aku menunggu respon kalian di chapter ini. sebenarnya aku sudah menyiapkan beberapa chapter untuk release, tapi karena aku masih ingin menguji beberapa hal baru maka aku tidak akan langsung mengupdate-nya sekaligus. lagi pula aku ingin melihat komentar kalian akan hasil pekerjaanku. jangan ragu untuk mengingatkanku dengan kritik atau sekadar memberiku saran.
aku akan berusaha tidak mengecewakan kalian di chapter demi chapter yang akan kubuat. dengan catatan jangan lupa tinggalkan review oke? kurasa sebagai author amatir hanya itu yang akan kuharapkan.
NB : Tanya padaku apa yang kalian ingin tahu, atau yang kurang jelas dari penggambaran charakter olehku.
SEMOGA CERITAKU TIDAK MEMBOSANKAN.
Root Of Uchiha
Chapter 14
Cahaya keajaiban desa.
. . . . . . . .
Hoshigakure adalah desa kecil yang cukup aman. Disini terdapat sejumlah shinobi, meski jumlahnya sedikit dan kurang memiliki skill itu tetap berarti bagi warga desa. Desa menjadi aman, dan tentram, hanya itu bahkan desa ini juga memiliki seorang Kage dimana hanya desa besar yang memilikinya, itu cukup membuat tercengang karena desa kecil dengan shinobi sedikit tetapi berani menggunakan Kage dan bukannya bergabung pada desa besar lain untuk mendapat perlindungan.
Naruto dalam wujud hengenya berjalan mengitari desa untuk mengamati titik-titik vital dan mempelajari seluk beluk desa tersebut. Saat ini ia berkeliling dengan wujud petani tua biasa, matanya terus memicing kesana kemari mengamati lingkungan sekitar.
'aku harus berkeliling. Akan mencurigakan kalau aku hanya berdiam diri menunggui ninja-ninja Konoha ini. Dan yang terpenting mataku akan sakit melihat chunnin yang terus-menerus bertingkah konyol itu. Memalukan.'mata Naruto menangkap dikejauhan sana siluet ketiga orang berhittae-ate Konoha. Mereka kelihatan tengah bercengkrama akan hal yang tidak penting dilihat dari ekspresi ketiganya. Naruto-pun memutuskan untuk melintas melewati mereka.
'apa mereka benar-benar Ninja?'
Tapi tanpa disadari Naruto, ia telah lewat pada waktu yang salah. Asuma membuang rokoknya dan tepat mengenai kepalanya saat ia lewat. Alhasil, ninja itu menoleh. Dan karena itu mereka beradu pandang dalam waktu yang cukup lama.
"Gomenasai.."gumam Asuma meminta maaf pada pak tua itu. "aku tidak bermaksud untuk tidak sopan."
Guy dan Kurenai ikut-ikutan memandang kearah atensi Asuma. Remaja laki-laki itu menggaruk tengkuknya tidak gatal.
"yosh! Maafkan temanku jii-san! Dia pasti tak sengaja. Ya kan Asuma-san?"
Naruto mencoba tersenyum dalam wujud henge-nya. "kalian orang baru disini?"
Kali ini Kurenai yang menjawab. Ia tersenyum walau keningnya berkerut.
"bagaimana anda tahu? Kami ini dari Konoha. Salam kenal Jii-san."
Pak tua itu menggeleng. Senyumnya begitu tipis dan tatapannya melirik kearah ketiga Chunnin itu saat ia berlalu.
"-karena tingkah kalian sedikit memalukan. Itu sebabnya aku tahu kalian bukan warga daerah sini."
Pak tua itu terus berlalu diikuti oleh tatapan Guy, Kurenai, dan Asuma.
"orang yang sinis."kata Guy kemudian. "Kukira warga desa akan begitu ramah pada orang baru."
Kurenai mendesis, ia memukul kepala Guy. "karna memang begitulah orang-orang yang melihat tingkah bodohmu! Kita semua jadi dinilai seperti itu!"
Guy tertawa. Asuma mendesah ringan.
