beberapa minggu ini, bener2 males nulis... tp ngeliat review kalian jadi merasa bersalah kalau harus males2an terus... well, akhirnya setelah membangun motivasi untuk nulis jadilah chapter yang nggak terlalu panjang ini... gomen...
Di chapter ini cara natsu memanggil lucy bukan lucy lagi tapi luce XD jadi kedengerannya "lus"
Rasanya lebih enak aja bayanginnya saat natsu manggilnya "luce aka lus" .
klo ceritanya melenceng dari karakter banget, gomen ne? :)
chapter 14 -i care u
Lucy P.O.V
Mungkin natsu lupa aku disini? Ya? Nggak? Mungkin ya... hei! Itu nggak mungkin...
Nggak mungkin... tapi kenapa dia sama sekali nggak menoleh ke belakang sedikitpun? Apa pertandingannya terlalu seru? Ah,dia berbicara pada lisanna lagi dengan jarak yang begitu dekat. mereka bahkan terkesan mesra-mesraan, tanpa menyadariku ada dibelakangnya. apa mereka jadian tanpa sepengetahanku? Itu nggak mungkin. tapi tetap saja natsu seharusnya paling nggak menoleh ke arahku dan mengajakku berbicara. Tunggu! Apa yang sedang aku pikirkan? Bukannya itu bagus? lisanna berhasil menarik perhatian natsu... itu bagus... semakin mereka dekat, maka usahaku untuk menjauhi natsu nggak akan diperlukan lagi. itu... bagus.
"ada yang sedang kau pikirkan?" sting senpai menepuk pundakku, mengagetkanku sedikit pada prosesnya. Aku mengangguk ragu.
pemain yang didukung sting senpai mencetak score, hasilnya keadaan sekitar menjadi sangat ramai. Saat itulah sting menarikku keluar stadium. Saat dia sudah berhenti dan kami sudah berada diluar stadium, aku menatapnya penuh tanda tanya, tentu saja karena dia tiba-tiba menarikku keluar saat pemain jagoanya mencetak score. Apa dia nggak ingin tahu hasil pertandingan yang masih setengah permainan itu?
"apa?" tanya senpai pura-pura nggak tahu. Tunggu, apa dia benar-benar nggak tahu?
"kenapa kau menarikku keluar?"
"karena kau sudah bosan disana" kata senpai dengan senyum khasnya.
"tapi itu pertandingan baseball! Kesukaanmu, senpai!"
"aku yakin club favoritku akan menang. Tenang saja"
"ta-tapi.."
"ayo" tangannya lagi-lagi menarikku, aku nggak mengerti dia akan mengajakku kemana, tapi ya sudahlah... lagipula natsu nggak mempedulikanku didalam sana. Dia sama sekali nggak peduli.
Normal. P.O.V
Natsu menggerutu pelan. moodnya menjadi sangat jelek saat mengetahui lucy dan sting sudah pergi dari tempat duduknya tanpa dia ketahui kapan. Teman-temannya sudah mulai pulang setelah pertandingan tadi, yang tersisa hanya dia, gray, juvia dan lisanna yang tetap saja menggandeng tangannya. Dia merasa bersalah karena dengan tindakannya tadi pasti dia telah memberikan lisanna anggapan yang salah.
"natsu... boleh aku bicara padamu... sebentar" kata lisanna pelan
"oke?" jawab natsu ragu.
Gray yang ada didepannya berhenti dan menoleh menghadap mereka.
"hanya kita berdua" lanjut lisanna sambil melirik ke arah gray. Gray mengerti dan langsung menggandeng tangan juvia.
"aku menunggu kalian di food court. Cepatlah setelah kalian selesai bicara" kata gray sebelum akhirnya berjalan menuju food court yang dimaksudnya.
Kini perhatian penuh natsu tertuju pada lisanna. dia akan menunggu apa yang akan dikatakan lisanna
"natsu... aku tahu kau kesini untuk mengawasi sting senpai dan lucy"
Kata-kata lisanna itu membuat natsu kaget.
"kau... tahu?" tanya natsu speechless.
Lisanna mengangguk lalu tersenyum. "tapi ternyata lucy pergi dengan sting senpai ditengah pertandingan dan kau bahkan nggak tahu itu" kata lisanna dengan senyumnya.
Natsu mengangguk kesal. Kesal karena kenyataan itu benar dan kesal karena lisanna berbicara tidak langsung pada pointnya.
"apa yang sebenarnya ingin kau katakan lis?" tanya natsu nggak sabar.
