Disclaimer : I do not own Naruto beibeh *plak. Naruto belongs to Masashi Kishimoto.

.

.

.

Sakura terdiam membeku ditempat. Sekujur tubuhnya terasa kaku, sulit untuk digerakkan. Kedua matanya membuka lebar tidak percaya. Kedua bola mata emeraldnya menatap perih pria didepannya. Ucapannya membuat hati Sakura seperti ditusuk bertubi-tubi.

Bulir air mata mulai muncul dari sudut mata Sakura. Dengan cepat, Sakura mendorong dirinya menjauh dari Kakashi, berdiri didepannya dengan tatapan kecewa.

Kakashi meneguk ludahnya. Ia tidak berani mengangkat wajahnya untuk sekarang ini. Dengan berat, ia menarik nafas dalam-dalam.

Sakura mencoba mengepalkan tangannya.

"Kau gila?"

Tiba-tiba Sakura berbisik, namun cukup dapat didengar oleh Kakashi. Pria silver itu menggigit kecil bibir bawahnya, kemudian menggeleng pelan.

Wajah Sakura memerah, membendung perasaan marah dan kecewa pada pria ini.

Dan Sakura sudah tidak tahan lagi.

"KAU FIKIR BAYI INI ADALAH BONEKA YANG BISA KAU MAINKAN SEENAKNYA? KAU FIKIR BAYI INI ADALAH MAKANAN YANG TAK LAYAK MAKAN DAN PANTAS DIBUANG?"

Sakura berteriak dihadapan Kakashi, sangat, sangat, keras. Air matanya menetes.

Tiga bulan ia mempertahankan janin ini dengan penuh siksaan. Ia sangat mendambakan anak ini lahir dengan selamat. Ia sangat bahagia bahwa janin yang dikandungnya adalah milik Kakashi juga. Ia ingin melihat bayi ini lahir dan tumbuh besar. Ia ingin tahu, apa bayi ini memiliki rambut silver atau pink. Apakah bola matanya emerald atau onyx? Bagaimana wajahnya jika ia sudah tumbuh? Apakah mirip dengannya atau Kakashi? Ia sangat ingin melihat semua itu. Tapi, Kakashi…..

"Bayi ini hidup, Kakashi…..Bayi ini adalah ciptaan Tuhan yang tidak berdosa….—bayi ini adalah buah hati kita, Kakashi… Kau tega membunuhnya? Kau tega menghilangkan kesempatannya melihat dunia ini?" Sakura menyeka air matanya kasar, menatap Kakashi marah. Kakashi terdiam. Ia kembali meneguk ludahnya. Lalu ia memberanikan diri untuk memusatkan matanya pada Sakura, mengabaikan tatapan Sakura yang menusuk. Ia membuka mulutnya untuk berbicara.

"Makhluk itu monster."

Sakura menggertakkan giginya keras. "Bayi ini bukan monster! Dia manusia! Manusia sepertimu, Kakashi! Kau adalah ayahnya! Jika ia monster, kau apa? Ayah monster? !"

Kakashi menghela nafas, mencoba bersabar. Ia mendekat kearah Sakura, menjaga jarak darinya untuk menghindari aura membunuh-nya itu.

"Sakura….semakin besar usia kandunganmu…bayi itu akan semakin menyiksamu. Menyerap seluruh chakramu…dan chakraku." Jelas Kakashi, mencoba berhati-hati dengan ucapannya. Sakura menatapnya marah.

"Lalu? Jika hanya itu alasannya, aku tidak tertarik untuk menggugurkan bayi ini!"

"Sakura, bayi itu adalah monster. Dia menyiksamu. Membahayakan keselamatanmu. Dan jika ia lahir, Konohagakure akan dalam masalah besar. Kumohon….aku melakukannya untukmu—"

"IA BUKAN MONSTER, KAKASHI! DIA ADALAH ANAKKU, DAN AKAN SELALU MENJADI ANAKKU! Aku akan mendidiknya hingga ia tumbuh besar! Ia tidak perlu menjadi monster! Karena dia bukan monster! Kau lihat Naruto? Itukah monster bagimu? Jika kau tidak ingin menjadi ayahnya, PERGILAH!" seru Sakura keras, air matanya berlinang membasahi pipi putih mulusnya. Ketika Sakura menggerakan kakinya untuk berjalan menjauh, Kakashi menarik tangannya, kasar.

