"Sudah selesai." Hinata meletakan kue ulang tahun yang ia buat sendiri di atas meja kecil. Sekarang Hinata tengah menunggu di ruang tamu tempat dimana ia akan merayakan hari ulang tahunnya berdua dengan Naruto.

"Ayah dan Hanabi tidak dapat datang, tapi tadi aku sudah menerima ucapan dari mereka. Lalu.. Sisa menunggu Naruto-kun menepati janjinya." Hinata menengok ke arah jam dinding di ruang tamu tersebut. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi, dan Naruto berjanji akan datang saat setengah sepuluh. Masih ada waktu sebelum Naruto sampai di rumahnya. Tetapi Hinata sudah menyelesaikan segala persiapannya sebelum waktunya.

Kemarin mereka berdua sudah membagi-bagi tugas mereka, tapi karena ini untuk Hinata, jadi Hinata memutuskan untuk mempersiapkan segalanya sendiri. Dari mulai hal sederhana, menghias ruangan dengan hiasan seadanya, membuat makanan dan juga minuman. Tidak lupa makanan spesial untuk orang yang berulang tahun, yaitu kue ulang tahun!

Hinata kembali menatap jam dinding, masih terlewat lima menit. Rasanya kalau tidak melakukan sesuatu waktu lama sekali berlalunya. Tidak tahan dengan kebosanan yang melanda, Hinata berjalan menuju kamarnya. Kemudian ia melihat pantulan dirinya di cermin, memastikan apakah dirinya benar-benar sudah terlihat indah untuk dipandang. Siapapun itu, ia ingin terlihat enak dipandang oleh orang yang disukainya 'kan? Begitu pula dengan Hinata, ia tidak ingin tampil jelek dihadapan Naruto.

"Aku tidak tahu, bahwa aku akan menyukainya." kembali mengingat akan perasaan sukanya, pipi Hinata memerah seketika. Rasanya saat mengetahui perasaannya sendiri, ia sangat malu. Apalagi jika perasaannya itu ia ceritakan atau diketahui oleh temannya. Rasa malu itu akan semakin membesar atau malah rasa malu itu akan berubah menjadi rasa berani untuk mengungkapkan perasaan tersebut.

"Ah.. Aku tidak boleh memikirkan hal itu sekarang!" Hinata keluar dari kamarnya, kemudian dia kembali menuju ke ruang tamu tempat dimana segala sesuatunya sudah disiapkan olehnya. Duduk, menanti kedatangan Naruto di hari ulang tahunnya.

"Jam sepuluh. Apa ada sedikit halangan ya." Hinata kembali menatap jam dindingnya, tidak terasa Hinata sudah menunggu selama itu. Hinata tetap menunggu, karena Naruto sudah berjanji kepada Hinata. Janji seorang laki-laki itu harus ditepati, itu yang dikatakan olehnya. Oleh sebab itu sampai saat ini Hinata percaya, Hinata percaya bahwa Naruto pasti akan menepati janji yang telah ia buat.

Salju kembali turun, dari dalam rumah Hinata, Hinata dapat melihat turunnya salju yang perlahan menumpuk di sekitar rumahnya. Setiap kali melihat jam, Hinata jadi semakin tidak percaya, tetapi Hinata harus tetap percaya, bahwa pasti datang, pasti Naruto datang.

Ia pasti datang..

Tapi..

Kenapa.. Kenapa Naruto..

Tidak datang.. Setelah setengah hari Hinata menunggu, Naruto tetap tidak datang ke rumahnya. Dengan perasaan sedih, Hinata merapihkan apa yang sebelumnya telah dipersiapkan olehnya ke tempatnya masing-masing.

Gundah, Hinata kecewa. Hinata sangat kecewa, ia benar-benar sedih.

"Aku pasti akan datang!"

Mengingat kata-kata Naruto lusa kemarin, Hinata jadi semakin sedih. Air mata menetes, janji yang tidak ditepati entah oleh karena apa. Hari yang sudah sangat dinanti-nantikan, berlalu begitu saja dengan kesendirian.

Tapi, dibalik itu semua pasti ada alasan yang belum terucapkan.