Lisanna tersenyum manis. "kau mungkin menyukai lucy, dan memperhatikannya.. tapi kau lihat sendiri, bahkan lucy nggak mengajakmu bicara sekalipun tadi, dan pada akhirnya dia meninggalkanmu disana tanpa pamit untuk pergi dengan sting senpai. apa lucy memperhatikanmu? Kurasa tidak natsu"
Ucapan lisanna yang terdengar begitu tenang mengagetkan natsu, dia ingin marah atas apa yang didengarnya, tapi ini lisanna.. teman yang sudah seperti saudaranya sendiri. dia nggak mungkin marah padanya.
Natsu tidak mengatakan apapun.
"ayo ke food court itu, gray menunggu kita" kata natsu mencoba untuk tenang, dia mulai berbalik tapi lisanna dengan cepat menarik tangannya dan memeluknya. Kejadiannya terjadi begitu cepat dan membuat natsu terkejut, tapi natsu lagi-lagi tidak bisa melakukan apa-apa. Dia juga tidak membalas pelukan lisanna.
"natsu... aku memperhatikanmu..." kata lisanna pelan tapi cukup keras untuk didengar natsu.
Natsu menghembuskan nafas berat dan menatap lisanna yang menyandarkan kepalanya pada dadanya. Bagaimana cara dia menolak lisanna tanpa menyakitinya? Dia menyukai lucy.. Dia masih menyukai lucy, masih sangat-sangat menyukainya, dan dia yakin lisanna tahu itu.
Lisanna mempererat pelukannya pada natsu dan dengan suara pelan, dia membisikkan sesuatu pada natsu. "natsu... kalau kau benar-benar menyayangi lucy... bukankah sebaiknya kau melepaskannya? Kau tahu... lucy nggak akan bisa menolakmu, kumohon jangan membebaninya, dia nggak ingin menyakitimu"
Lidah natsu serasa kelu. Dia tidak mampu mengatakan apa-apa, dengan pelan natsu melepaskan pelukannya dan berjalan menuju foodcourt.
"ayo lis, gray dan juvia sudah menunggu kita"
Lucy mendekap maskot pertandingan baseball yang berbentuk boneka ayam lucu itu dekat dengan dadanya. Sting mengamatinya dengan senang.
"kau tahu, kadang kau seperti anak kecil" kata sting singkat. lucy mendongak dan menatap sting.
"kau berhalusinasi, senpai. aku lebih dewasa daripada kau"
"aku serius, lu..."
Lucy tertawa. " aku juga serius senpai"
"ugh, lagi-lagi kau menyakitiku" kata sting dengan muka pura-pura tersakiti. Melihat muka sting, lucy tertawa kembali dan memukul lengan sting main-main.
"aku ingin menyakitimu lebih dari itu!" kata lucy jahat.
Sting memasang muka cemberut. Tapi lucy tahu sting sedang senang.
"kuharap kau nggak bosan hari ini karena aku membuatmu nggak melihat pertandingan itu" kata lucy pelan, dia menatap langit yang mulai berwarna jingga.
"jangan khawatir, aku seratus kali lebih senang disini dengan kau yang tersenyum daripada menonton pertandingan itu dengan kau yang kebanyakan melamun" kata sting sambil mengusap rambut lucy.
Lucy tersenyum, tapi dia juga bisa merasakan pipinya memerah. "kau membuat pipiku memerah" kata lucy pelan. sting tertawa dan menarik lucy menuju tempat terparkirnya mobil merahnya.
"ayo, aku harus mengembalikanmu pada tante layla sebelum matahari terbenam" kata sting.
Lucy tertawa dan mengikuti senpainya, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada dua orang yang sangat dikenalnya berdiri diantara keramaian orang. Lucy menoleh sekali lagi ke arah mereka dan memastikan apa yang dilihatnya. saat merasakan gadis dibelakangnya itu memperlambat langkahnya sting berhenti dan menatap apa yang dilihat lucy. seketika, dia mengerti dengan apa yang terjadi. dia meremas tangan lucy dengan lembut untuk mendapatkan perhatiannya, lucy menoleh ke arahnya.
"ayo" katanya tegas. Lucy tersenyum pahit dan mengangguk. dia nggak bisa mengatakan apa-apa dan terus mengikuti langkah sting saat mengetahui yang dilihatnya benar-benar natsu dan lisanna, dan mereka sedang berpelukan.
Gray menunggu sahabatnya itu secara sabar. Juvia yang ada didepannya melihat ke arah sekitar arena stadium yang ramai dipenuhi penonton yang sedang mencari souvenir pertandingan ataupun sedag mencari makan.
