"Anda harus turun Tuan Ten. Tuan Taeyong ingin menemui anda untuk makan malam di bawah." Mark memasuki kamar dan setengah membungkukkan tubuhnya dengan formal kepada Ten. Ten melemparkan tatapan gusar kepada lelaki itu, jadi karena itulah tiba-tiba saja tadi pelayan-pelayan datang dan membawakannya kemeja berwarna biru muda yang lumayan formal ini. Ten terpaksa memakainya karena tidak ada pakaian lain yang disediakan untuknya di ruangan ini.
"Aku tidak mau turun." Gumam Ten keras kepala, tidak mau begitu saja membiarkan lelaki itu mendapatkan keinginannya. Mark menatap Ten penuh spekulasi lalu mulai mengeluarkan pancingannya,
"Anda benar-benar tidak ingin keluar? Mungkin ini satu-satunya kesempatan anda untuk keluar dari kamar ini, apakah anda tidak merasa bosan? Dan saya juga cemas, kalau anda menolak ajakan makan malam tuan Taeyong, beliau akan memutuskan untuk mengurung anda terus-terusan di kamar ini dan anda tidak punya kesempatan untuk keluar lagi."
Lelaki tua ini ada benarnya juga. Ten tercenung, dia bosan berada di dalam kamar terus-terusnan, ketika menyekapnya, Taeyong benar-benar kejam dan membiarkan Ten benar-benar selalu berada di dalam kamar. Dan mungkin saja dengan keluar dari kamar ini, Ten bisa mempelajari dimana sebenarnya dia berada.. Dia mendengar suara onbak, mereka berada di tepi laut. Hanya itu informasi yang Ten punya.
Makan malam dengan Taeyong mungkin tidak akan merugikannya, hanya akan sedikit menginjak harga dirinya. Ten menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah, aku akan pergi makan malam sesuai kemauan Tuanmu."
###
Taeyong tampak dingin dan formal duduk di kepala meja dan membisu, lelaki itu memakai pakaian hitam-hitam, tampak seperti pangeran kegelapan yang sedang muram.
"Duduk dan makanlah." Taeyong melambaikan jemarinya dan pelayan yang siap sedia di situ langsung menarikkan kursi untuk Ten,
Ten duduk dan beberapa pelayan dari dapur langsung datang membawa nampan, mangkuk mungil di depannya dibalikkan dan pelayan itu menuangkan sup berwarna jingga ke sana.
"Itu sup lobster, kuharap kau menyukainya." Taeyong sedikit tersenyum tipis, lalu menyantap sup itu dalam keheningan. Mau tak mau Ten mengambil sendok dan mencicipi sup itu, menyadari bahwa sup itu sangat enak dan perutnya berbunyi.. .dia rupanya sangat lapar. Dengan malu dia melirik ke arah Taeyong, bertanya-tanya apakah lelaki itu mendengar suara perutnya tadi. Tetapi Taeyong memasang wajah datar dan menyantap supnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Ten menghela napas panjang dan melanjutkan menikmati sup-nya, beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Taeyong dan pipinya memerah. Lelaki ini sudah menidurinya, astaga...Ten mengernyit dan tidak bisa menahan diri untuk mengutuki dirinya yang lemah karena begitu mudahnya larut dalam rayuan Taeyong. Tetapi Lelaki itu adalah lelaki yang sangat ahli, dan Ten hanyalah seorang pemuda yang tidak berpengalaman,
Ten memutuskan dengan penuh tekad bahwa dia tidak akan jatuh lagi dalam pesona dan rayuan Taeyong. Cukup sekali lelaki itu memperdayanya, mulai sekarang Ten akan menguatkan diri. Taeyong hanya bermimpi kalau mengira dia bisa memiliki Ten lagi sesuai kemauannya.
"Ada yang ingin kukatakan kepadamu." Tiba-tiba Taeyong bergumam, menatap Ten dalam, mereka sudah menyelesaikan menyantap sup itu, dan para pelayan mengambil mangkuk-mangkuk kotor mereka. Sekarang adalah jeda sebelum hidangan utama datang.
"Ten, mungkin kau merasa bingung selama ini...tetapi aku memang menyimpan rahasia tentangmu, rahasia yang kupikir akan kusimpan dan menunggu sampai kau mengingatnya sendiri. Tetapi semalam kau membiarkanku bercinta dengamu..." Taeyong menatap Ten dengan begitu intens, membuat pipi Ten memerah, "Dan kupikir, aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk mengungkapkan..."
