A/N : And here's the finale guys. I hope you enjoy and sorry for my sporadic typos hehe

I own nothing, unless Ballard, Rhaegar and Rhaella and Niklaus.

Chapter Fourteen - The Finale

London, England.

Malfoy Manor

Rhaella berjalan mondar-mandir penuh gelisah di depan suite milik ayah mereka sementara Scorpius dan Ballard hanya menyandar dengan tenang di salah satu dindingnya. Sudah lama sekali Doc berada di dalam sana bersama Lily untuk memberikan pertolongan pada Draco Malfoy. Mereka memutuskan untuk tak membawa ayah mereka ke St,Mungo karena keluarga mereka sudah sangat menjadi sorotan beberapa bulan ke belakang ini. Dari kecelakaan Rhaella dan Ballard hingga Rose dan Scorpius yang mengalami luka tembak. Memang tak ada yang tahu alasan para keluarga Malfoy itu dirawat disana karena Doc berjanji merahasiakan semua catatan medis mereka, tapi langkah ini diambil untuk kebaikan semua orang dan Scorpius yakin Draco tak akan mempertanyakan keputusannya. Jadilah Doc membawa semua peralatannya ke manor dan membuat suite ayah mereka berubah menjadi seperti salah satu kamar perawatan di St,Mungo.

Derap langkah dari high heels terdengar dan Rose terlihat tengah berjalan ke arah mereka. Wanita itu langsung ber-Apparate dari lokasi pertemuannya dengan salah satu petinggi kelompok kriminal jalanan itu saat mendengar bahwa ayah mertuanya collapse selepas resepsi Rhaella dan Ballard tadi. Rose langsung mengambil tempat di samping suaminy. Ia hanya diam lalu ikut bersandar di dinding tepat di sisi Scorpius. Rose menggenggam tangan suaminya itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Scorp hanya menghela napas lalu semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Tak hanya Rose yang baru saja bergabung dengan mereka, tapi juga Rhaegar yang terdengar setengah berlari di koridor suite itu. "Bagaimana keadaan Dad?" tanyanya tanpa memedulikan napasnya yang masih terengah.

Ballard menggeleng. "Doc dan Lily belum keluar dari dalam sana sedari tadi."

Rhaegar melonggarkan dasinya sambil menghela napas panjang. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rhaegar pada saudara-saudaranya.

Ia baru meninggalkan manor beberapa jam untuk sedikit bersenang-senang dan tetiba saja kabar bahwa ayahnya collapse sudah terdengar begitu saja. Dia semakin yakin bahwa keluarga ini dikutuk dan butuh bantuan seorang pendeta untuk melakukan exorcism. "Jangan konyol, Rhaegar, Tak ada kutukan yang menimpa keluarga kita," ujar Scorpius begitu saja yang menjawab pikiran-pikiran bodoh adik lelakinya.

"Get the fuck out off my mind," tandas Rhaegar yang membuat Ballard dan Rose tersenyum dan sedikit dapat merelaksasikan suasana yang tegang di antara mereka.

"Sempat-sempatnya kau membaca pikiranku," tambah Rhaegar lagi.

Sementara Scorp mengedik. "Pikiranmu seperti berteriak di ruangan ini dan perrcayalah padaku hal itu juga menggangguku," balas Scorp.

Adik bungsunya itu mendengus tepat saat Doc keluar dari ruangan itu. Mereka semua langsung mengerubuti Doc seperi semut yang tetiba saja menemukan setumpuk gula di hadapannya. "Bagaimana kabar ayah kami, Doc?" tanya Rhaella dengan sangat khawatir dan Ballard sudah sigap berada di sisinya.

"Fungsi hatinya menurun dengan drastis. Aku tak tahu apa yang terjadi, tubuhnya seakan menyerah begitu saja dengan sel-sel cancer itu. Organ tubuhnya yang lain juga ikut melemah, namun ayah kalian sepenuhnya sadar. Ia tak berada dalam keadaan koma," jelas Doc.

Pria yang berusia sama dengan ayah mereka itu menyeka keringat di keningnya yang merupakan hasil kerja keras menolong ayahnya tadi. "Kalian dapat melihatnya secara bergantian, aku membuatnya tidur karena hanya istirahat yang akan membantunya dalam proses pemulihan. Aku akan meninggalkan manor, tapi Healer Potter akan berada disini hingga pagi untuk memantaunya," jelas Doc.

