tak tanggung-tanggung mengangkat kepalanya. Sepasang bola matanya membulat tak percaya atas apa yang diucapkan raja padanya, lagipula bukankah permaisuri kerajaan Jung sudah memiliki anak? Apakah ia akan dijadikan pemuas nafsu saja?
"T-tidak, Yang Mulia. J-jeosonghamnida."
"Hee, ini pertama kalinya ada orang yang menolakku. Wae? Apa ada alasan khusus?" Lagi, Yunho mulai memancingnya.
"Tidak a-ada alasan khusus."
"Ck, kau bertele-tele. Cukup jadilah selirku, lalu aku tidak akan melakukan hal yang buruk padanya."
"N-nugu?"
"Anakmu. Putera Mahkota Kerajaan Kim."
Napas tak berhembus dengan teratur, Ryeowook tersendat-sendat. "T-tidak, aku tidak memiliki anak. Apalagi putera mahkota kerajaan. A...ku belum menikah."
"Pembohong." Ryeowook mengernyit bingung. Ia angkat kepalanya dan menatap Yunho tak mengerti. Didengarnya sang raja memanggil pelayan di luar. Saat menengok kebelakang, Ryeowook semakin tercekat.
Yunho tertawa lirih, "Siapa bayi mungil ini, hm? Siapa namanya? Kim Ryeosung?" Ryeowook nyaris tak bisa mengeluarkan suaranya. Di dalam rengkuhan tangan Yang Mulia Jung Yunho, sesosok bayi mungil menggeliat dalam tidurnya. Ryeowook mengenalnya, sangat.
"Yang Mulia, itu b-bayi dongsaeng ku. Kenapa bisa berada di sini?" Kata Ryeowook dengan raut khawatir.
"Bayi dongsaeng mu? Tidak, ini adalah putera mahkota. Aset Kerajaan Kim yang sangat berharga." Ryeowook menggelengkan kepala.
"Dengar, kalau aku menjadikan bayi ini sebagai tawanan dan oh! Akan kujadikan budak, pastilah Kim Yesung yang terhormat itu akan tunduk padaku." Gertak Yunho seraya memandangi bayi mungil di gendongannya.
"T-tidak, Yang Mulia. Kumohon, bayi itu tidak bersalah. Dia adalah bayi dongsaengku. Tolong jangan melibatkannya."
"Kau mengaku sebagai permaisuri Kim Yesung?"
Ryeowook terpaku, melirik bayi itu penuh khawatir, kemudian mengambil keputusan. Bibirnya terbuka, melafalkan kalimat keputusannya, "Bukan, Yang Mulia. Aku hanya rakyat biasa."
"Ah, begitu?" Yunho terlihat tersenyum remeh sambil masih menimang-nimang bayi dalam gendongannya. "Bayi yang malang."
Ryeowook membeku. Tanpa berpikir panjang, air matanya mulai menggenang. Perlahan-lahan menetes menuruni pipinya. Hatinya sakit, terluka kembali dengan takdirnya yang lain. Menyedihkan, hidupnya semakin sulit. Hanya karena hubungannya dengan Yang Mulia Kim Yesung.
"Umma mu tak mengakuimu sebagai anaknya. Daripada hidup menderita, lebih baik kau akhiri hidupmu saja ne?"
Ryeowook terisak keras. "Hiks... jangan... kumohon..."
"Atau kau lebih memilih menjadi budakku, hm? Yang Mulia Kim Yesung pasti akan memberikan mahkotanya padaku dengan mudah. Kau lebih memilih mana? Menjadi budak atau akhiri hidupmu, Ryeosung-ah." Kata Yunho lagi seraya melirik Ryeowook yang terisak keras.
"Pelayan, bawa bayi ini. Besarkan sebagai budak kerajaan kita."
Merasakan suara langkah halus dari belakangnya, sontak Ryeowook menegang. Tubuhnya langsung tegak dan tak segan menunjukkan wajah penuh air matanya. "Aniya... hiks, kumohon... tidak... jangan anakku."
"Anakmu? Anakmu dengan siapa, hm?"
"Hiks... dengan Yang Mulia Kim Yesung."
Selesai sudah, kebohongannya selama ini sudah berakhir. Tertekan karena keselamatan bayi mungil itu. Yang sudah sejak lahir diputuskan menjadi anak Sungmin dan Kyuhyun, demi menjaga keselamatannya. Tapi, semuanya hancur.
Dalam tangisnya yang semakin memilukan, bayi mungil itu disodorkan padanya. Cepat-cepat Ryeowook merengkuhnya dalam pelukan erat. Seakan-akan bahaya mengancamnya.
"Pelayan, persiapkan pernikahanku dengannya, selir baruku. Kau tak menolak kan, Kim Ryeowook?"
Ryeowook hanya bisa mengangguk sambil menciumi bayinya, yang memang benar putera mahkota Kerajaan Kim. Sebenarnya, ia selamat ketika pendarahan waktu itu, beruntung bayinya bisa diselamatkan oleh seseorang ahli medis yang kebetulan ikut dalam kapal.
"Tidak perlu menangis lagi, Ryeowook-ah. Aku tidak akan membunuh ataupun menjadikan anakmu sebagai budak. Asalkan dengan syarat, kau menjadi selirku."
