Main Cast :

Jung Dae Hyun (B.A.P)

Miss Chubby-Cakes (Yoo Young Jae – B.A.P)

Park Chanyeol (EXO)

Other Cast :

Bang Yongguk (B.A.P)

Miss Eyes-Puppet (Kim Himchan - B.A.P)

Bunhong(Choi Joonhong – B.A.P)

Tao (EXO)

My Sweety Chubby-Cakes(Byun Baekhyun - EXO)


Sebelumnya: "mianhae, yun-ah. Aku akan menghubungimu lagi. Annyeong~" tanpa mendengar babibu dari Baekhyun, Chanyeol langsung memutus sambungan dan berjalan menghampiri Yongguk sambil memasukan ponsel miliknya dan sesampainya dia dihadapan Yongguk dia langsung memberikan ponsel Himchan dan sebelum dia berlalu pergi dia hanya meninggalkan pesan pada Yongguk untuk tidak pergi kemana-mana dan jika butuh bantuan hubungi teman Himchan yang Yongguk kenal.

.

Chanyeol berlari menyusuri koridor rumah sakit berharap dia dapat kembali ke sekolah dengan cepat.


Sesampainya Chanyeol diparkiran rumah sakit langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering. Chanyeol berniat untuk melihat saja siapa yang menghubunginya -disaat yang genting seperti ini- dan mengabaikannya jika tidak penting –menurut Chanyeol-, tapi ternyata yang menghubunginya itu yang ia sedang tuju disekolah. Youngjae menghubunginya.

"Youngie-ah…" panggil Chanyeol setelah ponsel menempel sempurna ditelinganya.

"Youngie? Itu siapa?" sahut yang ada diseberang sambungan yang ternyata bukan Youngjae. Ah, Tao. Mungkin aku terlalu berharap dia yang menghubungiku. Pikir Chanyeol.

"bukan siapa-siapa. Apa terjadi sesuatu?" Chanyeol melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru keluar meninggalkan area rumah sakit sambil mendengarkan ucapan Tao.

"tidak tahu. Aku masih dalam perjalanan menuju ruang kesehatan. Apa yang kau panggil Youngie itu Youngjae?" mata Chaneyol membulat sempurna dan menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat nomor siapa yang tengah menelponnya kini. Nomornya Youngjae, benar.

"kenapa handphone milik orang lain ada ditanganmu, 'koko'?" Chanyeol semakin mempercepat langkahnya dan terhenti didepan diluar rumah sakit menunggu taksi atau bus yang mungkin akan lewat sebentar lagi.

"kau akan tahu nanti. Kemana kau akan pergi, huh?" kenapa dia tahu kalau aku sedang diluar mau pergi? Pikir Chanyeol setelah mendengar perkataan Tao yang benar kenyataannya.

"kau… kau… hei, kau tahu dari mana jika sedang keluar?" Chanyeol sedikit terbata-bata mengetahui makhluk diseberang sambungan –Tao- terdengar atau memang dia sedang tertawa?

"diluar itu super bising dan didalam rumah sakit itu tidak terlalu bising… memangnya kau mau kembali kesekolah dan meninggalkan Himchan sendirian, huh?" skakmat. Chanyeol tidak dapat berkata apa-apa. Tapi…

"kau tahu. Himchan sebenarnya tidak sendirian." Entah ekspresi Tai yang seperti apa yang tengah dibayangkan oleh Chanyeol setelah mendengar perkataannya yang satu ini. Namun, Chanyeol yakin jika Tao tengah mengeraskan wajah dan mengepalkan tangannya. Belum ada jawaban dari yang diseberang sana. Tapi, Chanyeol tidak mencoba memutuskan sambungannya seperti ia lakukan pada Baekhyun tadi.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"apa maksudmu?" aku yakin dia mengerti dengan nada ucapanku kali ini. Aku dan Daehyun masih dalam perjalanan menuju ruangan kesehatan. Aku masih belum mendapat jawaban dari mulut Chanyeol langsung selain aku mendengar ada sesuatu yang dibanting dan suara Chanyeol yang meminta sesuatu. Ternyata dia sudah diluar bahkan sudah didalam taksi untuk kembali ke sekolah. Pikirku.

"apa maksudmu Chan-yeol?!" aku mengulangi perkataanku dengan nada yang aku tekan diakhir kalimat dan aku yakin Daehyun tengah memperhatikanku dibelakangku.

"apa kau marah? Hahaha jangan bercanda Tao. Bukankah kau yang menyuruhnya untuk mengantarkan Himchan ke rumah sakit?" langkah kami terhenti didepan sebuah pintu cokelat yang disamping atas pintu itu tertulis 'ruang kesehatan'. Kami sampai ditujuan selanjutnya. Sebenarnya aku berhenti karena ucapan Chanyeol yang terdengar mengada-ada sehingga aku tidak fokus dan Daehyun menepuk pelan lenganku untuk kembali fokus.

"baiklah, jadi siapa?" aku dan Daehyun masuk ke ruangan yang mengeruakan aura obat-obatan yang pahit dilidah.

"siswa baru dan juga teman baru Himchan dikelasnya, siapa lagi kalau bukan Bang Yongguk." Daehyun tengah menatap nanar seonbae-nya ini yang tengah menahan amarahnya hingga aku sadar jika dia sedang tidak sendirian sekarang. Kenapa anak tengil ini masih disini? Pikirku dan aku hanya bisa menghela napas kasar.

"baiklah. Cepatlah kembali. Aku dan Daehyun sudah diruangan kesehatan. Aku mau mepertemukan Daehyun dengan seseorang. Jadi, cepatlah." Aku mengakhiri panggilan setelah mendengar Chanyeol mengiyakan perkatakaanku.