"Tidakkah kau sadar bahwa bayi itu membunuhmu perlahan?" ujar Kakashi dengan nada sarkasme. Ia menatap Sakura tajam. Sakura tertawa mengejek.

"Kau kira aku lemah? Kau selalu begitu! Aku akan mempertahankan bayi ini. Dan itu artinya, aku akan bertahan hidup untuk menyelamatkan bayi ini. Aku akan memberikan hidupku untuk bayi ini—meski kau tidak ada disampingku, sensei." Balas Sakura, tidak kalah dingin dan sarkasme. Nafas Kakashi memburu. Tingkat kesabarannya sudah hampir habis.

"Gugurkan monster itu, Nona Haruno."

Sakura terdiam. Perasaan marah dan kesal masih merasuki dirinya. Namun, ketika ia menatap kedua mata onyx suaminya itu, perasaan takut mulai datang. Kakashi jarang—sangat jarang terlihat sangat marah seperti ini. Wanita itu memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya.

"Pergilah. Cari wanita lain. Kau egois, sensei."

Dan kesabaran Kakashi benar-benar habis.

Dengan kasar, Kakashi mendorong Sakura sehingga menabrak dinding, keras. Sakura meringis kesakitan. Lebih lagi saat Kakashi mencengkram lengannya dengan kasar, menatapnya marah. Sakura balas menatap Kakashi. Ia benar-benar belum pernah melihat sikap kasar Kakashi seperti ini.

"Kaulah yang egois, Sakura!" bentak Kakashi, membuat Sakura terkejut. Sakura meronta-ronta, berusaha melepaskan cengkraman Kakashi yang terlalu keras. Namun dengan kondisinya yang sekarang—dan tenaga pria Kakashi yang lebih besar—ia tidak bisa melakukan apa-apa melainkan menatap tajam mata onyx Kakashi dan mata Sharingan-nya yang tanpa disadarinya diaktifkan.

"Oh ya? Apa Tsunade-shishou memintaku untuk mengugurkan kandunganku? Tidak!" Sakura mencoba mendorong dada Kakashi. Namun, Kakashi mendorongnya lagi.

"Aku suamimu, Sakura! Kau harus mematuhiku!"

"Perintahmu bukanlah perintah seorang suami! Aku tidak akan membunuh anakku sendiri! Lepaskan aku!" Sakura meronta lebih keras, membuat Kakashi mengencangkan cengkramannya. Sakura menggerakkan tangannya lebih keras, ketika ia berhasil melepaskan lengan kanannya dari Kakashi, tangannya bergerak untuk menampar Kakashi, namun aksinya berhasil dihentikan oleh Copy Ninja itu. Kini tangan Sakura dipiting di dinding, membuat ia tidak bisa melakukan apa-apa.

"Kau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa sekarang." Ujar Kakashi, menyindir soal chakra-nya yang diserap terus menerus oleh janin itu. Sakura menatap marah Kakashi.

"Sekarang aku mengerti mengapa teman-temanmu meninggalkanmu."

Wajah Kakashi berubah seketika.

"Kau egois. Hanya memikirkan dirimu sendiri. Membunuh bayi yang tidak berdosa hanya untuk menyelamatkan aku. Kenyataannya…aku tidak selemah yang kau fikirkan. Kau terlalu memandang remeh kekuatanku. Kau selalu begitu. Bukankah masa lalumu seperti itu, Kakashi? Aku mengerti sekarang. Inilah sifat aslimu. Egois."

Seketika, masa lalu pahit itu datang menghantui Kakashi. Sifatnya yang mementingkan dirinya sendiri daripada teman-temannya, memandang remeh kekuatan teman-temannya, terobsesi pada kekuatan, dan akhirnya….semua itu hilang seketika ketika…kematian menjemput mereka.

Kakashi menarik nafasnya, perih menjalar disekitar tubuhnya.

"Jangan-membawa-masa-laluku-dalam-masalah-ini." Bisik Kakashi penuh peringatan. Sakura tersenyum sinis.

