Move On
Chapter 14 : Balikan yuk!
Balasan Review :
Hayashi Hana-chan : Iya, makasih. Syukurlah kalau begitu, yosh… ganbatte! Makasih pake B.G.T. untuk reviewnya^^
Jeremy Liaz Toner : Penasaran ya? Minta pertanggung jawaban lagi, waduh. Ya udah ini deh, saya kasih jawaban dari rasa penasarannya. Dibaca chapter ini sampai habis ya, makasih banyak untuk reviewnya^^
Gilang363 : Wokee ini lanjutannya. Bacanya sampai habis ya, *biar saya seneng Makasih ya buat reviewnya, review lagi^^
Dhezty UchihAruno : Hehehe… iya. Masalah Matsuri nempel sama Sasu itu kayaknya dijawab next chapter deh. Makasih untuk reviewnya^^
Marukocan : Bagus nggak sih? Rencana sih mau bikin reader penasaran gitu, tapi kalau nggak enak, mending saya setopin aja kali ya? Makasih banyak untuk reviewnya^^
Karena Sakura telah selesai melakukan tugas yang diberikan dosen itu dan juga telah memeriksanya, Sakura pun mengumpulkan hasil kerjanya. Mahasiswa dan mahasiswi yang melihat Sakura telah kumpul juga ikut mengumpulkan hasil masing-masing secara gerombolan. Setelah mengumpulkan itu Sakura kembali ke tempatnya lalu duduk manis.
Sakura POV
Aku segera menghindari kumpulan orang yang buru-buru mengumpul hasil tugas masing-masing. Lalu aku kembali ke tempatku dan duduk di bangku. Muncul kembali kata-kata Sasuke yang menyayat hatiku. Aaargh… geramku kesal, aku bingung bagaimana bisa hanya karena dia berkata dengan nada sinis dan juga mengacuhkanku aku bisa hampir menumpahkan air mataku? Dan otakku jadi terus memutarkan segalanya berulang-ulang sampai membuat kepalaku menjadi pusing. Aku menghela nafasku dengan berat untuk meredam segala emosiku yang membeludak ingin keluar.
"Sakura kau kenapa?" tegur Gaara yang membuatku tersentak kaget, aku pun langsung menoleh ke arah Gaara yang duduk di sebelahku.
"Aku tak apa. Kau sudah kumpul?" jawabku lalu bertanya padanya, ia mengangukkan kepalanya.
"Oh… sou ka" balasku lagi setelah melihat anggukannya.
"Haruno Sakura," suara berat dosen pun terdengar di gendang telingaku. Otomatis aku menoleh ke arah dosen itu, dengan agak takut aku melangkahkan kakiku, siapa yang tak takut bila kau dipanggil oleh dosen yang killer.
"Haruno, kau yang pertama kumpul kan?" tanyanya saat aku sudah ada di hadapannya, aku mengangguk pelan.
"Memangnya ada apa Sensei?" tanyaku pada dosen yang bermata seperti ular dengan rambut hitam panjangnya.
"Tugasmu," jawabnya. Aku mengernyitkan dahiku bingung.
"Ya, tugasku kenapa Sensei?" tanyaku penasaran.
"Tugasmu,… sempurna Haruno! Semuanya lengkap, kau memang teliti" jawabnya dengan senyumnya yang menurutku menyeramkan.
"Ah, terima kasih Sensei" balasku dengan senyuman juga. Kukira ada apa, bukannya itu wajar waktu aku ada di kelas menengah utama itu kan telah dipelajari.
"Teruskan Haruno. Jangan lalai, ya sudah kau boleh kembali ke tempatmu" ucapnya pada akhirnya, lagi-lagi aku menganggukan kepalaku lalu aku kembali ke tempatku.
Dosen itu melirik jam tangannya, lalu dia segera membereskan segala barang-barangnya. Yes… akhirnya berakhir juga mata kuliah sensei killer ini.
"Baiklah. Sampai di sini pertemuan kita, sampai bertemu di hari selanjutnya" sensei itu pun keluar dari laboratorium, setelah agak lama sensei itu pergi aku pun membereskan semua barang-barangku lalu keluar dari laboratorium ini.
Kulirik arloji yang melingkar pas di pergelangan tangan kiriku, tak terasa sekarang sudah jam untuk istirahat. Setelah meletakkan barang-barangku kembali, aku mendesah lega. Tetapi rasa lapar kembali menghampiriku, jadi kuputuskan untuk melangkah ke kaferia kampus agar perutku tak lagi berbunyi. Kembali emeraldku memanas, untuk apa sih senpai genit dan si pantat ayam itu menempel terus? Apa dia sudah lupa kalau ia memiliki kekasih? Kupejamkan mataku agar liquid bening yang mendesak keluar dari pelupuk mata ini tak berhasil jatuh. Dengan langkah pura-pura acuh, aku memesan makanan dan minuman setelah itu aku mencari tempat yang nyaman. Kulihat Ino melambaikan tangannya padaku, aku hanya tersenyum sekilas, dengan langkah seribu Ino menghampiriku.
