Caretaker
By Arianne794
Oh Se Hun / Lu Han (GS)
Romance, School-Life
Short-Fic/T
Warn : This is GenderSwitch!Lu. Don't like, don't read. Thankseu!
.
.
.
Yang update bukan Anna, tapi aku, beta readernya dia. Lagi pusing pake banget katanya, dia masih ada setumpuk list tugas, wkwkwkwk… Kata dia ini buat pengganti sementara, waks. Apaan banget dah.
Summary : Waktu itu Sehun masih enambelas, masih selisih empat senti dari Luhan yang seratus tujuh puluh enam, dan Luhan menolaknya dengan dalih tidak mau dibilang caretakernya Sehun. Dan sekarang Sehun duapuluhsatu, ia sudah seratus delapan puluh delapan senti, dan ia akan memaksa Luhan menerimanya sebagai caretakernya, seumur hidup, kalau bisa. / HunHan. GenderSwitch.
.
This is My OWN FanFic!
Do Not Copy Without Credit Nor Do Plagiarism!
.
.
Waktu itu Sehun masih enembelas, baru satu semester menjalani tahun pertama SMA yang katanya masa merah muda. Sehun masihlah remaja tanggung kurus yang sok-sokan membanggakan kumis tipis yang masih jabang bayi—agar kelihatan saja harus menggunakan kaca pembesar! Ia masih suka tersipu dan menikmati popularitasnya sebagai hoobae ganteng yang sering mendapat colekan dagu dan teriakan kyaa-kyaa dari noona-noona sunbae yang gemas padanya dan kagum dengan kemampuannya di bidang olahraga voli (Sehun suka sekali melakukan jump-serve yang akan membuat para gadis berteriak histeris, sekalipun beberapa akan membentur net atau bahkan out).
Sehun menikmati itu semua dengan baik, sampai ketika ia mendapatkan cedera ringan pada pergelangan kaki kiri di pertandingan semifinal acara jeda semester. Ia jatuh tertimpa rekan setim saat akan melakukan receive menggunakan kakinya. Alhasil, ototnya tertarik dan Sehun merasakan ada tulang yang sedikit bergeser dari tempatnya. Ia dipapah keluar untuk didudukkan di bangku pinggir.
Teriakan kecewa para gadis terabaikan ketika mendapati seorang gadis dari klub kesehatan bersimpuh di hadapannya. Seragam sekolah yang terlapisi rompi biru navi dan kotak putih berlambang palang merah tergantung di bahu menjadi pemandangan yang menyilaukan kala itu.
Sumpah, Sehun baru tahu ada gadis secantik ini! Kemana dirinya setengah tahun ini?
Kulitnya berwarna putih langsat—nyaris transparan, karena Sehun dapat melihat bilur-bilur pembuluh darah di tangannya yang kurus. Wajahnya… Sehun nobatkan sebagai perempuan paling cantik kedua setelah ibunya di rumah! Dengan mata bulat yang berkilauan—sungguh, itu efek bias sinar matahari yang membantu, hidung bangir kecil yang seakan minta digigit dan bibir merah ceri yang membuat siapapun ingin menciumnya (khusus untuk Sehun harus dikarungi dan dikunci dalam kamarnya, dan sekarang kau macam maniak, OhSeh!) Itu adalah momen paling erotis Sehun selama enambelas tahun hidupnya.
Dan semua khayalannya yang mulai iya-iya buyar ketika kakinya berkeretak kecil—dislokasi pergelangan kakinya diselesaikan dalam satu gerakan.
"Akh!" Sehun masih ingat benar teriakan cukup tidak jantannya kala itu, membuat gadis klub kesehatan itu mendongak dan menatap geli.
"Terlalu sakitkah?" Suara gadis bersurai coklat kehitaman itu terdengar, lembut dan tegas secara bersamaan, sangat cocok untuk menjadi ibu dari anak—Sehun menampar diri dalam pikiran melanturnya.
"T-tidak… Aku hanya sedikit terkejut." Sehun bohong, itu sakit sekali.
Gadis itu mengangguk puas. Tangannya meraih tube counterpain sedang, menuang secukupnya lalu mengoleskan krim hangat itu ke otot kaki Sehun yang tegang dan kaku. (Sebenarnya Sehun merasakan kakinya mengeriting) Ternyata jemari lentik itu cukup bertenaga memberikan pijatan kuat untuk membenarkan ototnya. Sehun mendesah ringan saat rasa hangat dan nyaman menyelimuti kaki kanannya. Setelah itu sengatan rasa dingin dari semprotan (….) membuat kakinya terasa baik-baik saja.
