Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.

Warning : Membosankan. Tidak nyambung. Sedikit adegan lime.

-

-

Dering telepon menggema di dalam salah satu ruang apartemen. Seorang lelaki mesir melongok keluar kamarnya dengan wajah malas. Dia menguap, menggaruk belakang kepalanya, sembari menyeret tubuhnya menuju ruang tengah.

"Lumiere?" panggilnya. Apartemen sepi, tak ada yang menjawab. Malik mengangkat sebelah alis, sebelum menggerakkan bahunya.

Dia mengangkat telepon. Merasa bingung setelah mendengarkan suara operator.

'Sambungan internasional? Ada apa?' batinnya bingung.

-"Hello? Can I speak to Malik Ishtar?"-

"I'm Malik. Can I help you?"

-"I want to tell you about..."-

Mata Malik melebar, tubuhnya menegang kaku, gagang telepon perlahan terlepas dari tangannya, terjatuh menggantung di samping meja tempat telepon berada.

"Kak Isis..."


APRIL


"Tadaima."

"Okaeri." Atem melihat lelaki yang baru masuk dengan mata lebar. "Aibou? Kok, sudah pulang?" tanyanya bingung. Wajar saja karena biasanya setiap hari Rabu, aibou-nya selalu pulang malam karena kerja sambilan.

Yugi berjalan mendekati Atem sembari melepas jaketnya, matanya tertutup, helaan nafas keluar dari mulutnya. "Libur. Anaknya bos sakit, jadi bos meliburkan karyawannya dan pulang ke kampung halamannya."

"Begitu."

Yugi membuka matanya, menyadari bahwa Atem duduk bersila dengan anak-anak kecil mengelilinginya dan beberapa kartu remi di depannya. Dia mengangkat sebelah alis. "Kamu sedang apa?"

Atem melirik lelaki yang kelelahan itu sesaat sebelum pandangannya kembali ke arah kartu. "Lihat saja sudah tahu, kan?"

"Iya, sih. Tapi, kenapa anak-anak tetangga ada di sini?"

Wanita itu membuang dua kartu dan menarik kartu dalam jumlah sama dari deck. "Beberapa tetangga kita punya acara dan mereka tidak bisa membawa anak mereka ke sana, jadi anak-anak ini dititipkan di sini karena mereka semua tidak mau menitipkan anak mereka di penitipan anak."

"Oh..."

Seorang anak lelaki berambut merah – lawan main Atem – membuka kartunya. Dia nyengir percaya diri. Anak-anak yang lain mengerang keras karena kartu mereka kalah dari anak itu, saling membuka kartunya. Anak berambut merah itu berhigh-five senang. "Yeah!! Aku menang!!" teriaknya.

Atem menyeringai menantang. "Kau yakin, Sora?" tanyanya, seringaian semakin lebar.

Anak itu tersentak. "Eh?"

Atem membuka kartunya. "Royal straight flush." ucapnya, tersenyum. "Aku menang."

Sora terbelalak melihat kartu Atem, dia mengerang, menjatuhkan kepalanya ke tangannya yang bertopang di kakinya yang bersila.

"Kenapa, sih, kau terus yang menang dari tadi?" Sora merajuk.

Senyum Atem semakin lebar, dia menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Ck, ck, ck. Masih terlalu cepat 100 tahun bagimu untuk bisa mengalahkanku."

Sora cemberut. "Jangan terlalu yakin." Dia mengumpulkan kartunya, dan mengocoknya, membanting kartu yang masih di tangan ke lantai. "Sekali lagi!!" tantangnya. "Kali ini Freecell!"

Wanita hamil itu tersenyum menantang. "Boleh saja."

Sebuah tangan kecil menarik lengan baju wanita itu. "Nee-chan..."

Atem menoleh ke arah gadis kecil berambut cokelat panjang yang dikuncir dua. "Hm?"

Gadis kecil itu memeluk boneka beruangnya erat. "Ano..." mulainya malu-malu. "Miyu lapar. Bear sepertinya lapar juga." katanya sambil mengangkat bonekanya ke arah Atem.

Wanita mesir itu menghentikan permainannya, dia mau beranjak berdiri. "Baiklah. Aku akan buat makanan dulu."

"Hei! Mau lari, ya?!" seru Sora. Atem mengangkat sebelah alisnya. "Permainan kita belum selesai, tahu!" lanjut Sora.

"Waktu istirahat. Aku mau membuat makanan dulu." kata Atem.

"Tidak bisa. Kita selesaikan permainan ini sekarang!" seru Sora, menarik tangan Atem.

Sepasang lengan kecil menarik tangan Atem yang lain. "Tapi, Miyu lapar!! Miyu mau makan!!"

"Itu bisa ditahan, kan?!"

"Tidak bisa!! Miyu mau makan!! Bear juga mau makan!!"

"Aku nggak peduli sama boneka!! Pokoknya permainan ini harus selesai!!"

"Tidak!!"

"Cukup, kalian berdua!!" bentak Atem kesal, melepaskan tangannya dari cengkeraman kedua anak itu. Dia menghadap Miyu, kedua tangan di pinggang. "Miyu, tidak baik memaksa seseorang. Kau harus sabar."

Miyu menunduk. "Gomen, nee-chan..."

