Ah, Itoshii no Kazekage-sama!
Naruto ©Kishimoto Masashi
.
.
~…if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love."~ Mother Teresa
Chapter 14: "It is not Easy to be a Kazekage"
"Gaara. Dia menghilang."
Saat Temari mengatakan Gaara menghilang, Pikiran Matsuri tiba-tiba kosong. Di dalam ruangan besar dan dipenuhi para anbu, Matsuri kehilangan konsentrasinya. Di hadapannya, mulut Temari terus membuka dan menutup; sedang mengatakan sesuatu tapi Matsuri tak bisa mendengar apapun. Atmosfer disekelilingnya terasa berat, pandangannya mengabur, dan kejadian 5 tahun yang lalu terbayang jelas di benaknya.
Menghilang… diculik… mati….!
Matsuri membeku.
Lalu tiba-tiba ia merasakan guncangan yang saat hebat. Ketika sadar, Temari sedang menguncangkan bahunya.
"Aku akan menemukannya." Ujar Matsuri tiba-tiba. "Aku pasti akan menemukannya!"
Belum sempat Matsuri berlari, Temari langsung menahan tangannya. Matsuri menoleh.
"Jangan." Ucap Temari tegas.
Mata Matsuri melebar, ketika ia akan melayangkan ungkapan protes, Temari melanjutkan kalimatnya.
"Kita belum tahu musuh seperti apa yang kita hadapi. Sampai ada informasi yang pasti, aku tidak bisa melepasmu."
"Apa maksud anda?" Jutaan pertanyaan memenuhi benak Matsuri atas sikap tidak masuk akal yang Temari ambil. "Gaara-sama menghilang dan yang anda lakukan adalah mencegahku mencarinya? Jika anda tidak membutuhkan tenagaku untuk mencarinya, untuk apa anda memberitahuku tentang ini? Sebenarnya apa yang anda pikirkan? Diluar sana Gaara-sama sedang dalam baha—"
"Aku harus melindungimu. Apapun yang terjadi jangan pernah coba pergi dariku." Potong Temari dengan penuh keyakinan.
"Tapi Gaara-sama yang dalam bahaya!" Sahut Matsuri jengkel. Ada apa dengan Temari?
"…"
"Lepaskan! Aku mohon, Temari-sama. Lepaskan tanganku!"
"Tidak."
"Lepas!"
*Bergeming*
"Temari-sama, saya mohon. Tolong lepaskan tangan anda."
*Bergeming*
Apa yang sebenarnya terjadi disini? Pekik Matsuri dalam hatinya. Ia tidak habis pikir kenapa Temari melindunginya? Ini tidak seperti ia cukup penting untuk dilindungi saat Kazekage dalam keadaan bahaya. Jelas-jelas nyawa Kazekage sedang terancam, tapi kenapa Temari malah melindungi rakyat tidak berguna seperti Matsuri? Benar-benar tidak masuk akal!
"Temari-sama, apa maksud anda melakukan ini semua? Gaara sama dalam keadaan bahaya! Kenapa anda malah melindungiku? Hal yang harus kita lakukan adalah secepatnya mencari Gaara-sama!"
Temari nampak tidak mengacuhkan Matsuri, ia melanjutkan kembali rapat dengan para anggota anbu tersisa. Sikap Temari membuat Matsuri kesal setengah mati. Meski Temari memberikan perintah kepada beberapa shinobi untuk mencari Gaara dan mengecek kondisi desa, tapi Matsuri tetap tidak bisa mengerti alur pikir Temari. Matsuri tidak bisa tenang jika tidak mencarinya sendiri. Tidak bisa.
Diantara puluhan anbu yang melingkar menghadapnya dan Temari, Matsuri tidak menemukan satupun diantara mereka melayangkan protes sama sekali seolah apa yang Temari lakukan adalah benar. Ini membuat kekesalan Matsuri bertambah parah. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan mata memerah. Sialan. Disaat seperti ini kenapa ia tidak bisa berbuat apa-apa? Kesal. ia ingin sekali melepaskan tangan Temari dan lari secepatnya dari ruangan terkutuk ini untuk mencari Gaara.
