FF BAP/YAOI/BANGHIM & All Couple/ONE SHOT/Part 14

Title: One Shot

Author: Bang Young Ran

Rating: T (Warning: Gun shoot)

Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Crime(?)/AU

Length: Chaptered

Main Cast:

Kim Him Chan *(^3)(0.0)*

Bang Yong Guk~~ *Gukie~ (/)*

Support Cast:

DaeLo (Jung Dae Hyun & Choi Zelo/Jun Hong)

JongJae (Moon Jong Up & Yoo Young Jae)

Daniel Philip Henney

Dennis Henney (Dennis Oh)

Samuel James (OC)

Andi (Shinwa)

Bang Min Ki ( I don't know with u, Guys, but when I make typing this ff, I just imagine Uri Little Min Ki is... Lee Jong Suk^0^)

Jun Hyo Sung (Secret)

Disclaimer: BAP is TSEntertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*

Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! MPREG! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!

Summary: Kim Him Chan adalah seorang polisi yang ditugaskan untuk menyamar, menjadi salah satu anggota geng yang disebut The Mato's. Dalam penyamarannya, Him Chan berperan sebagai kekasih Bang Yong Guk, si pemimpin geng The Mato's. Lalu, akankah Him Chan berhasil menjebak The Mato's? Atau dia harus terjebak, terperosok begitu dalam atas kasih sayang dari seorang Bang Yong Guk?!

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?

.

.

~~( ^3)(.o )~~

.

.

TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT

HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^

.

.

.

One Shot

Part 14

This is a modern fairytale.

No happy endings.

No wind in our sails.

The future that we hold is so unclear,

But I'm not alive until you call.

I can't imagine a life without.

There's a million reasons why I should give you up,

But, the heart wants what it wants~

—Selena Gomez : Heart Wants What It Wants—

DOR!

"Fuckin' hell!" Dennis mengutuk saat nyaris sebuah selongsong peluru bersarang di pahanya. Beruntung saja peluru itu melence—

Tunggu,

Ralat. Itu... sepertinya bukan benar-benar selongsong peluru...

DOR!

Damn! Nyaris lagi!

Dan sekarang Dennis dapat melihat benda yang pada awalnya ia duga peluru itu dari dekat. Tepat tertancap di samping kepalanya, pada badan van, sebuah benda berbentuk anak panah kecil dengan tabung berisi cairan hijau...

"What the—"

"Komisaris! Itu peluru bius!" Andi tiba-tiba sudah berdiri di samping Dennis dengan mata menatap waspada ke sekitar, tangannya memegangi erat senjata.

"Bagaimana kau bisa—" Sang komisaris mengurungkan pertanyaan begitu dilihatnya, di kejauhan, satu demi satu anggota tim-nya jatuh tak sadarkan diri di jalanan beraspal. Beberapa di antara mereka bahkan berdiri terhuyung, berusaha mempertahankan kesadaran. "Fucking Crap. Apa tujuan mereka sebenarnya menembaki kita dengan peluru bius?"

"Mereka... ingin membuat kita tidak sadarkan diri?" Andi menjawab Dennis ragu; seolah atasannya itu lupa dengan apa yang jelas akan terjadi bila seseorang tertembak peluru bius.

Alhasil, Dennis mengerang jengkel. Well, tangan kanannya memilih waktu yang tepat untuk bersikap linglung. "Ugh, aku tahu itu, Andi. Maksudku, kenapa mereka repot-repot membuat kita hilang kesadaran? Kenapa mereka tidak menggunakan peluru biasa untuk melukai ki—" Kesadaran menghampiri Dennis secepat rasa bingung itu mengganggunya.

Seakan memiliki pikiran yang sama, Andi balas menatap pria blasteran di sampingnya nanar. "Komisaris, mungkinkah... The Mato's tidak ingin melukai kita?"

Deg~

Meskipun dugaan serupa juga mengusik pikirannya saat ini, Dennis tetap saja bergetar mendengar Andi menyuarakan hal itu secara langsung. The Mato's tidak ingin melukai mereka? Para polisi? What the hell this people have in mind?! Kenapa The Mato's membuat mereka—pihak berwajib—merasa berada di pihak yang salah?!

Deg, deg, deg, deg...

'What kind of people The Mato's exactly is?'

DOR!

DOR!

Dua polisi yang berlindung pada badan van sontak terlonjak, menghindar dengan gesit saat lagi-lagi tembakan mengarah pada mereka. Sialnya, keduanya tidak dapat melihat si penembak. Terima kasih pada dua rongsokan jeep yang diselimuti kobaran api dan asap hitam pekat membubung tinggi.

"God damnit! I can't see anything!" Lagi-lagi Dennis mengutuk. Kedua tangannya mengacungkan senjata ke arah kobaran api. "Kenapa mereka ada di mana-mana?!"

"The Mato's menyerang kita dari dua sisi, Komisaris. Dari arah depan dan belakang."

"Tsk! They're come in planning, huh?! Andi, cover me!"

Dennis berjalan pelan menuju sisi samping rongsokan jeep dengan badan membungkuk dalam dan kaki tertekuk; berusaha membuat siapapun yang menembaki mereka saat ini, kesulitan mengunci sasaran.

DOR!

DOR!

Andi mengekor di belakang sang atasan, menembaki tanpa arah pasti ke arah kobaran api di depan mereka. Dia tidak punya pilihan lain. mereka seperti menghadapi musuh tanpa wujud saat ini. Terus menembak adalah pilihan terbaik dibanding hanya berdiam diri menunggu pelur – ah, tidak, panah bius, milik lawan mengenai mereka.

Tap!

Dennis berhenti dan berbalik, memberi kode pada bawahannya dengan dua jemari di bibir, lalu kemudian mengarahkan jemari tersebut ke sisi tubuhnya. "Kau menyelinap ke belakang jeep mereka. Aku akan mengurus yang di sini," bisiknya pelan.

Well, ternyata bukan hanya mereka—polisi—saja yang terganggu jarak pandangnya oleh kobaran api dan asap. Buktinya, tiga orang bersenjata di balik rongsokan mobil, tidak menyadari kalau saat ini Dennis dan Andi tepat berjongkok di sisi ujung rongsokan.

Pantas saja beberapa tembakan peluru bius tadi meleset, eoh?

##########^0^##########

DOR!

DOR!

"Yah! JUNG BABBO! Bisakah kau menembak dengan benar? Kenapa kau memilih bodoh di saat-saat seperti ini?!" Young Jae berteriak geram, berusaha mengalahkan ledakan suara senjata api beruntun di sekitar mereka. Bagaimana tidak jengkel bila Jung Dae Hyung yang mereka harapkan, malah sibuk menggerutu, berkata kalau asap dan api mengganggu pandangannya.

"Asapnya masuk ke dalam mataku, Chubby Cheeks! Kau tidak bisa menyalahkanku begitu saja!"

DOR!

"SHIT!" Mata doe milik Young Jae terbelalak lebar. Nyaris saja, timah panas menembusi kepalanya! Alhasil namja manis itu meninggalkan perdebatan... konyol? Ne, konyol-nya dengan Dae Hyun dan beralih fokus ke depan tanpa menyadari... sosok hitam bergerak cepat dari arah samping...

"HYUNG, AWAS!"

Grab!

Crak!

"Don't move, Yoo Young Jae~!" Dennis berbisik tajam tepat di samping telinga kanan Young Jae. Satu tangannya yang tidak memegangi senjata mencekal leher namja manis itu dari belakang.

