Ini yang ketiga kalinya. Mark kalah lagi.

Entah apa yang membuatnya tidak memprotes sama sekali hari ini, dia hanya mengiyakan permintaan apapun yang diminta Lauren. Walau salju sedang turun, mereka tetap pergi ke taman seperti permintaan Lauren. Tidak banyak yang mereka lakukan, Mark hanya diam duduk dibangku taman dan Bambam duduk disebelah Mark, sesekali tertawa melihat Lauren yang sedang asik main salju sendirian.

"Lau-ya!" Bambam memanggil Lauren, ditanggapi dengan tolehan kepala Lauren, "kemarilah!"

Lauren mengangguk, tersenyum lalu berjalan mendekati Bambam yang memanggilnya.

.

.

.

.

GOT7 © JYP

Player © Dii Zee

MarkBam fanfiction with slight JackBam and JaeJin.

Mark and Jaebum : 19 years; Jackson and Jinyoung : 18 years; Yugyeom and Bambam : 17 years

New support cast : Lauren Hanna Lunde (Ulzzang kid)

Backsong : Lee Hi – Rose & BTS – I Need U

Ada beberapa kata-kata kasar didalamnya. If you don't like the pairing or the story, please click 'back' or 'close'. Stay away from this fanfic.

.

.

.

.

Bambam mengeluarkan beberapa karet rambut dari saku jaketnya. Mark yang melihatnya mengernyitkan dahinya bingung, untuk apa Bambam membawa kuncir rambut seperti itu?

"rambutmu mengganggu, 'kan? Phi akan menguncirnya, arrachi?"

"ne~"

Bambam tersenyum mendengar jawaban Lauren. Dia mengambil poni Lauren dan sebagian rambut bagian samping—depan—, menguncirnya jadi satu lalu sedikit merapikannya. Bambam mengambil karet baru, dia menyatukan bagian rambut Lauren yang masih terurai dengan rambut Lauren yang telah terkuncir menggunakan karet tersebut.

Lauren berbalik menatap Bambam, menunjukkan wajahnya yang terlihat semakin bulat dan membuat Bambam tertawa gemas. Lucu sekali. Bahkan tanpa sadar, tangan Bambam bergerak mencubit pipi Lauren gemas.

Sedangkan Mark, dia hanya diam melihat dua orang disebelahnya. Dia mulai merasa risih dengan tatapan kagum dari orang-orang yang melewati jalan disamping mereka. Beberapa orang kagum dengan keimutan Lauren, dan sisanya, Mark tidak tidak yakin mereka kagum tentang apa karena mereka menggumankan kata 'kyeopta~ mereka lucu sekali!', 'aku iri~', 'aw~ aku jadi ingin cepat menikah~', atau 'ah, keluarga yang harmonis.', bahkan 'itu anak mereka? Waa~ keluarga yang sempurna~'.

Tidakkah mereka tahu bahwa mereka bukanlah keluarga—apalagi—Lauren—adalah—anak—mereka? Kalaupun mereka adalah keluarga, siapa yang menjadi ibu disini? Mark? Hahaha lelucon yang cukup lucu. Bambam? Err.. tapi Bambam tidak bisa hamil apalagi melahirkan.

"Bam, berhenti memperlakukan Lauren seperti anakmu." Mark berbisik pada Bambam. Dia benar-benar risih terhadap semua tatapan yang tertuju pada mereka.

"kenapa?" Bambam merengut. Dia tidak suka dengan sikap Mark yang tiba-tiba menyuruhnya berhenti.

"kau tidak lihat semua orang menatap kita?"

"apa peduliku? Biarkan saja. Itu 'kan, mata mereka."

Bambam membuang muka, dia kembali menatap Lauren yang ternyata memperhatikan mereka berdua.

"kenapa phi dan gege suka sekali bertengkar?" Lauren bertanya dengan polos.

"e-eh? Karena.. yah, gege-mu ini saja yang menyebalkan." Bambam melirik Mark sinis, menunjuk Mark sebagai tersangka utama.

"kenapa aku? Kau yang keras kepala." Mark membela diri.

"aku? Kau juga."

"tapi kau—"

"aish, phi dan gege bertengkar lagi." Lauren memekik kesal.

Lauren mempoutkan bibirnya kesal lalu melipat tangannya didepan dada. Dia tidak suka melihat Bambam dan Mark terus-terusan bertengkar dan tidak terlihat akan ada yang meminta maaf terlebih dulu.

Mata hitam milik Bambam menatap mata Lauren yang berwarna sama pekatnya dengan miliknya, dia telah membuat gadis kecil didepannya ini kesal.

Bambam menghela nafas, dia menangkup wajah Lauren menggunakan kedua tangannya lalu berkata,

"maafkan phi, ya? Tapi dia ini—"

"sudah kubilang berhenti memperlakukannya seperti anakmu!"

Bambam melepas tangannya dan berbalik kearah Mark, "kalau aku tidak mau, kau mau apa?!"

"menantangku, huh?"

"aku—"

Chu~

Bambam membulatkan matanya kaget.

Lauren cepat-cepat menutup matanya menggunakan kedua tangannya.

Mark menyeringai dalam ciumannya.

Beberapa orang berhenti —saking kagetnya— untuk melihat kedua pasangan itu.

"SIALAN! APA YANG KAU LAKUKAN, BRENGSEK?!"

Bambam berteriak sambil mengusap bibirnya kasar setelah dia berhasil mendorong Mark menjauh.

Sialan! Si Tuan ini berani menciumnya didepan umum.

"APA KALIAN LIHAT-LIHAT?"

Kali ini, orang yang memperhatikan mereka-lah yang mendapat teriakkan dari Bambam.

