Sorry Joonmyeon but I Love You
Warning: YAOI, angst gagal, alur kecepatan, EYD berantakan, bahasa kurang baku, mood are quite off but I did try my best.
Rated: T
Disclaimer: Story ARE MINE, no plagiarism is allowed. Kesamaan dengan ff yang lain adalah unsur ketidaksengajaan.
.
.
~^^happy reading ^^~
#Don't be silent please #
warn: 10 rb+ words
" Joon! Joonmyeon?! Gwenchana?!" Kris dengan sigap mengecek nadi pada tangan dan leher Joonmyeon, pupilnya membesar ketika ia mendapatkan denyut nadi yang sangat lemah.
" Joon! Bertahanlahhh! Kau dengar akuu?! Kita akan ke rumah sakit sekarang"
Dibalutnya tubuh tak berbusana itu dengan seprei lalu diangkatnya tubuh kecil itu dari tempat tidur untuk dilarikan ke rumah sakit. Joonmyeon tidak bisa membuka matanya ataupun menggerakan tubuhnya yang kaku, namun ia dapat mendengar samar-samar suara Kris yang ketakutan memanggil namanya berulang-ulang, Kris hyung yang perhatian…. Kehangatannya… deru nafasnya…. Detak jantungnya yang berdetak cepat…
.
.
Ah… aku pasti sedang bermimpi indah….
.
.
.
CHAP 14 (Our End)
Kris berjalan tetatih-tatih melewati jalan Seoul malam itu, wajahnya terlihat letih, seperti kaset rusak doa terus ia gumamkan sepanjang perjalanannya, kedua mata elangnya yang biasanya tajam memancarkan sinar yang sedih serta di kedua pipinya terdapat bercak-bercak merah berupa bercak hantaman seorang bodyguard Joonmyeon saat mereka menemukan Joonmyeon terkulai tidak berdaya, setelah puas menghajarnya mereka bahkan memerintahkannya untuk tidak lagi muncul di hadapan Joonmyeon, sedangkan lelaki itu, Kris yang masih jatuh terduduk dengan luka pukulan di wajah dan perutnya itu hanya dapat dengan pasrah melihat bagaimana lelaki berwajah pucat dan bertubuh sangat lemah itu didorong ke ruangan ICU. Tubuh jangkung itu terduduk lama berusaha menalar apa yang dikatakan mereka, kenyataan bahwa Joonmyeon menderita suatu penyakit, yang bahkan selama ini tidak ia ketahui, membuatnya lebih terpuruk.
Rasanya memang perih menyengat namun Kris seperti mati rasa, batinnya menderita, berkecamuk, entah sudah keberapa kalinya ia menghembuskan nafasnya yang menghasilkan kepulan uap putih. Ia menengadah, melihat langit malam itu semendung hatinya, gelap dan terlihat berawan, menyesakkan namun tiada tetes air mata yang keluar dari obsidian kosong tersebut. Ia menatap langit tersebut lama hingga ia menyadari ada sesuatu yang putih jatuh di atas hidung mancungnya, ialah salju pertama untuk tahun ini.
Salju yang mengingatkannya kepada seseorang yang sekarang berada di ruangan ICU demi berjuang melawan hidup matinya, seseorang yang Kris inginkan untuk melihat salju bersama serta merayakan natal bersama, Kris membayangkan akan merayakannya dengan sebuah cake, bertukar hadiah lalu menerima sebuah senyum lebarnya yang amat Kris sukai, merayakannya dengan penuh sukacita seperti pasangan-pasangan lainnya, membelainya, menyentuhnya, menciumnya, memeluknya, menuangkan seluruh kasih sayang kepadanya.
Air mata yang daritadi dibendungnya tumpah tuah untuk yang pertama kalinya di hari itu, ia ingin melihat senyumnya Joonmyeon, mendengar tawa hangatnya, cengiran polosnya, mata berbentuk sabit yang berbinar-binar menatapnya, mendengarkan suara manisnya yang melantunkan namanya, nada manjanya yang menambahkan sebuah 'hyung' di tiap akhir namanya. Bukan wajah pucat serta tubuh dengan bercak darah yang ia ingin lihat, bukan juga wajah yang penuh lelehan air mata dengan tangan kurus yang mengapai-gapai punggungnya yang berjalan menjauhinya.
Kris sangat menyesal.. menyesal telah mempermainkannya, menyesali ucapannya yang kasar kemudian meninggalkan Joonmyeon yang sakit hati karena perkataannya, menyesali dirinya yang tidak melindungi Joonmyeon dan membawanya kembali ke dekapannya, dan yang paling ia sesali adalah bagaimana ia membiarkan lelaki lain bersetubuh dengan Joonmyeon, membiarkan tubuh seseorang yang ia cinta itu didekap dan dikotori bercak sidik jari lelaki lain dengan paksa. Namun untuk menyatakan bahwa ia menyesal sudah sangat terlambat, meski sekarang ia berjanji untuk memperlakukan Joonmyeon lebih baik, meski setelah apa yang ia lihat, dengan kekasihnya yang tidak berdaya, tubuhnya yang dingin seperti mayat. Ia tidak mau kehilangan Joonmyeon, ia ingin berada di sisinya di rumah sakit hingga mata sayu yang biasa menatapnya dengan sayang itu terbuka, ia ingin dirinya sebagai orang pertama yang Joonmyeon lihat ketika ia bangun nanti, tapi ia sadar diri…
Ia sudah keterlaluan, Ia tidak pantas memiliki joonmyeon..
Tidak mungkin lagi ada celotehan riang yang memenuhi harinya
Tiada lagi kasih sayang yang selalu diberikan Joonmyeon untuknya..
Tiada lagi senyum menawan berbentuk bulat sabit yang senantiasa memperindah paras manis itu.
setelah hal tega apa yang pernah ia lakukan hampir merenggut nyawa lelaki itu.
Hanya kedua mata berair menorehkan luka yang terngiang jelas di benak Kris.
.
.
.
" Marselyna noona! Noona! tuan muda sudah sadar"
Joonmyeon mendengar suara riang seorang maidnya tidak lama setelah ia membuka kedua matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah selang oksigen yang dipakainya, terus beralih ke IV drop yang tersambung pada pergelangan tangan kanannya, kadiograf yang menunjukkan denyut jantungnya yang masih lemah, kemudian berakhir pada Marselyna yang datang tergopoh-gopoh menghampirinya, kedua matanya sembab seperti menangis dalam waktu lama, setelah itu tidak lama Lay masuk menghampirinya, wajah yang biasa lembut itu kian pucat, sirat kekhawatiran terpatri jelas pada kedua irisnya. Joonmyeon tidak ingat bagaimana ia dapat berakhir di rumah sakit yang bau obat-obatan sudah sangat familiar pada indra penciumannya. Seorang suster juga datang mengecek kondisinya, setelah dirasa pernafasannya cukup stabil ia menarik kembali masker oksigen yang dipakai Joonmyeon dan memberikannya segelas air.
" a..aku…kena..pa?" tanyanya dengan suara parau, mengabaikan kondisinya yang masih sangat lemah, sendi-sendinya yang terasa mati rasa, kepalanya yang berdenyut nyeri, serta beberapa peralatan medis yang terdapat pada dadanya, ia mencoba untuk berusaha duduk dari tempat tidur tersebut namun pinggulnya yang masih terasa sangat nyeri itu membuatnya sadar tentang kejadian buruk yang sudah menimpanya.
Dokter Lay menahan Joonmyeon dan mengisyaratkannya untuk tidak melakukan terlalu banyak pergerakan " kamu hanya tidak sadarkan diri selama dua hari, Joon.. tubuhmu juga tidak apa-apa, tidak ada luka internal yang cukup parah… jangan pikirkan apa-apa, kamu hanya perlu banyak beristirahat dan mengoptimalkan keadaan tubuhmu, setelah itu baru kita atur jadwalmu kembali."
Belum sempat Joonmyeon menjawabnya, pipi kanannya terasa perih, ia reflek menyentuh pipi kanannya yang membara setelah menyadari maid yang menjaganya dari kecil itu menamparnya, warna merah otomatis memburat pada pipi seputih susu tersebut.
" maafkan saya tuan muda, tapi tuan muda seharusnya tahu dimana letak kesalahan tuan, kesehatan tuan muda sudah memburuk, seharusnya tuan lebih menjaga kesehatan tuan bukan malah melarikan diri demi bertemu dengan lelaki asing itu! Dari dulu sudah kuberitahu untuk tidak mendekatinya, kenapa tuan muda tidak pernah mau mendengarku?! Karena dia… dia.. tuan muda.. hampir kehilangan nyawa…"
Seketika semuanya terdiam, hanya suara isakkan dari maid itu yang dapat Joonmyeon dengar, Joonmyeon tidak dapat berkata-kata digerogoti oleh perasaan bersalah, wajahnya menghadap ke bawah dengan tangan yang masih memegangi pipi kanannya. Merasa tidak sanggup melajutkan perkataannya, maka Kyuhyun yang mewakilinya " kalau saja kita tidak cekatan menaruh alat pelacak di jaket tuan muda.. mungkin saja kita akan terlambat menemukan tuan muda. Untung setidaknya dia masih mau mengantarkan tuan muda ke rumah sakit. Saya berharap ke depannya tuan muda tidak melakukan perbuatan yang gegabah."
"Sudahlah, biarkan dia beristirahat, untuk sekarang lebih baik jangan mengatakan apapun yang dapat memicu adrenalinnya, lebih baik kita keluar dan biarkan dia tenang" bujuk dokter Lay seraya mengelus punggung kecil Joonmyeon, takut kalau penyakit anak ini sewaktu-waktu bisa kumat. Ia tidak ingin membuat Joonmyeon panik namun sesungguhnya sejak ia koma selama dua hari, daya tahan tubuhnya kembali melemah bahkan semakin parah, dan penyakit di tubuhnya malah semakin ganas menggerogotinya, Lay tahu kalau dia harus segera cepat mengatasinya, kalau saja dari waktu itu Joonmyeon bersedia untuk melakukan operasi mungkin persentase bahayanya masih dapat terminimalisasikan.
"…."
" maafkan aku.. sudah menyusahkan kalian semua… h..hanya saja… Aku ingin menemuinya sekali.. karena saat membayangkan.. suatu pagi dimana aku tidak bisa bangun lagi… hal yang paling kutakutkan adalah kalau aku tidak bisa melihatnya lagi... tidak sempat mendengar suaranya.. tidak sempat mengucapkan perpisahan dengannya."
"Mungkin ini terdengar aneh, tapi.. rasanya kalau bersama dengan dia… aku merasa lebih hidup… aku merasa punya kekuatan untuk melawan penyakit ini.. aku jadi tahu atas tujuan apa aku harus bertahan. Aku memang bodoh karena sudah mencintainya, dan masih sangat mencintainya setelah apa yang dia lakukan."
Joonmyeon menampakkan senyum mirisnya, kedua tangannya meremas selimut yang menyelimuti kakinya. Lidahnya terasa pahit, kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya seolah boomerang bagi dirinya setelah mengingat semua perlakuan Kris padanya kemarin. Padahal di malam itu ia berniat untuk pelan-pelan menceritakan perihal penyakitnya apalagi setelah Kris berjanji akan menerima keadaannya, ia yang terlalu lugu berharap Kris akan muluk-muluk menerimanya, menyemangatinya melewati perobatannya, atau setidaknya ia ingin mengucapkan salam perpisahan yang baik kepadanya. Tetapi kenyataannya, mereka tidak berpisah dengan baik-baik, tetapi mungkin jalan inilah yang terbaik untuk keduanya. Sekarang ia tahu, Kris tidak mencintainya, dengan begini, Kris tidak perlu merasa terluka karena kehilangannya, hanya dirinya sendiri yang tersakiti, dan itu lebih baik daripada melihat seseorang yang dicintainya merana karena kepergiannya suatu saat nanti.
Kedua manik Joonmyeon bergerilya pada kedua tangannya, ia dapat melihat pergelangan tangannya yang masih tercetak luka bekas penganiayaan kemarin, hanya mengingat peristiwa malam itu saja, hati Joonmyeon serasa tercabik-cabik. Dengan Kris yang mempermainkan perasaannya, dengan tubuhnya yang diperkosa, mungkin inilah harga yang patut ia bayar karena telah membohongi Kris.