"Kenapa? Sadar akan sifatmu itu? Kau masih ingin membunuh bayi ini? Atau kau lelah denganku dan berfikir untuk mengusirku dari sini dan mencari wanita lain—Hanare, mungkin? Aku tidak keberatan, Kakashi!" seru Sakura tepat didepan wajahnya. Kakashi memasang wajah peringatan. Sakura meneguk ludahnya, kemudian melanjutkan,

"—Biarkan aku menjadi salah satu yang hilang….akibat ulahmu juga."

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sakura.

Sakura sangat terkejut. Sangat terkejut. Ia merasakan panas dan perih menjalar di pipi kirinya.

Kedua matanya membulat lebar beberapa detik setelah ia menyadari bahwa Kakashi menamparnya.

Kakashi menamparnya.

Sangat keras.

Sakura memegang pipinya dengan kaku. Mulutnya tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Wajahnya pucat pasi. Sekujur tubuhnya membeku.

Sementara Kakashi hanya menatap Sakura tidak percaya. Beberapa detik setelah ia menamparnya, kesadaran pun langsung kembali padanya. Wajahnya tampak terkejut. Tangan kanannya mati rasa. Ia menurunkan tangannya dengan lemah. Kemudian memandang Sakura yang mulai meneteskan air mata. Jelas tampak dari wajahnya bahwa ia berusaha mati-matian untuk menahannya. Namun air matanya tetap menetes, membasahi wajahnya yang masih tampak terkejut—dan datar.

Kakashi menarik nafas dengan berat.

"Sakura…"

Sakura menyentuh lembut tangan Kakashi yang bergerak menuju wajahnya. Kemudian, ia memaksakan sebuah senyuman untuk Kakashi. Senyuman pahit yang membuat hati Kakashi tersayat. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sakura berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Kakashi yang masih berdiri disana tak bergerak.

Sakura membaringkan tubuhnya pada kasur empuk yang terasa keras baginya. Ia menyelipkan tangannya diantara bantal dan kepalanya. Wajahnya masih terlihat pucat. Air mata sudah berhenti mengalir dari matanya.

Mungkin dugaannya benar. Kakashi tidak mencintainya—maupun bayi ini.

Kakashi menghempaskan dirinya diatas sofa.

Ia mengacak rambut silvernya pelan. Tangannya langsung membungkam wajahnya dan meremasnya pelan.

Dengan helaan nafas, ia langsung menyandarkan punggungnya pada sofa tersebut, mendongakkan wajahnya sehingga kini bertatapan dengan langit-langit apartemennya.

Setitik air mata mulai muncul dari sudut mata Kakashi.

'Asal kau tahu….Sakura…. Aku sangat ingin bertemu 'Obito'…'

~oOo~

Kakashi membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat. Ia memegang kepalanya dan mencoba bangun dengan hati-hati.

Tiba-tiba, ia teringat kejadian semalam.

Ah, ya. Ia bertengkar dengan Sakura.

Kakashi menatap pintu kamar yang tertutup. Sakura pasti masih tertidur. Perlahan, ia menolehkan kepalanya pada jam dinding yang terpajang tak jauh dari posisinya sekarang.

Jam 9.

Kakashi pun berdiri, memutuskan untuk membangunkan Sakura—dan meminta maaf.

Saat Kakashi membuka pintunya, tak ada tanda-tanda dari Sakura. Ia mengernyitkan dahinya. Kemudian menatap sekitar.

Tidak ada surat atau apapun. Kosong.

Kakashi pun berjalan menuju lemari. Kemudian membukanya, menemukan pakaian-pakaiannya yang tergantung rapih disana…tanpa pakaian Sakura.

Kakashi menghela nafas.

Sudah ia duga pasti Sakura akan kembali ke flat-nya.

~oOo~

Sakura membaringkan kepalanya keatas bantal. Pandangannya kosong. Ia tidak percaya, ia benar-benar pergi dari apartemen Kakashi. Tanpa meninggalkan surat atau apa. Bahkan ia hanya menatap tubuh Kakashi yang sedang tertidur di sofa sebelum ia pergi.

Sakura menghela nafas berat.

Berawal dari sebuah misi yang diberikan Tsunade—lama kelamaan menjadi serumit ini. Mungkin sudah seharusnya ia menolak dari awal. Seharusnya ia tidak mencium Kakashi malam itu. Seharusnya ia tidak menyatakan cinta padanya….Seharusnya Kakashi tidak berpura-pura mencintainya.

