Title : MATEMACINTA

Cast :

Do Kyung Soo (17th)

Kim Kai (23th)

Byun Baek Hyun (17th)

Xi Lu Han (17th)

Park Chan Yeol (18th)

And other cast

Rate : T

Genre : Gender Switch, School–life, Romance.

.

.

.

.

Original story by;

Razy Bintang Argian

Remake by;

KazekageLaxy

.

.

.

.

I don't own this story, just remake!

Happy Reading guys ^^

.

.

.

.

.

~MATEMACINTA~

Karya: Razy Bintang Argian

.

.

.

.


Di mobil saat perjalanan pulang, suasana menjadi hening karna aku dan Kai saling terdiam.

"Kenapa?" Tanya Kai tanpa mengalihkan pandangan dari kemudi. Aku menghela nafas.

"Tidak, aku hanya berpikir malam ini akan berlalu." Kai menatap ganjil padaku sambil tersenyum.

"Tentu saja malam ini akan berlalu, besok pagi datang, lalu siang, lalu menjadi malam lagi." Aku menghela napas kembali. Kai tidak mengerti maksudku, yang kubicarakan adalah kebersamaan ini. Kebersamaam terakhir kami. Karena aku tidak mau bersama dia lagi seperti sekarang. Sesudah malam ini aku harus sadar dia adalah guruku, guruku yang sudah memiliki kekasih dan aku tidak boleh memiliki perasaan apa-apa lagi padanya karena itu hanya akan menyakiti hatiku.

"Kamu mau kuajak ke suatu tempat?"

"Ke mana?" Tanyaku penasaran.

"Ikut saja. Ini bukan tempat terlarang untuk gadis di bawah delapan belas tahun." Dia tersenyum, lalu mobil melaju menembus gemerlap lampu jalan di tengah kota. Aku memandang ke luar jendela dan merasa pernah melewati jalan ini. Tapi kapan ya? Aku lupa. Beberapa saat kemudian mobil menepi di depan deretan toko tempat aku dan Chanyeol menepi untuk bicara, tempat yang sama ketika aku melihat Kai dan Mina saem bersama. Oh! Kenapa dia mengajakku kemari?

"Ayo turun. Ada toko aksesoris menarik di dalam. Aku ingin membeli sesuatu." Aku turun kemudian berjalan mengikutinya, menelusuri pertokoan yang belum pernah kukunjungi. Mataku melihat ke sana kemari. Di depan sebuah toko yang etalasenya memajang aneka aksesori warna-warni, Kai meraih tanganku lalu menggandengku ke sana. Sesampainya di dalam, aku terpesona melihat pernak-pernik yang tertata rapi di toko yang cukup luas itu. Beberapa gadis seumurku sedang antusias melihat-melihat gelang warna-warni berbagai bentuk dan ukuran.

"Kau ingin membeli apa?" Tanyaku.

"Anting."

Aku mendesah pelan, aku tidak berniat bertanya untuk siapa dia membeli anting itu karena aku bisa menebak jawabannya.

"Itu sebabnya aku mengajakmu ke sini. Kamu bisa membantuku untuk memilih, kan?" Aku mengangguk kemudian mengedarkan pandang, melihat-lihat aneka anting dengan segala bentuk yang terpajang dalam rak kaca. Aku membayangkan wajah Mina saem, sepertinya memakai anting apa saja dia akan kelihatan cantik. Jadi aku memutuskan memilih anting yang aku suka.

"Yang ini bagaimana?" Aku menunjuk anting perak berbentuk batang bercabang tiga dengan bunga berhias permata di setiap ujungnya.

"Bagus juga." Saat Kai memanggil pelayan untuk mengambil anting itu, aku melihat-lihat kalung di rak perhiasan di sebelahnya.

"Ada yang kamu suka? Akan aku belikan. Anggap saja karena kamu sudah membantuku memilih anting dan mau menemaniku ke pesta Luhan. "

"Tidak usah." Tolakku halus. "Bantuanku gratis kok."

"Ayolah. Selama kita berteman, aku tidak pernah memberi apa pun untukmu."

"Memang jika berteman harus memberi sesuatu?"

"Tentu saja. Bukankah kamu sudah memberi komik Inu-Yasha-mu untukku?" Dia mengingatkan.