"Jangan pernah sekali-kali kau mencoba untuk melepaskan tanganku." Ujar Temari tiba-tiba seakan membaca pikiran Matsuri.
"Demi Tuhan, Temari-sama… Gaara, Kazekage kita, dalam bahaya diluar sana." Matsuri menekankan kata Gaara dan Kazekage dalam kalimatnya, "Dan yang anda lakukan adalah… melindungiku?" Lanjut Matsuri tak percaya. Ia SANGAT tidak mengerti jalan pikiran Temari. Ini bodoh. Benar-benar bodoh!
"Jelas kami harus melindungi anda." Ujar salah seorang anbu.
Mata Matsuri melebar. Kebodohan macam apa ini? Apa yang sebenarnya MEREKA pikirkan?
"Berhenti bersikap bodoh, Matsuri." Tambah Temari.
Mendengar respon Temari, Matsuri merasa seakan dunia telah berputar 180 derajat.
Jelas-jelas mereka yang BODOH!
Merasa tidak diperlakukan tidak adil, Matsuri telah bersiap melayangkan aksi protes. Namun, belum sempat Matsuri berkata, Temari mendahuluinya.
"Nampaknya kabar itu menyebar dengan cepat."
"Kabar? Kabar apa?"
"Keponakan. Tentu saja." Sahut Temari.
"Keponakan? Keponakan siapa?" Matsuri bingung setengah mati, sebenarnya kenapa dengan orang-orang ini?
Temari menoleh pada Matsuri sebentar, sesaat ia seperti kehilangan suaranya.
"Kemungkinan besar target musuh kali ini adalah keponakanku."
Keponakan Temari-sama? lalu apa hubungannya denganku?
"Demi Tuhan, Matsuri. Berhentilah bersikap bodoh. Sudah akui saja, kami semua sudah mengetahuinya. Jadi tidak perlu ditutupi."
"Ha?" Benar-benar! Mereka bicara apa, sih?
"Mataku! Baiklah terserah kau saja, mau sampai kapan menutupinya dariku. Dasar, menyembunyikannya dari kakakmu sendiri, kalian keterlaluan."
Apa yang SEBENARNYA ia bicarakan?
Keponakan Temari-sama…
Berarti anak dari Kankuro-sama atau Gaara-sama…
Gaara-sama…?
'…mau sampai kapan kalian menutupinya dariku…'
'…kalian…'
MASAKA?!
"Ttttutunggu sebentar!" Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis Matsuri. "Keponakan anda maksudnya…"
"Anakmu, tentu saja. Kau sedang hamil, kan?"
"Eeehhh?"
O.o
'Ada yang ganjil.' Pikir Gaara.
Gaara tidak tahu kenapa, tapi ia tahu ada yang aneh dengan laporan keuangan ini. Hanya tahu…
Gaara telah membolak-balikan dokumen yang sama untuk hampir lima jam lebih dan dia tidak menemukan apapun. Secara garis besar tidak ada yang salah. Seperti kebanyakan laporan yang biasa disajikan, laporan itu pun tidak berbeda jauh. Tapi Gaara merasa ada yang ganjil. Entah mengapa.
Gaara memandangi jam dinding di ruang kerjanya. Sudah tengah hari dan itu berarti tak lama lagi sebelum festival digelar. Festival yang harus ia hadiri ditengah kesibukan seperti ini? Ia rasanya ingin mengutuki waktu yang tidak pernah mau berkompromi dengannya.
Festival… (A/N: Saya gak tahu kalau penulisan kanji untuk nama Matsuri bermakna apa, tapi dalam bahasa jepang matsuri bisa berarti festival)
Gaara buru-buru menggelengkan kepalanya. Gadis itu mulai meracuni pikirannya lagi. Sial!
Gaara meraih cangkir kopi di mejanya, saat ia hendak meminumnya ingatan Matsuri yang berbicara dengan Sari memenuhi benaknya. Kata demi kata yang diucapkan gadis itu terngiang-ngiang di kepalanya.