"kuharap natsu-san nggak memperburuk keadaannya" kata juvia tiba-tiba dengan pandangan khawatir.
Gray menatap ke arah apa yang dilihat juvia dan mendapati natsu yang sedang berjalan ke arah mereka dengan lisanna yang berjalan disampingnya dan dikejauhan dia melihat sting yang membukakan pintu mobilnya untuk sting. Dia yakin dari arah mereka berdua datang, ada kemungkinan mereka berempat berpapasan. Apa itu buruk? Gray tidak tahu. Tapi saat melihat natsu dan lisanna menghampirinya, dia tahu ada yang buruk.
Natsu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya. Dia melihat ke kamar lucy yang gelap, tanda kalau mungkin lucy sudah tertidur. Dia menatap langit-langit dan menutup matanya dengan punggung tangannya. Kejadian hari ini benar-benar membuatnya lelah. Apa yag dikatakan lisanna tadi sore membuatnya berpikir. Apa benar lucy meninggalkannya demi sting? apa perasaannya benar-benar membebani lucy? apa lucy hanya nggak bisa menolaknya? Apa perkataan lisanna benar?
Natsu mengambil ponselnya dan menatap nomor kontak lucy. sebaiknya dia mencobanya. Dia men-dial nomor lucy. dia menunggu agak lama sampai akhirnya dia mendengar suara lucy.
"Halo, natsu?"
"lucy... kau sudah tidur?" tanya natsu pelan, suaranya terdengar parau
"ya... aku baru saja tertidur" jawab lucy diseberang dengan suara yang agak tidak jelas karena baru bangun tidurnya.
"ah, maafkan aku. Kau bisa lanjutkan tidurmu" kata natsu pelan. "aku akan tutup telfonnya" kata natsu lagi dengan rasa kecewa.
"tu-tunggu, natsu" teriak lucy diseberang yang membuat natsu membatalkan menutup telfonnya.
"ada apa luce? Kau perlu sesuatu?" tanya natsu.
"kau baik-baik saja?" terdengar suara khawatir lucy dari seberang.
Natsu terdiam. "aku baik-baik saja, luce..."
"kau terdengar sebaliknya natsu... aku tahu kau" kata lucy jujur, natsu nggak bisa menahan senyumnya saat mendengar penuturan lucy.
"aku hanya kelelahan" jawab natsu setengah berbohong.
"kau yakin?" kata lucy cepat.
"aku yakin" kata natsu.
"apa aku perlu kesana?" tanya lucy diseberang, suara serak dan pelan natsu nggak berhasil meyakinkannya bahwa tetangganya itu baik-baik saja.
Natsu terdiam dan berpikir, lucy bersikap seperti biasanya. Lucy memperlakukannya seperti biasanya, lucy masih mempedulikannya, lucy adalah gadis yang baik, gadis yang baik sampai lucy nggak mungkin bisa menolaknya. Harapan natsu untuk lucy sekali lagi runtuh.
Terdengar suara gemeresak diseberang, lucy mungkin sedang siap-siap menuju tempat natsu. natsu mengusap wajahnya dan menghembuskan nafasnya pelan.
"hentikan luce..." kata natsu yang seketika diikuti oleh keheningan diantara mereka berdua.
"natsu?"
"hentikan, kau nggak perlu kesini, aku nggak apa-apa" kata natsu. "jangan beri aku terlalu banyak perhatianmu, luce... kau tahu... kalau kau memberiku lebih... aku nggak akan bisa berhenti meminta darimu"
"tapi itu wajar natsu... aku sahabatmu..."
"justru karena kau sahabatku... kau nggak berhak terbebani olehku"
"apa yang kau katakan? Aku sama sekali nggak terbebani olehmu natsu..." kata lucy tegas.
Natsu tersenyum. pembicaraan ini mulai melelahkan, lucy terlalu baik. Jauh lebih baik dari anggapannya. Mereka terdiam cukup lama.
"aku kesana ya?" tanya lucy diseberang dengan nada hati-hati.
"terimakasih luce... tapi aku baik-baik saja, kau nggak perlu kesini. Tidurlah, itu akan membantuku saat ini" kata natsu tenang.
"kau yakin?"
"aku yakin, selamat malam" kata natsu
"selamat malam natsu, aku menyayangimu"
Natsu tersenyum dan menutup telponnya. dia tahu maksud kata terakhir lucy adalah sebagai sahabat. Lucy terlalu baik sebagai Natsu mulai nggak yakin kalau dia layak meminta lebih pada lucy.