"Enak saja! Itu bukan memberi, tapi merebut, tau! Disita tapi tidak dikembalikan!"

"Ya jika begitu, anggap saja sekarang aku ingin mengganti komikmu," Desaknya.

"Lho, memangnya komikku hilang?" Tanyaku dengan mata membulat.

"Tidak sih, tapi tidak tahu kapan aku bisa mengembalikannya. Sudahlahh, jangan membahas itu. Nanti kita menjadi ribut lagi. Pilih saja kalung yang kamu suka, aku belikan."

"Oke." Jawabku akhirnya. Mataku tertuju pada kalung perak dengan liontin berinisial ''K''. Aku langsung tertarik pada kalung itu.

''Ini saja."

"Oke." Dia lalu membelikan kalung itu untukku. Dalam perjalanan pulang, aku bercerita jika Sanha sudah pulang dan aku akan kesepian.

"Makanya jangan galak-galak menjadi kakak. Sudah ditinggal saja, baru menyesel. Jika ada Sanha, pekerjaanmu hanya marah-marah." Komentar Kai.

"Karna dia nakal sih. Aku kan jadi kesal. Kamu terus saja membelanya." Protesku.

"Ya tentu saja. Aku juga jika memiliki kakak sepertimu pasti akan betah membuat ulah."

"Syukur saja, kamu bukan adikku. Menjadi guruku saja suda menyebalkan," Balasku dan dia tidak menjawab.

Di depan rumah, Kai menghentikan mobilnya. Dia turun, kemudian membukakan pintu untukku. Wah, kenapa seperti adegan putri di drama-drama ya?

"Terimakasih ya, sudah mengantar aku pulang." Ucapku.

"Mau kuantar ke dalam?" Tawarnya dan aku menolak.

"Tidak usah. Appa dan Eoma pasti udah tidur. Selamat malam."

"Eh tunggu, Soo." Tahan Kai saat aku akan beranjak pergi. Dia mendekat dan berdiri di depanku, mendadak jantungku berdebar. Sial!

"Kau melupakan kalungnya." Kai mengeluarkan kotak dari saku kemejanya dan mengambil kalung itu, dia menatapku.

"Boleh kupakaikan? Aku ingin melihatmu memakainya." Aku terdiam namun akhirnya mengangguk. Hatiku semakin berdebar tidak jelas dengan memalukannya. Hei, dia hanya akan memasangkan kalungnya, itu saja. Perlahan Kai mengalungkan rantai perak itu di leherku. Detak jantungku semakin kacau dengan gilanya, mataku menatap matanya. Setelah kalung dikaitkan, Kai tidak langsung menurunkan tangannya, dia meremas lembut lenganku kemudian perlahan mendekat dan mencium bibirku. Tepat!

Aku terkejut dengan mata membulat. Otakku berhenti bekerja dan tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Napasku seperti terhenti, tidak ada yang terpikir olehku selain kelembutan bibirnya di bibirku. Namun seketika wajah Mina saem terlitas dibenakku dan aku tersadar, buru-buru mendorong Kai menjauh dengan kasar.

"Apa yang kau lakukan! Kau lupa ya jika sudah memiliki kekasih? Kau mau mempermainkan aku? Jika Mina saem melihat ini, dia pasti akan kecewa. Aku membencimu!" Teriakku sebelum membuka pintu pagar lalu berlari cepat ke rumah. Perlahan mataku memberat oleh air mata yang hendak tumpah, tidak kupedulikan Kai diluar sana yang memanggil-manggilku. Setelah Eomma membukakan pintu, aku langsung naik ke kamar dan menjatuhkan diri di tempat tidur, memejamkan mata kuat-kuat untuk menahan air mata dan gejolak perasaan dalam hatiku. Namun aku tidak kuat dan mulai terisak, lalu dalam sekejap menangis sejadi-jadinya. Aku ingin melepaskan semuanya, aku ingin melupakan semuanya, aku ingin semuanya hilang. Aku tidak ingin mengingat apa pun yang terjadi malam ini. Tapi yang tidak berhenti berputar di kepalaku malah ciuman Kai. Ciuman pertamaku. Kenapa Kai menciumku? Apa dia tidak berpikir bahwa sewaktu dia menciumku dia sedang menghianati kekasihnya? Perasaanku menjadi campur aduk dan aku kacau. Air mataku mengalir, tapi tidak bisa kubohongi jika tidak hanya kesedihan yang kurasa dihatiku, namun juga kehangatan disana, kehangatan yang ditinggalkan oleh ciuman Kai. Sial! Bisakah aku melupakan semuanya dan menganggap tidak terjadi apapun saat ini?

