"Give Me A Second Chance" Chapt. 14
*sebelumnya*
"Anak kecil, siapa namamu?" tanya Donghae menyapanya, karena Donghae merasa Haru anak yang Cute.
"Kata Appa, aku gak boleh kenalan dengan orang asing!" Sahut Haru ketus.
"Mwo?!, Hahahaha, kau lucu sekali" sahut Donghae gemas.
"Kenapa ajussi ketawa?!" kesal Haru dan menatapnya tajam.
"Kau lucu anak kecil. Kau pikir aku seorang penculik?"
"Terus kenapa tanya namaku?!, aku gak kenal ajussi!" Sahut Haru marah, lalu Haru turun dari ayunan, dan pergi meninggalkan Donghae.
"Yaaa!, aku hanya bertanya namamu saja!" seru Donghae.
Shindong menghampiri Haru yang berjalan kearahnya, dan dari panggilan Shindong, Donghae mengetahui nama Haru.
"Haru~ah, ini Es Krimnya" Shindong memberikan Es Krim pada Haru, kemudian mereka pergi. Shindong tidak melihat Donghae yang menatap Haru dari kejauhan.
"Jadi nama anak kecil itu Haru?" gumamnya.
"Haru?, aku seperti pernah mendengar nama itu"
*selanjutnya*
"Anak itu manis sekali" gumam Donghae.
Tiba-tiba saja terlintas wajah seorang anak kecil yang tidak mau ia akui di depan orang tuanya.
"Kenapa aku jadi ingat anak itu ya?, bagaimana kabarnya sekarang?, apa Kyuhyun memperlakukannya dengan baik?, atau justru Kyuhyun menelantarkannya?"
"Akh!, untuk apa aku peduli"
Donghae pergi meninggalkan Taman, dan ia berencana untuk pulang ke rumah.
Yoochun memapah Kyuhyun masuk ke dalam Mobilnya. Yoochun mengecek suhu tubuh Kyuhyun dengan meletakkan punggung telapak tangannya ke kening Kyuhyun.
"Kau demam, Kyu. Pasti penyakitmu yang membuatmu demam seperti ini"Kyuhyun menatap Yoochun bingung.
"Penyakit?" Yoochun menurunkan tangannya kemudian mulai mengemudikan Mobilnya.
"Nde, aku bertemu dengan Dokter yang merawatmu saat di Rumah Sakit"
"Apa…sakitku parah?"
"Dokter Do Kwang, memberitahuku bahwa kau mengidap Kanker Ginjal, dan saat ini sudah stadium 3. Kyu, hyeong sarankan kau segera melakukan pengobatan"
Kyuhyun shock, ia tidak percaya jika harus menderita penyakit ganas seperti itu. Tanpa ia sadari air mata mengalir membasahi pipinya.
"Kyu…,kau tidak boleh menunda pengobatanmu, semakin kau biarkan, sel kanker itu bisa menyerang organ tubuhmu yang lain"
"Apakah…aku bisa sembuh hyeong?"
"Jika kau berobat secara rutin, kau pasti sembuh"
"Benarkah?"
"Nde. Tapi jika kau tidak berobat, maka dengan terpaksa aku akan memberitahukan hal ini pada Changmin" ancamnya demi kebaikan Kyuhyun.
"Jangan hyeong!, aku tidak ingin jika Changmin khawatir padaku. Aku akan berobat jika uang tabunganku cukup"
"Kau tidak perlu takut dengan biayanya. Kau adalah sahabat dekat Changmin. Kau juga sudah ku anggap sebagai dongsaeng ku sendiri"
"Tidak hyeong, aku tidak ingin merepotkanmu. Aku janji akan berobat hyeong"
"Kau harus menepati janjimu, Kyu"
"Aku tidak akan mengingkari janjiku, hyeong"
"Baiklah, kalau begitu aku percaya padamu" sahut Yoochun.
Kyuhyun menyeka air matanya, dan ia masih memegangi bagian pinggangnya. Kyuhyun menerawangkan pandangannya ke luar jendela Mobil. Yoochun menatap miris Kyuhyun.
Sepanjang jalan Kyuhyun berusaha menahan rasa sakitnya, namun Yoochun tahu bahwa penyakit Kyuhyun saat ini sedang kambuh, membuat Yoochun memarkirkan Mobilnya di tepi jalan.
