Gift Of Love
.
Naruto milik Masashi Kishimoto.
.
Real Story by Julie Garwood
.
Tachibana Ema
.
Warning AU, OOC, miss typo, Lime
.
.
Selepas kepergian Naruto dari kabinnya, Naruto segera pergi ke kabin Shizune. Dia tak mengetuk pintu lebih dulu, begitu membuka pintu kabin, sebuah suara terdengar, suara yang sangat dikenalnya, Kakashi anak buahnya ternyata sudah berbagi ranjang dengan Shizune.
"Siapa?" tanya Kakashi sambil menyeringai.
"Aku harus bicara dengan Shizune," kata Naruto nyaris tersenyum melihat anak buahnya ada di sini.
Shizune terbangun kaget saat mendengar suara Naruto. Dia terkesiap dan menarik selimut sampai kedagunya. Semburat merah di pipinya segera menjalar sampai ke kuping bagian belakang, membuat Naruto sulit untuk menahan senyumannya. Tapi untung dia masih bisa menahannya.
Setelah Shizune cukup menguasai keterkejutan dan kegugupannya, Naruto berjalan mendekat. Dia berdiri tepat di samping tempat tidur, lalu mulai bertanya sambil melihat lantai, untuk mengurangi rasa malu Shizune.
"Hinata sakit," kata Naruto sebelum Shizune bertanya padanya.
"Aku harus menemuinya," bisik Shizune segera melupakan rasa malunya dan digantikan dengan rasa cemas khawatrir. "Apa kau tahu sakitnya apa?"
"Kau mau aku memeriksanya?" sambar Kakashi. Dia buru-buru meyibakkan selimut.
Naruto menggeleng. Dia berdehem sebentar, lalu berkata. "Ini... masalah perempuan."
"Masalah perempuan apa?" tanya Kakashi kebingungan.
Tapi Shizune mengerti apa yang dimaksud Naruto. Dia menepuk-nepuk tangan Kakashi, tapi tak mengalihkan pandangannya dari Naruto. "Apa dia kelihatan sangat kesakitan sekali?"
"Sepertinya sakitnya parah sekali. Tolong katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untuk menolongnya?" tanya Naruto sambil menganggukkan kepalanya.
"Bir biasanya sedikit membantu mengurangi rasa sakitnya," kata Shizune sambil tersenyum, karena Naruto terdengar seperti seorang komandan dimedang perang. "Dan kata-kata lembut juga tidak ada salahnya. Aku ingat, dia bisa sangat emosional kalau sedang seperti itu."
"Apa tak ada hal lainnya yang bisa kulakukan?" gumam Naruto. "Sungguh Shizune, dia kelihatan sangat kesakitan. Aku tak bisa membiarkannya seperti itu terus."
Dengan sekuat tenaga Shizune berhasil menahan senyumnya, karena kepudulian Naruto pada keponakannya, wajah Naruto terlihat sangat lucu. "Apa kau sudah bertanya padanya, apa yang kira-kira diinginkannya?"
"Dia ingin ibunya."
"Bagaimana itu bisa membantu?" tanya Kakashi yang masih kebingungan dengan apa yang dibicarakan dua orang di depannya ini.
"Dia membutuhkan suaminya, Sayang," kata Shizune menjawab pertanyaan Kakashi. "Naruto, dia ingin ada yang menghiburnya, menenangkannya. Cobalah mengusap-usap punggungnya."
Shizune harus menaikkan volume suaranya ketika memberikan saran terakhir, karena Naruto sudah berjalan keluar dari kabinnya.
Begitu pintu menutup sepeninggalan Naruto, Shizune berpaling ke Kakashi. "Menurutmu dia akan bilang pada Hinata kalau kau dan aku..."
"Tidak, Sayangku, dia tak akan mengatakan apa pun pada Hinata, percaya padaku," potong Kakashi.