"caranya menatap, itu begitu berbeda. Apa kalian menyadarinya?"
Guy berhenti tertawa. Kurenai langsung mengalihkan atensinya kearah Asuma yang masih menatap kearah jalan yang dilalui pak tua sebelumnya. Mereka tak beranjak dari sana sedikitpun meski orang tua yang mereka temui tadi telah meninggalkan mereka dan menghilang di ujung jalan.
"jika yang kau maksud cakra.. aku yakin aku juga merasakannya."Kurenai berbicara pelan. Mata Rubby-nya memandang kedua rekannya bergantian. "aku adalah pengguna Genjutsu. Aku tahu mana orang yang menggunakan Afinitas cakra meski itu kecil sekalipun. Dan yang terpenting, kukira itu bukan berarti tadi adalah wujud asli orang itu.. itu hanya.. Topeng."
"lalu apa yang akan kita lakukan?"Guy bertepekur sebentar. "apa kita harus menyelidikinya?"
Semua orang menatap Asuma. Mereka berharap Asuma akan memberikan suaranya kali ini.
"dalam dunia shinobi.. tak penting apa yang terjadi di daerah tempat kau menjalankan misi. Itu bukan urusan kita.. ini juga sudah diluar kewenangan Konoha."ujar asuma pendek. Ia menyulut api ke rokok baru-nya lagi.
"pekerjaan kalian adalah memastikan bintang tak dicuri. Hanya itu."
"ha'i!"kurenai dan Guy menyahut sambil melangkah berpencar untuk berpatroli.
'meski orang tadi juga agak mencurigakan.'batin Asuma sambil tetap mengamati jalanan tempat pria tua tadi menghilang. 'aku merasakan cakra-nya selayaknya cakra yang tertahan. Tapi itu pasti bukan henge, aku yakin itu.'pikir asuma sambil berjalan meniti jalan yang tadi di lalui si petani tua.
. . . . . . . . . .
Kali ini Guy mengintip pada area tempat di atas bukit yang memiliki jurang bintang dan merupakan temoat bertanah kelabu di daerah Hoshigakure. Disana terdapat dua bangunan besar, satu tempat pelatihan ninja Hoshigakure untuk mengembangkan cakra dengan bintang mereka dan satu lagi sebagai flat bagi anak-anak itu untuk beristirahat. Konon, semua anak disana adalah pilihan Hoshikage sebagai Rokkie, dan karena itulah mereka mendapat pelatihan Khusus sebagai calon pengendali Cakra dengan energi bintang nantinya.
"huh? Apakah hal seperti itu benar-benar ada?"gumamnya pelan sambil mengintip apa-apa yang ninja itu lakukan. Ia kelihatan berpikir keras, di dalam kamus hidupnya tak ada hal lain yang lebih penting dibanding kerja keras untuk mencapai kekuatan. Terlebih dengan meminimalkan penggunaan cakra, semua pengguna taijutsu tahu akan prinsip kerja hal ini. Serangan fatal dan menggunakan energi seminimal mungkin.
Brukh!
"aku.. sudah tidak tahan lagi."
Suara itu membuat Guy berjengit. Ia memandang ke dalam ruangan dengan mata melebar, matanya mendapati dua orang anak tergeletak dan semua anak lain menghentikan sikap meditasi mereka. Keduanya langsung di angkat menuju tempat peristirahatan mereka. Guy melompat mundur, pintu terbuka dan Sumaru beserta 5 anak lain keluar dari ruangan.
"itu kelihatan bukan pertanda yang bagus. Apa semuanya selalu berlangsung seperti ini setiap hari?"Raut wajah Guy kelihatan bertanya-tanya. "-kupikir itu pasti sedikit berbahaya."
Sumaru kelihatan menahan napasnya. Ia memandang Guy serius, "itu adalah harga yang pantas untuk sebuah pengabdian demi desa. Kami semua memang diperlukan untuk mengembangkan diri dan menguasai cakra itu sedemikian rupa agar kami bisa menjadi ninja yang kuat. Yang bisa melindungi Hoshigakure dan menjadikan desa ini diakui di elemental nation. Hoshigakure akan jadi negara terbesar selanjutnya setelah ini. Dan masa depan itu harus kami pikul, seberbahaya apapun itu. Desa memerlukan kami untuk melakukan pekerjaan ini."