"Kau tunggu sebentar Kyu" ucap Yoochun, dan Kyuhyun mengangguk saja.
Yoochun ke luar dari Mobil dan pergi ke Apotek yang ia kenal. Yoochun membeli obat pengurang nyeri untuk penderita Kanker juga penurun demam. Setelah membayarnya, Yoochun ke luar dan segera masuk ke dalam Mobil. Yoochun memberi Kyuhyun 1 butir pil obat pengurang rasa sakit, dan ia mengambil air minum pada botol minum yang sering ia bawa kemana-mana.
"Minumlah, ini obat untuk mengurangi nyeri karena penyakitmu" Kyuhyun menyambut pemberian Yoochun, "Gumawoyo hyeong"
"Eoh" sahutnya.
Setelah meminumnya, Yoochun memberikan obat itu untuk persediaan Kyuhyun.
"Untuk sementara obat ini bisa membantumu untuk mengurangi nyeri, tapi kau harus tetap berobat. Jangan sampai terlambat Kyu. Kau harus memikirkan orang-orang yang kau sayangi" pinta Yoochun.
Kyuhyun hanya diam dan memandangi obat pemberian Yoochun.
"O iya, di situ ada obat untuk penurun demam, harus kau minum 1 jam setelah obat tadi"
"Ne"
Yoochun menghela nafas, kemudian ia mengemudikan Mobil untuk mengantar Kyuhyun pulang.
Sungmin merasa kesal pada Hyorin juga Teukie, hingga membuatnya enggan untuk pulang ke rumah. Sungmin menginap di sebuah Hotel mewah. Sungmin berdiri di tepi jendela, ia berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menemukan Kyuhyun keponakannya.
Ponsel Sungmin berbunyi, dan ia segera berjalan menuju ponsel yang ia letakkan di atas kasur dan meraihnya, kemudian Sungmin menjawab telepon dari Do Kwang dan duduk di kasur.
"Sungmin~sii, kau ada dimana?"
"Aku di Hotel, ada apa?"
"Hotel?, tumben…apa kau sedang ada masalah?" Tebaknya.
"Nde, aku sedang malas di rumah hyeong ku. Apa kau sibuk?"
"Kebetulan aku baru selesai kerja. Aku sedang suntuk, maukah kau menemaniku minum?"
"Ne, kita ketemu dimana?"
"Tempat biasa"
"Baiklah, aku segera kesana"
"Ne"
Kyuhyun meminta Yoochun untuk menurunkannya di tepi jalan depan Gang kecil dimana tempatnya berada.
"Aku di sini saja hyeong, gumawo. Karena hyeong sudah mau mengantarku"
"Ne, jangan lupa untuk minum obat penurun demam. Kau juga tidak boleh terlalu lelah, kau mengerti!"
"Ne hyeong, gumawo"
"Eoh, hyeong pulang dulu"
"Ne, hati-hati di jalan"
"Ne"
Kemudian Yoochun mengendarai Mobilnya dan pergi meninggalkan Kyuhyun.
Kyuhyun berjalan menuju rumahnya. Meski nyeri itu mulai berangsur menghilang, tapi tidak dengan demamnya. Kyuhyun berharap Haru mau memaafkannya lantaran ia ingkar janji untuk menjemput Haru. Setibanya di rumah, Kyuhyun membuka pintu pagar, berharap Haru datang untuk menyambutnya, tapi ternyata rumahnya kosong, dan Haru belum pulang. Kyuhyun menghela nafas, lalu ia berjalan duduk di teras rumahnya sambil menyandarkan kepalanya di dinding , dan memeluk boneka Dolphin.
Tidak berapa lama menunggu, terdengar suara tawa Haru karena sedang bercanda dengan Shindong. Mereka berdua masuk, langkah Haru terhenti saat melihat Kyuhyun beranjak menghampirinya dan membawa boneka Dolphin.
"Haru~ahhh, Appa punya ha…"belum sempat Kyuhyun menyelesaikan maksudnya, Haru cemberut dan memalingkan wajah sambil berlalu dari Kyuhyun.
"Haru~ahhh" panggil Kyuhyun.