.

.

.

Sinar matahari yang menerobos jendela membuatku terbangun. Dengan malas aku menggeliat dan mengerjap-ngerjap mata. Semalam aku tidak bisa tidur sampai menjelang pagi. Perlu kantuk yang dahsyat untuk membuatku bisa tertidur. Aku menguap, dan saat tanganku menyentuh bibir, ingatan tentang ciuman semalam melintas di benakku. Seketika aku terlonjak dari tempat tidur bagaikan orang yang baru mendapat mimpi buruk, bernapas terengah-engah dan berusaha menguasai diri. Tidak, itu tidak terjadi, mungkin hanya imajinasiku. Pasti aku mengkhayal semalam dan ilusi itu muncul, batinku meyakinkan diri. Aku diam sejenak lalu menghembuskan napas putus asa. Dengan pasrah aku menjatuhkan diri di tempat tidur. Kejadian semalam nyata, dan aku benci karena tidak bisa menyangkalnya. Aku menutupi kepala dengan bantal, berusaha keras menyingkirkan memori di otakku yang memuat ingatan tentang kejadian itu, tapi yang terjadi malah semua terulang dengan jelas sampai detail terkecilnya sekalipun.

"Brengsek!" Setelah beberapa menit berlalu dengan sia-sia, aku menyerah. Lebih baik aku pergi keluar dan menghirup udara segar. Aku ingin pergi keluyuran untuk mencuci mata, tapi sepertinya aku lebih berharap bisa mencuci otak sekaligus.

.

.

.

Aku tahu sekarang bukan ide bagus untuk pergi ke bioskop. Pasalnya tempat ini mengingatkanku pada kencan malam mingguku bersama Kai dan Sanha. Aku jadi ingin mengulang saat-saat itu, tapi sepertinya aku tidak boleh berharap semua terjadi lagi. Aku meyakinkan diri untuk menjadi murid Kai saem saja, bukan teman, sahabat, atau pemuja rahasianya, dan itu berarti tidak boleh ada kebersamaan lagi kecuali di ruang kelas saat pelajaran matematika.

Aku membeli nacos di tempat yang sama saat nonton bersama malam minggu itu. Yang berbeda, sekarang aku tidak membeli popcorn, aku juga sendiri. Dengan malas aku melangkah masuk setelah membeli satu tiket film thriller, bukan kartun. Satu jam berlalu, tapi aku tidak tahu bagaimana jalan cerita film yang sedang kutonton. Sejak tadi aku hanya duduk berselonjor dengan mata menatap kosong ke layar, tangan yang secara periodik mencomot nacos satu-satu dari kotaknya, dan mulut yang secara ritmis mengunyah tanpa selera.

"Argh!" Teriakan gadis di sebelahku membuatku jadi kaget. Spontan aku tersentak sampai nacos di tanganku jatuh. Seperti orang yang baru saja dibangunkan dengan lima beker sekaligus, seperti yang pernah kualami. Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan mencoba sedikit menaruh perhatian ke layar di hadapanku, bukan hanya melayangkan pikiranku yang tidak tentu arah. Sepanjang sisa film, teriakan-teriakan histeris gadis di sebelahku cukup memeriahkan suasana. Film itu selesai tanpa sempat kumengerti cerita atau hikmahnya. Saat keluar gedung bioskop, aku berjalan tepat di belakang gadis yang tadi duduk di sebelahku. Aku menjadi penasaran dengan gadis yang menonton dengan penuh penghayatan tersebut. Kebetulan sekali dia menoleh ke belakang dan–

"Kyungsoo? Kau Kyungsoo pacarnya Sehun kan?" Ujar gadis itu. Aku mengerjap dan mencoba mengingat-ngingat gadis manis ini.

"Eh hai. Kau Rose kan?" Dia tersenyum dan mendekat.

"Sendirian?"

"Seperti biasa. Kau juga sendirian? Dimana Sehun?"

"Aku sendiri." Ucapku. "Kau mau kemana sekarang?"

"Makan siang. Bagaimana jika bersama-sama?" Tawarnya.

