Chap lalu pas kubaca ulang, ternyata emang rada pendek. Sorry yah semuanya. Apalagi aku baru nyadar Suzuna kulupain. Pantes kok rasanya ada yang kurang gitu? Ternyata.. Cewek gosip satu itu! =="
Ngomong-ngomong aku baru nyadar, garis pembatas di bawah dan tengah ceritaku hilang. Sebelumnya aku pake bintang dan gak kenapa-kenapa. Eh, sekarang lenyap! Yah, berikutnya aku bakal ganti jadi tanda lain aja. Sorry klo jadi bingung~ (= =)
Thanks yah buat yang pada review. Buat Flamer. Bego. inget, ceritamu kutunggu. Tunjukin cerita yang menurutmu nggak pasaran tuh. Oke?
Aiamor'lavida : Lebih pendek ya? Kali ini kubuat panjang deh. (:
''Black Rose'' Cyne_chan : Hahaha. Makasih yaaa. Ganbatte! :D
Kwon Soo Jin : Makasih yup udah mau nunggu kelanjutannya.. Ini updatenya, moga suka! :3
Just reader 'Monta' : Kekeke, betul ancaman baru.. Tulis, tulis.. Lumayan neeeh. :p
YoshiKitty29 : *PLAK—nampar muka sendiri* Lupa uy ada Suzuna! Pantes ada yang kurang!! DX
Tsuichi Yukiko : Sorry yah.. Iya nih, aku lupa sama Suzuna.. T__T
Author lagi Blank abiz : Mereka kan tim yang gimana gitu! Kompak selalu! xD
Youichi Nanase : Sorry lama update.. Blank abis soalnya. Nih updatenya!
Kazeyana Fami : Hoe? Lupa, lupa.. *digampar bolak-balik* Kayak suami-istri? Emang suami istri mah! xD
Hiru21Mamo a.k.a. Riikun : Livejournal? Maksud? FP tuh FictionPress. Kayak FFn cuma tokoh, setting, dll asli dari kepala kita sendiri. Hum, iya susah ngatur waktu. Apalagi kalo lagi buntu. Wah, macet total dah tuh! Aku belum ulangan, hehe. Masih santai. :D
Mashy-Gaara4life : Hahaha. Nih update~
Flamer. Bego. : Terserah deh mau ngomong apa soal Englishku. Udah biasa dikatain payah, bego dan apalah yang mau kamu sebut. Tapi satu hal yang harus kamu inget, kalo mau flame soal ide cerita yang menurutmu pasaran, biasa dan kurang penjelasan ini, kasih aku SATU contoh cerita yang kamu buat sendiri, yang sesuai kata-katamu: penuh penjelasan dan nggak pasaran. Bakal kubaca, bila perlu publish di fanfiction / fictionpress sekalian. Plus nggak usah jadi pengecut flame lewat anonymous review. Kutunggu ceritamu secepetnya.
Micon : Thanks dibilang keren! Yap, sorry waktu chap kemaren telat. :'(
Asuka Nakamura : Aku juga nggak tau tamatnya sampe mana. Belom kepikiran. Tergantung waktu aku selesai bikin pengintaiannya Yukimitsu, ada ide lagi gak? Kalo ada, jadinya tambah panjang. Hehehe. (:
Naravina Youichi : Sorry.. Di chap berikutnya adegan romantis lebih kuperhatikan deh. :S
GreenOpalus : Iya ya. Kebawa kebiasaan di Indonesia. Haha. *plakkk*
Nurhay : Tokoh-tokoh yang laen mau kuperlihatkan juga, makanya HiruMamo berkurang.. Hhe, gomen yah. Haha, soal rated tetep begini-begini aja. :D
Machiko Savannah : *nyiapin api, terus bakar buku Fisika sambil ketawa-ketawa gaje* Sorry telat update.. =="
Risle-coe : Makasih ya atas pembelaannya.. *emang lagi di pengadilan? Wkk..* Thanks juga udah suka dan mau nyempatin diri buat ripyu! xD
Dramione : Rian? Rasanya kok pernah denger tuh nama ya.. Kakaknya sapa gitu gak? Yah, kapan-kapan jangan ngeflame di sini dong.. =="
Aku cuma orang oon : Dicoba ya.. Soalnya bingung sama Akaba, kerjaannya genjrang-genjreng gitar doang. Pusing nyelipin dia! *plak* Flame itu kayak kritikan terhadap cerita, tapi tergantung cara ngeflamenya sekarang. Pake bahasa kasar atau halus? Terus OOC tuh Out Of Character. Menyimpang dari character asli gitu deh.. ^^
HirumaYouriLoveJuumonji : Maaf yap.. Telat update. Gak telat ripyu kok! Thanks ya! (:
Antoinette Yoh : Hahaha.. Iya, ya? Kok gak ada weker? Hwehehe.. Nih updatenya! Ficmu kutunggu updatenya! Secepetnya ya! *ngancem pake golok tapi tetep senyum* :p
Hyuga_clan : Thanks yup. Nih updatenya..
