Jellal POV

Aku bisa melihatnya dari jauh, desa mata merah dalam keadaan hancur lebur. Kami menerobos masuk lewat rumah para warga, yang di luar terlihat kosong belompong tanpa seorang pun. Salah satu pintu kayu terbuka lebar, menampakkan seorang kakek tua meringkuk ketakutan di pojok laci. Benar juga, mungkin beberapa warga tau di mana Erza berada sekarang, sehingga tidak perlu mencarinya sampai berkeliling.

"Ho-Hoi, kau mau kemana Jellal?! Aku masih belum mengerti kenapa kita ke sini" cegat Meredy menghentikan langkahku. Menantikan jawaban yang dia harap akan memenuhi rasa penasarannya. Diceritakan pun bukan masalah, lagi pula kami …. berteman, huh?

"Untuk mencegah Erza berhenti membunuh warga. Jika kamu ingin mundur, sekaranglah kesempatannya" ekspresi Meredy seakan mengisyaratkan, 'itu terdengar gila!'. Lagi pula tugas utama kami memang menggulingkannya dari pemerintahan

"Tapi kenapa? Erza-sama orang baik! Kemarin dia memberikanku makanan dan alas sendal. Dan tiba-tiba aku mendengar kau hendak membunuhnya" memanfaatkan kelemahan orang lain demi tujuanmu, dasar keparat sialan ….

"Pendapat kita berbeda. Tunggu dan biarkan aku mengumpulkan informasi"

Tap … tap … tap ….

"Apa kakek tau di mana Erza? Langsung jawab pertanyaanku, jangan banyak bicara!" bentakanku semakin membuatnya takut buka mulut. Meskipun sesama ras terkutuk, aku tidak segan-segan jika masalah ini menyangkut nama kepala pemerintah tersebut

"Di-dia membunuh cucuku! Tolong balasan dendamnya, ku mohon!" kakek itu langsung memeluk kakikku sambil menangis tersedu-sedu. Permintaan barusan bukan masalah besar, kebetulan saja kami memiliki niat yang sama

"Oh, baiklah"

Perbuatannya benar-benar keterlaluan, bahkan ia berani membunuh bocah berusia sekitar lima tahun. Kepala malang itu tergeletak tepat di depan pintu, membuat Meredy ikut merinding sampai isi perutnya serasa bergejolak hebat. Mengatai Erza sama sekali tidak berguna, karena kenyataan telah membuktikan : bahwa kami berdua adalah pembunuh berdarah dingin. Kami berniat melanjutkan perjalanan, jika pengemis lusuh ini tidak sembarangan berhenti berjalan.

"Hey, bukankah tadi kamu sedikit kejam? Jika ayah masih hidup, aku berjanji melayaninya sebaik mungkin. Du-dulu, andaikan …." hubungan yang terkesan seperti majikan dan pelayan. Bagiku masa lalu Meredy tidak penting untuk dibahas atau diceritakan, jika dia kesakitan hingga menitihkan air mata lagi

"Jangan mengingat hal-hal buruk. Masa depan masih panjang. Ayahmu hanya bagian dari cerita kelam, lupakanlah jika kau menginginkan sebuah kemajuan"

"Ternyata kamu bisa bijak! Terima kasih banyak, aku menghargai nasihatmu"

Kurang tepat kalau dikatakan bijak, aku pun mengalami 'pukulan' serupa tujuh tahun lalu. Nasib kami mempunyai kemiripan namun sedikit berbeda, dia jauh lebih beruntung setidaknya. Seseorang menghentikan langkah kakiku, diikuti Meredy yang mendadak terhenti melihat sang penyelamat berdiri tepat di depan mata. Rambut scarlet itu mengumbar bau darah yang amat pekat. Mungkin jumlah korban jauh lebih banyak dibanding perkiraanku.

"Selamat siang Jellal. Kau masih sama seperti dulu, kecuali perangimu yang berubah drastis" komentar Erza diselip basa-basi. Sengaja memancingku untuk mengenang kisah kami berdua di masa lampau

"Berhentilah mengucapkan hal-hal yang memuakkan. Kita sama-sama berubah, apa gunanya diungkit? Dan aku menolak salammu"

"Kita baru bertemu! Bagaimana jika berbincang sebentar? Oh iya, siapa anak perempuan di belakangmu? Pacar kah? Aku tidak menyangka kamu jatuh cinta, sementara anggota pemerintah terus memburu guild kalian"

"Teman, sebutlah begitu. Memang kamu sendiri punya pacar? Sayangnya aku gagal memahami apa yang kau maksud jatuh cinta. Pembunuh tidak memerlukan perasaan, jika memilikinya maka dia dinyatakan tak pantas menyandang pekerjaan tersebut"

"Ya, kau benar. Sekarang aku mengerti ucapanmu waktu itu, siapa sangka akan begini. Omong-omong seperti biasa, mengobrol denganmu sangat membosankan, tetapi entah kenapa terasa menyenangkan. Mendengarmu berteriak kesakitan pasti berpuluh kali lipat lebih seru!"