"Aku benci jika harus berbohong pada Hinata, tapi dia cenderung melihat segala sesuatu hanya hitam dan putih. Kalaupun diceritakan, kurasa Hinata juga tak akan mengerti."
"Sudah, sudah," kata Kakashi menenangkan. Dia mencium Shizune dan menariknya ke pelukannya. "Usia akan membantunya semakin dewasa."
"Kau benar," kata Shizune sambil tersenyum. "Oh, ya. Naruto sekarang terlihat lebih perhatian pada Hinata ya?" kata Shizune mengalihkan pembicaraan. "Kurasa tak lama lagi dia akan menyadari kalau dia mencitai Hinata."
"Naruto mungkin saja mencintainya, Shizune. Tapi dia tak akan pernah mengakuinya. Bocah itu sudah lama belajar untuk melindungi dirinya dari kedekatakn apa pun."
"Mustahil," dengus Shizune sambil tertawa kecil. "Kalau dihadapkan pada perempuan biasa, mungkin kau benar. Tapi tentu sekarang kau melihat kalau keponakanku bukan perempuan biasa. Dia tipe perempuan yang dibutuhkan Naruto. Hinata berpikir kalau suaminya mencintainya, dan dia tidak butuh waktu lama untuk meyakinkan Naruto kalau laki-laki itu memang mencintainya. Lihat saja nanti."
.
.
Hinata yang sedang mengerang kesakitan di atas kasurnya. Tak tahu menahu, kalau dia sedang menjadi topik pembicaraan antara Kakashi dan bibinya. Yang dia tahu sekarang dia sedang menderita karena penyakit bulanannya, disamping itu juga dia sedang kesal sama suaminya yang tak peduli padanya.
Bisa-bisanya laki-laki itu tak mempedulikannya dan meninggalkannya dalam keadaan kesakitan seperti ini? Padahal dia ingin dipeluk sama Naruto.
'Dasar kepala batu,' gumam Hinata diantara ringisan kesakitannya.
"Hinata minum ini," kata Naruto yang tiba-tiba saja sudah menyentuh bahunya untuk membuka lilitan selimut yang membungkusnya.
Hinata berguling terletang, dan melihat cawan di tangan suaminya, dan langsung menggeleng.
"Ini bir," kata Naruto padanya.
"Aku nggak mau."
"Minumlah."
"Nanti aku muntah."
Naruto merasa tak bisa menuntut jawaban yang lebih jujur lagi dari itu. Buru-buru diletakkannya cawan di atas meja, kemudian dia naik ke tempat tidur. Tapi Hinata malah berusaha mendorong Naruto turun, tapi Naruto tak mengindahkan penolakan dan desakan itu.
Hinata yang kesal kembali berguling miring menghadap ke dinding dan bergumam, 'Sekalian saja aku berdoa minta mati.'
Sebenarnya itu adalah permintaan pada Tuhan yang terlalu berlebihan, dan dilubuk hatinya Hinata berharap kalau Tuhan tak mendengar ucapannya itu. Tapi pikirannya segera teralihkan saat rasa sakit itu kembali. Dia kembali meringis kesakitan. Kemudian tanpa diduga-duga, Naruto menarik pinggannya dan membawanya ke dalam pelukan pria itu. Lalu Naruto mulai mengusap-usap punggung bagian bawahnya.
Sentuhan lembut itu terasa sangat luar biasa. Karena rasa sakit yang dirasakan Hinata berangsur-angsur menghilang. Hinata menikmati elusan lembut itu sambil memejamkan matanya dan beringsut semakin mendekat ke dalam pelukan suaminya, sehingga dia bisa mencuri lebih banyak kehangatan lagi dari tubuh Naruto.
Karena saking menikmati elusan suaminya, Hinata sampai tak menyadari gerakan kapal yang mengayun keras. Tapi Naruto sadar dengan hal itu, karena goyangan kapal itu membuat perutnya terasa seperti diaduk-aduk, dan dia berharap seandainya saja dia tak makan apa-apa tadi. Karena sebentar lagi dia akan mual dan mengeluarkan semua makanan yang tadi ditelannya.