Shindong memegang pundak Kyuhyun,"Sepertinya Haru marah padamu, Kyu"
"Nde hyeong, aku telah melakukan kesalahan padanya hari ini. Aku melupakan janjiku"
"Kau adalah Appa nya, tidak mungkin Haru akan berlarut-larut marah padamu. Kau bujuklah dia"
"Ne hyeong, gumawo"
"Ne, aku pulang dulu"
"Ne hyeong"
Shindong pergi kembali ke rumahnya. Setelah menutup pagar, Kyuhyun masuk ke dalam untuk meminta maaf pada Haru.
"Haru~ahhh, mianhe…Appa hari ini tidak bisa jemput Haru" Kyuhyun duduk di belakang Haru yang sedang menggambar karena kesal.
"Haru benci Appa!…Appa bohong!" sahut Haru tanpa menoleh padanya.
"Mianhe…Appa benar-benar lupa. Appa janji tidak akan bohong lagi"
"Huh!, Haru benci Appa" Haru berpaling dan menatap sinis Kyuhyun.
Kyuhyun mengatup kedua tangannya di depan Haru,"Appa tahu Appa salah…,Appa mohon maafkan Appa" Kyuhyun memasang wajah sedihnya di depan Haru.
"Kalau Haru tidak mau maafkan Appa, Appa pergi saja ya" bohong Kyuhyun.
Haru diam dan berpikir, kemudian Kyuhyun berpura-pura beranjak dan ke luar. Haru terkejut hingga Haru lari mengejar Kyuhyun, "Appa~~~~" serunya.
Kyuhyun berhenti dan tersenyum menang, lalu ia berpura-pura memasang wajah sedihnya dan berbalik untuk memandang Haru.
"Jangan pergiiii" justru Haru menangis di depan Kyuhyun.
Kyuhyun berjongkok lalu memeluknya erat, "Appa tidak akan pergi, kalau Haru tidak marah lagi"
"Ne, tapi Appa jangan pergi. Kalau Appa pergi…Haru tinggal sama siapa?" perkataan polos Haru membuatnya teringat akan penyakit ganas yang dideritanya.
Kyuhyun semakin mempererat pelukannya, "Appa akan selalu ada bersama Haru, Appa tidak akan pergi meninggalkan Haru" Kyuhyun menahan air matanya agar tidak jatuh.
Haru melepaskan pelukannya, lalu Haru meletakkan punggung telapak tangan mungilnya di kening Kyuhyun, "Appa sakit?" cemasnya.
"Ani, Appa baik-baik saja" bohongnya.
"Kenapa badan Appa panas?"
Kyuhyun memegang tangan mungil Haru, lalu ia tersenyum padanya, "Appa tidak sakit. Appa cuma kelelahan saja. Selama ada Haru, Appa akan selalu sehat, karena Appa sayang~~~~sekali sama Haru"
"Haru juga sayang Appa" sahut Haru.
"Kalau begitu cium Appa" pinta Kyuhyun.
Haru tersenyum lebar, kemudian Haru mencium pipi Kyuhyun, juga bibir Kyuhyun, lalu Haru memeluknya erat.
Hyorin hari ini begitu bahagia, hingga membuat Teukie bingung. Hyorin menyiapkan makanan khusus untuk Teukie dan Donghae. Hyorin menata setiap makanan di atas meja. Donghae yang baru saja pulang, segera ke ruang makan setelah salah satu pelayan menyampaikan pesan Hyorin padanya jika Donghae pulang.
"Wahhh, makan besar. Tumben…,apa Eomma yang masak semua ini?" tanya Donghae dan mengambil posisi duduk di sisi kiri Teukie.
"Appa juga tidak tahu, tapi sepertinya Eomma mu sedang bahagia hari ini" sahut Teukie.
Hyorin tersenyum, lalu ia duduk di sisi kanan Teukie.
"Eomma memasak semua ini untuk kalian"
"Apa ada sesuatu yang ingin kau minta pada kami?"tanya Teukie yang sangat mengetahui apapun mengenai sikap Hyorin.
Hyorin menatap Teukie sambil tersenyum, kemudian sejenak Hyorin menghela nafasnya, "Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian"
"Katakan saja, apa yang kau inginkan yeoboe, selama itu membuatmu bahagia" sahut Teukie.