"Boleh. Di mana?" Rose menunjuk restoran di dekat bioskop dan aku meringis, Kencan malam minggu-ku dulu juga bersetting di restoran itu. Kenapa harus ke sana lagi? Tapi mau bagaimana?

Aku dan Rose mengobrol dengan akrab sambil makan, menikmati percakapanku dengannya, sampai di bagian dia menyebut-nyebut tentang Sehun.

"Bagaimana hubunganmu dengan Sehun?"

"Baik." Jawabku seadanya.

"Bagus lah. Aku senang dia mendapat gadis baik sepertimu." Ucapnya ceria dan aku tersenyum, merasa tidak enak hati dengannya karena aku tahu dia sempat menyukai Sehun dan dia fikir aku ini pacarnya karna kejadian waktu lalu.

"Kau tahu tidak jika aku sempat menyukai Sehun?" Pertanyaan Rose mengejutkanku. Tidak menyangka dia akan mengatakan hal itu. Aku lantas mengangguk.

"Sehun bercerita, ya? Tapi jangan berfikir macam-macam ya, sekarang sudah tidak lagi." Jelasnya, seolah menyukai Sehun bagaikan mengidap penyakit dan sekarang dia sudah sembuh.

"Konyol sekaliya. Aku tahu dia tidak akan membalas perasaanku, tapi aku tidak bisa berhenti menyukainya. Cukup lama untuk menghilangkan harapanku bisa bersamanya. Apa Sehun mengatakan hal memalukan tentangku?"

"Um, tidak kok." Ucapku dan aku mulai salah tingkah karna aku merasa bersalah padanya.

"Rose, maaf ya, sebenarnya begini." Dengan canggung aku menatapnya dan bicara pelan. "Sebenarnya aku dan Sehun tidak berpacaran. Dia bahkan jarang sadar jika aku ini perempuan, kami sudah bersahabat sejak kecil. Sekarang dia pacaran dengan sahabatku yang selama ini dia suka, yang membuatnya tidak bisa melihat gadis lain. Mh, menurutku kau itu sangat cantik, baik pula. Hanya saja Sehun sudah memiliki gadis yang dia suka saat kau mendekatinya. Dia tidak mau memberimu harapan jadi dia berpura-pura menjadikanku sebagai pacarnya saat kita bertemu. Maaf ya, kami sudah membohongimu." Rose sangat kaget mendengarnya, dia sempat kecewa namun akhirnya menghela nafas.

"Ah, begitu." Ucapnya. Aku jadi tidak tega melihatnya yang tadinya ceria langsung murung setelah mendengar pengakuanku. Tapi jujur akan lebih baik.

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku juga pernah patah hti." Aku menghela napas. "Sakit sekali jika jatuh cinta pada orang yang salah, jadi merasa sedih dan bodoh. Tapi mau bagaimana lagi? Perasaan itu datang tanpa diundang dan mengacaukan kita tanpa direncanakan."

Raut wajah Rose berubah, dia menatapku sambil mengulum senyum.

"Mh jika aku boleh bertanya, kenapa kau berfikir jatuh cinta pada orang yang salah?" Sontak wajahku bersemu merah mendengarnya.

"Dia membuatku jatuh cinta padanya sementara dia tidak bia membalas perasaanku."

"Rasanya aku mengerti maksudmu." Rose tertawa kecil, membuatku ikut tertawa.

"Tapi bukan Sehun kan orangnya?" Aku menggelang.

"Syukurlah bukan. Menjadi sahabatnya saja aku sudah menderita." Candaku.

"Bagaimana denganmu? Sekarang kau sudah baik-baik saja, kan?"

"Bisa dibilang begitu jika yang kamu maksud adalah perasaanku pada Sehun. Sejak melihat dia sudah memiliki pacar, aku belajar melupakannya."

"Sulit?"

"Pastinya tidak gampang mengeluarkan seseorang dari kepalamu jika selama ini hanya dia yang kamu pikirin. Tapi waktu bisa membuat segalanya menjadi mungkin. Aku berusaha menerima kenyataan, having fun untuk diri sendiri, dan tidak berpikir untuk menyesali perasaan itu. Jatuh cinta itu indah, bagaimanapun jalan ceritanya. Perasaan itu manusiawi, kita tidak bisa menguasainya. Tapi saat dia mulai membuat kita sakit, mungkin kita perlu sedikit mengendalikannya." Aku tertegun mendengar kata-kata Rose, seolah kata-kata itu tepat untuk keadaanku saat ini.