Pagi itu lucy berdiri di depan gerbang rumahnya sambil menunggu papanya mengambil mobilnya. Supir pribadinya hari ini harus menjemput rekan kerja papanya jadi terpaksa dia harus pergi diantar papanya. Dia berkali-kali melirik ke arah gerbang natsu karena dia yakin natsu belum berangkat. Benar saja, beberapa menit kemudian mobil milik natsu keluar. Senyum lucy mengembang seketika, biasanya natsu akan berhenti sebentar dan menoleh ke arah gerbangnya dan akhirnya memberikan tumpangan untuknya. Lucy berjalan menuju rumah natsu dengan senyum manisnya, tapi senyum itu tak bertahan lama saat mobil natsu begitu saja turun ke jalan dan meninggalkan lucy yang hanya bisa mematung tidak percaya.
"apa dia nggak melihatku?" tanya lucy nggak percaya.
Lamunan lucy dibangunkan oleh suara klakson papanya.
"ayolah sayang... kau nggak mau terlambat kan?" tanya papanya.
Lucy mengangguk dan seketika masuk ke mobil papanya dan mengencangkan sabuk pengamannya. Dalam hatinya dia bersumpah kalau natsu pura-pura nggak melihatnya dia akan memastikan lengan natsu lebam hari ini.
Di sekolah lucy langsung berlari menuju kelasnya dan mengedarkan matanya mencari natsu, tapi saat melihat natsu yang duduk dibangkunya dengan lisanna yang sedang berbicara denganya, lucy jadi ingat tentang perjanjiannya dengan lisanna. dia terdiam didepan pintu, bingung harus melewati mereka berdua untuk menuju kebangkunya yang berada beberapa baris dibelakang natsu atau mengambil jalan lain. tanpa disadarinya dia sudah mengambil jalan yang akan melewati natsu, dia melihat wajah natsu yang terlihat kelelahan. Dalam hatinya dia menjadi grogi, jangan-jangan natsu nggak akan menyadari keberadaannya saat dia lewat nanti. karena lisanna sedang disana, mereka berpelukan kemarin, dan mungkin lisanna telah mengambil seluruh perhatian natsu. beberapa langkah lagi, dia akan melewati natsu dan natsu sama sekali nggak menoleh ke arahnya. biasanya saat lucy berada di ambang pintu, natsu akan sangat cepat menyadarinya. Lucy menggigit bibir bawahnya grogi.
Empat langkah lagi, natsu belum menoleh. Tiga langkah lagi, natsu sama sekali nggak menoleh ke arahnya. dua langkah lagi, lucy frustasi dan tidak sadar kakinya tersandung kaki meja. Semuanya terjadi begitu cepat dan lucy menutup matanya tak siap dengan sakit yang akan dia rasakan saat bagian tubuhnya terbentur lantai ataupun furniture kelas lainnya. tapi sakit itu nggak pernah datang. dia membuka matanya pelan dan melihat senyuman dari wajah yang membuatnya kehilangan fokus beberapa menit lalu.
"selamat pagi gadis ceroboh" salam natsu dengan senyumannya yang memperlihatkan gigi taringnya. dia menegakkan postur lucy yang berhasil ditangkapnya tepat sebelum lucy terbentur apapun. lucy hanya terdiam dan menatap natsu yang berdiri didepannya.
"terimakasih" kata lucy speechless.
Natsu tertawa dan mengacak-acak rambut lucy pelan. "lain kali hati-hati, luce..." kata natsu sebelum kembali menuju bangkunya. Lucy yang masih dalam fase kagetnya dengan cepat menuju bangkunya dan duduk, saat dia bisa memproses semua yang telah terjadi dia baru sadar jantungnya berdegup dengan cepat dan saat menyentuh pipinya, dia bisa merasakaan pipinya hangat. Lucy melihat ke arah punggung lebar natsu. Beberapa menit lalu saat natsu menangkapnya, lucy berpikir senyum natsu sangat keren. Dengan cepat lucy menggelengkan kepalanya untuk menghapus pikiran anehnya.
Ponsel lucy bergetar. Lucy mengambil ponselnya dan tersenyum.
Aku punya dua tiket nonton besok, kau bisa datang gadis kecil? –sting senpai
Lucy dengan cepat membalas sms sting.
tentu saja senpai -
"dan...kirim" ucap lucy senang
"apa yang kau kirim, tuan putri?"
Lucy menoleh dan mendapati muka loke hanya berjarak beberapa inchi darinya. Lucy memutar kelopak matanya, dan tersenyum. dia tahu, dosis flirting harian loke akan datang sebentar lagi.
To be cont...