Sumaru kembali memberi instruksi pada temannya untuk membawa salah satu anak yang kelelahan. Kali ini wajahnya begitu muram, "ini sudah ke lima kalinya minggu ini. Radiasi bintang ini benar-benar berbahaya untuk bisa didekati terlebih dikendalikan."
Guy kelihatan tidak tenang. "apa kalian tidak mempelajari seni ninja yang lain? Maksudku taijutsu? Kenjutsu? Genjutsu? Fuinjutsu? Kelihatannya kalian hanya berfokus pada Ninjutsu. Itu dibuktikan mengapa kalian memerlukan jumlah cakra yang banyak untuk melakukan ini."
"dalam dunia Ninja memang dikenal seni lain selain hanya Ninjutsu. Tapi semua itu tidak penting, kami memiliki gaya bertarung kami sendiri. Sesuatu yang hanya mungkin bisa dilakukan oleh ninja dari Hoshigakure no Kunni. Kami tak akan menyerah, karena kami yakin Bintang itu akan membantu kami mencapai kejayaan kami."gumam Sumaru yakin. "aku tak perduli apa yang kalian lakukan di Hi no Kunni sana, tapi di Hoshigakure, kami memiliki seni ninja tersendiri.. dan kalian negara besar tak bisa meremehkan itu."
"kalian memang sangat menggebu. Itu adalah hal yang lumrah bagi semua Shinobi.."suara Guy menghilang. "kita memiliki tempat hidup dengan perbukitan yang hampir sama, dengan keindahan yang tentunya agak berbeda. Dan di Konoha kami memiliki Hokage, dia adalah seorang ninja terpilih yang paling tangguh di dalam desa dan akan berjuang melindungi desa selama ninja-ninja Konoha melaksanakan misi-nya. Kurasa itu agak serupa dengan jabatan Hoshikage kalian."
Sumaru kelihatan memandang kearah bukit di balik lembah bintang yang berwarna abu-abu ini.
"dan itulah mengapa aku berlatih keras, Hoshikage adalah jabatan mulia dimana ia adalah orang yang sanggup berjuang demi desanya. Aku tak keberatan merasakan sakit, bagiku asal itu berarti kemajuan. Desa ku benar-benar desa yang kuat, kami hanya memerlukan sedikit waktu lagi agar bisa menjadi Negara besar bergabung dengan ke Lima negara Elemental lainnya. Dan saat waktunya tiba nanti aku akan menjadi Hoshikage, aku akan menjadi orang yang membawa desa ini kepada Kejayaan."
"Yosh! Kalau semangatmu begitu keras pasti kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan Sumaru-san! Kalau begitu aku tak akan menyerah pada keadaan. Aku tak akan kalah darimu, semangat Muda-ku masih benar-benar berkobar."seru Guy senang.
"kau tak mengerti apa yang kumaksud dengan menjadi Kuat dan berkorban demi desa dengan menanggung pendidikan berat."tukas Sumaru kaku. "kau kelihatan kurang memahami maksudku."
Guy mengabaikan itu. Ia hanya tersenyum hangat.
"apa kau mau berlatih bersamaku Sumaru-san?"
Sumaru kelihatan berpikir sejenak. Ia melirik kedalam ruangan, semua orang sedang beristirahat saat ini.
"kalau kau mau."katanya akhirnya. "tapi tidak sekarang.. aku ingin melihat keadaan temanku terlebih dahulu."
Guy menganggukkan kepalanya setuju. "aku akan menunggumu di depan gerbang tangga menuju ke bukit ini petang nanti."
Keduanya berpisah, sampai ketika Guy melihat kearah seseorang yang melompat kearahnya. Itu adalah orang yang ia kenal. Kurenai Yuhii, mendatanginya dengan gerakan lincahnya seperti biasa.