.
.
_`Evanescence`_
.
by : Denies Kim
.
Warning : Yaoi, BL, Boys Love, Typo(s), bahasa aneh, alur terlalu lambat/terlalu cepat, membosankan, OOC, dll.
.
Chapter 14 : Truth never lies
.
.
~Selamat Membaca~
.
Senja yang indah, menghiasi seluruh hamparan langit dengan awan-awan berwarna orange. Semakin malam, semakin sepi. Meskipun begitu, hari ini adalah hari yang berbeda dari sebelumnya. Banyak pelayan yang mondar-mandir di paviliun timur. Pasalnya satu anggota baru kerajaan sudah berada di sana. Dibersihkan tubuhnya dengan wewangian, dirias segala macam rupa. Untuk apa? Tentu untuk menyambut Raja di malam pertama mereka. Bukan, bukan malam pertama. Karena keduanya sudah pernah merasakan.
"Selir Kim, kau lebih memilih yang berwarna merah atau kuning?"
Kim Ryeowook, yang berada di tempat itu hanya terdiam sambil menatap ke depan. Cermin besar itu menampilkan wajahnya yang sendu. Ia de javu, dulu ia pernah merasakan ini sebelumnya. Dengan perasaan gundah juga. Akan tetapi kali ini berbeda, ia rasa dulu ia merasakan yang namanya bahagia, kedepannya tidak akan ia rasakan.
"Selir Kim?" Panggilan baru untuknya, membuatnya harus beradaptasi lagi.
"Kuning." Balasnya tanpa melihat hiasan rambut yang ditunjukan pelayannya. Sementara dirinya masih melihat ke depan. Tangan-tangan terampil mereka menyisir rambutnya yang panjang. Hanya bagian belakang bawah, sementara yang lain pendek. Ada juga yang merapikan rambut poninya, membuatnya terlihat menawan. Dan ketika sang pelayan hendak memotong rambut panjangnya, suara di belakang menghentikannya.
"Jangan lakukan apapun pada rambut panjangnya, biarkan seperti keadaan awal dia datang ke sini."
Si pelayan pun mengangguk mengerti. Meletakan pemotong rambut lalu menggunakan jemari lentiknya untuk mengepang kecil rambut sang selir baru. Sama persis ketika awal tempo hari Ryeowook datang.
"Nah, seperti itu. Kalau kau memotongnya, dia akan kembali menjadi Ryeowook yang dulu. Pasti kau sengaja memanjangkannya hm, tak mau mengenang masa lalu?"
Ryeowook hanya melihat pantulan orang yang sedari tadi mengoceh melalui cermin. Seorang namja yang duduk di tepian ranjang. Ryeowook sungguh tidak ingin menemuinya. Mentalnya masih belum siap. Akan tetapi, sekejap kedipan mata, para pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kemari, Ryeowook-ah." Ryeowook bergeming, masih duduk di tempatnya. Mengundang decakan sebal namja di belakangnya.
Sret
"Akh!"
Ryeowook memekik tertahan. Tangannya ditarik paksa, berjalan terseok beberapa langkah kemudian membentur ranjang di belakangnya. Sepasang tangannya yang bebas reflek menahan dada bidang yang seakan-akan mau menghimpit tubuh kecilnya.
"Yang Mulia," panggilnya gelisah. "J-jangan... aku tidak mau..."
Yunho menyeringai, "Kenapa kau begitu ketakutan, huh? Bukankah kau sudah pernah merasakannya? Rileks saja."
"T-tidak! Aku tidak mau!" Dan Ryeowook mulai memberontak. Kalau ia bisa memiliki Ryeosung, ia juga bisa melahirkan benih dari namja di atasnya ini. Ia tidak mau melakukannya. Ia tidak mau mengandung anak tanpa cinta sama sekali.
"Kumohon, Yang Mulia—ugh!" Ryeowook tak bisa apa-apa lagi. Kedua tangannya dicekal kuat di atas kepalanya.
"Katakan, kenapa kau tak mau melakukannya denganku?" Tanya Yunho sambil perlahan melepas simpul pakaian putih Ryeowook. Namja manis itu menggerakan kakinya ke sembarangan arah, sebelum akhirnya Yunho sedikit menduduki pahanya. Air mata mulai menggenangi sudut mata Ryeowook. Rasa-rasanya ia seperti diperkosa.
"Katakan padaku. Kenapa kau tidak mau melakukannya?" Tanya Yunho sekali lagi seraya menarik pipi Ryeowook agar mau menatapnya.
"Karena aku tidak mencintaimu! Aku tidak mengenalmu!" Balas Ryeowook dengan berani. Ia berteriak dan menajamkan matanya. Sontak saja Yunho terdiam karena terkejut, beberapa detik kemudian ia tertawa keras.
"Kuhargai keberanianmu." Yunho menyeringai.
"Kalau kita melakukannya, kau akan segera mencintaiku, sama seperti para selir murahan itu." Yunho makin mendekatkan wajahnya hingga Ryeowook memejamkan mata merasakan hembusan napas yang terlalu dekat.