"Aku kecewa Naruto-kun."

v(•o• My Baby Blue:

Second Life •o•)v

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

My Baby Blue: Second Life © Kagami

Genre: Romance & Friendship

Pairing: Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

Rated: Teen

::

::

"Aaaa!"

"Hei Ino! Berisik!"

"Maaf, habisnya senang banget sih."

"Iya ya, ini pertama kalinya kita menyambut tahun baru bersama dengan Hinata. Ya 'kan Hinata."

"..."

"Lho, Hinata?"

"Hinata, kau mendengarkan kami?"

"Eh.. Iya maaf. Aku mendengarkan kok."

"Kalau begitu kita beli minuman hangat dulu yuk~."

"Iya."

Malam ini, sesuai rencana yang sudah dibuat oleh Hinata, Sakura dan Ino, pada malam tahun baru mereka akan berdoa di kuil bersama-sama. Setelah cukup lama Sakura menghilang dari peredaran, akhirnya ia kembali lagi setelah selesai membantu pekerjaan orangtuanya.

Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, waktu termalam bagi Hinata keluar rumah. Biasanya ia tidak pernah keluar lebih dari jam sepuluh dikarenakan ayahnya hanya membatasinya keluar sampai jam segitu. Tetapi ini pengecualian, Hiashi membiarkan Hinata keluar sampai pagi karena ini pengalaman pertama Hinata menyambut tahun baru bersama dengan temannya. Lagipula tidak mungkin Hiashi membiarkan anak perempuannya menyambut tahun baru sendirian di rumah tanpa ada seseorang.

Lagi-lagi Hiashi harus melakukan pekerjaan sehingga Hinata sendirian di rumah. Sempat pada tanggal dua puluh sembilan Hiashi pulang ke rumah, tetapi tanggal tiga puluhnya Hiashi sudah berangkat kerja lagi. Hiashi merasa tidak enak juga kepada anaknya karena selalu ditinggal olehnya, tetapi apa boleh buat, ini masalah pekerjaan.

"Oh ya Hinata," Ino menggantung kata-katanya.

"Ada apa Ino-chan?" tanya Hinata setelahnya.

"Andai kamu punya ponsel, pasti akan lebih mudah untuk menghubungimu." sembari meminum minuman hangat yang telah dibeli, mereka bersantai sebentar di dekat kuil. Kuil yang mereka datangi sangat banyak pengunjungnya yang juga ingin menyambut tahun baru bersama.

"Ponsel..?"

"Iya, misalnya kalau ada informasi apa-apa dari sekolah dan saat itu kamu tidak ada di rumah 'kan akan repot." lanjut Sakura dan membuang kaleng minuman tersebut ke tempat sampah yang ada di sampingnya.

"Soal ponsel, aku baru dapat dari ayah dua hari yang lalu."

Mendengar penuturan dari Hinata, Sakura dan Ino langsung terkejut secara bersamaan. Mereka bangkit dari duduknya dan menatap Hinata dengan tatapan penuh keseriusan.

"Kenapa kau tidak memberitahu kami?" seru keduanya dengan suara yang rada-rada kesal. Kalau Hinata mengatakannya sejak awal, pasti Ino dan Sakura tidak perlu mengatakan hal seperti barusan.

"Karena kalian tidak bertanya dan aku tidak tahu cara menggunakannya." jawab Hinata dengan santai. Hinata meneguk tetesan terakhirnya dan membuang kalengan tersebut seperti apa yang sebelumnya Sakura lakukan.

Karena ini pertama kalinya bagi Hinata, tentu ia tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Mulai dari membuat e-mail, mengirim e-mail, menelepon, menyetel wallpaper, dan berbagai macam hal yang dapat dilakukan oleh ponsel.

"Kalau begitu, dimana ponselnya?" tanya Sakura setelahnya.

"Di rumah." jawab Hinata singkat.

"Kalau begitu setelah ini kami akan mampir ke rumahmu. Kami akan memberitahukan cara menggunakannya dan kami akan mengirimkan nomor kami ke ponselmu. Supaya kita jadi mudah berhubungan~ Ya 'kan?" dengan semangat Ino melompatkan dirinya di atas tumpukkan salju. Tetapi waktu untuk mampir ke rumah Hinata masih lama karena harus menunggu tahun baru terlebih dahulu.