Rukawa-Alisa-chan : Aih, bener!? Wah, nambah deh fansnya Eyd21.. Sering-sering yah mampir ke sini. Bdw author apa reviewer? Lam kenal aja~ :3
2winter thief : Apa kabar nehh?? Udah selesai ulangan? :D
Makasih yah udah mau ninggalin ripyu. Sekarang kita kembali ke cerita! Semoga suka. :3
Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
Ide cerita © RisaLoveHiru
Warning : Hiruma sedikit OOC
-hahahaha-
Yukimitsu's Plan 01
"Hachiiiu! Hachiiiu! Hachiiiuuu!" Mamori bersin hebat. Hiruma yang duduk di depannya menoleh, melepas headsetnya dan tampak sangat terganggu. Beberapa murid yang duduk di sekeliling mereka berdua juga ikut menoleh, semuanya mengangkat alis. Tapi mereka buru-buru kembali dengan urusan masing-masing karena Hiruma menatap mereka sinis.
"Kenapa kau Pe—Manajer sialan?" tanya Hiruma, nyaris keceplosan. Mamori menggosok hidungnya yang sedikit merah.
"Mungkin pilek," jawabnya cuek. Pandangan gadis itu kembali tertuju ke bukunya, tapi Hiruma menghalanginya. Wajah Hiruma tampak sedikit aneh. Mamori heran sendiri melihat perubahan ekspresi Hiruma yang mendadak itu.
"Dasar Manajer sialan bodoh! Apa kau tidak bisa menjaga kesehatanmu!?" ucap Hiruma galak. Mamori bersungut-sungut.
"Mana bisa menjaga kesehatan kalau mandi baru tengah malam dan paginya harus bangun pagi!" balasnya seraya tersenyum mengejek. Hiruma sontak terdiam. Menyadari kesalahannya kemarin menggembleng gadis itu terlalu keras. Namun dengan lagak tetap di atas angin, Hiruma kembali membalas. Dirinya tidak bisa semudah itu dikalahkan!
"Kalau kau bisa mengerjakan semuanya lebih cepat, kau pasti bisa mandi dan tidur lebih cepat!" sahut Hiruma. Mamori mendengus.
"Aku sudah mengerjakannya secepat mungkin, Hirumaaa!" kata Mamori emosi. Hiruma nyengir ala setan. Begitu dia berhasil memancing emosi Mamori, Hiruma yakin seratus persen dia sudah memenangkan perdebatan ini.
Baru saja Hiruma mau membuka mulut lagi ketika Mamori kembali bersin-bersin. Kali ini tidak ada yang menoleh. Semua terlalu takut untuk melihat kondisi Mamori di bawah pandangan mengintimidasi Hiruma.
"Kau baik-baik saja, Manajer sialan?" tanya Hiruma, setengah mati menyembunyikan nada khawatir di suaranya. Tangannya setengah terulur, ingin menyibak poni Mamori dan mengecek suhu badannya, namun niat itu segera diurungkan. Mamori yang tidak melihat gelagat Hiruma, hanya mengangguk menyahuti pertanyaan Hiruma.
