Yah... suka lupa sama diclaimer... aku baru sadar. Soalnya kan ya kalo di fandom Dgrayman masa anime lain... tapi pokoknya disclaimer itu penting, saya baru sadar/pasih

Disclaimer : DGrayMan punya Hoshino Katsura. Semoga dia makin rajin apdet:))))


"Saat ini tak apa. Sudah kulacak, Cross menginap di rumah orang lain." jawab Kunoichi. "Terima kasih." Lavi berterima kasih pada kunoichi tersebut.

Ia bersama pelayannya - juga Alfearo dengan pelayannya berangkat. Mereka menembus hutan dekat Distrik Lampu Merah, cahaya purnama membantu mereka menemukan dataran yang lebih tinggi dari tanah lainnya setelah di ujung penghabisan hutan. Di atasnya terdapat rumah lusuh.

"Di sana?" Alfearo menganga terkejut. Lavi hanya mengangguk dalam diam. Mereka dengan cepat masuk ke sana. Rumah itu terlalu rapuh untuk sebuah kunci - sudah rusak. Mereka masuk ke sana, menuju kamar Allen.

"Kalian?" suara pelan Allen mampu mengkhianati asumsi mereka - dikira Allen sudah nyenyak. "Kau belum tidur?" tanya Lavi. "Ah, aku tadi tertidur. Kupikir Shishou datang, jadi aku langsung siaga." jawab Allen. Ia mengalihkan pandangan kepada Alfearo yang menatapnya iba. Tanpa berkata, Alfearo mendekapnya, menahan tangisnya. "Dia kejam bukan?"

"Shishou?" tanya Allen pelan. "Siapa lagi?" Alfearo mebelai pipi kanan bocah yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu. "Pantas aku tak melihatmu lagi belakangan ini. Aku cemas jika tak melihatmu." Alfearo menambahkan dalam hati, 'entah apa yang dilakukan si bejat itu kalau kau di rumah.'

Allen tersenyum manis, "tapi kau melihatku lagi bukan?". Alfearo tersenyum simpul. "Akan kubelikan obat. Kau simpan di bawah tempat tidurmu saja." Allen menggeleng, "Kakak itu sudah mengobatiku tiap hari. Tak perlu cemas." ia menunjuk kunoichi di sebelah Kanda. Yang ditunjuk hanya menampakkan wajah datar.

"Kenapa kau tidak tinggal bersamaku saja sih?" gemas Lavi. Ia tetap berusaha walau tau konsekuensinya. Allen menggeleng lemah. "Kau sudah tau bukan? Aku tak bisa."

"Apapun bisa kalau kau menginginkannya!"

Allen menatapnya kagum, memikirkan kata kata Lavi. "Sudahlah, tak baik memaksanya saat ini." Alfearo mengangkat lengan kanan Allen yang penuh dengan sayatan. "Suatu hari nanti sikapnya akan terbalaskan." katanya penuh amarah.

"Nee, Tyki sama, Lavi sama... kalian harus pulang. Aku takut jika tiba tiba Shishou datang." Allen menampakkan wajah kekhawatiran yang tak dibuat buat. Lavi menghela napas sambil menggaruk tengkuknya, "Geez... khawatirkan dirimu sendiri."

"Kanda, Kak Kunoichi, dan Tuan yang di sana, terima kasih sudah menjaga mereka." sekali lagi senyum Allen merekah. Hatinya seperti ditaburi bunga berbagai warna, begitu senang ia dikunjungi banyak orang. Hal inilah yang menambah motivasi hidup Allen, bahwa di dunia ini masih ada yang akan sedih jika ia meninggal.

Mereka yang menjenguk merasa cukup sekian untuk hari ini. Mereka pamit pulang, meninggalkan Allen yang tengah tersenyum dalam tidurnya. Tiba tiba suara sesemakan mengageti mereka. "Sembunyi!" suara Allen terdengar. Mereka semua memilih ruangan di seberang dapur - yang menurut kunoichi itu setelah memata matai rumah ini, ruangan inilah yang tidak pernah dimasuki Cross.

Terdengar langkah pincang Allen mengecek jendela. "Ah, bukan. Maaf menakuti kalian." Allen berjalan, duduk mengambil napas di kursi terdekat. Mereka semua kembali keluar. Alfearo yang kasihan membawa Allen kembali ke tempat tidur. Mereka pamit untuk kedua kalinya.

"Tunggu, dimana Lavi hakushaku?" tanya Alfearo ketika mereka keluar. Kanda segera masuk kembali. Ia mendapati punggung kecil tuannya tengah menegang menghadap tembok ruangan itu. Tangannya menggenggam senter mini panjang - rumah tak memiliki penerangan listrik.

"Tuan?" Kanda agak curiga. Lavi memutar kepalanya, melotot horror pada Kanda. Mulutnya megap megap tidak jelas. Tak mau terjadi sesuatu yang menyusahkan, Kanda langsung membawanya keluar. Lavi berada pada sebelah tangan Kanda masih dalam keadaan shock. Ranting pohon yang berserakan di hutan tak menghambat Kanda untuk terus melaju. Di keadaan begitu, tiba tiba Lavi berteriak.

Ia mencoba melepaskan diri dari Kanda. Entah dari mana kekuatan itu, Kanda melepaskannya karena spontan. Lavi seakan ingin berlari kembali ke rumah sunyi itu. Kanda menangkapnya, bahkan kunoichi juga Alfearo membantunya. Lavi membabi buta, genangan air mata mengucur deras.