"Iya." Hinata tersenyum singkat. Melihat senyuman Hinata, Sakura dan Ino merasakan seperti ada yang aneh dari senyuman Hinata, terlihat seperti dipaksakan. Tapi untuk saat ini, mereka tidak ingin menanyakan hal apapun kepada Hinata karena pasti akan mengubah suasana tahun baru mereka.

"Kalau begitu kita berdoa dulu yuk~." Ino kembali meneriakkan kata-kata supaya suasana di antara mereka kembali menyenangkan. Kemudian mereka bertiga berjalan dan melakukan aktivitas yang sudah disebutkan oleh Ino.

Selesai dari itu, mereka berniat mengambil ramalan. Yang paling terkenal setiap kali tahun baru adalah mengambil kertas ramalan! Ramalan tentang peruntungan di tahun ini, bagaimana nasib pekerjaan dan juga tentang percintaan!

"Semoga keberuntungan besar, semoga keberuntungan besar!" dengan perasaan berdebar, Ino menggenggam kertas ramal yang ia ambil bersama dengan Hinata dan Sakura. Menatap kertas itu sembari berharap-harap, Ino meneguk ludahnya.

"Kita buka yuk." ajakan Sakura membuat Hinata dan Ino mengangguk secara bersamaan. Jujur saja Hinata dan juga Sakura berharap supaya ramalan baik yang akan mereka dapatkan. Tetapi jangan terlalu percaya dan bergantung pada ramalan, karena belum tentu ketepatannya benar seratus persen.

"Tidak beruntung~."

"Ah! Aku beruntung."

Mendengar bahwa Sakura mendapatkan keberuntungan, Hinata dan Ino menengok secara bersamaan. Mereka mendekat ke arah Sakura dan membaca ramalan milik Sakura.

"Kau curang Sakura! Aku dan Hinata tidak beruntung tetapi kau malah beruntung sendirian! Namanya kita tak kompak nih." Ino menggerutu kesal, tapi keberuntungan seorang teman tentu saja harus diberikan selamat.

"Disini tertulis 'Tahanlah emosi untuk hal-hal yang memerlukan kesabaran. Di tahun ini mungkin akan sedikit banyak cobaan kecil, tapi jika dilalui dengan senyum, semuanya dapat dilalui dengan baik.' Itu peruntungan Sakura-chan tahun ini." setelah membaca tulisan tersebut, Hinata menatap Sakura. Sakura mengangguk karena sebelumnya ia tidak membacanya karena hanya melihat tulisan utama tentang beruntung atau tidaknya dia.

"Bagaimana dengan kisah cinta?" dengan jahil Ino menatap ke arah Sakura. "Bukankah kau sudah lama tidak berbicara dengan teman masa kecilmu itu? Padahal dulu kalian dekat sekali lho~." Ino mengangguk-angguk setelah mengingat cerita apa saja mengenai cinta yang pernah dahulu Sakura ceritakan padanya. Tapi jika boleh dikatakan, kisah cintanya memang dapat dikatakan sedang dalam masa sulitnya.

Melihat kejadian itu, Hinata penasaran! Selama ini Sakura tidak pernah menceritakan kisah cintanya kepada Hinata. Mungkin inilah saatnya bagi Hinata untuk mendengarkan kisah-kisah Sakura, barangkali Hinata dapat memberi sedikit saran yang berguna.

"Siapa? Siapa teman masa kecil Sakura-chan? Dia orang yang disukai Sakura-chan ya?" dengan semangat yang menggebu-gebu, Hinata bertanya kepada Sakura. Memang tidak terlihat seperti sifat Hinata yang biasanya, tetapi jika penasaran memang harus ditanyakan kepada orang yang dapat menghilangkan rasa penasaran tersebut.

"Sebentar Hinata, baca ramalan cintanya dulu saja." sergah Ino. Ino yang sedari awal ingin mengetahui bagaimana ramalan cinta Sakura meminta Hinata menahan rasa penasarannya untuk membaca ramalan terlebih dahulu.