"Tenang saja. Sudah, balik sana! Gara-gara kau aku tidak bisa belajar!" usir Mamori seraya mengibas-ngibaskan tangannya. Hiruma berdecak kesal.
"Tch! Bodoh!" makinya pelan. Guru Sejarah yang baru saja lewat di dekat Hiruma mengelus-elus dadanya penuh iba. Heran dapat dosa apa orang tua Hiruma sampai-sampai anaknya bisa mengerikan begini. Padahal dari tadi dia sibuk menjelaskan materi yang ada di buku, tapi dengan cueknya Hiruma malah mendengarkan sesuatu di telinga kirinya, kedua tangannya sibuk mencoret-coret sesuatu dan sibuk mengetik sesuatu di laptopnya alias hanya mendengarkan pelajaran dengan telinga kanannya saja!
Meski begitu, tidak ada yang berani menegur Hiruma. Dibiarkannya saja dia berbuat seenaknya, daripada dapet masalah?
Tak jauh dari Hiruma duduk, Musashi, Kurita dan Yukimitsu memperhatikan kejadian itu dengan penuh perhatian. Ketiganya sibuk berspekulasi di kepala masing-masing, apa makna dari tingkah Hiruma barusan. Musashi yang bisa dibilang paling akrab dengan Hiruma saja sampai gosok-gosok mata berulang kali. Tak mempercayai pemandangan di hadapannya. Apalagi pendengarannya. Apakah dia bermimpi? Dicobanya menjotos wajahnya sendiri, tapi yang dia rasakan hanya ngilu di bagian yang dijotos. Jadi ini beneran. Kenyataan. Real!
Kurita cuma senyum-senyum. Dia memang mempunyai firasat ini akan terjadi. Bahkan raksasa gemuk itu gembira melihat sahabatnya yang psikopat berjalan bersama malaikat yang sengaja diturunkan dari langit ke bumi untuk mengatasi semua kegilaannya. Ini semua tinggal menunggu waktu saja sampai salah satu dari mereka mengakui perasaannya dan happy ending!
Sepertinya yang paling sibuk memikirkan hal ini adalah Yukimitsu. Berbutir-butir keringat sebesar jagung menetes di dahinya yang kinclong. Susah payah dia memikirkan rencana yang tadi dia susun. Meyakinkan diri rencana itu sudah benar dan tidak membahayakan dirinya dan sahabat-sahabatnya. Tapi kalau melihat bukti yang ada, sepertinya pengintaian pun tak perlu dilakukan!
Ketiganya saling tatap. Mata mereka memancarkan sorot masing-masing, menjelaskan apa yang mereka pikirkan kepada yang lain.
Aku tak percaya! Apa aku benar-benar sedang melihat Hiruma? ucap Musashi kaget. Yukimitsu mengangkat bahu.
Aku juga bingung. Kurasa telah terjadi sesuatu.. Apa mereka dari dulu memang begini? Yukimitsu melirik Kurita, meminta penjelasan.
Mereka cocok, ya? Kurita senyam-senyum. Musashi dan Yukimitsu menghela nafas. Susah bicara dengan Kurita. Pakai mulut aja susah, apalagi lewat mata begini!
Lupakan. Musashi menggelengkan kepalanya. Rencana kita jadi kan? Ditatapnya Yukimitsu penuh perhatian.
Tentu saja! Yukimitsu mengepalkan jarinya kuat-kuat, penuh tekad menantang bahaya dan mengakhiri hidup. Tapiii.. aku ragu juga sih.. Rencana ini sukses tidak ya?
Hey! Jangan bercanda! Nyawa kita semua di tanganmu, loh! Musashi melotot marah. Yukimitsu mengkeret di tempatnya, tampak bingung bagaimana membalas Musashi. Kurita telah keluar dari percakapan ini, dia sibuk memandangi sepasang pasangan yang belum menjadi tapi akan menjadi pasangan itu *bingung ya? Hahaha*.