"Kau bisa mengungkapkan apapun itu di penjara."
Sebuah suara lantang tiba-tiba terdengar dari arah pintu, membuat Ten dan Taeyong menoleh bersamaan, Ten benar-benar terperanjat. Itu Jaehyun. Lelaki itu berdiri, mengenakan pakaian hitam-hitam dan menodongkan pistol ke arah Taeyong.
Jaehyun! Apakah Jaehyun datang untuk menyelamatkannya?
###
"Jaehyun!" Ten terkesiap seketika berdiri dari tempatnya duduk, menutup mulutnya karena kaget. Bagaimana Jaehyun bisa sampai ke sini? Apakah memang benar Jaehyun sedang mengusahakan segala cara untuk menolongnya? Dan tubuh lelaki itu basah kuyup, air tampak menetes-netes dari tubuhnya. Apa yang dilakukan Jaehyun? Apakah lelaki itu habis berenang di laut?
Taeyong sendiri dalam sekerjap mata tampak terkejut melihat Jaehyun tiba-tiba muncul di sana, tetapi kemudian topeng ekspresi datarnya muncul dan menutupi semuanya, lelaki itu bahkan tersenyum sambil menatap Jaehyun, "Well ...ternyata aku memang meremehkanmu, kau tidak sebodoh yang aku kira."
Jaehyun menatap Taeyong dengan marah dan waspada. Lelaki ini adalah "Sang Pembunuh". Tentu saja, penampilannya sangat gelap dan ada aura pekat yang melingkupinya, Jaehyun cuma tidak menyangka bahwa "Sang Pembunuh" setampan ini. Dia pada mulanya berpikir bahwa "Sang Pembunuh" berwajah sangar, penuh tato atau apapun itu yang menunjukkan bahwa dia lelaki kasar dan jahat. Tetapi yang berdiri di depannya adalah sosok lelaki elegan dengan ketampanan bangsawan yang khas dan pakaian rapi dan mahal. Jaehyun melirik ke arah Ten, tiba-tiba merasa ragu. Kalau "Sang Pembunuh" memang menginginkan Ten, akankah Ten menerimanya secara suka rela? Benak Jaehyun dipenuhi perasaan cemburu.
Tiba-tiba saja Taeyong berdiri dan melangkah mendekat, membuat Jaehyun semakin waspada dan mengacungkan pistolnya, "Jangan mendekat! Atau aku akan menembakmu."
"Atas dasar apa kau menembakku? Kau akan dituntut karena menembak warga negara asing yang tidak bersalah."
Jaehyun mengernyitkan keningnya, "kau adalah "Sang Pembunuh", itu sudah cukup menjadi alasan untukku."
"Oh ya?" Taeyong tersenyum mencemooh, "Apakah kau punya buktinya?"
Jaehyun terpekur. Lelaki ini sangat licin. Pasti dia masuk ke negara ini sebagai pengusaha. Dan ya. Memang Jaehyun sama sekali tidak punya bukti bahwa lelaki di depannya ini adalah "Sang Pembunuh", dia menelan ludahnya, dan menatap Ten sekilas lalu melemparkan tatapan menantang kepada Taeyong, "Kau menculik Ten dengan paksa."
"Aku tidak memaksanya. Ten milikku, dan aku berhak mengambil apa yang menjadi milikku, kau tentu sudah tahu itu." Tatapan mata Taeyong tajam dan penuh arti, membuat napas Jaehyun tersengal karena emosi, "Lagipula, semalam kami sudah saling memiliki, malam yang sangat indah dan memuaskan, benar begitu kan Ten?" Taeyong melirik penuh arti ke arah Ten, sengaja membuat suaranya sensual hingga membuat Ten benar-benar merona.
Semula Jaehyun tidak percaya akan kata-kata Taeyong yang sepertinya sengaja digunakan untuk memprovokasinya, tetapi kemudian lelaki itu melihat ekspresi Ten yang merah padam dan tidak mampu membantah. Darah Jaehyun bergolak, dia marah luar biasa, kurang ajar! Lelaki itu telah menyentuh Ten-nya!
"Akan kubunuh kau!" Jaehyun menarik pelatuknya dan sedetik kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, Taeyong tiba-tiba sudah meloncat dan menerjang Jaehyun. Lalu Taeyong berhasil merenggut pistol itu dari tangan Jaehyun sebelum lelaki itu sempat menembakkannya, dan melemparkannya jauh di luar jangkauan. Dua lelaki itu bergulat dengan kerasnya. Yang satu menghajar yang lain bergantian.