"Jincha?, apa benar kau mau memenuhi permintaanku?"
"Sepertinya permintaan Eomma serius sekali" ucap Donghae.
"Nde, karena ini menyangkut soal Kyuhyun" sahutnya, dan seketika membuat mereka terkejut dan terdiam.
"Kenapa?, apa aku salah?" tanya Hyorin.
"Kenapa kau bahas anak itu lagi disaat kita ingin makan?!, kau membuat nafsu makanku hilang!" Sahut Teukie.
"Mau sampai kapan kau marah padanya?!, kau tahu!, di luar sana hidup anak kita sangat menderita!, kau tahu!, demi menghidupi anaknya!, Kyuhyun bekerja sebagai kuli!" Hyorin meninggikan suaranya, Donghae begitu shock mendengarnya begitu pula Teukie.
"Ap…apa yang Eomma katakan?!, Kyuhyun kerja sebagai kuli demi anaknya?" tanya Donghae seakan tidak percaya.
"Nde!, kita telah membuat hidup Kyuhyun menderita. Eomma tidak sanggup melihat Kyuhyun hidup seperti itu,Donghae" Hyorin meneteskan air matanya.
Teukie terdiam, ia kesal karena lagi-lagi ia berusaha tidak peduli dengan perkataan Hyorin.
"Aku ngantuk!" ucap Teukie beranjak dari kursi, kemudian pergi meninggalkan ruang makan.
"Yeoboe!" seru Hyorin memanggilnya.
Donghae merasa tidak percaya dengan semua ucapan Hyorin, "Jadi…Kyuhyun rela bekerja jadi kuli, demi anakku?" batinnya.
"Donghae, Eomma mohon…maafkan Kyuhyun, bantu Eomma agar Appa mu, mau memaafkan Kyuhyun" pinta Hyorin.
Donghae tidak menyahutnya, Hyorin kecewa atas sikap diam Donghae, hingga Hyorin beranjak dan meninggalkan ruang makan.
"Kau dan Appa mu sama saja!, Eomma kecewa pada kalian!"
Sungmin menemui Do Kwang di kedai Soju. Ia duduk di depan Do Kwang.
"Kau suntuk kenapa?" tanya Sungmin.
"Biasalah, masalah pekerjaan. O iya, kau ada masalah apa?, sampai kau menginap di Hotel"
"Masalah keponakanku. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ego hyeong ku besar sekali?, bahkan ia tidak peduli pada anak kandungnya"
"Mungkin masalah yang dilakukan keponakanmu itu cukup besar, hingga hyeong mu susah untuk memaafkannya"
"Aku yakin!, meski mereka menyalahkan Kyuhyun. Aku percaya, Kyuhyun tidak bersalah"
"Kenapa kau yakin sekali?"
"Karena aku mengenal Kyuhyun sejak kecil!"
"Kyuhyun?"
"Nde?" tanya Sungmin bingung.
"Kau mengingatkanku pada pasien ku yang pergi dari Rumah Sakit" sahut Do Kwang.
"Oh"
"Kenapa kau tidak lapor saja pada Polisi untuk mencari keberadaannya?" Saran Do Kwang. "Polisi?, nde…bodohnya aku, kenapa tidak berpikir sampai kesana!" gerutunya kesal pada dirinya sendiri.
Do Kwang tertawa di depannya ,Sungmin merasa malu hingga ia pun ikut tertawa.
Haru terlelap sambil memeluk boneka pemberian Kyuhyun. Kyuhyun memandang lekat wajah Haru, air matanya mengalir saat memandangnya, "Haru~ah…,jika suatu saat Appa tidak bisa menjagamu lagi, apa.. Eomma dan Appa mau merawatmu sebagai cucu mereka?, apa Haru akan sedih?" batinnya.
"Appa takut…,Appa takut jika harus pergi meninggalkanmu. Appa takut kau menangis, chagi. Appa…Appa tidak ingin berpisah darimu" Kyuhyun menutup mulut dengan tangan kanannya, agar suara tangisnya tidak terdengar oleh Haru yang sudah terlelap.
TBC
Mian kalo lanjutannya jelek ya.