Sebelum aku mengajak Daehyun kedalam. Aku menyerahkan handphone milik Youngjae padanya tapi dia tidak mengambilnya. Sepertinya dia tidak mengerti dengan yang aku maksudkan. "kau saja yang berikan ini pada pemiliknya." Dia akhirnya mengambilnya tanpa suara tapi dia memperhatikan handphone itu dengan teliti sampai pada akhirnya dia mengangkat handphone-nya. "pada siapa aku harus mengembalikan ini?" padahal aku sudah mengatakannya tadi.

.

"kembalikan pada pemiliknya." Aku mengulanginya lagi sambil menunjuk pada tirai-tirai putih yang tertutup rapat dan pandangan Daehyun mengikuti arah pandangan dan juga jari telunjukku memperhatikan tirai-tirai putih.

"jadi kalian sudah sampai? Tapi aku harap kalian tidak berisik." Sahut seseorang –menurutku itu Joonhong- yang mendengar percakapan kami yang terdengar cukup keras. Aku menepuk pundak Daehyun untuk melangkah mengikutiku dan yah dia melakukannya. Aku dan Daehyun menghampiri dimana sumber suara berasal. Sesampainya aku yang membuka tirai putih panjai menjulang cukup tinggi menggantung hingga menyisakan beberapa centi saja dilantai.

Dan benar saja. Disana yang menjadi sumber suaranya adalah Joonhong yang tengah duduk tersenyum melihatku sedang duduk ditepi ranjang yang aku perhatikan tengah terbaring makhluk manis –kata Chanyeol bukan kataku- karena lelah habis menangis. Tapi yang aku bingungin sekarang. Kenapa makhluk tengil dibelakangku ini tidak bergerak sama sekali? Apa yang dia lakukan? Apa dia membeku?

"Dae…hyun…hyung?" untuk pertama kalinya aku mendengar nada suara Joonhong yang seperti bergetar(?) aku kembali menoleh ke Daehyun yang tertunduk sambil menggenggam keras handphone milik Youngjae dan aku terkadang menoleh ke Joonhong yang menampilkan wajah…ekheem…apa ini? Khawatir atau marah? Atau apa?

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"yak… 'anak tengil' kau sudah lihat, kan?" Tanya Tao-seonbae pada Daehyun-hyung tanpa melihat kearahnya melainkan kearah Youngjae-seonbae. Tapi, Daehyun-hyung kenapa terlihat aneh? Dia hanya menggangguk namun, posisi kepalanya masih tertunduk bahkan kepalan itu semakin mencengkram benda itu semakin kuat. Aku diam memperhatikan mereka yang juga diam. Aku harap mereka tidak membangun Youngjae-hyung yang kemungkinan jika terbangun dan meilhat mereka ada disini akan kembali menangis.

"Joonhongi."

"ne?"Aku kembali melempar pandanganku ke Tao-seonbae yang juga melempar pandangannya kearahku, ternyata dia memanggilku tanpa melihatku terlebih dahulu –menyebalkan. "jeongmal gomsahabnida, Joonhongi." Lanjutnya dan kini dia menampilkan senyumnya. Sebagai balasan aku menganggukan kepala dan juga ikut tersenyum.

"'anak tengil' jadi…" Tao-seonbae kembali membuka mulutnya tapi kalimatnya tidak dilanjutkan dan menurutku itu berhasil membuat Daehyun-hyung mendongakan kepalanya dan menatap tajam kearah punggung Tao-seonbae dan terkadang dia menatap nanar kearah Youngjae-seonbae berada. Daehyun-hyung masih terdiam, meski sekarang dia sudah tidak tertunduk lagi tapi tangannya masih mengepal. Tao-senobae berbalik dan memberikan isyarat pada Daehyun-hyung, untuk pergi mengikutinya?

Daehyun-hyung mengikuti Tao-seonbae pergi meninggalkan kami berdua disini. Tapi, aku penasaran apa mereka benar-benar akan pergi dari ruangan ini atau hanya berpindah posisi saja? Jadi, aku bangkit dari tempat dudukku melangkah maju dan berhenti ditirai setelah melihat mereka berhenti didekat pintu masuk.

.

Jadi, Tao-seonbae hanya ingin bicara padanya berdua saja. Aku kembali ke tempatku seperti tadi duduk ditepi ranjang. Tidak banyak yang dapat aku lakukan sekarang bahkan sekarang waktu sudah menunjukan lewat jam makan siang. "Apa tidak apa-apa jika aku meninggalkan Youngjae-seonbae sendirian disini? Lagi pula ada Tao-seonbae dan juga Daehyun-hyung, kan?"

Degdeg…

.

Daehyun-hyung? Aku hanya terus-terusan bergumam tidak jelas dan kedua tanganku refleks bergerak bukan kearah perutku yang lapar melainkan ke dadaku yang…yang mulai terasa sesak. Ini kenapa? mulutku memang bungkam tapi pikiranku terus berputar kalimat yang membingungkan.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

Setibanya didepan gerbang sekolahan Chanyeol keluar dari taksi dan langsung mengayunkan langkah dengan cepat. Chanyeol langsung berlari ke kiri setalah berhenti sebentar didepan pintu masuk sekolahnya. Dia memutuskan untuk masuk lewat jalan lain.

Napasnya yang memburu menemaninya selama berlari dari turun dari taksi dan sampai sekarang dia harus berlari menuju ruangan yang ia tuju. Untuk ruangannya tidak terlalu jauh dari dia masuk gedung tadi. Hanya perlu melewati beberapa kelas yang ternyata penghuninya berhamburan dikoridor.

.

Kumohon, kumohon minggirlah! Chanyeol terus bergumam mengisyaratkan pada siswa-siswi yang mengahalanginya untuk minggir dan memberinya jalan untuk berlari dikoridor sekolah. Chanyeol berhasil berlari dengan cepat dan sekarang dia sudah berdiri didepan pintu cokelat yang bertulisan 'Ruangan Kesehatan' dengan tangan kiri bertumpu pada pintu sambil mengatur napasnya yang sampai sekarang masih memburu tersengal-sengal.

