HER REAL MASK

Warning: OOC, TYPOS, CRACKED- PAIR, etc

Rate: M

Disclaimer: Naruto Belonging Masashi Kishimoto

DON'T LIKE DON'T FLAME

DON'T LIKE DON'T FLAME

DON'T LIKE DON'T FLAME

READ AND REVIEW PLEASE (0.0)

Coba baca lagi deh siapa tau jadi suka . *author maksa*

Sakura tengah berada didalam taksi, beberapa menit yang lalu Mebuki meneleponya, dia memberitahukan bahwa Kizashi tiba-tiba saja mengalami kejang dan sekarang tengah kritis. Perasaan Sakura campur aduk antara senang, khawatir, sedih dan beberapa perasaan lainya.

Sakura merasa senang karena kemungkinan permainanya dan Naruto akan menghasilkan kemenangan. Namun dia juga merasa khawatir dan juga sedih dengan kondisi ayahnya yang semakin menurun.

Drrrrttttt...drrrrrttttt...

Ponsel Sakura tiba-tiba saja bergetar menampilkan sebuah pesan masuk dari salah satu aplikasi chating.

From : Naruto baka

Subject : PAP 3 menit yang lalu

IMG_20072017165456

Mata emerald Sakura menatap tajam pada foto yang baru saja dikirim oleh Naruto. Seorang gadis berambut indigo tengah berada dalam pelukan hangat Sasuke tanpa busana. Dan lebih parahnya lagi foto itu diambil diatas ranjang Sasuke yang berwarna biru tua. Sakura menggeram tidak suka, dia hampir saja melemparkan ponselnya ke luar jendela, jika saja dia tidak mengingat bahwa itu ponsel satu-satunya.

"Sialan kau jalang !!! lihat saja aku akan membuat mu menderita." Ujar Sakura sambil mengeratkan genggaman tanganya pada ponselnya.

Beberapa menit kemudian Sakura sampai di rumah sakit Konoha. Sakura berjalan dengan terburu-buru menuju ruangan ayahnya yang berada dilantai lima. Beberapa kali Sakura menabrak orang-orang yang melintas di koridor dan dihadiahi umpatan, namun Sakura tidak menggubrisnya.

Sakura pun sampai di lantai lima, disana terlihat Mebuki tengah menangis didepan ruang perawatan Kizashi.

"Kaa-san !! bagaimana keadaan tou-san ???" tanya Sakura saat sudah berdiri di depan Mebuki.

"Hiks...hiks...tou-san..mu...kritis...hiks...uang kita... tidak cukup...hiks...untuk membiayai perawatan tou-san...hiks...hiks..." Mebuki memeluk Sakura.

Sakura membolakan matanya, 'Bukankah orang tuaku memiliki banyak uang ?? lalu kemana hasil kerja tou-san selama ini ???'

Satu dan banyak hal yang tidak Sakura ketahui selama ini, bahwa semenjak kasus pembulianya terhadap Hinata beberapa tahun yang lalu jabatan Kizashi sebagai general manager diturunkan menjadi pegawai biasa. Untuk menutupi segala kebutuhan hidup mereka Mebuki pun terpaksa ikut bekerja di perusahaan keluarga Otsutsuki sebagai customer care.

Tap...tap...tap...

Terdengar bunyi langkah tergesa-gesa mendekati mereka dan itu adalah suara langkah Neji. Wajah Neji benar-benar terlihat kusut dan gusar. Namun rahangnya tetap menutup rapat apalagi saat melihat Sakura, kilat kemarahan terlihat jelas dari matanya.

"Bagaimana keadaan Kizashi-san ???" tanya Neji dingin.

Sakura dan Mebuki pun melepaskan pelukanya, Mebuki menunduk hormat pada Neji sedangkan Sakura masih memasang wajah bingung tanpa berniat melakukan apapun. "Suamiku saat ini tengah kritis Neji-san," Mebuki berusaha menahan tangisnya.

Jujur saja saat ini Neji merasa kesal ralat sangat kesal. Beberapa jam yang lalu Neji sedang berkutat dengan dokumen perusahaan yang memuakan, kemudian Itachi menelepon dan mengajaknya keluar menemaninya ke Yamanaka WO untuk menyiapkan segala keperluan pertunanganya dengan Konan tiga hari lagi. Menurut Neji ajakan Itachi cukup menghiburnya dari kepenatan selama seharian dengan dokumen perusahaan.