"Kedengarannya sederhana, mungkin aku bisa mencobanya. Menerima kenyataan dan having fun. Rasanya tidak begitu sulit."

"Jangan terlalu yakin. Tidak sesederhana itu kok." Ujar Rose sambil tertawa.

.

.

.

Perkataan Rose itu benar, ternyata menerima kenyataan dan having fun saat patah hati bukan hal sederhana atau pekerjaan mudah. Sepulang dari bioskop tadi sampai malam ini, aku yang tadinya berniat membeli komik dan membaca sambil nonton TV seharian, hanya menghabiskan waktu untuk bengong dibalkon kamar dengan pikiran melayang tidak tentu arah. Semuanya mengandung unsur yang tidak jauh dari Kai. Aku benci ini. Lebih baik aku dihukum seharian merapikan perpustakaan sekolah yang mirip kapal pecah daripada harus merasa seperti ini. Aku benci jatuh cinta.

Aku meraih kalung berinisial ''K'' di leherku, melepas kaitannya, kemudian melemparnya ke halaman.

"Aw!" Terdengar teriakan dari bawah. Aku kaget lalu melongok ke bawah dan menemukan Sehun yang baru masuk ke halaman menengadah melihatku.

"Hei! Aku kira kita sudah gencatan senjata. Ternyata aku masih diserang saat masuk perbatasan." Serunya.

"Maaf aku tidak sengaja sungguh." Aku kelimpungan dibuatnya, tidak menyangka Sehun akan datang malam-malam begini.

"Ayo naik!" Ucapku, dan tak lama pintu kamarku terbuka. Aku tersenyum melihat pria pucat itu disana.

"Kenapa kau malam-malam ke sini?"

"Tadi saat tanpa sengaja lewat didepan rumahmu, aku melihatmu sedang duduk didepan jendela seperti penyair patah hati. Aku menjadi penasaran lalu datang ke sini. Kau kenapa sih?" Sehun duduk di sebelahku, di kusen jendela, menatapku.

"Hm tidak. Sedang malas saja." Jawabku yang tentu bohong karna aku tidak mau Sehun yang sedang happy karna baru memiliki Luhan ikut kesal karna masalahku.

"Aku kan pernah berkata, berapa lama sih aku menjadi sahabatmu? Kau tidak bicarapun aku tahu kau memiliki masalah. Ceritakan saja padaku, ah meski aku tidak bisa membantu, setidaknya kau masih bisa berbagi kan." Ucapannya benar dan aku berfikir ingin menceritakan semuanya, ekor mataku meliriknya dan menghela nafas.

"Sehun, aku sedang tidak mabuk atau dibawah pengaruh alcohol. Aku bersungguh-sungguh, aku jatuh cinta." Ucapku serius namun reaksi Sehun malah tertawa terbahak, menyebalkan, aku sudah menduga reaksinya akan seperti itu.

"Hah? Kau serius kan? Hahahaha. Akhirnya kau jatuh cinta juga. Kau jatuh cinta pada siapa? Apa dia memiliki kuping anjing dan taring serigala?" Ejeknya.

"Sialan!" Umpatku dengan wajah memanas. Aku malu mengatakannya pada Sehun, bisa-bisa dia mengolokku jika aku mengatakan aku jatuh cinta pada guruku sendiri.

"Siapa pria malang yang kejatuhan cinta darimu? Jangan-jangan pria yang kau ajak ke pesta Luhan ya? Hm, Oke juga. Tapi Luhan bilang, itu wali kelas kalian. Eh tapi tidak masalah, dia masih muda kok. Hahaha!" Skakmat, sialan.

"Tapi Luhan tidak mengatakan ya, jika wali kelasku itu kekasih bibinya Jimin?"

"Hm, mungkin Luhan lupa. Wah wah, naas sekali nasibmu." Sehun menepuk-nepuk punggungku. Aku tahu dia hanya bercanda dengan kata-katanya, tapi entah kenapa aku tidak bisa menahan sedih di hatiku mendengar ucapannya. Air mataku perlahan keluar tanpa komando. Aku menangis di depan Sehun, demi apapun! Rasanya ini lebih memalukan daripada tersandung di depan umum saat memakai sepatu hak tinggi.