" tapi tuan muda! Dia telah melakukan hal yang tidak pantas kepada tuan muda… tuan, mungkin saya terlalu ikut campur, namun ini demi kebaikkan tuan muda, saya sudah mencari informasi tentang lelaki itu. Dia adalah kakak kandung dari mantan kekasih tuan muda dulu, menurutku ini terlalu kebetulan, apa lagi mantan kekasih tuan muda diketahui bunuh diri pada September setahun lalu, dia pasti mempunyai rencana yang lebih jahat lagi kepada tuan muda."
" kakak kandung? bunuh diri? 1 tahun yang lalu?" pikirnya bingung. Kedua mata Joonmyeon membelalak mencerna seluruh informasi baru yang didapatkannya, perlahan ia mengingat kembali apa yang dulu yang dikatakan dosennya serta kaitannya dengan apa yang Kris katakan kepadanya kemarin.
..kudengar dari dosen yang lain tentang kasus yang menimpa adikmu setahun lalu, aku turut berduka Kris.
Aku tidak pernah sedikit pun mencintaimu Joon, aku hanya mendekatimu untuk membalaskan dendam Tao yang sudah mati, asal kamu tahu dia mati itu semua karena salahmu!
Joonmyeon kini mengerti, seluruh puzzle yang terpisah-pisah di otaknnya kini membentuk rangkaian fakta.
" membalaskan dendam? Mengapa Kris hyung mendendamiku? Apa karena aku memutuskan Tao dulu? Apa karena itu Tao memutuskan untuk mengakhiri hidupnya?" pikir Joonmyeon sedih.
Kalau memang begitu adanya… Kris pantas membencinya, dia layak untuk dibenci seperti dirinya yang dulunya sempat membenci dirinya sendiri terlebih ketika ia melihat butiran-butiran krystal yang keluar dari mata panda tersebut, merengek meminta kepadanya untuk tidak memutuskannya.
Tetapi Joonmyeon yang saat itu masih muda, hanya dapat mengigit bibirnya keras dan mengepalkan kedua tangannya di samping pahanya, berusaha untuk tidak memperlihatkan kelemahannya, untuk tidak membalas memeluk serta mengelus punggung Tao untuk menenangkannya, sedangkan kedua tangan Tao mendorongnya, memukul dadanya, menggapai pundaknya, meremasnya, memeluknya erat dan menangis terisak di atas bahu kanannya dengan mulut merengekkan hal serupa ' aku tidak mau putus' ' tolong pikirkan kembali' 'aku akan berubah untukmu, aku sangat mencintaimu hyung' layaknya mantra. Joonmyeon masih dapat merasakan rasa hangat butiran-butiran air mata yang jatuh membasahi pundaknya serta isakkan menyedihkan Tao yang membawanya pada penyesalan tidak berujung. Tidak lama setelah mereka berpisah, Joonmyeon tamat dari kuliahnya dan memutuskan untuk melanjutkan lembaran barunya di New York, terakhir kali yang Joonmyeon ketahui, anak panda itu terlihat depresi dan suka menyendiri, senyuman polos itu sudah lama menghilang dari bibir berkurva seperti kucing tersebut.
" izinkan aku ke makamnya Tao" pintanya langsung.
" tuan mudaa~! Kamu itu masih sakit, di luar juga semakin dingin itu akan mempengaruhi kesehatan tuan muda" Marselyna memijit pelipisnya lelah sedangkan Kyuhyun berusaha menenangkannya, sepertinya ocehan panjang lebarnya dan nasihatnya sama sekali tidak ditelah Joonmyeon. Anak muda ini tidak takut mati rupanya, begitu pikir Marselyna.
Joonmyeon tersenyum lembut menerima celotehan maidnya yang lebih memperhatikannya ketimbang ibu kandungnya sendiri
" terima kasih sudah memikirkan kondisiku, tapi percayalah! Aku lebih kuat daripada kelihatannya, apalagi kalau aku menunggu lagi pasti hari demi hari akan semakin dingin. Banyak yang ingin kusampaikan kenapa Tao, apa yang dulu belum bisa kuucapkan, aku ingin dia mengerti dan memaafkanku."
Maid itu menghela nafasnya, ia tahu berbagai rasa penyesalan yang terkunci di lubuk hati Joonmyeon, anak itu memang tidak berani membantah ayahnya, bahkan setelah disuruh untuk memutuskan hubungannya dengan kekasihnya, Joonmyeon berlagak seolah tidak apa-apa, namun Jessica dan Kyuhyun sempat memergoki Joonmyeon menangisi mantan pacarnya sambil menatap layar smartphonenya hingga tertidur hampir setiap malamnya.
" baiklah, dengan satu syarat, saya akan mengizinkan tuan muda pergi besok pagi kalau kamu benar-benar bersedia untuk dioperasi, jangan memperumit dokter Lay karena kekeraskepalaan tuan muda, juga jangan lagi berniat untuk kabur dari ruangan ini, saya sudah menyuruh suster lainnya untuk mengawasi tuan muda dengan ketat."
" deal! Terima kasih Mars, aku tahu kamu pasti mengizinkanku"
Setelah menerima izin dokter Lay, Kyuhyunlah yang mengantarkan Joonmyeon ke makam Tao keesokan paginya, anak muda bermantel tebal dengan hoodie yang menutup kepalanya itu sedikit berjalan terseok, pelan hingga dirinya berdiri di depan nisan yang bertuliskan "Hwang Zi Tao, 23 September 2015".
Joonmyeon menatap sendu tulisan nisan tersebut sebelum membersihkan makam bermarmer itu dari tumpukkan salju, mengelus marmer dingin itu sebentar kemudian ia meletakkan sebuket bunga Pink Carnation serta sebuah boneka panda besar di depan makam Tao.
" hai.. Tao… maafkan hyung karena baru datang sekarang"
Joonmyeon yang sudah siap berdoa itu pun masih dalam posisi berlututnya, kedua tangannya ia letakkan di atas pahanya dengan formal.
" atau jangan-jangan kamu tidak mau melihat kehadiran hyung disini? Hehe.. aku bisa menduganya.."
" lihatlah! Aku membelikanmu sebuah panda, kamu pasti suka" ujarnya berbasa-basi seolah Tao dapat melihatnya dan mendengar suaranya, meski nyatanya hanya suara tiupan angin musim dingin yang membelai wajah.
Joonmyeon mengigit bibir putihnya yang pecah karena suhu minus itu sebelum melanjutkan setiap kalimatnya yang terasa berat, perlahan keluar dari lubuk hatinya yang sudah sangat lama disimpannya, yang selama beberapa tahun ini mencekik dan membelenggunya.
" taozi…" panggilnya dengan suara halus yang hampir tak terdengar seraya menundukkan kepalanya.
" hyung berharap, kamu hidup berbahagia di alam sana… maafkan hyung… sudah membuatmu sedih dan menderita di alam ini" tenggorokkan Joonmyeon mulai terasa tercekat ketika bayang-bayang ingatannya dengan Tao menangis di pundaknya itu mulai berputar di ingatannya, bahkan rasa air mata hangat yang membanjiri pundaknya masih dapat ia rasakan, ingatan itu selalu menggerogotinya hidup-hidup.
"… aku benar-benar minta maaf…."
"… duibuqi Taozi, hyung tahu kok, hyung adalah orang yang paling jahat di dunia, Tao sudah banyak menyenangkan hati hyung.. tapi hyung malah.. tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuatmu bahagia…" Punggung kecil itu semakin merunduk, kedua tangan itu bergetar meremas kain jeans yang dipakainya, serta tetes-tetes air mata penyesalan jatuh di atas punggung tangan Joonmyeon.
" seandainya saja dulu hyung lebih berani, hyung pasti tidak akan memutuskanmu Taozi, hyung seharusnya memikirkan caranya supaya kita bisa hidup bersama"
" ak..aku ingin kamu tahu.. kamu benar-benar orang pertama yang penting dalam kehidupan hyung. Hyung pernah benar-benar mencintaimu… hyung selalu ingin ..membahagiakanmu Tao… saat kita putus, tidak terbersit di pikiranku untuk membuatmu menangis, kamu tidak pernah menyusahkan hyung Taozi, hyung tidak pernah menganggapmu mengganggu, semua yang kukatakan saat itu adalah bohong.. saat itu aku masih..sangat.. amat menyayangimu Taozi" Joonmyeon menengadah dan memaksakan sebuah senyum, meski kedua mata merahnya terus memproduksi air mata serta hidung yang mengalir.
Ia ingat dirinya memutuskannya dua hari menjelang anniversary mereka yang kedua, hanya beberapa patah kata tajam nan menusuk ulu, namun dengan sukses membuat ekspresi wajah Tao yang terlihat hancur dan menyedihkan, cukup sekali saja, Joonmyeon tidak ingin melihat hal yang menghancurkan hati untuk kedua kalinya. Karena itulah meski dirinya sendiri juga terpuruk, Joonmyeon selalu mendoakan kebahagiaan Tao, ia berharap lelaki yang disayanginya itu dapat menemukan seseorang yang lebih baik dan pantas darinya, yang dapat membahagiakannya dan memberikan segalanya yang tidak bisa ia beri kepada Tao.
" a..ahahha.. hyung pasti jelek sekali sekarang" nada suaranya berubah. Bibir yang memaksakan senyuman itu tidak bertahan lama karena kedua ujung bibirnya yang tertarik ke bawah. Meski lelaki itu berusaha mengusap kedua matanya dengan lengan jaketnya, air asin yang terasa hambar itu bertemu sapa dengan indera pengecapan joonmyeon, membuang seluruh rasa penyesalannya keluar melalui air mata hangat yang jatuh menetes di atas salju.
Joonmyeon mengerti saat ia mengakui semua ini, segalanya sudah sangat terlambat, terlambat bagi dirinya, juga bagi Tao, ia tidak bisa merajut hubungan mereka kembali, ia juga tidak dapat menghidupkan Tao kembali. Butuh beberapa waktu lamanya hingga Joonmyeon dapat menguasai dirinya kembali.
" sudah ya Taozi… hyung pergi dulu, hyung berharap kamu mau memaafkan semua yang pernah hyung lakukan. Hyung akan menjenguk Tao kembali tahun depan… itu pun kalau hyung masih hidup, hehehe" Setelah semua yang ingin dikatakannya sudah selesai, ia pun dengan susah payah berdiri dari posisi berlututnya, dimana celananya sudah sangat basah dan dingin karena lelehan salju.
Ia sudah hampir meninggalkan makam itu sebelum ia teringat sesuatu. " ahh..satu lagi"
" Tao.. maafkan hyung juga yah untuk yang satu ini…"
" maafkan hyung yang tidak sengaja mencintai Kris hyung…"
Joonmyeon tersenyum lembut mengingat lelaki yang kini telah terlanjur menggantikan posisi Tao di hatinya, lembut namun terlihat menyedihkan, rapuh tapi terlihat tegar di luar, air mata sudah lama berhenti meski kedua matanya masih memerah dan terlihat bengkak di bagian bawahnya.
"… tetapi Taozi tenang saja, sepertinya kami tidak akan bertemu lagi kok, karena Kris hyung sepertinya membenciku, hehe.. rupanya dibenci oleh orang yang kita sayang itu menyakitkan ya.. akhirnya aku mengerti perasaanmu saat itu Taozi" lagi-lagi dengan senyum sedih ia mengatakannya, perlahan senyum itu pudar kemudian ia kembali berjalan terseok menuju mobilnya, dimana Kyuhyun senantiasa menunggu di dalamnya.
.
.
############KRISHO###############
Joonmyeon mejalankan prosedur rumah sakit dengan baik, ia telah menjalani kemoterapi untuk menjaga sel kanker dalam tubuhnya supaya tidak berkembang, setiap pagi ia diizinkan olahraga yang tidak terlalu berat seperti merenggangkan tubuh, jalan pagi, kesehatannya juga mulai meningkat kembali. Dokter Lay yang akhir-akhir ini sibuk mengurusi pasien lain memampukan jadwal operasi Joonmyeon pada Senin pagi, 4 hari dari sekarang, apalagi melihat kondisi Joonmyeon yang semakin membaik, tentu menurunkan resiko pengoperasian Joonmyeon nantinya.