Sementara Ten hanya berdiri kaku shock dan tidak bisa bergerak melihat perkelahian yang brutal dan panas itu. Tetapi rupanya, keahlian bela diri Taeyong dengan tangan kosong memang lebih unggul. Dia mencekal lengan Jaehyun dari belakang, wajah Jaehyun sudah lebam-lebam dan bibirnya berdarah, sementara rambut Taeyong yang biasanya rapi, berantakan dengan sedikit darah di ujung bibirnya.
Ten menatap ke arah dua laki-laki itu dan membelalakkan mata. Tangan Taeyong dengan sangat ahli, memposisikan gerakan berbahaya, mencengkeram leher Jaehyun, tatapan matanya begitu kejam hingga matanya nyaris hitam. Lelaki itu memegang leher Jaehyun yang tak berdaya dengan ahli, dia bisa mematahkan leher Jaehyun dalam sekejap dan mencabut nyawanya, sedikit saja gerakan dari Jaehyun, maka nyawanya akan melayang.
"Berani-beraninya kau kemari dan mencoba mengambil milikku!" Taeyong mendesis marah, "Ucapkan doa terakhirmu karena aku akan membunuhmu."
Jaehyun memejamkan matanya, tahu bahwa kematian sudah begitu dekat dengannya.
Tetapi kemudian terdengar suara tembakan yang begitu kencang. Dan kemudian Jaehyun terlepas dari cengkeraman Taeyong.
Jaehyun membuka matanya, bingung, dan kemudian membelalakkan matanya kaget. Ten sedang memegang pistolnya yang tadi terlempar, pemuda itu terengah-engah, tatapan matanya ketakutan di cekam teror, dan ketika Jaehyun menoleh ke belakang, dia melihat Taeyong terhuyung ke belakang sambil memegang dadanya.
Dadanya itu bersimbah darah, membuat wajah Taeyong pucat pasi. Lelaki itu bahkan tidak mempedulikan Jaehyun, dia menatap Ten, yang masih menodongkan pistol di tangannya, dan ekspresi wajahnya begitu sedih, sedih luar biasa, hingga membuat siapapun yang melihatnya akan merasa seperti diremas jantungnya.
"Kau... menembakku Ten? Sayangku..." Kemudian tubuh Taeyong rubuh di lantai tak sadarkan diri.
Ten masih terpana akan apa yang dilakukannya, matanya nanar menatap tubuh Taeyong yang tergeletak tengkurap di lantai. Tiba-tiba saja air matanya mengalir. Kenapa dia menangis? Ten mengusap air matanya, bingung. Tadi dia melihat Jaehyun hampir di bunuh dan dengan impulsif dia langsung mengambil pistol yang tergeletak di lantai itu dan menembakkannya ke arah Taeyong... dia sudah membunuh Taeyong?
Jaehyun mendengar suara berderap menuju ruang makan itu, para pengawal Taeyong sudah berdatangan, mereka pasti tadi diperintahkan untuk menjauh dan menjaga privasi makan malam Taeyong dan Ten, tetapi sekarang mereka pasti sadar ada yang tidak beres ketika mendengar suara ledakan pistol di harus membawa Ten pergi dari sini secepat mungkin sebelum para pengawal Taeyong datang!
Dengan sigap, Jaehyun menarik lengan Ten yang masih terpaku, dia mengambil pistol di genggaman tangan Ten dan kemudian mencekal lengan Ten, setengah menyeret pemuda itu,
"Ayo! Kita harus pergi dari sini!"
Ten mau tak mau mengikuti langkah Jaehyun, kepalanya masih menoleh ke belakang, ke sosok lelaki berpakaian hitam-hitam yang terbaring tertelungkup tak berdaya. Apakah Taeyong mati...?
Angin laut yang dingin menerpa wajah Ten, ketika Jaehyun menyeretnya sambil berlari kencang. Para pengawal Taeyong tentunya sekarang sudah tahu bahwa ada penyusup dan Ten melarikan diri. Mereka sedang dikejar!
Jaehyun membawa Ten melewati semak-semak tinggi di bagian ujung pantai berbatu karang, yang jarang dilewati. Sebelum ke pulau ini, Jaehyun telah mempelajari strukturnya dan tahu bahwa bagian di lokasi yang berbatu ini kemungkinan besar akan lepas dari pengawasan karena strukturnya tidak memungkinkan untuk melabuhkan perahu boat.