Naruto masih terus mengusap-usap tulang punggung Hinata selama lima belas menit tanpa berkata-kata. Karena dia berusaha berkonsentrasi pada perempuan yang meringkuk dalam pelukannya, tapi tiap kali kapal oleng, perutnya juga seperti oleng, siap mengeluarkan isinya.
"Kau bisa berhenti sekarang," bisik Hinata. "Aku sudah merasa lebih baik, terima kasih."
Tanpa perdebatan Naruto menurut, lalu mulai beranjak dari tempat tidur. Tapi Hinata membuat niatnya urung dengan permintaan selanjutnya. "Maukah kau memelukku? Aku kedinginan. Malam ini dingin sekali."
Padahal Naruto merasa hawa malam ini sangat panas sekali. Wajahnya saja sampai basah kuyup karena keringat. Tapi dia tetap menuruti permintaan istrinya. Tangan Hinata sedingin es, tapi hanya dalam hitungan menit Naruto berhasil menghangatkan dengan pelukannya.
Saat Naruto menduga kalau Hinata sudah tidur, dia berniat untuk bangkit dari ranjang, tapi ketika Hinata berbisik lagi, dia mengurungkan niatnya lagi. "Naruto? Bagaimana kalau aku mandul?"
"Ya sudah, berarti kau mandul."
"Hanya itu yang bisa kau katakan? Kita tak bisa punya anak kalau aku mandul."
Sambil memutar bola matanya, Naruto menjawab. "Jadi kau belum bisa menyimpulkan mandul?" kata Naruto berusaha nahan nafasnya. "Lagi pula masih terlalu dini untuk menyimpulkan kalau kau seperti itu."
"Tapi bagaimana kalau aku memang mandul?" desak Hinata tak sabaran.
"Hinata kau mau aku mengatakan apa?" tanya Naruto frustasi. Lalu saat kapal kembali oleng perutnya seperti bergolak siap mengeluarkan isinya, ingin rasanya Naruto keluar dari sini dan pergi ketempat biasa dia bermalam kalau sedang mabuk laut seperti ini.
Sepertinya menarik napas dalam-dalam sudah tak mampu menahan gejolak di perutnya. Dengan terburu-buru Naruto menyibakkan selimut kesamping dan kembali bergerak hendak meninggalkan tempat tidur. Tapi terhenti lagi saat Hinata berkata, "Apa kau masih mau menikah denganku?" tanya Hinata. "Kita tak akan mendapatkan tanah yang dijanjikan kalau aku tak punya anak begitu..."
"Aku hapal isi dari perjanjian itu," sergah Naruto kesal. "Jika kita tak mendapatkan tanahnya, berarti kita akan membangun rumah kita di tanah yang diwariskan ayahku. Sekarang berhentilah bertanya dan tidur. Aku akan kembali sebentar lagi."
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku," kata Hinata menahan Naruto lagi. "Apa kau masih mau menikah dengan perempuan mandul?"
"Oh, demi Tuhan..."
"Kau masih mau, kan?"
Naruto melenguh pelan. Hinata menganggap lenguhan Naruto itu sebagai jawaban mengiyakan. Sebelum Naruto bangkit Hinata berguling dan mencium punggung suaminya. Naruto membiarkan lilin tetap menyala, dan ketika Hinata menengadah menatap Naruto dia melihat wajah Naruto yang sangat pucat.
Hinata segera menyimpulkan. Kapal terayun-ayun seperti bola di permukaan air. Cawan bir yang dibawa Naruto terguling di lantai. Naruto memejamkan mata dan meringis. Ya, suami tercintanya itu sedang mabuk laut. Hinata sangat bersimpati pada suaminya yang malang itu, tapi rasa kasihannya segera menguap ketika Naruto mengumamkan.
"Aku tak akan menikah dengan siapapun jika bukan karena perjanjian keparat itu. Sudah, sekarang tidurlah."
