Melukis Langit

Summary: Bagi Alibaba, tidak ada yang namanya malaikat. Ya, kecuali suaranya bisa membuat hatimu hancur berkeping-keping atau menumbuhkan harapan baru.

Rate: T

Disclaimer: magi ©Shinobu Ohtaka. Fic ngaco ini punya saya.

Warning: totally OOC. Alay. Abal. Ngaco. Tidak memenuhi kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengandung istilah-istilah yang membingungkan dan bisa jadi disalah artikan. Tidak usah Anda baca jika Anda merasa fic ini nggak penting.

.

.

.

.

.

.

.

XIV: Farewell

"Trust your instincts, and make judgements on what your heart tells you. The heart will not betray you."
― David Gemmell, Fall of Kings

.

.

.

.

.

.

.

Gaudeamus igitur

Juvenes dum sumus.

Gaudeamus igitur

Juvenes dum sumus.

Post jucundam juventutem

Post molestam senectutem

Nos habebit humus —

Nos habebit humus.

Alibaba Saluja menatap anak-anak angkatan 34 yang berbaris memasuki Hallroom yang mengenakkan Graduation Suit dengan kagum. Untuk laki-laki, menggunakan military coat berwarna merah gelap dengan bawahan celana krem muda, dalaman kemeja putih dan dasi merah dengan pin logam lambang Lawrence. Sementara untuk perempuan, military coat dimodifikasi sehingga berfungsi sebagai semi dress. Untuk atribut lain sama seperti siswa laki-laki, dan sepatu boots kulit cokelat tua semata kaki mempertegas penampilan mereka. Alibaba mengangguk-angguk paham. Pantas saja harga Graduation Suit itu mahal sekali. Mereka yang sudah lima tahun menjalani pendidikan di Lawrence akhirnya mencapai jenjang tertinggi dan akhir perjuangan.

Choir resmi Lawrence tak henti menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur sementara Kepala Sekolah memakaikan medali kelulusan, dan Kepala Komite memakaikan semacam witch hat merah gelap bahan beludru dengan hiasan sedemikian rupa sehingga terlihat mewah, namun sangat cocok dengan Graduation Suit. Coach Scheherazade menghadiahkan biola baru bagi lulusan terbaik kelas Instrumental yang seorang pemain biola. Sementara dari kelas Vokal, lulusan terbaiknya adalah cewek cantik dari kelas Contralto. Jafar Sham-Lash mendapat dua medali karena menyelesaikan dua studi baik di kelas Instrumental piano maupun kelas Countertenor. Coach Hinahoho hampir meremukkan tubuh kurusnya dalam sekali peluk, sementara Kepala Komite sempat mengajaknya ngobrol sebentar saat penyematan topi. Ia bahkan menangis terharu dengan gaya yang lumayan lucu.

Alibaba merasa begitu bersyukur bisa diundang ke acara Wisuda Lawrence angkatan ke 34 ini. Kepala Sekolah mengundangnya tanpa alasan. Setelah penyematan itu, tradisi selanjutnya adalah ramah tamah. Kebanyakan makanan yang disediakan adalah petit four atau camilan kecil sebagai teman minum teh. Bahkan di pojokan ruangan disediakan berbagai jenis teh dan kopi serta seorang barista yang siap membuatkan minuman bagi para tamu. Ketika hendak mengantri minuman, Alibaba melihat Judal. Ia tengah mengobrol dengan Ithnan, dan mereka tidak pernah kelihatan seperti ayah dan anak. Sang pelukis itu kini memiliki jalinan rambut yang lebih tipis, which is membuatnya malah kelihatan lebih manis. Alibaba cuma bisa menatapnya dari kejauhan. Sudah tidak lagi kata 'maaf' yang harus diucapkan mereka berdua. Kini sekat itu timbul kembali, dan Alibaba harus menerimanya dengan ikhlas.

.

.

.

.

.

.

.

[flashback]

"Hmmmh..."

