This Chapter Dedicated to: VKOOKNOKOOKV. Uname-mu galak banget deh jadi takut /cri/ Tapi terimakasih untuk reviewnya yang bikin melayang laying /insert hearteu/ Saranghae!
.
.
.
Jungkook sedang duduk manis di ujung kafe, menunggu Namjoon datang untuk membantunya mengerjakan tugas, sambil terus bertukar pesan singkat dengan Taehyung.
.
Sender: Cogan
Kau jadi mengerjakan tugas dengan seniormu itu?
.
Jungkook terkekeh pelan, sudah 3 tahun sejak Taehyung mengganti namanya di ponsel Jungkook, tapi tetap saja rasanya geli setiap nama itu terpampang besar-besar disana.
.
Jadi, hyung. Aku sedang menunggunya sekarang.
Received by: Cogan
.
Sender: Cogan
Jangan duduk berdampingan. Jaga jarak minimal satu meter. Tendang 'bola'nya jika berani menyentuhmu.
.
Kalau tahu possessive-Taehyung akan semenggemaskan ini, Jungkook tidak keberatan menyeret Namjoon dalam setiap tugas, dan mengadu pada Taehyung sepanjang waktu.
.
Tidak janji.
Received by: Cogan
.
Jungkook bahkan belum selesai menertawakan pesan barusan, ketika sebuah suara berat menyapa telinganya, "Hei, Jeon."
Jungkook mendongak, tersenyum lebar mendapati Kim Namjoon sudah duduk di sampingnya. "Hai, sunbae."
"Sibuk sekali." sindir Namjoon sambil melirik ponsel pintar di genggamannya. "Pacarmu?"
Jungkook mengangguk bersemangat. Ia menekan tombol home dengan cepat, lalu mengangkat ponsel hingga layarnya sejajar dengan wajah Namjoon, memamerkan foto derp-nya dengan Taehyung yang jadi latar belakang. "Namanya Kim Taehyung."
"Young love." Namjoon tertawa pelan, tiba-tiba terdengar lebih tua dari usianya. "Kalian terlihat bahagia."
"Bahagia sekali." Jungkook meringis, memamerkan barisan gigi kelincinya yang imut. "Sunbae punya pacar?"
Namjoon mengernyit, seperti berusaha mengingat sesuatu dari waktu yang lama. "Sekarang sih tidak. Dulu ada."
"Oh ya? Apakah dia pirang? Seorang senior juga?"
Namjoon terkekeh. "Tidak, tidak. Ia orang Korea asli, mata antusiasnya persis seperti matamu."
Cara Namjoon tersenyum ketika membicarakannya membuat Jungkook entah bagaimana mengerti akan arti orang itu bagi Namjoon. Seniornya itu buru-buru membuka tas punggungnya, berusaha kembali ke realita. "Ah, aku malah melantur kan. Nah, jadi kau butuh bantuan di sebelah mana?"
Jungkook mengeluarkan materi bab ini yang setebal 300 halaman, menunjukkan beberapa bagian yang ia tandai dengan memo warna-warni. "Aku paham isinya, tapi masih bingung dengan cara menuangkannya dalam lembar presentasi. Hyung bisa mengartikannya pelan-pelan untukku?"
"Tentu saja." Namjoon meraih selembar kertas kosong dan pensil lalu mulai mencoret-coret sesuatu disana.
"Hyung, kenapa kau baik sekali padaku?"
Namjoon mendongak, menatap Jungkook tidak mengerti.
"Hyung mau jauh-jauh menemaniku ke planetarium dengan hanya ditukar sekotak bekal. Hyung mau membantuku belajar padahal hyung sendiri sibuk." Jungkook menatapnya lekat, "Kenapa?"
"Mau jawaban yang jujur?"
Jungkook mengangguk, membuat Namjoon menghela nafas dramatis. "Karena kau mengingatkanku padanya."
