WARNING!
TYPO(S)/YAOI
RATE
T-M
.
"Hah?!" Teriakan Luhan membuat bayi dalam gendongan Seulgi terbangun. Dan merengek.
"Sssttt, tenanglah... Oppa, kau ini!"
Sehun terkejut saat mendengar jawaban Seulgi. Ia baru tau kalau Luhan bisa menghamili anak orang. Ia pikir Luhan memiliki anak dari seorang laki-laki.
Namun seperti biasa, Sehun langsung menyembunyikan wajah terkejutnya dengan poker face andalannya. Kemudian ia tersenyum miring dengan satu alis dinaikkan.
"Oh, jadi itu anakmu?" Tanya Sehun terlampau tenang. Justru nada yang seperti itu malah membuat Luhan merinding sendiri. Luhan mengangguk takut-takut.
"Oh begitu, ya. Semoga kau betah bersamanya." Ucap Sehun pada Seulgi kemudian ia keluar dari kamarnya. Luhan semakin cengo dibuatnya. Ada apa dengan Sehun'nya'? Bukankah sebelum ia pergi ke China Sehun tidak marah padanya? Apa karena waktu itu dirinya terlalu egois dan membiarkan Sehun sendirian? Begitu banyak pertanyaan di kepala Luhan sekarang.
'Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa secemburu itu.' Batin Luhan.
"Oppa, apakah tidak apa-apa jika aku disini? Aku kan perempuan."
"Tidak apa. Appa akan mengerti jika dia tau hanya kau yang datang." Jawab Luhan.
"Heh? Kenapa pintu terbu-- LUHAN?!" Kris tersenyum lebar saat melihat Luhan sudah kembali.
"Aish! Kenapa di asrama laki-laki banyak sekali yang suka berteriak?" Kesal Seulgi. Kris melirik aneh pada yeoja itu. Kemudian matanya menatap pada bayi dalam gendongan Seulgi.
"Astaga... Lucu sekali! Kemarikan!" Ucap Kris yang mengambil bayi itu pelan-pelan. Sedangkan Seulgi hanya merengut kesal. Tapi Kris malah memberikan bayi itu pada Luhan.
"Eh?"
"KYYAA! Apa yang kau lakukan Kris bodoh?!" Kris menarik paksa Seulgi keluar kamarnya. Sedangkan yang ditarik meronta-ronta kesal.
"Kau tau ini asrama laki-laki, kan? Apa kau sudah mengubah gender, hah? KE LU AR!"
"Kris jelek bodoh sialan!!! Oppa! Bawa bayinya padaku besok!" Teriak Seulgi yang melambaikan tangannya pada Luhan. Sedangkan namja manis itu hanya menatap datar pada dua orang bodoh di depannya.
Luhan berjalan ke arah ranjang Sehun dan meletakkan bayinya di sana dengan hati-hati. Ia duduk di pinggir ranjang dan memeluk bantal Sehun. Luhan tersenyum tipis saat aroma parfum kesukaan Sehun menyapa hidung bangirnya.
"Aku merindukanmu... Kapan aku bisa bicara denganmu lagi, hmm?" Gumam Luhan pelan. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di ranjang Sehun sambil menggenggan lembut tangan mungil yang ada di sebelahnya. Tak lama kemudian ia menutup matanya dan pergi menuju alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
.
"Hoee... Hoee.." Suara tangisan bayi membuat Luhan tersentak dan membuka pelan matanya. Ia menoleh ke makhluk mungil di sebelahnya yang sedang di tahan lembut dengan tangan kekar berwarna pucat. Luhan mendongak dan terkejut saat melihat Sehun duduk di samping bayinya dengan menutup mata. Tangan Sehun melingkar di perut mungil si bayi. Namun tidak terlalu menindisnya. Tanpa sadar Luhan tersenyum melihat Sehun seperti itu.
"Apakah ia tertidur?"
"Sehun? Bangunlah..." Panggil Luhan pelan. Mata sipit Sehun terbuka saat merasa sesuatu yang lembut menyentuh pipinya.