Sakura memijat pelan keningnya yang terasa pusing.

Tiba-tiba, rasa itu pun mulai datang.

"Ugh…."

Sakura memegang perutnya, kemudian melengkungkan tubuhnya yang terbaring diatas tempat tidurnya. Ia meringis kesakitan. Tapi, ia berusaha sekuat mungkin agar tidak berteriak kesakitan.

Awalnya memang hanya sakit perut biasa. Namun lama kelamaan, rasa itu berubah menjadi rasa ditusuk dan dicabik-cabik. Perutnya serasa dikoyak dan disobek dari dalam. Sakura merintih dan berteriak kecil, tangannya meremas keras—sangat keras—seprei dibawahnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya. Semakin keras ia mencoba melawannya, semakin perih pula siksaan yang diberikan bayi itu.

Sakura menggigit bibir bawahnya dengan keras, mencoba tidak berteriak dan menahan rasa sakit itu.

'Tidak, aku tidak membutuhkan Kakashi. Aku bisa melakukan semua ini.'

Dan rasa itu kembali menusuk perutnya.

"AAARGH!" Jerit Sakura, membenamkan wajahnya pada bantal sehingga suara teriakannya teredam. Ia meremas keras sepreinya. Kedua kakinya terasa lemah, ia bahkan tidak bisa merasakannya lagi. Air mata muncul dari sudut mata Sakura. Tangan Sakura bergerak untuk mengelus perutnya yang terasa sakit itu.

"Hentikan…..kumohon…hentikan….—AAARGH!"

Sakura menarik seprei-nya semakin keras, mencengkramnya, dan mencakar-cakarnya. Wajahnya dipenuhi keringat dingin.

Ia pun mencoba menggerakan kakinya. Dengan nekat, ia bangkit dari tempat tidur, kemudian berdiri dengan tubuh yang tidak seimbang. Wajahnya pucat pasi. Bibirnya tampak mengeluarkan darah akibat terus menerus digigit.

Kakinya pun kehilangan keseimbangan ketika rasa itu muncul lagi.

Sakura terjatuh di lantai, berteriak sekencang-kencangnya setiap bayi itu menyiksa dirinya. Tangannya terulur kearah kasur, mencoba menjangkaunya dengan lemah. Namun, tangannya kembali terjatuh, ia menyeretnya pelan untuk menggulungkan kedua tangannya disekitar perutnya. Ia kembali menjerit kesakitan.

Tiba-tiba, tubuhnya terasa diangkat. Sakura membuka matanya. Pandangannya kabur, semua tampak berputar. Sampai akhirnya, ia merasakan tubuhnya dibaringkan diatas tempat tidur. Sebuah rasa hangat terasa disekitar perutnya. Dan semakin lama, rasa sakit itu perlahan hilang. Sakura menghela nafas lega, masih mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat menahan rasa sakit itu.

Sebuah tangan menyentuh jemarinya lembut.

Sakura membuka matanya, samar-samar terlihat seorang pria yang duduk ditepi tempat tidurnya. Ia mengedipkan beberapa kali matanya, mencoba menormalkan kembali pandangannya.

"Sakura…"

Itu Kakashi, ya. Tentu saja. Mengapa ia tidak mengira sebelumnya? Hanya Kakashi-lah yang mampu membuat rasa sakitnya hilang.

Sakura menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya sejenak. Kakashi mendekat kearah Sakura, mengelus rambut pink-nya perlahan. Sakura tampak menghindari tangan Kakashi dengan memalingkan wajahnya ke samping. Kakashi menghela nafas, kemudian mendekatkan wajahnya kearah Sakura, dan mencium keningnya lembut. Sakura meneguk ludahnya.

"Sudah tidak apa-apa." Bisik Kakashi pelan, membuat Sakura mengangguk lemah. Perlahan, Sakura bergerak menjauh dari Kakashi, membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Kakashi, dan memejamkan matanya.

Kakashi terdiam disana, tidak tahu harus berbuat apa.

Ia datang untuk meminta maaf, tapi sekarang mulutnya terkunci, tidak tahu harus berbicara apa dengan wanita didepannya ini.