Tetapi Jaehyun tidak habis akal, dia menambatkan jangkar kecil untuk boatnya yang ditinggalkannya sedikit ke tengah laut, di sudut yang gelap. Lalu dia berenang menuju pulau naik diam-diam ke daratan dalam kegelapan. Cara itu rupanya berhasil membuatnya sampai ke pulau tanpa ketahuan oleh siapapun bahkan hingga lolos bisa memasuki rumah. Sebenarnya Jaehyun sendiri tidak menyangka dia bisa memasuki pulau itu semudah ini. Tetapi entah kenapa, penjagaan di pulau itu cukup sepi, hanya ada satu atau dia orang di depan. Rupanya lokasi pulau yang cukup terpencil membuat "Sang Pembunuh" lengah dan mengendorkan penjagaannya.
Jaehyun menatap ke arah langit yang gelap pekat, dia beruntung karena hari ini tepat saat malam tidak berbulan, sehingga kesempatan Jaehyun untuk tidak ketahuan sangat besar.
Mereka berdua berdiri di tepi pantai, Jaehyun menatap Ten dalam-dalam dengan penuh tekad. Pemuda itu menangis, apakah dia menangisi Taeyong?
"Tahan napasmu. Kita akan berenang." Sebelum Ten sempat menjawab, Jaehyun menarik pemuda itu masuk ke air laut, dia berenang di belakang Ten, menghela pemuda itu ke arah perahu boat yang sudah menunggu, lalu menaiki perahu boat itu dan mengangkat Ten dari lautan naik bersamanya.
Jaehyun memejamkan matanya dan menghela napas panjang. Dia melirik ke arah pulau, ada cahaya senter begitu banyak yang di pancarkan dari sana. Para pengawal Taeyong sedang mencari mereka ke seluruh bagian pulau. Jaehyun harus membawa Ten pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaannya dan Ten. Jaehyun menyalakan mesin perahu boatnya, suara mesinnya tertelan oleh deburan ombak yang kencang. Dia melajukan perahunya memutar arah, menjauhi pulau itu.
Lelaki itu melirik Ten yang meringkuk di sudut perahu dan kemudian mengernyitkan keningnya. Dia lalu meraih ponselnya dan menelepon atasannya, "Aku sudah menyelamatkan Ten. Dia ada bersamaku sekarang." Gumamnya cepat.
Atasannya tampak terkesiap di seberang sana, "Apa? Bagaimana bisa? Kapan? Jaehyun! Kau tidak bergerak sendiri tanpa koordinasi bukan?!"
"Itu tak penting." Jaehyun mengeraskan suaranya, berusaha mengalahkan suara deburan ombak dan perahu boat yang memenuhi udara. Dia melirik dengan cemas ke belakang, ada nyala lampu berkelap-kelip yang mendekat di kejauhan. Sepertinya ada beberapa perahu boat yang mengejar mereka, jantungnya berdebar, dia harus cepat dan hati-hati, sekarang Ten sudah bersamanya, Jaehyun akan berusaha sekuat tenaga supaya mereka tidak bisa mengejarnya, "Aku akan mendarat di pulau jeju sebentar lagi, siapkan pesawat untuk membawa kami pulang di landasan yang biasa."
Tanpa menunggu jawaban atasannya, Jaehyun menutup telepon lalu melajukan perahu boatnya sekencang mungkin.
###
Winwin terlambat datang, dia menyaksikan detik terakhir itu, detik dimana Ten yang bodoh itu mengacungkan pistolnya ke arah dada Taeyong dan menembaknya. Winwin begitu marah ketika melihat tubuh Taeyong rubuh di lantai. Kekasihnya... lelaki pujaannya, dan pemuda bodoh itu menembak-nya begitu saja!
Ketika para pengawal Taeyong datang, Winwin menyembunyikan dirinya di kegelapan, dia tidak boleh ketahuan berada di sini. Tadi dia datang ke pulau ini menumpang perahu salah satu penduduk yang tidak tahu apa-apa dan mengatakan bahwa dia adalah tamu dan kekasih dari Taeyong. Penduduk itu biasanya mengambil bahan makanan ke seberang setiap harinya, dan dia percaya akan perkataan Winwin mengingat betapa 'wah' nya penampilan Winwin waktu itu. Winwin melihat Mark memeriksa Taeyong, wajahnya tampak muram, lelaki muda itu lalu memberi isyarat kepada para pengawal untuk mengangkat tubuh Taeyong yang lunglai. Bekas ceceran darah tertinggal di lantai tempat Taeyong terbaring, membuat dada Winwin sakit. Dia bahkan tidak bisa menyentuh dan memeluk kekasihnya itu di saat seperti ini.