"Maafkan aku," Ucap Luhan yang menghetikan kegiatan mengusap pipi Sehun. Sedangkan Sehun hanya diam.
"Maafkan aku karena aku tidur di tempatmu, kau jadi tertidur seperti ini." Ucap Luhan.
"Apa kau tidak sadar? Kau membiarkan seorang bayi tidur di pinggir seperti ini tanpa ada yang menjaganya. Saat aku datang tadi malam, bayimu hampir saja jatuh. Untung aku langsung menangkapnya. Kau ini ceroboh sekali. Ck!" Jelas Sehun panjang lebar. Sedangkan Luhan sudah berkaca-kaca mendengar omongan Sehun. Ia merasa tidak bisa menjaga anaknya sendiri sekarang.
"Be-benarkah?" Luhan menunduk dan mencium bibir mungil bayinya.
'Kalau aku yang hampir jatuh, apa kau akan mencium ku juga?' Batin Sehun.
"Maafkan baba, huaaa..." Ujar Luhan yang masih sibuk menghujani wajah bayinya dengan kecupan. Sehun membuka bibir tipisnya saat melihat Luhan menangis.
"Kenapa jadi kau yang menangis? Sepertinya jiwa kalian tertukar." Ucap Sehun sakartik.
"Yya! Ini bukan drakor yang sering kau tonton itu." Jawab Luhan sesunggukan.
"Mau ku panggilkan ibunya?" Tanya Sehun. "Ha?"
"Seulgi,"
"Aish! Tidak perlu." Jawab Luhan. Sehun berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Kau mau kemana?" Tanya Luhan. Sehun tidak menjawab dan langsung keluar dari kamarnya.
Luhan mengambil ponselnya dan melihat jam.
"Jam 1 malam? Mau kemana, dia malam-malam begini?" Luhan melirik ke arah Kris yang masih tertidur. Ia ingin menyusul Sehun. Tapi tidak mungkin, ia membawa anaknya, kan?
"Ah! Seulgi," Luhan memakai asal jaket putihnya dan menggendong bayinya hati-hati.
.
.
"Memangnya kau mau kemana?"
"Kau tidak perlu tau."
"Sehun lagi?" Tanya Seulgi. Luhan hanya diam menggigit bibir bawahnya.
"Cepat selesaikan urusanmu dengan orang itu. Bayimu akan aman bersamaku." Ujar Seulgi lagi.
"Baiklah. Aku pergi dulu," Pamit Luhan. Namja mungil itu berlari pelan melewati koridor sepi.
Sebenarnya ia takut pergi sendiri. Apalagi malam-malam seperti ini. Tapi ia harus tau mau kemana Sehun saat ini. Perasaannya tidak enak.
Luhan berlari ke parkiran dan mencari mobil ayahnya.
"Oh, disana." Luhan berjalan cepat ke arah mobil mewah berwarna silver dan masuk ke dalam.
"Appa, maafkan aku. Aku pinjam mobil dulu." Gumam Luhan yang kemudian mulai mengemudikan mobil itu.
Di luar lingkungan sekolah benar-benar gelap. Dari kejauhan Luhan melihat seseorang berhoodie merah sedang berjalan sendirian. Dari cara berjalannya...
"Itu Sehun! Aku ikuti pelan-pelan saja." Luhan melambatkan jalannya. Sepertinya Sehun tidak sadar jika sedang di awasi seseorang. Tak lama kemudian, Sehun masuk ke suatu tempat. Tempat yang Luhan tau kalau disana bukan tempat baik-baik.
"Astaga... Kenapa Sehun masuk ke klub?" Luhan memberhentikan mobilnya di seberang klub. Ia terlalu takut untuk turun dan masuk ke dalam sana.
Hingga akhirnya Luhan memutuskan untuk tetap berada di mobil. Tapi jika 15 menit kemudian Sehun belum keluar, Luhan yang akan masuk menyusul Sehun.
Sehun place
"Hun! Sudahlah! Kau terlalu banyak minum!" Tegur Taehyung.
"Diamlah. Berikan lagi!"
"Tidak. Kau tidak boleh minum lagi. Irene! Tolonglah..."