Zelo yang baru saja berteriak, mematung di tempat. Hanya Dae Hyun lah yang sigap dan secepat mungkin mengacungkan senjata tepat ke dahi... pria paruh baya berwajah blasteran... oh, inikah ayah Daniel?! Dennis Henney, 'kan? Wow. Daniel obviously runs from the gorgeous blood!

"Aku akan menurunkan senjata kalau jadi kau, Jung Dae Hyun." Dennis menatap wajah tampan milik Dae Hyun tajam hanya untuk merubahnya dengan seringai penuh arti sembari menunjuk dengan dagu ke arah samping jeep, di mana sebelumnya Zelo hanya berdiri sendiri. Tadinya.

"Turunkan senjatamu, Jung Dae Hyun!" gertak Andi keras.

Berbeda dengan Dennis, nada intonasi yang Andi gunakan terdengar lebih tajam dan menuntut. Namja itu tidak akan segan-segan menarik pelatuk dan meledakkan kepala Zelo dalam cekalan lengannya saat ini.

Dae Hyun terjepit. Mata besarnya menatap cemas ke arah sang kekasih, lalu beralih menatap Young Jae yang terlihat tengah mencoba melepaskan cekalan besi Dennis dari lehernya.

"Turunkan senjatamu, Jung Dae Hyun. Kau tidak ingin, 'kan, kepala Choi Jun Hong-Mu ditembusi peluru~?"

Mata Dae Hyun menyipit, komisaris polisi ini tahu TERlalu banyak tentang mereka. "Kalau anak buahmu berani menembak, kau tidak akan punya waktu untuk menyesali keputusanmu, Komisaris Henney~" ancamnya balik, sengaja melafalkan nama sang komisaris dengan jelas. Well, bukan hanya Dennis 'yang' tahu segalanya.

Sesaat terjadi ajang saling tatap di antara keduanya. Dennis tidak ingin mengalah, begitupula Dae Hyun yang semakin memposisikan senjata di dalam genggamannya.

Deg,

Deg,

Deg...

Zelo dan Young Jae mulai melirik satu-sama-lain, tanpa kentara dua makhluk manis itu menganggukkan kepala. Secara perlahan, tangan kiri keduanya menekuk ke atas hanya untuk menghentakkannya sekuat tenaga ke belakang.

BUGH!

(("AKH!))

Dennis dan Andi berteriak kesakitan; merasakan sudut siku bertemu hantam dengan tulang rusuk mereka. Cekalan keduanya sedikit melonggar dan kesempatan tersebut tentu saja tidak dilewatkan oleh Young Jae dan Zelo, yang dengan sigap memegangi erat tangan bersenjata kedua namja itu, menekan lengan bawah mereka melewati bahu dan...

BRUK!

... membanting dua tubuh berukuran besar tersebut ke jalanan beraspal. Membuat senjata dalam genggaman keduanya terlepas, yang langsung ditendang jauh oleh Young Jae dan Zelo.

Siiiiiiiiiiiiingggg...

O. My...

Semua terjadi begitu cepat.

Dae Hyun menganga; tidak mempercayai apa yang baru saja dilihat oleh mata-kepalanya sendiri. "B-bagaimana... d-darimana k-kalian mem-mempelajari..." Dia bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menyuarakan keterkejutannya.

Young Jae menyeringai penuh arti. "What? Karate?"

"Kkkk~ Kami mempelajarinya dari Hime Hyung, Dae Hyung." Zelo menjelaskan, mewaspadai kalau-kalau Young Jae dan Dae Hyun mulai berdebat karena hal sepele lagi. Seperti biasa.

"Wow. That was..."

"Awesome?" Young Jae menimpali dengan bangga, membuat Dae Hyun bersungut dan membuang muka jengkel. Mau tidak mau namja itu harus mengakui, Zelo dan Young Jae terlihat keren. Freakin'-damnly cool for exactly.

DOR!

DOR!

Terdengar tembakan di balik kobaran api, membuat tiga orang namja yang berdiri pada sisi satunya reflek menunduk, secara insting melindungi kepala mereka dengan kedua lengan.

"Dammit! Masih ada polisi yang tersisa! Kemana Jong Up dan partner-nya?! Chubby Cheeks, Jungie, bereskan mereka berdua!" Dae Hyun tidak perlu memerintah dua kali dan berlalu pergi berputar melewati rongsokan jeep, dengan waspada mendekati van tahanan.

Sementara Young Jae dan Zelo, keduanya saling bertatapan lalu mengangguk, mengangkat senjata berpeluru bius dalam genggaman mereka dan,

Dor!

Dor!