"Apa karena Kim Yesung? Kau masih mencintainya?" Yunho makin mendekat, hendak mencium bibir yang sudah lama tak terjamah di depannya. Itu akan terjadi, kalau Ryeowook tak buru-buru mengalihkan muka.
"Tsk, jawab dengan jujur. Kau masih mencintainya?"
"T-tidak." Balas Ryeowook tanpa membuka matanya.
"Katakan sekali lagi, tatap mataku." Ryeowook dipaksa menghadap kedepan. Mau tak mau membuka matanya.
"Tidak."
Yunho tersenyum tipis. Entah maknanya apa, tetapi namja tampan itu melepaskan cekalannya. Kemudian mengangkat tubuhnya. Ryeowook sampai dibuat kebingungan, apalagi namja itu malah memilih memindahkan tubuh ke sisi ranjang yang lainnya.
"Kau seharusnya lebih jujur dengan dirimu sendiri. Satu pilihan yang kau anggap tepat, justru akan merusak kebahagiaanmu dan anakmu sendiri."
Kata-kata yang seharusnya penuh makna terasa bak teka-teki yang sulit dipecahkan. Ryeowook memang tak berpendidikan tapi ia memiliki hati nurani. Dan hatinya itu mengatakan dengan jelas kalau sang Raja barusan menyindirnya. Terlalu mengena ke dalam dadanya. Yeah, meskipun begitu tak akan mampu merubah takdirnya yang terlanjur seperti ini.
Ketika hari berganti dengan sendirinya, memulai catatan baru pada lembar kehidupan. Pagi ini, cerah berawan, tidak ada hawa panas yang menyengat hanya ada kesejukan yang melemaskan pikiran—
—tak berlaku untuk Ryeowook
Namja manis itu sedang duduk di dalam kamarnya, memandangi kolam kecil berisi banyak ikan mas. Jika pintu samping kamarnya dibuka, itulah pemandangannya. Sebuah kolam dengan ikan yang berenang lincah. Ia harap ia bisa lebih tenang dengan melihat semua itu, nyatanya tidak. Malahan kepalanya ini terus berpikiran buruk yang mambawanya pada lamunan panjang.
"Mmm..." Ryeowook tersentak. Ia pandangi ke bawah. Bayinya yang berbaring di pangkuannya tengah menarik-narik pakaiannya. Sungguh menggemaskan.
"Mianhae, mengacuhkanmu, Ryeong. Umma sedang banyak pikiran."
Ryeowook mengangkat bayi mungil itu, menciuminya gemas hingga sang bayi tertawa keras. "Maaaa..."
"Ne, apa Ryeong sayang pada umma?" Tanya Ryeowook yang kembali dibalas tawa keras dari Ryeosung. "Umma juga sangat menyayangimu."
"Apa-apaan ini? Yang Mulia menikah lagi?"
"Bukan itu masalahnya, masalahnya adalah selir baru itu seorang namja."
"Aish, benar-benar tidak tahu malu. Sesama namja menikah dan terikat pada hubungan. Aku benar-benar heran pada Yang Mulia."
"Ah, apa kau tahu hal yang lebih memalukan lagi? Selir baru itu sudah punya anak dengan orang lain. Tanpa malu dia membawa anakanya kemari."
"Jinjja, jika anak itu besar nanti bagaimana drngan nasibnya?"
"Mungkin akan menjadi budak kerajaan."
"Pelayan," panggil Ryeowook dengan wajah pias. "Tolong tutup saja pintunya."
Pemandangan indah tak akan selamanya indah. Suara-suara samar itu menyakiti hatinya. Menutup pintu hanya akan mengurangi suara itu untuk mampu menerobos pendengarannya. Selir-selir di samping kamarnya terus berbicara buruk tentang dirinya. Ia hanya ingin hidup tenang. Para wanita itu harus mencoba hidup seperti dirinya dulu barulah mereka akan mengerti.
"Mmmaaa... miiiim..."
"Eh, kau lapar? Arraseo." Ryeowook tanpa sadar membuka pakaiannya. Tidak semuanya, hanya melorotkan bagian bahu hingga satu dadanya bisa terubuka. Ia tidak bisa dipercaya, Ryeowook sedang menyusui anaknya. Satu-satunya pelayan yang ada di sana hanya bisa membuka mulutnya.
"Ah, mianhae. Aku tidak sadar melakukan semua ini." Kata Ryeowook pada pelayannya itu.
"Aniya, Yang Mulia. Jeosonghamnida membuatmu tidak nyaman."
Ryeowook pikir, pelayan itu setelah meminta maaf dan merasa kurang nyaman, dia akan pergi meninggalkannya. Tetapi, yeoja belia itu terus saja berada di dalam kamarnya, menunduk tanpa berani menatapnya. Padahal Ryeowook sedang ingin berdua saja dengan anaknya, putera mahkota Kerajaan Kim. Sayang gelar itu tidak akan pernah di dapatkan Ryeosung.
"Mianhae, aku membuat masa depanmu sangat buruk." Kata Ryeowook sambil memejamkan matanya. Tanpa sadar kalau pelayan satu ruangan dengannya sedang menatapnya keheranan.