"Sudahlah... Biarkan Sehun bersenang-senang dulu. Kau ini naif sekali." Ujar Irene yang sudah setengah mabuk.
Sesuatu dalam saku celana Sehun bergetar. Sehun mengambil benda tipis itu ogah-ogahan.
"Yeob...seoo,"
"Sehun! Eodisseoyo?!" Teriak seseorang yang memiliki suara baritone di ujung sana.
"Wae?"
"Luhan dan bayinya tidak ada di kamar! Dimana kalian, hah?" Tanya Kris.
"Mana ku tau dan apa peduliku, eoh?" Jawab Sehun asal. Ia sedang tidak sadar saat ini.
"Oh tidak. Apa kau mabuk lagi? Sial!"
Pip!Bam!
Sehun membanting asal ponselnya dan mengacak rambutnya malas.
"Yya, kita menginap disini saja malam ini." Ucap Irene yang sudah memeluk pinggang Sehun dari samping. Irene menarik tubuh Sehun agar menghadap padanya. Kemudian yeoja itu menangkup wajah Sehun dan langsung mencium bibir tipis Sehun kasar. Sehun hanya diam karena ia sudah terlalu pusing.
Sreett!Dugh!
"YYA!" Irene menjerit saat seseorang menariknya dan mendorong bahunya kuat.
"Dasar jalang! Kenapa kau mencium Sehunku, hah?!" Teriak Luhan.
Ya, sudah 15 menit berlalu dan Sehun belum juga menampakkan batang hidungnya. Luhan masuk paksa ke klub itu. Beberapa penjaga berusaha menahannya karena mengira Luhan masih kecil. Luhan yang sudah lelah berdebat pun langsung berlari masuk ke dalam.
Karena badannya yang memang mungil, Luhan bisa melewati orang-orang di dance floor yang tidak bisa dibilang sedikit.
Betapa terkejutnya ia saat melihat kekasihnya dicium seorang wanita berpakaian minim di bar.
"Cih! Siapa yang kau sebut 'Sehunku', hah?" Tanya Irene dengan suara khas orang mabuk. Luhan mengepalkan tangannya erat karena emosi.
"Sehun itu adalah kekasihku! Kami saling mencintai sejak dulu. Kami bahkas sudah sering bercin-"
PLAK!!!
Seketika suasana dalam klub itu menjadi sunyi saat suara sebuah tamparan menggema di seluruh ruangan.
Tamparan Luhan yang sangat keras itu membuat ocehan Irene terhenti. Yeoja itu memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari Luhan.
"Beraninya kau!"
"Bisa kau diam, jalang sialan?" Desis Luhan. Irene menatap nyalang pada Luhan yang hanya bersikap santai. Luhan berjalan ke arah Sehun yang sedang membaringkan kepalanya di meja bar.
"Oh Sehun! Ayo kembali!" Ajak Luhan.
"Nuguya?" Tanya Sehun yang menunjuk wajah Luhan.
"Aish! Anak ini sudah gila." Gumam Luhan.
"Hmm, kau. Apa kau bisa bantu aku membawa anak ini ke mobilku?" Tanya Luhan pada Taehyung. Bartender yang mirip dengan Baekhyun itu mengangguk pasti. Taehyung membopong Sehun untuk keluar dari klub.
Luhan berhenti di depan Irene sebentar dan tersenyum miring.
"Aku tidak berbuat lebih karena kau perempuan. Dan, aku tidak percaya jika Sehun bisa nafsu pada jalang yang modelnya sepertimu. Cih!" Ejek Luhan pada Irene dan kemudian menyusul Taehyung dan Sehun keluar. Irene menatap geram pada Luhan dan mengepalkan tangannya erat. Ia benar merasa malu sekarang.
"SIALAN! ARRGHH!! Aduh, kepalaku." Teriak Irene masih dalam kondisi setengah sadar.
Luhan berjalan cepat menuju mobilnya. Hatinya sakit. Nafasnya tercekat. Ia menggigit bibir bawahnya kuat. Terlalu kuat hingga bibir bawahnya mengeluarkan darah segar.