Menembak dua namja yang berbaring, mengerang kesakitan di jalanan beraspal.

~~~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~~

"Jong Up, peluruku habis! Bagaimana denganmu?"

Jong Up merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah magazen peluru isi ulang dan melemparkannya pada Daniel yang langsung namja itu tangkap dengan cekatan. "Itu yang terakhir! Peluruku juga habis!" teriaknya keras, berusaha melawan suara bising ledakan senjata api di sekitar mereka.

Daniel hanya membalasnya dengan anggukan mengerti. Ugh, siapa yang menduga kalau appa tercinta-Nya akan membawa puluhan pasukan polisi hanya untuk mengawal satu orang tahanan?! Err, tahanan yang sangat penting, sebenarnya.

Dor!

Dor!

Dua tembakan mengenai badan mobil patroli tempat Jong Up berlindung, membuatnya mau tidak mau membawa tubuh membungkuk sedalam mungkin. "Ugh! Kemana Dae Hyun Hyung?! Kita kehabisan peluru di sini! Dia selalu menghilang saat dibutuhkan!"

Jarak mereka yang hanya satu mobil patroli polisi, membuat Daniel dapat mendengar dengan jelas gerutuan Jong Up. Alhasil, namja blasteran itu tidak kuasa menahan kikikan, mendapati kalau ternyata, The Mato's nyaris dipenuhi oleh orang-orang jenius yang seringkali berprilaku konyol. Childish kalau boleh dikatakan.

DOR!

Menggerutu membuat perhatian Jong Up lengah. Beruntung Daniel melihat seorang polisi mendekat di belakang namja itu dan menembaknya tepat pada bagian paha.

"Oh! Thank's, Hyung! You saving my life!"

"No problem. Pergilah ke van duluan. I'm gonna cover you."

Jong Up mengangguk. Mata sipitnya mulai mengamati sekitar, mencari keberadaan musuh. Kebanyakan dari mereka—polisi—telah tumbang tidak sadarkan diri di bawah pengaruh obat bius. Hanya tinggal 4 atau 5 orang yang bersembunyi di antara dua mobil patroli. Jarak mereka cukup jauh, dan sepertinya, jumlah segelintir polisi itu akan menipis dalam sekejap. Jong Up dapat mendengar dari kejauhan teriakan kesakitan mereka bertepatan setelah ledakan dari senjata dalam genggaman Daniel. Namja blasteran itu sangat bisa diandalkan, menurutnya.

Dor!

Dor!

Tanpa membuang waktu, Jong Up berlari ke arah van hanya untuk berhenti di pertengahan jalan. Ada pergerakan dari arah depan. Membuatnya reflek berlari cepat dan bersembunyi pada lekukan pintu belakang van yang sedikit terbuka.

Tep, tep, tep, tep...

Glup~

Entah kenapa Jong Up tiba-tiba gugup. Selain jumlah peluru di dalam senjatanya menipis, menembak-sangat-tepat-sasaran bukanlah keahliannya. Bagaimana kalau nanti itu tim SWAT? Mereka pasti bersenjata lengkap, 'kan? Keahlian beladiri yang dikuasainya tidak akan berguna pada saat-saat seperti ini! Ukh...

Tap.

Tap.

Suara langkah kaki semakin mendekat. Jong Up tidak punya pilihan lain; menyerang duluan dan menembak, atau dirinya yang tertembak?

Tap.

Tentu saja dia duluan yang akan menyerang!

Sret!

CRAK!

"Don't mo – HYUNG!?"

Bola mata Dae Hyun nyaris melompat. Ujung senjata Jong Up, tepat menekan puncak hidungnya!

"What the f – YAH! YOU ALMOST SHOT ME, YOU DUMBASS!" omel namja tampan tersebut melengking.

Yang diomeli langsung menarik kembali senjatanya dengan cengiran lebar. "Hehehe, mian, Hyung. Seharusnya hyung mendekat sambil berteriak 'Aku Dae Hyun!', 'kan? Aku pasti tidak akan mengacungkan senjata kalau aku tahu itu kau, Hyung!"

Dae Hyun menyipitkan mata. Apa-apaan ini? Apa Jong Up tengah mengajaknya bercanda? Oh, inikah lelucon 4D ala Moon Jong Up yang sering Zelo ceritakan padanya? "Itu. Tidak. Lucu. Moon. Jong. Up. Kau mulai bersikap seperti Young Jae mengolok-olokku, eoh?"

"Aku tidak mengolok-olokmu, Dae Hyun Hyung. Jangan berburuk sangka. Mana Youngie dan Zelo?"

Setelah membuat orang kesal, Jong Up mengalihkan pembicaraan begitu saja? Oh. Oke. Moon Jong Up seratus-persen telah tercemar virus menyebalkan ala Yoo Young Jae. "Tsk! Mereka di belakang. Mana partner-mu?"

"Daniel? Dia..."

"Hei!"

Jong Up tidak perlu repot-repot menjawab karena orang yang ditanyai muncul sendiri di sampingnya. Dengan nafas terengah dan kening berkerut. "Hyung? Kau... baik-baik sa—"

"OMO! Kau terluka?!" Dae Hyun menyela dengan teriakan. Mata besarnya menatap nyalang pinggul kiri Daniel yang dirembesi darah segar. Bahkan, beberapa tetes darah berjatuhan ke aspal.

Tentu saja pemandangan tersebut membuat mata Jong Up terbelalak. Meskipun tahu misi ini sangat berbahaya tapi, sehausnya tidak ada yang terluka! "Kau tertembak, Hyung?!"

"Ukh... polisi yang terakhir sedikit sulit dijatuhkan... sshh... tapi aku baik-baik saja. Sebaiknya kita bergerak cepat. Hujan sepertinya mulai turun."

Benar.

Tetes demi tetes air mulai berjatuhan dari langit. Hanya berselang beberapa detik tetesan air berubah menjadi gerimis ramai. Mereka harus bergerak cepat. Karena sepertinya, bukan hanya gerimis biasa yang akan turun. Di kejauhan pun, gemuruh pelan mulai terdengar.

Seakan tidak perduli dengan keadaannya, Daniel meraih handle pintu belakang van dan membukanya lebar.

Namun,

Daniel terpaku.

Apa yang dilihatnya di dalam van bukanlah sesuatu yang bisa di-handle oleh hatinya dengan mudah. Oleh karenanya, Daniel berbalik. Namja blasteran berwajah tampan itu tanpa berbicara apa-apa segera pergi menjauh dan memilih menyandarkan punggung serta bagian belakang kepalanya ke badan van. Seolah memberi ruang kepada anggota The Mato's yang 'sebenarnya' untuk menyaksikan keadaan leader mereka. Seolah... memberi jeda untuk... hatinya bernafas.

Hanya saja Jong Up dan Dae Hyun melihat kerut pada sudut mata Daniel yang tertutup. Bagaimanapun namja itu mencoba, mereka tahu kalau Daniel tidak akan pernah bisa 'baik-baik saja'. Tanpa melihat ke dalam van pun mereka tahu 'apa' yang membuat Daniel sebegitu drop-nya hingga bersembunyi layaknya pengecut yang takut akan kenyataan.

"Jongu – DANIEL-SSI?! Kau terluka?!" Young Jae datang bersama Zelo. Mereka langsung mengerubungi Daniel untuk mengecek luka pada pinggul kiri namja itu.

"Youngie, kau dan Junhongie bawa Daniel Hyung ke mobil. Kami akan segera menyusul kalian," titah Jong Up memberi komando yang langsung disambut anggukan mengerti dari keduanya. Membiarkan namjachingu mereka menangani Daniel, Dae Hyun dan Jong Up mulai membuka kembali pintu van.

Deg~

Di sanalah mereka.

Dua hyung tertua The Mato's, pasangan kekasih yang selama belasan bulan tidak bertemu tersebut, sekarang terduduk di lantai van dengan kening beradu. Mata keduanya tertutup erat. Dan jangan lupakan, pipi yang basah. Him Chan bahkan memiliki sapuan warna pink pekat menghiasi hidungnya.

Namja cantik itu menangis.

Ah, tidak. Mereka berdua menangis.