Hening lama. Jungkook nyaris tak berkedip, hanya menatap Namjoon dengan wajah bingung. "Tae-hyung bilang, itu karena hyung menyukaiku. Tidak ya?"
Namjoon tertawa hingga terbungkuk-bungkuk, kepalanya nyaris terbentur pinggiran meja yang lancip. "Aku memang menyukaimu, but not in a romantic way."
"Memangnya aku benar-benar mirip dengan orang itu ya, hyung?"
Sunbae-nya itu menggeleng. "Hanya saja, aku seperti melihat dia di dirimu. Yang membedakan kalian hanyalah kau terlihat seperti versi yang lebih ceria dan ribut. Mungkin karena ia jauh lebih dewasa darimu."
"Jadi, ia juga setampan aku?"
Namjoon terkekeh, mengetukkan ujung pena yang tumpul ke dahi Jungkook. "Percaya dirimu itu lho, Jeon. Perlu pengendalian."
Jungkook mengerutkan hidung dengan lucu, mengelus dahinya yang malang dengan tangan kiri, sedangkan sebelah tangannya lagi sibuk mengetikkan balasan untuk pesan singkat yang dikirimkan Taehyung.
.
Kata Namjoon hyung, ia tidak menyukaiku. Ia baik begitu karena aku mirip mantan pacarnya.
Received by: Cogan
.
Ponsel Jungkook berdenting ketika ia sudah kembali sibuk dalam diskusinya dengan Namjoon. Mereka bertukar pandang beberapa saat, dan Namjoon yang terkekeh duluan. "Yasudah sana, jawab dulu." Usirnya pada Jungkook.
.
Sender: Cogan
BAHAHAHAHAK, kau benar-benar menanyakannya? Paboya, kau pasti malu sekali.
Ngomong-ngomong, mantan pacarnya seperti apa?
.
Jungkook mengangkat kepalanya, menatap Namjoon yang sedang bersiul sambil menulis entah apa di kertas. "Hyung, jadi dia tampan?"
Butuh waktu beberapa detik sampai Namjoon menangkap maksud Jungkook. Ia duduk tegak, menyeruput kopinya pelan dengan mata penasaran Jungkook yang terus mengawasinya.
"Dia itu..." Namjoon menghela nafas, berusaha menemukan padanan kata sifat yang tepat untuk pujaannya, "...sempurna."
Ia meletakkan cangkirnya dengan seulas senyum di wajah. "Matanya bulat, berbinar-binar seperti milikmu. Hidungnya mancung, berkerut lucu setiap ia tertawa. Bibirnya tebal dengan warna merah muda lembut. Ia nyaris tanpa cela. Jika melihatnya, kau mungkin akan berpikir kalau wajahnya dipahat secara khusus."
Jungkook mencoba melukiskan penggambaran Namjoon di otaknya, tapi rasanya nyaris mustahil karena orang itu tampak begitu sempurna. "Setampan itu?"
Namjoon mengangguk. "Dan mungkin karena ia dua tahun lebih tua, sifat dewasa dan pembawaannya yang begitu tenang nyaris sempurna untuk melengkapiku yang tidak sempurna, yang berlubang disana-sini."
Untuk sesaat, Kim Namjoon si jenius keren yang selalu dikagumi Jungkook seakan menghilang, digantikan dengan laki-laki biasa bernama Kim Namjoon yang sedang mengenang pujaan hatinya dengan hati hancur.
"Kalau begitu, kenapa kalian berpisah?" Salahkan Jeon Jungkook, otak yang selalu ingin tahu, dan mulut embernya yang bekerja terlalu kompak.
"Hubungan jarak jauh." Namjoon terdiam beberapa saat, berusaha menata kembali hatinya yang barusan berserakan. "Awalnya tidak terlalu sulit, aku bisa bertemu dengannya setiap liburan. Dan walaupun saat itu belum marak video call, menelponnya setiap hari juga bukan hal yang sulit. Aku mempercayainya, ia juga mempercayaiku sepenuhnya. Aku mencintainya, ia mencintaiku. Kukira itu saja cukup, ternyata tidak."