Baru saja setengah jam dia berada di Yamanaka WO, Hikari tiba-tiba saja meneleponya dan menyuruh Neji untuk pergi ke rumah sakit Konoha untuk memeriksa keadaan Kizashi yang tiba-tiba saja kritis dan menyuruhnya memberikan bantuan dana jika diperlukan. Jika saja itu bukan perintah langsung dari ibunya, mungkin Neji akan menolaknya.

Akhirnya Neji pun terpaksa meninggalkan Itachi dan Konan bersama seorang gadis berambut pirang yang mengaku teman sekelas Hinata -Ino. Padahal dia masih ingin memilih pakaian yang akan digunakanya dan Hinata untuk pesta pertunangan Itachi. Neji pun melesat membelah jalanan Konoha seperti orang gila. Dan saat sampai di Rumah sakit Konoha, Neji melihat Sakura yang membuatnya semakin kesal. Ya Neji belum bisa memaafkan tingkah buruk Sakura pada Hinata.

Neji menghela napas kasar, "Jika bukan karena permintaan kaa-san aku tidak akan kemari." Ujar Neji jujur. Sakura dan Mebuki membolakan matanya mendengar ucapan frontal dari mulut Neji.

"Aku kemari hanya disuruh untuk memeriksa keadaan Kizashi-san dan melaporkanya pada kaa-san, karena aku sudah tahu jadi aku akan kembali ke kantor." Neji membalikan badanya, namun tiba-tiba Mebuki mencengkram lengan kiri Neji.

"Neji-san aku...kami membutuhkan bantuanmu kumohon... kami sudah tidak memiliki uang untuk membayar perawatan suamiku, kumohon bantulah kami..." ujar Mebuki serak karena terlalu lama menangis.

Neji menaikan alisnya lalu menyeringai, "Apa untungnya bagiku ??"

Kriiiik...

Baik Mebuki maupun Sakura tidak mampu menjawabnya. Neji pun melepaskan cengkraman Mebuki perlahan-lahan. Neji penasaran dengan tingkah mereka selanjutnya, sedikit mempermainkan orang lain disaat genting mungkin akan menjadi hiburan yang menarik bagi Neji.

"Tidak apa-apa jika kau tidak mau membantu kami, keluarga Uchiha masih mau membantu kami." Sakura berujar dengan lantang sambil mengepalkan kedua tangan disisinya.

Neji terkekeh pelan hingga hampir tersedak (?) jujur saja Neji ingin tertawa saat ini tapi dia harus tetap menjaga imej coolnya seperti Sasuke. Neji pun membalikan badanya dan berjalan dengan tenang mendekati Sakura, sedangkan Sakura merasa sedikit gugup.

"Kau pikir keluarga Uchiha masih mau membantumu setelah tahu kelakuan busuk mu dan si Namikaze entah Uzumaki kuning keparat itu ??" Neji mendesis disela ucapanya. Sedangkan Mebuki masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Neji.

"Apa maksudmu ?? aku tidak melakukan apapun pada Sasuke-kun." Sakura berusaha membela dirinya.

"Ya kau memang pengecut !!" Neji menunjuk wajah Sakura dengan telunjuknya. "Kau berniat merusak hubungan adik ku dengan adik Itachi, dengan berbagai taktik busuk dan murahan."

Sakura memasang wajah kaget, "Adik ?? siapa maksudmu 'adik' ?? jadi Otsutsuki jalang itu adik angkat mu ??"

Neji mengepalkan tangan kirinya, dia menahan emosinya agar tidak langsung menghajar wajah Sakura. "Jaga ucapanmu Haruno !! Hinata adalah adik kandungku !! dan aku tidak akan segan-sgan melenyapkanmu jika kau bertingkah macam-macam padanya."

Mebuki membolakan matanya mendengar ucapan Neji, "Neji-san kumohon maafkan putriku, kumohon jangan tarik bantuanmu saat ini, kumohon Neji-san." Mebuki meraung-raung sambil menarik tangan kiri Neji –lagi.

"Jika bukan karena kebaikan kaa-san, dan jasa Kizashi-san pada perusahaan Hyuuga. Mungkin dia sekarang sudah tergeletak dijalanan." Ujar Neji sambil melepaskan tangan Mebuki perlahan-lahan.

Neji pun melangkah menjauhi Sakura dan Mebuki. Tiba-tiba saja ponsel Neji bergetar menampilkan panggilan masuk dari Itachi. Neji pun menghentikan langkahnya sejenak.

