"Apa yang terjadi pada kalian?" Mata shappire-blue Menma menatap garang pada orang-orang di depannya yang kini masih terbujur lemah di lantai.

"Padahal aku hanya menitipkan Sakura sebentar pada kalian!" emosi Menma memuncak.

"Dasar tidak becus!" Setelah mengucapkannya Menma pergi, berencana untuk mengejar Sakura. Ia mengacak rambut biru dongkernya kesal.

Dari arah yang berlawanan, Menma melihat seorang gadis bermahkota merah muda begitu tergesa-gesa hingga kini berhasil menubruk dada bidangnya.

.

.

.

TRAPPED ALONE By MerisChintya97

.

NARUTO By Masashi Kishimoto

.

.

RATED : T

Genre : Hurt/Comfort, Romance, Friendship

.

WARNING : (MissTYPO, OOC, AU, Alur tidak jelas, dan masih banyak kekurangan yang lainnya, jadi mohon bantuannya^_^)

Original Idea, so don't be a Plagiat OK :)

.

SASUSAKU FICTION

DON'T LIKE, GO AWAY!(It's simple right?)

Part XIV

Untuk beberapa saat Sakura hanya bisa menahan napasnya. Tanpa diperintah kaki rampingnya segera berlari. Ia tidak melihat kedepan dengan baik sehingga dalam beberapa langkah tubuh mungilnya itu berhasil bertubrukan dengan orang lain.

"A-a.. gomennasai.." Ucapnya. Sakura kembali melangkah namun sebuah tangan besar menahannya. "Daijoubu desuka?"

Pintu di depan sana menjeblak terbuka. "MENMA! KURUNG DIA!"

Shion berteriak. "Hm.. serahkan semuanya padaku, Madame.."

.

.

"Apa rencanamu sebenarnya?" Menma mendongakan kepalanya, mengalihkan sebentar perhatian yang sejak tadi tertuju pada smartphone bermerk ternama putihnya. Ia terdiam sesaat,

"—Ini bukan rencanaku. Tapi rencananya. Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena aku telah mengucapkan janji." Menma kembali berkutat dengan smartphone-nya. "Sooka., arigatou.."

"Hm.. Doitashimashite.."

.

.

=o0o=

"Bagaimana?" Gaara diam.

"Iie. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa." Naruto mendengus kesal. "Tadi juga aku telepon Kakashi tapi katanya Sasuke tidak ada di sana."

"Sudahlah. Tidak perlu mencemaskannya terlalu berlebihan. Dia sudah besar 'kan?" Gaara mengangguk menyetujui dengan apa yang diucapkan saudaranya.

"Dia benar!" Naruto manyun mendengarnya, sebenarnya ia tidak rela jika para dokter yang akan menangani Sasuke nanti itu tidak memperdulikan keberadaan Sasuke sama sekali karena alasan 'Sasuke sudah besar.' Tapi, bukankah itu memang kenyataannya? Sasuke sudah besar, kan?

"Lalu, apa penemuanmu sudah benar 100%? Aku takut hasil kerjamu tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan dalam artian kau hanya bermulut besar!" Kening bertato kanji "Ai" milik Gaara mengerut, ia menatap Naruto dengan tatapan membunuh.

Brak. "Kau meremehkanku? Kau pikir kau siapa, ha? Jika kau tidak percaya padaku, ya sudah! Operasi saja sendiri." Buku yang telah dibaca setengahnya itu dilemparkan sembarang arah oleh pemuda bertato 'Ai' itu dengan kesal. Ia tidak suka jika ada orang yang meremehkan kemampuannya. "Aku tidak meremehkanmu. Aku hanya bertanya! Kau saja yang pundungan orangnya!" Naruto menggeser duduknya, "P-pundungan?" geram Gaara.

"Bisakah kau menyingkir? Aku tidak ingin ada yang salah paham dan menganggapku 'maho' karena kau duduk begitu menempel padaku."

"Ahaha, gomen gomen.." Sasori hanya mengangkat bahu acuh. "Merepotkan."

.

.

.

=o0o=

"Kenapa tiba-tiba kau menginginkan posisi tersebut? Bukankah sebelumnya kau begitu menolak mentah-mentah untuk bergabung dengan perusahaan?" Fugaku menyesap kopinya dengan tenang dan kini onyx-nya menatap tajam anak bungsu di depannya. Menunggu jawaban yang menurutnya logis.

Sasuke membuang napasnya pelan. Ia tidak tahu apakah jawabannya ini akan membuat ayahnya percaya atau malah menertawakannya. "Jika aku berkata untuk membalas dendam, apa otou-sama mempercayainya?"