I… Iya, aku tau. Rencana pasti dijalankan. Sesuai rencana, kumpul di tempat tadi waktu istirahat ya. Yukimitsu menyudahi percakapan via mata. Musashi berusaha mendapat perhatian Yukimitsu lagi, menuntut lebih banyak penjelasan, tapi Yukimitsu pura-pura tidak melihat. Perasaan aneh memenuhi dadanya, membuatnya meneteskan keringat dingin. Dia merasakan firasat buruk..
-XXX-
"Mamori, kau tampak pucat." kata Ako, sahabat Mamori. Mamori menoleh, Ako terlihat kabur di matanya. Mamori mencoba tersenyum. Dia tidak ingin membuat Ako cemas.
"Aku tidak apa-apa kok." senyum Mamori. Ako menatapnya tak percaya.
"Kelihatannya kau demam.." ucap Ako, menyentuh dahi Mamori untuk mengecek suhu badan sahabatnya. Terasa agak panas. Ako semakin khawatir.
"Kau sebaiknya pulang. Bisa-bisa kau pingsan di sekolah.." bujuk Ako. Mamori menggeleng. Dia mau saja pulang, tapi pulang kemana? Ke rumah Hiruma? Tapi barang-barangnya masih ada di rumah semua dan dia belum mengambilnya..
"Tenang saja." Mamori malah merasakan staminanya semakin merosot setiap dia berkata dirinya baik-baik saja. Apa ini balasan atas kebohongannya? Hah, padahal dia berbohong demi hal yang baik. Tidak membuat orang khawatir, misalnya. "Makan bekal saja yuk," ajak Mamori, menarik sebungkus kue yang dibelinya di kantin.
Meski masih khawatir, Ako akhirnya menurut saja. Dibiarkannya Mamori yang bersikukuh duduk di mejanya dengan tingkah yang menurut Ako sangat kekanak-kanakan; menolak bujukannya pulang ke rumah dan juga menolak ajakannya ke UKS untuk istirahat. Dia pikir-pikir lagi, tidak ada gunanya membujuk Mamori sekarang. Kalau gadis itu sudah tergeletak di lantai dalam posisi horizontal alias pingsan dengan sukses, pasti Mamori langsung menuruti perkataannya. Kapok sih!
Mamori tidak sadar, sendari tadi sepasang mata terus mengawasi dirinya. Mengikuti semua gerakannya dan bergerak sedikit sewaktu Mamori memperlihatkan tanda-tanda akan ambruk. Hiruma melirik Mamori lagi, cemas.
Kali ini Hiruma lengah. Terlalu sibuk mengawasi Mamori, setan itu tidak menyadari ada tiga pasang mata juga mengawasi dirinya. Ketiganya juga saling lirik. Sebentar lagi misi mereka akan dilaksanakan.
Menurut rencana, sebentar lagi Sena dkk akan datang dan melakukan kekacauan. Di tengah kekacauan itu nanti, Yukimitsu akan menempelkan sebuah kamera plus penyadap di tubuh Hiruma. Bagian inilah yang paling beresiko. Berkali-kali Yukimitsu meyakinkan dirinya bahwa ini rencana yang brilian. Tidak berbahaya. Safe!
Meski tidak dapat dipungkiri, apa pun yang berhubungan dengan Hiruma, semuanya pasti berbahaya.
"Psssttt. Kak Yuki, psssttt." Sena berbisik memanggil Yukimitsu dari celah jendela. Yukimitsu berpura-pura melihat bukunya tapi mulutnya sibuk komat-kamit.
"Udah siap?" tanya Yuki, matanya terpaku pada buku namun telinganya siaga.
"Sudah. Kita masuk ya," balas Sena, mengangguk ragu.
Yukimitsu tersenyum tipis.
Perlahan, semua peserta misi masuk ke kelas. Mulai dari Sena dan Monta—berbarengan, mereka mengobrol santai—Komusubi yang pura-pura ngemil, tiga bersaudara Ha-Haa, dan terakhir Taki, tertawa-tawa kegirangan sendiri laksana orang idiot.
Terkumpullah semua peserta!