.
.
Joonmyeon yang bosan mengutak atik channel televisi yang menurutnya menayangkan acara yang tidak menarik, ia pun menutup layar televise itu dan membuang remotenya ke sembarang arah. Joonmyeon menekan pelipisnya karena otot-otot matanya yang lelah, kemudian menutup kedua matanya sebentar mengistirahatkannya.
" Jessica.. apakah kamu yang menyimpan hapeku? Aku bosan… setidaknya di hape ada banyak game yang bisa dimainkan" rajuknya, layaknya anak kecil yang meminta mainannya dikembalikan karena disimpan oleh orang tuanya.
Sebenarnya Marselyna menyuruhnya untuk menjaga hape tersebut karena ia harus pulang mengurus sesuatu di rumah, tetapi saat melihat wajah imut tuan muda yang merajuk, siapa yang tidak luluh? Akhirnya ia pun memberikan apa yang Joonmyeon inginkan.
Joonmyeon dengan mata berbinar menerima smartphone nya yang sudah tersita selama rasanya hampir seabad itu dengan bahagia, dinyalakannya dan dimasukkannya kata sandi sebelum layar background berisikan fotonya dengan Kris yang belum sempat ia ubah keluar pada layarnya serta icon-icon game lainnya, mengingatkannya kembali pada hal yang sempat sejenak ia lupakan.
" ah… Aku harus menghapus foto-fotonya nanti" pikir Joonmyeon pedih.
Ia membelai sayang wajah Kris sebentar, ya.. dia masih sayang tentu saja, meski perlakuan Kris sekejam apapun tentu tidak mudah untuk mengubah rasa sayang yang ia pupuk itu menjadi suatu kebencian. Hanya saja dulunya foto lelaki Chinese yang diambilnya itu amat membahagiakannya namun sekarang dengan melihatnya saja, hatinya kembali merasa sakit seperti sebilah pisau yang menusuk ulunya. Rasa sakit itu semakin bertambah ketika Joonmyeon iseng mengecek chat historynya dengan Kris yang belum juga ia buang.
Joonmyeon mengakui kehebatan Kris dalam berakting, dari perilakunya, perhatiannya, kata manisnya, ia hebat dapat membuat Joonmyeon hampir sepenuhnya percaya kepadanya hingga merelakan hati serta tubuhnya. Bahkan aktingnya hingga mereka di atas ranjang pun, Kris dapat melakoninya dengan baik, layaknya seorang pacar yang benar-benar mengasihinya dan memperlakukannya dengan sangat lembut. Sangat susah dipercayai kalau segalanya yang sudah terjadi hanyalah sebuah kepura-puraan demi membalaskan dendam.
Joonmyeon masih tidak dapat mempercayainya, apalagi ia masih mengingat saat-saat Kris membawanya ke rumah sakit, ia sadar akan nada khawatir dan perhatian Kris untuknya, Kris menyayanginya, ia yakin itu.
Diberanikannya dirinya untuk memulai percakapan dengan Kris, sekali lagi…
Kali ini saja…
Ia ingin Kris membalasnya.
.
.
.
"Yaaaa! Berhentilah berkelakuan seperti robot berjalan, aku capek melihatnya"
Kris memalingkan pandangannya dari komputer di hadapannya pada seseorang bertelinga lebar di sampingnya, Chanyeol tanpa rasa bersalahnya menggerakkan tangan kanannya di depan mata Kris untuk membuyarkan konsentrasinya. Sudah dua hari ini lelaki bermuka datar itu terus melakukan pekerjaannya bahkan melewatkan waktu makan siangnya, sekarang saja ruangan kerja ini kosong melompong menyisakan dua manusia berselisih paham tersebut.
" ck! Masih belum mau berbicara kepadaku? Sampai kapan kau akan begini?" Kris menatapnya dengan ujung matanya, Asal Chanyeol tahu saja, betapa bencinya Kris padanya sekarang hingga ia sering melayangkan bogem mentah di wajahnya, tentu saja imajinasinya itu belum teraktualisasikan.
" hari senin kau tidak masuk kerja, kemarin tahu-tahunya kamu masuk, rambut berantakan, mulut bau alcohol, matamu masih merah dan sembab, siapapun yang melihatmu juga tahu kamu mempunyai masalah" Chanyeol terus mencerocoh tanpa henti meskipun dirinya diabaikan, Chanyeol sedikit mengerucutkan bibirnya lalu mengubah posisi malasnya.
" Joonmyeon kan?"
Chanyeol tahu bagaimana menekan tombol dalam diri seorang Kris, mendengar nama Joonmyeon saja kini fokus kris semua tertuju kepadanya, menatapnya berang seolah akan menelannya hidup-hidup.
Chanyeol bukannya takut ia malah tertawa, ditepuk-tepuknya pundak kaku Kris, lelaki Canada itu terlalu gampang dibaca layaknya buku yang terbuka.
" Kris aku tahu kamu membenciku, tapi hubunganmu sekarang dengan Joonmyeon bukan seluruhnya kesalahanku, kamu yang tidak membulatkan tekadmu sedangkan aku hanya membantumu untuk merealisasikan sesuatu yang kamu bilang dendam yang kau simpan selama berapa tahun ini.. Kamu seharusnya senang karena tidak perlu mengotori tanganmu untuk membalas dendammu, kamu senang ku juga merasa puas.. tubu…"
Belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, suara hantaman pada meja menggema dalam ruangan sempit tersebut sebelum kedua tangan Kris mencekram kerah Chanyeol, dengan Kris menatapnya nyalang.
" Jangan coba-coba memanas-manasiku Yeol, atau aku tidak tahu benda apa yang akan melayang di kepalamu."
Chanyeol dapat merasakan tangan Kris yang bergetar hebat pada kerahnya, wajah lelaki Canada itu memerah, penuh emosi dan gejolak yang tumpah ruah karena ditahannya selama empat hari ini, terutama ketika bayangan Joonmyeon yang penuh tangis air mata meminta tolong malam itu membuat Kris ingin menghantam gelas kopi yang terletak di atas mejanya pada wajah sok tidak berdosa Chanyeol.
Kalau saja Chanyeol tidak ikut campur atas masalah pribadinya, kalau saja Chanyeol tidak berkelakuan seperti anjing menyenggamai seseorang yang sudah menjadi miliknya, ia tidak perlu memutuskan hubungannya dengan Joonmyeon seperti ini, Joonmyeon tidak perlu masuk ke ruang ICU yang sekarang bagaimana kondisinya pun bahkan Kris tidak tahu. Namun disisi lain, ia sebenarnya mengerti bahwa dirinya pun bersalah, namun ia enggan mengakuinya dan menepisnya demi egonya dan kekeras kepalaannya, banyak kata "seandainya saja" yang Kris pikirkan selama ini, seandainya saja ia dapat merendahkan egonya sedikit saja, seandainya saja ia dapat menjaga emosinya, seandainya saja ia dapat menjaga kalimat yang diucapkannya, ia tidak perlu melukai Joonmyeon, ia tidak perlu melihatnya terluka dan bergetar karena ucapannya, ia tidak perlu melihat kekosongan dari mata sendu tersebut, ia tidak perlu mendengar suara jeritan hati joonmyeon dalam kebisuannya, dan ia tidak perlu melihatnya terbujur kaku hampir kehilangan nyawa dengan segala peralatan medis di tubuhnya. Seandainya saja ia bisa, ia ingin menggantikan nyawanya untuk Joonmyeon. Lebih baik dirinya yang berada di ruangan ICU tersebut daripada dirinya yang harus melihat Joonmyeon tersiksa di dalamnya.
Chanyeol tersenyum mengiba "Hatimu bercabang Kris, untuk adikmu, juga untuk Joonmyeon. Tapi setelah apa yang aku lakukan, kamu sadar kan? Kamu tidak pernah mencintai adikmu sebagai seorang lelaki, selama ini perasaanmu kepada Tao hanya sebuah perasaan terlalu ingin melindungi kepada seorang adik, ketika dia berpacaran dengan Joonmyeon, itu bukan rasa cemburu tapi rasa protektif dan khawatir yang berlebih, kamu merasa Tao direbut olehnya karena cuma dia satu-satunya keluargamu yang masih tersisa. Dan ketika dia pergi, kamu merasa gagal sebagai kakak karena kamu tidak berhasil menjaganya, kamu merasa bersalah lalu terpuruk karena dia pergi sebelum kamu melihatnya sebagai orang sukses dan melihatnya bahagia."
"Tetapi perasaanmu dengan Joonmyeon itu berbeda, tanpa sadar kamu memperhatikan gerak-geriknya, kamu bahkan menghafal menu makanan kesukaannya, kecintaannya yang berlebih pada pokemon dan starwars, hal-hal detail mengenai dirinya pun kamu ketahui, dan aku tahu kamu menyukai segalanya dalam dirinya karena setiap kali kamu menceritakan Joonmyeon kepadaku, kamu selalu tersenyum lembut mengingatnya, hanya saja dirimu menyangkalnya karena kamu tidak ingin mengkhianati Tao. Aku mungkin bukan dirimu, tapi aku selalu mendengar cerita Joonmyeon darimu, dan pertama kalinya aku mendengar ceritamu, ku pikir kamu bodoh karena tidak dapat membedakan benci dengan cinta, mana ada orang yang membenci seseorang tapi dapat mengingat berapa biji tahi lalatnya, pabbo!"
Chanyeol menutup pidato panjang lebarnya dengan memutar bola matanya lelah, menandakan betapa capeknya ia berbicara kepada seorang idiot di depannya.
Kris terdiam seribu mendengar penuturan Chanyeol, dalam hatinya ia membenarkan semua perkataannya, yang selama ini tidak pernah terbesit sekalipun di pikirannya untuk membedakan perasaannya pada Tao dan perasaannya kepada Joomyeon, jadi selama ini, ia telah salah mengartikan perasaannya kepada Tao sebagai rasa cinta. Ditambah lagi, Kris baru menyadari bahwa sejak ia bertemu dan mengenal Joonmyeon lebih dalam lagi, ia sering melupakan Tao, malah Joonmyeon lah yang selalu ada di benaknya, ketika ia terbangun Joonmyeonlah yang akan ia kirimkan chat untuk pertama kalinya di hari itu, ketika ia stress akan pekerjaannya, maka Joonmyeonlah yang akan ia cari sebagai wadah keluh kesahnya, hanya sebuah balasan chat dari Joonmyeon dapat menghalau segala kejenuhannya, ketika Joonmyeon tiba-tiba menghilang di hari itu, Kris menjadi uring-uringan dan tanpa sadar mungkin telah mengecek smartphonenya lebih dari dua ratus kali.
" ya! Kenapa malah melamun! Aku jadi merasa kesal melihatmu seperti itu, cepatlah minta maaf dan berbaikkan kembali dengannya! Aku sudah berbaik hati membuka pikiranmu, jadi sebaiknya kamu segera meluruskan permasalahanmu dengan Joonmyeonmu, jangan membuatku lebih bersalah lebih dari ini" Chanyeol menghalau remasan Kris yang melemah pada kerahnya kemudian menyambar smartphone Kris yang terletak di atas mejanya itu dengan gesit.
" telepon dia dan minta maaflah kepadanya, kalau dia tidak mengangkat coba dichat, jangan pasrah kali, kamu laki bukan sih?" cerocosnya sewot.
Dibukanya layar tersebut dan membuka chattingan Kris dengan Joonmyeon, Chanyeol yang tidak sabaran itu baru saja mau menekan tombol telepon sebelum ia menyadari bahwa ada chat masuk dari Joonmyeon beberapa jam yang lalu.
" mian hyung, pagi-pagi sudah mengganggumu padahal hyung lagi kerja kan? Mungkin hyung juga tidak mau lagi menerima chatku, tapi aku cuma ingin mengatakan kalau aku sudah sadar jadi hyung tidak perlu khawatir, terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit"(10.13am) (recieved at 1.40pm)
" lalu.. terima kasih juga atas semuanya hyung"(10.13am) (recieved at 1.40pm)
" tapi mungkin hyung tidak peduli ya… engga dibalas juga tidak apa-apa kok :)"(10.14am) (recieved at 1.40pm)
Sudah terlanjur di read.