"Kau terlalu memaksakan diri saat serve, kakimu tidak bisa kau ajak pamer terus. Jump-serve dengan awalan sempit sangat beresiko. Pamer 5 kali lagi dan katakan selamat datang pada tongkat untuk sebulan." Kata gadis itu sambil membalutkan gips dengan kencang. Sehun meringis, ketahuan deh.
"Y-yah… Tapi kurasa aku masih bisa me—"
"Kau tidak bisa melanjutkan pertandingan. Duduk manis dan jangan banyak tingkah!"
Sehun bungkam ketika mendapat tatapan tajam.
Gadis itu merapikan kotak obatnya dan duduk tepat di samping Sehun. Untuk pertama kali ia merasa kesulitan membuka percakapan.
"Ah… T-terimakasih."
Gadis itu menoleh dengan ekspresi geli, Sehun merutuk. Tak disangka gadis itu meraih sesuatu dari tas besar berlambang palang merah di belakang bangku dan menyodorkan sebuah kotak makan kepadanya. Sehun mengerjap dan kotak itu terbuka. Potongan tipis lemon madu terpampang dan Sehun meneguk ludah.
"Untukmu, tapi bersihkan tanganmu dulu."
Dengan kecepatan cahaya Sehun membersihkan tangannya dengan tisu basah dan mencomot potongan lemon madu itu dengan semangat. Rasa asam manis menyegarkan tercecap, membuatnya nyaris lupa diri.
Ibu… Boleh tidak Sehun menculik gadis ini dan menguncinya di kamar sampai cukup umur nanti?
"Kau baik sekali." Kata Sehun.
"Setiap gadis dari klub kesehatan selalu membuat lemon madu untuk acara olahraga. Ini pertama kalinya aku tidak memakan lemon maduku sendiri." Matanya masih menatap awas pada pertandingan.
"U-uh… Aku baru pertama kali melihatmu." Oke, modus pendekatan mulai dilancarkan. Semoga selamat sampai tujuan, Sehun!
"Kebanyakan akan membawa temannya yang cedera ke temanku yang lain, jadi aku lebih sering bolak-balik mengambilkan sesuatu yang habis atau kurang; plester, kasa, obat merah atau apapun itu."
Sehun mengernyit tanpa sadar. "Kenapa?" —padahal kau kan cantik sekali.
Gadis itu menoleh dengan senyum separuh yang sangat menawan, sekalipun ada efek aura iblis mengerikan di baliknya. "Aku terkenal dengan 'penanganan' yang menyakitkan." Gadis itu membuat gestur tangan yang cukup menyeramkan.
"A-ah…"
"Dan kau hebat mengatakannya tidak sakit tadi." Gadis itu bermain senyuman dan Sehun merasa sedang tertangkap basah.
"Harusnya kau tidak memaksakan diri. Pada set kedua kakimu sudah mulai nyeri kan, dan kecelakaan itu memperparah kondisi. Kau pikir kau bisa selalu memamerkan jump serve sok kerenmu itu? Lain kali jangan memaksakan deuce sampai menyentuh 35, ini bukan pertandingan profesional, lagipula. Sayang kalau tubuhmu rusak." Sehun tertohok dan merasa malu.
"Aku memang terlalu memaksakan diri tadi, yah… tak akan aku ulangi. Tapi," Sehun memberi jeda. "kau terdengar sangat tahu tentang voli dan cederaku; berniat jadi dokter atau apa?" Terdengar sangat polos dan membuahkan tawa renyah.
"Pernah dengar istilah kalau pengalaman adalah guru terbaik? Begitulah."
Mata Sehun membulat dan sepersekian sekon berubah menjadi sangat antusias. Ia baru akan memberondong pertanyaan sebelum gadis itu beranjak dan menyela lebih dulu. Ada yang memanggilnya dari kejauhan.
"Seseorang membutuhkanku. Kau minta temanmu memapahmu setelah pertandingan nanti, oke? Bye, Sehun!"
Setelah pertandingan itu selesai, tanpa mempedulikan wajah sumringah rekan setimnya (sejujurnya Sehun samasekali tak peduli mereka menang atau kalah kala itu) Sehun bertanya menuntut.
"Siapa gadis yang menolongku tadi?"
Lu Han namanya. Senior mereka dari angkatan 3 yang juga mantan kapten tim voli putri sekolah mereka. Mengundurkan diri tepat sebelum melaju ke kejuaraan nasional karena cedera kaki cukup serius. Gadis itu lantas mendedikasikan diri menjadi pelatih lepas dan juga petugas kesehatan yang terkenal dengan prinsip 'biar sakit asal sembuh'nya yang legendaris.