Sakura mendekatkan kertas ramal tersebut sampai mencapai jarak pandang bacanya dan melihat ramalan tentang cinta. "Aa.. 'Jika memang cinta, jangan ditahan. Keluarkan keberanian yang selama ini terbenam dan katakanlah hal yang ingin disampaikan. Jika terus menghindar, maka ia akan semakin menjauh darimu'." melihat ramalan tersebut, Sakura jadi hilang semangat. Benar juga yang dikatakan oleh ramalan tersebut, terus menghindar akan membuatnya semakin jauh dari orang yang disukai olehnya.

Sakura menyimpan kertas ramalnya dalam sakunya dan menatap Hinata dan Ino secara bergantian. "Aku ingin akrab dengannya lagi." tersenyum singkat, Sakura menatap keduanya dengan perasaan sedih disana.

"Aku tidak mengerti~." tentu saja Hinata yang tidak pernah mendengar kisah Sakura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Sakura. Mengatakan hal tersebut, berarti hubungannya Sakura memiliki hubungan yang kurang baik dengan teman kecilnya itu.

"Setelah ini kuceritakan deh~ Bagaimana dengan kalian? Bukankah tidak beruntung? Ikat dipohon yuk~." mencairkan suasana, Sakura menyarankan Hinata dan Ino yang mendapatkan ketidakberuntungan untuk mengikat kertas ramal tersebut di tempat yang sudah disediakan.

"Sebentar~ Aku belum baca nih~ Dengar ya~ 'Tahun ini banyak rintangan dalam memilih antara yang baik dan yang tidak. Cobalah untuk meminta saran orangtua atau teman yang mana yang sebaiknya dipilih.' lalu ramalan cintanya 'Sebentar lagi, dimana bunga sakura mulai bermekaran dengan indahnya, kau akan menemukan cinta sejatimu.' wah~ Romantis~ Saat ini tidak ada yang kusuka sih." Ino melipat kertas ramal itu dengan rapih. Rencananya ia ingin menyimpannya supaya ingat akan pesan cintanya itu. Menyimpan kertas ramal yang tidak beruntung tidak apa 'kan?

"Aku ingin menyimpannya." Ino tersenyum tidak sabar. Saat bunga sakura bermekaran, itu artinya saat musim semi dan saat mereka naik ke kelas tiga. Mungkin saat penyambutan tahun ajaran baru, Ino akan bertemu dengan seseorang yang menawan hatinya? Ya lihat saja nanti..

"Bagaimana dengan Hinata?" setelah meletakan kertas ramal tersebut di tas gendong yang ia kenakan, Ino menatap Hinata. Tentu saja ia juga penasaran dengan nasib Hinata untuk tahun ini.

"Peruntunganku.. 'Nasib baik akan datang menghampirimu jika kau menerima dirimu apa adanya. Sebelum memikirkan nasib orang lain, pikirkanlah dirimu sendiri.' kemudian 'Cinta tidak akan berjalan baik jika terdapat rasa kekecewaan diantara keduanya. Kecewa untuk hal yang tidak pasti akan membuat penyesalan karena kau tidak mendengarkan penjelasannya. Orang yang selalui terbayang dibenakmu, dialah orangnya.' begitu katanya." Hinata selesai membacanya dan kata-kata singkat yang keluar dari mulut Hinata sebagai respon akan ramalan yang ia dapat.

"Ramalan cintanya sulit juga ya.." Ino yang menyerap arti ramalan cinta yang didapat Hinata harus memutar otaknya lebih banyak dari biasanya. Ramalan yang membuat seseorang harus berbuat lebih dari kapasitas yang biasa dikeluarkan.

"Iya, aku ingin mengikatnya, tidak apa 'kan?" tanya Hinata kepada keduanya. Ramalan yang seperti ini banyak yang tidak baiknya, walaupun ada saran yang sudah jelas harus Hinata perhatikan disana.

"Iya, ayo." seru keduanya dan berjalan menuju tempat pengikatan kertas ramalan.