Dengan helaan nafas, Kakashi melepas kedua sandal ninja-nya, dan kemudian berbaring disamping Sakura, membawa kedua tangannya diatas kepalanya. Kedua matanya bertatapan dengan langit-langit flat Sakura.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Sakura memecah keheningan. Kakashi menoleh kearahnya, terdiam sesaat. Kemudian, pria itu mengarahkan pandangannya kembali ke langit-langit.

"Menyembuhkanmu."

Sakura meneguk ludahnya. "Benarkah? Jika sakit itu tidak kambuh, apa kau masih akan mengunjungiku?"

Kali ini, Kakashi benar-benar terdiam.

"Kau pasti memiliki tujuan tertentu untuk datang kesini….—selain menyembuhkanku."

Kakashi meneguk ludahnya, kemudian menatap punggung Sakura. Untuk beberapa saat, ia ragu-ragu untuk berbicara. Namun akhirnya, suara baritonnya pun terdengar.

"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak memukulmu semalam."

"Aku mengerti. Aku yang salah. Aku yang harus meminta maaf. Seharusnya aku tidak membawa masa lalumu."

"Tapi...bersikap seperti itu padamu membuatku…." Kakashi terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya. Sakura menghela nafas.

"Kau masih berfikiran untuk menggugurkan anak kita, Kakashi?"

Kakashi membuka mulutnya sejenak sebelum berbicara, "Aku hanya ingin kau selamat."

"Tidakkah kau memikirkan tentang bayi ini?" Sakura menolehkan kepalanya sedikit, membuat Kakashi menatap pipi putih mulusnya itu. Kakashi terdiam. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya pada kasur Sakura. Ketika tidak mendengar respon dari Kakashi, Sakura memutuskan untuk bicara lagi.

"Kumohon fikirkan lagi, Kakashi." Pintanya lirih.

"Aku mengkhawatirkan kondisimu."

"Aku tidak apa-apa. Kenapa kau begitu khawatir?" ujar Sakura dengan tawa kecil. Kakashi menatapnya lama. Pria itu mendekati istrinya, sehingga kini wajahnya berada didekat telinga Sakura. Ia menatap wajah Sakura dengan serius. Wanita itu tidak membalas tatapan suaminya, melainkan menatap jendela yang tampak menarik baginya untuk dipandang.

"Kau masih tidak percaya?"

Sakura tidak merespon.

Kakashi membasahi bibir bawahnya yang terasa kering.

"Apa yang harus kulakukan agar kau percaya?" tanya Kakashi, masih menatap wajah istrinya itu. Sakura menghela nafas. Akhirnya Kakashi melontarkan pertanyaan itu.

"Biarkan aku merawat bayi ini hingga ia dewasa nanti."

Kakashi memejamkan matanya. Kemudian menggelengkan kepalanya perlahan.

"Aku tidak bisa."

Kali ini, Sakura menatap Kakashi tajam.

"Kenapa? Akulah yang menjalani ini semua, Kakashi. Dan aku tidak apa-apa…"

Kakashi menggerakkan tangannya. Ia mengelus pelan tangan mulus Sakura. "Bayi ini berbahaya, Sakura…"

"Tidak berbahaya bagiku." Tegas Sakura, mencengkram erat tangan Kakashi yang semula mengelusnya. Kakashi menatap Sakura tajam. "Jika orang-orang bilang bayi ini membunuhku, aku masih akan mempertahankannya. Jika orang-orang menganggap bayi ini adalah monster, aku akan tetap menyayanginya. Jika orang-orang mencibirnya, aku akan bilang padanya bahwa ia adalah anugerah terindah bagiku. Jika orang-orang menjauhinya…."

Sakura menatap Kakashi tajam, sebutir air mata mulai muncul di sudut matanya. Dan Kakashi dapat melihatnya dengan jelas.

"…aku akan tetap berada di sisinya…hingga ajal menjemputku." Tuntas Sakura, masih menatap Kakashi penuh harap. Kakashi hanya terdiam memandang istrinya. "…kuharap kau juga mendukungnya, Kakashi."

"Sakura, aku sangat mencintaimu."

"Kau berbohong."

"Sakura…."

"Jika kau benar-benar tulus, kau pasti mendampingiku melewati semua ini! Bukan malah menjauh dan menyuruhku menggugurkan kandungan ini!"

"Jika bayi ini membunuhmu, Sakura…aku tidak sanggup melihat orang yang kucintai pergi meninggalkanku—lagi."