Pria itu menepuk pundak Rhaegar lalu berlalu dengan tas di tangannya. Mereka saling bertukar pandang lalu pintu suite itu kembali terbuka dengan Lily yang keluar dari sana yang sudah mengganti gaun malamnya dengan blouse dan jeans. "Kalian dapat melihatnya secara bergantian," ujar Lily.

Rose dan Scorpius yang masuk melihat untuk pertama kalinya lalu bergantian dengan saudara-saudaranya yang lain.

000

Menuruti instruksi dari Doc yang kini memiliki Healer Potter sebagai perwakilannya, para Malfoy sudah kembali ke suite-nya masing-masing. Meski mengalami penurunan kondisi yang secara signifikan, tapi Doc mengatakan bahwa keadaan Draco Malfoy masih dalam keadaan stabil. Semua anaknya sudah meninggalkan ruangan itu kecuali Rhaegar. Pria dengan julukan Bloody Blonde itu masih bertahan disana meski waktu sudah menunjukkan lebih dari tengah malam. Ia tak berani masuk ke suite ayahnya, namun juga tak mau beranjak dari sana. Matanya tampak berat, tapi ia sama sekali enggan angkat kaki dari tempatnya. Dia tersenyum miris meski tak ada satupun orang yang memperhatikannya. Baru saja Scorpius terlepas dari maut, kini kondisi ayahnya mengalami penurunan yang sangat drastis. Apakah cobaan dalam keluarganya belum juga berakhir? Apakah harus ada salah satu dari mereka yang meregang nyawa terlebih dahulu barulah keluarga ini mendapat kedamaian. Meski Scorpius menganggapnya konyol dan sebenarnya ia juga menganggap dirinya konyol karena berpikir bahwa keluarga mereka dikutuk, tapi ia tak dapat menemukan alasan logis lagi di balik semua kejadian yang menimpa keluarganya. Scorpius selalu mengatakan tak ada satupun yang dapat mengutuk keluarga mereka karena merekalah yang seharusnya merapalkan kutukan. Dan kondisi ayahnya adalah murni karena kesehatannya yang terganggu dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Sementara semua kejadian yang menimpa Rhaella hingga Scorpius kemarin karena mereka adalah Malfoy. Mereka selalu hidup dalam bahaya, namun mereka akan selalu dapat melewatinya.

Pintu suite ayahnya terbuka dan seorang wanita berambut hitam gelap itu tampak terkejut mendapati Rhaegar yang masih berada di ruang tengah dari lantai ini. Wanita yang terlihat begitu kasual yang hanya menggunakan celana jeans dan blouse-nya itu berjalan mendekati Rhaegar. Ia melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya lalu menatap Rhaegar dengan tatapan bertanya. "Apa yang kau lakukan? Sekarang sudah pukul 2 pagi," ujar Lily.

Rhaegar bangkit dari salah satu sofa di ruangan itu lalu merapihkan jas hitam yang masih ia kenakan sedari resepsi pernikahan Rhaella dan Ballard tadi. "Aku hanya tak ingin kembali ke suite-ku," jawab Rhaegar yang kini sudah berdiri menjulang di hadapannya.

Lily tak tahu harus menjawab apa atas ucapan yang tadi ia lontarkan. Apakah ia harus mengatakan bahwa keadaan ayahnya sudah stabil dan ia seharusnya kembali ke kamarnya karena hari sudah sangat larut. Tetapi, niat itu ia urungkan karena merasa tak memiliki hak untuk berkata seperti itu pada pria di hadapannya ini. "Keadaan ayahmu sudah stabil," hanya kata-kata itu yang akhirnya terlontar dari mulutnya untuk memecahkan keheningan di antara mereka.

Pria itu mengangguk namun tak bergerak dari tempatnya. "Aku akan mengawasinya malam ini," tambah Lily lagi karena tak mendapat reaksi berarti berarti dari Rhaegar.

"Aku tahu," ujar Rhaegar pada akhirnya, tapi Lily tetap menatapnya seakan ia seharusnya tak berada disini karena tak ada lagi yang perlu ia cemaskan.

"Tapi aku tetap tak ingin kembali ke suite-ku. Lagipula ini rumahku, aku bebas berada dimana saja," tambah Rhaegar lagi.

Mendengar apa yang menjadi reaksi Rhaegar membuat Lily menghela napasnya. Rhaegar Malfoy ternyata sama arogan dengan para Malfoy lainya. Bahkan arogansinya terdengar satu tingkat lebih menyebalkan dibanding dengan anggota lain dari keluarga ini. Lily hanya mengedikkan bahunya merasa tak tahu lagi harus berkata apa dan dia melangkah untuk meninggalkan lorong ini menuju dapur dari manor ini. "Tunggu."