Orang-orang berkata untuk tetap tegar dan jangan menangis?! That's totally bullshit! Terkadang... kesedihan harus dilampiaskan dengan air mata. Menampakkan sisi lemah bukanlah pertanda kalau kita seseorang yang lemah. Itu hanya suatu wujud yang menyatakan kalau kita hanyalah manusia biasa; manusia biasa memiliki sisi retak dalam perjalanan hidupnya.

"Hyung... sudah tidak ada waktu lagi." Entah kepada siapa Jong Up mengatakan hal ini. Yang jelas, dua manusia di lantai van tampak dengan berat hati mulai memisahkan diri satu-sama-lain.

Him Chan lah yang bangkit pertama kali dari posisi mereka, melepaskan borgol dari pergelangan tangan Yong Guk, dan mengulurkan tangan kanannya pada namja itu, yang langsung diraih dalam pegangan erat dan pasti. Him Chan membantu Yong Guk berdiri tegak di hadapannya. "Are you ready, Gukie?"

Tidak.

Tentu saja Yong Guk tidak siap! Pergi? Menghilang selamanya dari kehidupan Him Chan dan Min Ki? Menghilang dari kehidupan aegya mereka yang bahkan dia sendiri pun tidak berkesempatan untuk melihat rupa, apa, dan bagaimana makhluk mungil itu?! Begitukah?!

Yah, Yong Guk tidak siap.

Sama. Sekali.

Tapi...

Marbel hitam yang berkaca dan memerah itu menatapnya lurus saat ini.

Dan...

Jemari lentik dan telapak tangan lembut itu menggenggam erat tangannya.

Bang Yong Guk tidak berdaya. Dia HARUS siap, 'kan?

Alhasil, namja itu mengangguk sembari menutup mata; takut kalau makhluk cantik di hadapannya melihat kebimbangan bercampur rasa gamang di sana. Well, tindakan sia-sia karena Him Chan mengetahui semua itu dari genggaman luar biasa erat tangan Yong Guk yang mencengkeramnya.

"Ne, Hime. I am."

##########^0^##########

Tetesan air jatuh satu-persatu, membasahi kulit wajah yang membuat si pemilik tertarik dari alam bawah sadar.

Sret~

"Ugh..." Dennis langsung mengerang kesakitan, memegangi abdomen atas saat membawa tubuh berbaringnya duduk. Jemari bersarung tangan hitam itu bergetar, berusaha melepas rompi anti peluru yang mendadak terasa begitu sempit, membuat dadanya sesak.

Sebuah erangan lirih dan umpatan kecil Dennis suarakan begitu melihat apa yang tersembunyi dari balik rompi dan kemeja putihnya. Tepat pada bagian abdomen atas, di mana lekukan chocolate-abs bermula, terdapat memar yang nyata; sangat gelap di bagian tengah, lalu menyebar di sekitarnya warna ungu pekat yang semakin memudar hingga berakhir dengan warna pink kemerahan.

Damn!

Meskipun terhalang rompi anti peluru, jarak tembakan yang sangat dekat tentu saja berdampak besar. It's hurt as hell! Entah Dennis harus berterima kasih atau tidak pada kelalaian Choi Jun Hong yang menembaki tubuh atasnya ketimbang bagian kaki. Apa remaja bertubuh tinggi itu tidak ingat kalau polisi selalu mengenakan rompi anti peluru setiap kali mereka beraksi?! Atau memang Choi Jun Hong tidak mengetahuinya sama sekali? Mengingat dari hasil laporan Him Chan tenta – tunggu,

HIM CHAN!

Dennis sesegera mungkin memaksa tubuhnya bangkit dari aspal basah, mengenyampingkan sengatan sakit luar biasa yang sontak menjalari permukaan dadanya bak nyala api. Ia sempat menoleh ke samping kiri hanya untuk menemukan sang tangan kanan, Andi, berbaring tidak sadarkan diri di bawah pengaruh obat bius. Berbeda dengan Jun Hong, Young Jae jelas menembak penuh perhitungan.

Ugh!

Berapa lama sebenarnya ia tidak sadarkan diri?! Apakah... dia sudah... terlambat? Bagaimana dengan Him Chan?! Namja cantik itu bersama... Bang Yong Guk. Sesuatu... bisa saja terjadi...,

Deg.

...'kan?

Kekalutan membuat Dennis secara serampangan mengancingi kemejanya kembali dan berlari cepat menuju van tahanan. Hujan telah memadamkan kobaran api yang menyelimuti rongsokan jeep. Pemandangan di depan tidak lagi terhala—

"Hyung, menurutmu berapa lama polisi-polisi itu akan tertidur?"

Sret!

Suara yang samar-samar mendekat ke arahnya membuat Dennis mundur, secepatnya menyembunyikan diri ke belakang jeep hitam The Mato's.

"Sekitar satu jam dari waktu kita menembak. Eum... sepertinya waktu kita semakin menipis, Junhongie. Kita harus bergerak cepat, Daniel-ssi."

Yoo Young Jae.

Itu suara Yoo Young Jae. Dan siapa tadi katanya? Daniel?

Rasa penasaran membuat Dennis menajamkan mata, berusaha melihat di antara gerimis hujan. Perlahan, dari samping rongsokan jeep, tiga sosok muncul. Salah satunya, yang berada di tengah, menopangkan lengan pada bahu dua orang yang mengapitnya. Dan... meskipun wajah itu tertutupi setengahnya oleh masker, Dennis tidak akan pernah melupakan mata tajam dan rambut hitam legam berpotongan nyaris cepak itu.

Puteranya, Daniel.

'What the hell is that brat do?! Wait, is he get hurt?' Kemarahan Dennis dalam sekejap berubah menjadi kekhawatiran. Gerimis deras membasahi tubuh Daniel yang ditopang. Darah segar... tampak mengalir dibawa aliran hujan... berpadu warna pada permukaan aspal yang menghitam...

Deg!

Daniel terluka?

"Lukamu cukup dalam. Kurasa kita harus mengunjungi klinik terdekat sebelum ke markas."

Kata-kata Young Jae seolah menjawab kekhawatiran Dennis.

Benar.

Puteranya terluka.

Parah.

'That brat...' Di dalam hati Dennis merutuk. Ingin rasanya ia keluar dari persembunyian saat itu juga, menghampiri Daniel, dan... dan...

Apa?

Menjitak kepalanya yang bebal?

Memarahinya karena telah bersekongkol dengan musuh?

Ataukah...

Memeluknya seerat mungkin karena... Daniel nyaris meninggalkan namja paruh baya seperti Dennis untuk hidup sebatang kara di dunia ini?

Deg, deg, deg, deg~

Siapa yang menyangka kalau salah satu petualangan one-night-stand seorang Womanizer Dennis Henney akan berakhir dengan suatu anugerah? Pada akhirnya cahaya itu datang, menyinari satu tujuan yang menuntun hidup berantakannya lebih terorganisir pasti. Daniel adalah anugerah itu.

Daniel adalah bocah pembuat onar. Semua orang tahu hal itu. Tapi... meskipun begitu, Dennis sangat menyayanginya. Daniel adalah satu-satunya keluarga yang berhubungan darah dengannya. Tiada hari yang Dennis lewatkan tanpa bersyukur kepada Tuhan karena telah memberinya seorang putera. Walaupun kehadiran sang putera murni atas dasar ketidak-sengajaan.

"Ak-ak-ku... sshh... b-baik saj-saja." Suara Daniel jelas terdengar dipaksakan keluar, menandakan apa yang yang ia rasakan bertentangan dengan ucapannya sendiri.

Terlihat Young Jae menggeleng keras, "ani. Kau tidak baik-baik saja. Jangan berdebat denganku, Daniel-ssi," titah namja manis itu final.

"..."

Mengagumkan. Si Pembantah Daniel secara ajaib menurut, membungkam mulutnya rapat tanpa menunjukkan tanda-tanda pembangkangan. Atau mungkin rasa sakit dari luka yang dideritanya semakin menjadi?

Tap.

Dennis semakin waspada di persembunyian. Ia tahu hal berikutnya yang akan disadari begitu ketiganya tiba di depan jeep The Mato's, err... paling tidak dua di antara ketiganya.

"Hyung, dia di mana?"