'Moshi-moshi...'

'Aku lupa memberitahumu, Hinata berada di rumahku bersama Sasuke.'

'Apa ?!! kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi ??? ah jangan sampai si pantat ayam merusak kesucian adikku...'

'Tenang saja, mereka sedang bersenang-senang, mungkin Hinata akan menginap dirumahku untuk menemani kaa-san...'

'Tidak !! Hinata tidak boleh menginap di kamar Sasuke !!! pantat ayam sialan itu pasti akan berbuat macam-macam pada adikku.'

Sakura menggeram tidak suka mendengar ucapan Neji. Sakura tidak percaya jika Hinata benar-benar adik Neji, dia merasa sakit hati mendengar Hinata akan menginap di rumah ralat kamar Sasuke.

'Aku tidak bilang Hinata akan menginap di kamar Sasuke, tapi kemungkinan iya sih. Sejak tadi Sasuke dan Hinata diam di kamar tidak turun ke bawah.'

'Aku pergi ke rumahmu sekarang !!!'

'Aku tidak berada di rumah, aku di rumah konan... katakan saja bahwa kau takut dirumah sendirian.'

Ya sejak kecil Neji memang merasa takut jika ditinggal sendiri di mansion Hyuuga. Sebab dahulu Neji pernah melihat makhluk astral di salah satu ruangan di mansion Hyuuga.

'Aku tidak peduli !!'

'Ayolah Neji, jemput aku di rumah Konan... kau tahu sendiri aku tidak membawa mobil... kau sendiri yang menjemputku ke Yamanaka WO'

Neji menepuk dahinya pelan, karena saking semangatnya untuk pergi ke luar. Neji dengan sengaja menjemput Itachi di persimpangan jalan menuju mansion Uchiha, jadi Neji tidak tahu bahwa ada Hinata di rumah Itachi.

'Baiklah, aku akan pergi ke kantor dahulu. Jika kau sudah selesai telepon aku, dan kita pergi untuk menebas kepala pantat ayam adikmu.'

'Apaaaa...'

Neji mematikan panggilan tanpa menunggu ucapan selanjutnya dari mulut Itachi. Kemudian Neji melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah sakit.

HER REAL MASK

"Enggggghhhh..." Hinata menggeliat pelan, dia merasakan sepasang tangan kekar melingkar pada tubuhnya, tangan kekar tersebut menyebarkan rasa hangat pada sekitar tubuh Hinata. Dia masih enggan untuk membuka matanya, malah semakin mengeratkan pelukanya pada objek abstrak di depannya.

Sasuke merasa terusik dengan gerakan sederhana yang dilakukan oleh Hinata. Sasuke membuka sedikit matanya lalu mengeratkan pelukanya pada Hinata dan kembali memejamkan matanya.

Krieeeet...

Mikoto membuka pintu kamar Sasuke pelan-pelan, Mikoto tersenyum dan hampir memekik melihat posisi Sasuke dan Hinata saat ini. Mikoto mengelurkan ponsel dari kantung celemeknya lalu mengambil foto Sasuke dan Hinata, setelah mendapat foto yang menurutnya bagus, Mikoto pun meninggalkan kamar Sasuke.

Mikoto tersenyum sambil mengetik sesuatu pada ponselnya. Beberapa saat kemudian sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Mikoto.

From : Fuga-kun

Subject : -

Putraku tidak gay !!! akhirnya Sasuke akan menikah !!!

*Stiker seseorang waria (?) berambut panjang berteriak dengan kedua tangan mengepal di depan tubuhnya*

Ternyata Mikoto mengirim foto Sasuke dan Hinata yang baru saja diambilnya. Okay jangan bayangkan jika Fugaku mengucapkan kalimat diatas secara langsung dengan wajah yang bersemangat seperti guru Guy. Karena itu tidak mungkin terjadi. Jika pun Fugaku mengucapkanya secara langsung, wajahnya pasti akan tetap datar dan berwiba seperti saat Sasuke akan makan bersama dengan keluarga Hyuuga.

HER REAL MASK

Sasuke tidak bisa kembali tertidur setelah Mikoto keluar dari kamarnya, dia heran kenapa Mikoto dan Naruto mengambil fotonya. Untuk mengobati rasa bosanya, Sasuke memutuskan untuk menikmati keindahan tubuh Hinata dalam dekapanya.