"Selir Kim," Satu pelayan lain membuka sedikit pintu kamarnya dari luar, menyisakan celah kecil yang bisa menampilkan keseluruhan tubuhnya. "Permaisuri Jung datang."
"Permaisuri Jung?" Ryeowook mengeja nama itu dengan lirih. Mengangguk sekali, ia menyuruh si pelayan untuk mempersilahkan Permaisuri Kerajaan masuk.
Dari awal matanya melihat betapa anggunnya permaisuri itu masuk, Ryeowook sudah beranggapan kalau sang permaisuri pastilah amat cantik. Akan tetapi, Ryeowook dibuat membisu. Bahkan setelah permaisuri itu duduk berhadapan dengannya, Ryeowook masih diam saja.
"Permaisuri... Jung?" Ryeowook merutuki dirinya sendiri yang tanpa sadar mengatakan hal itu. Tadi ia berkata dengan penuh keraguan. Dan tatapan sinis itu, membuktikan kalau Permaisuri Jung tersinggung dengan ucapannya.
"Ada hal apa yang membuatmu kemari, Permaisuri Jung?"
Ryeowook masih belum bisa percaya, kini ia tahu kalau ada orang yang berbasib sama dengannya. Di depannya ini, duduk seorang namja yang dipanggil dengan julukan permaisuri. Seorang namja, dan lagi sudah memiliki anak sama sepertinya.
"Permaisuri Jung?" Panggil Ryeowook lagi karena Permaisuri Jung tak kunjung membuka mulutnya. Lalu, masuk seorang pelayan, dengan segera menempatkan posisi di samping belakang sang permaisuri.
Permaisuri Jung memulai perkataannya tanpa suara. Gerakan tangannya, jemarinya yang memberikan tanda-tanda aneh yang Ryeowook tak mengerti. Apa maksunya Permaisuri Jung bisu? Tidak mungkin terjadi kan? Bagaimana dia bisa diterima Kerajaan kalau memiliki cacat fisik seperti itu.
"Siapa namamu?" Bukan suara sang permaisuri, melainkan pelayan wanita di sebelahnya.
"Kim... Ryeowook." Jawab Ryeowook masih terheran-heran.
"Apa tujuanmu datang kemari?"
Pertanyaan itu seharusnya bukan untuknya. Kalau permaisuri di depannya ini adalah kesayangan raja, pastilah dia tahu yang sebenarnya. Seharusnya dia tahu kalau ia hanyalah umpan untuk menjatuhkan tahta seorang Kim Yesung.
"Tujuanku?" Lirih Ryeowook seraya menunduk mengamati anaknya. "Untuk melindunginya."
"Melindungi anakmu? Dari siapa? Kau mengemis permohonan untuk melindungi anakmu dari bahaya? Kau datang ke kerajaan hanya untuk itu?"
"Tidak!" Sentak Ryeowook keras. Ia tidak suka kalau orang lain menghina anaknya. "Aku..." Kemudian barulah dirinya sadar. Kalau ia sudah menaikkan nadanya di depan permaisuri.
"Mianhae, aku tidak bermaksud untuk berkata keras. Aku hanya merasa kalau semua orang mulai memojokkanku."
Ryeowook memejamkan matanya. "Aku terpaksa berada di sini. Yang Mulia Jung yang memaksaku untuk menjadi selirnya. Aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku tapi kenapa semua orang selalu saja mengusikku?" Kata Ryeowook dengan mata yang memancarkan kesedihan mendalam.
"Permaisuri Jung, kenapa Yang Mulia memaksaku untuk tinggal di sini? Kau pasti tahu alasannya."
Dilihatnya permaisuri itu masih mempertahankan tatapan tajamnya. "Dia tidak pernah mengangkat selir baru tanpa sepengetahuanku. Dan kau tiba-tiba datang menjadi selirnya. Kau pasti membawa tujuan tersendiri—"
"Tidak, aku tidak membawa maksud apapun sungguh. Untuk apa aku datang? Kau berpikir kalau aku akan merebut tahtamu? Aku bahkan sudah pernah merasakan bagaimana rasanya para selir berusaha melengserkanku dan aku tidak—"
Ryeowook menghentikan ucapannya. Ia tidak sadar telah membocorkan identitasnya. Identitas berharganya yang hanya diketahui oleh Raja Jung. Ia berpikir begitu karena dilihat dari sisi manapun, permaisuri di depannya ini tidak tahu menahu alasannya datang. Ia benar-benar bodoh, semakin banyak yang tahu, akan semakin membahayakan anaknya.
"J-jeosonghamnida, aku berkata yang tidak-tidak. Lupakan apa yang kukatakan."
"Kau pernah merasakan rasanya para selir berusaha melengserkanmu? Siapa kau sebenarnya?"
"Aku hanya rakyat biasa."
Seketika tatapan mata tajam penuh intimidasi ditujukan padanya, "Lalu anak itu? Di mana appanya?"
"Appanya?" Ryeowook menggigit bibir. Ia mulai gelisah. "Aku tidak tahu." Balas Ryeowook sambil memalingkan wajahnya.
"Yang kutahu, aku hanya berusaha membesarkannya. Aku tidak peduli pada mereka yang sudah mencampakkanku."
Srag!