Sekejap mata Erza melancarkan pukulan, berniat membidik perutku yang pertahanannya terbuka lebar. Secepat mungkin aku mengambil mundur beberapa, memunculkan sebuah pistol kemudian menarik pelatuk tersebut sambil melayang di udara. Meskipun berhasil dielak, pelurunya sedikit menggores lengan baju yang sedikit mengalirkan darah segar. Selama permainan berlangsung, kau akan kalah terlebih dahulu.

"Sword bunt!" menggunakan sihir teleport aku berpindah ke belakang punggung Erza. Hendak memukul pusat keseimbangan tubuhnya dengan ganggang steno

"Jangan mermehkanku bodoh! Kerahkan seluruh kekuatanmu!" badannya berbalik cepat. Mengenggam erat ujung steno dan membantingku keras membentur tembok bangunan. Dia wanita yang gila sekaligus mengerikan

"Jellal, ka-kau baik-baik saja?!"

"Bodoh jangan kemari!" seruku mendorong Meredy menjauh, hingga serangan dadakan itu mengenai tubuhku yang dibelenggu mati rasa. Erza tidak boleh dianggap remeh, bahkan tongkat tersebut menyamai tajamnya pedang yang siap menerkam mangsa

"Ketujuh pedang iblis akan menghukummu dalam api neraka : explosion"

TRANGGGG!

TRANGGGG!

TRANGGGG!

TRANGGGG!

"Perlawanan yang bagus. Aku kagum dengan tingkat akurasimu walau terkena efek stunt. Kita sudahi saja pertarungan ini, akan ku buktikan bahwa kau …."

SRAKKKK!

Tes … tes … tes ….

"K-kau, sejak kapan pisau itu berada di tanganmu?!" seranganku berhasil mengenainya ketika dia lengah. Erza nampak kesakitan sambil memegangi perutnya yang bercucuran darah. Padahal tinggal sedikit lagi sebelum organ dalamnya ikut terluka parah

"Bagaimana rasanya, sakit bukan? Kau hebat karena bisa menangkis empat serangan, tetapi percuma saja jika terkena tiga lainnya. Aku masih menaruh belas kasih padamu. Anggaplah sebagai tanda persahabatan kita, dan kata-kata manis itu hanya omong kosong"

"KETERLALUAN! AKU TIDAK LEMAH SAMPAI MEMBUTUHKAN PENGAMPUNAN DARIMU!"

BRAKKKK!

Kedua tangannya mendorong dadaku kasar, menghempaskan tubuh kami berdua sampai menembus permukaan dinding yang rapuh. Aku kesulitan berdiri, Erza benar-benar tidak membiarkanku berkutik sedikitpun. Ia menodongkan pisau tepat mengarah ke jantung, nyaris menikamkannya jika jari-jemariku kurang cepat menahan serangan tersebut. Kami saling beradu kekuatan, yang satu berusaha membunuh sedangkan yang lain bersikukuh mempertahankan nyawa.

"Tahanlah terus sehingga telapak tanganmu terbelah! Akan ku bawa kau ke neraka!" emosinya kelewat batas. Aku memunculkan sebilah pisau lain, hendak menikam dada Erza yang mati-matian dia tahan memakai tangan kiri

"Tusuk dibalas tusuk. Kau pun wajib merasakannya, mungkin sampai tangan kita sama-sama terbelah"

"Heh …. tantangan yang menarik Jellal. Ayo lihat siapakah sang pecundang"

Meredy POV

Nyawa Jellal terancam bahaya! Aku tidak bisa membayangkannya bertahan lima menit ke depan dengan kondisi separah itu. Jika begitu maka sekarang giliranku melindungi Jellal! Kebetulan di desa ini ada banyak bangunan tinggi, cukup menguntungkan seorang sniper yang terbiasa bersembunyi di balik bayang-bayang.

"Lihatlah! Sekarang kau ditinggalkan oleh satu-satunya temanmu itu!"

"Tujuanku sudah tercapai. Baguslah jika dia sadar diri dan kabur meninggalkan desa" jangan membuatku terdengar seperti pengkhianat! Senapan tergenggam erat dalam dekapanku, tinggal menunggu angin sedikit mereda barulah serangan dapat dilancarkan

TREK … TREK ….!

"Yosh! Amunisi terisi penuh. Menentukan arah angin, koordinat dan lokasi musuh. Siap menembak dalam hitungan tiga, dua, satu, wind breaker!"

DUARRRRR!

WHUSSHHHH!