"E-entahlah, Junhongie... bu-bukankah tadi..."

"Sshh... kalian... membicarakan... sshh... apa? 'Dia' siapa?"

Pertanyaan bercampur rintihan sang putera adalah hal terakhir yang dapat Dennis dengar. Namja paruh baya itu mengambil langkah mundur, pelan dan pasti, menuju bebatuan tinggi yang di sekitarnya ditumbuhi rumput ilalang liar, tepat di sudut jalan. Wae?

Bruuuummm...

Jeep The Mato's yang lain datang bergabung. Seperti laporan Andi sebelumnya; The Mato's mengepung mereka menggunakan dua mobil. Jika Dennis tetap bersembunyi di belakang jeep tadi, mungkin keberadaannya akan diketahui—mengingat kalau jeep yang baru datang tampak gagah menerobos dataran berpasir yang ditumbuhi rimbunan rumput ilalang dari arah sudut jalan berlawanan.

"They got him."

Sekarang Dennis tidak ragu lagi.

The Mato's berkumpul.

Lengkap.

They got the leader~

##########^0^##########

"Hei, waegeure? We running out the time." Dae Hyun bahkan belum sepenuhnya turun dari jeep saat melemparkan pertanyaan. Alisnya bertaut bingung ketika tiga orang yang ditanyai hanya balas menatap ke arahnya nanar. "Wae? Kenapa wajah kalian begitu?"

"Itu, Hyung, komisaris polisi itu... menghilang."

"Hah?"

"Ssshh... mak-maksud kalian... ssh... ayahku?"

"Ne. Junhongie menembaknya tadi. Dia berbaring tepat di sebelah orang ini," jelas Young Jae heran, menunjuk ke arah tubuh Andi di bawah mereka menggunakan bibir. "Aku yakin seratus persen kalau... seharusnya appa-mu masih di bawah pengaruh obat bius. Ukh, apa mungkin tembakanmu meleset, Junhongie?"

Meskipun tahu Young Jae tidak bermaksud menuduhnya, Zelo tetap saja tidak kuasa menahan protes. Bibirnya terbuka, hendak mengatakan sesuatu hanya untuk tertutup kembali begitu melihat kedatangan Yong Guk. Remaja bertubuh tinggi itu langsung membelalakkan mata. "HYUNG!" pekiknya riang dan bersemangat, khas seorang Choi Jun Hong.

Mau tidak mau sang leader tersenyum dibuatnya. Err... hanya sekilas. Karena berikutnya, mata tajam itu menatap Daniel lurus. Oh, jangan salahkan Yong Guk bila dirinya masih memendam kecemburuan terhadap namja blasteran tersebut. "Apa yang dilakukannya di sini?"

Bang Yong Guk terdengar begitu sinis. Jika saja dirinya tidak terluka, Daniel pastilah akan melayangkan satu pukulan ke rahang namja itu. "Aku di sini... shh... untuk Chanie, Bang Yong Guk."

"Mwo? Kenapa kau harus berada di sini untuk kekasih-Ku?"

"Kekasihmu?! Terakhir kuingat, ssh... Chanie masih tunangan-Ku. Jangan mengada-ada, Bang Yong Guk."

"NEO!"

Oke. Perdebatan Yong Guk dan Daniel jelas didalangi oleh kecemburuan. Sayangnya, Dae Hyun, Young Jae, dan Zelo, terlalu terpana akan sikap childish keduanya hingga... well, mereka menganga, memaksakan mata terbelalak di antara gerimis hujan, menatap Yong Guk dan Daniel bergantian bak menonton pertandingan tenis.

"Jealousy under the rain?"

Jong Up tiba-tiba berdiri di samping Dae Hyun, membuat namja tampan berbibir penuh tersebut terlonjak kaget dengan telapak tangan dilarikan ke dada. "YAH! MOON JONG UP! Apa kau ingin membuatku mati karena serangan jantung?!" semprotnya menggelegar.

Dua orang yang tadinya berdebat childish sontak menoleh ke arah Dae Hyun dengan tatapan angker. Err... teriakan namja tampan berbibir penuh tersebut menyela di saat yang tidak tepat, tampaknya.

Glup~

"A-ng... si-silahkan d-dilanjutkan k-kembali!"

Mata doe milik Young Jae langsung terbelalak mendengar Dae Hyun yang dengan konyolnya, malah menyuruh kedua orang itu untuk berdebat lagi. "Yah! Kenapa kau menyuruh mereka melanjutkan, eoh!? Yong Guk Hyung, Daniel-ssi, bisakah kalian membicarakan semua ini dengan kepala dingin? Err, ini bukan waktu yang tepat," pinta namja manis itu memohon dengan lembut. Marbel cokelat gelapnya menatap lurus satu-persatu ke dalam mata dua namja yang diajaknya berbicara.

Jong Up tahu ini bukanlah waktu yang tepat untuk merasa gemas tapi... ah, salahkan saja namjachingu berpipi chubby-Nya yang telah bertingkah menggemaskan tanpa namja manis tersebut sendiri sadari. Tidak ada pilihan lain, Jong Up mengigit bibir bawahnya cepat sebelum suara riang semacam 'awh' berdendang merajuk dari sana.

"Please, Him Chan Hyung tidak akan senang melihat kalian seperti ini."

Smart word, Yoo Young Jae. Menggunakan nama Him Chan untuk menenangkan dua namja dewasa yang mendadak childish? Eum, why not?! Toh, Yong Guk dan Daniel akhirnya membuang muka satu-sama-lain sebagai simbol perdamaian. Meski dari raut wajah keras keduanya, jelas kalau 'perdamaian' hanyalah untuk kali ini saja.

Bicara soal Him Chan, kemana namja cantik itu?

"Ssh... manahh..., Him Chan?" tanya Daniel lirih. Dari gestur tubuhnya yang semakin menopangkan berat pada kedua bahu tempat ia berpegangan, tidak diragukan lagi kalau dalam hitungan 2-3 menit ke depan, namja blasteran itu akan kehilangan kesadaran. "K-kau su – sshh... sudah menembaknya dengan peluru bius, Jong Up?"

Menembak Him Chan dengan peluru bius mau tidak mau menjadi salah satu daftar dalam misi penyelamatan The Mato's. Mereka tidak punya pilihan. Apapun maksud Dennis, pria paruh baya itu sukses mengacaukan beberapa bagian rencana original yang Him Chan dan Young Jae rancang sempurna. Sekarang, semua beban bergantung pada Him Chan. Dennis bukan orang bodoh. Him Chan akan dicurigainya. Pasti.

"Belum. Him Chan Hyung harus melakukan 'sesuatu' dulu dengan kabel-kabel mobil patroli di belakang. Sebaiknya kau beristirahat di mobil, Hyung." Jong Up berkata sembari menyelinapkan bahu ke bawah lengan Daniel, menggantikan sang namjachingu yang terlihat semakin kesusahan menopang tubuh tinggi tersebut. "Youngie, masuklah ke jeep bersama Dae Hyun Hyung dan Yong Guk Hyung. Zelo dan aku akan mengurus yang di sini."

Tanpa berbicara Young Jae menyeret sang leader dan Dae Hyun ke arah jeep yang sebelumnya keduanya naiki. Mereka baru menapakkan satu kaki ke dalam jeep saat suara gemeretak dari kuncian senjata api memecah nyaring di antara kesunyian gerimi – oh, terlalu deras jika dikatakan gerimis. Sontak Dae Hyun dan Young Jae memasang posisi, mengangkat senjata dalam genggaman, dan mengarahkannya ke arah suara gemeretak tersebut berasal.

DEG!

Mereka sempat melupakannya.

Dennis Henney.

Namja itu di sana dengan moncong senjata menempel tepat pada bagian belakang tengkorak Yong Guk yang membelakanginya.

"Don't move!" Seolah moncong senjata di tangannya tidak cukup mengancam, Dennis menggertak. "Turn around! And you two, PUT THE DAMN GUN DOWN!" perintahnya pada Dae Hyun dan Young Jae.

Jika nyawa Yong Guk melayang hanya karena pemberontakan ceroboh, tentu tidak ada gunanya The Mato's melakukan misi berbahaya ini. Oleh karenanya, Young Jae dan Dae Hyun dengan berat hati meletakkan senjata masing-masing ke aspal. Kemudian secara perlahan keduanya bangkit sembari mengangkat tangan ke atas, tepat di sisi kepala, pertanda menyerah.