"…menjadi kekasih Kazekage-sama adalah kesalahan untukku…"
[PRANG]
Gaara mengambil napasnya yang terasa memburu. Panas. Ia merasa marah sampai seluruh tubuhnya terasa terbakar. Saat melihat pecahan gelas di hadapannya, mata Gaara membulat sempurna. Cairan berwarna hitam pekat disekitar pecahan gelas memenuhi pandangannya. Menggelapkan semua yang ada di sekitarnya.
Pengkhianatan… sudah cukup Gaara merasakan pengkhianatan dalam hidupnya. Tidak dulu, tidak sekarang semua sama saja. Sebenarnya apa yang Tuhan rencanakan? Kenapa Tuhan memberikannya takdir mengerikan seperti ini? Belum cukupkah hatinya meradang? Harus hancur sampai seperti apa agar Tuhan bisa menghentikan kutukan seperti ini dalam hidupnya?
Mengingat semua itu hanya membuat kenangan masa kecilnya semakin nyata.
Pengkhianat…
Semua orang disekitarnya adalah pengkhianat!
"…menjadi kekasih Kazekage-sama adalah kesalahan untukku…"
Pemandangan pecahan gelas yang berserakan dilantai yang basah terlihat kabur. Gaara memejamkan matanya sambil meremas dadanya kuat-kuat. Walau sudah berusaha sekuat tenaga menahannya, air mata tetap mengalir melewati kelopak matanya. Tulisan laporan keuangan di atas meja mulai luntur.
Sialan…
Sampai kapanpun rasa cinta itu… menyakitkan.
o.O
"Araa?" Tuan Fujiwara terkejut luar biasa. "Aku tidak bermimpi, kan?"
Gaara memandangi Tuan Fujiwara tanpa ekspresi. Ia hanya berdiri di depan rumahnya, tanpa berniat mengatakan sepatah kata apapun. Melihat tingkah Gaara, Tuan Fujiwara seakan menangkap sesuatu. Sambil berdehem pelan, Tuan Fujiwara mempersilahkan Gaara masuk.
"Percakapan antar lelaki harus dimulai dengan segelas sake, kali ini pastikan kau meminumnya dalam sekali teguk." Ujar Tuan Fujiwara sambil membuka lemari es dan mengeluarkan sebotol sake dingin.
Dalam benak orang tua itu muncul banyak pertanyaan. Ini memang bukan urusannya, tapi ia tahu ini pasti tentang Matsuri. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada anak muda di hadapannya namun tak sanggup mengatakan apapun meski hanya sekedar guyonan ringan. Ekspresi dan aura disekitar Gaara terlalu menakutkan sehingga ia merasa bisa saja mati dibunuh jika salah berbicara.
Fujiwara tua menuangkan minuman ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Gaara. Pria muda itu bergeming. Memandangi gelas sake dengan pandangan kelam yang seolah siap menelan apapun. Seperti black hole dengan kekuatan gravitasi sangat tinggi. Hati Fujiwara langsung terasa kelabu dengan sekali melihatnya.
Keheningan bergulir di ruangan sebesar enam tatami itu. Gaara menghabiskan waktu lima belas menit, tiga puluh menit, empat puluh lima menit dan satu jam untuk memandangi segelas sake dan menularkan kegelisahan hatinya pada pria tua di seberang meja. Cairan sake di dalam gelas yang terus ia pandangi tidak menguap sedikitpun walau pandangannya sudah cukup membuat seluruh tubuhnya terbakar.
Gaara terlihat mengkhawatirkan sampai nyaris seperti sudah mati. Jubahnya yang dipakai asal-asalan, juga rambut semraut yang entah berapa minggu tidak disisir. Jika saja jubah dan wajahnya tidak sebersih ini, ia pasti akan lebih mirip gembel daripada Kazekage. Fujiwara tua tidak mengerti kenapa Gaara datang ke rumahnya untuk terlihat sekarat seperti itu? Ini tidak seperti Gaara yang memilih harga diri di atas segala-galanya.
"Ittai." Ujar Gaara memecah keheningan.