"Umma! Jinho anak Selir Lee menghinaku lagi—eh?" Seorang bocah berpakaian khas pangeran tiba-tiba masuk dan mengadu pada ummanya, Permaisuri Jung. Jadi, anak dari Permaisuri Jung sudah cukup besar. Menurut asumsinya, Ryeowook pikir pangeran Kerajaan sudah berumur dua belas tahun. Seharusnya sudah mengerti sopan santun, tapi masuk ke ruangan orang lain tanpa permisi.
"Kau selir baru itu?"
Tubuh pangeran yang semula menghadap pada Ryeowook langsung beralih menghadap ummanya, kakinya pun langsung tertekuk dan duduk atas paksaan sang permaisuri.
"Umma..." Raut wajahnya yang semula kental akan rasa kesal dan meremehkan langsung berubah menjadi teduh usai melihat tatapan Permaisuri Jung yang bahkan tak berkata apapun.
"Changmin minta maaf." Kata pangeran kecil itu. Meminta maaf pada ummanya atau pada Ryeowook, Ryeowook sendiri tak terlalu ambil pusing. Dirinya hanya melihat sedari tadi.
"Changmin kesal pada mereka, mereka selalu menghina Changmin dan umma. Kata mereka kita tidak pantas berada di sini."
Mereka, yang disebut-sebut oleh Pangeran itu adalah anak-anak dari para selir yang tinggal di Kerajaan ini. Mengalir seperti air, Ryeowook mulai membayangkan dirinya berada di posisi itu. Bagaimana ketika anaknya besar dan kemudian mereka semua mengolok-oloknya, menerornya, dan menyerangnya. Keselamatan anaknya dipertaruhkan. Kini Ryeowook sadar kalau keselamatan pangeran sangatlah beresiko.
"Dan mereka juga mengatakan kalau Changmin bukan anak abeoji. Mereka—"
"Sstt..." Ryeowook sumpah mendengar desisan lirih yang keluar dari mulut Permaisuri Jung. Ia mendengarnya, itu berarti namja itu tidak bisu, tapi kenapa?
"Umma..."
Tatapan lembutnya, belaian kasih sayangnya, semua itu Ryeowook lihat penuh ketulusan. Penuh cinta yang tercurah dari Permaisuri Jung pada pangeran kecilnya. Ia lihat sisi lembutnya. Ah, sekarang Ryeowook yakin kalau wajah sangar dan tatapan tajam yang terus dipertahankan permaisuri itu hanya topeng belaka.
"Kami pergi, Selir Kim."
"Eh? N-ne."
Ryeowook terus memperhatikan pasangan umma-aegi itu sampai mereka menghilang. Rasanya ia jadi ikut senang. Hanya dengan melihat hubungan Permaisuri Kim dan anaknya itu, terbayang bagaimana bahagianya ketika Ryeosung sudah besar.
"Cepatlah besar, Ryeong." Kata Ryeowook sembari mencium Ryeosung dalam dekapnya.
.
.
.
.
.
Suatu pagi Ryeowook memberanikan diri untuk keluar kamarnya. Kakinya melangkah pelan mengitari kerajaan yang sangatlah lebar. Ia sedang membiasakan diri dan juga ia ingin anaknya mendapatkan sinar dan udara sejuk pagi hari. Ryeowook hanya berniat jalan-jalan saja. Sebelum ia melihat putera mahkota kerajaan sedang sibuk memarahi pelayan-pelayannya. Kalau dilihat dari kejauhan memang seperti itu. Akan tetapi semakin dekat Ryeowook jadi tahu yang sebenarnya.
"Kau terjatuh?" Tanya Ryeowook begitu mendekat.
"Bukan urusanmu, selir! Aw! Lepaskan! Sakit, babo!" Makian itu bukan untuk Ryeowook tapi pelayan pangeran yang berusaha membangunkannya dengan salah.
"Kau berdarah."
Pangeran seharusnya tidak seperti Jung Changmin. Namja kecil itu terjatuh sampai dahinya berdarah. Entah jatuh bagaimana tapi Ryeowook pastikan Changmin jatuh terjerembab dengan wajahnya yang mengenai tanah.
"Lepaskan! Aku tidak butuh pertolonganmu!" Lagi-lagi sifat kasarnya keluar. Ryeowook hanya bisa menghela napas.
"Biarkan para pelayan mengobatimu. Kalau tidak lukanya akan semakin parah."
"Apa pedulimu?! Aku tidak mau diurus siapapun! Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Aigoo. Ryeowook sampai dibuat terkikik. Berpura-pura kuat padahal matanya sudah dilapisi selapis bening membuat Changmin makin menggemaskan saja.
"Kalau begitu," Ryeowook menyerahkan anaknya pada satu pelayan yang berada di sana. Lalu menyetarakan tinggi badan dengan putera mahkota yang masih duduk di atas tanah. "Biarkan aku membantumu merawat lukamu. Kajja."
Tangan yang ia ulurkan masih mengambang di udara. Pangeran kecil masih menatapnya dengan pandangan seakan-akan Ryeowook hendak menusuknya dari belakang. Ah, tapi jangan salah. Wajah natural Ryeowook dan matanya yang memancarkan kesungguhan menggerakkan Changmin untuk menerima uluran tangan itu.