Satu kata dari Rhaegar menghentikan langkahnya. Wanita itu membalikkan tubuhnya untuk kembali menatap Rhaegar. "Kau mau kemana?" tanya pria itu.

"Ke dapur membuat kopi. Aku harus terjaga malam ini untuk memantau keadaan ayahmu dan belajar untuk ujian residensiku," balas Lily.

"Kau tunggulah disini dan aku akan membawa kopi untuk dirimu dan diriku.

Lily hanya menatap pongo saat pria itu meninggalkannya menuju dapur lalu tak berapa lama kemudian ia kembali dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi dan beberapa kudapan. Seorang peri rumah tampak mengikutinya dengan tatapan cemas karena tuannya membuat dan membawa makanannya sendiri. "Biar aku yang bawakan, Master," ujar Magnus pada Rhaegar yang sudah kembali berdiri di hadapan Lily.

Rhaegar menggeleng pada Magnus. "Kembali ke tempatmu, Magnus," ujar Rhaegar yang dijawab dengan gelengan dari Magnus.

"Jika kau ingin sesuatu kau bisa memanggilku, Master Rhaegar," jawab Magnus yang masih bersikeras menawarkan bantuannya.

Dan kali ini Rhaegar dengan mantap menggeleng. Masih dengan nampan di tangannya yang merupakam hal langka bahkan tak pernah dilakukannya, Rhaegar menatap Magnus dengan sangat serius. "Ini sudah larut, Magnus. Kembalilah ke tempatmu. Percayalah aku dapat mengakomodasi diriku dan Healer Potter sendiri. Bukan begitu, Healer Potter?" ujar Rhaegar.

Hal ini langsung disambut dengan anggukan oleh Lily. "Tentu, Magnus. Beristirahatlah," tambah Lily.

Peri rumah yang mengabdi berpuluh tahun di keluarga ini akhirnya mengangguk dan menyerah akan permintaan dari Master dan teman keluarga ini. "Baiklah. Tetapi, jika kau mengingkan sesuatu aku selalu siap membantu," ujar Magnus.

"Selamart malam Master Rhaegar dan Miss Potter," tambah Magnus lagi.

Dalam satu bunyi 'pop' peri rumah itu menghilang dari hadapan mereka. Lily menatap tempat menghilangnya Magnus lalu kembali pada Rhaegar dan kemudian tersenyum. "Kenapa?" tanya Rhaegar yang terdengar begitu defensive dan Lily yang menyadari hal ini langsung menggeleng.

"Aku tak pernah memiliki peri rumah seumur hidupku dan jika dilihat dari dekat ternyata mereka sangat menggemaskan," balas Lily dengan cepat yang takut jika Rhaegar merasa tersinggung dengan senyum serta kekehan darinya.

Seperti mendengar sesuatu yang menyenangkan, pria itu tersenyum masih dengan nampan berisi kopi yang masih mengepul dan beberapa macam kudapan itu. Lily menatap hal itu lalu dengn cepat mengambil nampan itu dari tangan Rhaegar dan membawanya ke sofa yang sedari tadi di tempati oleh Rhaegar. Pria itu masih berdiri di tempatnya sambil mengamati Lily yang terlihat sangat luwes meletakkan nampan itu di meja sambil menuangkan kopi hitam itu ke masing-masing cangkir. "Kemarilah. Kopimu sudah siap," ujar Lily lalu berjalan ke arahnya dengan secangkir kopi hitam yang sudah berada di tangannya.

Kening Rhaegar mengerut. "Kau mau kemana?" tanya Rhaegar yang bingung melihat gerak-gerik dari healer kepercayaan Doc ini.

"Aku akan berada di ruang tengah suite ayahmu sambil belajar untuk ujian residensiku beberapa hari lagi seperti yang sudah aku katakan padamu tadi," jawab Lily.

Baru saja ia akan kembali masuk ke suite itu, Rhaegar membuka suaranya. "Tunggu, Lily. Apakah kau mau menemaniku disini?"

Lily tak dapat menghilangkan keterkejutannya. Hal langka terjadi lagi pada Rhaegar hari ini. Seumur hidup ia tak pernah meminta seseorang menemaninya terutama wanita karena mereka pasti akan langsung dan sukarela melemparkan tubuh kepadanya, tapi kali ini berbeda. Rhaegar sendiri yang meminta seorang Lily Potter untuk menemaninya. "Maaf?" tanya Lily yang berusaha memastikan apa yang baru saja diucapkan oleh Rhaegar tadi.