" kenapa tidak membacanya? Kamu pasti sudah tahu daritadi kalau Joonmyeon mengirimi kamu pesan" Chanyeol yang meja kerjanya berseberangan dengan Kris tentu tahu kebiasaan Kris yang selalu meletakkan smartphonenya di atas meja kerja dan sesekali melirik untuk mengecheck adakah telepon atau chat yang masuk.
" mwo?!"
Sedangkan Kris terlihat kaget, sedetik kemudian ia menyambar ponsel tersebut dari tangan Chanyeol kemudian membacanya dengan hati tidak menentu. Dikarenakan kekalutannya, mungkin ia menuangkan semua kegelisahannya sepenuhnya kepada pekerjaannya sehingga melewatkan chat yang ia nanti-nantikan. Ia sungguh ingin tahu keadaan Joonmyeon dan membaca informasi bahwa Joonmyeon yang akhirnya telah sadar itu membuat segala pikiran buruk tentangnya itu surut.
Kris sempat kalap ketika ia tidak diberi kesempatan untuk menemui Joonmyeon lagi, untuk menemaninya hingga Joonmyeon sadar saja ia tidak diizinkan. Kris tidak tahu harus dengan cara bagaimana supaya dia dapat mengetahui keadaan Joonmyeon, namun untunglah anak itu masih bersedia mau memberi kabar, setidaknya sekarang Kris tahu bahwa Joonmyeon telah baik-baik saja.
Kedua kaki Kris yang tanpa ia sadari bergetar-getar ketika membaca chat tersebut langsung melemas, ia terduduk lesu dengan kedua tangan bergetar memegangi ponsel sambil menutup wajahnya. Sungguh tidak dapat dijabarkan kebahagiaan yang tiba-tiba meletup tersebut.
" terima kasihh Tuhan.. Joonmyeon… kamu masih membiarkannya hidup… terima kasih" dengungnya dengan suara parau.
Beberapa tetes air mata bahagia turut bersukacita dalam tiap ucapan terima kasihnya. Joonmyeonnya masih hidup, tiada hal yang patut ia syukurkan lebih dari itu.
Kris mengusap wajahnya dari air mata, tangannya yang masih agak bergetar itu hendak menekan tombol QWERTY pada layar hapenya, sebelum ia sempat membalas chat tersebut, ia urungkan kembali niatnya. Dihapusnya tulisan yang belum sempat ia kirimkan tersebut.
" kenapa tidak dibalas?" tanya Chanyeol kepo.
Kedua alisnya merengut bingung ketika menemukan Kris memandang layar hape tersebut dengan pandangan kosong sebelum menaruhnya kembali di atas meja. Lelaki bertelinga lebar itu masih dapat menemukan sedikit getar-getar rasa takut pada jari-jari panjang yang agak basah oleh air mata tersebut.
Kris menghela nafas panjang, ia menatap chat tersebut lama, dimana di bagian atasnya terdapat semua chatnya dengan Joonmyeon yang tidak pernah ia buang, satu chat di atasnya merupakan balasan terakhir dari Joonmyeon, sebuah ucapan selamat tidur serta memintanya untuk tidak bekerja terlalu lelah dan menjaga kesehatannya. Dibacanya kembali chat-chat Joonmyeon selama ini selalu menjadi penghiburnya tersebut.
Kakaotalk (6 Dec 2016, a week ago)
" hyunglembur lagi? : sudah empat kali hyung lembur dalam seminggu ini T_T hyung tidak apa-apa? "(8.17pm)
" akh wae… semangat hyung! Hwaiting! kalau saja aku disitu, aku pasti akan memijit bahumu dan membuatkanmu lemon teh hangat TAT" (8.20pm)
" mwoh? Hyung jangan menggodaku aku bahkan tidak yakin bisa menjadi istri yang baik untuk hyung" (8.23pm)
" hyung mau kutemani tidak?" (8.30pm)
" aniyo.. aku tidak mengantuk, aku tidak bisa tidur kalau hyung belum pulang, jalanan akhir-akhir ini sepi, hyung hati-hati ya pulangnya." (8.32pm)
" Kalau sudah sampai ingat chat ya jangan kerja terlalu lelah hyung nanti sakit :(" (8.32pm)
Chat itu berujung ke free call setelah Kris pulang ke rumahnya. Dengan Joonmyeon yang menanyakan pekerjaannya hingga Kris yang belum mandi dari pagi itu terpaksa membawa smartphonenya ke dalam kamar mandi untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Banyak hal-hal lucu dan absurd yang dapat Kris kenang dalam kebersamaannya dengan Joonmyeon.
Tapi satu kesimpulan pasti yang dapat Kris tarik..
Joonmyeon terlalu baik untuknya, dan parahnya sekarang ia baru menyadari betapa berharganya seseorang yang pernah menjadi kekasih pertamanya tersebut.
Betapa lugu dan kepolosan Joonmyeon membuat Kris menyadari betapa dirinya sendiri sangat hina, hanya untuk mempermainkannya dengan alasan balas dendam, ia merusak Joonmyeon. Sedangkan Joonmyeon, dalam setiap chatnya terdapat perhatian di dalamnya, terdapat rasa khawatir dan kasih sayang serta cinta yang tulus terhadapnya. Kris tidak pantas membuka mulut untuk menyatakan cintanya kepada Joonmyeon, karena bila ia cinta, ia seharusnya menyalurkan rasa itu kepada Joonmyeon, bukan hanya terima bersih kasih dari Joonmyeon saja kemudian menghempaskannya setelah ia tidak membutuhkannya.
"… yang penting dia sudah baik-baik saja, apalagi hubungan juga sudah kandas… tidak ada artinya lagi jika aku membalas chat ini. Aku yakin dia juga membenciku sekarang dan tidak mau memaafkanku, aku juga tidak layak untuk dimaafkan.. jadi biarkan saja hubungan kita berakhir sampai disini. Dengan begitu, dia perlahan akan melupakanku lalu mencari pacar yang lebih pantas untuknya, aku terlalu brengsek dan bajingan untuk bersanding di sisinya.."
Kris mengukirkan senyum sedih, untuk sekarang dengan Tuhan yang menerima doanya untuk kesembuhan Joonmyeon saja, ia sudah sangat bahagia dengan hanya itu. Ia tidak berani meminta Joonmyeon karena Tuhan juga pasti tidak mau memberikan Joonmyeon untuknya.
" kenapa kamu yakin? Bisa jadi Joonmyeon masih menginginkanmu, buktinya ia masih mau mengirim chat kepadamu, kalian masih dapat berbaikkan kembali ayolah!" paksa Chanyeol, tetapi Kris tidak melakukan sesuai apa yang ia pinta, melainkan lelaki itu malah mendelete dan memblockir semua chat serta nomor telepon Joonmyeon.
" Ini pertama kalinya aku menyakitinya dan itu sudah lebih dari cukup…aku tidak ingin lebih melukainya lagi.. dengan Joonmyeon menghilang dari hidupku, ini satu-satunya cara untuk menghukum diriku sendiri Yeol" Kris memaksakan cengiran bodohnya untuk menutupi kesedihannya. Tekadnya sudah bulat, Ia harus melupakan Joonmyeon, ia akan menjalani hari-harinya seperti dulu sebelum ia bertemu dengan Joonmyeon, menghilangkan lelaki itu dari memori otaknya serta dari dalam lubuk hatinya, ia akan belajar untuk melepaskan Joonmyeon dan menempuh masa depan tanpanya.
" God! Aku tidak mengerti pikiran orang bodoh seperti kamu!"
.
.
"hhh~ tidak dibalas…"
Sudah tiga jam Joonmyeon dengan bodoh menatap layar smartphonenya, berharap ada titik terang baginya tapi harapannya pupus sudah, meski Kris membaca chatnya lelaki itu tidak berniat untuk membalasnya. Dengan begini, sudah jelas perasaan lelaki itu kepadanya, Kris tidak menginginkannya seperti halnya dia menginginkan lelaki itu dalam hidupnya.
Joonmyeon merutuki dirinya yang bodoh, yang masih berusaha untuk mempertahankan kepercayaannya, mempertahankan lelaki itu dalam kehidupannya dan menutup diri dari kenyataan yang sebenarnya. Tentu saja tidak mungkin Kris akan membalasnya, ia tahu itu, ia sadar diri, hanya saja ia berusaha menolak kebenaran tersebut. Ia sudah menurunkan harga dirinya untuk mengechatnya duluan, namun kenyataan bahwa Kris tidak membalas chatnya bukan karena tidak membacanya melainkan ia ingin memutuskan Joonmyeon secara sepihak ini sungguh sangat menyakitinya, baik egonya maupun perasaannya.
Kali ini Joonmyeon benar-benar mengetik chat terakhirnya, dikirimnya dengan perasaan campur aduk kemudian melemparkan smartphonenya ke samping. Ia tidak peduli lagi apakah Kris akan membalasnya atau tidak, membacanya atau tidak, didelete tanpa dibaca juga tidak apa-apa, yang pasti dia sudah mengatakan apa yang ingin ia ungkapkan.
" hyung.. Apa aku benar-benar cuma tempat pelampiasan dendam hyung saja?"
" ..apa aku benar-benar tidak berarti lagi bagimu?" ratap Joonmyeon sendu.
Padahal, Joonmyeon tidak perlu sebait kalimat panjang sebagai balasannya, tidak perlu dihadiahi Kris dengan rasa khawatirnya ataupun permintaan maaf, hanya cukup dibalas saja yang Joonmyeon harapkan meskipun balasan Kris hanyalah berdasarkan sebuah simpati belaka, satu kata juga tidak apa-apa, namun mau menunggu berapa lama pun, lelaki itu tidak akan membalasnya.
Bila cinta terasa menyakitkan seperti ini, ingin rasanya Joonmyeon mengulang beberapa bulan yang lalu, dimana ia tidak memungut kris dari jalanan karena sebuah rasa kasihan, ia tidak mau bertemu dengan kris hanya untuk merasakan rasa perih ini. Jujur saja, Joonmyeon sangat ingin melupakan Kris, pria itu dengan sebait kalimat kasarnya selalu menghantuinya di malam hari, saat ia memikirkannya maka tanpa terasa air mata Joonmyeon akan mengalir karenanya dan membasahi bantal yang ditidurinya, saat akhirnya Joonmyeon tertidur, maka Kris akan menghantui mimpinya dan peristiwa menyakitkan itu akan terus terulang di dalam mimpinya, terutama kedua mata Kris yang menatapnya penuh kebencian. Saat terbangun, Joonmyeon akan merasa sesak dan tercekat karena air mata yang dikeluarkannya serta belakang kepalanya pun ikut merasakan nyerinya sehingga ia harus dibantu dengan masker oksigen untuk melancarkan pernafasannya.
untuk apa hyung mengatakan sejumlah kata sayang…
sejumlah janji palsu kalau ujung-ujungnya hyung juga akan meninggalkanku.
Sekarang hyung dengan mudah mengganggap kalau hubungan kita tidak pernah terjadi…
Sepertinya stock air mata Joonmyeon tidak akan bisa habis karena Kris, ia lelah, ia ingin melupakan lelaki bajingan itu, ia ingin cepat-cepat menyelesaikan hidupnya supaya ia tidak perlu menangisinya lagi. Rupanya seperti rasanya menjadi Tao, menginginkan dan merindukan seseorang yang pernah mendekapnya yang kini menghilang secara tiba-tiba, tanpa persiapan dihempas begitu saja seperti seongok sampah. Kalau Kris balas dendam supaya Joonmyeon dapat merasakan bagaimana rasanya diperlakukan seperti Tao, Joonmyeon sangat ingin mengatakannya di depan wajahnya kalau dia berhasil, sangat berhasil membuatnya menderita sekarang, berhasil membuatnya hampir gila karena kehilangannya, berhasil membuatnya mustahil untuk hidup tanpanya.