Tuan Fujiwara memandanginya yang tidak melanjutkan kata-katanya. Kata 'sakit' yang anak muda itu ucapkan terasa menusuk hatinya. Seakan meminta pertanggungjawaban darinya, Gaara tak beranjak sedikitpun dan tetap terdiam. 'Pria muda yang menyedihkan.' Pikir Fujiwara tua. Pria muda yang dipenuhi jutaan pertanyaan yang tak terucap itu terlihat menyedihkan seakan ia mempertanyakan alasan atas seluruh kehidupannya.
Angin kering musim panas yang berhembus melewati ruangan itu seakan membawa serta ingatan Fujiwara tua. Jika melihat Gaara yang seperti ini, ia akan langsung berpikir bahwa betapa jahatnya Matsuri. Tapi, beberapa hari yang lalu pun wajah Matsuri tidak jauh berbeda dengan keadaan Gaara sekarang, maka sebenarnya siapa yang berbuat jahat disini? Jika keduanya begitu ingin bersama dan tak bisa, maka siapa dalang yang menghalangi mereka?
Gaara yang sukar percaya akan kehadiran cinta, pernah membuat Fujiwara mengamuk sampai mengusirnya. Sebenarnya sejak awal Gaara-lah yang paling mempercayai kehadiran 'cinta' itu sendiri. Rasa sakit yang membekas sampai menutup dirinya adalah bukti nyata betapa ia tidak mau kembali merasakan 'cinta' yang ia sebut sesuatu yang menyakitkan.
Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka? Kesalahpahaman ini benar-benar memuakkan.
"Setiap orang memiliki alasan atas tindakan mereka." Ucap Fujiwara sambil mengambil gelas sake yang sedari tadi dipandangi. Pandangan Gaara yang telah terpaku mengikuti arah gelas sake sampai berhenti di hadapan wajah Fujiwara tua yang mengangkat gelas itu.
"Saat semua orang menilai masalah dari apa yang mereka lakukan, kenapa tidak kita lihat dari alasan yang membuat mereka melakukan tindakan itu?"
Mata Gaara melebar. Pandangan penuh pertanyaan itu seperti sedang mencari ujung pangkal benang kusut di dalam otaknya.
"Rasa sakit menunjukan seberapa berharganya hal itu jika menghilang dalam tubuh kita." Lanjut Fujiwara tua. "Sakit, huh?" Gumam Fujiwara dengan nada penuh ironi. "Semakin sakit, semakin besar rasa cinta itu."
Setelah mengatakan semua itu, Fujiwara meneguk sake di tangannya dalam sekali teguk.
O.o
"Makanya sudah kubilang aku tidak hamil!" Matsuri merasa urat-urat di keningnya hampir putus.
"Kau tidak usah menggelak sampai sejauh itu. Tidak apa-apa, hamil sebelum menikah bukan hal yang besar."
"Masalahnya bukan masalah besar atau apa, tapi aku tidak hamil, Temari-sama." Wajah Matsuri memerah. Dihadapan puluhan anbu dia harus membicarakan hal memalukan begini, Ya Tuhan…
"Tapi katanya kau—"
"Aku TIDAK hamil!" Tegas Matsuri. Bagaimana bisa kabar itu menyebar seperti ini? Memalukan. Hamil…? Yang benar aja, dong! Menikah saja belum.
"Ta-tapi—"
Temari yang bersikeras Matsuri hamil, terlihat tidak mau menerima kenyataan. Ia terus saja memperhatikan perut Matsuri dan menggumamkan kata 'tapi' berulang-ulang.
"Siapa sih yang mengatakan itu?" Matsuri tidak habis pikir. "Apa perlu aku melakukan uji periksa kehamilan dulu baru anda percaya? Ya Tuhan… bagaimana orang bisa menyangka seperti itu terhadapku?"
Matsuri menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Tidak disangka jika marah-marah seperti ini membuat seluruh energinya terkuras habis dengan sia-sia. Disaat seperti ini, saat Gaara sedang terancam, semakin terancam karena isu konyol seperti ini. Matsuri jadi ingin berteriak karena terlalu kesal.