Ryeowook tersenyum lebar. "Jja, kita ke kamarku." Begitulah bagaimana Ryeowook membawa pangeran pemarah menuju kamarnya.
"Aku tidak mau diurus pelayan. Kalau kau ingin mengobatiku, urus diriku dengan tanganmu sendiri."
Ryeowook tidak kesal, justru ia tersenyum lagi. Menghadapi karakter seperti Changmin menambah pengalamannya. Jung Changmin mudah marah, tetapi menggemaskan di matanya.
"Jadi, bagaimana bisa jatuh?" Tanya Ryeowook seraya mengobati luka Changmin di bagian tangannya terlebih dahulu.
"Hm?" Gumam Ryeowook kala ia tidak mendapat balasan apapun. Dilihatnya Pangeran Changmin sedang menatap anaknya yang tertidur di atas matras.
"Namanya Kim Ryeosung. Kau sepertinya menyukainya, jadi maukah kau menjadi teman Ryeosung?"
"Teman?" Changmin berkata masih dengan pandangan yang sama. "Tidak ada kata teman dalam hidupku."
Eh, kata-kata itu sungguh tidak patut dikeluarkan Changmin yang bahkan belum genap tiga belas tahun. Maksudnya, belum cukup dewasa untuk memendam kepedihan di dalam hatinya.
"Kau tidak berteman baik dengan pangeran yang lain?"
"Mereka bukan temanku. Mereka itu jahat."
"Bagaimana kau bisa tahu?" Ryeowook menunduk, beralih mengobati lutut Changmin yang tergores sedikit.
"Mereka selalu mengolokku. Mereka juga yang melemparkan kerikil padaku sehingga aku berdarah seperti ini." Ryeowook berjengit kaget. Punggungnya menegak dan tangannya yang memegang kapas langsung terulur memegangi dagu Changmin. Matanya meneliti luka kecil yang ada di pelipisnya.
"Jadi ini karena dilempar kerikil? Bukan karena terjatuh?"
"Aku memang terjatuh. Tapi setelah kerikil kecil itu mengenaiku, aku terkejut sampai tersandung."
Ryeowook bisa mempercayai ucapan pangeran ini. Ia tadi sempat melihat siluet seorang bocah yang bersembuyi di balik pohon. Yang langsung lari ketika melihatnya mendekat. Astaga, mereka masih anak-anak.
"Siapa yang melempar kerikil padamu? Akan kukatakan pada Yang Mulia Jung."
"Jangan berani melakukannya." Ryeowook terdiam. "Aku sudah sering mengalami semua ini. Aku sudah terbiasa. Lagipula aku bukan pengadu yang selalu membutuhkan perlindungan Yang Mulia."
Meskipun sifatnya kasar dan mudah marah, dari perkataan dan sikap yang dilihatnya barusan, Ryeowook memastikan kalau Changmin anak yang pemberani. Akan tetapi, ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Penindasan yang dialami Changmin dapat merusak mental calon penerus kerajaan itu.
"Kalau begitu akan kukatakan pada umma mu? Tidak apa-apa?"
"Sudah kubilang jangan lakukan apapun. Umma ku akan bersedih jika mendengarnya. Aku sudah berjanji tidak akan membuat umma ku sedih lagi."
Ah, kasihan sekali. Bagaimana bisa bocah kecil itu memendam masalahnya seorang diri. Bersikap wajar seolah-olah tak terjadi apapun dan menjalani kehidupannya dengan tindasan anggota kerajaan lain yang bahkan kedudukannya berada di bawahnya.
"Eum, bagaimana kalau kau bercerita padaku? Aku mau mendengarkan semua ceritamu tanpa mengadukannya. Kau bisa berbagi padaku."
"Kau selir. Kau hanya—"
"Menjadi selir bukan berarti aku memiliki sifat yang sama dengan mereka. Aku ingin berteman denganmu. Ryeong pasti juga ingin berteman denganmu."
"Ryeong?" Ryeowook mengangguk sambil menunjuk anaknya yang masih tertidur.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Kata Changmin dengan tangan bersedekap di depan dada.
"Kalau aku mengkhianatimu, kau boleh marah padaku."
Ryeowook sebenarnya tidak sungguh-sungguh mengatakan alasan itu. Pada dasarnya, Changmin sudah terlampau sering marah-marah padanya.
"Arraseo."
"Eh? Jeongmal?" Ryeowook tersenyum lebar. "Aku senang sekali mendengarnya." Lanjutnya tanpa sadar terlalu bergembira sampai membangunkan Ryeosung. Bayi mungil itu terkejut dan mulai menangis.
"Kau membuatnya menangis." Kata Changmin.
"Aigoo. Mianhae, Ryeong. Tidurlah lagi ne? Changmin hyung akan menemanimu." Changmin langsung melotot tak percaya.
"Tidak apa-apa, genggam saja tangannya." Meskipun terlihat ragu-ragu, pangeran kecil itu mengikuti saja perintah Ryeowook. Menggenggam telapak tangan mungil yang sangat lembut mengenai perabanya.
"Eh, dia tertidur lagi." Ujar Changmin lirih, masih bisa didengar Ryeowook.