"Sudah diikat." seru Hinata saat ia sudah mengikatnya. Sembari berdoa singkat, Hinata tersenyum tipis. Semoga ditahun ini semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

Duk..

"Ah maaf."

"Loh.. Hinata."

"Na.. Naruto-kun.."

"Aa.. Maafkan aku, aku tidak bisa datang pada hari itu. Setelah hari itu, kita tidak bertemu lagi 'kan? Itu.. Itu ada alasannya."

"..." Tidak bisa menjawab, Hinata hanya menundukkan wajahnya. Ia kembali mengingat akan ramalannya, harus mendengarkan penjelasannya, harus dengarkan. Tapi...

"Maaf." karena tidak tahan, Hinata pun lari dari tempat mereka berpijak sekarang. Rasa kecewanya membuat ia tidak mengikuti saran dari ramalan tersebut.

"Hinata!" niat mengejar Hinata, tapi tangan Naruto ditahan oleh Sakura dan Ino. Itu membuatnya kehilangan Hinata sehingga tidak dapat mengejarnya.

"Ada apa ini? Cepat ceritakan pada kami."

::

::

"Kejam.. Kejam.. Naruto-kun kejam.." Hinata menggerutu di setiap perjalannya pulang. Tidak seperti Hinata yang biasanya, kali ini sifatnya menjadi kekanakkan. Jika menyangkut perasaan sukanya terhadap seseorang, ia menjadi lebih labil.

"Karena Naruto-kun disana aku jadi tidak bisa mendengarkan kisah cinta Sakura-chan." masih tetap menangis, Hinata membuka pintu rumahnya. Kini ia sudah sampai di rumahnya dan merapihkan dirinya. Sayang sekali hari bersenang-senangnya jadi kacau karena sifat kekanak-kanakkan Hinata. Jika Hinata mau mendengarkan penjelasan dari Naruto, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.

Hinata memasuki kamarnya, bersandar di ranjang, dan memeluk boneka hadiah natal pemberian dari Naruto. "Hangat." serunya pelan. Hinata kembali mengingat kata-kata Naruto, bahwa saat tahun baru pamannya akan pulang dan sudah pasti Naruto sangat senang.

Hinata berpikir jangan-jangan ia juga merusak acara keluarga Naruto dengan kejadian barusan? Karena kejadian itu, Naruto jadi berteriak memanggil nama Hinata dan sudah pasti pamannya akan bertanya kenapa Naruto berteriak. Hinata jadi merasa bersalah, tapi tidak ada hal yang dapat dilakukannya sekarang.

Malam tahun baru yang menyenangkan, walaupun ada kejadian sedih disana, akhirnya telah berganti menjadi tahun baru...

Tok Tok Tok..

Mendengar suara ketukan pintu rumahnya, Hinata terbangun dari tidurnya. Entah kemampuan pendengaran yang berasal dari mana, tapi Hinata dapat mendengar suara tersebut padahal jaraknya cukup jauh dari kamar Hinata.

Dengan segera Hinata bangkit dari ranjangnya, mencuci wajahnya dan berganti pakaian yang lebih sopan dan turun menuju bawah. Hinata bingung siapa yang datang ke rumahnya di tahun baru ini padahal waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi.

"Iya.." Hinata membuka pintu rumahnya, dan disaat Hinata mengetahui siapa yang berkunjung ke rumahnya, dengan segera Hinata langsung menutup pintunya kembali.

Hening.. Hinata tidak dapat bergerak selangkah pun dari balik pintu. Ingin berjalan, tapi otaknya tidak dapat memerintahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Sebenarnya Hinata ingin menatapnya, melihat senyumannya, mendengar suaranya yang riang, tetapi..

"Janjimu Naruto-kun.." Hinata terduduk di lantai. Ingin sekali rasanya ia menumpahkan kekecewaannya dengan mengeluarkan air mata yang lebih banyak dari kemarin. Tapi mungkin air matanya telah habis dan tidak dapat dikeluarkan kembali untuk saat ini.

"Hinata, aku mau bicara denganmu." akhirnya, orang yang berada di balik pintu itu angkat bicara. Naruto..