Sasuke mengusap rambut Hinata yang begitu seperti rambut Mikoto dan Itachi. Mengingat nama Itachi entah mengapa Sasuke merasa ada sesuatu yang janggal, bukan karena rambut Itachi yang halus. Sejak dulu Sasuke tahu bahwa ibunya ingin memiliki anak perempuan dan mengorbankan Itachi untuk mewujudkan keinginanya. Sasuke merasa heran kemana anikinya yang selalu mengganggunya ??.

Dia tidak ambil pusing dengan hal itu, Sasuke malah merasa bersyukur dengan hilangnya Itachi saat ini. Sasuke kembali melanjutkan usapanya pada pipi, dagu, hidung, bibir dan berhenti pada tanda di pundak Hinata yang berwarna merah terang. Sasuke menyadari bahwa itu adalah hasil gigitanya beberapa saat yang lalu saat mengalami puncak kenikmatan. Gigitanya melukai kulit mulus Hinata.

Sasuke merasa sedikit bersalah sudah melukai Hinata, Sasuke pun mengecup luka tersebut berharap warna merah tersebut akan hilang seiring bertambahnya frekuensi kecupanya. Namun sialnya bukanya berhenti, Sasuke malah semakin gencar mengecupi bagian tubuh Hinata yang lain.

"Sial !! kau begitu seksi bahkan saat tidur !!" umpat Sasuke. Sejak memulai kecupanya Sasuke tahu bahwa Hinata sudah sadar, namun Sasuke enggan untuk menghentikan kecupanya karena gairah sudah menyelimuti pikiranya.

"Isssshhh Sasuke-kun hentikan..." Hinata berusaha untuk menjauhkan kepala Sasuke dari tubuhnya.

"Ayolah hime, aku sudah tidak kuat menahanya lagi..." ujar Sasuke menggoda sambil meniup telinga Hinata.

"Berhenti Sasuke-kun, aku ingin mandi. Aku harus pulang sebelum Neji-nii marah lagi.." Hinata menarik selimut dan menggulung tubuhnya sedemikian rupa.

"Baiklah kita mandi bersama." Sasuke langsung mengangkat tubuh Hinata dan membawanya ke kamar mandi. Hinata tidak meronta, dia terlalu malas entah terlalu lemas untuk melawan. Sasuke mendudukan Hinata disamping bathtub lalu menyalakan keran air panas dan air dingin agar air yang akan dia gunakan menjadi hangat.

Setelah menyalakan keran air Sasuke kembali menatap wajah Hinata, kemudian mengusap bahu Hinata yang masih merah.

"Maaf aku melukaimu," Sasuke mengusap bekas gigitanya lalu mencium kening Hinata lama. "Aku tidak akan melukaimu lagi." Sasuke tersenyum tulus, benar-benar tulus pada Hinata. Sepertinya sebagian –ralat seluruh hati sang bungsu Uchiha sudah menentukan pilihanya.

Sasuke mengambil sabun cair di belakang tubuh Hinata lalu menuangkanya ke dalam bathtub. Busa langsung memenuhi bathtub tersebut dan harum lavendel yang lembut menyerbak memenuhi penciuman Sasuke dan Hinata.

"Aku tidak tahu jika kau menyukai bunga lavendel..." ujar Hinata sambil memainkan busa yang semakin menggunung.

"Kaa-san yang membelikanya untukku, dia bilang harumnya sama sepertimu." Sasuke menutup keran air lalu menggenggam tangan Hinata untuk mengajaknya berdiri.

"Lepaskan selimut itu, aku tidak ingin selimut kesayanganku basah." Sasuke menyeringai menggoda sambil berusaha menurunkan selimut yang menutupi sebatas dada Hinata.

"Tidak !! kau akan kembali macam-macam padaku !!" Hinata mendelik tajam pada Sasuke.

Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Hinata kembali pada kepribadianya yang menyeramkan. Sejujurnya Sasuke lebih suka Hinata bertingkah manis saat bersamanya, tapi Hinata malah lebih sering menampilkan kepribadianya yang keras kepala.

"Aku tidak akan macam-macam, kita hanya akan mandi bersama mungkin saling menggosok punggung. Jika kau tidak melepas selimut menyebalkan itu, bagaimana kau akan mandi ??" tanya Sasuke dengan wajah sedikit gusar.

Akhirnya otak Hinata dapat memproses ucapan Sasuke. "Baiklah kau masuk terlebih dahulu dan jangan melihatku melepas selimut." Hinata menatap galak pada Sasuke.