.

"Chanyeol sebentar lagi akan datang…" / huwaaa ada yang sedang membicarakanku didalam. Pikir Chanyeol sambil mendongakan kepalanya dan terkadang menundukannya lagi namun, tangannya malah bertambah satu untuk bertumpu dipintu.

.

Cklek~

.

Chaneyol yang mendengarnya pun langsung menegakan badannya dengan bantuan kedua tangannya yang sebelumnya bertumpu kin kembali turun. Ternyata hanya Chanyeol yang sejak awal memperhatikan pintu cokelat itu karena makhluk yang hendak keluar dari ruangan awalnya tertunduk kebawah dan langsung mendongakan kepalanya setelah menemukan ada sepasang kaki yang berdiri didepan pintu.

"dia sudah datang. Chanyeol, didalam ada Daehyun yang sedang menjaga Youngjae. Aku dan juga Joonhong akan kembali ke ruangan ketertiban. Aku sudah hubungi Krystal dan juga Jaebum untuk membawakan tas mereka berdua kemari. Dan kau… akan aku antarkan tasmu nanti." Jelas Tao sambil menunjuk ke beberapa arah; Joonhong yang langsung memberi hormat pada saat Tao memperlihatkan Chanyeol padanya dan Chanyeol pun membalasnya dengan senyumannya, tirai putih yang menunjukan didalam ada Daehyun dan juga Youngjae.

Chanyeol mengangguk mengerti dan langsung menyingkir sedikit untuk member jalan untuk Tao dan juga Joonhong untuk keluar dari ruangan. Setalah mereka pergi, Chanyeol masuk kedalam melangkah ke tirai yang ditunjuk Tao tadi. Ada Daehyun ya? Pikir Chanyeol yang tiba didepan tirai. Dia belum membuka tirainya malah dia tertunduk disana.

.

"masuklah, seonbae. Kau…"

"tidak, dae. Kau saja yang disana. Disampingnya. Aku akan tetap dibelakangnya meski aku menginginkan kau yang ada disana." Sela Chanyeol yang disusul oleh langkahnya yang meninggalkan tirai putih pemisah antaranya dengan Daehyun dan juga Youngjae.

.

"Chanyeol-seonbae, ternyata benar kau sudah sampai." Sapa Krystal saat dia menemukan Chanyeol menutup pintu cokelat. Chanyeol hanya tersenyum miris menanggapinya dan langsung melanjutkan memunggungi Krystal. Krystal merasa ada aura aneh yang terpancarkan dari senyumannya Chanyeol. "apa kau baik-baik saja, seonbae?" Tanya Krystal dan yang ditanya hanya berhenti dan menganggukan kepalanya saja tanpa melihat lagi ke belakang.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"Daehyun-ah…" panggil Krystal setelah sesampainya dia didalam ruangan.

"ne, noona. Aku disini." Sahut Daehyun pelan sambil mengeluarkan telapak tangannya dari sela-sela tirai agar noona-nya dapat menghampirinya. Krystal yang melihat telapak tangan dan mendengar suara Daehyun pun langsung melangkah mendekat kesumber suara.

"Daehyun-ah, ini tasmu dan juga tasnya Youngjae-ah." Ucap Krystal sambil memberikan tasnya Daehyun pada pemiliknya dan meletakan tas Youngjae dilantai dekat nakas. Daehyun hanya bergumam terima kasih pada noona-nya yang repot-repot membawakan tasnya dan juga Youngjae. sebagai tanggapan Krystal hanya tersenyum sambill mendudukan dirinya disamping Youngjae ditepi ranjang. Memperhatikan wajah Youngjae sudah tidak terlihat pucat seperti tadi. Daehyun atau pun Krystal tidak ada yang mau membuka mulut untuk mengusir kesunyian diantara mereka.

.

"tadi didepan aku bertemu dengan Chanyeol-seonbae. Apa dia sudah melihat keadaan Youngjae, dae-ah?" cukup lama mereka terdiam dalam kesunyian dan pemikiran masing-masing tapi akhirnya Krystal membuka mulutnya karena ia tahu Daehyun –adik sepupunya- tengah merasa bingung dengan keadaan sekarang. Daehyun semakin menundukan kepalanya disaat Krystal menoleh kearahnya dan melihat Daehyun hanya menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Krystal dan Krystal hanya menghela nafas panjang atas sikap yang ditunjukan oleh Daehyun padanya.

.

.

"dimana Chanyeol? Aku pikir dia ada disini?" Tanya Tao setelah yang dia temukan disamping Youngjae hanya Daehyun yang masih duduk dikursi disamping Youngjae dengan kepala yang setia untuk tertunduk. Daehyun memperhatikan dan terkadang ia memutarkan handphone milik Youngjae ditangannya. Tao merasa tidak ada jawaban dari Daehyun pun hanya menatap malas pada namja yang mendapat julukan 'anak tengil' ini.

.

Suasana memang hening tapi Tao tidak bisa diam saja untuk membiarkan suasana seperti akan terus berlanjut. Jadi, dia memutuskan untuk mengambil bangku lain yang tersebar dibalik tirai-tirai yang cukup banyak. Tao cukup bersyukur untuk ruangan kesehatan sekolahnya yang cukup luas. Daehyun tahu apa yang sedang dilakukan Tao tapi dia tidak menggubris apa yang dilakukan oleh Tao.

Tao sengaja mencari kursi yang jauh dari posisi Youngjae dan juga Daehyun. Sengaja untuk menyeret kursi itu dan membuat suara decitan dilantai. Hasilnya? Dia menemukan sebuah kursi dan dia benar-benar melakukannya. Menyeret kursi itu ke samping Youngjae berseberangan dengan Daehyun.