"Kamu harus mendengarkan aku kenapa pada hari itu aku tidak dapat datang ke rumahmu!" Naruto kembali mengetuk-ngetuk pintu rumah Hinata. Naruto pikir, Hinata sudah tidak berada disana lagi sehingga ia membuat tanda-tanda bahwa Naruto masih menunggu di rumahnya.

"Saat itu, aku sudah siap menuju rumahmu. Tapi tiba-tiba pamanku datang bersama dengan istrinya. Tentu saja aku terkejut, karena saat ia pergi, ia masih sendiri. Tetapi saat kembali, ia sudah memiliki istri dan satu anak bayi." Naruto menceritakan segala alasannya dengan suara keras, walaupun Hinata tidak mendengarnya, tapi yang jelas Naruto sudah mengatakannya.

"Kemudian, aku berusaha keras mengatakan pada mereka bahwa aku memiliki acara. Tetapi.. Mereka tidak mendengarkanku karena terlalu senang dan aku ditahan disana. Tanpa celah, aku tidak dapat keluar dari pengawasan mereka."

"Aku yakin kamu tidak mendengar, tapi aku tidak ingin hubungan kita seperti ini terus. Kamu tidak seperti biasanya Hinata, sifatmu lebih kekanakkan, tapi aku tidak apa-apa kok. Jika kamu tidak memaafkanku, sepertinya ketidakberuntungan yang kudapatkan di kertas ramalan itu akan menjadi kenyataan."

"Oh ya.." Naruto meletakan sebuah kotak berukuran sedang di depan pintu rumah Hinata, tersenyum tipis. "Walaupun kamu tidak ada disana, aku telah menitipkan sesuatu untukmu. Ada hadiah ulang tahun dariku untukmu, Hinata. Dilihat ya.." setelah itu, Naruto melangkah pergi dari rumah Hinata. Penuh harap Naruto meminta agar suatu hari hubungannya dengan Hinata dapat kembali seperti dulu. Karena jika terus seperti ini.. Kebahagiaannya akan berkurang setengah.

Hening, tidak ada suara lagi di depan, Hinata bangkit dari duduknya dan membuka pintunya. Hinata melihat kebawah dan menemukan hadiah yang Naruto katakan barusan. Mengambil kotak tersebut, dan membaca surat kecil yang terselip antara bungkusan kado itu bertuliskan...

Hinata.. Maaf ya di hari istimewamu aku tidak dapat menepati janjiku. Aku memang tidak pantas dikatakan lelaki sejati jika seperti ini.. Tetapi jika kau terus seperti ini, aku yang akan menderita..

Oh ya, apa kau ingat saat pertama kali kita berjumpa? Kulihat akhir-akhir ini kau jarang sekali melukis, mungkin karena musim dingin ya. Oleh sebab itu kuberikan hadiah ini untukmu, walaupun tidak seberapa, tapi kurahap kau senang menerimanya..

Aku senang kita dipertemukan..

-Naruto-

Dengan segera Hinata membuka bungkusan kado itu dengan cepat. Melihat objek yang diberikan oleh Naruto, sebuah buku sketsa dan peralatan lukisnya, Hinata suka sekali dengan warnanya. Hinata menggenggam hadiah itu dengan erat, air matanya kembali mengalir. Perasaannya yang membeku, kini dapat dicairkan dengan kehangatan Naruto.

"Aku.. Aku harus menemui Naruto-kun." Hinata memantapkan tekadnya. Menggenggam hadiah pemberian Naruto, Hinata berlari keluar rumahnya. Hinata berharap, ia dapat bertemu dengan Naruto karena jika bertemu kembali di sekolah masih membutuhkan waktu yang panjang. Hinata tidak mau itu, ia ingin segera menyelesaikan persoalannya sekarang juga. Hinata yang membuat semuanya seperti ini, Hinata juga yang harus mengakhirinya!

Seperti disaat itu, pertemuan di antara keduanya terhubungan dalam sebuah roda takdir.