"I said TURN AROUND, Bang Yong Guk!"

Wajah tanpa emosi Yong Guk adalah yang pertama menyambut Dennis begitu namja itu berbalik. Jelas sekali kalau dirinya tidak suka diperintah. "Kau tidak perlu berteriak, Orang Tua. Kau pikir aku dungu?"

"Huh, kau tidak dungu. Tapi pembangkang. Apa kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau kabur bersama mereka?"

"Aku tetap akan bernafas? Aku lebih memilih hidup di dalam pelarian daripada berakhir di kursi maut. Bukankah alasanku sudah jelas, Pak Tua? Huh! Lucu sekali kau bertanya."

Dengusan remeh sang leader membuat moncong senjata Dennis semakin menempel keras ke dahi namja itu. "Kkkk~ You're so full of yourself, Bang Yong Guk. How about... I'm the one that's gonna make a choice for you? You die in here, with my gun, not in the electric chair. How that sound?"

Grrrtttkkkk...

Yong Guk menggemeretakkan giginya geram. Dennis mengancam, eoh? "Kau mengancamku, Pak Tua?"

"Huh! Aku tidak mengancammu, tapi memberi peringatan final. Kau pergi bersama anggotamu, maka aku tidak akan segan—"

CRAK!

"Turunkan senjata, Komisaris!"

Moon Jong Up telah berdiri di samping Dennis. Senjata pada tangannya mengacungkan moncong ke pelipis kanan sang komisaris. Menyusul suara kuncian senjata dari samping kiri, moncong senjata Zelo juga berada di pelipis satunya.

Wow. The Mato's mengepungnya, eoh? Sayang, Dennis Henney terlalu jauh mengudara di atas awang untuk dibuat gentar. "Hahahaha, kurasa kalian tidak paham situasi ini. I don't hesitate to shot your leader in a second.So put those damn gun off my head or I'll scatter his brain into lil' pieces. NOW!"

Salakan tajam tersebut membuat Jong Up dan Zelo saling bertukar pandang; bimbang terpancar jelas di mata keduanya. Untunglah Young Jae segera bertindak, membuka suara sebelum keadaan mencekam berubah lebih intens dan... menakutkan? Brrrr... Young Jae bahkan gamang memikirkannya.

"Jongupie, Junhongie, ikuti kemauannya. Turunkan senjata kalian," pinta namja manis itu memecah ketegangan, berusaha berbicara sepelan mungkin—namun masih bisa terdengar—di antara derasnya hujan agar tidak memprovokasi sang komisaris. "Please, Guys?" Ia menambahkan dengan lirih ketika Jong Up dan Zelo hanya bergeming di tempat. Yang benar saja! Mereka sudah sejauh ini!

"Kalian berdua, dengarkan hyung kalian berbicara. Turunkan. Senjata."

Siiiiiiiinnnnnnnggggg...

O. My. God.

Apa baru saja...

Jung Dae Hyun... ya, JUNG Dae Hyun, berkata bijak? Meminta dua maknae The Mato's untuk menghormati seorang Yoo Young Jae sebagai 'hyung'? Menghormatinya... sebagai... pemimpin? Well, pemimpin sementara, lebih tepatnya. Meskipun Yong Guk telah berada di antara mereka, tapi tetap saja, untuk saat ini, Young Jae lah pemimpin The Mato's.

Bukannya merasa bangga luar biasa, Young Jae malah memasang wajah konyol dengan rahang jatuh dan mata doe terbelalak lebar, menatap makhluk tampan berbibir penuh di sampingnya tidak percaya—horor, sebenarnya.

Dae Hyun tahu apa yang saat ini Young Jae pikirkan. Terlalu mudah ditebak; namja manis berpipi chubby tersebut tidak akan jauh-jauh dari kata menghujatnya. Ish, memangnya salah jika sekali saja di dalam hidup, seorang Jung Dae Hyun bersikap ehem, dewasa? "Jungie, Jong Up, turunkan senjata kalian sekarang juga."

Nada final dan bersungguh-sungguh yang anehnya keluar dari mulut Dae Hyun membuat para maknae menurut patuh. Keduanya menjauhkan senjata dari kepala Dennis hanya untuk membuangnya ke aspal.

Jong Up dan Zelo tidak perlu diperintah untuk mengangkat tangan dan bergabung bersama kedua hyung mereka, berdiri berdampingan satu sama lain membelakangi salah satu sisi jeep.

"Now we cool. Huft... aku tidak mengerti, kenapa kalian begitu nekat ingin menyelamatkannya? Seharusnya kalian tidak melakukan penyerangan ini. Carilah leader baru dan tinggalkan pria ini. Bukankah itu mudah?"

Sudut alis Yong Guk berkedut tidak suka. Cara Dennis berbicara, seolah dirinya bukanlah apa-apa. Bahkan sampah yang dibuang pun, akan didaur ulang. Apa Dennis berpikir kalau dirinya ini lebih tidak berarti dibanding sampah?!

"Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Orang Tua? Pertama kau melibatkan Him Chan, dan sekarang? Merendahkanku lebih dari sampah? Inikah caramu memperlakukan 'menantumu' sendiri?"

What a not-so-really-nice bad shot.

Yong Guk tahu 'menantu' bukanlah kata yang akan namja paruh baya di hadapannya terima dengan mudah, tapi... kata-kata Dennis lebih menyakitkannya. If someone hurt you, it's a totally bullshit if you can just ignore it. Revenge is a bad word, but it will fullfilled your desire. So, take the revenge if dissapointment gonna hunt you down to the grave.

TRAK!

Seperti yang Yong Guk duga, amarah Dennis memuncak sampai pada titik dimana pria paruh baya itu melebarkan bahu dan menekan luar biasa keras moncong senjata ke dahinya.

"SHUT UP! Kau bukan menantuku, BRENGSEK! Kau hanya penjahat yang berpikir dirinya pahlawan semua orang dan membunuh seseorang tanpa mengadilinya! KAU PENJAHAT! PEMBUNUH BERDARAH DINGIN! BERHENTI BERSIKAP MENYEBALKAN DAN JANGAN LIBATKAN PUTERAKU DALAM DUNIA KOTORMU!" Dennis seolah tidak bernafas saat memuntahkan amarahnya tepat ke wajah Yong Guk. Betapa besarnya keinginan Dennis membunuh pemimpin geng tersebut. Seandainya Bang Yong Guk tidak ada. Seandainya Bang Yong Guk hanya sekedar nama. Seandainya... ia tidak membuat Him Chan bertemu Bang Yong Guk...

Deg.

Ini semua salahnya..., 'kan?

"Kkkk~"

Yong Guk terkikik. What the...

"WHAT ARE YOU CHUCKLING AT, DAMNIT?!" bentak sang komisaris meradang. Yang dibentaknya malah meledak dalam tawa heboh, memecah keriuhan derasnya hujan.

"Hahaha, aku hanya berpikir... kau sangat lucu, Orang Tua." Yong Guk bergumam – atau mungkin lebih tepat disebut 'berdendang' penuh intrik. "Aku? Melibatkan Him Chan? Sejauh yang kuingat, kau lah yang membuatnya berada di antara kami. What kind of father are you that throw the fresh meat to the tiger cage?"

Another bad choice of word.

Cukup sudah. Dennis akan menghancurkan kepala Yong Guk saat ini juga. Beraninya namja seperti Bang Yong Guk mencemooh posisinya sebagai seorang ayah?! Tahu apa Bang Yong Guk menjadi orang tua? Dia bahkan tidak ada di saat Him Chan membutuhkannya; tertidur dengan nyamannya di ranjang rumah sakit saat puteranya mengalami semua kesakitan hanya untuk melahirkan darah daging dari benih kotornya?

How dare he?!

Dibutakan amarah membuat jemari Dennis menarik pelatuk...

"APPA!"

DOR!

Ledakan senjata api membelah hujan, menggema nyaring, memantuli setiap permukaan bukit bebatuan.

"HYUNG!"

"HIM CHAN!"