Atem menoleh ke arah Sora, tatapan mata tajam. "Dan kau Sora, jangan egois!! Permainan bisa ditunda, tapi lapar tidak bisa ditunda! Manusia butuh makan! Apalagi yang masih kecil! Teman-temanmu pastinya juga lapar!" omelnya, melihat ke arah anak-anak lain yang memegang perutnya masing-masing.

"Tapi-!!" Sora mau membantah, tapi dipotong oleh Atem.

"Tidak ada tapi-tapian!!" Wanita itu menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Aku bertaruh kau juga lapar."

"Aku tidak la-"

GRUUUUK!!!

Atem menatap Sora yang menunduk malu. "Benar ucapanku, kan?"

Suara kekehan terdengar. Tatapan tajam Atem beralih ke arah suara itu berasal.

"Ada masalah, Aibou?" tanya Atem tajam.

Yugi tersenyum ke arahnya. "Kau tahu, mou hitori no boku. Kau bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik."

Wajah Atem memerah, dia gelagapan. "A-apa maksud ucapanmu itu!!?"

Lelaki itu mengangkat kedua tangannya. "Tidak ada. Tidak ada. Anggap saja aku tidak pernah bicara." Dia menyeringai jahil.

Atem merengut, dia memukul ringan bahu Yugi sebelum menghentak-hentak menuju dapur, ngambek.

Yugi kembali terkekeh. Dia suka kalau Atem sedang seperti ini. Sangat asyik menggodanya.

Dia menoleh ke arah anak-anak, seringaian jahil masih di wajahnya. "Lebih baik kita segera ke meja makan atau nanti tak akan ada makanan untuk kita." ucapnya meringis, dijawab oleh anggukan – yang kelewat semangat – dari anak-anak.


Sepasang mata cokelat menerawang menatap lelaki di hadapannya, Anzu menelengkan kepala bingung. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya, mengangkat sebelah alis.

Lelaki di depannya nyengir. "Nggak bisa aku mengunjungi pacarku?"

Kedua alis Anzu terangkat.

Dia menghela nafas, membuka pintunya lebih lebar. "Ayo masuk."

Lelaki itu berjalan masuk, sebelum Anzu menutup kembali pintunya.

Anzu berjalan mendahului lelaki yang menjadi pacarnya, menutup kedua matanya. "Well... ada apa?"

"Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura, Honda. Kalau kau kemari, pasti ada sesuatu."

Kedua mata Anzu melebar ketika sepasang lengan memeluk pinggangnya. Mendekapnya ke tubuh bidang lelaki di belakangnya.

"Aku kangen." gumam Honda di rambut wanita itu. Dekapannya semakin erat. "Kau selalu menemani Atem. Tidak pernah menemaniku."

Anzu mengerutkan alis. "Apa boleh buat, Atem membutuhkan orang yang menemaninya."

"Dia punya Yugi."

"Yugi tidak bisa, dia sibuk. Hanya aku yang bisa menemani Atem supaya dia tidak kesepian." ujar Anzu, tidak peduli.

Kesunyian menyeruak sesaat.

"Jadi bagimu... Atem lebih penting daripada aku, begitu, kan, maksudmu?"

"Eh? Apa maksud-"

Honda membalikkan tubuh Anzu, menekannya di dinding, membuat tubuh Anzu terhimpit antara tubuhnya dan dinding. Dia mencengkeram kedua tangan wanita itu ke dinding.

"A-apa yang kau lakukan?!" bentak Anzu terkejut, berusaha melepaskan diri dari lelaki di hadapannya.

Teriakan Anzu teredam ketika mulut menutup mulutnya, melumatnya kasar. Anzu berusaha memberontak, tetapi kekuatannya tak bisa menandingi kekuatan lelaki di depannya. Tubuh wanita itu lemas, akhirnya pasrah menerima ciuman dari pacarnya.

Honda menggeser wajahnya, mengusap pipi Anzu dengan bibirnya, turun menuju lehernya. Menggigitnya, dan menjilatnya. Nafas Anzu menjadi berat, pandangannya berkabut, perasaannya bercampur-aduk.

Suasana terasa begitu panas, sampai...

BRAK!!

"ANZU!! KAMI DA-!!"

Mata tiga orang yang main labrak tanpa mengetuk terlebih dahulu melebar. Salah satunya adalah seorang wanita yang hamil dua bulan, kedua tangannya menutup mulutnya yang menganga. Sementara kedua lelaki yang menemaninya hanya bengong menyaksikan adegan lime secara live.

Anzu segera mendorong Honda keras-keras, membuat lelaki itu terjungkal jatuh. Dia bergegas merapikan pakaiannya, dalam hati mengumpat-umpat atas apa yang terjadi sebelum tiga orang itu melabrak masuk.

"A-ano... Shizuka-chan, Ryuuji, Jou... ini bukan seperti apa yang kalian pikirkan..." gagap Anzu panik.

Tiga orang itu tersentak kembali ke dunia nyata. Tanpa mengubah ekspresi, mereka langsung mundur keluar. "Jangan pikirkan kami, silahkan lanjutkan. Maaf telah mengganggu." Pintu ditutup beberapa detik, sebelum terbuka lagi. Kepala Jounochi muncul. "Oh! Lain kali kunci pintunya sebelum melakukan itu." Akhirnya pintu benar-benar tertutup.

Suasana hening.

Anzu menepuk dahinya sendiri. "Aku benci kau." erangnya, malu plus frustasi.

Honda membalasnya dengan cengiran. "Love you too."