"Naruto-kun!" segera setelah melihat Naruto di depannya, Hinata berteriak. Naruto yang mendengar teriakkan dari Hinata langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Disana, ia telah melihat Hinata yang sedang mengatur nafas karena berlari untuk mencari dirinya.

"Sudah kuterima!" sembari menunjukkan hadiah pemberian Naruto, Hinata tersenyum. "Terima kasih." serunya dan memeluk Naruto. Perasaan yang selama ini terkubur, akhirnya terungkap juga melalui kata-katanya.

"Maafkan atas keegoisanku. Aku senang karena Naruto-kun hadir dalam hidupku."

Hening..

"Aduh.. Bagaimana ini.." dalam hati Naruto berpikir, ia harus bertindak. Tapi Hinata memeluknya! Tentu saja Naruto menjadi salah tingkah dan bingung harus berbuat apa.

"Tapi aku lupa hadiah natal untuk Naruto-kun." mendengar Hinata berbicara, Naruto tersadar dari lamunannya. Sekarang, rasa malunya telah menghilang dan berubah menjadi perasaan yang menyenangkan. Perasaan Hinata, telah tersampaikan pada Naruto.

"Em.. Pelukan darimu.. Sudah cukup menjadi hadiah natal untukku kok." Naruto berbicara dengan suara pelan dan juga bergetar. Seorang laki-laki jika berbicara hal itu dengan suara keras, pasti akan membuatnya merasa malu.

"E.. Eh?" malu, bukan hanya Naruto saja yang malu. Setelah menyadari keadaannya yang memeluk Naruto, Hinata melepaskan pelukannya. Bisa-bisanya seorang Hinata memeluk laki-laki sampai seperti itu, Hinata sangat malu!

Dengan tangannya, Naruto kembali mendekap Hinata. Mendekapnya lebih dalam, memeluknya dengan kedua tangannya yang besar. Menenggelamkan tubuh mungil Hinata ke dalam pelukkannya. Ingin lebih lama, ingin lebih lama merasakan kehangatan yang diberikan oleh gadis dihadapannya.

"Aku ingin seperti ini lebih lama lagi.. Boleh.. Tidak?" dengan suara pelan, Naruto membisikkan kata-kata tersebut di samping telinga Hinata. Menyandarkan kepalanya di pundak kecil Hinata. Tanpa persetujuan dari Hinata pun, Naruto sudah melakukannya.

Tidak dapat berkata apa-apa.. Hinata malu.. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Dipeluk orang yang disukainya, sudah pasti wajah Hinata memerah. Untung saja Naruto tidak dapat melihatnya, karena untuk saat ini.. Hinata belum siap untuk mengatakan bahwa ia menyukai Naruto..

Kehangatan di tahun baru, hadiah yang telah diterima dengan perasaan penuh akan kasih sayang. Semoga hari-hari berikutnya yang dilalui akan penuh dengan kehangatan seperti hari ini.

"Terima kasih Hinata."

To Be Continue

(Ch. 14 end)

Ya~ Akhirnya update juga. Karena sekarang sudah mulai banyak chapternya, jadi aku tidak dapat banyak berkata-kata lagi. Jadi langsung balas review saja ya..

::

virgo24, ShadouRyu-kun : ya~ arigatou..

rzkamalia1102 : wah~ baguslah kalau begitu. Diriku jadi senang jika kau puas~ Haha, iya.. Arigatou~

Yuuna Emiko : jika mau, belilah di toko #plak iya, arigatou~

ryansaputra014 : ini udah, arigatou~

anna. fitry : iya, soalnya di duta banyak kegiatan~ Semoga saja NaruHina makin manis(?) Ya kisahnya~ Arigatou~

bala-san dewa hikikomori : jangan mudah menyerah~ 'kan harus dicoba terus~ Ada kok, tapi hanya sebentar~ #plak

::

Ya, segitu saja~ Sampai jumpa di chapter mendatang~

Spesial Thanks To :

virgo24, ShadouRyu-kun, rzkamalia1102, Yuuna Emiko, ryansaputra014, anna. fitry, bala-san dewa hikikomori

Kaoru-Kagami Yoshida

My Baby Blue : Second Life Ch. 14

08 Februari 2015