Air mata mengalir di mata Winwin, air mata kemarahan, kesedihan yang bercampur dendam membara. Dia akan menemukan cara untuk keluar dari pulau ini segera, dan dia akan mengejar Ten.
Ten harus menerima pembalasan setimpal karena telah menembak Taeyong. Winwin akan membunuh Ten!
###
"Kau tidak apa-apa?" Jaehyun membungkus tubuh basah Ten dengan selimut, dia membawa Ten ke rumahnya. Tubuh Ten masih gemetar dengan tatapan mata kosong, pemuda itu shock.
Setelah mendarat di pulau jeju, Jaehyun membawa Ten ke landasan milik pemerintah, sebuah tempat rahasia yang digunakan untuk keperluan darurat jika misi mereka mengharuskan mereka melarikan diri dengan cepat. Atasannya ternyata menanggapi dengan cepat laporan Jaehyun, karena sebuah pesarat pribadi berlogo pemerintah sudah menunggu mereka di landasan.
Jaehyun membawa Ten menaiki pesawat itu, dan mereka langsung di bawa pulang. Sepanjang perjalanan, atasannya menelepon, meminta Jaehyun mempertimbangkan untuk membawa Ten ke lokasi perlindungan yang tersedia, tetapi Jaehyun bersikeras untuk membawa Ten ke rumahnya. Rumahnya adalah tempat yang paling aman karena Jaehyun paling mengenal seluk beluk rumahnya, juga setiap titik dalam pengamanannya. Lagipula Jaehyun tidak mau menyembunyikan Ten. Kalau memang Taeyong mengejar dan ingin mengambil Ten, maka mereka harus berhadapan secara jantan. Kalau tidak, dia akan terpaksa membawa Ten terus menerus dalam pelarian. Atasannya akhirnya menyetujui kekeras kepalaan Jaehyun, dengan berat hati tentunya, dia lalu mengatakan akan mengirim agen-agennya untuk menyusul dan menjaga rumah Jaehyun.
Mereka menempuh perjalanan kembali ke kota ini dalam kebisuan. Sekarang sudah hampir satu jam sudah berlalu setelah mereka pulang, dan kondisi Ten masih tetap seperti itu. Jaehyun sendiri telah menghubungi anak buahnya, dan mereka telah menerima instruksi dari atasan langsung Jaehyun untuk segera datang ke rumah Jaehyun dan melakukan penjagaan ketat. Saat ini mereka semua sedang dalam perjalanan.
Ten menatap ke arah Jaehyun, berusaha memfokuskan pandangannya, tetapi air mata malahan mengalir deras dari matanya, bibirnya bergetar, "Aku...aku membunuhnya..."
Jaehyun menghela napas panjang, memeluk Ten dengan lembut, "Kau menyelamatkan nyawaku sayang, terima kasih ya."
Tubuh Ten lunglai dalam pelukan Jaehyun, membiarkan lelaki itu membelai rambutnya. Ten sendiri merasa begitu bingung akan perasaan yang berkecamuk di benaknya, masih teringat jelas ekspresi wajah Taeyong tadi sebelum dia rubuh ke lantai. Kesedihannya itu... seakan-akan merenggut jiwa Ten membuatnya ingin menangis meraung-raung tetapi tidak tahu kenapa...
Ponsel Jaehyun tiba-tiba berbunyi, Jaehyun mengerutkan keningnya dan mengangkatnya, "Winwin." Sapanya ketika mengetahui siapa yang meneleponnya. Jaehyun tidak tahu kalau Winwin sekarang sudah sampai di bandara kota ini, dan sedang menunggu taxi untuk menuju ke tempat tinggal Jaehyun.
"Jaehyun." Winwin membuat suara secemas mungkin, "Aku mendengar dari Mr. Suho atasanku bahwa Johnny sedang bergegas ke pulau Donghae Leechaiyapornkul, ada tamunya yang tertembak, aku cemas sekali Jaehyun, kau kan tahu aku menduga bahwa Ten hyung ada di pulau itu.. aku cemas kalau Ten hyung yang tertembak." Winwin mengarang dan berakting dengan lancarnya, bagaimanapun juga, itu adalah keahliannya, bahkan supaya lebih meyakinkan, pemuda itu mulai terisak-isak, membuat Jaehyun di seberang kehabisan kata-kata.