"Sehun-ah..."
"Hmm, mobilmu yang mana?" Tanya Taehyung pada Luhan. Luhan menunjuk mobil silver dan memberikan kunci mobil pada Taehyung.
"Tolong, kau yang bawa mobilnya ya." Pinta Luhan dengan suara bergetar. Taehyung lagi-lagi hanya mengangguk.
Bam!Bam!
Pintu mobil tertutup dan Tahyung menyalakan mesin mobilnya. Luhan dan Sehun duduk di belakang.
Luhan menatap sendu ke arah Sehun yang tertidur di sebelahnya. Ia menarik kepala Sehun pelan-pelan agar bersandar di bahunya. Kepalanya sendiri ia sandarkan di atas kepala Sehun yang berada di bahunya. Tangan lentiknya ia gunakan untuk mengelus lembut bahu Sehun.
"Tidurlah..." Bisik Luhan pelan.
"Apa kau yang bernama Luhan?" Tanya Taehyung.
"Eh? Kau mengenalku?" Tanya Luhan balik.
"Ani. Akhir-akhir ini Sehun sering ke klub. Padahal ia sudah lama tidak ke tempatku lagi."
"Dulu dia sering klubing? Dan, apa hubungannya denganku?"
"Dulu di sangat suka klub. Mabuk-mabukan, bermain wanita, tawuran. Sehun sangat suka melakukan hal-hal seperti itu. Tapi sejak ayahnya memindahkan Sehun ke sekolah lain, Sehun mulai berubah. Ia sudah jarang main ke klub. Dan sekarang, ia kembali melakukan kebiasaanya karena sesuatu. Sesuatu yang aku yakin ada hubungannya dengan seseorang yang bernama Luhan. Satu-satunya orang yang bisa membuat Sehun patah hati, frustasi dan... Menangis. Yang ku tau, seumur hidupnya Sehun tidak pernah menangis. Bahkan saat umurnya masih 3 tahun sekalipun. Ia adalah orang yang sangat keras. Jika dia menangis karena seseorang, berarti dia sangat mencintai orang itu. Dan kaulah orang yang bisa membuat seorang Oh Sehun meneteskan air mata." Jelas Taehyung panjang lebar.
"Ba-bagaimana bisa? Kau... Tau darimana?"
"Setiap Sehun mabuk, ia selalu menyebut namamu. Selalu berkata 'Lu, aku mencintaimu' Setiap waktu dan menangis. Aku merasa tidak tega melihat Sehun yang seperti itu."
Air mata Luhan sudah mengalir deras saat ini. Ia memeluk Sehun erat. Sesekali mencium pucuk kepala Sehun dan membiarkan air matanya jatuh di atas rambut kelam kekasihnya.
"Mungkin aku memang tidak berhak menanyakan hal ini. Apakah kalian ada masalah? Mungkin aku bisa bantu." Ujar Taehyung.
"Waktu itu... Hari dimana aku tau jika Sehun sudah bertunangan. Namun, aku terlalu sakit hati saat itu sehingga aku langsung pergi tanpa mendengar apapun dari Sehun. Aku pergi ke China karena ibuku sedang sakit saat itu. Aku merasa sangat bersalah pada Sehun. Hingga akhirnya appaku menyuruhku pulang ke Korea dan aku memutuskan untuk memperbaiki semuanya dengan Sehun. Namun saat aku kembali, Sehun justru menjauhiku. Aku tidak mengerti ada apa dengannya." Jelas Luhan. Taehyung menghela nafasnya pelan.
"Luhan-ssi, bukannya aku menyalahkanmu. Tapi, harusnya kau mendengarkan penjelasan Sehun waktu itu. Sehun belum bertunangan."
"A-apa maksudmu? Kai bilang..."