Seolah melontarkan pernyataan itu dengan nada menggerutu, Naruto mengayunkan kakinya turun dari tempat tidur dan pergi meninggalkan Hinata sendiri.
Hinata yang tak terima dengan perkataan Naruto bertekad akan membalas atau lebih tepatnya memberi sedikit pelajaran pada suami tercintanya. Tentang bagaimana bersikap baik pada istrinya ini. Lagi pula tega sekali pria itu berkata sekasar itu padanya? Dia sendiri juga sedang sakit, sama seperti Naruto. Mungkin bahkan lebih parah. Hinata segera melupakan perlakuan lembut Naruto terhadapnya tadi, dan memutuskan akan memberikan pelajaran yang takkan pernah dilupakan suaminya itu.
"Oh begitu, maaf deh kalau aku menahanmu dari entah urusan apa itu yang harus kau tangani," kata Hinata kesal. "Sekarang punggungku sudah lebih baik. Terima kasih ya Naruto. Perutku juga sudah tak terlalu sakit. Kalau dipikir-pikir seharusnya aku tak makan malam dengan ikan itu, tapi rasanya sangat enak sekali, terutama ketika kutambahkan sedikit susu dan madu diatasnya. Apa kau pernah mencicipi ikan yang dibuat manis seperti itu? Kalau belum sayang sekali," tanya Hinata ketika Naruto tak menjawab.
Tak hanya sampai situ Hinata kembali melanjutkan ucapannya dengan penuh senyum kemenangan, "Aku biasanya hanya menambahkan gula dan madu diatasnya, tapi malam ini aku ingin bereksperimen. Ngomong-ngomong, juru masak sudah janji padaku kalau dia akan menyajikan tiram begitu kita sampai di dermaga. Aku suka sekali tiram, kalau kau? Kalau dimakan itu rasanya seperti, srulpp... melucur di tenggorokkan, rasanya sangat nikmat... Naruto, apa kau tak mau menciumku untuk ucapan selamat malam?" tanya Hinata ketika Naruto sudah jalan dengan terburu-buru keluar dari kabin.
"Huh, rasakan situ dasar kepala batu nyebelin," gumam Hinata sambil menarik selimutnya dan mulai memejamkan matanya. Beberapa menit kemudian dia sudah terlelap.
Sementara itu Naruto menghabiskan hampir semalaman di pinggir kapal. Dia pergi ke tempat yang biasanya kosong, dan tak ada yang memperhatikannya dari sini.
.
.
Saat matahari mulai muncul di cakrawala Naruto kembali ke kabinnya. Badannya terasa sangat berat, dan setibanya di kabin Naruto benar-benar ambruk di atas ranjang. Membuat Hinata agak terlambung karena beban yang tiba-tiba menimpa kasur. Menyadari kehadiran suaminya Hinata berguling dan meringkuk merapat di sisi Naruto.
Naruto yang tak mau diganggu Hinata, pura-pura mendengkur menandakan kalau dia sudah terlelap. Sedangkan Hinata yang mendengar dengkuran halus suminya, memilih untuk mengangkat kepalanya dan mencium pipi Naruto pelan agar tak membangunkan Naruto. Dalam caha lilin yang lembut itu, Hinata bisa melihat wajah pucat suaminya. Dan Naruto tampaknya juga sangat perlu bercukur. Naruto terlihat garang dengan bayangan gelap sepanjang garis rahangnya itu.
Hinata mengulurkan tangannya untuk menyentuh bayang-bayang gelap disepanjang rahang Naruto dengan ujung jarinya, sambil berkata. "I love you," bisik Hinata pelan. "Bahkan dengan segala kekuranganmu, aku masih mencintaimu Naruto. Maaf karena sengaja membuatmu mabuk laut. Aku sedih kau punya penyakit seperti itu."