TING TONG TING TONG

Suara bel memecah keheningan teriknya siang di hari libur. Seorang gadis berambut pirang yang dikuncir dua berdiri dengan tenang menunggu seseorang membukakan pintu. Sebuah koper tergeletak di sampingnya.

Lama tidak dibuka, dia mencoba menekan bel sekali lagi dan terdengar sahutan dari balik pintu yang kemudian terbuka, dan terlihat seorang lelaki yang memiliki rambut mirip orang kesetrum.

Tatapan malas lelaki itu berubah menjadi keterkejutan ketika melihat gadis yang ada di hadapannya. "Kau...!"

Gadis itu tersenyum, dia melepaskan pegangannya pada koper. Berlari, dan melompat ke arah Yugi untuk memeluknya.

"Kyaha!! Yugi!! Lama tidak bertemu!!" seru gadis itu senang.

Yugi terdorong mundur, nyaris terjatuh jika dia tidak menekankan kakinya kuat-kuat. "Tu-tunggu dulu, Hawkins-san!!" Dia melepaskan kedua lengan gadis itu dari lehernya, membuat gadis itu cemberut. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya.

"Mou... kita sudah lama tidak bertemu, malah itu yang pertama kau tanyakan." gerutunya cemberut.

Tatapan Yugi menjadi tajam. "Hawkins-san."

Gadis itu nyengir. "Sorry, sorry! Just kidding!" Rebecca menatap Yugi, sebelum memeluknya lagi. "Aku kangen!!"

"Wha... Hawkins-sa...!!" teriakan Yugi terputus saat mendengar suara perempuan yang sangat dikenalnya.

"Aibou, ada apa?" tanya Atem, sementara dia melongok ke pintu depan dari ruang tamu. Mata merahnya menangkap wujud seorang gadis yang memeluk Yugi. Dia terdiam, menelengkan kepalanya tanpa ekspresi.

Hal yang sama terjadi pada Rebecca. Dia terdiam menatap wanita yang sama sekali tidak dia kenal, mengamatinya. Jika diperhatikan, wajah wanita itu agak mirip Yugi. Bisa terlihat 'radar rival'nya Rebecca bangkit.

Sementara Yugi yang malang, hanya bisa menatap bingung mereka berdua.

-

Kesunyian menyergap ruang tamu. Atem dan Rebecca duduk saling berhadapan. Ketegangan terasa di antara mereka. Yugi, yang merasa tidak enak, beranjak dari sofanya, pergi menuju dapur dengan alasan membuat minuman untuk mereka.

Atem bersandar di sofanya, berusaha membuat dirinya nyaman. Kehamilannya yang sudah besar ini membuatnya sulit untuk duduk, ingin rasanya dia kembali ke ranjangnya, berbaring terus tanpa melakukan apapun. Tapi jika begitu, Yugi sang induk ayam, pasti akan khawatir dan mengira Atem sakit, disusul kemudian selimut tebal yang panas akan menyelimutinya. Dia merinding memikirkan hal itu.

Rebecca mengamati wanita dihadapannya. Siapa wanita ini? Apa dia tamu Yugi? Atau jangan-jangan dia kakaknya – karena mereka agak mirip. Tapi setahu dia, Yugi itu anak tunggal. Selain itu, tatapan matanya terlihat familiar. Dia ingin menyebut wanita di depannya itu adalah teman Yugi, tapi...

Yugi kembali dengan membawa nampan berisi gelas-gelas sirup dingin dan camilan. Dia menaruhnya di atas meja, lalu duduk setelah membisikkan sesuatu di telinga Atem sembari mengelus pipinya.

...Kenapa mereka berdua sangat dekat?!!! pikir Rebecca, tatapan matanya tajam, background api berkobar di belakangnya.

Suara Yugi membawanya kembali ke dunia nyata. "Ano... Hawkins-san."

Rebecca menoleh ke arah Yugi dengan tampang manis. "Apa, Yugi?"

"Kenapa kau kemari?"

Senyum mengembang di bibir gadis pirang itu. "Kakek ada urusan, dan beliau tidak bisa membawaku. Karena kakek tidak mempercayai siapapun, jadi disinilah aku." ujarnya – terlalu – ceria, membuat Atem menatapnya aneh.

"Lalu, kenapa kau tidak telepon dulu sebelum kemari?"

Gadis bule itu menelengkan kepalanya. "Lho? Bukannya aku sudah memberi voice mail empat hari lalu?"

Yugi tertegun. "Empat hari lalu?" Sekelebat ingatan terlintas di kepalanya.

"Kalau tidak salah saat itu semua rekamannya terhapus, kan?" kata Atem, stoic.

Yugi bertopang dagu. "Yeah... berkat Ryuuji." Dia memelankan suaranya. "Ryuuji brengsek." gumamnya kesal.

Atem memutar bola mata ketika mendengarnya, menghiraukan kebingungan yang melanda Rebecca.

Sementara itu Ryuuji yang berada nan dekat di sana...

HACHIM!!

"Tidak apa-apa, Ryuu?"

"Yah... jangan khawatir, Shizu."

"Ngomong-ngomong, Ryuu-sayang, apa kau bisa mengabulkan permintaanku?"

Puppy-eyes ON.

"Apapun! Apapun yang Shizu mau, akang kabulkan!"

"Kalau begitu..." Malu-malu. "Aku mau hiu goreng!"