Jaehyun mengerutkan keningnya lagi dan berpikir, Winwin setahunya adalah sahabat Ten yang paling dekat, dan tentu saja pemuda itu sangat mencemaskan Ten. Jaehyun tidak tega mendengar pemuda itu menangis terisak-isak, mungkin tidak masalah kalau dia memberitahukan keberadaan Ten di rumahnya, dia bisa meredakan kecemasan Winwin dan mungkin kehadiran Winwin bisa menenangkan Ten. "Winwin... aku tidak bisa menjelaskan semuanya secara terperinci... tetapi Ten... Ten sekarang berada di sini di rumahku, bersamaku."
"Benarkah?" Winwin terpekik, "Biarkan aku bicara dengannya Jaehyun, biarkan aku tahu dia baik-baik saja."
"Ten sedang tidak bisa bicara." Jaehyun melirik ke arah Ten yang masih meringkuk dan terisak-isak di sofa, "Mungkin kau bisa ke rumahku saja?" Jaehyun memberitahukan alamat rumahnya kepada Winwin.
Gotcha! Winwin menyeringai lebar. Jantungnya berdegup penuh antisipasi ketika taxinya datang, Winwin memberikan alamat rumah Jaehyun kepada supir, dan dia duduk dengan tidak sabar menunggu taxi sampai ke tujuan.
Tunggulah Ten, dewi pembalasan akan datang dan membunuhmu!
###
Jaehyun menuangkan secangkir kopi kental hitam dari mesin pembuat kopinya. Aroma harum langsung menguar ke udara, memenuhi ruangan. Dia melirik ke arah Ten, pemuda itu tadi menangis histeris, kondisinya sangat kebingungan sehingga Jaehyun berpikir dia harus membawa Ten ke psikiater, kejadian tadi mungkin terlalu mengguncang jiwanya.
Suara mobil terdengar di depan rumahnya, membuat Jaehyun segera mengintip ke luar dengan waspada, dia mendesah ketika melihat Winwin yang turun dari taxi itu. Sebelum Winwin mengetuk pintu, Jaehyun sudah membuka pintunya dan menyambut Winwin.
"Di mana Ten hyung?" Winwin melongok ke dalam berusaha mencari, Jaehyun memiringkan tubuhnya, membiarkan Winwin masuk.
"Di Sofa, dia tertidur setelah menangis lama."
Winwin menatap Jaehyun dengan bingung, "Sebenarnya apa yang terjadi Jaehyun?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang" Jaehyun bergumam tegas, "Aku hanya berharap kau bisa menghibur Ten."
"Tentu saja." Winwin tersenyum, matanya melirik ke arah Ten yang tidur meringkuk di sofa, dia mengguncang bahu Ten lembut, "Ten hyung...?" Winwin berbisik, memanggil nama Ten. Tubuh Ten terguncang dan dia menolehkan kepalanya, matanya mengerjap, seolah tidak yakin.
"Winwin?" bisiknya lemah, mengusap matanya.
"Ini aku hyung, kau baik-baik saja?"
Ten langsung menangis lagi ketika melihat wajah sahabatnya itu, dia langsung memeluk Winwin, "Aku membunuh Taeyong...aku..." suara Ten tenggelam di dalam tangis sementara Winwin memeluknya mencoba menghibur Ten yang histeris.
Sementara itu Jaehyun menatap mereka berdua dan mengangkat bahunya, "Aku akan membuatkan kopi..." gumamnya membalikkan tubuh ke arah dapur.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Jaehyun tertegun oleh rasa nyeri dan panas yang menembus punggungnya, dia menoleh dan terkejut mendapati Winwin berdiri di belakangnya dengan senyum bengis, tangan Winwin memegang pisau, dan pisau itu sekarang menancap di punggungnya, berlumuran darah. Darahnya!
Jaehyun hendak membuka mulutnya ketika pandangan matanya mulai berkunang-kunang, masih di dengarnya suara tawa terkikik Winwin.
"Rasakan itu dasar agen bodoh! Berani-beraninya kau menggangu Taeyong, kekasihku!"