"Ia tidak membunuhku, Kakashi."

"Tidakkah kau mengerti, Sakura?"

Kakashi mendekatkan wajahnya pada Sakura. Jarak mereka hanya beberapa senti. Sakura terdiam. Kemudian, Kakashi semakin mendekatkan wajahnya pada Sakura, membuat Sakura menarik nafas dalam-dalam dan menutup matanya.

Bibir mereka bertemu.

Kakashi mencium Sakura dengan lembut dan hati-hati, tidak ingin sedikit pun menyakiti wanita yang sangat ia cintai itu. Sakura melingkarkan kedua tangannya disekitar leher Kakashi, memperdalam ciuman mereka. Kakashi menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya agar tubuhya tidak menindih Sakura. Kakashi menggigit kecil bibir bawah Sakura, membuat Sakura mengerang kecil.

"Ka….kashi…umph—" Kakashi melahap bibir Sakura lagi, membuat Sakura melayang. Ia makin menarik Kakashi dengan kedua kakinya, membuat Kakashi terjatuh dan menindih tubuhnya. Kakashi mencoba untuk tidak membebani perutnya yang sedang mengandung itu.

Perlahan, Sakura menjelajahi tubuh Kakashi. Mulai dari bahu kokohnya, punggungnya yang kekar, pinggangnya yang ramping namun padat berisi, perutnya sixpack-nya yang tertutup pakaian, dan dada bidangnya. Sakura menemukan resleting vest Jounin Kakashi, tanpa aba-aba lagi, Sakura menurunkannya dan melepaskannya dari tubuh Kakashi.

Kakashi melepaskan ciumannya dari Sakura, sadar jika mereka sudah melampaui batas.

"Sakura..—"

Sakura langsung menarik Kakashi dalam ciuman lagi. Kini Kakashi hanya bisa pasrah dan membalas ciumannya itu. Sesekali ia melepaskan ciumannya untuk bernafas, dan kemudian Sakura menariknya kembali dalam ciuman panas mereka.

Sakura bergerak untuk melepaskan baju biru donker-nya itu hingga kini Kakashi benar-benar topless. Sakura memeluk punggung Kakashi erat dan kemudian bergerak menuju wajahnya.

Tangan kanannya masih menahan wajah Kakashi agar tetap menciumnya. Sementara, tangan kiri Sakura bergerak menuju resleting bajunya, dan menurunkannya perlahan, menampilkan bra berwarna pink yang ia kenakan. Kakashi menyadari apa yang dilakukan Sakura, dan berusaha menghentikkan ciuman mereka.

"Sakura..—hentikan…"

"Kakashi…"

Kakashi melepaskan ciumannya dan langsung menjauh dari Sakura. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah. Kakashi menatap Sakura untuk sesaat. Sakura tampak terkejut akan Kakashi yang tiba-tiba mendorong dirinya menjauh. Nafasnya terengah-engah. Bajunya setengah terbuka, membuat Kakashi mengalihkan pandangannya dan berbalik memunggungi Sakura.

"Maaf."

Sakura meneguk ludahnya, kemudian memusatkan pandangannya pada suaminya. Perlahan, ia bangkit dari tidurnya, dan merangkak menghampiri Kakashi. Ia pun meletakkan dagunya diatas bahu kokoh Kakashi, membuat Kakashi sedikit terlonjak. Tangannya bergerak untuk memeluk Kakashi diantara lehernya.

"Kakashi….mungkin kau berfikiran jika…jika kita bisa melakukan itu lagi ketika bayi ini digugurkan…" Sakura berbisik di telinga Kakashi, membuat Kakashi menoleh padanya.

"….kurasa aku tidak bisa hamil lagi ketika anak ini lahir….atau digugurkan."

Kakashi membulatkan kedua matanya. Kemudian, ia melepaskan kedua tangan Sakura yang melingkar di lehernya.

"Jangan mengancamku."

"Kakashi, aku serius…."

"Sakura, kau belum tahu kepastiannya. Kau hanya mengancamku agar kau bisa tetap mempertahankan kandunganmu."

Sakura mengernyitkan dahinya, kemudian melepaskan Kakashi, menarik kembali resleting bajunya keatas. Ia pun langsung berdiri, dan meraih baju dan vest Kakashi, kemudian melemparnya ke wajah suaminya itu.