"Kalian harusnya tidak terlalu mempercayai media masa. Aku memang pernah digosipkan seperti itu. Tapi ini bukan berarti anda melakukan tindakan atas dasar tidak pasti seperti ini! Ya Tuhan, kekonyolan macam ap—"
"Gaara."
"Ya?"
"Gaara yang mengatakannya!" Bela Temari. "Aku mengambil tindakan ini karena Gaara yang mengatakannya."
"Huh? Gaara mengatakan apa maksud anda?"
"Kehamilanmu, Gaara yang mengatakannya?"
"APA?!"
Rasanya, Matsuri baru saja kejatuhan bom atom untuk kedua kalinya sore itu. Gaara? yang mengatakan ia hamil adalah… Gaara? Pembicaraan gila macam apa lagi ini?!
"Tetua mengatakan padaku bahwa Gaara mengaku kau sedang hamil anaknya."
Rasanya terbakar meteor, lalu terjatuh dari atap gedung, dan terinjak monster berkaki 100 inci dengan berat 5000 pound sebelum terkena bom atom seperti ini mungkin. Tubuh Matsuri langsung lunglai seperti tidak memiliki tulang. Rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini. Menghilang seperti debu yang tersapu angin.
GAARA mengaku pada TETUA aku HAMIL anaknya?
"Lho, Matsuri?"
Matsuri mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Ia terlihat sangat putus asa sampai semua orang di dalam ruangan itu melihatnya dengan pandangan iba. Tapi Matsuri sudah tidak peduli, hatinya terasa seakan-akan meluncur dengan kecepatan cahaya di roler coster taman hiburan yang punya putaran 180 derajat dan jalan bergelombang seperti ombak laut yang kena badai tanpa trek lurus sama sekali.
"Argghhhhh!" Pekiknya.
o.O
Petang datang membayang. Ditengah lapangan yang terhampar dengan ratusan nisan berjejer di sepanjang mata memandang, Gaara meletakkan sebuah buket bunga pada nisan yang sangat terawat untuk ukuran usianya. Gaara menundukan pandangannya; memandangi pahatan nama di nisan sambil hanyut dalam hening… keheningan yang mampu membakar emosinya membuat Gaara mati-matian menggigit bibirnya sendiri.
Seperti sedang menyetel kaset hitam putih, memoar yang selama ini berusaha ia hapus, mengalir layaknya film tanpa jeda. Puluhan peristiwa yang selama ini terjadi dalam hidupnya berputar dalam ingatannya. Tidak ada yang ingin ia tuntut, tapi seluruh perjalanan hidup yang pernah ia tempuh membawanya pada satu kesimpulan besar.
"Apa kabar… ibu."
Pusara yang ada dihadapannya membuat perasaan Gaara tidak menentu. Bayangan seorang wanita setengah baya samar-samar terlihat di dalam khayalannya. Wajah perempuan yang mati-matian ia ingat itu perlahan mulai jelas. Tapi sial, saat wajahnya menjadi jelas, bukan wajah Karura yang terlihat melainkan wajah Matsuri lah yang justru memenuhi benaknya.
Benar… inilah awal masalahnya!
Gaara memejamkan matanya, perasaan yang mengalir dari dadanya membuncah tak tertahankan. Perasaan rindu yang tidak bisa ia katakan bahkan pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia lelah membohongi dirinya dan melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda dari keinginannya. Perasaan menahan diri yang membuat hatinya semakin terasa berat… Gaara tidak mau lagi merasakan hal itu. Tapi meski hatinya menjerit untuk melepaskan semua beban di pundaknya, otak rasionalnya selalu mencengkramnya kuat-kuat sampai ia tidak bisa berkutik.
Ia rindu pada ibunya, tapi Gaara tidak bisa mengatakannya karena terlalu takut perasaan itu membuatnya ingin bertemu dan menyalahkan Tuhan yang telah memanggilnya. Sebesar apapun kerinduannya pada ibu, ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan perempuan yang telah melahirkannya 21 tahun yang lalu itu.