"Saku!" ujarnya dengan nada berseru.
Normal POV
"Kenapa?" balas Sakura dengan tenang, Ino tak menjawab pertanyaan dari Sakura melainkan meminum jus stoberi Sakura lalu mengatur nafasnya.
"Hhh,... kau ini. Untuk apa sih kau datang pakai acara lari-lari?" sambung Sakura lagi.
"Huh, hah… hah… hah… aku mau bercerita padamu," jawab Ino, mendengar itu Sakura teringat akan pesan Sai padanya.
"Aku juga punya. Kau atau aku duluan? Mendingan kau saja, kau kan sampai berlari seperti itu," balas Sakura, Ino mangut-mangut setuju.
"Sasori-nii, sekarang dia sudah ada di rumahmu!" seru Ino senang, sontak emerald Sakura berbinar-binar mendengar kabar baik itu.
"Lho? Kok dia tak memberitahuku ya? Kau, tau dari mana?" Sakura menanggapi, Ino tersenyum.
"Dari Twitter dong. Udah lama tak menjelajahi itu kan? Kabar darimu apa?" jawab Ino dengan senyum cerianya, Sakura menanggapi Ino dengan ber-oh-ria. Memang sih ia sudah jarang untuk menjelajahi akun media sosial yang ia punya, karena memang ia lupa.
"Ini tentang Sai-senpai," jawab Sakura pelan, senyum yang terpatri di wajah Ino pun lenyap seketika, Sakura juga sudah memikirkan apa respon Ino.
"Ke-kenapa dengannya? Bukannya kita sudah jarang berhubungan dengannya?" balas Ino ingin tahu, Sakura menghela nafasnya.
"Waktu aku keluar dari kelasmu tak sengaja kami tabrakan. Dan yah, dia mengajakku ke kaferia dan menjelaskan semuanya. Kita salah sangka Ino, saat itu Sai-senpai sedang menjadi sandaran untuk senpai-genit yang waktu iitu sedang patah hati, karena ternyata mereka berdua bersahabat di Sunagakure," jelas Sakura, Ino melongo mendengar penjelasan dari Sakura, rasa menyesal langsung menggerogoti dirinya.
"Itulah, aku juga menyesal Ino. Coba saat itu aku tak langsung memukulnya, katanya dia tak sempat menjelaskan semuanya karena kau yang langsung memukulnya. Ingin bicara denganmu langsung, menatap wajahnya saja kau sudah ogah-ogahan, jadi dia tak punya kesempatan" timpal Sakura lagi.
"Baka!" umpat Ino kesal. Kristal bening telah menerobos keluar dari pelupuk mata indahnya. Dia sungguh menyesal atas keputusannya yang mengikuti emosi, dia menyesal! Sejujurnya ia juga tersiksa, karena memang hatinya masih berlabuh ke pemuda yang jago melukis dan menggambar itu.
"Ino," tegur Sakura halus sambil mengusap punggung Ino yang bergetar.
"Hiks… baka, baka, baka! Aku baka! Hiks, aku yang salah! Aku yang tak memberinya kesempatan untuk bicara. Sakura, hiks… aku harus bagaimana? Hiks… hiks… aku, aku, aku, aku bingung! Hiks… hiks… hiks…" Ino mengeluarkan apa yang ada dipikirannya, hatinya yang sudah tertata rapi kini menjadi hancur kembali diiringi rasa penyesalan yang mendalam ditambah dengan batin yang tersiksa, lengkap sudah.
"Ino dengarkan aku, hentikan tangisanmu dan dengarkan aku baik-baik. Kau harus bicara empat mata dengan Sai-senpai untuk mengakhiri semua masalah ini. Tenanglah Ino masih ada kesempatan kedua," hibur Sakura sekaligus memberi jalan keluar. Hati Sakura kembali merasa sakit melihat sahabatnya kembali terpuruk seperti dulu, sungguh batinnya terasa terkoyak kembali melihat keadaan Ino yang kembali frustasi.
"Hiks… baiklah. Kau benar, penyakit cengengku kembali kambuh" balas Ino dengan senyumannya yang hambar.
Tanpa Sakura dan Ino sadari, sedari tadi ekor iris onyx pekat Sasuke sibuk memperhatikan mereka berdua, terutama gadis berambut sepinggang yang sama seperti warna gulali itu. Senyum simpul yang mempesona untuk siapa saja terpampang jelas di wajah tampannya. Sedangkan Matsuri di sebelahnya juga ikut tersenyum manis.
"Kuharap dia akan bertahan," ucap Matsuri dengan lembut, Sasuke hanya mengangguk setuju.
"Semuanya akan berjalan lancar. Aku yakin itu," timpal Sasuke dengan yakin sekali, setelah itu mereka berdua bangkit dari bangku masing-masing dan berlalu pergi dari kaferia kampus.
.
.
.