"Ada apa ini pelayan?" Alfearo ikut bingung. "Maaf saya juga tidak tau." kata Kanda menahan kedua tangan Lavi. "Permisi." Alfearo menghantan tengkuk Lavi keras hingga ia pingsan. Keadaan hening sejenak. Mereka menarik nafas kewalahan.

"Bagaimana anak ini mendapat kekuatan seketika?" Alfearo tertawa takjub. Kanda hanya menatap datar pada tuannya, "terima kasih tuan. Jika itu saya, saya tak mampu melakukannya." Alfearo memberi tatapan sudahlah-aku-juga-harus-minta-maaf-nanti.

Lavi terbangun dipagi harinya. Ia melihat Miranda seperti biasa menyiapkan air panas, sedangkan Kanda menyiapkan teh paginya. Dengan hati berapi api, Lavi berteriak sekuat tenaga - seakan hal itu bisa mengeluarkan perasaan tak enaknya.

"KANDA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Miranda dan maid lainnya terlonjak ketakutan, bahkan hampir terjatuh menubruk satu sama lain jika salah satu maid tidak cekatan menangkapnya.

Kanda menatapnya - lagi lagi tanpa ekspresi. "Miranda dan lainnya keluar." kata Lavi tertahan. Para maid mengerti perintah itu, tetapi kaki mereka seperti di paku pada tempatnya. "Kubilang, KELUAR!"

Maid berlari ketakutan keluar ruangan, menyisakan Kanda seorang diri. Lavi berjalan pelan ke arahnya.

PLAK

Satu tamparan keras, hingga mampu membuat Kanda spontan menahan tubuhnya. Satu tamparan keras, hingga Lavi sampai membungkukkan tubuhnya ke bawah untuk menamparnya. Tangan Lavi memerah, berkedut nyeri - tetapi peduli setan. Kanda kembali tegak dalam gerakan lambat. Lavi melakukan hal yang sama menggunakan tangan satunya. Kanda hanya diam menerima semua itu.

Lavi mengepalkan tangannya. Bahunya bergetar. Samar samar terdengar desisan. Tiba tiba Lavi mengangkat kepalanya bersamaan dengan ia menarik nafas dalam dalam. Wajahnya menyiratkan perasaan terkhianati, sakit, kecewa mendalam, juga kebimbangan.

"HWAAAAAAA." tangis pilunya pecah. Ia terduduk tak berdaya. Kedua tangannya mencoba menghentikan air mata derasnya. Kini iris dwiwarna emerald-sapphier tenggelam dalam lautan air mata.

Rahangnya sakit, tenggorokannya sakit, hatinya sakit, kepalanya pening, matanya berdenyut, tubuhnya lelah. Ia benci keadaan ini. Kenapa ia menangis seperti ini?

Kanda masih datar. Kedua pipinya memerah lantaran di tampar tuan mudanya itu. Jikalau kepalanya pening juga, mungkin ia takkan mengekspresikannya.

Ia terus berdiri tegak di sana hingga tuan mudanya tertidur. Sambil menghela nafas, ia membawa tuannya kembali ke kasurnya, mengelap air mata yang nantinya akan keluar lagi - begitu mendalam kesedihannya. Ia menutup tirai tirai dari jendela besar di ruangan itu. Ia berjalan pelan keluar kamar.

Langkahnya agak cepat. Kini di pikirannya hanyalah wastafel. Ia berlari menuju wastafel yang ada di dapur bawah tanah. Setelah sampai di sana, ia tak kuat lagi menahan. Ia mengeluarkan cairan dari mulutnya, begitu tersiksa kelihatannya. Ia membelalakkan matanya tatkala menemukan sesuatu dari apa yang ia keluarkan. Merah.

Dengan ngeri ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tiba tiba ia terbatuk. Ia membuka telapak tangannya ketika warna merah menghiasi telapak putihnya. Nafasnya memburu.

"Kanda san?" Miranda yang terus menunggu di depan pintu tuannya tak sengaja melihat Kanda berjalan cepat keluar dari sana. Setelah memberi tahu beberapa pelayan tentang apa yang baru terjadi, ia kembali menyusul Kanda.

Yang ia dapati saat pertama kali masuk dapur ialah Kanda yang menatap hampa telapaknya.

Dan tiba tiba...

Kanda tumbang...

YEEEY akhirnya maju juga ni cerita. Sebenernya maksa sih ahahahahahahaha#ditabok. Huft. Aku juga penasaran ini lanjutannya gimana#dibakar. Lavi kenapa? Kanda kenapa? Ulalalala~#BUAGH. Oke siap maap. Betewe tau kan Kunoichi itu siapa kalo di DGM? Nah yaudah gitu aja.

(Readers : APA SI GA JELAS BANGET!?)

Iya. Saya gabut. Paguru fisika ga masuk. Paguru sunda pulang. Lah says ngapain org internet gaada soalnya blm registerasi (30/04/18). Nah jadi saya memutuskan untuk nulis. Ntar kalo punya wifi di publish hewhewhew.

Balesan review

Wawa

MAKASIIIIII

Safit

Okeee. Karna reviewmu kusemangat (≧∇≦)b

Udah ya sekian
babay