CTAAAAAR!!!! BLAAR!!!

GLUDUK!!

BRUK!!

"Ryuu!! Ryuu-sayang!! Kau kenapa?!!"

Turut prihatin.

Kembali lagi ke kediaman – mantan – pharaoh yang penuh mainan.

Atem menghela nafas lega ketika tubuhnya akhirnya berbaring di ranjang. Padahal dia hanya duduk, memperhatikan Yugi dan Rebecca, tapi rasanya sangat melelahkan. Dan lucu mengingat ekspresi Rebecca ketika tahu bahwa Atem tinggal di rumah ini.

Dia menutup kedua matanya, pikirannya mengalir.

Kalau diingat-ingat, Rebecca sangat menyukai Yugi. Dia telah mengetahui itu sejak dia masih berada di dalam tubuh Yugi.

Walau dia kembali ke alam barzah, masih ada yang bisa menemani aibou di dunia. Dia percaya bahwa Rebecca bisa membahagiakan Yugi. Dengan karakter gadis itu yang ceria, dia akan mencerahkan hari-hari Yugi. Dan mungkin saja, dia mau merawat dan menganggap anak-anak yang dilahirkan Atem sebagai anaknya sendiri, karena anak-anak itu adalah darah daging Yugi.

Atem sangat lega dan senang bila hal itu terjadi.

Tapi...

Atem mencengkeram dada kirinya.

...mengapa terasa sakit?

Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Dia berusaha bangkit, membenahi kaosnya yang kebesaran agar kehamilannya tidak terlihat. Kedua kakinya berjalan menuju pintu.

Pintu terbuka. Terlihat Yugi berdiri membawa beberapa buku di tangannya Lelaki itu tersenyum.

"Ada apa, aibou?" tanya Atem.

Yugi mengacungkan bukunya, nyengir lebar.

Atem menghela nafas.

Tugas kuliah...

Benar-benar menyebalkan.

-

Dia benar-benar tidak suka ini. Rebecca berbaring di ranjang dengan bibir tertekuk. Alasan dia datang ke Jepang adalah Yugi. Dia telah menunggu begitu lama untuk membuat gerakan, dan dia telah menetapkan hati – setelah berdebat dengan diri sendiri sampai ditatap horor oleh kakeknya karena dikira kerasukan – bahwa saat-saat ini adalah waktu yang tepat.

Tapi sekarang, setelah akhirnya dia melaksanakan rencananya, tiba-tiba ada seorang wanita yang tidak dia kenal, berada di sisi Yugi, sangat akrab dengan pdkt-nya, dan – yang lebih parah lagi – tinggal serumah dengan lelaki yang dia cintai itu.

Padahal dia sudah senang ketika mendengar bahwa Anzu, saingan beratnya yang sangat menyebalkan, berpacaran dengan lelaki lain. Kenapa semua menjadi seperti ini?! Dia mengerang frustasi.

Suara bel pintu menyadarkannya kembali dari lamunannya. Rebecca memejamkan matanya, memutuskan untuk menghiraukannya. Tapi, setelah waktu lama berlalu, dan suara bel tidak berhenti juga, akhirnya dia bangkit menyeret tubuhnya menuju pintu depan dengan pikiran bertanya-tanya di mana Yugi setelah dia tidak menemukan lelaki yang dimaksud.

Dia membuka pintu, melihat beberapa orang yang dia kenal berdiri di luar. Mata orang-orang itu lebar ketika melihat dirinya seakan dia itu mayat yang bangkit dari gundukan tanah – baca: kuburan.

"Bisa kalian berhenti menatapku seakan aku ini setan seperti itu?" gerutu Rebecca, membuat orang-orang itu tersentak.

"Ha-Hawkins!!" teriak mereka terkejut.

Rebecca mengangkat sebelah alisnya sebelum menggeleng. "Kalian sama sekali tidak berubah. Terutama kau, Jou."

"Hei! Apa maksudnya itu?!!" bentak Jounochi.

Gadis pirang itu menatap bosan. "Bahkan kebodohanmu masih sama."

"Kau...!!!"

Jounochi baru mau menyerang Rebecca ketika sebuah lengan mengapit lehernya kencang.

"Cukup. Bukannya kau punya prinsip untuk tidak memukul perempuan? Dan apa yang dikatakannya benar, kebodohanmu sama sekali tidak berubah." omel Anzu.

"Dasar nenek tua!!"

Ucapan Jounochi mendapat satu tamparan, dua tendangan lutut di punggung dan... ehem... 'anu'nya, dan satu serangan sikut di belakang lehernya.

"Panggil aku 'nenek tua' lagi..." Anzu mengangkat kepalanya, tersenyum manis. "...dan kau harus mengucapkan selamat tinggal pada 'kesuburan'mu."

Para laki-laki hanya memandang sweatdrop ke arah Jounochi yang meringkuk KO.

Anzu mengalihkan perhatiannya ke arah Rebecca. "Maaf atas ketidaksopanannya. Seperti yang kau tahu, dia jadi makin stres gara-gara adiknya hamil."

"HEI!!"

"Tidak apa-apa. Bukan salahnya kalau otaknya sama dengan anak lima tahun."

"APA KAU BI-!!"

"Jangan khawatir. Kami akan mengawasinya sebaik mungkin agar dia tidak merepotkanmu." kata Anzu tersenyum manis, efek petir menggelegar di belakangnya.