Daehyun langsung bangkit dan mencoba menenangkan Youngjae yang tiba-tiba mengkerutkan dahinya karena suara decitan yang dibuat oleh Tao, walau matanya masih tertutup. Dia benar-benar bodoh. Gerutu Daehyun sambil mencoba menenangkan Youngjae untuk melanjutkan tidurnya. Apa yang akan dilakukan oleh Chanyeol-seonbae jika dia disini? Pikir Daehyun sambil menatap Tao malas ketika namja tinggi ini sampai dihadapannya. Tao yang merasa diperhatikan hanya nyengir tidak jelas kearah Daehyun. Dan Daehyun semakin menekukan wajahnya melihat ekspresi yang ditunjukan oleh Tao.

.

"kalau ada Chanyeol disini. Dia benar-benar akan seperti itu. Menampilkan wajah mengerikan sama hal nya yang kau lakukan 'anak tengil'." Ucap Tao santai sambil mendudukan dirinya dikursi yang ia sudah ambil barusan tanpa memperdulikan Daehyun yang termangu mendengar perkataan Tao.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"kau tidak kemari 'jangkung'?"

Chanyeol hanya tersenyum miris membaca rentetan kalimat yang dikirim oleh Tao padanya.

"aku sudah kesana…"

"tidak…"

Chanyeol selalu menghapus setiap kalimat yang ia sudah susun rapih dia layar ponselnya. Dia hanya menghela napas kasar. Bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia tidak bisa disamping Youngjae seperti yang dia harapkan sebelum datang kembali ke sekolah.

.

"Youngjae sudah bangun, apa kau yakin tidak ingin kemari, 'jangkung'?"

Sekali lagi Chanyeol tidak mampu untuk melangkahkan kakinya untuk kembali berlari menghampiri Youngjae dan memeluknya bahkan sekarang dia tidak sanggup untuk membalas pesan singkat yang dikirim oleh sahabatnya sendiri.

.

Aku menyerah atau tidak aku akan tetap dibelakangnya dan aku akan tetap terluka.

.

Mata Chanyeol terpejam. Tubuhnya terbaring tanpa alas diatap gedung sekolahnya bersembunyi dibalik tembok pemisah antaranya dengan teriknya matahari. Menahan rasa sakit yang kembali bertamu dilubuk hatinya. Bayang-bayang senyum seseorangpun menghiasi benaknya yang sudah letih untuk memikirkannya. Youngjae terlalu manis dan juga imut untuk merasakan rasa ini.

Tanpa sadar Chanyeol meneteskan air mata dan salah satu lengannya refleks untuk menutupi wajahnya yang semakin basah karena air mata yang terus mengalir. Dan lengannya yang lain meraba dadanya yang terasa sesak dan sakit seperti terhantam sebuah benda yang memiliki duri yang begitu tajam dan tertanjam didadanya.

.

Dret-dret-dret~

.

Chanyeol langsung merogoh saku jasnya untuk mengambil Handphone miliknya yang kembali berdering.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"Chanyeol-hyung tidak membalas pesan singkatmu, seonbae?" Tanya Youngjae antusias tapi jawaban dari Tao sangatlah membuatnya kecewa. Tao yang melihat wajah Youngjae yang berbeda dari saat dia bangun dan melihat Daehyun disampingnya langsung kelagapan panik. Sedangkan Daehyun biasa saja bhakan dia meluncurkan tatapan aneh pada seonbae yang mendapat julukan 'seonbae menakutkan' dari para siswa dapat menampilkan wajah aneh.

.

"Daehyun, 'dia' memintaku untuk menemani Himchan-hyung. Tapi aku tidak tahu dimana dia berada sekarang." Ucap Youngjae miris dan Daehyun kembali tertunduk memperhatikan benda yang sedari tadi ia genggam.

.

"ini, telepon saja Chanyeol-seonbae jika kau membutuhkannya." Youngjae cukup terkisap dengan sikap Daehyun yang hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Youngjae merasa Daehyun sepertinya sedang marah padanya kerena dia tidak bisa menjaga Himchan-hyung lansung mengambil ponselnya dengan takut-takut. Tao yang merasa Daehyun sudah menunjukan menyeramkan pun langsung menimpali dengan senyuman untuk menyemangati Youngjae untuk menghubungi Chanyeol. Daripada Daehyun yang membuat Youngjae takut untuk menghubungi Chanyeol.

Dengan lincah jari jemari Youngjae mencari nama pemilik nomor Chanyeol dikontak teleponnya.

.

Youngjae hanya menghela napas kasar setelah mendapati bahwa Chanyeol tidak dapat dihubungi. Daehyun masih setia untuk menundukan kepalanya. Tapi, berbeda dengan Tao. Dia langsung bangkit dan berlalu pergi. Namun, sebelum dia benar-benar pergi dia menghampiri Daehyun untuk tidak menundukan kepalanya terus menerus dan menyuruhnya untuk mengajak Youngjae berbicara untuk terus membuatnya terjaga dan tidak merasa kesepian. Setelah itu dia menghampiri Youngjae berpamitan untuk menyeret Chanyeol kehadapannya Youngjae. Youngjae yang mendengarnya hanya terkekeh pelan.

.

Entah kenapa Daehyun merasakan lidahnya sulit digerakan untuk menyuarakan sesuatu yang mungkin akan membuat suasana menyebalkan seperti ini hilang. Tapi tetap saja, Daehyun tidak mampu berkata-kata bahkan Youngjae kembali membaringkan tubuhnya memunggungi Daehyun.

.