Dengan kesal, Sakura berjalan keluar kamarnya, meninggalkan Kakashi sendirian di kasurnya. Dengan pandangan bingung, Kakashi mengikutinya dari belakang tanpa memakai bajunya terlebih dahulu.

Kakashi menolehkan kepalanya, mencari Sakura. Kemudian pandangannya tertuju pada rambut pink yang kini berada di dapur, mengambil sesuatu. Kakashi menghela nafas, kemudian menghampirinya.

Ketika Kakashi hendak menyentuh bahunya, Sakura memutar tubuhnya sehingga kedua mata emeraldnya menatap bosan Kakashi. Kakashi membulatkan matanya.

"Sakura…..apa yang kau….—"

"Mari kita buktikan. Apakah aku salah, atau benar."

"Apa yang kau lakukan…Sakura..?"

Sakura tersenyum sinis.

"Menggugurkan kandunganku. Seperti yang kau inginkan, sayang."

Kakashi meneguk ludahnya. "Sakura…turunkan pisau itu."

Sakura menggenggam erat pisau itu, kemudian ia menatap Kakashi tajam. Keraguan masih tampak di wajahnya. Kemudian, ia mulai mengayunkan pisau itu.

"Sakura, kumohon. Bukan begini caranya…."

"Oh ya? Lalu bagaimana? Bukankah begini caranya untuk membunuh bayi yang tidak berdosa itu, Kakashi?"

"Sakura…letakkan-pisau-itu." Ujar Kakashi penuh peringatan. Sakura meneguk ludahnya. Kemudian menggeleng.

"Aku akan lakukan apa yang kau minta, Kakashi…."

Kakashi berjalan mendekat kearah Sakura dengan hati-hati. Ia menatap mata Sakura, berharap ia tidak serius dengan perbuatannya itu.

"Sakura…tolong…"

Semakin Kakashi melangkah mendekat, semakin Sakura mendekatkan pisau itu pada perutnya. Nafasnya memburu, membuat Kakashi semakin panik.

Dan sebelum Sakura bertindak lebih lanjut, Kakashi langsung menggenggam tangan Sakura yang memegang pisau tajam itu, menjauhkannya dari perutnya.

"Lepaskan! Kau bodoh! Kau yang meminta ini semua!"

"Bukan begini caranya, Sakura." Ujar Kakashi, berusaha setenang mungkin. Sakura meronta lebih keras. Kakashi berusaha menahan kedua tangannya.

"Sakura, letakkan!"

"Minggir!"

Pisau itu mulai mendekat lagi kearah perut Sakura. Kakashi menjauhkannya lagi.

"Sakura!"

Sakura tidak merespon. Ia menaikkan tangannya, bersiap-siap untuk mengayunkannya kearah perutnya. Kakashi semakin panik. Tubuhnya sudah berusaha menahan Sakura, namun pisau itu…..

"Baiklah, Sakura! Kau boleh mempertahankan kandunganmu—kita akan mempertahankannya!" seru Kakashi dengan nada panik. Sakura berhenti meronta. Ekspresinya datar, tidak terbaca. Kakashi mengatur nafasnya. Kemudian, ia langsung menyingkirkan pisau yang berada di tangan Sakura.

Kakashi menghela nafas lega, menatap Sakura yang kini menatap kosong kearah lantai.

"Sakura…."

Sakura tersenyum, kemudian mendongakkan wajahnya untuk bertatapan dengan Kakashi.

"…Aku yakin kau masih peduli dengan bayi ini….—bayi kita, Kakashi…"

Kakashi tidak berkata apa-apa lagi. Ia memeluk Sakura dengan erat. Sakura tersenyum bahagia. Ia memeluk tubuh topless Kakashi dan membenamkan wajahnya pada leher Kakashi.

"Maafkan aku."

TBC

.

.

.

A/N : Oke…chapter ini kayaknya biasa-biasa aja yah *muka muka gak ada inspirasi*. Hmm… chapter depan, mungkin anak KakaSaku bakalan lahir. Jadi keep reviewing yaa. Review kalian membuat saya tambah semangat untuk menulis. Yosh! Segini aja. Maaf kalau kurang memuaskan.

Ngomong-ngomong...Ini fic selesai sampe chapter berapa ya? -_- *plak *nanyasendiri

R&R?