Rebecca membalas senyumannya, ilusi kobaran api terlihat di belakangnya. "Terima kasih. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika sebaliknya, aku tidak punya bakat menangani anak kecil."

"HE~I...!!"

Anzu berakting kaget. "Oh... begitukah? Aku tidak tahu kau tidak bisa merawat anak."

"Yeah... karena itu, kalau saja ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu." ucap Rebecca penuh sarkastik.

Anzu tersenyum lebar. "Kau bisa membayar hutangmu dengan melangkahkan kedua kakimu keluar dari sini dan tidak pernah kembali lagi." Anzu mengucapkan 5 kata terakhir dengan tatapan dingin bagai Shirayuki.

"Hm...? Sayangnya aku tidak berniat pergi dari sini sebelum tujuanku tercapai. Aku sangat 'sedih' ketika mendengar kau pacaran dengan lelaki lain sampai-sampai aku ditatap horor oleh kakekku karena ketawa-ketawa sendiri."

Ilusi naga dan macan yang sedang saling unjuk taring plus petir terlihat di antara mereka.

Yang lain hanya bisa sweatdrop melihat perang dingin antara dua mantan rival cinta itu.

"Apa yang kalian lakukan di ambang pintu rumah orang?" Suara lelaki membuat mereka terkejut. Mereka menoleh ke arah suara dan mendapati Yugi berdiri menatap aneh ke arah mereka dengan sebelah alis terangkat dan kedua tangan terlipat di depan dada. "Well?" lanjut Yugi, menunggu jawaban.

Anzu membuka mulutnya. "Oh, Yu-"

Tetapi, didorong oleh rivalnya.

"Yugi!" seru Rebecca, mendekati Yugi. "Di mana kau tadi? Kucari-cari tidak ada."

Anzu menatap tajam ke arah punggung gadis pirang itu.

Yugi menggaruk belakang kepalanya dengan malas. "Yah... di kamar Atem."

Mata Rebecca menerawang. "Ngapain?"

"Hm? Ngerjain tugas. Memangnya kenapa?"

Rasa lega menjalar di hati gadis pirang itu. "Oh..." gumamnya sebelum memasang ekspresi ceria. "Lalu, kenapa kau tidak menyahut ketika kupanggil tadi?"

Raja game itu menguap lebar. "Kau memanggil? Sori, aku ketiduran jadi tidak mendengarmu."

Anzu mendorong Rebecca ke samping. "Maaf, mengganggu." Dia tersenyum manis ke arah Yugi. "Kami kemari cuma mau bertanya sesuatu."

Yugi terdiam menatap Anzu, sebelum menyadari bahwa teman-temannya yang lain masih berdiri di luar. Dia menunjuk ke belakang dengan ibu jari. "Bagaimana kalau kita masuk dulu. Bisa-bisa tetangga bakal menginterogasiku karena kalian membuat keramaian di depan rumahku."

Shizuka tersenyum ke arahnya. "Tidak usah, Yugi. Kami hanya mau mengajak kalian makan-makan."

"Yeah... berkat Jou yang secara ajaib bisa memenangkan voucher gratis makan sepuasnya di restoran masakan timur tengah yang mewah." lanjut Ryuuji memutar bola matanya.

"Yang membuatku ragu dia bermain jujur dalam permainan mahjong – penyebab dia mendapat voucher itu." ujar Honda sarkastik.

"HEI! Gw ini sportif, tahu!!" teriak Jounochi tersinggung, yang hanya dibalas dengan cengiran jahil dua temannya.

Yugi menatap diam dengan mata lebar. "Kau berjudi, Jounochi?" katanya terkejut.

Jounochi mengangkat kedua tangannya di depan dada. "Chill, man... itu cuma tanding, bukan judi. Gw ditantang main mahjong dengan hadiah voucher dan aku menang."

"Itu sama saja, dudul." gumam Anzu, Ryuuji, dan Honda serentak, yang kemudian siul tanda pura-pura cuek ketika Jounochi menatap tajam ke arah mereka.

Jounochi merangkul Yugi. "Gimana? Ikut dong, ya? Kita, kan, jarang ngumpul bareng kayak gini, terutama Atem. Mungkin aja hal ini nggak bakal terjadi lagi."

"Yeah... karena keberuntungan hanya terjadi sekali." gerutu Ryuuji dan Honda.

"Apa aku juga boleh ikut?" tanya Rebecca cerah.

Jounochi nyengir ke arahnya. "Boleh, boleh. Semakin banyak, semakin ramai."

Honda dan Ryuuji mengerang. "Oh my... we're doomed..." Ucapan ini mendapat double death glare dari Anzu dan Rebecca.

Yugi menautkan alis. "Hm... boleh saja. Tapi, aku tidak tahu soal Atem."

"Aku ikut."

Yugi menoleh ke belakang, mendapati Atem berdiri sambil memegang botol minum.

"Mou hitori no boku?"

"Aku bilang aku ikut." Atem tersenyum manis. "Lagipula, kebetulan aku lagi kepingin makan kurma."

Suasana sunyi senyap.

"Kurma?"

???


"Aaah... kenyang! Kenyang!" seru jounochi sembari menepuk-nepuk perutnya. Mereka berjalan melalui taman yang sepi karena malam sudah larut.

Anzu menutup mulutnya dengan saputangan, kedua mata terpejam. "Kalau kau masih lapar, itu keterlaluan. Sampai sekarang aku masih mual."