"Yah, aku hanya bercanda, Soo." Sehun langsung panik saat menyadari aku mulai menangis.

"Maaf, aku tidak bermaksud mengejek atau menyakitimu. Sungguh, maafkan aku Soo." Aku mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahku dan memandang ke atas, ingin memasukkan kembali air mataku yang mulai menetes ini.

"Bukan karenamu. Aku hanya merasa sedang konyol saja, ini memalukan kan?" Dan tiba-tiba Sehun memelukku.

"Maaf, aku tidak mengerti jika ternyata kau jatuh cinta pada pria itu. Kau tidak konyol atau bagaimana. Ceritakan saja semuanya padaku. Aku tidak ingin kau menyimpan semua masalahmu sendiri. " Sejenak aku ragu untuk menceritakan semuanya pada Sehun, itu akan membuatku ingat semuanya dan menjadi sedih lagi. Tapi akhirnya, kutumpahkan juga soal pencurian mangga itu, kejadian di halte, kesalahpahaman yang melibatkan Sehun, juga tentang Chanyeol, serta pengorbananku untuk Baekhyun. Di tengah cerita, kadang tanpa sadar air mataku mengalir dan Sehun mengusapnya dengan tissu. Malam ini aku benar-benar merasa menjadi gadis seutuhnya, dan aku bersyukur Sehun menemaniku saat aku rapuh seperti ini. Malam sudah larut dan waktu untuk bercerita pada Sehun berakhir. Pria itu mendengarkan dengan baik semua ceritaku.

"Untuk sekarang, mungkin aku tidak bisa bicara apa-apa padamu. Karena, saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan kehilangan kendali otak atas perasaan kita. Kau tidak memerintah hatimu untuk menghapus rasa itu atau melupakan orang yang kita cinta. Mungkin saat ini kau hanya bisa mencoba menerima semuanya dan menikmati sakitnya." Sehun menatapku sambil tersenyum menghibur.

"Jangan menyesal jatuh cinta, Soo. Kita tidak bisa menentukan kapan dan pada siapa kita jatuh cinta. Tidak semua cinta bisa terbalas, tapi bagaimanapun hancurnya hati, cinta pasti meninggalkan kenangan ajaib yang bisa mengajari kita tentang kebahagiaan. Saat kita berusaha menemukannya, kita akan bertambah bijaksana dan pada akhirnya kita akan sadar cinta itu indah."

"Sepertinya aku belum bisa. Ini baru terjadi pertama kali. Saat bersama dia aku tidak tahu jika aku jatuh cinta padanya dan saat menyadarinya, dia sudah bersama orang lain. Semua kenangan indah saat kami bersama malah menjadi menyakitkan. Seandainya saja semua tidak pernah terjadi." Harapku bersungguh-sungguh.

"Semua orang tidak bisa menghindar dari jatuh cinta, sama seperti semua orang pasti pernah sakit. Ini bagian dari hidup."

"Aku mau sakit apapun asal bukan sakit cinta. Tidak ada obat, tidak ada dokter ahlinya, tidak tahu juga kapan akan sembuh. Aku sungguh kesal!" Keluhku dan Sehun tersenyum.

"Aku yakin, kau bisa melewati seua ini seperti kau melewati hukuman-hukumanmu karena terlambat sekolah atau masalah yang kau buat." Sehun menepuk punggungku.

"Iya, kau benar. Aku sudah membuat masalah karena jatuh cinta pada guruku sendiri, dan sekarang aku harus menerima hukumannya berupa patah hati. Tapi jika boleh memilih, lebih baik aku dihukum menguras kolam ikan paus. Melelahkan, tapi tidak sakit." Mendengar itu Sehun tertawa kecil.

"Kau ini ada-ada saja. Akuarium di rumah saja tidak pernah kau bersihkan. Berlaga akan menguras kolam ikan paus." Lalu kami saling terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tak lama aku menatapnya.

"Sehun, terimakasih untuk semuanya. Aku senang bisa membagi semua ini pada seseorang."

"Itulah gunanya sahabat. Anggap saja ini balasan karena aku sudah bersikap egois tentang Luhan waktu itu. Apa kau sudah merasa lebih baik?"

"Sepertinya."