Joonmyeon memang tidak pernah merasakan hidupnya berguna, tetapi tidak pernah sekalipun ia berfikir untuk menyelesaikan hidupnya. Namun sekarang, terbersit di pikirannya untuk berterima kasih kepada penyakitnya, karena dengan itu waktunya akan semakin dekat dengan dunia tanpa rasa sakit, tanpa derita berkepanjangan bila ia membawa perasaannya untuk Kris hingga di masa tuanya.
.
.
Dua malam berikutnya, meskipun telah menjalani kemoterapi, kondisi Joonmyeon yang semula membaik itu mulai menurun drastis. Memang, Joonmyeon tiba-tiba merasakan nyeri di bagian belakang kepalanya, namun di tengah malam itu ketika Joonmyeon membuka matanya, ia seperti merasakan seperti adanya hantaman pada bagian belakang kepalanya, ia merasa mual, ia mengerang sesaat sambil memegangi kepalanya. Tapi memang Joonmyeon selalu tidak ingin menyusahkan orang lain, dan kekeraskepalaannya itu membuatnya untuk tidak segera menekan tombol darurat tersebut, ia hanya menekannya bila ia merasa benar-benar tidak tahan lagi. Alhasil ia hanya dapat meringkuk, menahan rasa sakit dan denyutan nyeri dari belakang kepalanya hingga ke belakang lehernya, untuk menelan ludah saja ia sampai mengeluarkan air mata sangkin sakitnya.
Paginya, Joonmyeon yang akhirnya sadar itu membuka kembali matanya, yang ia sadari semula semua hal terlihat abu-abu sekarang semakin buram, meski ia masih dapat melihat meski tidak begitu jelas. Menyadari kebutuhan alamnya, Joonmyeon segera berjalan menuju ke ruangan toiletnya, namun beberapa langkah ia berjalan, betisnya bergetar hebat hingga tidak kuasa menopang tubuh ringkih itu, lelaki berhelai rambut tipis itu terjungkal, tangannya yang menarik tiang penyangga IV drop itu pun ikut terjatuh menimpanya. Suara debuman yang lumayan keras tentu saja membuat suster yang berlalu lalang segera mengecek pasien tersebut, dengan panic mereka memanggil dokter lay untuk mengecek keadaan Joonmyeon, ketika dokter itu menanyakan keadaan Joonmyeon serta bagian mana yang masih terasa sakit, lelaki manis itu menyadari, ia hampir kehilangan kemampuan berbicaranya, Joonmyeon mengerti apa yang dikatakan dokter Lay dan tahu apa yang harus ia jawab, tetapi lidahnya seperti tidak mau memproses apa yang ada di otaknya, hanya beberapa kata patah-patah yang keluar dari bibir pucat tersebut. Lay yang menyadari kondisi Joonmyeon yang berbahaya itu segera menyusun kembali jadwalnya, ia mempercepat prosedur pengoperasian Joonmyeon sehari, yaitu keesokan paginya karena hari ini ia sudah mmpunyai jadwal untuk mengurus pasien lain. Dokter muda itu tidak pernah menduga kondisi joonmyeon akan drop sewaktu-waktu mengingat kondisi tubuh Joonmyeon yang kembali stabil. Bila ia tidak segera turun tangan, maka pengoperasiannya akan semakin susah dilakukan, namun dalam kondisi bagaimanapun, lay akan memperjuangkan hidup sepupu kesayangannya tersebut sebagaimana ia selalu memperjuangkan hidup pasien lain yang pernah ia tangani.
.
.
Kris bermimpi buruk malam itu, bahwa adik kesayangannya yang ia rindukan itu hadir dalam mimpinya, bulir-bulir keringat membasahi paras tampannya, lelaki itu bergerak gelisah dalam mimpinya. Di mimpinya itu ia seperti kembali ke masa lalu, dimana dirinya yang amat protektif itu selalu mengintai-intai Tao serta Joonmyeon, di balik semak-semak, di dalam kantin, di mana saja selagi ia belum masuk kelas. Kedua lelaki kontras warna kulit itu berjalan dengan bergandengan tangan, senyum tidak pernah lepas dari keduanya.
Kris memoles senyum lembut, sudah lama ia tidak melihat senyum khas kekucingan tersebut, senyuman polos dan lebar seolah tiada beban yang ia tanggung di dunia ini. Perlahan mata elang itu perlahan merubah fokusnya, pada lelaki yang lebih pendek di sampingnya yang juga memamerkan senyum angelicnya, kedua mata sayu Joonmyeon memancarkan kelembutan, sesekali tangan kanannya membelai punggung Tao khas keibuan. Hazel Joonmyeon yang menyipit lucu ketika ia tersenyum tulus serasa mencekat kerongkongan Kris, membuncah, Kris ingin mendekat, ia ingin melihat eyesmile indah itu dan mencetaknya dalam memorinya, ia ingin melindungi senyumannya, ia ingin karena dirinyalah Joonmyeon tersenyum dan tertawa lepas seperti sekarang.
" gege! Gege kemarilah" sahut Tao dari kejauhan setelah menyadari keberadaan Kris gegenya yang berada di persembunyiannya.
" eh?!" Kris gelagapan karena gelagatnya sudah ketahuan oleh adiknya, namun dengan langkah pelan, ia tetap berjalan mendekati keduanya. Ia berdeham sebentar mengontrol rasa malunya sebelum Tao menariknya mendekat dan tersenyum lebar kepadanya.
" geee! Perkenalkan ini Joonmyeon hyung! Hyung kesayanganku yang kedua setelah gege hehehe~" Tao menarik tangan gegenya dan menyatukannya dengan Joonmyeon.
" K..Kris.. aku kakaknya Tao"
" aku sering mendengarmu dari Tao, hyung. Aku Joonmyeon" Kris melirik wajah Joonmyeon yang menatapnya dengan tatapan sayunya yang polos khas anak kecil, mata bening itu berganti menjadi eyesmile cantik dalam beberapa detik.
" gee… Joonmyeon hyung cantik ya ge… gege sampai terpesona begitu" ujar Tao cengegesan, membuyarkan lamunan Kris yang tampaknya sangat mengagumi keindahan malaikat kecil bereyesmile manis tersebut, berapa kali pun Kris melihat senyuman indah itu, ia tidak akan pernah imun dan akan terbius karenanya, meski dalam mimpi sekalipun Kris akan lupa bernafas sejenak karena senyum indah tersebut.
Sungguh dirinya sangat bodoh, ia melukai Joonmyeon begitu dalamnya hingga kehilangan senyum polos tersebut. Tanpa terasa setetes air mata berlinang di pipi kiri Kris ketika ia memperhatikan senyum itu dengan seksama, sebuah senyum yang sejak dari dulu ia damba-dambakan dan tanpa sadar ingin ia pertahankan selain senyum adik kandungnya. Namun sekarang ia telah kehilangan kedua senyuman yang paling berarti dalam hidupnya.
Segera disekanya bulir-bulir air mata yang memaksa untuk keluar dari pelupuk matanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya yang masih bersalaman mesra dengan tangan kecil Joonmyeon juga hampir ia lepaskan. Namun sebelum Kris sempat lepaskan, kedua tangan Tao ia taruh di atas kedua tangan yang berjabat tangan tersebut.
Tao tersenyum penuh arti menatap gegenya yang masih menyeka air mata dengan sebelah tangannya " geee~ Tao tahu gege sayang sekali sama Joonmyeon hyung, jadi Tao mau kok serahkan Joonmyeon hyung pada gege.. gege jaga Joonmyeon hyung yang baik ya"
Lelaki bermata panda itu tersenyum ikhlas, ikhlas merelakan hyung yang pernah ia cintai itu kepada gege yang ia sayangi, sebelum ia berjalan mundur, menjauhi keduanya yang masih tanpa sadar berpegangan tangan.
" t..tunggu Taotao… kamu mau kemana? Jangan pergi!" jerit Kris panik berusaha menggapai Tao yang semakin menjauh darinya, namun berbeda dengan Kris, lelaki bermata panda itu hanya tersenyum menatapnya.
" gege…"
" …lakukanlah apa yang harus gege lakukan… kalau gege benar-benar mencintainya, perjuangkanlah Joonmyeon, ge. Dengan begitu, Tao bisa tenang karena gege ada Joonmyeon hyung yang menjaga. Gege, Jangan berbuat sesuatu yang membuat gege menyesal lagi di kemudian hari."
.
Pagi itu, Kris terbangun dengan hati bergejolak serta air mata kering pada kedua sisi pipinya. Mimpi itu seolah nyata karena rasa hangat akan tangan Joonmyeon masih terasa sepenuhnya pada tangan kanan Kris, kemudian rasa hangat itu perlahan memenuhi relung hati Kris yang sempat dingin. Ia sungguh sangat merindukan Joonmyeon.
.
.
" ya! Jauhkan tanganmu dari ponselku… apa-apaan sih Yeol, tanganmu gatal sekali!" Kris yang baru keluar dari kamar mandi segera berlari kesal ke arah Chanyeol yang kini sembarangan mengutak atik smartphonenya. Memang iya Kris tidak mengunci ponselnya karena nomor sandinya akan dengan mudah ditebak Chanyeol, karena tidak jauh dari ulang tahun Tao atau dirinya sendiri, dulu karena kesal Kris mengubah sandinya dan berujung dirinya sendiri yang melupakan sandi tersebut hingga ia tidak bisa membuka smartphonenya sendiri. Sejak itu Kris kapok untuk menggunakan sandi lagi.
" tidak mau! Kamu sih keras kepala sekali… aku yang gregetan disini! Kalau kamu tidak mau membalas aku yang balas saja." Lelaki bertelinga lebar itu tidak peduli dengan bentakan Kris, ia sempat menekan tombol unblock Kim Joonmyeon, sebenarnya tujuan Chanyeol adalah untuk membalas chat Joonmyeon atas nama Kris tanpa disadari sang pemilik smartphone, nyatanya lelaki chinese itu kembali lebih cepat dari ia duga.
Kris berusaha mengambil kepemilikannya dari tangan jahil tersebut sebelum pop up chat itu bergetar menandakan adanya chat dari Joonmyeon yang baru dapat masuk karena blocknya tersebut. Chanyeol bersiul sebentar melihat keagresifan Joomyeon, pun membuka chat tersebut dan sebelum dapat membaca tulisan yang cukup panjang tersebut, Kris segera merebutnya kembali dengan tatapan sangar di wajahnya. Namun meski ia kesal dengan kelakuan Chanyeol yang kepo, ia tetap membaca chat terakhir yang dikirimkan Joonmyeon tersebut.
mian hyung.. ini chat terakhir ku kok, aku tidak akan mengganggu hyung lagi. Aku tidak memaksa hyung untuk membaca chatku kalau hyung tidak mau^^, hanya saja, aku ingin minta maaf kepada hyung dan juga kepada Tao, hyung berhak benci kepadaku, seperti yang hyung katakan, I am the worst, maaf sudah merebut kebahagiaan hyung dengan mengambil Tao dari hyung, aku tidak tau kalau Tao meninggal juga aku tidak sengaja mengatakan hal yang menyakiti perasaan hyung, maaf sudah berlaku egois. Aku juga sudah pergi ke makam Tao dan meminta maaf banyak kepadanya. Dengan segala yang pernah kulakukan, kuharap kalian mau memaafkanku untuk itu.
Dan juga…
hyung…
bolehkah aku berlaku egois sekali lagi?
Senin pagi ini aku akan menjalankan operasi..
Kalau hyung membaca chat ini.. maukah hyung datang mengunjungiku?
Aku tidak tahu apakah operasi ini akan berjalan lancar atau tidak… aku hanya ingin melihat hyung untuk terakhir kalinya sebelum aku dioperasi.
Tapi kalau hyung menganggap permintaanku ini menyusahkan, hyung boleh mengacuhkannya, aku tidak ingin memberatkan hyung.. aku tahu hyung sudah muak melihatku hehe :')
Selamat siang hyung, ingat makan siangnya yah ^-^
(Thursday, 1.45 pm) (recieved at 8.10am)
Kedua mata Kris membelalak ketika ia membaca satu kata yang sungguh menyita perhatiannya.
Joonmyeon dioperasi?