~~~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~~

"Owaaaaaaaaaaaaa...!"

Wanita tua yang sebelumnya menyibukkan diri di dapur segera berlari menaiki anak tangga, menuju lantai dua, dan berhenti tepat di depan pintu bercat putih dengan hiasan lukisan bunga-bunga kecil berwarna biru.

Tangisan keras berasal dari balik pintu tersebut.

Raung-tangis Min Ki.

Clek~

"Min Ki... waegeure, Chagi~?"

"OWAAAAAAAA!"

Tangisan Min Ki semakin keras begitu wanita tua pemilik panti tersebut mendekati baby crib dan membawa tubuh mungilnya dalam gendongan.

"Min Ki~? Chagi~?" panggil sang ibu panti cemas. Pasalnya, makhluk mungil menggemaskan dalam gendongannya tidak pernah rewel sebelumnya. Min Ki adalah bayi yang tenang sejak lahir. Hanya menangis di saat-saat tertentu dan itupun, tidak, dalam kurun waktu yang lama.

Tapi sekarang?

Berbagai bujukan, ayunan pelan, bahkan nyanyian lullaby terlembut sekali pun, tidak berpengaruh menghentikan tangisan menyayat hati dari bibir mungil pink kemerahan Min Ki.

"What's wrong, Baby~? Howh... umma-mu belum kem—"

Deg!

Firasat buruk menghadang tanpa aba-aba.

Deg, deg, deg, deg...

Ada debaran keras, dentuman tidak menyenangkan bersarang di dada.

Him Chan...

DEG.

Apakah terjadi sesuatu dengan puteranya?

"OWAAAAAAAAAAA!"

##########^0^##########

"HYUNG!"

Deja vu.

Hal itulah yang dialami Yong Guk saat ini. Tubuhnya terduduk di aspal dengan mata terbelalak, menatap nanar sosok berseragam hitam yang pada bagian lengan atasnya... mengalir cairan merah pekat...

Darah.

Deg,

Tempat dan waktu yang berbeda, namun kejadian yang sama.

Deg,

Kejadian yang sama sekali tidak Yong Guk inginkan terulang kembali!

Deg.

"HIM CHAN!" teriak sang pemimpin geng bembahana sembari bangkit tergesa menangkap tubuh limbung Him Chan dengan mengalungkan satu lengan ke pinggang makhluk cantik tersebut; membiarkan satu sisi tubuhnya sebagai sandaran. "APA YANG KAU LAKUKAN, ORANG TUA?! YOU HURTING HIM!" salaknya geram. Kalau saja dirinya tidak memegangi Him Chan saat ini, tidak diragukan lagi, ia pastilah akan melompati Dennis dan menghajarnya habis-habisan. Well, meskipun Dae Hyun dan Zelo juga berdiri di sampingnya dan Him Chan sekarang.

Sementara itu, pria paruh baya yang disalaki tampak shock. Tentu, seperti halnya Yong Guk, Dennis juga tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali. Dennis tidak ingin melihat Him Chan terluka. Seharusnya namja cantik itu tidak melompat di antara dirinya dan Yong Guk! Kenapa Him Chan mendorong Yong Guk?! Seharusnya Him Chan membiarkan Dennis meledakkan kepala penjahat itu! Seharusnya...

"Appa... lepas... kan... Yong Guk..."

Deg!

Daniel.

Namja itu tak ubahnya seperti mayat hidup; kulit putih pucat dikarenakan kehilangan banyak darah, bibir membiru, dan mata sayu. Daniel juga terlihat berusaha keras melawan ketidak-sadaran, mencoba tetap berdiri, serta berjalan terseok mendekati sang appa.

Pemandangan tersebut membuat Young Jae dan Jong Up reflek berlari. Tanpa berpikir panjang keduanya mengulurkan tangan untuk membantu Daniel dengan memegangi lengan namja blasteran itu.

"Ku... mohon... ap-pa... lepas-k-kan Y-Yong... Guk."

"WHAT?! What the hell is wrong with you, Son?! Kau membelanya? KENAPA KAU MEMBANTU MEREKA?!"

Sebenarnya, Dae Hyun dan Zelo bisa saja memanfaatkan kesempatan. Dennis, meskipun masih mengacungkan senjata ke arah Yong Guk, perhatian sang komisaris jelas teralih karena kemunculan Daniel. Hanya saja... ini bukanlah masalah melumpuhkan atau dilumpuhkan. Ada hal besar tak kasat mata yang Him Chan, Dennis, Daniel, dan mungkin Yong Guk, pertaruhkan disini.

Mereka, The Mato's, tidak boleh ikut campur.

This is the unsaid rule.

"Ssshh... maaf, karena lagi-lagi aku mengecewakanmu..." lirih Daniel memulai. "Aku tahu, Appa, jauh di dalam hatimu saat ini... sama sepertiku, kau bimbang; kau tidak tahu siapa dan apa yang sebenarnya menjadi tujuanmu saat ini. Aku juga—"

"Jangan berbelit-belit, Dan! Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?! Beri aku alasan jelas sebelum kesabaranku habis dan melupakan siapa kau bagiku. Karena semua i—"

"The Mato's tidak bersalah," potong Daniel tajam. "Kau tahu itu, Appa."

Deg!

"..."

Skakmat.

Dennis bungkam.

Wae?

Apa karena... apa yang puteranya katakan benar?

The Mato's... sebenarnya... tidak bersalah..., 'kan?

"Mereka tidak bersalah, Appa. Lepaskan mereka. Sshh... lepaskan Yong Guk."

Sesaat tergambar perdebatan batin di dalam mata bersorot tajam itu. Siapapun yang berada pada posisi Dennis saat ini, pastilah tenggelam dalam kekalutan. Ia bingung. Dan tidak mengerti. Kenapa semua berubah rumit? Haruskah dia melepaskan The Mato's? Melepaskan... Bang Yong Guk? Menutup mata akan semua...

DEG!

... kejahatan mereka?

Tidak. TENTU SAJA TIDAK! Keadilan harus ditegakkan!

Tapi...

Kenapa keadilan terkesan sangat semu saat ini?

Apakah arti keadilan sebenarnya?

"Ap-Ap-pahh..."

Deg~

Panggilan lirih itu...

Him Chan.

Dengan kalut Dennis menoleh, berpaling menatap ke arah 'putera'nya yang lain. Betapa kagetnya, karena sekarang, makhluk cantik tersebut berdiri tepat di depan moncong senjatanya; alis bertaut serta kening berkerut. Him Chan kesakitan. Dan itu semua karena ulahnya.

"Appa, ku-kumohon... le-lepaskan... Yong Guk."

Amarah kembali menguasai Dennis. Kenapa? Kenapa kedua puteranya ingin ia melepaskan penjahat seperti Bang Yong Guk?! Wae?! Apakah Bang Yong Guk sebegitu berharganya sampai semua orang ingin menyelamatkan namja itu dari kematian?! Dengan mempertaruhkan nyawa mereka sendiri?!

Bahkan Him Chan juga... tanpa ragu berdiri di depan moncong senjatanya. Apa makhluk cantik ini ingin mati konyol, eoh?! Apakah Him Chan memikirkan Min Ki barang sejenak sebelum melakukan semua tindakan ceroboh ini?!

Oh,

Begitu banyak pertanyaan rumit.

Lebih sulit lagi dipahami karena semua pertanyaan-pertanyaan itu bagai mengombang-ambing segala keyakinan dan prinsip yang Dennis pegang teguh selama ini; dimana seorang pelanggar hukum yang hidup di dunia hitam, dan mengadili seseorang seenaknya, adalah penjahat.