"Itu karena temannya berada di sini. Changmin hyung menemaninya, jadi ia tidak takut untuk menutup matanya." Balas Ryeowook seraya mengusap pipi Changmin.
"Benarkah begitu?" Ryeowook mengangguk. Ia pun berbaring di samping anaknya. Memainkan jemarinya pada rambut hitam Ryeosung.
Changmin terlihat gugup. Ah, ia tidak bisa menahannya lagi. Cepat-cepat Changmin ikut berbaring menghadap Ryeosung dan mencolek pipi tembemnya. Ia sudah terlampau gemas.
"Changmin,"
"Apa?"
Ryeowook menggigit bibir bawahnya. "Apakah Permaisuri Jung tidak bisa bicara?" Ryeowook bertanya dengan hati-hati.
"Dulu umma bisa mengeluarkan suaranya, umma juga bisa menyanyikan lagu tidur untukku. Tapi setelah kejadian itu, umma tidak bisa bicara lagi."
"Kejadian apa?"
"Aku tidak tahu, hanya saja umma mengeluh sakit di tenggorokannya setelah itu dia demam sampai tiga hari."
"Ah, begitu." Ryeowook terdiam sesaat. "Lalu mengapa para selir dan pangeran memusuhimu?"
"Mungkin mereka iri padaku. Aku tidak lahir di sini. Aku tinggal setelah berumur lima tahun. Setelah itu, aku dinobatkan sebagai pangeran mahkota."
Belum sempat Ryeowook mengeluarkan suara hendak bertanya lebih jauh lagi, Changmin langsung berucap seolah tahu kalau Ryeowook penasaran. "Mereka menganggap aku bukan anak dari Yang Mulia, padahal itu karena umma ku sempat diusir dari istana."
"Diusir..."
Diusir, tinggal di tempat lain dengan kondisi mengandung anak raja, melahirkannya seorang diri, kemudian menjadi permaisuri kerajaan lagi, dan anaknya yang menjadi korban. Semua itu seperti menghantui Ryeowook. Kalau ia menerima ajakan Ratu Heechul untuk kembali, mungkin keadaanya sama persis seperti yang dialami Changmin dan umma nya.
"Lalu kenapa kau datang? Ryeong bukan anak abeoji kan?"
"Aku..." Ryeowook menahan napasnya. Ia tak mampu mengatakannya. Bahkan di depan pangeran kecil itu.
"Kau ingin tahu?" Changmin mengangguk. "Maukah kau menjaga rahasia?"
.
.
.
.
.
Tiga hari mengarungi lautan berdebur ombak. Tiga hari di dalam kapal besar yang mengantarkan kepulangan. Kembali menapaki kaki di tanah kelahiran, rumah tempatnya tinggal. Kim Heechul, diiringi orang-orang terpercaya yang ikut dengannya kembali ke Kerajaan Kim. Merasakan udara rumah, tak membuatnya terlihat begitu senang. Bukan itu alasannya.
Heechul sudah terlalu banyak berpikir panjang. Seharusnya ia bisa menarik Ryeowook kembali ke kerajaan. Akan tetapi, alasan apa yang harus ia berikan. Memang Ryeowook masih permaisuri kerajaan. Tuduhanlah yang membuatnya harus melarikan diri. Heechul tak kuasa untuk mengembalikan Ryeowook. Terlebih lagi dengan perkataan mengenai kandungannya, keguguran.
Menghela napas sudah menjadi hobinya. Ia harus segera menemui Yesung. Kalau ia tak mampu membawa Ryeowook kembali, Yesung harus berusaha lebih keras darinya. Yang Mulia Kim Yesung harus menarik Ryeowook kembali ke tahtanya.
"Yesung," Untungnya ia dapat bertemu dengan penguasa kerajaan itu langsung ketika ia memasuki wilayah timur, dekat kediamannya.
"Aku harus bicara denganmu."
Dan di sinilah mereka sekarang. Duduk berhadapan hanya berdua. Di dalam sebuah kamar penuh kenangan, kamar yang Yesung tempati sendirian selama satu setengah tahun.
"Waeyo?" Yesung membuka suara.
"Aku menemukan Ryeowook." Kata Heechul langsung pada intinya.
"Huh? Ryeowook? D-di mana eomoni?"
Seperti yang Heechul duga, Yesung akan bersemangat setelah mendengarnya. Ia cukup bersyukur dengan begini masalah kembalinya Ryeowook akan lebih mudah dilakukan.
"Kerajaan Jung."
"Bagaimana eomoni bisa menemukannya? A-apa eomoni sudah bertemu dengannya?"
Heechul menganggukkan kepalanya. "Kabar baiknya, dia hidup dengan baik. Tapi kabar buruknya, dia keguguran."
Manik sipit itu langsung membulat begitu telinganya mendengar perkataan sang eomoni. Wanita yang sudah melahirkannya itu tidak berbohong kan?
"Apa? Ryeowook keguguran?"
Heechul mengangguk, "Ne, aku bertemu dengannya di desa. Lalu saat kutanya di mana putera mahkota berada, ia menjawab demikian."
"Lalu bagaimana dengan barang-barang Ryeowook yang hanyut?"