"Oh, jadi si hitam itu yang bilang padamu, ya? Itu tidak benar. Sehun dijodohkan oleh ayahnya dengan seseorang. Tapi, Sehun bahkan tidak mengenal orang itu sama sekali. Ayahnya hanya bilang jika ia akan menperkenalkan Sehun pada calonnya jika ia sudah lulus kuliah nanti. Sehun yang merasa diperlakukan sebagai boneka oleh ayahnya pun memutuskan untuk pindah ke apartement sendiri. Ia tidak mau tinggal dengan ayahnya yang menurutnya sangat egois itu. Kau tau? Sehun memang memiliki keluarga. Tapi selalu merasa sendiri dan kesepian. Itulah mengapa ia tidak pernah tersenyum. Tapi jika kulihat, kau membawa pengaruh yang sangat besar untuk Sehun. Bahkan saat mabuk pun, jika ia menyebut namamu ia akan langsung tersenyum. Aku terkejut melihatnya seperti itu." Jelas Taehyung lagi. Luhan tertegun mendengar semuanya dari Taehyung. Jantung berdetak jauh lebih kencang dari biasanya. Serasa ada ribuan kupu-kupu tak kasat mata yang berpesta di dalam perutnya. Ia merasa sangat tersanjung bisa menjadi bagian spesial dalam diri Sehun. Namun ia masih merasa sangat bersalah karena tidak mendengar semuanya langsung dari Sehun waktu itu.
"Luhan-ssi, kita sudah sampai." Ucap Taehyung.
"Terimakasih, hmm?"
"Kim Taehyung. Panggil saja Taehyung."
"Terimaksih Taehyung... Terimakasih banyak." Ucap Luhan. Taehyung hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Luhan. Kemudian Taehyung membawa Sehun ke kamar asrama.
Kriieett...
"Lu! Kau tidak apa?" Tanya Kris yang langsung menghampiri Luhan saat pintu terbuka. Mata Kris beralih ke belakang Luhan.
"Ternyata benar. Dia mabuk lagi." Ucap Kris.
"Dia sudah pernah mabuk di asrama sebelumnya dan kau tidak memberitahuku?" Ucap Luhan. Kris hanya menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Bawa saja dia kesana." Ujar Luhan menunjuk ranjang Sehun.
Buk!
"Hah.. Luhan, aku pergi dulu." Pamit Taehyung. Luhan hanya mengangguk mengiyakan.
"Lu, kau darimana?"
"Klub,"
"Mwo?! Kenapa kau kesana?"
"Aku ingin menyusul anak itu." Jawab Luhab melirik pada Sehun.
"Haish, kau kan bisa membangunkanku. Aku takut sekali saat melihat kau tidak ada tadi."
"Tenanglah. Aku juga seorang namja, bukan?"
"Hhh, ya." Kris menghela nafas pelan. Luhan berjalan ke arah Sehun dan menggenggam tangan pucat itu. Luhan tersenyum tipis dan menundukkan badannya.
CUP~
Luhan mengecup lembut bibir merah dingin Sehun. Kemudian ia terkekeh pelan.
"Walaupun bau alkohol bibirmu tetap manis." Kekeh Luhan.
"Jaljayo Chagiya..."
Kris yang melihat semuanya hanya memandangnya tanpa ekspresi. Hatinya berdenyut sakit melihat itu semua. Ia hanya tersenyum kecut. Sehun benar-benar beruntung. Pikir Kris.
.
.
"Shhh..." Sehun meringis pelan dan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit saat ini. Tadi malam ia minum terlalu banyak.
Sehun bangun dan pergi ke kamar mandi.
"Aish... Kenapa pusing sekali?"
Sehun pun mulai membersihkan dirinya malas-malasan. Setelah ia selesai, ia keluar kamar dan baru menyadari sesuatu.
"Mereka tidak ada di kamar?" Sehun mengambil ponselnya di nakas dan melihat jam. Pantas saja. Ini sudah jam 10. Luhan tidak membangunkan Sehun.
Namun pada dasarnya Sehun memang keras kepala, walaupun saat ini kepalanya sangat pusing ia tetap bersiap ke sekolah. Bukan berniat untuk belajar. Ia hanya bosan di kamar.
Kriieet
"Sehun?" Luhan masuk ke kamar dengan membawa sesuatu.