"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu dan membuatmu tidak tenang di alam sana," Ujar Gaara membuka curahan hatinya. Kesentimentilan yang selama ini ditahannya akan Gaara ungkapkan sememalukan apapun itu. Gaara merasa hal inilah yang harus ia lakukan meski ia tahu ibunya tidak akan menjawabnya.
"Tapi kau adalah sumber semua masalahku." Aku Gaara. Pria muda itu menghembuskan napasnya yang awalnya terasa berat. "Semua yang terjadi padaku, semua perasaanku, apa yang aku pikirkan, dan tindakan yang kuambil hingga detik ini adalah karena aku begitu merindukanmu, ibu."
"Kalau ibu penasaran, alasanku menjadi Kazekage selain untuk melindungi desa dan menebus kesalahanku alasan lainnya adalah untuk membuktikan padamu bahwa aku bisa menjadi pemimpin yang jauh lebih baik dari pria brengsek itu.
"Tapi ngomong-ngomong menebus dosa, tentang seluruh hal buruk yang pernah kulakukan dimasa kecilku pun itu karena Yashamaru mengatakan kau tidak mencintaiku." Gaara memalingkan wajahnya dari pusara seolah ibunya benar-benar ada di sana dan memergoki ekspresi bodohnya.
"Bahkan aku menyakiti perasaan seseorang karena aku begitu merindukanmu." Gaara menarik napasnya dalam-dalam, terdiam sejenak. Bayangan Matsuri memenuhi benaknya lagi. Pertemuan pertama dengan gadis itu…
"Sejak awal seluruh hal yang kulihat darinya adalah karena di dalam pikiranku wanita itu adalah ibu. Aku memilihnya karena ia begitu mirip denganmu, setidaknya aku berharap dia mirip denganmu.
Gaara berdehem sebentar. Tiba-tiba ia merasa malu sendiri sambil membayangkan wajah ibunya yang memandanginya dengan pandangan menggoda. Apa ini pertanda ia mulai gila? Tak masalah, ia memang sudah memutuskan untuk menjadi gila saat menginjakan kaki di pekuburan ini.
"Kupikir dengan dia disampingku, aku bisa lebih mengenalmu yang belum sempat kuingat. Kupikir dengan dia disampingku, aku bisa memenuhi seluruh ingatanku denganmu. Aku hanya tidak bisa menahan diriku. Setiap memikirkanmu, orang itulah yang muncul dalam kepalaku. Fakta yang benar-benar membuat seluruh akalku tidak berguna dibuatnya.
"Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan seluruhnya padamu." Gaara menghela napasnya sambil mengingat-ngingat peristiwa penting dalam hidupnya. "Wanita bodoh itu pernah membelaku habis-habisan karena memarahi sekumpulan anak yang menjelek-jelekanku. Seperti kebanyakan ibu yang pernah kulihat, mereka akan membela anaknya mati-matian, bukan?"
Gaara mengulas senyum pendek. Mengingat betapa membingungkannya perasaan yang ia rasakan saat itu. Untuk pertama kalinya seseorang membelanya mati-matian padahal ia baru mengenalnya. Benar-benar tidak masuk akal. Gadis bodoh yang menangis sesegukan karena merasa kesal pada sekumpulan geng anak laki-laki yang menjelek-jelekan Gaara dihadapannya. Tidak ada hal yang membuat Gaara terharu lebih dari itu. Seseorang yang menangis karenanya dan membelanya.
"Gaara-sensei juga, kenapa anda mengorbankan nyawa anda saat aku diculik minggu lalu? Bukannya saat itu kita bahkan belum tahu umur masing-masing?"
Gaara hanya bisa memandanginya tanpa berkata apapun saat itu.
"Lalu saat aku menyadari bahwa aku benar-benar jatuh cinta pada gadis bodoh itu, gelar Kazekage ini membuat semuanya menjadi terasa sulit. Dalam kamusku, menjadi Kazekage hebat yang bisa membanggakanmu adalah sebuah harga mati, tapi gadis itu membuat masalah semakin rumit!
"… berada disampingnya hanya akan membuat negara kita tambah susah…"
"Bagaimana ini ibu? Apa yang harus kulakukan?"