"Apa maksudmu?"

"Ingat 8 tahun yang lalu? Kecelakaan tragis yang menyebabkan kematian kedua manusia yang berhasil mencuri berkas penting Uchiha Corporation?" Sasuke mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket kulitnya yang ternyata adalah sebuah Koran lama dan memberikannya pada Fugaku selaku sang ayah.

"Aa.. si pasangan pencuri malang itu, eh?" Fugaku manggut-manggut mengerti, "Dan kaulah yang menabrak mereka, otou-sama."

"Saat itu aku dalam keadaan mabuk. Dan hukum tidak bisa memberiku hukuman karena bagaimanapun juga aku dalam keadaan tak sadar dan aku juga korban."

"Korban pencurian." Tambah Sasuke, Fugaku mengiyakan.

"Lalu apa tujuanmu sekarang?" dalam benaknya Fugaku masih merasa begitu penasaran dengan anak bungsu satu-satunya itu. Sasuke memiliki sifat yang berbeda dengan Itachi, sifat Sasuke merupakan sebuah misteri untuknya. "Bukankah aku sudah mengatakannya? Untuk balas dendam."

"Jangan main-main Sasuke! Aku tidak ingin perusahaan yang ku bangun dengan susah payah hancur olehmu! Itachi masih mampu untuk membantuku walau dia sekarang sedang ada proyek di Itali."

"Aku tidak main-main. Apa kau tahu anak dari pencuri malang yang kau tabrak itu kini sudah beranjak dewasa dan berniat untuk balas dendam? Kau tahu siapa yang menabrak Sakura tempo hari?" Fugaku diam. Otak jenius yang berhasil ia turunkan pada kedua anaknya itu mencoba mencerna kembali apa yang baru saja dikatakan oleh anak bungsunya. "Anak dari keluarga Haruka?"

"Hhh~ Begitulah.."

"Aku meminta penjelasan lebih lanjut darimu di rumah nanti malam. Sekarang pulanglah. Rapat penting sudah menunggu."

"Hn. Ittekimasu."

.

.

.

=o0o=

Aston martin one itu melaju dengan kecepatan stabil. Menembus jalanan konoha yang tumben-tumbennya menjadi sepi. Waktu begitu cepat, tidak terasa berputar begitu saja. Atap mobil yang sengaja dibuka berhasil membuat rambut raven sang pengendara berkibar tertiup angin sore. Mobil yang dikendarainya melewati taman belakang Konoha University. Mobil mewah tersebut berhenti sesaat, Sasuke memandang bangku tua yang ada di taman sana. Mengingat bagaimana kenangan dulu ketika ia sedang memainkan violin miliknya dan juga kenangan bagaimana awal pertemuan dirinya dan istrinya Sakura. Ia tersenyum tipis. Ya, semua memang berawal karena sebuah violin yang ia mainkan di taman itu.

.

.

"TEMEEEEEEEE! Akhirnya kau pulang juga! Apa kau tahu aku sudah menunggumu selama 2 jam penuh disini, ha?" dusta Naruto. Padahal ia baru sampai di depan apartmentnya Sasuke kurang lebih 10 menit yang lalu. "Hn. Apa aku menyuruhmu untuk datang?" bukannya menjawab, Sasuke malah mengajukan sebuah pertanyaan. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya. "Err.. tidak sih.." Naruto menjawab sambil menggaruk belakang kepalanya yang diyakini tidak gatal itu. Sasuke menaikan bahunya acuh. "Lalu? Kenapa kau datang dan menungguku selama itu?" Sasuke memasukan beberapa password kedalam apartmentnya,

Klik. Pintu terbuka, Sasuke masuk kedalam diikuti oleh Naruto. "Itu karena ada yang ingin aku bicarakan."

"Jadi siapa yang harus disalahkan?" dengusan kesal keluar dari mulut Naruto. "Ah sudahlah temeeeee… jangan bahas itu lagi.." Sasuke mengerutkan alisnya. "Sebenarnya kau ingin membicarakan sesuatu denganku atau ingin menghabiskan stok makananku?"

"Aku kelaparan, menunggumu selama 2 jam dengan kondisi perut yang keruyukan." Naruto kembali membongkar isi lemari di dapur Sasuke. Ekspresinya berubah ketika menemukan ramen cup ekstra ikan naruto kesukaannya. "Huaaaaaaa~ temeeee.. arigatou…"

.

.

.

=o0o=

"Bagaimana? Apa sudah dikirim?"