Puas dengan pengakuannya, terutama karena Naruto sudah tidur dan pria itu tak bisa mendengar apa pun yang dikatakannya tadi, Hinata memutuskan untuk berguling menjauh, sambil berkata, "Naruto, sepertinya kau harus mempertimbangkan pekerjaan lain. Karena laut tak cocok untukmu."
Setelah memastikan kalau Hinata sudah kembali terlelap, perlahan-lahan Naruto membuka matanya, kemudian berpaling menatap punggung istrinya. Sepertinya Hinata benar-benar sudah terlelap lagi. Wanita itu terlihat damai di mata Naruto, istrinya terlihat seperti malaikat. Malaikat yang sangat ingin dicekiknya.
Entah bagaimana Hinata bisa mengetahui kelemahannya ini dan dengan sengaja memanfaatkannya untuk membalas. Hinata pasti tersinggung dengan kata-katanya tentang tidak akan menikah kalau bukan karena perjanjian itu.
Amarah Naruto tak lama kemudian mereda, dan digantikan dengan senyumannya. Karena Hinata yang mungil itu ternyata tidak sepolos yang dipikirkannya. Wanita itu telah melakukan apa yang pasti akan dilakukannya sendainya dia punya informasi yang bisa dijadikan senjata jika dia tak cukup kuat untuk membalas secara fisik.
Ketika Naruto marah, dia senang menggunakan bogeman mentahnya. Sementara itu Hinata lebih memakai otaknya, dan Naruto senang melihatnya. Tapi, sudah saatnya Hinata mengerti siapa yang menjadi pemimpin dalam kehidupan perkawinannya. Ya, sudah saatnya. Hinata tak seharusnya bersikap licik seperti itu padanya.
Dan oh Tuhan, Hinata terlihat sangat cantik sekali malam ini. Tiba-tiba saja dia ingin sekali bercinta dengan Hinata. Tapi tentu saja tidak bisa, karena Hinata sedang berhalangan, dan dia nyaris membangunkan istrinya hanya untuk bertanya, kapan sakit perempuan itu selesai.
Karena kelelahan lebih menguasainya akhirnya Naruto tertidur, tepat ketika Naruto hampir menutup matanya Hinata menggengam tangannya.
.
.
.
Perjalanan menuju rumah Shizune hanya tinggal dua hari lagi, dan Naruto sekali lagi mulai berpikir kalau sisa perjalanan mereka mungkin akan berlangsung penuh ketenangan. Dan Naruto sangat menyesal telah berpikir seperti itu. Karena pada malam itu, ya malam kedua puluh di bulan tersebut. Di langit yang bertaburan bintang, dan angin semilir yang disukai para pelaut berhembus. Hinata membuat keributan barunya, yang membuat Naruto dan Jiraya berada dalam kewaspadaan.
Pada malam itu Naruto dan Jiraya sedang berdiri didekat kemudi. Keduanya sedang serius membicarakan rencana ekspansi Kyubi Shipping Company. Saat itu Jiraya sedang mengemukakan pendapatnya tentang menambah kapal cepat dalam armada mereka, sedangkan Naruto lebih memilih kapal-kapal yang lebih berat dan tangguh.
Tapi pembicaraan mereka terhenti ketika Hinata jalan tergesa-gesa di geladak untuk menghampiri mereka berdua. Wanita itu berjalan hanya mengenakan gaun tidur dan jubah tidurnya. Jiraya yang berdiri tepat menghadap pintu langsung menyadari kehadiran Hinata, sedangkan Naruto yang berdiri membelakangi pintu tak tahu kalau Hinata sudah berdiri di ambang pintu sana.
"Naruto, aku harus bicara sesuatu sekarang juga," pekik Hinata. "Ada masalah yang mengerikan, dan kau harus segera membereskannya."
Naruto memasang wajah pasrah ketika berbalik, tapi ekspresinya seketika berubah ketika melihat pistol di tangan istrinya. Karena moncong pistol itu tepat mengarah ke arah pangkal pahanya, membuatnya besiaga dan tegang.