"hey, Miss Cubby…"

"jangan memanggilku seperti itu!" sela Youngjae keras kepala –lihat saja, dia menyela tapi dia tidak membalikan badannya atau bahkan menggeser kepalanya untuk sekedar melirik kebelakang saja tidak. Daehyun hanya menampilkan senyum simpul mendengar suara dan tingkah Youngjae dan dia memutuskan untuk bangkit. Apa dia akan meninggalkanku sendiri. Pikir Youngjae disaat dia mendengar suara kursi yang ia yakini itu kursi yang diduduki Daehyun. Dia ingin berbalik dan melihat apa benar Daehyun benar-benar pergi atau tidak. Tapi, dia terlalu takut untuk berbalik.

"ini sudah tersambung dengan ponsel milik Chanyeol-seonbae." ucap Daehyun setelah dia sampai dihadapan Youngjae sambil menyerahkan ponsel milik Youngjae yang sudah terhubung dengan Chanyeol. Youngjae tentu saja terkejut dengan sikap Daehyun kali ini. Jadi, dia langsung mendudukan dirinya diranjang menghadap Daehyun dan meraih ponselnya. Youngjae sudah menggenggam ponselnya. Tapi matanya terkadang melirik pada Daehyun. Tadi Daehyun menatapnya dengan tatapan dingin tapi sekarang masih tapi tidak sedingin yang tadi.

"Ch-Chanyeol?" panggil Youngjae ragu-ragu. Dia takut jika Chanyeol akan langsung menutup sambungannya.

"ne, jae-ah?" sahut Chanyeol dengan nada seperti biasa diberbicara pada Youngjae. Tidak ada getaran dikalimatnya. Tentu saja Youngjae langsung tersenyum lega setelah mendengar suara Chanyeol.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"kau sedang berada dimana, Chanyeol-hyung?" tanyanya pada Chanyeol. Sepertinya dia sangat antusias saat Chanyeol berbicara padanya.

"itu tidak penting. Begaimana keadaanmu. Apa sudah lebih baik?" kenapa dadaku sakit sekali rasanya. Lanjut Chanyeol tapi dia memilih tidak memberi tahu padanya. Dan tangannya Chanyeol yang lain meremas dadanya yang benar-benar sakit.

"itu penting, hyung~. Ne, sudah merasa lebih baik." Chanyeol tersenyum mendengarnya. Dia tersenyum mendengar suara Youngjae yang terdengar seperti merajuk dan dia tersenyum karena makhluk manis diseberang sambungan baik-baik saja. Untuk sekarang. Tidak untuk nanti. Dan Chanyeol tersenyum miris karena dia tidak bisa melihatnya tersenyum.

"itu tidak penting yang penting adalah kau sudah lebih baik."

"kenapa itu tidak penting? Apa kau ingin aku tidak disampingmu?"

karena aku tidak ingin kau melihatku terjatuh karena dirimu, jae-ah. Tidak, jae, tidak. Aku ingin kau disampingku. Tapi aku tidak tahu apa aku bisa atau tidak untuk melakukannya. Pikir Chanyeol menjawab semua pertanyaan yang Youngjae tujukan untuknya. Tapi, Chanyeol tidak sanggup untuk mengatakannya padanya. Dia takut. Chanyeol takut kalau Youngjae akan benar-benar pergi darinya.

"hyung~ jawab~" keluh Youngjae yang manja mulai terdengar lagi.

Greb~

"kami ada diatap gedung satu Youngjae-ssi, tenang saja akan aku bawa hyung-mu ini ke ruangan, oke?" Chanyeol terkejut bukan main disaat waktu yang tidak tepat. Yah, Tao merebut handphone milik Chanyeol sedangkan sang pemilik handphone sedang berbincang dengan makhluk yang ia suka. Dan sekarang dia malah mengatakan hyung-mu. Akan aku bunuh kau Tao! Pikir Chanyeol sambil meluncurkan tatapan mematikan pada Tao.

pemilik handphone masih memperhatikan punggung Tao yang seenaknya membawa handphone-nya pergi menjauh darinya dan justru dia yang berbicara pada Youngjae. Dan terkadang Tao menoleh ke Chanyeol melihat dan mengatakannya pada Youngjae. Entah apa yang dikatakan oleh Tao pada Youngjae.

.

"baiklah. Apa kau ingin bicara lagi dengan Chanyeol?" ucap Tao sambil mendekatkan diri pada sang pemilik handphone –Chanyeol- dan setelah itu menyerahkan handphone-nya pada Chanyeol. "dia masih mau bicara denganmu, 'jangkung'." Lanjut Tao yang sadar jika mata Chanyeol masih menatap tajam kearahnya dan tangan Chanyeol juga sepertinya enggan untuk mengambil handphone-nya lagi. Tapi ini untuk Youngjae. Kalau bukan Youngjae yang menghubungiku aku tidak mau mengambilnya lagi apalagi darimu, 'koko'! pikir Chanyeol sambil meraih handphone-nya dan menempelkan pada telinganya.

"Chanyeol-hyung, bagaimana keadaan Himchan-hyung?" Chanyeol dapat sedikit bernapas lega karena yang Youngjae pikirkan itu Himchan bukan kenapa Chanyeol bisa menyendiri seperti ini diatap. Chanyeol masih menatap Tao yang juga ikut-ikutan mendudukan dirinya disamping Chanyeol. "mwoya!?" keluh Tao ketika dia sadar kalau Chanyeol tengah menatapnya dengan tatapan seperti itu. Dan Chanyeol langsung membuang pandangannya lurus kedepan.

"apa terjadi sesuatu pada Tao-seonbae?"

"mereka berdua baik-baik saja. Tapi, jangan pedulikan Tao. Peduliakan saja Himchan." jawab Chanyeol santai tapi matanya kembali sinis kearah makhluk menyebalkan yang duduk disampingnya dan makhluk yang dibicarakan Chanyeol membuat Tao berdecak pelan.

"hyung, bisa kau kemari?"

.

"aku benar-benar akan menjatuhkan tubuhmu dari sini Tao! Jika kau selalu mengejutkanku seperti tadi!" ancam Chanyeol yang akhir terucap juga. Tao yang mendengarnya hanya tersenyum simpul dan melayangkan permintaan maaf pada Chanyeol.