"Pasti ada seseorang yang berusaha menghilangkan jejaknya. Seseorang yang berusaha menganggap Ryeowook tenggelam di laut."
Diam, hening. Yesung seperti tak berniat membalas perkataan eomoni nya. Namja tampan itu menatap ke bawah, ke arah meja kosong yang menghanyutkannya dalam pikiran sendiri. Kim Yesung terlihat diam tapi tidak seperti sedang berpikir keras. Namja itu hanya bingung apa langkah yang akan ia ambil selanjutnya.
"Kau... tidak ingin bertemu dengannya?" Tanya eomoni nya dengan lirih.
Kalau pernyataan seperti itu terlontar padanya ia pasti akan menjawab dengan tegas bahwa ia ingin bertemu. Namun, ada sisi hatinya yang lain yang terus membisikinya berbagai hal yang bertentangan dengan keinginannya.
"Aku ingin bertemu dengan Ryeowook, tapi bagaimana jika aku sudah berhadapan dengannya? Akankah dia menatapku dengan mata yang sarat akan kebencian?"
"Aku tidak tahu, Yesung-ah. Aku tidak bisa membawanya kemari karena Ryeowook tidak mau kembali bersamaku, mungkin jika kau datang dia akan—"
"Lalu apa selanjutnya jika aku bisa membawanya kemari? Aku akan dibenci seumur hidupku. Dan Ryeowook, akan terus berpikir tentang betapa buruknya kerajaan ini. Ryeowook akan membunuhku secara perlahan dengan kebenciannya."
"Kim Yesung kenapa kau berpikir terlalu jauh seperti itu? Kau hanya perlu bertemu dengannya lalu membujuknya itu saja. Kau tahu, penobatan untuk Selir Jung sudah dekat."
Yesung menghirup napas dalam. "Aku benar-benar bingung, eomoni. Aku memang berharap Ryeowook kembali tapi aku juga berpikir bagamana selanjutnya jika Ryeowook sudah berada di sini."
"Kim Yesung, jadilah bijaksana. Kau harus tahu mana yang terbaik. Untuk masalah ini, aku tidak bisa membantumu lebih jauh lagi. Kaulah yang akan menentukan sendiri." Balas Heechul setengah kesal. Segera ia bangkit dan meninggalkan Yesung dalam keraguan.
Kala itu, malam sudah menyambut dengan bangganya. Menyelimuti lahan luas berawan kelabu. Malam yang sunyi, sesunyi ruang baca yang ditempati seorang namja tampan penuh kharisma. Membaca satu persatu kata-kata yang terangkai dalam gulungan kertas.
"Yang Mulia," Namja tampan itu hanya bergumam tanpa menoleh sedikitpun. Hingga seorang kurir tua yang bertugas mengantarkan surat kebingungan dibuatnya.
"Surat dari Kerajaan Jung, Yang Mulia."
Manik tajamnya bergerak meneliti barang bawaan sang kurir, lalu mengambil gulungan kertas yang masih rapi. Ia membaca yang tertulis di sana. Dan bak petir yang menyambar ketika badai menghadang, sang namja tampan langsung terbangun. Membanting gulungan kertas itu dan langsung pergi keluar.
"Panglima Choi! Siapkan keberangkatanku menuju Kerajaan Jung."
Apa yang membuat Yang Mulia Kim Yesung sangat murka? Hanya dengan beberapa kalimat pada gertas kusut yang diremas penuh kebencian berhasil menyulut emosinya. Apa yang ada di dalamnya? Hanya beberapa kata tentang Permaisurinya.
—Jamuan pernikahan: Selir baru, Kim Ryeowook—
Yang pastinya sudah terlaksana beberapa hari yang lalu. Mengingat jauhnya jarak antara kedua kerajaan ini. Jung Yunho sengaja melakukannya.
"Kau mengibarkan bendera perang padaku, Yang Mulia Jung."
.
.
*Bersambung*
Waduuuh... bener-bener minta maaf. Telat apdet bahkan sampe dua bulan. MBR juga telat apdet sampe 5 bulan (o.o) Denies baru sadaaar. Denies lagi bingung buat ngerangkai kata-katanya.
Jadi sekali lagi minta maaf. Akan Denies selesaikan secepatnya. Untuk chapter 15 Evanescence udah selesai tinggal post. Jadi tinggal nunggu waktu aja. Tapi buat chapter lanjutnya Denies belum tahu :v
FYI, chapter depan Ryeowook ketemu sama hubby nya yeeeeey^ jadi tetep tunggu ff ini yhaa :D
Note: untuk yang belum bisa membayangkan rambut Ryeowook dalam chapter ini, sama kaya webtoon "Prince of Prince" dengan cast Park Sihyeon atau Syang Nien bisa dilihat di Webtoon eps. 32 (bonus 1) buat yang penasaran. Denies terinspirasi dari situ buat model rambut Ryeowook hehe. Dan selama penulisan fanfict ini, Denies salah mbayangin. Jadi, Denies mbayangin Yesung nya itu pake rambut biasa kaya udah modern gitu cuman pake iket kepala, ngga kaya di drakor wkwkwk.
Makasih buat yang udah menunggu dan menyempatkan mereview.
Penuh cinta,
Denies Kim