Taeyong adalah kekasih Winwin? Jaehyun mengernyit ketika merasakan kesadarannya makin tenggelam akibat rasa sakit yang amat sangat di punggungnya, dia tersengal, berusaha mencari pegangan tapi terlambat! Tubuhnya rubuh di karpet, penuh darah. Winwin membungkuk dan mencabut pisau itu dari punggung Jaehyun, dan mengacung-acungkan pisau yang penuh darah itu kepada Ten.
Ten yang menatap seluruh adegan itu dari sofa memekik kaget, dia terpaku di tempat duduknya, matanya membelalak menatap Winwin yang memegang pisau berlumuran darah, dan kemudian berpaling ke tubuh Jaehyun yang sekarang terkulai di karpet. "Winwin?" Ten menatap Winwin dan kemudian baru menyadari perbedaan yang ditemukannya didalam penampilan Winwin itu. Winwin berpenampilan lebih mencolok dan menggoda... benarkah ini Winwin yang sama?
Winwin sendiri menatap Ten dan tersenyum keji, "Aku akan membunuhmu Ten..."
"Winwin?" Ten bergumam gugup, beringsut dari kursinya ketakutan ketika Winwin melangkah semakin mendekat. "Winwin? Ada apa?'
"Ada apa?" Winwin mulai tertawa, "Seharusnya kau sadar Ten, bahwa aku tidak pernah benar-benar menjadi temanmu. Aku mau mendekatimu atas perintah Taeyong."
Apa? Ten berteriak dalam hati, kesadarannya kembali ketika menerima tatapan membunuh dari Winwin. Jadi selama ini Winwin hanya menyamar? Apakah Taeyong yang mengirim Winwin kemari untuk membunuhnya?
"Kau pria yang tidak tahu terima kasih, Taeyong begitu baik, begitu tampan dan dia harus terikat padamu, laki-laki lemah yang sama sekali tidak berharga."
"Terikat padaku?"
Ten sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Winwin, apakah Winwin mengira Ten mengikat Taeyong karena dia adalah satu-satunya korban yang gagal dibunuh oleh Taeyong?
"Kau masih tidak ingat ya." Winwin tertawa cekikikan, tawa yang aneh karena matanya bersinar kejam, "Betapa menyedihkannya kau Ten, aku berani bertaruh bahwa kau akan menyesal setengah mati kalau kau ingat. Dasar pria bodoh, demi membela lelaki yang tak berguna itu kau malahan menembak suamimu sendiri!"
Menembak suaminya? Tetapi Ten menembak Taeyong...apa maksud Winwin dengan suaminya?
"Ya laki-laki bodoh. Itulah kenapa Taeyong tidak bisa melepaskanmu, itulah kenapa Taeyong begitu terikat kepadamu. Kau adalah isterinya! Isteri yang tidak tahu terima kasih karena melupakan suaminya begitu saja! Kau tak pantas untuk Taeyong, aku akan membunuhmu!"
Dengan gerakan cepat, Winwin menyerbu Ten, dengan pisau berdarah masih teracung di tangannya. Ten melompat menghindar, melompati sofa itu sehingga sofa itu jatuh terguling bersamanya, menimpa kepalanya dalam benturan yang cukup keras. Kepala Ten berputar- putar benaknya melayang. Isteri Taeyong...? Dia isteri Taeyong? Bagaimana bisa? Kenangannya kembali kepada makan malam mereka dahulu, ketika melihat cincin emas yang melingkar di jari Taeyong...
"Apakah... apakah kau sudah menikah?" Ten akhirnya menyuarakan pertanyaan di benaknya, matanya melirik sekilas lagi ke arah cincin di jemari Taeyong.
Taeyong mengikuti arah pandangan Ten ke cincinnya dan tersenyum miris, "Maksudmu cincin ini?" Taeyong menatap Ten dalam-dalam, "Dulu aku pernah menikah."
Dulu aku pernah menikah... apakah maksud Taeyong, dia menikah dengan Ten? Tetapi kapan? Bagaimana bisa? Kenapa Ten sama sekali tidak mengingatnya?
Tiba-tiba Ten merasa cairan panas mengalir dari dahinya ke matanya, dia mengambil cairan itu dengan jemarinya dan menatapnya. Cairan itu berwarna merah, itu darah...kepalanya berdarah! Menyadari itu Ten merasa pandangannya mulai berkunang-kunang, kesadarannya semakin lama semakin hilang...