Sepertinya Hinata sedang sangat emosi karena sesuatu. Penampilannya terlihat kacau sekali. Rambutnya juga terurai berantakan di bahunya, dan pipinya merah seperti nahan amarah. Kemudian Naruto baru menyadari kalau pakaian yang dipakai Hinata sangat tipis.
"Kau ini bagaiamana sih? Masa berkeliaran di geladak hanya memakai baju tidur?" tanyanya kesal.
"Aku tidak berkeliaran," kata Hinata marah dengan teguran suaminya yang menyebalkan itu. Tapi dia segera melupakan kekesalannya saat memikirkan masalah yang mau dia bahas sama suaminya. "Ini bukan saatnya untuk menguliahiku tentang pakaianku. Kita punya masalah serius, Suamiku."
Kemudian Hinata mengalihkan perhatiannya pada Jiraya. Seketika itu juga pistol yang ada ditangannya mengarah pada Jiraya. Membuat Jiraya waspada kalau-kalau pistol itu meletus.
"No-nona, kau sedang kesal ya?" tanya Jiraya gugup.
"Kau ini mau apa dengan pistol itu?" tanya Naruto bersamaan saat Jiraya bertanya.
"Aku membutuhkan pistol ini untuk masalah yang sedang kita hadapi, Suamiku," jelas Hinata.
"Nona Hinata," sela Jiraya ketika Naruto terlihat bingung mau berkata apa lagi. "Tenangkan dirimu, dan katakan pada kami apa yang membuatmu sangat kesal? Hei, Bocah," geramnya pada Naruto. "Cepat ambil pistol itu darinya sebelum dia menembak dirinya sendiri."
Saat Naruto hendak mengambil pitol itu dari tangan Hinata. Hinata mundur selangkah dan memegang pistol dibalik punggungnya. "Aku tadi hendak pergi mengunjungi Shizune," kata Hinata. "Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam padanya."
"Dan?" tanya Naruto ketika Hinata tak melanjutkan ucapannya.
Hinata menatap Jiraya lama sebelum memutuskan untuk menyertakannya dalam pembicaraan mereka, kemudian menengok ke belakang sebentar untuk memastikan tak ada orang lain yang bisa mendengar ucapannya nanti. "Dia tidak sendirian di kamarnya."
Kalimat itu dibisikkan Hinata sangat pelan, selesai mengatakan hal itu Hinata menunggu reaksi suaminya. Tapi Naruto hanya mengangkat bahunya tak mengerti dengan maksud Hinata.
Ingin rasanya Hinata menembak Naruto di situ, tapi dia tahan dengan mengucapkan, "Kakashi sedang bersamanya," katanya sambil menganggukkan kepala.
"Dan?" tanya Naruto lagi.
"Mereka berdua ada di atas tempat tidur," bisik Hinata lagi sambil melambai-lambaikan tangannya yang sedang memegang pistol. "Naruto, kau harus berbuat sesuatu."
"Jadi kau mau aku bagaimana?" tanya Naruto sambil menyeringai, seolah tak peduli dengan apa yang dilakukan Shizune dengan Kakashi. Yang malah membuat Hinata kesal setengah mati dengan ketidak pedulian suaminya itu.
"Dia ingin kau menyuruh Kakashi pergi," potong Jiraya. "Bukan begitu, Nona?"
"Sudah agak terlambat, Jiraya," kata Hinata sambil menggelengkan kepalanya. "Nasi sudah menjadi bubur."
"Aku tak mengerti maksudmu," kata Jiraya bingung. "Apa hubungannya bibimu dengan bubur?"
"Kakashi sudah merusak kehormatan Shizune, bibiku," jelas Hinata.
"Hinata, jika kau tak ingin aku menyuruh Kakashi meninggalkan Shizune, jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Naruto.
"Kau harus memperbaikinya," kata Hinata. "Kau harus menikahkan mereka. Ayo ikut aku. Sekalian saja kita lakukan sekarang. Jiraya, kau bisa menjadi saksi."