Jungkook terdiam di tempat, tenggorokannya tercekat, ia tak tahu harus mengatakan apa sebagai respon cerita Namjoon. Pikirannya langsung terhenti pada Taehyung, dan ia tak bisa memikirkan yang lain lagi. Ia bahkan tidak berusaha mengetikkan balasan untuk pesan Taehyung yang kini memenuhi layar ponselnya.
.
Sender: Cogan
Hey, Cookies, jangan bilang kau benar-benar menanyakan pertanyaan tadi padanya.
.
"Rasanya seperti berhubungan dengan hantu." Namjoon tertawa miris, seolah itu begitu lucu. "Ia ada, kau tahu ia ada, tapi kau tak dapat melihatnya dimanapun."
"Dan akhirnya bukan masalah cinta dan percaya lagi, karena terkadang, saat dunia terasa begitu sesak dan satu-satunya obat hanya pelukannya–" ia menghela nafas panjang, " –itu menyebalkan."
Hening lama. Ponsel Jungkook berdenting lagi.
.
Sender: Cogan
Are you there?
.
Namjoon berdehem pada akhirnya, berusaha memecahkan suasana canggung diantara mereka. "Maaf, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku memiliki teman untuk bicara, jadi malah melantur seperti ini. Ngomong-ngomong, pacarmu kuliah di mana?"
"Seoul University."
"Oh, shit." Namjoon memaki, otomatis. "Maaf, aku tidak tahu kalau kalian juga berhubungan jarak jauh."
"Tidak apa-apa, sunbae, kami oke kok."
Ketakutan yang menelusup ke setiap sendinya membuat Jungkook bahkan tidak bisa memaksakan seulas senyum untuk sekadar meredakan rasa bersalah Namjoon. Ia melirik ponselnya yang kini sudah diberondong pesan oleh Taehyung.
.
Sender: Cogan
Pesannya terkirim, jadi pasti ponselmu tidak mati. Kau sibuk?
.
Sender: Cogan
Oh ayolaaah, ini kan bukan jadwal belajarmu.
.
Sender: Cogan
Jadi kau benar-benar sibuk? Bukan pura-pura?
.
Sender: Cogan
Yasudah, take care, busy bee. Hubungi aku kalau sempat. I love youu
.
Sekali lagi, Jungkook ingin memaki jarak yang membuat segalanya begitu rumit. Hal brengsek yang membuatnya begitu cemas hanya karena alasan-alasan konyol.
Terdengar suara berderit ketika Namjoon memajukan kursinya agar bisa menatap Jungkook lebih dekat, mencoba meyakinkannya. "Hei, dengar. Ini sudah lama terjadi, dan semua itu hanya karena kami tidak sabar saja. Aku yakin kalian berbeda. Kalian pasti baik-baik saja."
.
Mungkin Namjoon lupa, kalau Einstein yang amat dipujanya pernah berkata, "Satu-satunya hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri."
.
TBC
Haii, harusnya ini di post besok tapi karena kayaknya besok nggak bisa, jadi mending sekarang aja mumpung libur hehe. Ada yang tau siapa mantannya namjoon? Pasti tau dooong.
Mulai dari sini udah bisa nebak konflik utamanya kan?
Btw, aku seneng banget deh buat chap kemarin responnya pada heboh ;_\ Mau balesin satu satu, tapi sumpah nak, gaada waktu /cri/ Udah kek zombie aku tidur nyubuh mulu hiks. Yang jelas review kalian semua dibaca koook, apalagi buat para manusia heboh Akmy, maknaehehso, outout, emma, definn, dll yang ributnya kek toa masjid :')
Pokoknya terimakasih udah baca. Kalian luar biasa dan aku sayang bat sama kalian! /luvluvluvluvluv/
Spoiler: mulai chap depan, jangan mengharap banyak adegan manis ya, cintaku.
.
.
XOXO, Kim Ara