Sementara itu Winwin berdiri dengan napas terengah, menatap Ten yang terkulai dengan sebagian tubuh tertindih sofa yang terbalik.
Ini adalah pembunuhan yang mudah. Seharusnya Winwin melakukannya dari dulu, mengusir pengganggu ini, melenyapkan Ten dari muka bumi ini, Selamanya!
Tangannya teracung mengambil ancang-ancang untuk menancapkan pisaunya sedalam mungkin ke punggung Ten yang tak berdaya...
Lalu suara tembakan itu terdengar, langsung menembus punggung Winwin tepat masuk ke jantungnya, hingga tubuh pemuda itu tersentak, dia menoleh ke belakang dan membelalakkan matanya kaget, tidak menyangka bahwa dirinya akan tertembak.
Doyoung berdiri di sana, dengan beberapa agen. Dialah yang menembak Winwin.
"Doy-..." Winwin mengenali Doyoung sebagai salah satu anak buah Taeyong yang disusupkan ke kantor pemerintah tempat Jaehyun berada, dia hendak menyebut nama Doyoung, tetapi lidahnya kelu, sekujur tubuhnya kaku dan mati rasa, kesadarannya makin lama makin hilang.
"Semua sudah selesai, Winwin." Doyoung bergumam, menatap dingin tubuh Winwin yang langsung tumbang dan kehilangan nyawa. Beberapa agen langsung memeriksa Winwin, memastikan bahwa dia benar-benar mati. Sementara itu Doyoung langsung berlari ke arah Jaehyun yang terkulai bersimbah darah di karpet, dia memeriksa nadinya dan memejamkan matanya penuh syukur, Jaehyun masih hidup, Syukurlah...
Untunglah Doyoung datang tepat waktu. Mark meneleponnya tadi, menginformasikan bahwa Ten dibawa kabur, Taeyong tertembak, dan para pengawal kehilangan jejak di pulau jeju. Beberapa saat setelahnya, atasannya menelepon meminta mereka semua bersiap ke rumah Jaehyun untuk melakukan penjagaan karena Jaehyun sudah mendapatkan Ten. Doyoung langsung menghubungi Mark untuk melaporkan perkembangan terbaru itu, lalu dia bergerak dengan beberapa agen, mendatangi rumah Jaehyun untuk melaksanakan tugas, meskipun dia membawa misi pribadinya: Ten tidak boleh bersama Jaehyun, demi kebaikannya, Ten harus kembali kepada Taeyong. Sayangnya Doyoung melupakan Winwin, pria psyco yang sudah menjadi rahasia umum begitu tergila-gila kepada Taeyong. Doyoung tidak menyangka Winwin akan senekat itu mengejar Ten, dan melukai Jaehyun.
Doyoung menatap ke arah Jaehyun. Darah Jaehyun sangat banyak, nyawa Jaehyun masih terancam karena dia kehilangan banyak darah. Doyoung memandang paramedis yang menyusul di belakangnya dan memandang dengan cemas ketika mereka memeriksa Jaehyun, kemudian mengangkut tubuh Jaehyun untuk dibawa ke ambulans,
Doyoung menolehkan kepalanya menatap Ten yang juga pingsan dan sedang diperiksa oleh paramedis. Dia menghela napas panjang. Ten harus baik-baik saja, karena dia adalah isteri dari tuan Taeyong, tuan besarnya.
###
Taeyong yang baru saja sadarkan diri, duduk di atas ranjang putih itu, menatap tajam ke arah Mark yang sedang menerima telepon dari Doyoung. Mark tampak bercakap-cakap dengan serius, kemudian dia menutup teleponnya dan menatap majikannya,
"Semuanya beres."
Taeyong memejamkan matanya, merasakan kelegaan yang amat sangat membanjiri tubuhnya.
Semalaman dia tidak sadarkan diri karena pistol yang menembus dadanya. Peluru itu hanya beberapa inci dari bagian vital tubuhnya, meleset sedikit saja dan mungkin Taeyong tidak akan bisa diselamatkan, sekarang peluru itu sudah dikeluarkan.
Ten menembaknya untuk menyelamatkan Jaehyun.
Jantung Taeyong terasa berdenyut rasa sedih bercampur cemburu menggelegak dalam jiwanya. Ten... isterinya yang telah melukapannya sejak kecelakaan itu.
Tidakkah dia tahu betapa Taeyong mencintainya? Betapa Taeyong rela melakukan segalanya demi pemuda itu?
###