"Kau bercanda?"
"Jangan tersenyum. Aku sedang tak bercanda. Kau kapten kapal ini, jadi kau bisa menikahkan mereka secara sah."
"Aku nggak mau."
"Nona Hinata, kau memberikan saran yang paling mengejutkan," kata Jiraya kagum.
Jelas sudah bagi Hinata kalau kedua laki-laki dihadapannya ini tak ada yang mau menanggapi ucapannya dengan serius. "Naruto, aku bertanggung jawab atas bibiku," kata Hinata berusaha menjelaskan. "Kakashi sudah menodai kehormatannya, dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan menikahinya. Kau tahu, Naruto. Ini akan menghilangkan satu masalah lainnya, kan? Paman Hizashi tak akan mengejar warisan Shizune lagi begitu Shizune menikah. Ya, menurutku ini bisa menjadi akhir yang sangat indah."
"Tidak, Hinata," kata Naruto tegas.
"Hinata, memangnya Kakashi mau menikah dengan Shizune?"
Hinata berpaling menghadap Jiraya sambil mengerutkan keningnya, "Hal itu sudah tak penting lagi, apakah Kakashi mau menikahi Shizune atau tidak."
"Tidak Hinata, hal itu penting," sanggah Jiraya.
"Baiklah, kurasa aku tak akan mendapatkan bantuan apa pun dari kalian berdua," kata Hinata sambil melambai-lambaikan tangannya lagi, dan segera berbalik hendak berjalan menuju kabin Shizune.
"Padahal aku menyukai Kakashi," gumam Hinata keras. "Sayang sekali sih."
"Memang apa yang akan kau lakukan, Nona?" seru Jiraya saat Hinata hendak pergi menuruni tangga.
"Aku akan memastikan kalau Kakashi mau menikahi Shizune," Jawab Hinata dengan sedikit berteriak karena dia sudah berjalan menjauh.
"Dan kalau dia tak mau, bagaimana?" tanya Jiraya lagi.
"Kalau begitu aku akan menembaknya. Aku takkan suka melakukan itu, tapi aku harus tetap melakukannya."
Mendengar jawaban Hinata, Jiraya tersenyum sampai menyeringai. Sedangkan Naruto sudah pegi mengejar istrinya yang sudah menghilang dari pandangannya. Dia tak mau Hinata menembak siapapun di kapal ini lagi.
.
.
TBC
Hai, hai, ketemu lagi nihh dengan updatean Gift Of Love. Gie mana kabarnya nih? Udah lama ya gk update fic ini jadi kangen sama reders semua nihh..
Kira-kira masih ada yang nungguin fic ini ngak ya? Semoga ada ya, hehe
.
Oh ya, kemarin kan ada yang nanya nih, "Sakura itu Adik kandungnya Naruto atau bukan?" jawabannya. Tenang aja Sakura adik kandung Naruto kok, dan tenang aja Sakura juga gk bakal jadi org ketiga disini, aku kan sayang Sakura. Gk mungkin aku buat dia jadi orang ketiga ^^ lagi pula dia juga udah punya pasangannya sendiri kok.
Terus juga ada yang nanya, "Sebenernya Hinata udah hamil atau belum sih?" Jawabannya belum... dan maaf buat kalian yang kecewa. ^^
.
Untuk yang terakhir silahkan tinggalkan unek-unek kalian tentang chap ini ya? aku akan menerimanya dengan lapang dada.
Oh ya, satu lagi deh, Aku ucapin terima kasih sebanyak-banyak untuk kalian yang beri semangat untukku yang lagi ngemaso nyusun skripsi yang belom kelar, kelar ini.. sebenernya sih proposalnya udah hampir selesai, Cuma programnya doang yang belum, jadi yang nungguin chap selanjutnya, bersabar ya sampai skripsiku bener-bener selesai..
.
Jaa, sampai ketemu di Chap selanjutnya. ^^