"Apakah kau bisa menemaniku disini? Aku tak akan menganggumu belajar untuk ujian residensimu," jelas Rhaegar lagi yang tetiba saja salah tingkah.

Damn it! Apa yang sebenarnya terjadi? Put yourself back together, Rhaegar! Umpatnya dalam hati.

Lily mengangguk dengan sangat ragu. "Baiklah."

"Apakah hal ini mengganggu pekerjaanmu untuk memantau ayahku seperti yang dikatakan Doc tadi?" kembali Rhaegar bertanya pada Lily.

Wanita itu menggeleng. "Aku dan Doc sudah memasang monitor yang terhubung dengan tubuh ayahmu dan jika terjadi sesuatu alat itu akan berbunyi. Bahkan jika cairan infus itu habis dan ada darah yang naik ke selangnya, alat itu akan mengatasinya sendiri secara sihir," jelas Lily.

Rhaegar mengangguk dan mereka kembali saling menatap dan dikuasai keheningan oleh keadaan ini. "Apakah kau masih mau kutemani?" tanya Lily yang berusaha keheningan.

"Tentu," balas Rhaegar.

Lalu secara sihir, tas yang dibawa Lily tadi terbang keluar dari suite itu kemudian mendarat di tangannya. "Baiklah," jawab Lily dengan sebuah atlas anatomy tubuh manusia yang sudah berada di tangannya.

000

Deru angin yang begitu kencang sempat menggetarkan rolling door dari kaca di suite ini. Scorpius meraba nakasnya dan merapalkan mantra ke pintu itu untuk memperkuatnya dengan sangat pelan agar tak menganggu Rose yang tertidur di pelukannya. Setelah yakin bahwa angin tak akan membuat pintu yang langsung menghubungkan patio dengan kamarnya, Scorp meletakkan kembali tongkat itu ke nakas lalu menatap langit-langit kamar mereka dengan hampa. Tangannya masih membelai lembut rambut Rose yang menutupi hampir seluruh dadanya. Tangannya mulai keram karena berat dari tubuh istrinya itu, tapi ia sama sekali tak mau menggeser tubuh Rose. Ia merasa nyaman dengan keadaan istrinya ini. Sedari tadi ia tak dapat memejamkan matanya sedikitpun. Ada banyak sekali hal yang mengganjal pikirannya, terutama kesehatan ayahnya. Dia mengkhawatirkan kesehatannya saat ini dan mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana ia sama sekali tak menyadari bahwa ada suatu hal yang berubah dari ayahnya? Bagaimana mungkin ia membiarkan ayahnya menanggung penyakitnya sendiri selama satu tahun ke belakang ini? Pria itu menghela napasnya lalu menunduk untuk mengecup puncak kepala dari istrinya ini.

Rose menggerakkan kepalanya lalu menengadah dan menemukan bahwa suaminya masih terjaga. Mata kelam wanita itu mengerjap dan melirik ke jam di sudut kamar ini. "Kau tak bisa tidur?" tanya Rose yang belum memindahkan posisi kepalanya.

Sama seperti Scorp, Rosabelle juga merasa sangat nyaman dengan posisi mereka sekarang meski ia tahu bahwa suaminya akan mengalami keram dahsyat di pagi hari. Rose masih menengadah lalu Scorp mengangguk untuk menjawabnya. "Ada apa?" tanya Rosabelle yang mengalungkan tangannya di leher Scorp dan semakin mengeratkan pelukan di antara mereka.

Scorp belum menjawabnya lalu Rose kembali menengadah kemudian sedikit bergerak untuk meletakkan kepalanya di lekuk leher suaminya. "Kau memikirkan ayahmu?" tanya Rose kembali yang langsung mendapatkan anggukan dari Scorpius.

"Semua akan baik-baik saja. Ayahmu akan melewati hal ini dengan baik seperti yang selalu kita lakukan," balas Rosabelle.

Bukan anggukan seperti dua jawaban yang ia dapatkan tadi, Scorpius justru menggeleng perlahan. "Beberapa kali aku sempat membaca pikirannya ketika ia lengah. Dad tampak menyerah dengan keadaannya," jawab Scorp yang kembali mengeratkan pelukan mereka.