Alibaba mencengkram lengan Judal. Rasanya sesak sekali sehingga menarik nafas saja terasa menyakitkan. Ini jam setengah dua pagi. Ia merasakan malam ini lebih dingin ketimbang malam-malam sebelumnya. Nyaris sama dinginnya dengan kulit Judal. Namun hawa dingin di kulit kekasihnya itu perlahan memudar, lambat laun menghangat seiring dengan nafasnya yang makin memberat. Alibaba baru kali ini melakukan 'kontak' fisik dengan seseorang seumur hidupnya. Ia bahkan tidak mengira bahwa rasanya seperti mau mati. Seluruh tenaganya terkuras habis. Nafsu berdentum-dentum di dadanya hingga Alibaba merasa dadanya nyaris meledak menahan luapan kenikmatan. Ia menghempaskan tubuhnya di sebelah Judal dan menatap langit-langit dengan pandangan nanar.

"Wow..." lenguhnya. "Ini...hebat."

"Mh-hm." Judal menggumam pelan. "Aku tidak menyangka dibalik wajah polosmu ternyata kau seliar itu." tambahnya sambil mengurut pelan lekukan pinggangnya yang terasa agak nyeri.

"Bu...bukan itu yang ingin kita bicarakan, tahu!" Alibaba bersemu sambil membenamkan wajahnya ke dalam selimut.

"Iya, iya." Judal berbaring miring dan menatap Alibaba lembut. "Dengarkan, ya! Jangan tidur!"

Lalu dengan santai Judal menceritakan masa lalunya dengan pria yang berasal dari Rotterdam, seorang pianis dan teman sekelasnya di kelas Countertenor, Jafar Sham-Lash. Perbedaan umur yang cukup jauh kala itu membuat Judal bisa dibilang memiliki ketergantungan terhadap Jafar dalam segala sisi. Waktu jugalah yang membuat Jafar dan Judal memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

"Eh, bukan." Judal meralat ceritanya sendiri. "Hubunganku dengan Jafar lebih bisa dibilang hubungan tanpa status. Karena tidak ada diantara kami yang bilang 'suka'."

Alibaba masih mendengarkan. Sesekali jemarinya memainkan rambut Judal yang seperti sutra legam tersebut.

"Dia mengajakku jalan-jalan. Lalu kadang kami latihan vokal di sekolah. Semua kegiatan normal biasa, kami jalani berdua. Aku senang banget kala itu. Bayangin, kau pasti senang banget kan, kalau orang yang kau suka menghabiskan waktu bersamamu?"

"Judal..."

"Lalu, aku tidak tahu gimana awalnya. Saat Kepala Sekolah mulai intensif belajar dengan kami. Beliau bukan tipe orang yang keras, tapi aku lebih banyak menolak belajar. Kadang main game, kadang menggambar. Kepala Sekolah lalu belajar dengan Jafar saja. Lalu kadang lebih dari sekedar belajar." Judal menggenggam tangan Alibaba dan memainkan buku-buku jarinya. "Aku bahkan sering melihat mereka berciuman. Waktu itu aku marah banget. Esoknya, aku...bisa dibilang melabrak Jafar. Aku luapkan semua kemarahanku dan berkata kalau aku mencintainya. Jadi dia tidak butuh orang lain. Tapi...saat itu...Jafar..."

Judal berhenti sebentar. Alibaba menahan dirinya untuk menghentikan Judal, memeluk dan menciumi wajahnya lalu berkata 'sudah, tidak perlu kau lanjutkan'. Sebentar lagi hubungan mereka berakhir. Dan Alibaba harus siap merasa terluka, atau melihat Judal terluka.

"...Jafar bilang, kalaupun dia harus memilih, ia akan memilih Sinbad. Tidak ada alasannya. Hanya saja, hatinya bilang Sinbad yang terbaik. Mungkin saat itu darahku mendidih, ingin sekali kubunuh Sinbad saking cemburunya. Tapi, kemudian aku sadar. Aku dan Jafar bukan apa-apa. Hanya cinta tanpa klarifikasi. Aku tidak berhak menuntut Jafar untuk apapun. Kau mengerti, Alibaba?"