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"Miss Chu…"

"sudah aku katakan bukan untuk tidak memanggilku seperti itu?!" geram Youngjae. Daehyun justru bukannya takut pada gertakannya Youngjae melainkan dia terkekeh melihat Youngjae yang merajuk dengan wajah yang lucu seperti itu; mem-pout-kan bibirnya dan juga Youngjae melipat kedua tangannya didadanya.

Youngjae yang merasa ditertawakan semakin merajuk dan menyembunyikan dirinya dibalik selimut dan saat dibalik selimut Youngjae berteriak untuk Daehyun berhenti tertawa. Tapi, Daehyun masih mengabaikan Youngjae dan terus saja tertawa bahkan semakin kencang.

"kenapa dia masih saja tertawa? Dan kenapa tawanya semakin kencang?!" gerutu Youngjae tapi tentu saja Daehyun mendengarnya meski dia mengabaikannya.

"Aaa! Daehyun kenapa kau terus saja tertawa!" sekali lagi Youngjae berteriak tapi berbeda dari sebelumnya yang tidak menampakan wajahnya kalau sekarang dia menampakan kepalanya dan memerlihatkan kalau dia benar-benar sedang merajuk pada Daehyun.

"hehe…ekhem…jangan mengeluarkan kepalamu saja, jae. Kau seperti…" Youngjae tidak terlalu yakin dengan ucapan Daehyun yang sengaja dipenggal olehnya, lihat saja Daehyun yang tadinya sudah berhenti tertawa sekarang disaat dia memenggal kalimatnya dia malah senyum-senyum sendiri.

"…seperti habis melakukan 'sesuatu', kau tahu." Dan benar saja perkiraan Youngjae. Ketawa Daehyun sudah benar-benar pecah dan berhasil membuat Youngjae tersungut marah. Dan tanpa Daehyun sadari. Youngjae sudah terduduk mengahadap dirinya dan juga dia sudah siap untuk memukuli Daehyun dengan bantal yang sudah ia genggam erat. Dan…

Buk-buk

"yak! Youngjae! Maaf! Yak! Jangan memukuli lagi! Yak! Ah sakiiiiit!" suara tawa Daehyun tergantikan oleh ringisanya yang tercipta oleh pukulan bertubi-tubi yang diluncurkan oleh Youngjae. dan sang pemukul –Youngjae- hanya berkumandang 'rasakan kau rasakan' dengan keras.

Tidak butuh waktu lama untuk menghentikan pukulan yang mematikan dari Youngjae karena didalam sudah ada Chanyeol yang memegangi kedua tangan Youngjae dan Tao yang menarik kursi yang diduduki oleh Daehyun menjauh dari Youngjae.

"Yak! Daehyun! Kau… Yak! Hyung kenapa kau memegangiku seperti ini?" Tanya Youngjae setelah dia sadar kalau Chanyeol yang memegangi kedua tangannya sambil menatap sinis kearah Daehyun dan juga Tao yang menolong Daehyun dari cengkramannya. Sedangkan Daehyun hanya melongo melihat Youngjae yang sudah berada jauh darinya. Daehyun bernapas lega dapat lepas dari pukulan Youngjae yang tiba-tiba membabi buta.

"hyung~" rajuk Youngjae yang terdengar membuat Tao dan juga Daehyun saling menatap dan terkekeh mendengarnya. Objek yang ditertawakan terus memberontak. Dan…

Bruk~

Bruk~

Dua bantal melayang yang satu ke wajah Daehyun dan yang lainnya ke wajah Tao. Untuk Daehyun Youngjae yang melemparnya sedangkan yang satunya Chanyeol yang melemparnya. Salah sendiri kenapa menertawakan objek yang sedang mengamuk.

"yak! Kenapa aku juga kena?" Tanya Tao tanpa dosa sambil mengambil bantal yang mendarat sempurna diwajahnya dan juga wajah Daehyun dan berjalan menghampiri Chanyeol yang ternyata sudah tidak menggenggam tangan Youngjae lagi. Melemparkan bantal yang satu ke ranjang Youngjae berada. "kau dapatkan bantal yang ini dari mana?" Tanya Tao lagi yang melongo melihat bantal yang masih tersisa ditangannya.

"berikan saja." Sahut Chanyeol sinis sambil menggerakan tangannya meminta bantal itu dan Tao meletakannya diranjang yang ternyata tidak ada bantalnya. Ranjang disebelah kiri Youngjae. "kenapa kau memukuli Daehyun, jae?" Tanya Chanyeol mengalihkan perhatian Youngjae yang sedari tadi hanya menatap sinis kearah Daehyun dan yang dipanggil langsung menampilkan wajah aegyeo-nya. Mencoba untuk mengadu dengan wajah seperti itu? Yang benar saja. Pikir Daehyun.

"dia terus-terus menertawaiku, hyung~" Bingo. Perkiraan Daehyun benar bahwa Youngjae akan mengadu pada Chanyeol. Daehyun langsung mengangkat tangannya dan mengayunkannya dan juga menggelengkan kepalanya, mencoba untuk mengelak dari tuduhan yang diluncurkan oleh Youngjae ketika Chanyeol menatap Daehyun mencari jawaban. Dan disaat yang bersaamaan Youngjae mem-pout-kan bibirnya melihat Daehyun seperti itu.

"jangan memukuli 'anak tengil' ini, Youngjae." Tao menimpali disaat dia sudah berada disamping Daehyun dan tidak seperti biasanya Daehyun membenarkan kalimat Tao meski Daehyun tidak suka terus-terusan dipanggil 'anak tengil'. "tapi… hyung~" sekali lagi Youngjae merajuk pada Chanyeol mencoba agar Chanyeol tidak ikut-ikutan Tao yang membela Daehyun.