Kening Rose mengerut karena tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Tidak mungkin hal itu terjadi. Nothing and no one can rid of The Malfoys. The Malfoys rid them off. Dan saat mendengar bahwa Draco Malfoy menyerah dengan keadaannya, hal itu benar-benar tak masuk akal pikiran siapapun. "Tak mungkin ia menyerah, Scorpius. Dia Malfoy, sama sepertimu bahkan sama sepertiku. Dia pasti akan membaik."

Kali ini Scorpius menggeleng dengan mantap. "Dia berpikir bahwa sudah saatnya ia menyerah dan meninggalkan dunia ini untuk dapat kembali bersama Mum."

Rose melepaskan pelukannya lalu duduk di samping suaminya dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak terlindung sehelai benangpun. Wanita itu menatap lekat iris kelabu milik Scorpius lalu mengenggam tangannya. Ia tahu bagaimana ayah mertuanya itu begitu mencintai ibu dari anak-ananknya, tapi ia tak menyangka bahwa ia akan menyerah dan memilih mati untuk dapat kembali bersama Hermione Malfoy. The Malfoys are loving too hard. Tak hanya Draco pada Hermione. Hal ini juga dapat dilihat dari Rhaella yang jatuh cinta terlalu dalam pada pada Ballard dan sebaliknya. Dan yang paling Rose rasakan adalah cinta yang diberikan Scorpius kepadanya. Scorp membawa genggaman tangan mereka ke pipinya lalu mencium tangan Rose. "Apakah kau dapat merelakan ayahmu jika ia memutuskan untuk menyerah?" tanya Rose.

Scorpius tak menjawabnya. Ia hanya mengedik tanpa menampakan satupun ekspresi di wajahnya. Pria itu menghela napasnya lalu akhirnya menunduk. "Aku tak dapat mencegah jika hal itu yang ia inginkan, Contessa."

Istrinya itu menatap Scorp lalu merangkak dan kembali memeluknya. "Kita dapat menghadapi semua ini bersama. Kau dan aku serta saudara-saudara kita."

Scorpius tersenyum sambil membelai punggung terbuka istrinya itu lalu melepaskanya dan mencium lembut bibir Rose itu. Tangan Scorp menyusuri setiap lekuk tubuh Rose dengan menyeringai. "You're a really good distraction, Contessa."

Rose menciumi dada suaminya itu lalu perlahan naik dan duduk di pangkuannya dan melumat perlahan bibir kemudian lari ke lehernya. Scorpius melenguh saat istrinya itu menggigit lembut dan sedikit menggerakan bokongnya. Baru saja Scorp akan membalas semua perbuatan Rose tadi, wanita itu melepaskan tautan diri mereka. Ia menggeleng sambil mengigit dan menjilat bibirnya. "Apa?" tanya Scorp yang masih memegang pinggang istrinya itu.

"Kita bisa bercinta sekarang untuk kesekian kalinya dalam malam ini atau kita bisa berpakaian dan keluar untuk menunggui ayahmu," ujar Rose yang membelai pipinya.

Scorpius menatapnya bingung. "Mungkin ragamu tengah fokus padaku saat ini, tapi tidak dengan pikiran dan perasaanmu. Aku tahu kau mengkhawatirkan ayahmu saat ini. Jadi, lebih baik kita menunggui dirinya."

"Kau tak apa aku tinggal untuk menunggui Dad?"

"Jangan bodoh. Aku mengatakan kita bukan hanya dirimu," balas Rose.

Scorpius menggeleng. "Kau butuh tidur, Contessa."

"Tidak, dickhead. Aku butuh kau dan kau butuh mendampinginya saat ini. Jadi, aku akan mendampinginya juga," jawab Rose.

Scorpius tersenyum. "Ini alasan mengapa aku jatuh cinta padamu, Rose."

Rose hanya mengedik dan tersenyum sambil menggunakan gaun malam dan jubahnya. Setelah Rose rasa sudah cukup pantas untuk keluar dari suite mereka, wanita itu memeluk Scor dari belakang ketika suaminya itu selesai memakai jubahnya. "Everything's gonna be fine," bisiknya.

Scorp mengangguk lalu menarik kedua tangan Rose yang berada di perutnya untuk mengeratkan pelukan mereka. "I know," balas Scorp.

"Great," jawab Rose yang kemudian mengecup pundak suaminya itu lalu melepaskan pelukan mereka dan keluar dari suite itu.