Serentak semuanya berpandangan, memberi kode. Yukimitsu mengangguk, tanda misi siap dilaksanakan. Yang lain balas mengangguk, pandangan mereka serius. Perlahan mereka bergerak, mendekati objek dari misi tersebut: Hiruma!
Sena dan Monta memulai bagian mereka duluan.
"Ahhh~ Panas yah Sena! Rasanya jadi pengin minum jus pisang!" ucap Monta, menepuk pundah Sena pelan. Sena meringis. Monta salah pilih situasi! Padahal cuaca sedang dingin saat itu.
"Eh.. eng, iya ya. Kita latihan gak ya nanti?" tanya Sena, makin nggak nyambung. Matanya bergerak dalam kecepatan 4,2 detik, berputar ke kanan ke kiri.
Monta menoleh sedikit ke arah tiga bersaudara Ha-Haa, meminta mereka segera masuk ke adegan. Komusubi sudah terlebih dahulu pergi, punggungnya tegap dan pandangannya lurus. Begitu tiba di sebelah Sena, tank kecil itu mengangkat tangannya dan berkata, "FUGO!"
Kurita buru-buru menghampiri, menerjemahkan ucapan Komusubi. "Eh, itu katanya jelas kita harus latihan! Kita harus terus berjuang untuk menjadi lebih kuat. Deimon Devil Bats adalah tim terkuat saat ini! Tapi sangat disayangkan, kita memiliki tiga bersaudara Ha-Haa. Mereka begitu payah, aku ingin sekali mendepak mereka keluar!"
"HAH? HAH? HAAAAHHH!???" Tiga bersaudara Ha-Haa kompak bersuara. Emosi mereka refleks terpancing. Dihampirinya Komusubi dengan urat-urat sudah keluar di kepala.
"Apa maksudmu, HAH?" teriak Juumonji.
"Berani sekali kau mengatai kami!!" teriak Kuroki.
"Kau menantang kami!???" teriak Togano.
"FUGOOOOO!!!!" balas Komusubi, membuat mereka terlonjak dengan suaranya yang besar. Mereka sukses mendapat perhatian seisi kelas. Bahkan Hiruma ikut menoleh untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Ehhh.. Artinya.. Si.. Siapa takuuuttt.." Kurita menerjemahkan takut-takut. Tiga bersaudara Ha-Haa melotot.
"Oke.. SIAPA TAKUT!??" Ketiganya segera menyambar Komusubi, tangan dan kaki mereka bergerak, menendang dan memukul ke sana kemari. Lupa bahwa ini semua hanya skenario. Yukimitsu sampai geleng-geleng kepala. Salah menyuruh mereka melakukan adegan itu. Terlalu menjiwai!
Musashi dan Yukimitsu bergerak, berusaha melerai mereka. Sena dan Monta juga bergerak mendekati, tampak bingung. Menurut skenario, mereka akan berpura-pura terjatuh dan saat itu Yukimitsu mendekati Hiruma. Tapi kalau begini sih mustahil. Cari mampus mendekati arena pertempuran yang lagi ganas-ganasnya!
"Hei.. Hei.. Berhenti heiii!" Musashi berusaha melerai, nekat maju ke kancah pertempuran. Hiruma ikut bangun, menggaruk kepalanya kesal.
"Kalian ribut sekali, anak-anak sialan!!" bentak Hiruma marah. Kali ini tidak ada yang mempedulikannya. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
"Berhenti cepaaatttt!" Hiruma mengancam. Pistol yang selalu dibawanya kemana-mana sudah dikeluarkan. Yukimitsu mulai panik. Tepat saat kemarahan Hiruma memuncak, Mamori datang. Wajahnya memberengut.
"Hiruma, jangan kasar begitu!" omel Mamori. Langkahnya sedikit terhuyung, tapi dengan bertumpu pada meja, gadis itu dapat berdiri tegak. Hiruma mengawasinya tajam.
"Diam saja kau!" Hiruma membuang muka, tak kuat menatap Mamori. "Kembali ke tempatmu, Manajer sialan!"