"Jou kalau makan emang nggak kira-kira."

"Biarin! Masih mending daripada dua cewek aneh yang dari awal sampai akhir cuma makan – yang bernama – kurma, padahal apa enaknya, sih, makanan itu. Bikin eneg." ujar Jounochi sambil memeletkan lidah jijik.

Sebelah alis Yugi terangkat. "Hei, cewek aneh itu partnerku..."

"...dan istriku, brengsek." lanjut Ryuuji, mata menerawang berbahaya, bersiap menyerang Jounochi yang langsung mundur.

Atem tersentak. Tubuhnya yang tegang berputar seperti mencari sesuatu, kedua matanya lebar. Yugi yang menyadari bahwa Atem tertinggal, berbalik.

"Ada apa, partner?" tanyanya, melihat Atem yang waspada.

Atem terkesiap. Dia berlari, menarik tangan Yugi. "Cepat lari dari sini!!" teriaknya.

Semuanya menatap terkejut ke arahnya, secara refleks ikut berlari.

Dan ketika itu pula, sebuah ledakan terjadi di tempat mereka berdiri tadi.

"Apa yang terjadi, Atem!!?" teriak Jounochi, menghindari serangan yang entah dari mana.

"Aku tidak tahu!! Yang penting kita harus keluar dari taman ini, segera!!" jawab Atem.

Mereka hampir sampai ke ujung taman ketika aura kegelapan berputar perlahan mengelilingi mereka, menyelimuti mereka. Atem langsung mendadak berhenti sebelum tubuhnya mengenai dinding kegelapan itu.

"A-apa ini?!" tanya Rebecca bingung, menatap sekeliling taman yang dibatasi kegelapan.

Suara berdebam keras terdengar. Mereka menoleh. Sepertinya sesuatu terlempar ke tanah dengan keras. Debu yang mengelilingi sesuatu itu akhirnya semakin hilang, dan sesosok lelaki yang mereka kenal terlihat.

"Malik?!!" seru mereka kaget.

Malik mengerang sakit, darah mengalir dari luka-lukanya, menetes dari lengan yang patah. Dia mendengar teriakan dan menoleh, terbelalak melihat teman-temannya berlari menghampirinya.

"Kalian...!!" Dia tidak sanggup menyelesaikan ucapannya karena kaget dan sakit.

Jounochi berlutut, mencoba menahan tubuh Malik yang limbung. Malik terengah-engah menahan sakit. Mata Shizuka melebar saat menyadari betapa banyaknya darah yang keluar dari tubuh lelaki mesir itu.

"Kakak! Darahnya... banyak..." Shizuka terkesiap.

Semuanya menarik nafas kaget ketika menyadari hal itu. Malik megap-megap seperti ingin mengatakan sesuatu. Jounochi mendekatkan telinganya untuk mendengar lebih jelas.

"Pha... raoh..."

Jounochi menoleh ke arah Atem. Wanita itu mengangguk, sebelum berlutut dan mendekatkan telinganya ke mulut Malik. Malik menangkap tangan Atem, memegangnya erat, alisnya berkedut.

"Lu... miere..." bisiknya berat.

"Apa?" tanya Atem khawatir. "Lumiere kenapa?"

Malik membuka mulutnya lagi. "Hati... ha... ti..." Paru-parunya terasa sesak setiap kata yang diucapkan. "Yu... gi..."

Mata Atem melebar. Dia langsung menoleh ke arah Yugi, dan terkesiap ketika melihat suatu kilatan di belakang lelaki itu.

"AIBOU, AWAS!!"

Yugi tersentak, dia berbalik dan melihat sesuatu menyerangnya dengan cepat. Kedua matanya langsung berubah menjadi kuning keemasan, cahaya muncul dan sebuah pedang terlihat dalam genggamannya. Dia segera menangkis sesuatu yang menyerangnya sembari melompat kebelakang dengan cepat.

Sesuatu itu meliuk-liuk di udara, membuat suara berderak seperti rangkaian besi diseret. Seseorang berjalan ke arah mereka dari balik kegelapan, sesuatu yang adalah rantai itu mengelilingi sosok yang perlahan mendekati mereka.

Atem terbelalak kaget. Dia mengenal orang itu. Walau penampilannya sedikit berbeda, dia masih mengenalinya.

"Lumiere...?" gumam Atem terkejut.

Lumiere tidak menjawab. Dia hanya diam menatap mereka dengan matanya yang berwarna keemasan yang hampa. Beberapa rantai panjang meliuk-liuk di sekelilingnya.

Ryuuji menoleh ke arah Atem. "Kau kenal dia?" tanyanya.

Atem mengangguk, dia menelan ludah. "Ya. Dia teman Malik dan Ryo."

Apa yang terjadi? Apa dia yang menyerang Malik hingga seperti ini?

Pikiran Atem terputus ketika melihat rantai meliuk ke arahnya. Yugi berlari, mengayunkan pedangnya untuk menghentikan rantai itu, menyebabkan rantai tersebut melilit pedang.

"Aibou!!"

Yugi menggertakkan giginya, berusaha sekuat tenaga menahan pedangnya agar tidak terlepas karena tarikan rantai itu. Dia melirik ke arah teman-temannya, tubuhnya perlahan terseret ke depan.