Kris ingat ia pernah diberitahu bahwa Joonmyeon mempunyai suatu penyakit, meski ia tidak tahu penyakit apa itu. Ia berfikir bahwa saat Joonmyeon sadar, penyakit tersebut sudah mereda. Namun nyatanya tidak demikian. Dengan kalang kabut, disambarnya jas kerjanya kemudian berlari keluar ruangan, ia tidak lagi memperdulikan pekerjaanya yang terbengkalai ataupun jeritan Chanyeol yang memanggil namanya kebingungan. Yang merupakan tujuan Kris sekarang hanyalah rumah sakit tempat Joonmyeon berada.
Tanpa memperdulikan apakah ia akan diizinkan untuk bertemu dengannya atau tidak, Kris hanya mau melihat keadaan lelaki tersebut serta meminta maaf atas apa yang diperbuatnya. Kris ingin menarik kembali ucapannya, ia ingin mengatakan kepada Joonmyeon bahwa lelaki manis itu bukan 'the worst' thing he ever had, Joonmyeon adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan kepadanya, seseorang malaikat untuk menemani dirinya yang sebatang kara di dunia ini.
Bohong jika Kris mengatakan ia akan memutuskan semua hubungannya dengan Joonmyeon, bohong jika ia mengatakan akan membuka lembaran baru tanpanya, karena tanpa kehadiran lelaki itu dalam kehidupannya, Kris tidak tahu lagi untuk apa lagi ia hidup. Seperti yang Tao katakan, dari lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin memperjuangkan Joonmyeon sekali lagi. Sekali lagi ingin diterima Joonmyeon untuk berada di sisinya, mendukungnya, menyemangatinya, membuatnya tertawa, menopangnya dalam keadaan kritisnya.
Seakan dejavu, lelaki berbanjirkan keringat itu berlarian seperti orang kesetanan di dalam koridor rumah sakit, hanya untuk menemukan bahwa kamar yang ditempati Joonmyeon sudah kosong, hanya tertera namanya saja pada pintu rumah sakit tersebut.
" suster, dimana pasien kamar 506?" tanyanya panic kepada suster yang kebetulan berlalu lalang. Suster itu melihat sejenak kea rah kamar kosong yang ditunjuknya.
" ohhh, pasien joonmyeon, baru saja dia didorong ke ruang operasi. Mungkin masih sempat terke… tuan?!"
Sebelum suster itu sempat menyelesaikan kata-katanya, Kaki jenjang yang menggema pada koridor tersebut berlari ke arah ruang operasi berada.
" semoga masih sempatt…" lelaki itu beradu waktu.
Kecepatan itu mulai menurun ketika ia mendapatkan seseorang dengan masker oksigen serta infus tertusuk pada tangannya hampir didorong memasuki ruangan operasi. Kris yang sudah mengenal wajah Kyuhyun, yang pernah memukulnya, segera menghampiri Joonmyeon dengan tertatih, menyadari kekurangan pasukan oksigen pada paru-parunya.
" Joon!" panggilnya parau.
" ya! Beraninya kamu memperlihatkan wajahmu!" Kyuhyun menyalak berang, ia dan Marselya beserta beberapa bawahan tuan besarnya sudah memerintahkanya supaya tidak menemui tuan muda nya lagi, beraninya lelaki tidak tahu diri itu kini datang menemui tuan mudanya.
Kyuhyun sudah hendak menarik kerah lelaki brengsek itu sebelum Joonmyeon yang masih setengah sadar itu memanggil Kris dengan suara pelan.
" k..kris… hy..uungh.." dibukanya paksa kedua matanya yang sempat terpejam berat oleh obat bius. Tidak mempercayai pendengarannya sendiri ketika ia mendengar suara seseorang yang paling dinantikannya.
Lelaki chinese itu langsung berhambur ke sisi kanannya, mata elang itu terlihat shock melihat keadaan Joonmyeon, yang terlihat jauh lebih parah dari terakhir kalinya mereka berpisah. Tubuh pucat itu terlihat sangat kurus hingga ada beberapa urat-uratnya tercetak pada tubuh ringkih tersebut, wajah yang dulu masih cantik dan agak tembam sekarang terlihat tirus, kantung mata yang hitam dan tebal, bibir yang pucat dan mengering, kepala yang sudah tidak lagi bersurai.
Hazel Joonmyeon menatap kosong ke samping dimana suara bass tersebut berasal "..k..ka..u…da..ta..ng.. ju..ga…a. me..nung.."
Serta suaranya yang sudah sangat melemah hingga seperti bisikan, sangat rapuh hingga Kris tidak dapat menahan apa yang dibendungnya, kedua matanya memanas melihat keadaan Joonmyeon yang tersuguh di hadapannya. Tidak pernah Kris bayangkan dalam benaknya Joonmyeonnya akan menjadi seperti ini karena kekhilafannya.
" sudah… jangan bicara lagi Joon, hyung sudah disini..." Tahan Kris yang tidak sanggup mendengar lanjutan dari ucapan patah-patah Joonmyeon yang kesulitan berbicara dibalik masker oksigennya, setiap kata demi kata yang Joonmyeon ucapkan sungguh membuat hati Kris tersayat melihat seseorang yang ingin ia lindungi itu sekarat dalam hidup dan matinya.
"…maaf sudah membuatmu menunggu." Joonmyeon merasakan adanya sebuah tetesan hangat pada lengan kirinya, suara parau serta deru nafas tidak beraturan, Joonmyeon dapat merasakannya dengan jelas meski ia tidak dapat melihatnya. Ya, Joonmyeon kini tidak dapat melihat apa-apa lagi selain suara Kris yang ia kenal baik.
Dengan sangat perlahan Joonmyeon berusaha mengangkat tangan kirinya yang tadinya terkulai lemas di sisinya, dengan bergetar ia berusaha menggapai-gapai wajah Kris meski yang digapainya berulang kali hanyalah angin.
" Joon.. kamu.." – ada apa dengan penglihatanmu?—kedua mata tajam yang berkaca-kaca itu membulat. Kris mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kata-katanya, sudah jelas Joonmyeon tidak dapat melihatnya, pandangan manik hazel yang tidak terlihat hidup itu tidak menatap padanya.
Melainkan daripada perkataan, Kris menggapai tangan kiri tersebut dan menaruhnya di pipinya, dielusnya sayang permukaan tangan kecil tersebut berulang kali. Joonmyeon kini dapat merasakannya, air hangat yang membasahi telapak tangan kirinya serta kedua tangan lebar Kris yang meremas tangannya erat.
Joonmyeon ingin meminta Kris untuk tidak menangisinya, tetapi mulutnya tidak dapat membentuk sebuah kalimat yang baik, terbuka namun tidak bersuara. Hanya jemarinya yang berdansa menghapus bekas air mata yang mengancam tumpah pada pelupuk mata kiri Kris, membuat Kris semakin terenyuh menatap nanar seseorang yang masih sangat ia sayangi tersebut. Seseorang yang ia tahu dalam sekejap mungkin akan selamanya menghilang dari kehidupannya.
" maaf sudah membuatmu begini…" Kris menggigit bibir bawahnya yang bergetar, Tanpa melepaskan permukaan tangan Joonmyeon di wajahnya, tangan kanannya mengelus pergelangan tangan kiri Joonmyeon yang sudah tidak memar namun masih meninggalkan bekas penganiayaan. Sedangkan Joonmyeon yang tidak sanggup berkata, hanya memperlihatkan seulas senyum tipis dibalik masker oksigennya sambil menggelengkan kepalanya lemah. Isyarat bahwa Kris tidak melakukan kesalahan apapun yang menyakitinya, kalaupun ada Joonmyeon telah memaafkannya karena kehadiran lelaki itu sekarang.
Tanpa mengindahkan gelengannya, Kris tetap melanjutkan " aku tahu aku memang pacar yang bajingan, aku brengsek, aku tidak pantas mendapatkanmu Joonmyeon. Setelah ini kau boleh memarahiku.. memakiku.. memukulku sebanyak yang kamu mau… aku tahu aku bersalah, aku sangat bersalah padamu.. tapi jangan… jangan.. menghukumku sampai begini, Joonmyeon." Mohon Kris parau yang semakin meremas tangan kiri Joonmyeon, menggenggamnya erat supaya lelaki itu tidak pergi meninggalkan sisinya. Terdapat nada keputus asaan yang sangat mendalam di dalam suaranya.
"Kumohon… bertahanlah untukku, aku sudah kehilangan Tao, aku tidak mau kehilanganmu juga Joonmyeon… Kamu satu-satunya yang kupunya joon, kamu berarti untukku, kalau kamu tidak ada.. aku… aku tidak mau hidup lagi.. aku tidak mau hidup tanpamu Joon..." lirihnya dengan suara tersendat-sendat menahan tangis yang tidak kunjung berhenti, malah semakin lancar berlomba-lomba menuruni paras tampan tersebut. Entah sudah berapa tetes air mata penyesalan yang keluar dari kelopak matanya, namun hatinya tidak pernah berhenti berdenyut nyeri karena Joonmyeon. " kamu tidak pernah egois Joon… kalau kamu mau bersikap egois juga tidak apa-apa… a… aku sayang padamu Joonmyeon… sangat.. sangat sayang padamu… maaf, baru menyadarinya sekarang."
Hazel kosong Joonmyeon akhirnya menampakan setetes air mata mengalir pada tulang pipinya, namun bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Tidak pernah Joonmyeon bayangkan akan mendapat pernyataan cinta yang tulus dari Kris mengingat betapa bencinya lelaki itu kepadanya, bahkan ia tidak berani berharap banyak atas kedatangan Kris pagi ini. Tetapi di awal tahun ini, ia diberikan hadiah yang manis, hadiah yang membuat hatinya membuncah bahagia. Ingin rasanya Joonmyeon menghamburkan diri ke pelukan Kris meskipun nyatanya ia hanya bisa tersenyum dalam tangisnya dengan tangan kirinya membelai lembut rahang tajam nan basah pemuda tampan tersebut. Perlahan tangan kirinya menarik telapak tangan Kris dan jemari kurus itu menuliskan sepatah-patah kata di atas sana.
Kris tersenyum membaca permintaan polosnya, lalu dipeluknya tubuh kecil itu dengan kehati-hatian seolah ia boneka rapuh yang dapat hancur bila ia mengkasarinya sedikit saja, sedangkan Joonmyeon masih dalam senyumnya menyandarkan wajahnya pada bahu lebar yang selalu membuatnya nyaman, sungguh sangat disayangkan ia harus memakai masker oksigen ini sehingga ia tidak dapat menghirup aroma maskulin Kris yang sangat dirindukannya. Kris yang akhirnya mampu menguatkan dirinya itu menghirup oksigen sebisanya dari mulutnya kemudian menghembuskannya perlahan " hyung sangat menyayangimu, Joonie~" ulangnya sekali lagi, kali ini dengan panggilan sayang yang paling Joonmyeon sukai, tepat di telinga Joonmyeon.
Joonmyeon berdehem puas ketika Kris mengabulkan kedua permintaannya. Rasa nyaman yang diberikan Kris membuat kedua matanya memberat, pandangannya mulai mengabur, padahal ia ingin tersadar lebih lama lagi, ia merindukan hyungnya tersebut dan mendengar suaranya, namun suara berat Kris semakin menjauh.
" kali ini kalau kamu bangun, kamu tidak sendiri Joonie, hyung akan menjadi orang pertama yang akan kamu temukan ketika kamu bangun nanti" dengan kedua mata Joonmyeon tertutup, itulah kalimat terakhir yang Joonmyeon dengar.
Ia percaya pada Kris..
Dan akan selalu mempercayainya.
.
.
.
.
.