"Tidak! Simpan dulu pistolmu baru aku duduk!" Mamori membandel. Hiruma berdecak kesal.
"Bisa tidak sih kau mendengarkanku sekali saja!?" teriak Hiruma yang meledak. Mamori melototi Hiruma marah.
"Kapan aku tidak mempedulikanmu!? Aku hanya menyuruhmu menyimpan pistolmu! Apa itu terlalu susah?!" balas Mamori, meledak juga. Yukimitsu dan Kurita gelagapan meleraikan dua pertengkaran yang sama-sama ganas.
Saat berusaha meleraikan, Yukimitsu tersandung tas sehingga jatuh menabrak Sena yang berdiri di dekatnya. Sena gelagapan, mencari pegangan untuk menahan jatuhnya dan dia sukses meraih leher Monta. Tercekik sekaligus ikut tertarik ke bumi, Monta segera menendang-nendang di udara dan meraih apa pun yang bisa diraih. Sial bagi Kuroki yang berada di dekatnya. Kepalanya sukses tertendang hingga terlompat dan menabrak Juumonji. Juumonji sendiri ikut menabrak Togano yang berada di belakangnya. Togano sempat memekik dan mengulurkan tangan—dia meraih kerah leher Kumosubi yang mendadak ikut meramaikan jatuhnya mereka semua dengan bunyi debam mengerikan. Taki juga tidak luput. Berkat dirinya yang selalu berputar-putar dan menaikkan kaki setinggi-tingginya, Monta berhasil mendapat apa yang dikiranya tiang. Padahal itu adalah kaki Taki dan dia segera kehilangan keseimbangan. Kurita yang ingin menolong malah terantuk kaki Sena yang terjulur dan ikut jatuh, menimpa semuanya dan sukses membuat mereka pingsan. Hanya Musashi yang berdiri tegak, kebingungan melihat tumpukan mayat di depannya.
"BERAT MAXXXX!!!" Monta berteriak, panik ditimpa Kurita yang berat. Buru-buru Musashi selaku yang masih selamat menolong kawan-kawannya. Yukimitsu bangkit dengan tertatih-tatih, kesakitan.
Yukimitsu sedang menggosok lengannya yang memar ketika menyadari sesuatu. Penyadapnya hilang! Padahal tadi ada di tangannya. Sekarang tangannya bersih dari benda apa pun!
"ARGH!!!" Yukimitsu berteriak histeris, matanya mencari-cari di sekeliling. Yang lain menatapnya heran.
"Ada apa?" tanya Musashi. "Terbentur? Mengenali diriku?" tes Musashi khawatir.
"Jelas aku mengenali dirimu. Penyadapnya hilang!" bisik Yukimitsu, takut terdengar Hiruma yang sudah menyimpan pistolnya dengan berat hati. Musashi terbelalak.
"Kita cuma punya satu kan! Itu pun hasil rampasan milik Hiruma!" kata Musashi bingung. Yukimitsu menggaruk-garuk kepalanya stres.
"Pasti terjatuh tadi! Waktu aku jatuh!"
Musashi menelusuri sekitar mereka seksama. Tak ada.
"Kau yakin?" tanyanya curiga. "Mungkin masih di sakumu.."
"Tidak! Aku yakin aku sudah memegangnya! Pasti—tunggu.." Yukimitsu menyipitkan mata, menatap Mamori yang tengah merawat Sena dan Monta. Apa itu di baju Mamori?"
Musashi melihat apa yang ditunjuk Yukimitsu dan langsung kaget.
"Apa! Jangan bilang.. penyadapnya tertempel di Mamori!!" ucapnya shock. Musashi dan Yukimitsu saling berpandangan. Terkesima dengan apa yang baru saja terjadi.
Ternyata, perasaan aneh yang menyelimuti Yukimitsu dari tadi adalah ini!
-XXX-
Yahhh~ Bagaimana nasib alat penyadap?
Apakah pengintaian berakhir mulus?
Apa Mamori bisa sembuh?
Tunggu saja di chapter berikutnya! Sekarang review plisss.. Hehehe.
Cukup klik ijo di bawah! ^^
