hatimu, dalam tangan ini
disclaimer: mobile legends: bang-bang (c) moonton.
chapter 14: dissenter; alice/moskov [canonverse.] – 14 maret 2018.
sinopsis: laki-laki adalah sampah, tapi perempuan lebih busuk.
note: diperkenankan untuk request, boleh segala macam pair (lebih baik lagi kalo ada prompt-nya!).
note2: masih gatau karakterin moskov seperti apa, makanya saya cuma nulis pake perspektif alice.
note3: semoga ini cukup maso. juga disini ada pharsa, verri, dan vexana
.
.
Mereka berdua adalah sama-sama individu yang nekat.
Sama-sama hidup untuk mati dalam pembalasan dendam yang menghidupi mereka seperti sebuah ideologi. Hidup dengan kata-kata mata dibalas mata. Ingin mati seperti martir. Penderitaan sekian lamanya harus dibalas dengan penderitaan yang sama; sepuluh kali lipat. Mereka memporakporandakan fondasi masyarakat, menggoda mereka yang dilema untuk berdansa bersama mereka dalam perbuatan ingkar.
Darah.
Darah.
Darah—
Alice masih ingat, melihat pria itu—dan iblis dalam dirinya tergoda untuk menggodanya jatuh ke dalam dosa. Darah di tangannya tak sebanyak keinginan untuk menjebloskannya menjadi sama derajatnya seperti dia. Napasnya memburu, adrenalin terpicu. Di kakinya adalah mayat teman-temannya, habis, dalam tangannya yang gemetar.
Ia tertawa; tidak ada yang bisa ia tawarkan untuk monster seperti pria ini. "Kau menarik." Katanya. Pria itu mengangkat kepalanya, wajahnya masih kaku, sesuatu menyadarkannya atas apa yang telah ia perbuat. "Tertarikkah kau bekerja padaku?"
Pria itu melempar tombaknya pada Alice—bahunya tersayat.
Iblis wanita itu menjilat bibirnya sebelum terbang menuju kegelapan malam, ucapnya: "Kau akan membayar ini, tuan."
Dalam tahanan, minumannya adalah darah dan makanannya adalah daging yang membusuk.
Ia masih ingat, pertama kali mengecap darah di lidahnya. Pahit, tidak enak—ingin muntah. Tapi ia butuh sesuatu untuk melegakan dahaganya; sesuatu untuk mengenyangkan perutnya. Dari kebutuhan lama-lama menjadi keinginan, dari keinginan menjadi adiksi; Alice tak bisa hidup tanpa darah di mulutnya, beraduk dengan pahit dunia ini.
Matanya mengamati pria itu—kurang untuk membalaskan dendamnya. Kuat, namun kurang; hal yang fatal bagi manusia yang tak bisa lepas dari egois dan serakah.
Alice datang menjanjikan kekuatan untuknya.
Ia menggigit pelan permukaan kulit pria itu, menyesap darahnya, menikmati tiap tetesan yang bercampur dengan saliva dalam mulutnya. Pria itu mengerang kesakitan, tapi Alice menahan tubuhnya, ia mengisap terus, darah dalam tubuhnya sendiri bernyanyi.
"Tidakkah kau ingin menjadi kuat untuk membalaskan darah saudaramu yang tumpah di atas tanah kelahiranmu?"
Inilah bayarannya.
Ada seorang wanita yang datang dan pergi.
Pria itu memiliki kilatan mata rindu tiap kali wanita itu pergi—dengan keranjang anyam yang kosong, semula berisi bunga-bunga yang harum wanginya. Dengki menguasai hatinya kala itu, saat pria itu duduk bersila bersama dengan wanita itu di bawah pohon, menceritakan keseharian mereka pada satu sama lain—wanita itu menceritakan tentang tunangannya dan hari pernikahannya, pria itu ingin membicarakan tentang cuaca dan keindahan dunia yang tak pernah sempat ia syukuri.
Mata wanita itu berbinar saat pria itu menjelaskan, dahulu, ia tidak pernah menyukai ini semua—tapi setelah kehilangan segalanya, ia bisa mensyukurinya, sedikit demi sedikit.