"Cepat lari!" teriak Yugi. "Bawa Malik pergi dari sini!!!"

"Tapi Yugi, kau-!!"

"Cepat!!"

Jounochi melingkarkan tangan Malik di lehernya, sementara dia memeluk pinggang lelaki itu untuk membantunya berdiri. Anzu dan Shizuka berlari di samping mereka, disusul yang lain.

Yugi menebas pedangnya kuat-kuat, membuat rantai terlepas. Dia lalu berlari menyusul teman-temannya. Tetapi, sebuah petir hitam melintas tepat di depannya, hampir mengenainya, dan meledak karena mengenai tanah.

Rebecca dan Atem berbalik, mata mereka lebar melihat ledakan. Perasaan takut menjalar di hati mereka.

"Yugi!!" teriak Rebecca, berlari ke arah tempat ledakan, tetapi ditahan oleh Atem dari belakang.

"Hentikan! Jangan gegabah!" Atem memegang erat pergelangan tangan Rebecca.

Rebecca berbalik kesal, menarik tangannya. "Lepaskan!! Nggak lihat Yugi kena ledakan?!! Aku harus menolongnya!!"

"Sudah kubilang, hentikan!! Lebih baik kita lari dari sini sebelum Lumiere menyusul kita!!"

"Kau!!" Rebecca menarik tangannya dari pegangan Atem. "Dasar wanita tak berhati!! Tega-teganya kau berniat meninggalkan Yugi!! Tak kusangka kau wanita seperti ini!!"

Atem memegang tangannya lagi ketika Rebecca mau berlari ke arah ledakan lagi. Dia menarik paksa Rebecca – yang memberontak – berlari ke arah teman-temannya yang lain.

"Lepaskan!! Yugi masih ada di sana!!"

Atem berdecak. "Diam!! Kau ada di sana juga percuma!! Kau tak bisa melakukan apapun, yang ada cuma bunuh diri!! Yugi baik-baik saja, serangan itu tidak mengenainya!! Jadi tutup mulutmu sebelum kusumpal dengan sepatu!!" bentak Atem, merasa lega karena mereka telah sampai di tempat yang lainnya.

"Sejak kapan kau bisa mengancam seperti itu, Pharaoh?"

Suara lelaki mengagetkan mereka. Mereka tersentak menoleh ke arah suara dan mendapati seorang lelaki duduk di atas pohon dengan sebelah kaki menggantung. Semuanya terkesiap kaget saat melihat lelaki itu. Mata Atem lebar, nafasnya tercekat, tubuhnya tegang, mulutnya menganga, ekspresinya seakan tak mempercayai apa yang dia lihat.

Lelaki itu menyeringai licik melihat ekspresi syok sang mantan pharaoh. Mata berwarna merahnya menyiratkan kesenangan dan kegilaan yang tak bisa dijabarkan.

"Lama tidak berjumpa, Atemku sayang."

Atem tersengal-sengal, paru-parunya terasa sesak, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Ketakutan tersirat jelas di wajahnya. Hanya satu bisikan yang keluar dari mulutnya.

"A... kifa..."

TBC...

A/N :

Iblis Kira : (celingukan) Mana si author-brengsek itu?

Malaikat Light : (tertawa gugup) E...hehehe... dia... ngumpet, takut dibunuh para readers karena lama nggak update.

Iblis Kira : (mengangkat sebelah alis) Ngumpet? Dibunuh?

Malaikat Light : Yah... dia masih belum update juga walau sudah banyak yang nagih. Jadi... gitu, deh. Apalagi chapter ini sama sekali tidak nyambung antara awal dan akhir.

Iblis Kira : (mendengus) Dia bakal diumpanin ke bapakkonda, pasti. Salah dia sendiri.

Kaiba : Gw nggak nongol di chapter ini?

Bakura : Tenang aja, gw juga nggak nongol.

Malaikat Light : (sweatdrop) Di bawah ini jawaban review anda. (bergumam) Dasar narsis, pengennya nongol terus.

Kaiba : Gw denger itu!

-

To Messiah Hikari :

Malaikat Light : (bows) Terima kasih atas review anda dan maaf telah membuat anda menunggu.

Iblis Kira : Kenapa elu yang ngomong itu?

Malaikat Light : (mengacungkan hp) Miskol dari author-bokek.

Bakura : (nampol Messiah) Lu aja yang ke laut sono, cewek lebay!

-

To Dika the Reborned Kuriboh :

Iblis Kira : (mengadah melihat nama) Ganti status, nih? Sebelumnya, kan, bersayap.

(Cat : sebelumnya "WINGed" sekarang "Reborned"=terlahir kembali)

Kaiba : Nih, anak aneh banget. Kita aja eneg, masa dia malah ngiler.

Iblis Kira : Keren? Satu kepribadian author aja udah bikin repot. En elo bilang itu keren?

Bakura : Maklum, anak stres.

Malaikat Light : (melempar mas-mas tukang gosip dengan tulang anjing) Jangan kasar pada readers!! (bows) Terima kasih banyak telah mau repot mereview.

-

To Vi ChaN91312 :

Malaikat Light : Thank you very much.

Bakura : Kebanyakan nomer.

Kaiba : Lu nanya telor pake cokelat itu enak? Coba aja sendiri, sono.

Iblis Kira : Kalo nggak salah si Yugi udah dingin sejak Atem ninggalin dia ke akherat, kan?