Mata kuliah Sakura berakhir duluan daripada Ino untuk hari ini. Jadi ia menunggu Ino dengan duduk di taman dekat kelas Ino. Sejuk dan tenang yang ia rasakan, rasanya beban yang menyangkut di hatinya perlahan-lahan pun sirna. Emeraldnya sibuk memperhatikan apa yang ada di sekitar taman ini, tak sengaja ia melihat ada sepasang kekasih yang sangat mesra. Pikirannya langsung melayang ke Sasuke dan dirinya yang hubungannya merenggang saat ini. Memang sih, pemuda yang selalu jadi bahan ejekan Sakura itu tak mesra ataupun romantis, tapi tetap saja Sasuke itu perhatiannya melebihi pasangan itu. Dia selalu menghubungi Sakura dan mengirim pesan untuk Sakura, tapi untuk sekarang jangankan untuk menelepon atau mengirim pesan untuknya, bertatap muka lalu mengobrol saja sudah jarang. Sakura tak mengerti apa yang ada di otak jenius pemuda rambut pantat ayam itu. Memangnya ia menjalin hubungan dengan Sasuke untuk mengincar harta berlimpahnya? Kalau dipikir lagi, mereka saja pacaran sebelum Sakura tahu kalau Sasuke itu anak orang beruang. Sakura bertanya tentang latar keluarganya Sasuke itu karna dia ingin memastikan pernyataan tentang Sasuke yang ia dengar dari Gaara dan ingin bertanya mengapa Sasuke menyembunyikan latar belakang keluarganya, itu saja, tak ada yang lain. Mengingat dan memikirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini Sakura menjadi pusing, jadi ia putuskan untuk memejamkan matanya untuk meredakan pusing yang menjerat kepalanya sekaligus menjernihkan pikirannya.
"DOR!" teriak Ino dengan keras. Mendengar lengkingan Ino dengan terpaksa ia harus membuka lagi matanya yang terpejam itu.
"Ayo! Sai-senpainya dimana?" tanya Ino, Sakura pun bangkit dari bangku taman yang didudukinya.
"Iya-iya. Ayo, dia ada di kafe" jawab Sakura. Ino langsung menarik tangan Sakura untuk berlari ke lapangan parkir yang tak jauh dari sana dan mereka pun masuk ke mobil Ino. Tak lama mereka sampai di Strawberry Caffe, Ino pun memarkirkan mobilnya, setelah itu mereka berdua turun dari mobil. Rencananya Ino mau bicara dengan Sai dengan enam mata, ditambah dengan dua mata Sakura, ia tak berani kalau hanya berdua.
Aqumarine Ino sibuk mengalihkan pandangannya ke segela arah. Ternyata nggak jauh-jauh juga, di tempat dimana mereka biasa makan, dan pesanan telah tertata rapi di meja yang ditunggui oleh Sai. Dengan gugup Ino melangkah ke sana ditemani oleh Sakur ayang tenang-tenang saja.
"Aku kira kamu nggak akan datang," ucap Sai dengan senyumannya yang tulus, sungguh Ino merindukan senyumannya Sai yang selalu saja meneduhkan hatinya yang berkecamuk.
"Iya. Aku datang karena ini penting," balas Ino.
"Ah ya. Silahkan Ino, Sakura, makan dulu, aku tau kalian pasti belum makan karna sibuk mengerjakan tugas dan menjalani kegiatan kalian, dan kalian belum sempat makan, apalagi Ino," ucap Sai. Pipi Ino memerah mendengar ucapannya Sai. Ternyata Sai tak pernah lupa dengan kebiasaannya yang suka lupa makan sampai-sampai sekarang ia terkena penyakit maag.
"Makasih senpai," balas Sakura yang lamunan buyar karena ucapannya Sai, Sai hanya membalas balasan Sakura dengan senyum serta anggukan kepalanya, lalu mereka bertiga pun memakan pesanan masing-masing. Tak berapa lama kemudian mereka serempak menyelesaikan acara makannya. Atmosfir canggung kembali meliputi mereka bertiga.
"Ino, kamu sudah dengarkan penjelasan dariku lewat Sakura?" tanya Sai untuk memulai pembicaraan, Ino menganggukkan kepalanya.
"Kamu mau nggak kalau kita balikan?" tanya Sai dengan langsung.
"Mau! Aku mau!" jawab Ino dengan menggebu-gebu. Sebenarnya kalimat itu yang sedari tadi Ino tunggu-tunggu untuk diucapkan oleh Sai. Sakura hanya bisa tersenyum dan menatap bahagia Ino yang sedang berpelukan dengan Sai, pikirannya terus melayang ke Sasuke, entah sudah berapa kali ia memejamkan mata dan menghela nafas agar air mata berharganya tak tumpah. Sekarang boleh ia akui bahwa ia benar-benar mencintai Sasuke. Namun mau bagaimana lagi, mungkin ia harus menghapus perasaannya yang terlampau dalam dan menggantinya dengan taktik baru agar ia bisa move on dari Sasuke, karena hubungan mereka yang merenggang, atau memang itulah yang akan terjadi?
To Be Continue
Hhh,… bagaimana apakah chap ini memuaskan?
Minta reviewnya ya,^^