Pharsa—wanita itu—bilang: "Kalau begitu… mungkin seharusnya kita mulai mensyukuri apa yang kita miliki, sebelum segalanya dirampas dari kita."
Oh,
tunggu saja, jalang.
Alice akan mereduksi wanita itu hingga derajatnya sama sepertinya; haus akan pembalasan dendam.
Tak ada lagi senyum suci memuakkan itu.
Ia mengatakan pada pria itu: "Aku tidak ingin melihat manusia gagak Askati mengorek sesuatu yang seharusnya tak mereka ketahui; bunuh mereka semua saat pernikahan besar sang putri dari Raja Gagak Osana."
Alice melihat hati pria itu terjatuh dengan matanya yang tak meninggalkan tanah. Ia tersenyum sinis—namun pikiran akan dirinya di hari yang lalu meracuni ingatannya. Lalu ia melihat dirinya sendiri dalam cermin.
Alice telah menjadi sehina ini, dalam waktu yang singkat.
Ia hina.
Kotor, seperti dunia ini.
Ah, tidak peduli. Jebloskanlah semuanya dalam negeri yang hina; agar derajat mereka menjadi sama-sama hina, dalam kubangan kaum hina yang buruk tabiatnya.
"Verri—"
Menyedihkan. Pecundang; wanita sundal itu merangkak menjauh dari pelaminan—ia melihat kekasihnya berada di bawah kaki pria itu, yang memegang tombak di tangannya. Wanita itu menjerit—memanggil-manggilnya, berharap kesadarannya akan hari-hari yang telah mereka lalui bersama menghentikan pria itu sebelum darah kekasihnya menyentuh permukaan kulitnya.
Alice mengamati.
Pria itu menatap Pharsa, panjang. Rahangnya mengeras, ia bahkan tak berkedip saat ia menghunuskan mata tombaknya ke tunangannya—yang lapang dada, dan mencintaiku lebih dari apapun, meskipun aku banyak cacatnya. Alice tersenyum puas.
Wanita itu terbelalak melihat kekasih hatinya, jiwa mereka yang terikat dalam hubungan batiniah menjerit.
Demikian pula dia; menjerit sejadi-jadinya—bising. Matanya dikabuti oleh penglihatan yang sama, berulang-ulang seperti kaset rusak; pria itu, dan cinta terbesar dalam hidupnya meregang nyawa di atas lantai batu. Rambutnya menjadi putih, tak kuasa menahan cemas—berharap itu hanyalah mimpi atau ilusi. Verri baik-baik saja.
Tidak.
Warisan darahnya telah bangkit.
Seringai dalam wajah Alice jatuh dan berubah menjadi sesuatu yang tak ia ketahui bisa ia miliki—wanita itu menjatuhkan ganjaran surgawi yang luar biasa dari atas langit.
Ia menghunuskan belatinya pada pria itu.
Pisaunya ia seret pada wajahnya, lalu tubuhnya ia sisakan bekas; milikku—bukan milik siapa-siapa.
"Kau mengecewakan."
Darah pria itu—menangis, mengetahui satu lagi hubungan yang tak bisa ia jaga hingga akhirnya—terkecap nikmat di lidah Alice. "Kau menjijikkan."
Katanya, seraya tubuh pria itu ia bawa naik bersama ke atas ranjang—darah. Ia ingin darah pria itu di dalam tubuhnya, bersatu dengannya menjadi satu kesatuan, dari kaum orang-orang penyamun. Seharusnya pria itu tahu lebih baik daripada memiliki belas kasih dan hati yang besar di dunia yang bahkan tak menganggap eksistensinya.
Oh, betapa nikmat dosa ini, mengalun dalam dirinya seperti orkestra musik mengiringi tragedi yang akan datang.
.
.
[end.]
(sang ratu di negeri yang makmur menangis kala suaminya memalingkan wajahnya untuk berdansa bersama kuasa kegelapan. saat kematian menjemput suaminya, ia mulai membuka buku ilmu sihir kegelapan untuk menghidupkannya kembali—dan alice tertawa di atas ironinya.)