"Kau sudah bangun? Aku bawakan sandwich untukmu. Dari tadi kau belum makan apa pun." Ucap Luhan yang meletakkan dus kecil di meja ruang tengah. Ia melihat Sehun dengan tatapan bertanya. Sehun hanya mengacuhkan Luhan dan memakai sepatunya.
"Yya! Kenapa kau memakai seragam? Kau mau ke sekolah? Kau masih sakit. Kau ini keras kepala sekali." Sehun hanya diam tidak menanggapi. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah cepat.
"Oh Sehun!"
Sret...GREB!
Luhan menarik kuat lengan Sehun sehingga tubuh Sehun berbalik dan Luhan langsung memeluk Sehun erat.
"Kau kenapa? Kenapa kau menjauhiku? Ada apa, hmm?" Tanya Luhan yang masih memeluk Sehun. Sedangkan Sehun sendiri tidak tau harus berbuat apa. Ia tidak tega melihat Luhan seperti ini. Ia bukannya marah. Ia hanya kecewa karena Luhan tidak menceritakan apapun padanya. Sehun merasa gagal menjadi kekasih jika mengetahui hal kecil tentang Luhan saja ia tidak bisa.
Luhan melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap Sehun.
"Hun-ah... Aku minta maaf karena waktu itu aku pergi. Aku tidak bermaksud egois. Aku hanya shock mendengar ucapan Kai."
"Dan kau langsung percaya?" Sergah Sehun.
"Ani! Justru aku tidak percaya. Aku tau kau tidak mungkin mengkhianatiku. Aku-"
"Aku tidak masalah tentang itu Lu. Aku tidak marah padamu. Sudahlah, aku mau ke sekolah." Potong Sehun.
"Tidak! Jawab aku dulu Sehun! Apa yang-"
"Bisakah kau berhenti untuk mengubahku? Aku merasa menjadi orang lain saat bersamamu. Kau mengubah segalanya! Segala hal tentang diriku! Bisakah?"
"Tidak! Aku takut kehilanganmu! Kau pikir jika kau terus mengomsumsi alkohol seperti itu kau akan baik-baik saja, hah?! Alkohol yang kau minum itu kadarnya sangat tinggi! Kau bisa mati, Sehun! Kau bisa mati..." Ucap Luhan sambil terisak.
"Aku kecewa padamu Lu! Aku kecewa!" Teriak Sehun. Luhan tersentak saat Sehun berteriak padanya. Air mata Luhan semakin deras keluar. Inilah yang paling Sehun benci. Ia paling tidak suka jika Luhan menangis karena dirinya.
"K-kecewa? Ada apa Sehun-ah?..."
"Bayimu. Aku kecewa saat mengetahui kau sudah punya anak. Aku kecewa saat mengetahui kau ada hubungan dengan Seulgi. Sakit Lu. Rasanya sakit sekali mengetahui orang yang kau cintai sudah memiliki anak."
"Sehun-ah, dengarkan aku dulu."
"Sudahlah Lu. Lupakan saja,"
"Tapi bayi itu bukan anak kandungku Sehun!"
DEG!
Nafas Sehun tercekat saat mendengar perkataan Luhan barusan. Seakan-akan waktu terhenti saat itu juga.
"Dia bukan anakku dan Seulgi. Aku tidak bermaksud untuk membohongi mu. Tapi aku menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Dia anak angkatku." Jelas Luhan dengan suara bergetar.
"Ba-bagaimana bisa?"
"Saat itu... Aku pulang ke China karena mama sedang sakit. Setelah beberapa hari di China, ada seseorang yang membunyikan bel rumahku berkali-berkali. Namun saat aku membuka pintu, tidak ada siapapun di luar. Hingga akhirnya suara tangisan bayi menyapa pendengaranku. Aku melihat sosok mungil yang hanya berbalut kain putih berada di teras rumahku. Karena rumahku yang memang sangat luas, aku takut-takut menghampiri bayi itu. Ah ya, saat itu sudah malam. Aku mengangkat bayi itu pelan-pelan. Aku tersenyum melihat bayi itu langsung diam saat aku menggendongnya. Hatiku merasa sangat tenang menatap wajah teduh bayi itu. Ada secarik kertas yang diselipkan dalam kain yang dipakai bayi itu. Isinya mengatakan jika orang tuanya tidak bisa membiayai hidup bayi itu. Mereka menitipkan anaknya pada pemilik rumah yang tentu saja adalah mamaku. Tapi entah kenapa aku aku sangat ingin menjadi orang tua sehingga aku yang mengangkat bayi itu menjadi anakku. Terdengar konyol, ya." Jelas Luhan panjang lebar. Sehun menarik Luhan kedalam pelukan hangatnya. Sehun menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luhan.