Peluru melesat cepat bak kilat menyambar. Meledakkan bangunan tersebut dalam sekali tembak dengan kekuatan angin yang dahsyat. Aku yakin Erza tidak mungkin selamat, dan Jellal terselamatkan lalu kami bisa melanjutkan pencarian. Kabut tebal tak menghalangi pandanganku yang menyebabkan samar-samar, monster itu tetap berdiri gagah tanpa terpengaruh apapun, sambil memegang pisau berlumuran darah segar menyungging seulas seringai.

"Aku menemukanmu, bocah sniper!"

Gawat, keberadaanku diketahui! Aku meloncat ke belakang bangunan, menghindari kejaran Erza yang membabi buta dengan senyum pembunuhnya. Ternyata selama ini Magnolia dipimpin oleh seorang monster! Sekarang tidak ada alasanku bagiku, untuk melarang Jellal menggulingkannya dari pemerintahan. Sesekali dia melempar pisau ugal-ugalan, entah darimana benda tajam itu didapatkan seakan tak memiliki batasan jumlah.

"Sihir pergantian, ya …. aku sempat melihat senapanmu barusan. Itu barang langka bukan?" jika Erza mengetahui kronologis sebenarnya, bisa-bisa senjataku disita dan ucapkanlah sampai jumpa pada dunia luar. Mendekam seumur hidup di penjara bukanlah keinginanku!

"Be-berisik! Memangnya penting apa?!"

DOR!

DOR!

DOR!

Arghhh sial ….! Kenapa harus ada orang lain yang menganggu kami?! Aku menyuruhnya berhenti supaya tidak terkena peluru itu, dan semudah membalik telapak tangan dia menangkis serangan tersebut memakai gerigis pisau. Erza berhenti mengejar, menyebabkan langkah kakiku otomatis tersendat di tengah jalan. Seorang lelaki berbadan besar datang menghampiri kami, membuat kecepatan lari si salam semakin dipacu meningat jarak mereka mulai menipis.

"Larilah. Nanti kau ditangkap beruang itu!" serunya menarik pergelangan tanganku kasar. Sementara Erza membiarkan kami lolos tanpa mengubah keadaan tegang yang tercipta. Justru dikejar anggota pemerintah lebih terkesan mengerikan!

"Hey, kau menggendong Jellal?!"

"Bukan, dia adik Jellal. Oh apa kamu bertemu dengannya, di mana?" entah kenapa dia terdengar bersemangat. Be-benar juga, aku meninggalkan anak itu di sana sendirian, semoga kondisinya baik-baik saja!

"Kami baru berkenalan kemarin. Aku harus balik ke arah utara, tetapi pria itu menghalangi jalan di belakang. Jellal berada di salah satu bangunan, kita harus mencarinya!"

"Baiklah, tidak ada pilihan selain melawan beruang ini! Majulah Laxus!" apa tidak terlalu gila menantang anggota pemerintah terang-terangan? Aku melemparkan gas air mata ke arahnya, lagi pula jauh lebih baik daripada memberi perlawanan

"Manfaatkan kesempatan yang ada. Ayo!"

"Ehem! Kalian mau pergi kemana, huh? Biar ku tebak, pasti ingin bertemu Jellal. Kita satu tujuan, untuk apa terburu-buru menghampirinya? Bermain sebentar bukanlah pilihan buruk" aku lupa Erza masih berada di sini, sekarang kami benar-benar terjebak!

Tap … tap … tap ….!

Suara langkah kaki, apa bala bantuan pemerintah datang?!

"Kalian berdua lengah, lightning dragon roar!" petir keluar dari mulutnya! Baru pertama kali, aku menyaksikan langsung sihir kuno di depan mata kepala sendiri. Kami gagal menghindari serangan tersebut, menyetrum tanpa ampun dengan kekuatan beribu-ribu volt

"Bagaimana jika kami menjadi daging panggang, hah?! Ya ampun, sekarang kondisi Mystogan bertambah parah" ia mengeletakkan tubuh seorang lelaki yang seratus persen mirip Jellal. Mungkin mereka saudara kembar atau semacamnya

"Cih. Tikus-tikus semakin banyak berkeliaran"

"Jangan harap kau bisa lari Laxus!" seru pemuda berambut raven berluap amarah, diikuti dua orang lain yang sama-sama berambut pirang. Ku rasa bala bantuan ini ditunjukkan untuk kami dan Jellal

"Mirip dengan yang di poster, Gray Fullbuster, Mavis Vermillion dan …."

"Ka-kakak, se-sedang apa kamu di sini?!"

"APA, LAXUS DREYAR ADALAH KAKAKMU?!" aku pun tak kalah terkejut, terutama Natsu yang berteriak paling keras. Bagaimana bisa, adik seorang anggota pemerintah pergi ke desa bersama sekumpulan anak terkutuk?

Jangan-jangan dia akan berkhianat cepat atau lambat!

Bersambung ….

Balasan review :

Fic of Delusion : Bakal nambah satu dan mati satu, hahaha. Thx ya udah review.