"Syukurlah, jika begitu aku akan pulang, sudah malam. Cepat sembuh ya dan kembali menjadi Kyungsoo yang dulu. Aku pusing jika kau menjadi seperti ini terus menerus. "

"Aku hanya perlu tidur sebentar, lalu besok bangun dan melupakan semuanya."

"Dasar matematis. Kasus ini tidak akan selesai segampang itu." Sehun melempar kalung ''K''-ku dan aku menangkapnya.

"Baik-baik ya. Jangan melompat dari jendela." Pesannya sebelum keluar dari kamar. Aku tersenyum lalu memandangi kalung di tanganku, nanti saja kuputuskan apakah aku akan memakainya, menyimpannya, atau melemparnya lagi ke halaman.

.

.

.

Sehun benar, kasus ini tidak bisa selesai segampang dugaanku. Kukira pagi ini aku bisa bangun dengan sehat dan semuanya berlalu begitu saja. Tapi yang terjadi, semalam aku tetap tidak bisa tidur dan yang ada di kepalaku hanya Kai, Kai dan Kai. Sakit cintaku suda akut, sepertinya.

Hari Senin ini aku bolos, aku mengatakan pada Eoma hari ini tidak ada pelajaran karna OSIS masih mengadakan lomba puisi. Jadi dengan amat terpaksa, karena rengekanku yang memelas, Eoma mengizinkan aku bolos sekolah. Aku bersyukur karna tidak pergi sekolah karena rasanya lebih aman berenang di kolam penangkaran piranha daripada bertemu Kai setelah ciuman itu. Aku tidak sanggup bila harus bertemu lagi dengannya hari ini atau besok. Aku butuh waktu untuk mempersiapkan diri, paling tidak sampai tahun depan.

Sepanjang sore ini aku menghabiskan waktu dengan menonton video-video music di channel M!Countdown, membuat Eoma sampai bosan melihatku duduk dengan berbagai gaya di depan TV. Tak lama bel pintu berbunyi.

"Soo, tolong buka pintunya!" Seru Eoma dari arah dapur.

"Eoma! B.A.P sedang tampil, aku mau melihat Daehyun."

"Buka pintu atau Eoma akan melepas layar TV-nya." Ancam Eoma dan aku mendengus, dengan malas aku melangkah menuju pintu. Sepanjang hari ini aku malas melakukan apa pun setelah siang tadi kelelahan membereskan kamar. Sebenarnya sejak tadi pagi aku berniat mencari kesibukan agar aku bisa berhenti memikirkan Kai, dan Kai, pemuda berumur 23 tahun itu, tapi sepertinya perjuanganku tidak banyak membawa hasil, dia masih memenuhi kepalaku.

"Burung Hantu!" Seru Sanha begitu aku membuka pintu. Appa dan Eomanya berdiri dibelakang bocah itu dengan sebuah koper besar, mendadak aku mendapat firasat buruk.

"Paman? Bibi?" Sapaku pada orangtua Sanha, mereka lalu masuk dan disambut heboh oleh Eoma. Aku melirik sinis pada Sanha yang masih berdiri di luar.

"Untuk apa kamu kesini?" Tanyaku tidak acuh meski dalam hati aku senang melihatnya lagi.

"Sanha mau tinggal di sini lagi. Appa dan Eoma akan ke luar kota sampai bulan depan." Sahutnya dengan polos. Aku memang merindukan Sanha, tapi jika soal dia tinggal di sini lagi, aku tidak tahu harus bersyukur karena tidak akan merasa kesepian lagi atau menangis mengingat kamarku yang baru saja kurapikan dengan susah payah.

"Kata Eoma, Sanha mungkin akan tinggal terus di sini jika pekerjaannya belum selesai. Jadi mulai sekarang, bukan hanya Burung Hantu yang punya Appa dan Eoma di sini. Sanha juga! Jadi burung hantu juga harus berbagi komik dan mainan pada Sanha." Aku hanya mendecit seperti burung kecil mendengarnya, tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan harus membagi orang tuaku, juga harta berhargaku dengan bocah nakal ini dalam jangka waktu yang tidak ditentukan. Sepertinya hari-hariku di rumah ini akan menjadi heboh dan tidak damai lagi.


.

.

.

Tbc.

.

.

.

Sorry for thypo!

Thanks!

And Love you~