"Seperti perjanjian tanpa tandatangan atau materai. Kau bisa melanggar atau melupakannya dengan mudah." balas Alibaba muram.

"Iya. Lalu, bulan kemudian datang Aladdin. Aku juga sudah terbiasa dengan kehadiran Jafar. Dan et voila, sakit hati sembuh dengan sendirinya."

Alibaba mengulum senyum. Ia membiarkan Judal yang dengan jahil menggelitik lekukan pahanya. Kemudian sepasang manik rubi itu menjauhkan dirinya, lalu duduk di ranjang perlahan.

"Lalu kemudian aku bertemu denganmu. Well, tahu sendirilah mulainya gimana."

"Aku mau tanya satu hal." Alibaba ikut bangun, kemudian menatap Judal. "Kenapa kau meminjamkan aku buku catatan partitur nadamu?"

Judal terdiam sebentar. "Aku kasihan saja. Kau tidak tahu apa-apa."

"Sudah kuduga, kau itu tampangnya saja yang ketus. Hatimu selembut kapaaas~" Alibaba memeluk Judal gemas.

"Kau pikir begitu?" Judal tertawa. "Meskipun aku cuma pura-pura mencintaimu?"

"Eh?" Alibaba melepaskan pelukannya. "Apa?"

"Aku tahu, kalau Aladdin juga menyukaimu. Pada suatu kondisi, aku merasa anak itu seperti cerminanku dulu yang begitu tergila-gila pada Jafar. Aku...aku hanya ingin...bisa dibilang balas dendam. Aku memaksa diriku untuk bisa menyukaimu, lalu merebutmu dari Aladdin."

Alibaba terhenyak. Rasanya ada sebuah balok kayu besar yang ditancapkan ke dadanya. Sakit dan sesak bercampur. Alibaba begitu kalut, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Judal. Namun pemilik surai legam itu mengusap wajahnya dengan lembut.

"Tapi...aku benar-benar bodoh. Nyatanya aku malah jatuh cinta sungguhan denganmu. Kau begitu baik, berhati besar dan ceria. Kau begitu mudah dicintai, Alibaba." bisiknya.

"Lalu?" paraunya. "Lalu kenapa? Aku tidak pernah menganggap cintamu pura-pura."

"Alibaba..." bisik Judal penuh pengertian. "Aku memang mencintaimu. Tapi aku mencintaimu demi diriku sendiri. Aku begitu bangga bisa membuat Aladdin terpuruk, merasakan desperasi yang sama denganku waktu dulu. Tapi...tapi ternyata aku salah. Bocah itu...mengumpulkan seluruh nyalinya dan melawan balik. Dia benar-benar memperjuangkan cintanya untukmu. Dia selalu memberikan apapun untukmu, kan? Karena di otaknya hanya ada kau seorang."

"Judal..." Alibaba mendekat dan menciumi garis-garis wajahnya. "Sudahlah..."

"Aku mungkin menang, atau pura-pura menang. Nyatanya bahkan aku justru merasa hampa. Merasa bahwa...apakah yang kulakukan ini benar? Aku...aku..."

Alibaba tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia mencintai Judal, dan tidak ingin putus dengan alasan fiktif melodramatik seperti ini. Ia tahu bahwa Judal juga merasakan hal yang sama.

"Itu bukan pura-pura cinta." balas Alibaba. "Kau hanya berusaha move on. Dan yang kau bilang, kalau kau merebutku dari Aladdin juga tidak salah. Kau hanya balas dendam pada dirimu sendiri. Kau memperjuangkan seseorang yang kau cintai, Judal. Kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi padamu dan Jafar."

"...kalau, aku putus denganmu sekarang...apakah aku egois?" tanya Judal.

Alibaba membungkam jawabannya. Dari ekspresinya, Judal bisa mengerti bahwa jawabannya adalah iya. Alibaba menggenggam tangan Judal dengan lembut, kemudian menariknya mendekat. Judal merebahkan kepalanya ke lekukan bahu Alibaba.