"jangan berteriak seperti itu, Bambam. Suaramu membuat telingaku sakit." Mark memprotes dengan seringaian.

"KENAPA KAU MENCIUMKU?"

"karena kau menantangku."

"SIAPA YANG MENANTANGMU? KAU SAJA YANG SEBENARNYA INGIN MENCIUMKU, IYA KAN?"

"kau tidak perlu mengumumkannya seperti itu, Bambam. Semua orang akan tahu kalau aku baru saja menciummu disini."

Wajah Bambam yang awalnya memerah menahan emosi, kini berganti menjadi memerah menahan malu. Dia sendiri yang membentak orang-orang yang melihat adegan ciumannya dengan Mark tapi dia juga yang secara tidak langsung mengumumkan hal itu. Sialan.

"aku akan membalasmu, Mark Tuan." Bambam mendesis, merasa tidak ada gunanya lagi marah sambil berteriak-teriak.

"membalasku? Dengan cara apa? Menciumku juga?" seringaian Mark melebar.

"sialan. Hentikan seringaianmu itu, brengsek."

"kenapa aku harus menghentikannya?"

"kau tidak akan bisa masuk rumah hari ini."

"ouh, kau terdengar seperti tetanggaku ketika marah pada suaminya."

"sialan! Aku membencimu, brengsek."

"terima kasih. Aku juga mencintaimu." Kata Mark sing a song.

Kepalan tangan Bambam mengerat. Dia tidak suka melihat Mark menyeringai penuh kemenangan. Dia ingin melampiaskan semua emosinya. Berterima kasihlah pada Lauren, Mark —jika saja Lauren tidak didepan Bambam, kau akan habis ditangan Bambam—. Kalau dia meluapkan emosinya, bisa-bisa Lauren takut dan menjauh darinya. Baru kemarin dia mengenal Lauren dan sekarang harus dijauhi Lauren? Uh, Bambam tidak mau itu terjadi.

"Lauren-ah, kau mau pancake dan ice cream? Ayo ikut aku."

Mark menarik tangan Lauren yang masih setia menutupi matanya—dan wajahnya—. Lauren hanya menatap bingung kearah Mark lalu mengangguk setuju. Ini pertama kalinya Lauren pergi ke suatu tempat bersama Mark tanpa harus merengek terlebih dulu.

.

.

.

.

Mark menyadari kesalahannya. Dia salah besar karena mencium Bambam. Bukan. Bukan karena sesampainya dirumah Bambam benar-benar tidak mengijinkannya masuk. Bukan juga karena Bambam melampiaskan emosinya yang sempat tertunda tadi. Tapi karena Mark selalu terbayang-bayang bibirnya yang menyentuh bibir milik Bambam tadi siang.

Televisi yang menyala dan menayangkan sebuah program talkshow hanya ditatap dengan kosong oleh Mark. Pikirannya terus melayang. Memutar segenap memori yang tadi siang terjadi. Mark masih bertanya-tanya, bagaimana dia dengan berani—nekat—nya mencium Bambam.

Malam ini Bambam kembali memenuhi pikirannya. Rasanya Mark ingin mengikat Bambam untuk duduk didepannya dan dia memperhatikan setiap jengkal wajah—atau bahkan tubuh— Bambam untuk mencari tahu. Mark ingin tahu kenapa Bambam bisa membuatnya seperti ini. Apa mungkin ini yang dimaksud 'pesona seorang Bambam'? Kenapa Mark berkemungkinan untuk terjerat pada pesona milik Bambam? Memangnya sekuat apa pesona Bambam itu?

Apakah mungkin.. Mark —yang mungkin telah masuk— bisa keluar dari pesona ini?

"kau kenapa?"

Mark terlonjak. Dia terkejut mendengar suara Bambam tepat disampingnya.

"mau apa kau disini?"

"aku haus. Jadi aku ambil minum." Bambam menunjukkan gelas yang berisi air putih pada Mark, "kenapa kau sering melamun akhir-akhir ini?"

Bambam menaruh gelasnya lalu mengambil remote. Dia mengganti-ganti channel; berharap ada program yang menyenangkan disalah satu channel.

"melamun itu tidak baik, tahu!"

"aku tahu," suara Mark terdengar seperti bisikkan.

Akhirnya Bambam menemukan channel yang dia inginkan. Sebuah channel yang menayangkan drama terbaru. Dia tersenyum ketika dia tiba-tiba teringat ibunya; ibunya suka sekali menonton drama Korea seperti ini.

Tangan Bambam tiba-tiba ditarik oleh Mark, membuat Bambam terkejut setengah mati —karena dia baru saja menikmati tayangannya.

"h-hei, kau kenapa?" suara Bambam terdengar takut-takut.

Mark tidak pernah menatapnya seperti ini. Tatapan mengintimidasi yang memojokkannya seperti ini membuatnya takut. Apalagi tubuh Mark yang terus bergerak mendekat pada Bambam, mau tidak mau, Bambam ikut memundurkan tubuhnya.

Hingga akhirnya dia terjatuh diatas sofa. Dengan Mark diatas tubuhnya.

Oh tidak! Posisi ini!

.

.

.

Bersambung...

Oke, Zee mulai stress xD adegan akhir gak banget u.u maafin kegajean Zee ya u.u Zee sengaja percepat update buat minta maaf gara-gara chap kemaren telat banget updatenya T-T besok Zee juga udah mulai masuk sekolah lagi T-T kalo Zee telat update lagi maaf ya, Zee udah kelas 9 sekarang huuuhuhuu T-T tapi 2 chap lagi bakal end kok e.e

Makasih buat yang udah support Zee^^ buat yang bilang fanficnya keren padahal abal xD makasih banget yaaaa~ /bow

Last word,

Review, please?