Malaikat Light : (mengangguk) Yah... kenapa?

Iblis Kira : Trus Yugi belon tahu kalo Atem hamil, kan?

Malaikat Light : Yeah...? Terus?

Iblis Kira : (memutar bola mata) Si L diperkosa sama Misa kemaren.

Malaikat Light : Yeah... tunggu. WHAT?!!!

Semua : 'Telmi...'

-

To Sweet lolipop :

Kira,Kaiba,Bakura : Nih anak sama gilanya kayak pharaoh bencong itu. (disembur Ra)

Atem : (tiba-tiba nongol) Siapa yang lu sebut bencong?!

Kira,Kaiba,Bakura : (gosong tak berbentuk)

Malaikat Light : Maaf atas gangguannya dan terima kasih atas reviewnya.

-

To Death Angel :

Atem : Terima kasih.

Kaiba : (celingukan) Kemana si Light?

Bakura : (menunjuk dengan ibu jari) Ngumpet takut gara-gara si crazy angel mau mindahin otaknya Light ke dia buat ngadepin UN.

Kaiba : (swetdrop)

-

To Ka Hime Shiseiten :

Atem : (membaca sms dari author) Thanx a lot for you.

Kaiba : (kesal) Napa, sih, banyak banget yang pengen gw mati?!!!

Bakura : fbnya author? Lu tau ga, Kaiba?

Kaiba : (shrugged) Dunno.

Bakura : Lu ni gimana, sih? Masa nggak tau fb sekongkol bisnisnya sendiri.

Atem : (membaca sms) Cari saja nama "Scarlet Natsume" terus pilih yang bergambar profil dewa kematian.

Bakura : Cuma perasaan gw aja atau author tau apa aja yang ditanyain readersnya?

-

To Uchiha 'Haruhi' Gaje :

Atem : (membaca sms) Arigato gozaimasu.

Kaiba : Dia gila.

Bakura (mengangguk) Yep. Sangat gila.

Iblis Kira : Lu juga gila.

Bakura : En lu juga.

Kaiba : Bagus. Gw dikelilingin orang gila. (ditendang Atem)

Iblis Kira : Mewek sesukamu, author gak bakalan peduli.

Bakura : Yeah... dia orangnya dingin banget.

Iblis Kira : Dan sombong kayak Kaiba-jablay yang di sini.

Kaiba : (death glare)

-

To Satia Vathi :

Atem : (masih baca sms) Thank you so much for your review and welcome to 'my'crazy world. (terdiam, sebelum menggerutu) Author-brengsek.

Iblis Kira : LIGHT!! ADA YANG MAU GABUNG KLUBMU TUH!!

Bakura : (menepuk-nepuk bahu Kaiba yang merajuk) Sabar... sabar...

Atem : Maaf, tapi saya tidak tega menjahili aibou seperti itu. (menelepon) Aibou, tolong beliin kurma yang banyak.

Yugi di telepon : (suara kayak baru bangun tidur) Eh???? Sekarang?

Atem : Yeah... kapan lagi.

Yugi di telepon : Tapi, tapi, tapi... tapi sekarang tengah malem! Nggak ada toko cemilan yang buka jam segini! Apalagi sekarang lagi nggak musim kurma di Jepang! Nggak ada yang jual!

Atem : Pokoknya aku mau titik nggak ada koma. (memutuskan telepon)

Kaiba : (sweatdrop) Ucapan dan perbuatan nggak sesuai.

Bakura : Cewek kalo lagi hamil emang serem.

-

To mimimifeyfeyfey :

Atem : Terima kasih atas reviewnya.

Bakura : Ini namanya siapa, sih? Kebanyakan diulang.

Kaiba & Kira : Lu tolol, BAKAra.

Bakura : (glare)

-

To Marianne vessalius :

Atem : Thanx.

Bakura : Nih udah dilanjutin.

-

To ketsueki kira :

Atem : Sankyuu.

Iblis Kira : Nih anak seenaknya aja netapin ending.

Kaiba : Hm... kalau nggak salah, author udah nyiapin plot untuk fic yang baru.

Bakura : Lagi?

Iblis Kira : Dia emang suka nyengsarain diri. Di fandom gw dia buat empat fic bersambung en semuanya dalam status hiatus.

Bakura : Terus ceritanya gimana?

Kaiba : Gw udah diancem tidak ngebocorin fic. Tapi yang pasti, Atem yang bakalan sengsara di fic itu. Dan jadi uke.

Atem : (mengerang) Lagi...?? kenapa, sih, author suka banget ngejadiiin gw uke?

Kaiba,Bakura,Kira : (inosen face) Karena lu feminin?

Atem : (death glare + game penalty)

Kaiba,Bakura,Kira : (ko'it)

-

Atem : (mau membungkuk nggak bisa gara-gara hamil gede) Terima kasih atas review anda. Dan terima kasih juga karena telah repot-repot membaca fic yang amburadul dan jelek ini. Dan maaf karena telah membuat anda semua menunggu dan membuat anda membaca chapter yang sama sekali tidak memuaskan. (dapet sms) Ah. dan author bertanya "Siapa yang meminta pertemanan di fbnya?" dia tidak bisa mengkonfirmasinya jika tidak tahu siapa itu. Sekali lagi terima kasih.

Ra : (membuat tulisan "Please review if don't mind" dari api)

...

....

.....

With Death Note and M&W,

-

DN and YGO crews.