"dengarkan aku, Youngjae-ah." Tao dan Daehyun memperhatikan Chanyeol yang seperti sedang membujuk Youngjae untuk tidak merajuk lagi. Terutama Youngjae langsung memposisikan dudukannya menghadap Chanyeol.

"Benar yang dikatakan Tao. Jangan memukulinya bertubi-tubi. Kalau kau memukulnya sekali atau mencubitnya sekali saja, aku yakin Daehyun akan berhenti menertawakanmu. Buktinya kita dapat memberhentikan tawa mereka berdua dalam sekali lemparan saja. Jadi, apapun alasannya. Jangan lakukan itu lagi. Arraseo?" lanjut Chanyeol sambil mencubit gemas pada pipi Youngjae. Daehyun dan Tao mengangguk setuju. Sedangkan Youngjae semakin mem-pout-kan bibirnya dan justru dia menghela kasar.

"Daehyun, jika kau tidak tahu cara membuat Youngjae tidak marah lagi padamu seperti tadi lebih baik kau jangan membuatnya marah. Arraseo?" Daehyun tertegun mendengar perkataan Chanyeol barusan dan dia mengangguk ragu tapi matanya tidak lepas dari matanya Chanyeol yang menatapnya tajam. Berbeda dengan Tao yang langsung mengangguk cepat. Chanyeol melihat tingkah sahabatnya rasanya ingin melempar bantal yang tadi ia lempar ke kepala Tao sekali lagi saja. Tao benar-benar ingin membuatku muntah dengan gayanya yang seperti itu. Pikir Chanyeol.

.

Pertikaian anatara dua kubu;kubu pertama beranggotakan Daehyun dan Tao, kubu yang menyebalkan dan sukanya menganggu –menurut kesepakatan kubu kedua- dan kubu yang kedua beranggotakan Youngjae dan Chanyeol, kubu yang suka marah-marah tijel alias tidak jelas –menurut Daehyun dan disetujui oleh Tao. Bisa kembali akur lagi, meski Daehyun dan juga Tao mesti berjaga jarak dari Youngjae atau pun Chanyeol. Sangat berbahaya kalau mereka –Youngjae dan Chanyeol- secara bersamaan mengamuk ditempat seperti ini. Akan panjang urusannya nanti.

Daehyun hanya memperhatikan Youngjae yang bermanja ria pada Chanyeol. Dia iri? Atau apa? Tapi, Entahlah. Daehyun hanya merasa ada yang dari dirinya. Itu saja.

"Tao-seonbae, Chanyeol-hyung, Daehyun…" panggil Youngjae berturut-turut dan membuat orang yang dipanggil langsung memperhatikan gerak-gerik Youngjae yang mulai tertunduk dan meremas selimut yang sedikit menutupi tubuhnya itu. Dan tidak ada yang menjawab panggilan Youngjae satu pun. Termasuk Chanyeol yang tepat berada dibelakangnya pun tidak menjawab panggilan Youngjae.

"apa kalian mengenal dengan Baekhyun?"

.

1detik

.

2detik

.

3detik

.

Tiga makhluk yang tadi namanya dipanggil oleh Youngjae kini membeku. Terdiam mendengar pertanyaan Youngjae yang meluncur mulus dari bibir kissble miliknya itu. Apalagi Chanyeol. Dia langsung ikut tertunduk bahkan tangan kirinya yang bebas rafleks meraih dadanya yang mulai terasa sesak. Tao bingung harus berbuat apa. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Youngjae ketika Chanyeol merasakan luka lamanya. Sama halnya Daehyun. Dia juga bingung dengan apa yang harus dia katakan pada Youngjae.

.

Daehyun ada telepon yooohooo~ ada telepon yooohooo~

.

Suara panggilan masuk kini terdengar diponsel milik Daehyun. Daehyun langsung merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang terus berbunyi. Dan itu cukup melegakan untuk tiga makhluk dari pertanyaan Youngjae, meski mereka tahu ini hanya bersifat sementara. "kenapa suaranya seperti itu?" cela Tao yang mendapat hadiah tatapan mematikan dari sang pemilik ponsel.

Baekhyun? Pikir Daehyun setelah dia melihat pemanggil dilayar ponselnya dan terkadang dia melirik kearah Youngjae yang tengah meperhatikannya. Daehyun melihat Chanyeol yang masih menundukan kepalanya dan juga terlihat tangannya yang meremas dadanya. Daehyun ragu untuk mengangkat telepon ini. Tapi apa boleh buat?

0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0

"Himchan…Himchan…Himchan…Himchan…" Yongguk terus saja bergumam.

"eung…" Yongguk yang mendengar sebuah suara awalnya tidak begitu mempedulikannya tapi…

"eung…" suaranya kembali terdengar. Dan berhasil membuatnya sedikit merinding. Tentu saja ini rumah sakit. Jadi, suara-suara seperti itu agak sedikit terngiang ditelinga.

.

"hey,"/pletak

"sakit" rengek Yongguk sambil mengelus sayang pada kepalanya yang tadi dipukul oleh seseorang.

"kau tadi memanggilku tapi saat aku menjawab kau malah terdiam bahkan semakin menundukan kepalamu." Mata Yongguk langsung terbelalak terbuka melihat Himchan yang sudah sadar bahkan sekarang dia sudah duduk menghadap dirinya. "kau sudah sadar, Hime?" ucap Yongguk takjub dan bagi Himchan panggilan yang didendangkan Yongguk untuknya ini sedikit membuat ingin terbang kalau dia tidak sedang dirawat dirumah sakit mungkin Himchan akan terbang beneran.

"kau kenapa tertunduk dan terus memanggil namaku terus menerus bahkan mengabaikanku?" Tanya Himchan panjang kali lebar. Sedangkan yang ditanya melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi. Mengelus sayang pada kepalanya yang dipukul oleh Himchan.