Semalam suntuk pikirannya dipenuhi oleh pembicaraan Matsuri dengan temannya yang tidak sengaja ia dengar. Mungkin bodoh jika pada awalnya ia merasa kecewa karena menyangka Matsuri mengkhianatinya. Tapi perkataan bijak Fujiwara tua bagai menamparnya. Semua tingkah Matsuri dan perkataannya seperti sebuah puzzle yang akhirnya dapat ia susun dengan baik.
Suna, adalah alasan Matsuri. Keputusan yang bahkan tidak sanggup Gaara ambil. Mengingat Matsuri membuat Gaara mengepalkan kedua tangannya yang bergetar. Pria itu menghela napasnya dan menggertakkan gerahamnya. Air mata mengalir dari pelupuk matanya dan seketika saja dadanya terasa sangat perih.
"Ittai." Ujar Gaara.
Seluruh perasaan yang ia tahan selama ini membuncah tak tertahankan. Ia seakan merasakan kehadiran ibunya yang memeluknya dengan hangat senja itu. Tanpa sadar, napasnya mulai tersenggal-senggal. Betapapun Gaara merasa seluruh hal yang ia lakukan ini konyol, Gaara tidak peduli! Mungkin di masa depan ia akan menertawakan betapa cengengnya ia yang menangis di depan pusara ibu seperti anak kecil. Saat ini ia hanya tidak peduli.
"Hiks… Hiks…" Tenggorokan Gaara tercekat karena napasnya yang terasa berat. Cekukan melelahkan itu semakin menjadi begitu ia tahu betapa tidak bergunanya ia karena membiarkan gadis itu menangis sendirian selama ini. Title Kazekage membuatnya merasa frustasi. Jika Matsuri saja tahu apa resiko dibalik gelarnya, lalu bagaimana bisa ia bersikap egois kalau begitu? Namun, bisakah Gaara menghentikan perasaanya? Kenyataan bahwa ia harus benar-benar menerima keputusan Matsuri dengan lapang dada semakin terbayang jelas di dalam kepalanya.
"… Jika bersama dengannya aku tidak bisa bernapas dengan benar. Aku sangat lelah sampai tidak bisa melakukan apapun selain menangis…"
Padanya yang selalu berada jauh didalam hatinya, padanya yang selalu berada disampingnya, padanya yang selalu menyinari hatinya… 'Perpisahan' macam apa yang harus ia katakan? Berapa banyak lagi kata 'berpisah' yang harus ia rapalkan? Di tengah kegelapan yang mencengkramnya, dialah satu-satunya yang terlihat… jadi apa yang harus ia lakukan kalau begitu?
Matsuri dan Suna… mana yang harus kupilih, ibu?
-TBC-
A/N: Whoooaaaa… berapa bulan gak update? Gomen minna, kehidupan nyata saya akhir-akhir ini bertambah sibuk. Beberapa minggu yang lalu ada PM yang 'nagih' lanjutan fict ini… maaf baru bisa update sekarang. Tapi terimakasih untuk PM-nya, saya jadi inget kewajiban saya melanjutkan fict ini setelah sekian bulan hiatus… hahaha :)
Untuk semua readers yang menunggu lanjutan fict ini, saya mengucapkan terimakasih ^_^ tanpa dorongan dari kalian, entah kemana perginya semangat menulis saya itu. Saya berharap pada chapter kali ini pun bisa memenuhi harapan kalian semua. Jangan bosan-bosan komen ya~ hehehe…
Ceritanya saya mau bikin kalian, readers, pada galau dan 'Ohh, I get it!' setelah membaca chapter 14 ini. Apa maksud saya itu tersampaikan?
Chapter ini banyak narasinya karena saya ingin fokus pada perasaan setiap karakter (terutama Gaara). Mohon dimaklum jika style edisi sekarang terkesan bertele-tele. Hahaha… beritahu saya jika kalian merasa gaya 'bertele-tele' saya keterlaluan…
Preview: Masalah bertambah rumit, dan jalan keluar yang harus mereka pilih adalah… berpisah?
Ja, until next chap~
Regards. Eiko-chi.