"Hm. Aku pastikan dalam waktu kurang dari satu jam amplop tersebut akan segera sampai pada tempatnya." Ucapan sungguh-sungguh Menma berhasil membuat wanita bernama Shion itu tersenyum lebar. "Kau memang paling bisa diandalkan."

"Hm. Tentu." Menma menyeringai.

.

.

From : +810xxx

Kau tidak akan bisa menghadapinya sendirian. Perlu bantuan? Tapi aku menginginkanmu sebagai bayarannya.

BRAK

Shion melempar ponselnya ke sembarang arah. Belakangan ini sebuah message yang sama terus saja datang padanya. "Siapa dia?!" tanyanya pada dirinya sendiri. Sebuah liquid bening berhasil turun menjatuhi wajah cantik rupawannya. "Oka-san.. otou-san.. aku .. takut.." lirihnya.

Temujin mendengar suara tangis seseorang di dalam sana, "Shion? Daijoubu desuka?" ia segera berlari dan memeluk tubuh ringkih Shion. Temujin tahu, walau Shion sering bersikap kasar dan jahat, sebenarnya itu ia lakukan semata-mata hanya untuk menutupi kesedihannya. Kematian kedua orangtuanya itulah yang membuat Shion menjadi seperti ini.

"Sshh.. tenanglah."

.

.

"Ano saa.. sampai kapan aku akan dikurung disini? Aku harus memberitahu Sasuke-kun!" Menma menatap sebal Sakura yang terus-terusan merengek layaknya seorang anak kecil yang meminta dibelikan mainan. "Sampai masalahnya kelar. Aku sudah memberitahu Sasuke. Kau tenang saja." Sakura mengerucutkan bibirnya. "Jawabanmu selalu seperti itu." Keluhnya. "Yasudah aku harus menjawab bagaimana lagi? Kau juga melontarkan pertanyaan yang sama 'kan?"

.

.

.

=o0o=

"Sudah selesai? Kapan kau akan berbicara?"

"Iya iya. Aku akan berbicara setelah minum, tuan tidak sabaran!" Naruto meminum airnya dengan cepat. Setelahnya, mereka memulai suatu perbincangan.

"Jadi sekarang apa jawabanmu? Mau tidak mau kau harus mau!" pertanyaan Naruto bagai angin lalu untuknya. Pikirannya kini melayang-layang entah kemana. "Operasi, eh?" batinnya.

"Hei Sasuke-teme! Kenapa kau tidak menjawab?"

"Apa harus? Mau tidak mau aku harus mau 'kan? Jadi, untuk apa aku menjawab?"

"Benar! Operasinya akan dilakukan jika si panda itu telah berbicara empat mata denganmu dan dia mendapatkan janji yang diinginkannya." Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut sahabat berisiknya Sasuke tidak bisa untuk tidak bertanya. "Janji?"

TENG TONG

Suara bel dari arah pintu masuk itu membuat pembicaraan jadi buyar. "Teme cepat buka!" perintah Naruto membuat Sasuke sebal. "HN. Aku tahu!"

.

.

"Kenapa kau lama sekali sih teme? Siapa yang datang?" Naruto menghampiri Sasuke yang terus berdiri di depan pintu. Sappire-blue Naruto menatap penasaran dengan amplop yang ada di tangan Sasuke. "Amplop apa itu, teme? Aku kira Sakura-chan yang datang."

"Cepat buka!" dua kali Naruto sudah memerintah Sasuke layaknya seorang bos. Namun anehnya Sasuke menurut saja dengan apa yang Naruto katakan. "E-eh? Teme, itu Sakura-chan 'kan?"

.

.

Tobecontinue

Bandung, 01 Oktober 2013. 10.00pm.

A/N: Selamat malam semuanya. Maaf membuat kalian semua menunggu lama kelanjutannya. Belakangan ini saya sibuk sama tugas laporan PRAKERIN saya. Jadi baru bisa update sekarang :D Gomenne..

Dan terimakasih banyak buat para reader, silent reader dan tentu saja reviewer :D Arigatou Gozaimasu.

Terutama untuk yang review di chapter kemarin :

Kushina Uzumakii, NaruFhia Uchiha, Always Sasusaku19, Sriafifahdevi, Kasih hazumi, UchiHarunoKid, IisVadelova, hanazono yuri, Pertiwivivi2, Nabila Chan BTL, Roughesta, Racchan Cherry-desu, Guest, Cho kyuhyun, caca candy, Orenji Fokkusu, Haruno Sakura, Uchiha Shesura-chan.

Terimakasih banyak. Semoga di chapter ini kalian masih bersedia untuk memberikan reviewnya yaa :)

Next? Review..

Signature,,

MerisChintya97