"kau dapat sesuatu Guy?"ujar Kurenai ingin tahu.
"radiasi bintang kelihatannya adalah ide yang benar-benar buruk. Eto-o, dimana Asuma-san? Aku ingin menjelaskan apa yang kudapat padanya juga."
Kurenai melirik kearah sekitar, kemudian ia mengangguk. "aku menemukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Kelihatannya kita harus segera melapor pada Asuma-kun."
Dengan segera keduanya pun pergi menemui Asuma yang saat ini tengah berdiri di anak tangga paling bawah di jalan menuju kearah bukit bintang. Seperti biasa, rokok di bibirnya tetap menyala. Wajahnya seperti biasa, tanpa beban apapun dan terkesan kurang peduli. Kurenai menghampirinya untuk pertama kali baru disusul Guy kemudian. Mereka merapatkan diri, membuat sejumlah kode kecil diantara mereka.
"aku bola neraka yang pecah terkena kuah ramen Ichiraku dan merupakan mangkok hitam keberuntungan!"Guy berucap. Ia melirik kearah Kurenai memberi semangat.
"aku mawar merah dari hutan kematian yang mekar jika tertiup api."kata Kurenai kemudian. Kali ini semua orang memperhatikan Asuma.
"aku adalah satu-satunya keturunan Monyet."gumamnya datar.
Dalam hati Kurenai hendak tertawa. Guy menahan rasa gelinya dengan cara menutup mulut, memang dari ketiga Kode yang mereka miliki hanya kode Asuma lah yang paling mencolok. Sebenarnya itu bukan pilihan yang terlalu baik, sebab tak ada yang cukup pas menggambarkan Asuma Sarutobi selain dari hal itu. Itu juga bukan sepenuhnya kesalahan, karena sejak mereka menetapkan kode pertama kali ini memang sudah didiskusikan. Lagipula siapa yang berani menghina seorang 'Sarutobi'? jika ada bisa dipastikan nyawa orang itu tak akan bertahan sampai satu hari meski ia berusaha.
'siapa yang berani menghina keturunan Hokage ketiga?'batin Kurenai dalam hati. 'Saru=Monyet bukan berarti secara harfiah memang monyet. Kurasa hanya clan Sarutobi yang mengetahui akan hal itu.. apa karena mereka bisa mengendalikan monyet? Atau karena gerakan mereka yang lincah? Entahlah. Semua Sarutobi adalah baik.. lagi pula siapa yang perduli akan arti itu?'
"hah. Aku tahu kau akan tertawa Guy, sudahlah itu tidak penting. Kuingatkan, kita memiliki misi sekarang,"ujar Asuma sebal. "jadi apa yang kalian dapatkan?"
Kali ini kurenai yang menghela napasnya dan memulai laporannya.
"desa ini begitu misterius. Semua aktivitas ninjanya terlihat sedikit terselubung dari desa luar. Maksudku aku tahu jika shinobi desa memang harus bersikap defensif saat bertemu dengan shinobi desa lainnya. Tapi ini aneh, dan lagi pula aku mendengar sesuatu."kata Kurenai sambil mengecilkan volume suaranya.
"...-kudengar jika penyusup yang menyusup itu belum tertangkap dan masih berkeliaran. Itu yang menunjukkan mengapa semua ninja Hoshigakure terlihat mencurigai kita."
Asuma menimbang-nimbang sejenak. "itu memang aneh, tapi tetap saja itu diluar kewenangan kita. Prioritas kita adalah memastikan bintang Hoshigakure tidak dicuri."
"tapi apakah itu tidak berpengaruh? Maksudku bukankah kita juga seharusnya mengawasi gerak-gerik mencurigakan yang dapat membahayakan bintang itu?"kali ini Guy yang bersuara. "satu hal yang pasti, jika bintang itu memang beradiasi, maka dapat dipastikan pencurinya sudah mengetahui tentang hal tersebut dan telah merencanakan pencuriannya dengan matang. Bahkan beberapa orang pun masih tidak kuat untuk menahan radiasinya meski bersamaan."