"Mau bagaimana lagi? Kalaupun aku bilang tidak, kau akan tetap pergi kan?" tanya Alibaba.

"Iya." Judal mengangguk. "Maafkan aku, selama jadi pacarmu aku sering membuatmu susah."

"Aku memaafkanmu." Alibaba mencium puncak kepala Judal. "Maafkan aku juga, jika aku tidak cukup baik sebagai kekasihmu."

Judal tersenyum, mengusap wajah Alibaba dan mencium bibirnya untuk terakhir kalinya. Kemudian mereka sama-sama menangis.

[END OF FLASHBACK]

.

.

.

.

.

.

.

Alibaba meletakkan setrika disebuah dudukan besi, kemudian mematikannya. Ini liburan pertama Alibaba sebelum tahun ajaran baru berikutnya. Sekolah sedang heboh karena wacana Scheherazade untuk melakukan study tour ke beberapa institut musik di Inggris. Hakuryuu dan Titus sudah pasti ikut. Alibaba cuma mendukung saja, tidak mungkin ia ikut-ikutan.

'Remaja berusia 19 tahun ini merupakan lulusan sebuah sekolah musik ternama. Namanya lebih dulu dikenal di dunia grafis sebagai pelukis multi aliran.'

Alibaba menoleh. Di TV tengah tersiar sebuah acara infotaiment yang menayangkan seorang solois yang tiba-tiba melejit setelah lagunya yang berjudul Fake Love berada di nomor wahid selama 3 minggu berturut-turut di Kiss Paradise Chart, sebuah acara musik skala superbesar.

I can't pretend that I was so happy.
To be with you, ooh so lovely.
But I need to say sorry, and I'll tell you everytime you've died for hurts.
'Cause all of this is just a fake love. Just a fake love

Alibaba menjerit ketika mendengar suara dan video klip yang ditayangkan di TV.

'Judal memiliki nilai jual pada musikalitasnya yang memang sangat tinggi. Selain kualitas vokalnya yang tempting banget untuk didengerin, Judal meng-compose semua lagunya sendiri. Image rambut panjang hitam dan celana jeans yang digulung hingga betis membuat penampilannya pun menjadi daya tarik tersendiri.'

Di Video klip lagu berjudul Fake Love yang ditayangkan itu, Judal memang benar-benar mengenakkan skinny jeans berwarna gelap yang digulung hingga setengah betis sehingga Judal kelihatan seperti habis 'kebanjiran'. Ciri khas lain dari dirinya dalah sepatu Adidas Jeremy Scott JS Wings American Flag, yang menurut si pembawa acara selalu dipakai Judal kemana-mana.

Alibaba merenung sejenak. Sudah tiga bulan semenjak ia putus dengan Judal. Setelah wisuda, ia langsung menandatangani kontrak dengan Cobler dan memulai debut album perdananya. Album perdananya berjudul 43, yang di dalam kilasan albumnya terinspirasi dari nomor rumahnya di Pasific State. Alibaba dapat secara gratis. Meskipun kini mereka sudah berstatus mantan, Judal masih sering menghabiskan waktu di rumah petak Alibaba seakan tidak pernah ada apa-apa diantara mereka berdua.

Gara-gara tayangan di TV tersebut, Alibaba jadi menyetel album Judal di playlist ponselnya, yang baru selesai ia download seminggu yang lalu. Musiknya mengambil genre pop sebagai aliran utama. Namun Judal banyak menambahkan instrumen biola, terkadang tambahan electro hiphop atau dentingan piano dinamis ala Jazz.

You found me in the boxes of chalk. And give some time to have a talk.
Just need a second to make me fall for you, and it feels so effortless.
You take me, take me away from something that people called loneliness.

because you damn fun as popping candy
bursting in my palate so sweetly
I want you like fat boy wanting his favorite cakes so much
Because you're worth to die for

Sometimes I got addicted with your oversweet love.
And those golden eyes is irresistable, give magnetic temptation.
And your flavor like nectar, makes me feel like demigod.
I'll take it another shot, doesn't matter if I die short!