"jawab pertanyaanku, pabboya!" Himchan yang merasa diabaikan oleh makhluk yang ditanya akhirnya naik pitam juga. Dan yang ditanya?

"kau bertanya? Bertanya apa?" Tanya Yongguk polos atau tanpa dosa?

.

Jdeeeeeeeer~

.

"Yongguk jika kita berada disekolahan sekarang dan bukannya dirumah sakit seperti ini. Aku sudah membunuhmu!" suara Himchan memang pelan tapi itu mampu membuat Yongguk mengangguk cepat dan melayangkan kata maaf berulang-ulang.

.

"apa hanya kau saja yang disini menemaniku?" Tanya Himchan penasaran karena saat dia sadar hanya menemukan Yongguk yang tertunduk ditepi ranjangnya sambil bergumam namanya terus dan terus. "tadi ada Chanyeol. Tapi, dia pergi saat setelah menerima telepon dari seseorang." Jawab Yongguk dengan wajah yang serius dengan apel yang ia kupas untuk Himchan. Himchan memiringkan kepalanya tidak mengerti dan Yongguk yang melihatnya hanya menghela napas pelan. Dan memajukan badannya mendekat diri ke ranjang milik Himchan sambil menyodorkan potongan apel ke mulut Himchan. Dan Himchan membuka mulutnya menerima suapan dari Yongguk.

"tadi ada seseorang yang menelponmu. Tapi, aku serahkan pada Chanyeol." Jelas Yongguk sambil menyodorkan potongan apel ke mulutnya Himchan yang sudah kosong. "eum…nu…gu?" Tanya Himchan dengan mulut yang begitu penuh oleh apel-apel yang diberikan oleh Yongguk.

"molla."/pletak

Jawaban Yongguk memang singkat dan sesingkat itu juga tangan Himchan langsung memukul kepalanya lagi dengan sendok yang tergeletak diatas nakas.

"sakit Hime~"

.

Blushing~

Himchan langsung menutupi pipinya yang tiba-tiba terasa hangat saat mendengar Yongguk merajuk seperti itu. Yongguk terus-terusan mengelus sayang kepalanya yang sudah dua kali kena pukul Himchan. Namun, saat Yongguk menoleh kearah Himchan yang terlihat shock dan juga sibuk mengusapi –mendinginkan- wajah khususnya dikedua pipinya langsung panic akan terjadi sesuatu pada Himchan dan berniat untuk memanggil suster untuk memeriksakan keadaannya.

Himchan yang menyadari gelagat Yongguk yang terlihat panik langsung menarik tangan Yongguk untuk melihat ke wajahnya. Saat Yongguk berpaling ke wajah Himchan. Himchan langsung menggelengkan kepalanya dan untungnya Yongguk mengerti maksudnya. Jadi, Himchan dapat bernapas lega untuk kejadian konyol seperti ini. Padahal dia yang membuat pipiku memanas seperti ini, kenapa dia yang panik? Pikir Himchan sambil menatap intens namja berwajah tegas yang ada dihadapannya ini.

"Hime, jika kau ingin tahu siapa yang menghubungimu yang diangkat oleh Chanyeol. Kau bisa melihat dipanggilan masuk, kan?" Yongguk memainkan ponsel Himchan dan menyerahkannya pada Himchan. "eum… Hime, are you okay?" Tanya Yongguk polos ketika dia menemukan Himchan yang termangu memperhatikan dirinya.

"thank's" jawab Himchan singkat dan cepat setelah Yongguk mendapatinya tengah menatap intens pada Yongguk. Himchan langsung memainkan jari jemari lentiknya untuk menari diatas layar ponsel miliknya. Dan jari Himchan langsung terhenti seketika. Yongguk yang melihat tingkah Himchan yang terlihat aneh pun penasaran dengan apa yang dilihat Himchan dilayar ponsel milik Himchan. "benar, tadi dia menguhubungi dan yang mengangkatnya Chanyeol." Jelas Yongguk setelah melihat yang dilihat Himchan. sedangkan Himchan semakin termangu mendengar penjelasan Yongguk.

Baekhyun? Pikir Himchan sambil menatap kosong lurus kedepan.

"apa kau baik-baik saja?" Yongguk sedikit atau memang khawatir dengan kondisi Himchan saat ini? Karena sekarang dia mengganggam tangannya Himchan dengan erat dan itu berhasil membuat sang pemilik tangan menoleh kearahnya. Sepasang mata marbel hitam pekat bertemu dengan sepasang mata cokelat yang tajam. Mereka saling memandang satu sama lain. Mencari jawaban dari pertanyaan yang membingungkan.

"apa kau baik-bak saja?" Yongguk mengulangi perkataannya. Karena Himchan tidak menjawab pertanyaanya malah dia tenggelam dimata cokelat milik Yongguk. "ani, nan gwaenchana, gukkie." Jawaban Himchan yang diakhir kalimatnya memanggil Yongguk dengan panggilan yang tidak terduga oleh siapa pun dan makhluk yang dipanggil seperti itu langsung tersenyum menampilkan deretan gigi yang cemerlang. Sedangkan Himchan?

Blushiiiing~

"kenapa wajahmu memerah, hime-ah?" posisi Yongguk yang mengahadap langsung dengan wajah Himchan langsung bertanya ketika semburat merah muda menghiasi pipi Himchan dengan polosnya dan jangan lupakan wajah Yongguk yang menampilkan dia benar-benar polos. Himchan yang mendengarnya pun langsung menarik dirinya dan menyembunyikan dibalik selimut. Jantung Himchan dan juga Yongguk sama-sama berdetak cepat. Berpacu oleh waktu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

*TBC*


haihaihaihaihaaaaaai~ *bow*

huwaaaaaaaaaa akhirnya akhirnya~ /abaikan/

mohon RnR nya~ gomawo~