Jemari-jemari panjang itu dengan telaten menggunting poni panjang yang menutupi kedua mata yang masih terpejam, setelahnya ia mengambil body lotion dan menarikannya pada lengan dan tangan putih tersebut serta beralih ke kedua kaki sang empunya supaya tetap lembap. Kris memperhatikan sleeping beautynya dengan tatapan sedih, ya.. pemuda manis itu belum membuka matanya selama tiga bulan lamanya. Dan selama tiga bulan itu pula Kris selalu menemaninya, tidak pagi tidak malam, ia meminta izin dokter Lay serta ayah Joonmyeon, bayangkan, untuk berada di sisinya hingga Joonmyeon terbangun. Lelaki chinese itu bahkan memberikan surat pengunduran diri kepada atasannya, namun karena atasannya tidak ingin melepaskannya, Kris diizinkan untuk tidak hadir ke kantor dan membawa pekerjaannya ke rumah sakit. Kerja Kris memang efesien, maka setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya, sisa waktunya akan ia tumpahkan sepenuhnya kepada Joonmyeon, ia hanya akan memperhatikan wajah malaikat kecilnya itu dengan seksama, sesekali berbincang dengannya meski ia tahu tidak akan ada balasan dari bibir tipis yang setiap hari Kris poles lip balm tersebut.
" Joonie… hyung berusaha menepati janji hyung untuk menemanimu sampai kamu sadar dan hyung akan selalu berada disini sampai matamu terbuka, jadi bangunlah joonie…" lagi-lagi hanya Kris sendiri yang mendengar perkataannya, sebagaimana pun panjang interaksinya kepada Joonmyeon, lelaki manis itu tidak dapat mendengarnya, hanya suara kardiograf yang menandakan detak jantung lemah namun stabil mengisi ruangan tersebut dengan teratur.
Kris menarikan jemari kanannya membersihkan beberapa sisa-sisa potongan rambut pada wajah cantik tersebut, kemudian ia menyibak poni yang sudah pendek itu hingga memperlihatkan dahi sang empunya dan meletakkan bibirnya pada permukaan dahi mulus tersebut. " apa kamu tidak ingin melihat hyung lagi? hyung merindukanmu Joonie… hyung ingin melihat mata indahmu… eyesmilemu.. senyumanmu.. hyung merindukan suara manismu dan perilaku manjamu, sayang.." bisiknya sendu sambil membelai pipi snowwhite Joonmyeon.
" kalau Joonie bangun nanti, hyung pasti akan memanjakanmu semanja-manjanya… joonie mau apa? Sushi? Samyetang? Kalau Joonie sembuh dan sudah bisa makan lagi hyung akan membelikannya untukmu" Kris tersenyum sendiri membayangkan bagaimana senangnya Joonmyeon ketika ia mentraktir makanan kesukaannya. Ia duduk di lantai dan menangkup tangan kiri Joonmyeon dan meletakkan kepalanya di atasnya, ia menatap lama sleeping beautynya hingga dirinya sendiri mengantuk dan memejamkan matanya.
.
.
" hyung!"
Joonmyeon melirik ke kiri dan kanan, dimana tidak ada pemandangan lain selain semuanya yang serba putih, ia berdiri sendiri di sana hingga matanya tertuju pada seseorang yang tidak jauh berdiri melambai riang padanya, kedua hazelnya membelalak ketika ia mengenal seseorang itu, seseorang dengan wajahnya yang sama sekali tidak berubah dari yang terakhir kali mereka melihat satu sama lain " Taozi!"
Lelaki kecil itu tanpa berfikir panjang segera berlari ke arah pemuda panda itu lalu berhambur ke pelukannya dan memeluknya kencang " maaf! Maaf! Maafkan a…"
Tao sedikit tertawa kemudian mengelus pundak Joonmyeon hyungnya sebentar lalu melepaskan pelukannya supaya ia dapat melihat wajah Joonmyeon, wajahya hyungnya yang terlihat lebih dewasa, terdapat kerutan-kerutan halus pada wajah pucat tersebut, namun semakin kecil tubuh yang memeluknya tadi " pfft.. mau sampai kapan hyung meminta maaf terus.. kan kemarin-kemarin hyung sudah datang meminta maaf, aku mendengarnya kok.. rupanya kalau hyung sudah nangis jelek sekali ya"
Lelaki tersebut tertawa lebih kencang ketika Joonmyeon menampilkan muka merengut kesalnya, sungguh lucu wibawa seorang Joonmyeon menghilang setelah ia bertemu dengan gegenya, Tao dapat merasakan perubahan seorang Joonmyeon yang sudah tidak ia temui selama bertahun-tahun. " sudah hyung jangan cemberut seperti itu, hyung tahukan kalau cemberutmu itu tidak efektif untukku, aegyoku lebih imut hyung xD lagipula kenapa hyung masih disini?"
Joonmyeon menatap Tao dengan pandangan tidak mengerti, terutama ketika Tao menepuk-nepuk pundaknya dan mendorongnya menjauh. " hyung tidak seharusnya berada disini, hyung.. kembalilah ke dunia hyung… ada seseorang yang masih menunggu hyung disana dengan sabar, seseorang yang menggantikanku di hati hyung itu terus menanti hyung untuk membuka mata hyung kembali. Dia sungguh sangat merindukanmu hyung. Pergilah."
"… pergilah… dan lihat bagaimana perasaan gege yang sebenarnya kepada hyung…"
.
.
.
Jemari kurus yang digenggam Kris dalam tidurnya itu perlahan bergerak, sejengkal demi sejengkal hingga membangunkan lelaki yang ketiduran di atas lantai tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi Kris untuk menyadari bahwa lelaki yang ditunggu-tunggunya untuk membuka kembali matanya itu sadar. Kris lekas berdiri dan mendekatkan wajahnya pada paras cantik itu, menunggu detik demi detik kedua mata yang masih terkatup itu dengan sabar. Pemuda jangkung itu tidak tahu harus bagaimana memperlihatkan ekspresinya ketika kedua hazel itu perlahan terbuka, sayu namun tidak terlihat kosong melainkan memperhatikan wajah lekuk wajahnya, dari mata yang menyiratkan sejuta kekhawatiran hingga bibir tebal yang setengah terbuka.
"Joonie… kamu sadar? Kamu bisa melihatku?" dielusnya dahi pemuda manis itu dengan sayang, terharu biru karena akhirnya Tuhan mengabulkan permohonannya yang satu ini untuk tidak mengambil Joonmyeon darinya. Mendapati senyuman malaikat kecilnya kembali serta sebuah anggukan kepala pelan, segera dipanggilnya dokter Lay untuk mengabari kabar membahagiakan tersebut, tidak peduli di tengah malam sekalipun. Dokter Lay yang mendengar kabar tersebut segera berlarian ke ruangannya, tidak terlewatkan airmata syukur yang meleleh dari paras pria berumur tersebut mengingat betapa lamannya ia harus menunggunya terbangun dari komanya. Setelah mengecek dan melakukan beberapa prosedur, alat kardio yang melekat pada dada Joonmyeon dan beberapa alat medis lainnya pun dilepaskan. Setelahnya, Lay memberikan ruang bagi Kris yang setia berdiri di samping Joonmyeon untuk bertukar rasa rindu.
Hening beberapa saat setelah Lay menutup ruangan pintunya dengan suara gesekan, hanya tersisa dua manusia yang menatap satu sama lain dalam keheningan tersebut, Joonmyeon dapat menemukan rasa kerinduan dalam mata elang yang menatapnya hangat meski ia tidak dapat melihatnya dengan baik. Sama seperti pendengarannya, setengah penglihatannya buta total, namun mata kirinya masih dapat melakukan pekerjaannya meski segalanya berwarna keabuan. Seandainya ia dapat melihat dengan jelas, Joonmyeon yakin kedua mata elang tersebut pasti berwarna kemerahan dan berkaca-kaca. Karena telah kehilangan kemampuan berbicaranya, perlahan digerakkannya jemari kirinya hingga ujung kelingkingnya bersentuhan dengan jemari kanan Kris yang masih tidak bergerak dari sisi pahanya. Kedua jemari berbeda panjang itu bertemu sapa, melingkar.. dan saling menautkan satu sama lain. Joonmyeon tersenyum merasakan kehangatan yang menjalar dari tangan lebar tersebut.
Tautan tangan itu tidak berlangsung lama karena tidak lama kemudian Kris menghamburkan diri kepadanya, dipeluknya tubuh kecil itu, kali ini lebih erat, dan tangan lebar itu mendorong kepala Joonmyeon untuk mendekat pada dadanya. Kris tidak dapat memperlihatkan bagaimana letupan bahagia dan kelegaan yang mendalam terutama ketika Joonmyeon akhirnya dapat dengan perlahan menggerakkan kedua tangan kakunya untuk memeluknya. " kamu membuatku khawatir setengah mati.. aku pikir aku akan kehilanganmu Joon, kamu tega… membuatku menunggu begini lamanya… tapi tidak apa-apa, aku senang kamu sudah bangun Joon... sangat senang.. terima kasih sudah tidak meninggalkanku, terima kasih.. sudah memberikanku kesempatan sekali lagi untuk mengubah kesalahanku."
Akhirnya Kris mendapatkan kembali kebahagiaannya, ia dapat merasakan deru nafas teratur yang dihembuskan pada lengannya, tubuh hangat yang tidak lagi dingin dan membujur kaku, suara detakan jantung Joonmyeon yang menandakan bahwa semua ini merupakan suatu kenyataan terindah.
" Joonie.. I miss you… so much that I could die… tolong, jangan pergi lagi dari sisiku, ya?" Perasaan hangat menyelimuti hati Joonmyeon, dengan tiap elusan pada surai rambutnya yang rupanya mulai memanjang kembali, rengkuhan hangat yang setia menjaganya, menyayanginya dan melindunginya, juga setiap suara parau Kris yang seperti menunjukkan betapa berharganya dirinya bagi dia. Joonmyeon menunggu saat-saat dimana dirinya sungguh disayangi seperti ini secara penuh oleh orang yang paling berarti dalam hidupnya.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian.
Bruk!
" Joonie!" seru Kris panik, ia lekas berlari ke arah Joonmyeon yang berusaha menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang sedikit bergetar. Lelaki jangkung itu mengangkat tubuh Joonmyeon yang penuh keringat dan memapahnya berdiri.
" sudah jangan dipaksakan… hari ini kita berhenti sampai disini saja ya" Joonmyeon dengan keras kepalanya menggeleng lalu mendorong tubuh Kris supaya menjauh darinya, kedua tangannya ia paksakan untuk dilingkarkannya kembali pada penyangga di samping kiri kanannya dan berusaha menopang kembali tubuhnya dengan kekuatannya sendiri.
" sam..pai…tuju..an" balasnya dengan ucapan terbata-bata. Joonmyeon yang masih belum fasih berbicara itu akhirnya mampu menglafalkan sepatah dua patah kata namun masih dapat dimengerti Kris. Lelaki itu pasrah melihat kekeras kepalaan Joonmyeon kemudian menyeka keringat Joonmyeon yang hampir menetes dari dagunya. Tubuh tegap itu berbalik pada posisi awalnya dan menanti Joonmyeon di ujung, melihat setapak demi setapak berusaha berjuang melawan beban tubuhnya dan berjalan mendekatinya.
" kamu bisa Joonie! Sedikit lagi!" panggil Kris menyemangatinya. Ia membuka tangannya lebar ketika Joonmyeon akhirnya sampai di hadapannya dan menjatuhkan tubuhnya pada rengkuhan lebar yang menyambut kedatangannya.
Didudukkannya tubuh kecil itu di atas lantai lalu Kris dengan sigap memijitkan kedua kaki Joonmyeon yang sudah bekerja keras. "kamu berjuang dengan baik!" Joonmyeon mempoutkan bibirnya sedangkan Kris menaruh sehelai handuk di atas helai hitam joonmyeon dan mengusaknya kering dari keringat.
Joonmyeon memang sudah menjalani masa rehabilitasi selama dua minggu, selama dua minggu itu pula Joonmyeon bekerja keras memulihkan kemampuan berjalannya. Joonmyeon ingin cepat-cepat sembuh, ia tidak ingin terlalu menyusahkan Kris karena lelaki itu yang selalu senantiasa 24 jam merawatnya, menjaganya seperti layaknya bayi, tentu saja Kris bisa capek juga karenanya, bayangkan ketika Kris berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk (karena mengurus Joonmyeon tentu saja) lalu tiba-tiba Joonmyeon harus menuntaskan panggilan alamnya, karena bukan hanya Joonmyeon kehilangan kemampuan berjalannya, kedua tangannya juga tidak dapat ia gunakan seperti dahulu kala. Namun meski lelah, tidak sepatah ucapan marah atau frustasi yang keluar dari bibir tebal itu, apapun yang joonmyeon inginkan akan selalu Kris penuhi, meski membuatnya repot Kris tetap tersenyum dan meladeninya dengan penuh kesabaran.