"Popping Candy adalah salah satu lagu kesukaanku." Ungkap Judal ketika memaksa Alibaba mendengarkan album perdananya. "Itu menceritakan tentangmu."

Dalam beberapa ulasan di media televisi, Judal sering dimirip-miripkan dengan Ella Maria Lani Yelich-O'Connor alias Lorde. Mulai dari cara berpakaian, cara mereka menulis musik, dan lain sebagainya. Namun Judal kini mulai menggerai surai legamnya, sering memakai skinny jeans model 'kebanjiran' dan sepatu nyetrik itu, ditambah dengan kebiasaan menggambar (atau melukis, bagi Judal sama saja) dimanapun. Semua kebiasaan alaminya dimanfaatkan Cobler untuk membangun image Judal. Entah kenapa, dengan rambut tergerai seperti itu ia malah kelihatan lebih manis—ditambah sedikit aura kelam yang seksi.

Lagunya yang mendapat respon paling cepat adalah Fake Love. Saat pertama kali mendengarnya, Alibaba langsung tahu bahwa mungkin lagu inilah yang ditulis Judal setelah putus karena liriknya benar-benar merupakan curhat akbar. Aura galau dan patah hatinya kental sekali. Pas untuk anak muda jaman sekarang yang suka model lagu begini.

It just feels like yesterday.
When I come to your front door and take apart in your delightful day.
I realize that I'd make your whole world become gray.
But you just keep me up and say
"It's not a big deal, sweetheart."

Then we jump in to the fast track.
The best part is when you brush my raven silk.
When I'm innocently make your guitar crack.
Or when I feel the climate has stop and all I heard is your beating heart.
We make lots of fool, but it drizzled with joy.

I can't pretend that I was so happy.
To be with you, ooh so lovely.
But I need to say sorry, and I'll tell you everytime you've died for hurts.
'Cause all of this is just a fake love. Just a fake love.

The rain will tell you the reason.
Wounds will be heal by season.
I'd lie and lies become poison.
I can fall for you, even just need a single step like butterfly spreading its wings.
But I feel bleak, it's empty and filled with nothingness.
Because you're not belong to me. I stole you as repeated beat.

Dari tujuh lagu yang terdapat di album 43, Alibaba justru paling suka lagu berjudul Daddy-Long-Legs. Lirik lagunya 'ringan' dan alunan musiknya terdiri dari not-not sederhana dan petikan gitar akustik. Lagu itu menggambarkan Ithnan, ayah Judal dan cara Judal memandang ayahnya.

He's workaholic guy.
6 feet 2 inches tall, come and go just to bathroom, kitchen and his bed.
Then he'll go before I can feel he hold my tiny body secretly.
He may looks doesn't care, but no one can deny the warmth of his heart.

Oh, daddy...how are you today?
Are you ok? Are you eat well?
Even I never said, you know that I love you. You'll always know even for 120 hours your worktime.
Please wake me, lemme feel your hold before you go.

Mac-cheese and Jack Daniels are his entire meal.
He said he's slender muscular when he's young, single, good-looking guy.
I called him by name, cause he guess it make us closer.

Daddy...oh ma daddy...
You need to eat healthier breakfast.
Sometimes take a day off is not a sin.
I can take you to the gym, pool or running track.
You have to 'cause I want you to live longer

Oh, daddy...how are you today?
Are you ok? Are you eat well?
Even I never said, you know that I love you. You'll always know even for 120 hours your worktime.
Please wake me, lemme feel your hold before you go.

Oh, daddy...da..daddy...
I know I'm rude, yet sometimes way too strict.
You're my only dad, like I'm your only son.

I just wanna share my life longer with you.

Tiba-tiba lagu Daddy-Long-Legs dari Judal berhenti, digantikan oleh lagu 400 Lux dari Lorde yang merupakan nada dering telepon di ponsel Alibaba. Dari Aladdin.