"apa kau memiliki hal lain terkait laporanmu Guy?"Asuma melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hoshikage telah berbaik hati pada kita dengan menyambut kedatangan kita dengan penuh pengharapan. Aku tak ingin mengecewakan kepercayaan yang telah diberikannya."ucap Asuma akhirnya. "lagi pula aku tak memiliki informasi lebih baik. Kurasa memang sebaiknya kita membagi tugas,"
Kurenai kelihatan keberatan, tapi ia tidak bersuara.
"Kurenai dan Guy kalian berdua harus membututi ninja desa yang berlaku mencurigakan. Kalian berdua harus melakukannya dengan baik, karena aku mencium sesuatu yang aneh."
"tapi-"kurenai hendak membantah. "bagaimana denganmu sendiri?"
Asuma menjauhkan dirinya dari kedua rekannya. Ia menatap menelaah ke kejauhan. "aku memiliki bagianku sendiri. sekarang kita harus mulai berpencar, hari telah senja dan saatnya untuk melaksanakan rencana."ujar Asuma sambil melompat menjauhi kedua temannya.
"-dan jangan mengikutiku. Pastikan rencana berjalan dengan lancar dan kita akan bertemu kembali di penginapan di bukit."
'Henge No Jutsu!'dan menghilanglah penampilan remaja perokok bermarga Sarutobi dengan sepasang mata cokelat gelapnya itu.
. . . . . . . . .
Di lain tempat.
Di pinggiran hutan dua orang bercaping tengah menghadapi sebuah aliran sungai. Yang satu adalah seorang pria dewasa sementara yang lain hanyalah seorang anak-anak. Keduanya tengah memandangi hari yang menuju gelap karena matahari telah tertidur di peranduannya.
"semua ninja desa sedang mencari keberadaan kita."Ujar si bocah sambil terus memandang kearah langit. "seperti yang kau katakan, ini adalah misi berjangka waktu karena kesulitannya. Dan satu lagi,"gumamnya sambil melirik kearah pria dewasa yang berdiri di dekatnya.
"kelihatannya kehadiran ninja dari desa bukannya malah membantu. Kehadiran mereka malah cenderung membuat semuanya menjadi kacau."
Disisi lain sosok yang diajak berbicara malah menurunkan capingnya. Orang itu menutup separuh wajahnya menggunakan kain hitam.
"kau akan mempelajari bagaimana cara Anbu NE melakukannya. Aku akan menunjukkannya bagaimana membuat semua hal yang salah menjadi tidak salah, atau mengubah yang benar menjadi salah dan sebaliknya."
Tiba-tiba sepasang mata crimson muncul dari bawah caping si anak yang diajak berbicara. Meski gestur tubuhnya tetap terlihat nyaman tapi tak bisa dipungkiri bahwa aura kehangatan sore hari itu telah tercemar oleh sesuatu.
"kelihatannya kita harus berpisah lagi. Aku ingin membereskan sesuatu."gumamnya pada si pria dewasa. "dan sepertinya akan ada sedikit perubahan."
Si pria langsung berdiri, mereka beradu pandang dalam beberapa detik sebelum akhirnya langsung menghilang dalam bayangan hitam.
.
"a-apa itu?"Asuma terperanjat begitu menyadari kehadirannya dirasakan oleh orang yang diintainya. "mereka kelihatan mencurigakan."
Tiba-tiba sesaat setelah Asuma menyadari dirinya ketahuan, seseorang mencolek bahunya. Orang itu adalah orang yang sama yang dikenalnya, seseorang dengan rambut mangkok yang menatapnya serius.
"-G-guy! T-tapi bagaimana bisa kau-"
"kita harus pergi."ujar Guy sambil membimbing Asuma menghilang dari tempat tersebut. Dikejauhan sana pria dewasa bercaping yang sama hanya mampu mengangguk sambil memperlihatkan senyum mata. Orang itu pergi menuju arah lainnya.
'apa kau memang seberbakat itu dalam menyamar?'pikirnya tersenyum memuji.
TBC