Penjahat harus ditangkap oleh pihak berwajib.

Diadili sepantas-pantasnya.

Tapi, kembali ke permasalahan awal, apakah Bang Yong Guk dan gengnya pantas diadili?

"Kumohon... hiks, Appa... hiks..." Dan sekarang Him Chan menangis. Untuk Bang Yong Guk? "Kumohon... hiks, le-lepas-kan... The Mato's! A-aku akan memper – hiks! Mempertanggung... jawab-kan – hiks, semuanya! Hiks... please...?"

"Kau tahu itu mustahil, Him Chan. Hukum tidak bisa kau atur semaumu. Bagaimana bisa kau memintaku untuk melepaskannya?!"

"Hiks..."

Hanya tangisan lirih. Him Chan juga tidak tahu bagaimana bisa ia meminta appa-nya untuk... berkhianat? Oh, cukup dirinya saja yang mencoreng nama kepolisian. Ia tidak perlu menyeret lelaki paruh baya yang telah berjasa banyak dalam hidupnya ini!

Sementara Dennis yang menyaksikan kerapuhan Him Chan... akhirnya menghela nafas berat setelah beberapa detik lamanya makhluk cantik tersebut hanya menunduk dalam dengan bahu bergetar hebat. Apakah Him Chan akan menjawab pertanyaannya?

"Katakan, Him Chan, bagaimana bisa kau memintaku untuk melepaskan penjahat itu? Kau menyuruhku mengkhianati kepolisian? Apa kau tahu betapa kecewanya aku atas apa yang kau perbuat saat ini?" Dennis tidak mampu menahan dirinya untuk tidak membor-bardir sang putera dengan berbagai pertanyaan menuntut. Otaknya terus menyesalkan karena Him Chan, pada akhirnya, melakukan tindakan yang selama ia takuti; menyelamatkan Bang Yong Guk tanpa memikirkan resiko yang jelas akan ditanggungnya sendiri. "ANSWER ME, YOUNG MAN!"

Bentakan terakhir yang Dennis berikan sukses membuat Him Chan mengangkat kepala hanya untuk menggelengkannya dengan kacau. "Ti-tidak, Appa! A-ak-ku... hiks! Aku tidak bermaksud untuk—"

"Lalu apa?" potong namja paruh baya itu lirih tanpa emosi. Layaknya air yang tenang di permukaan, siapapun pastilah tahu betapa bergelombangnya perasaan Dennis saat ini. "Jika kau tidak bermaksud memintaku berkhianat, lalu apa?! Kau ingin aku menutup mata dan melupakan semuanya begitu saja? Dan setelah itu? Kau berencana kabur bersama mereka?!"

"Tidak! Hiks, a-aku ti-tidak a – hiks... a-akan kabur ber-bersama mereka. A – hiks! Aku akan meninggalkan... hiks, The Mato's... se-selamanya."

Deg.

Meninggalkan The Mato's selamanya? Him Chan akan melepaskan diri dari geng itu?

Dari... Bang Yong Guk?

Selamanya?

Tapi... kenapa batin Dennis tidak senang mendengarnya? Sesuatu seolah tidak benar; ini salah. Kalau Him Chan melepaskan The Mato's selamanya... melepaskan Bang Yong Guk...

Deg, deg, deg, deg~

... bagaimana dengan Min Ki?

Tidakkah hidup sebagai yatim piatu cukup menjadi sebuah pembuktian bagi Him Chan kalau seorang anak, membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya saat ia tumbuh? Dan sekarang? Him Chan ingin memisahkan seorang ayah dari anaknya? Oh, ini kesalahan besar. Meskipun Him Chan melakukannya karena terpaksa.

Sruk!

DEG.

"Aku mohon padamu, Appa."

O My...

"HIME! Apa yang kau lakukan?!"

(((("HYUNG!"))))

... God.

Di tengah perdebatan sengit otaknya, Dennis harus tersadar, mendapati kalau makhluk cantik di depannya tidak lagi berdiri lurus, melainkan menurunkan kedua lutut ke aspal basah.

Him Chan bertekuk lutut.

Kedua tangan saling bergenggaman seolah tengah berdoa; memohon.

"Hiks, aku memohon padamu, Appa. Bi-biar – hiks, biarkan The Mato's bebas. A-aku ber-berjan – hiks, ji... ak-akan menuruti se-semua keinginanmu d-dan menja – hiks, menjadi anak yang b – hiks! Baik! Aku akan melupakan..."

Him Chan harus berhenti sejenak dalam ratapan kacaunya untuk menelan gumpalan tak kasat mata yang seolah meradang di tenggorokan, membuatnya tidak bisa bernafas. Bagaimana dirinya akan bernafas bila sebentar lagi, mulutnya akan menyampaikan kebohongan besar yang tidak sejalan dengan apa yang ada di dalam hatinya?

"Hiks... ak-ak-ku akan... melupakan Yong Guk."

DEG!

Bola mata Dennis nyaris melompat. Jika saja marbel hitam itu tidak menatapnya berkaca, mungkin, ia akan tertipu, menganggap kalau Him Chan mengucapkan kata-kata final tersebut tanpa keraguan. Tapi... sang komisaris terlalu mengenal namja cantik itu. "Benarkah? Kau akan melupakannya semudah itu, Him Chan?" tanya-nya sangsi setelah beberapa menit tidak mengeluarkan suara.

Yang ditanya tampak tersentak. Well, gesture kecil, namun menjawab segalanya.

Ne, Him Chan tidak akan melupakan Yong Guk semudah itu. Terlebih jika... makhluk cantik yang dimaksud mulai menjawab tergagap serta menggeleng kacau.

"A-ak-ku... a-aku akan—"

"Huft... Kau tidak bisa membohongiku, Him Chan. Aku bisa melihatnya di matamu; kau tidak akan mampu melupakannya," ujar Dennis lirih. Tangannya yang menggenggam senjata perlahan turun, membuat marbel hitam milik Him Chan menatapnya penuh tanya karena senjata itu tidak lagi mengarahkan moncong kepada siapapun selain aspal basah yang mereka pijaki. Wae? Apakah Dennis...

"Because the heart wants what it wants, Him Chan."

Deg~

That's right.

There's a million reasons why Him Chan should give Yong Guk up,

But he's not gonna alive until Yong Guk call.

Because the heart wants what it wants.

The heart never lie~

Right?

Sret.

Secara tiba-tiba namja paruh baya di hadapannya berbalik dan mulai melangkah. Him Chan reflek bangkit, berniat mengikuti hanya untuk berhenti begitu satu kata keluar dari mulut Dennis dengan lantangnya.

"Pergilah."

Deg.

"Bukan hanya The Mato's. Kau juga, Him Chan, pergilah."

DEG!

"MWO? A-Appa?!" Him Chan tidak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Benarkah... Dennis menyuruhnya... pergi? BERSAMA THE MATO'S?! "A-apa... mak—"

"Pergilah, Him Chan."

"T-tapi—"

"PERGILAH SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN!"

Dennis menyerah.

Siapa dirinya yang akan kuasa menahan hati seseorang?

Jika hati Him Chan menginginkan Bang Yong Guk, maka, Dennis akan mengabulkannya. Mungkin sudah waktunya Him Chan memperoleh kebahagiaannya, yang sebenarnya.

Because the heart wants what it wants.

'Good bye, My Son~'

TBC

NB: HIDUP BANGHIM! BAP! FIGHTING! FIGHTING! WE ALL BABYz LUV U TO THE GRAVE!\(*0*=)/\(=*0*)/