"Ya?" jawab Alibaba agak ragu. "Ada apa?"

"...besok...ke sekolah, yuk!" ucapnya tiba-tiba.

"Ogah. Mau ngapain? Besok kan masih libur."

Hening.

"Pokoknya datang!" ucap Aladdin. Menekankan kata datang, sehingga kalau Alibaba tidak memenuhinya mungkin Aladdin akan menggentayanginya seumur hidup.

Lalu telepon mati.

Alibaba menempelkan ponselnya di ujung keningnya, memikirkan saat-saat dimana ia mengetahui obsesi sadis Aladdin akan dirinya. Hal itu memang menakutkan, tetapi di satu sisi Alibaba merasa tersanjung. Aladdin banyak memberinya hadiah. Membayarkan biaya rumah sakit selama ia dirawat waktu terkena pulmonary embolism, mentraktirnya makan makanan mahal dan segala macam. Bahkan Aladdin memberinya buku gambar yang dipenuhi banyak foto dirinya. Alibaba terlalu banyak hutang budi pada Aladdin.

Aku memaksa diriku untuk bisa menyukaimu, lalu merebutmu dari Aladdin.

Tiba-tiba wajah Judal kembali lagi ke dalam memorinya. Surai legam yang tergerai anggun menuruni bahunya, ekspresi ketus permanen dan jengkelnya ketika dia dikerjai balik oleh Alibaba, senyum tipisnya yang menggemaskan, wajah terkejutnya yang begitu manis sampai kulitnya yang dingin dan perlahan menghangat, serta nafas beratnya yang menggelitik geletar nafsu Alibaba.

Cowok pirang itu mengerang frustasi, mengacak-acak rambutnya kesal. Kenapa saat ia memikirkan Aladdin yang keluar malah Judal?! Alibaba tidak ingin jadian dengan Aladdin sekedar untuk move on (meskipun alasan ini masuk akal), ia hanya tidak ingin melanjutkan lingkaran setan yang dimulai dari Jafar (karena Jafar mantan terdahulu Judal sebelum dirinya). Alibaba mencari-cari buku yang pernah dikasih Aladdin, dan membaca halaman yang belum ia baca.

I am unconditionally love you.

Aladdin.

"Unconditionally..." bisik Alibaba. Ia memikirkan seberapa dalam dan luas kata-kata itu.

Andai saja kata unconditionally yang diberikan Aladdin padanya bisa lebih di spesifikasi...

Alibaba memejamkan matanya dan merenung lebih jauh.

.

.

.

.

.

.

.

APDEEEET!

Mungkin readers, setelah baca fic ini pasti langsung bilang 'apaan niih?!' iya, saya mengerti kejengkelan anda setelah mengetahui betapa gajenya chapter ini. Untuk lagu-lagu yang liriknya tercantum disini, mohon jangan persulit diri anda untuk mencari lagu siapa itu, readers yang budiman. Itu cuma kata-kata (puisi mungkin) yang saya karang sendiri. Lalu lalu pasti habis ini saya diprotes karena bikin Aliju putus. Oh readers, maafkan saya. Sungguh. Saya akan buat EPIC ENDING untuk kalian. Chap ini cuma menjadi batu loncatan. I'll give next one in no time, ok?

Tapi bener nggak sih itu lingkaran setan? (cinta segitiga Sinbad-Jafar-Judal, Alibaba-Aladdin-Judal) #tiba-tiba bayangin Judal nyanyi aku yang tersakiti Judika, diremix sama akurapopo-nya Jupe :V

Berikan aku masukan dari anda semua, my readers. Cocoknya Alibaba sama siapa? Asli saya galau nih! Review sebanyak-banyaknya, jika review di fic ini mencapai 10 saja, dan sebagian besar menginginkan ending pair aliju/aliala, saya akan bikin sesuai suara mayoritas #ngemis review #authorgeblek lagi galau #abaikan

Yosh, sekian bacotan saya. Makasih tetap jadi pembaca melukis langit :**