Sasuke mengangguk, dia sedang ingin melihat tingkah aneh yang diciptakan oleh Hinata dan pasti itu akan terlihat manis di matanya. Sasuke pun langsung masuk kedalam bathtub tanpa perlu melepaskan apapun karena sejak tadi dia memang tidak memakai apapun.

Beberapa saat kemudian Hinata masuk kedalam bathtub dan menyamankan dirinya dibelakang Sasuke dengan kaki yang sengaja ditekuk. Hinata mulai memainkan air ke punggung Sasuke lalu mengusapnya pelan. Sasuke mulai bernapas berat sambil menutup matanya.

"Tubuhmu bagus Sasuke-kun, tapi sayangnya Sakura sudah menikmati keindahan tubuh mu lebih dahulu daripada aku..." entah mengapa Hinata merasa dadanya sesak dan air mata menetes dari sudut matanya.

Sasuke membuka matanya lalu memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Hinata. "Gomen, tapi itu aku yang dahulu, sekarang aku sudah berubah... aku akan setia padamu, aku berjanji... kumohon kau mau menerima masa laluku..." Sasuke mengusap air mata di pipi Hinata.

Hinata mengumpat didalam hati, 'Ayolah Sasuke kau selalu bertingkah ditempat yang tidak tepat, kumohon jangan lakukan hal romantis di kamar mandi.'

"Baiklah sekarang kau ambil sikat itu, lalu gosok punggungku." Sasuke tersenyum sambil menunjuk sikat berwarna putih yang disimpan dibelakang tubuh Hinata. Perempat siku muncul di dahi Hinata.

'Sudah bertingkah romantis ditempat yang salah, sekarang dia menyuruhku menggosok punggungnya ?!!! tapi...' Hinata tersenyum misterius lalu mengambil sikat dibelakangnya.

"Berbalik lah Sasu-pyon sayang, aku akan membersihkan punggungmu."

Sasuke membalikan tubuhnya lalu terkekeh pelan, "Aku suka kau memanggiku sayang,"

"Benarkah ?? tapi aku lebih suka memanggilmu 'chicken butt' seperti yang sering nii-san ucapkan..." Hinata menggsok pelan punggung Sasuke, namun lama kelamaan semakin cepat dan keras.

"Jangan mengikuti si sadako, aawww... pelankan sedikit hime !!" pekik Sasuke, Hinata tersenyum lalu memelankan gosokanya pada punggung Sasuke, namun beberapa saat kemudian kembali berubah menjadi cepat dan keras. Dan itu terus berulang, hingga akhirya Sasuke benar-benar merasa sakit pada punggungnya.

"Awww hime, hentikan, sakit !!! baiklah aku mengerti maksudmu, kau ingin berendam disini sendirian, jadi hentikan gosokan menyakitkanmu !!"

Hinata terkekeh pelan, sebenarnya Hinata hanya ingin menjahili Sasuke tetapi respon Sasuke malah lebih dari yang dia bayangkan. Sejak tadi Hinata memang ingin berendam sendirian dan Sasuke mengabulkanya.

Sasuke bangkit dan berjalan menuju shower untuk membilas tubuhnya, "Maid akan mengantarkan pakaian bersih dan handuk untukmu, jadi kau berendam saja sampai puas." Ujar Sasuke disela mandinya.

TBC

Huaaaaa ternyata konfliknya engga nyampe disini, mungkin next chap atau nextnya lagi hehehehehe . sejujurnya saya bingung sama nasib Naruto, enaknya dia diapain ya ???

Asalnya saya mau nampilin lemon kaya di Fifty Shades of Grey halaman 248 :v tapi saya engga mood buat ngetiknya.Saya tepar -_- setelah aktivitas tiga minggu terakhir yang naudzubilah padat.

Well lomba yang aku ikutin ternyata pengumumanya hari minggu tanggal 30, aku kira waktu hari sabtu tanggal 22... tapi engga apa-apalah, semoga aja menang. Saingan aku cowok semua (?) sumpah yang ketemu sama aku pas lomba itu cowok semua, atau mungkin ada ceweknya tapi engga bisa hadir karena sebuah alasan tertentu.

Jangan lupa read, review, fav dan foll yaaa...

Eh follow juga IG aku @himekazeera kalo kalian dari Wattpad atau FFn, DM aja biar langsung di follback...