Marselyna sebenarnya bisa saja membantu Kris mengurusnya, tetapi pemuda chinese itu tetap ngotot untuk melimpahkan semua tanggung jawab Joonmyeon kepadanya, Kris ingin membuat joonmyeon percaya bahwa perasaannya bukan hanya ucapan belaka seperti kesalahan yang dilakukannya dulu. Terlebih kepercayaan diri Kris bangkit ketika ia bertemu dengan ayahnya Joonmyeon di rumah sakit, entah bagaimana caranya Kris dapat meyakini hati ayahnya untuk menyerahkan anaknya sepenuhnya ke dalam tangannya, sedangkan maid dan bodyguardnya menatap tuan besarnya dengan tatapan tidak percaya, terutama Marselyna dan Kyuhyun yang mempunyai perasaan sayang yang berlebih terhadap Joonmyeon tentu tidak rela membiarkan tuan mudanya diasuh oleh lelaki brengsek tersebut, bisa jadi kan Joonmyeon malah dicekek mati saat ia tidur. Namun setelah dua bulan awal mereka melihat bagaimana Kris setia menunggunya dengan sabar, terdapat ketulusan ketika kris berbicara dengan Joonmyeon dalam tidurnya, kedua bawahan itu mulai dapat merelakan tuan mudanya ke dalam tangan Kris.
.
.
Siangnya, seperti biasa Kris membawa Joonmyeon pada tempat yang disukai Joonmyeon, yaitu pada kebun bunga yang berada di rumah sakit tersebut, karena sudah musim gugur banyak daun kecoklatan yang jatuh memenuhi keramik warna warni dibawahnya. Kris memberhentikan kursi roda itu di bawah salah satu pohon yang cukup besar kemudian mengeratkan jaket Joonmyeon supaya ia tidak kedingan oleh angin yang berhembus lumayan kencang hari ini.
" masih dingin? Apa tidak sebaiknya kamu istirahat di kamar saja Joon.. nanti kamu flu pula" tanya Kris perhatian, ia meletakkan kedua tangannya yang memakai sarung tangan dan meletakkannya pada kedua pipi Joonmyeon yang agak memerah dingin. Joonmyeon menggeleng pelan, kedua tangan Kris yang melekat di pipinya mampu membuatnya hangat.
" sebentar ya, aku belikan minuman hangat" Kris menunjuk alat penjual minuman lalu berlari ke sana. Lelaki itu memilihkan sekaleng susu hangat, membukanya dan memberikannya pada Joonmyeon. Lalu Kris seperti biasa mengajaknya berbincang-bincang seraya membiarkan Joonmyeon menyesap minumannya hingga habis, meski hanya dijawab Joonmyeon dengan sepatah dua buah kata, kalau Joonmyeon ingin mengatakan sesuatu yang lebih panjang, maka Joonmyeon harus menuliskannya di buku polos yang selalu dibawanya kemana-mana.
" a..yo… balek.." ajak Joonmyeon setelah ia puas menikmati pemandangan indah di sekelilingnya. Ia memberikan kaleng kosong tersebut kepada Kris yang lalu dibuangnya ke tempat sampah.
" Joon…" Joonmyeon menatap Kris bingung karena lelaki itu perlahan berdiri di hadapannya kemudian berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Joonmyeon yang berada di kursi roda. " aku tidak tahu harus mengatakannya sekarang atau tidak.." ucap Kris jujur, ia ingin menunda perkataannya sampai Joonmyeon pulih sepenuhnya, tapi ia juga tidak tahan memendam segalanya lebih lama.
" Joon.. aku tahu hubungan kita sekarang sangat tidak jelas dan aku mungkin membuatmu bingung, karena itu aku akan menyampaikannya sekali lagi. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku Joonmyeon. Maukah kamu, melupakan masa lalu burukmu dan memulai memory yang indah bersamaku? Kuharap kau bersedia Joonmyeon, mungkin sejuta kata cinta pun sudah terasa hambar di telingamu, kamu mungkin tidak lagi mempercayaiku, tetapi untuk kali ini, aku tidak main-main lagi dengan perasaanku, aku tulus menyayangimu, Joon… kalau kamu memberikanku kesempatan sekali lagi, aku tidak akan dengan bodoh menyia-nyiakanmu lagi Joon, aku tidak akan menyakitimu, aku tidak mau membuatmu menangis lagi dengan perbuatanku dan meskipun aku tidak kaya, tapi aku akan berjuang sebaik mungkin untuk membahagiakanmu. Jadi.. jadi… maukah kamu, memikirkan kembali.. hubungan kita?" Kris menelan ludah setelah menyelesaikan perkataannya, berkeringat dingin karena ia bahkan tidak memberikan apa-apa untuk Joonmyeon.
Sedangkan ekspresi wajah Joonmyeon kini tidak dapat ditebak, lelaki itu hanya menatapnya dalam diam, mungkin menimang-nimang jawaban apa yang akan diberikannya.
" …mian"
Kris tersenyum getir, tentu saja tidak mungkin Joonmyeon akan menerimanya kembali setelah hal jahat yang pernah ia perbuat, sudah sangat baik Joonmyeon sudah memaafkannya dan tidak lagi mengungkit kejadian tersebut. Kris masih dalam posisi berjongkoknya menunggu jawaban lebih lanjut dari Joonmyeon yang kini menggores kertas dengan pena. Setelah selesai menulis, ia menegakkan buku tersebut untuk Kris baca.
" apa yang membuatmu berfikir kalau aku akan menerima hyung kembali? Mending aku mencari lelaki lain yang lebih baik dari hyung. Setidaknya mereka tidak menghancurkan hatiku seperti yang hyung lakukan dulu. Sudah hampir seminggu hyung bahkan tidak datang menjengukku, tidak membalas pesanku, hyung bahkan tidak peduli padaku jika aku menangis hingga kepalaku sakit. Hyung pikir aku akan termakan omongan hyung? Aku tidak bodoh hyung, mau disakiti lagi."
Tanpa sadar Kris menahan nafas membacanya, hal yang berasal dari lubuk hati Joonmyeon yang terdalam. Jika Kris tidak menyatakan cintanya tadi, makan selama ini juga Kris tidak akan pernah tahu pikiran dan perasaan Joonmyeon yang sesungguhnya. Sakit. Itulah yang dirasakan Kris saat ia membaca tulisan Joonmyeon, bukan sakit karena penolakkan Joonmyeon, tetapi ia seperti dapat mengerti dan merasakan perasaan Joonmyeon yang pernah tersakiti karenanya.
" be..benar juga…" dengan susah payah Kris menggerakkan lidahnya yang kelu, hatinya kian bergemuruh, pekat mencekam dadanya " hyung.. pasti sudah membuatku trauma… maaf ya sudah membuatmu mengingatkanmu akan sesuatu yang menakutkan. Hyung tidak akan mengatakannya lagi, kamu berhak menolakku Joonmyeon, setelah apa yang kuperbuat, aku tidak berhak mendapatku lagi ke dalam pelukanku. Aku sadar diri kok." Kris berdiri dari posisi berlututnya, meski tampak kecewa dengan jawaban Joonmyeon, ia tetap merapikan jaket Joonmyeon dan merapikan surai rambut Joonmyeon yang agak acak-acakkan karena angin kencang.
" tapi meskipun hyung ditolak, Joonmyeon maukan menerima hyung sebagai temanmu? Setidaknya izinkan aku merawatmu sampai kamu keluar dari rumah sakit ya?"
Joonmyeon terpukau atas jawaban Kris, lelaki itu bisa sebegitu berubah dalam waktu beberapa bulan ini. Kris yang dulunya selalu memaksa perasaannya kepadanya, kini jauh lebih dewasa, ia mampu memberikan ruang bagi Joonmyeon, menghargai apapun keputusannya, masih mau merawatnya meskipun apa yang tadi ditulisnya mungkin membuat hati Kris porak poranda.
Tanpa sepengetahuan Kris, Joonmyeon diam-diam menampilkan senyum tipisnya.
Sebelum Joonmyeon didorong kembali ke ruangannya, ia menahan tangan Kris, ia membalikkan badannya untuk bertemu dengan obsidian Kris, mata memang tidak bisa berbohong, obsidian itu menyimpan luka karena penolakkan Joonmyeon.
Joonmyeon menyengir lebar seraya membuka lembaran baru dari notesnya.
" TARAAAAHH! Aku bercanda :P"
Sungguh Joomyeon ingin tertawa ngakak melihat ekspresi lucu Kris saat membacanya, mata elangnya yang biasa tajam itu membulat, muka yang menampilkan sedikit kekesalahan, kekagetan, kelegaan semua bercampur aduk menjadi satu.
" yahhh.. padahal aku ingin melihat kris hyung menangis lagi, cih! Tidak seru…"
Joonmyeon memeletkan lidahnya usil ketika ia membalikkan lagi buku tulisnya.
Kris sudah ingin mencubit gemas pipi tembam Joonmyeon ketika ia selsai membacanya, namun diurungkannya ketika Joonmyeon membalikkan lembaran terakhrinya.
" AKU MENERIMAMU, HYUNG! MUNGKIN AKU MEMANG ORANG PALING PABBO SEDUNIA KARENA MAU MENERIMAMU, TAPI MAU BAGAIMANA LAGI. AKU MASIH SAYANGG.. SANGAT AMAT SAYANG PADA HYUNG JADI JANGAN MENGECEWAKANKU LAGI NE?... EITS DENGAN SATU SYARAT, HYUNG HARUS MENCIUMKU SETIAP HARI SEBAGAI PERMINTAAN MAAF HYUNG, KALAU TIDAK AKU TIDAK MAU MEMAAFKANMU"
Bibir Joonmyeon mengkerucut lucu melihat hyungnya yang kini bergetar menahan tawa sambil menutup wajahnya dengan sebelah tangan, tulisan tangan Joonmyeonnya begitu imut, menggemaskan seperti si penulisnya, namun bukan itu yang membuat Kris tertawa, melainkan lelaki tampan itu tertawa untuk menutupi kelegaannya, ia tidak menyangka lelaki yang hampir mematahkan hatinya itu kini menerimanya dengan sukarela.
Dipeluknya Joonmyeon dari belakang, dan menyandarkan dahinya pada bahu kiri yang tidak terlalu lebar tersebut " aku pasti akan membuatmu tidak menyesal telah memilihku, aku berjanji padamu, Kim Joonmyeon." bisiknya sambil mengeratkan pelukannya, sedangkan Joonmyeon mengelus-elus lengan Kris yang melingkar pada lehernya.
Joonmyeon menatap Kris dengan tatapan unyunya seraya memiringkan wajahnya, Kris tertawa kecil kemudian menaikkan dagu Joonmyeon, ia menanam sebuah ciuman polos pada bibir tipis yang lama tidak ia kecup tersebut, yang nyatanya semakin memabukkannya, membuat perutnya penuh dengan ribuan kupu-kupu, hati yang meletup seperti kembang api, bibir joonmyeon selalu manis seperti madu, lembut seperti gula kapas, dan Kris sama sekali tidak mempermasalahkannya jika ia harus menciumnya setiap hari.
TRUE END ( siapa yang nangis disini hayo ngaku)
FINALLYYY! KU PENGEN MEWEK! AKHIRNYA INI FF CHAPTERED PERTAMA YANG KU TAMATIN HUEEE TAT TAT TAT SEMINGGU LEBIH LOH INI BUATNYA, SUSAH BANGET TAT TAT INI CHAPTER TERAKHIR NYITA WAKTU BANGET YE, KUSAMPE TELAT UPDATE FF LAIN OMG!
Anw komennya yaaa mupung ini chapter terakhir :v hargailah perjuangaku yang menulis 11 rb words yang tidak gampang ini xD
btw ada beberapa reader yg Dm ku minta epilog karena kurang krisho moment nya :'v bagaimana pendapat readers? kalau reviewnya mencukupi kubuatin deh xD