Sehun masih ingat saat dirinya membungkuk dalam di hadapan Luhan sehari setelahnya; meminta maaf karena berbicara tidak sopan tempo hari.
Sehun masih ingat derai tawa manis yang membuat dadanya berdebar sangat menyenangkan. Sekalipun mantan kekasih Sehun terbilang berderet, ia belum pernah merasakan perasaan berdebar semenyenangkan itu.
Mereka menjadi dekat, kerap menghabiskan waktu bersama. Kebanyakan berhubungan dengan hobi mereka. Entah Luhan yang menemani Sehun berlatih beserta teriakan "jangan sok keren dan lakukan dengan benar!" dengan tangan bersiap melempar kotak bekal berisikan lemon madu, atau Sehun yang menemani Luhan mengawasi latihan tim voli putri. Sehun menemukan dirinya jatuh cinta lagi dan lagi melihat lompatan indah Luhan saat melakukan spike atau ekspresi serius saat menjulangkan tubuhnya demi sebuah blok.
Tapi sayangnya, dia terjebak sisterzone, brotherzone atau apalah itu. Karena tiap kali Sehun menyatakan cintanya, Luhan selalu berakhir tertawa renyah dan menepuk kepalanya sambil berkata :
"Kau itu sudah kuanggap adikku sendiri, Sehun."
Atau…
"Kau lebih pendek dariku, nanti aku dikira caretakermu alih-alih pacarmu."
Sehun serasa tertembak panah beracun imajiner saat mendengarnya.
Sakit sekali, Ibu… Dirinya memang masih ingusan—Sehun benci mengakui sebenarnya, dan tingginya selisih lima senti dari Luhan yang seratus tujuhpuluh enam. Sial sekali, kalau Sehun boleh mengumpat. Padahal kan selisihnya sedikit!
Setelah itu Sehun memperbanyak latihan, minum susu penumbuh otot (ia tahu ia kerempeng) dan berusaha menambah tinggi badan. Tapi, mungkin ia memang belum ditakdirkan untuk bersama senior cantiknya itu. Luhan lulus dan kembali ke tanah kelahirannya untuk melanjutkan kuliah, nun jauh di Beijing sana.
Sehun hanya memasang wajah kecut super bete saat mengantar Luhan ke bandara. Sebenarnya pelukan dan isakan kecil Luhan memberi arti, tapi Sehun tetap memberikan ruang lebih besar untuk kekecewaan di hatinya. Akhirnya Sehun hanya mengatakan beberapa patah kalimat yang membuahkan pukulan di dadanya dan kekeh kecil Luhan, dan rengekan malu juga. Setidaknya ia bisa mencegah perpisahan banjir air mata. (Karena Sehun akan menangis nanti saja, di kamar, gelap-gelapan, sambil memutar lagu melow dan menatap foto Luhan. Bah, ia akan galau semalaman penuh).
"Aku akan menemuimu beberapa tahun lagi. Dan jika kau masih menganggapku anak kecil, aku akan memaksamu menerima lamaran dari anak kecil ini."
Dan di sinilah Sehun, duapuluh satu, duduk di bangku universitas ternama dengan emblem fakultas seni jurusan arsitektur mendekati tahun akhir. Lima tahun berlalu hanya ditemani pesan-pesan singkat dan sambungan telepon. Tatap muka hanya dihitung jari. Dan percayalah, hati Sehun masih milik Gadis Beijing meski beberapa kali mencoba berpaling. Luhan memang magis baginya.
"Oh Se Hun! Berikan padaku!"
Sehun memberikan toss pada rekan setimnya dan toss sempurna itu berbuah poin kemenangan set kedua timnya. Teman-temannya bergerombol memeluk dan memukulinya main-main walau masih ada satu set lagi untuk menentukan siapa yang memenangkan pertandingan latihan ini.
Latih tanding yang cukup menyenangkan di sela jadwal mencekik dan skala menyakitkan mata. (Sehun lupa alasan mengapa ia memilih jurusan yang membuat kepalanya nyaris meledak ini). Tubuhnya panas dan basah keringat sementara nafasnya memburu, menahan kakinya yang mulai nyeri. Sehun terkekeh, jadi ingat masa lalu kan dia?
"Kau baik?" Chanyeol, rekannya bertanya sambil menyodorkan botol air minum. Botol diraih beserta anggukan kecil. Air dingin diteguk beringas.
"Aku baik."
"Terimakasih sudah datang, kau bukan anggota tapi menyempatkan diri." Tepukan di bahunya ia tanggapi dengan tawa ringan. Tangannya meraih handuk kecil dan mengusap keringat yang membanjir.