"Kenapa kau tidak memberi tahuku, Lu?"
"Aku rasa hubungan kita saat itu sedang tidak baik, Sehun. Makanya aku hanya memberitahu Kris dan yang lain. Maaf," Luhan merasa kalau leher dan kerahnya basah saat ini.
"Hey, kau menangis?" Tanya Luhan lembut. Sehun menggeleng pelan dalam pelukannya.
"Lu, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf. Aku merasa sangat jahat. Aku sudah gila sehingga memikirkan yang tidak-tidak tentangmu."
"Ssstt, sudahlah. Dan Seulgi, dia hanya sepupuku. Dia memang sangat dekat denganku. Dia mengaku sebagai ibu dari bayiku karena ia juga sangat menyayangi bayi tak berdosa itu. Jadi kau tidak perlu khawatir." Jelas Luhan lagi. Sehun melonggarkan pelukannya pada Luhan. Ia menatap lekat pada sepasang mata indah favoritnya.
Luhan terkekeh pelan melihat wajah Sehun saat ini.
"Kau lucu sekali." Ucap Luhan sambil mengusap air mata Sehun. Benar-benar seperti bayi jika sedang menangis.
Sehun tersenyum sangat lembut. Senyum yang sangat dirindukan Luhan selama ini. Sehun menangkup wajah Luhan dan mengusap lembut pipi merah Luhan. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan. Sangat dekat sehingga nafas mereka saling menerpa wajah satu sama lain.
"Aku sangat merindukan bibir ini," Bisik Sehun yang kemudian langsung menempelkan bibirnya dengan bibir mungil Luhan. Ciuman penuh perasaan tanpa ada nafsu di dalamnya.
Tangan Luhan sudah melingkar manis di leher Sehun. Sedangkan tangan Sehun memeluk pinggang Luhan. Sehun melumat lembut bibir kekasihnya. Luhan tidak membalas sama sekali. Ia hanya menikmati ciuman memabukkan Sehun yang sangat ia rindukan. Ia merindukan segala hal tentang Sehun.
Sehun melepaskan ciumannya dan menempelkan dahinya dengan dahi Luhan.
"Ada apa dengan bibirmu? Rasanya berbeda." Tanya Sehun.
"Kenapa? Apa kau sudah tidak menyukainya?"
"Ani. Aku semakin menyukainya. Karena bibirmu jadi semakin manis. Padahal baru 2 minggu aku tidak menyentuhnya." Ujar Sehun.
Blusshh~
Pipi Luhan memerah saat mendengar ucapan frontal Sehun.
"Aku rindu pipi yang selalu berwarna merah ini. Huaa," Ujar Sehun yang mencubit gemas pipi Luhan. Ia menggenggam tangan Luhan dan mengecup singkat bibir merah Luhan.
"Lu, sekali lagi aku minta maaf. Aku berjanji... Kita tidak akan pernah berpisah, apapun yang terjadi." Ucap Sehun pasti.
"Apapun yang terjadi." Balas Luhan yang mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Sehun.
.
.
"TBC"
Review Juseyo...
NEXT or NO?
Wuhuu, chap yang penuh percakapan yang berisi penjelasan yang memusingkan dan yang melelahkan akhirnya selesaiiii~Review kalian semua mirip-mirip, wkwkwk. Kompakan yee,Jawabannya, Luhan ga bakal bisa membuahi Seulgi dalam ff ini. Bener-bener harus muter otak chap ini. Hehe,Mohon reviewnya... Mmuaach!