"Aku sedang cukup stress dan merindukan voli." Chanyeol menyeringai.
"Rindu pertandingannya atau seseorang bernama Luhan?"
Sehun sukses melemparkan handuk berbau asam ke wajah Chanyeol.
"Ya!"
"Aku sangat merindukan yang terakhir, sampai ingin mati rasanya." Suara peluit terdengar. "Kita selesaikan set terakhir!" Sehun bangkit dan berjalan ke tengah lapangan. Meninggalkan Chanyeol dan senyum kecilnya, rekan Sehun itu tahu, voli adalah cara Sehun untuk sedikit mengurangi rasa rindunya.
Set terakhir dimulai, diawali dari serve pihak lawan. Diterima dengan baik dan berakhir dengan poin dari smash atau spike. Angka berkejaran dan berlangsung seru. Decitan sol sepatu dan suara gebukan bola memenuhi gymnasium universitas dengan meriah.
Sehun memutar-mutar bola di tangannya, berkonsentrasi untuk membidik lawan dengan kemampuan receive paling buruk. Sehun bersiap.
"Kyaaaa… Sehun Oppa~" Teriakan feminin Chanyeol yang dikenalnya sebagai teriakan gadis masa SMAnya dulu, membuat Sehun mendengus geli. Baiklah, sudah lama ia tak berlagak sok keren dengan jump serve andalannya.
Sehun melemparkan bolanya ke atas cukup tinggi, membuat langkah awalan kuat. Ia melompat dan memukul bola itu sekuat yang bisa ia ingat, berharap serve itu menjadi poin.
"Nice receive!"
Namun bola itu berhasil diterima walau dengan susah payah, melambungkannya ke daerahnya sendiri. Chance ball. Sehun bersiap menerima bola itu, namun sayangnya bola itu tak terjangkau. Kakinya meleset dan berakhir dengan ia bertabrakan dengan rekannya yang juga berniat menerima bola itu.
"Sehun!"
Tubuhnya nyeri dan otot kakinya tertarik menyakitkan. "Sial!" Sehun mengumpat dan mencengkeram kaki kirinya.
"Kau baik?" Chanyeol memapahnya ke pinggih lapangan, saat ia duduk ia menggeleng. Ia meringis menyadari tak ada fasilitas kesehatan apapun mengingat ini hanya latih tanding biasa, sekalipun ada ia tak yakin ada yang bisa membenarkan kakinya dengan 'benar'. Sehun hanya bisa duduk dipinggir lapangan sembari beberapa kali melambai dengan gestur 'aku baik-baik saja', padahal kakinya tengah menjerit.
"Sial, aku lupa rasanya akan sesakit ini." Geramnya.
"Ini akibatnya saat kau tak juga belajar dari kesalahan!"
Semua terasa de javu.
Bagaimana Luhan datang, duduk bersimpuh di hadapannya, mengobrak-abrik tas dan menangani kakinya dengan tube counterpain. Sehun tertegun, tak bisa memproses dengan baik sampai gerakan tangan lentik itu mengirimkan rasa sakit.
"Akh!"
Luhan mendongak, mengulas senyum rindu yang sendu. "Terlalu sakitkah?"
"Tidak, aku hanya terkejut." Mata Sehun basah, nyaris melelehkan air mata.
"Benarkah? Kau benar-benar tidak berubah, ya? Masih suka pamer dengan jump serve sok keren dan memaksakan diri." Luhan mengomel sembari membebatkan gips.
Sehun menatapnya dengan debar menyenangkan, mata basah yang panas dan perasaan membuncah. Setetes air mata lolos dan Luhan mengusapnya dengan lembut. Tangan lentiknya menepuk rambut lebat Sehun yang lepek keringat.
"Aku banyak berubah," Sehun menangkap tangan Luhan dan menciumnya pelan. "sekarang aku seratus delapanpuluh delapan. Dan jika aku berjalan bersamamu, kau tak akan dianggap sebagai caretaker-ku lagi."
Luhan terkekeh pelan. Tetap mendengarkan, karena ia tahu bukan itu apa yang ingin Sehun katakan.
"Jadi, apa aku akan ditolak lagi sekarang, Luhan Noona?"
.
END
.
Soal Fic sebelah, pasti akan update meski molor. Aku juga kesian waktu nagih ke dia, udah kek rentenir tau nggak. Keterlambatan update dikarenakan dua hal; Anna yang nggak punya waktu buat nulis, sama aku yang nggak punya waktu buat editing.
Kalau ini formatnya salah, besok pasti dibenerin sama dia. —Chi.
.
Anne, 2018-01-21