000

Manor terasa semakin sepi saat malam menjelang. Meski seperti itu, tak ada suara lolongan serigala dan jangkrik yang terdengar seperti latar-latar suara dan suasana di film-film horor muggle. Hanya suara gemericik hujan serta deru angin yang saling melengkapi yang terdengar di luar sana. Rose dan Scorpius berjalan ke suites ayahnya dalam diam lalu langkah mereka terhenti saat mendapati siapa yang sudah berada di ruang tengah tepat di depan suite ayah mereka. Rhaegar tampak membaca sebuah buku di hadapannya dengan harum kopi yang mengepul di meja sampingnya. Tepat di seberangnya, Lily Potter tampak sibuk dengan buku-buku tebal serta beberapa perkamen yang berserak di meja di hadapannya. Ia tampak tekun membaca sambil menggaris bawahi buku serta perkamen itu di lantai beralaskan karpet bulu tebal serta selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Pemandangan yang amat langka terjadi di manor, terutama bagian Rhaegar membaca buku dan meminum kopi di hampir pukul tiga pagi seperti ini. Scorp dan Rose yang langkahnya terhenti itu saling bertukar pandang lalu mengerutkan dahinya. "Apa yang kalian lakukan? Apakah Ruang Rekreasi Gryffindor pindah kesini?" tanya Rose.

Lily yang sadar akan hal ini langsung bangkit dari duduknya dan dengan cepat menjentikkan tongkatanya untuk membereskan semua buku dan perkamenya. "Aku minta maaf Rosabelle. Aku tak seharusnya belajar di saat bertugas seperti ini," ujar Lily yang tampak canggung sementara Rhaegar dengan santai menutup bukunya lalu membenarkan posisi duduknya di sofa bernuansa broken white dengan bantal-bantal empuk bewarna hijau emerald itu.

"Don't be silly, Lily. Apakah aku terlihat terganggu jika kau belajar saat ini?" ucap Rose.

Lily tak menjawabnya dan hanya menatap Rose sesaat kemudian kembali merasa canggung dan kembali menunduk. "Kau tak perlu takut, Healer Potter. Istriku tak marah, wajahnya memang seperti itu," jawab Scorp lalu menyeringai menatap Rose yang langsung mendengus.

Rasa lega tampak di wajah Lily saat Scorp mengalihkan perhatiannya kepada Rhaegar."Apa yang kau lakukan, Rhaegar? Dan apa yang merasuki otakmu? Kau membaca buku dan meminum kopi, Rhaegar Kraver?" tanya Scorpius tak percaya.

Adik bungsungnya itu hanya mengedik. "Aku tak dapat kembali ke suite-ku malam ini karena keadaan Dad. Dan aku hanya sedang bereksperimen hal baru dalam membaca buku dan meminum kopi seperti para Amerika," balas Rhaegar yang menekan kata Amerika sambil menatap Rose.

Healer keluarga itu menatap Rhaegar bingung dengan keningnya yang mengerut namun langsung ia netralisir seperti semula. "Aku kira kau menyukai kopi saat menawariku untuk membuatkannya," ujar Lily yang langsung membuat Rhaegar menelan ludahnya karena seperti tertangkap basah oleh kedua kakaknya.

Scorp menaikkan satu alisnya namun ia hanya diam dan membiarkan istrinya yang membuka suara. "Kau membuat kopi sendiri? Apakah kau yakin kau tidak keracunan kaviar saat resepsi Rhaella tadi," komentar Rose.

"Oh shut up, Rosabelle. Apa yang sebenarnya kalian lakukan berdua saat ini? Kalian tak akan menyelinap ke dapur lalu bercinta di atas kitchen island itu, bukan?" balas Rhaegar yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Satu kata lagi keluar untuk menghina kami dari mulutmu, aku tak akan segan mematahkan hidungmu dan menjambak sampai habis rambut pirangmu, Rhaegar Kraver," balas Rose.

Adiknya itu hanya terkekeh sambil menggeleng. "Easy, sister. I'm just kidding."

Rhaegar kembali menatap kakak lelakinya itu yang kembali serius dan kehilangan seringaiannya seperti saat ia menggoda istrinya. "Jadi, apa yang kau lakukan, brother?" tanyanya.

"Sama sepertimu, aku dan Rosabelle tak dapat tidur karena keadaan Dad," balas Scorpius.

Kakak beradik itu hanya bertukar pandang lalu si bungsu mengedik. "Ada apa empat sofa di ruangan ini. Buatlah dirimu senyaman saat kau berada di suite kalian," ujar Rhaegar sambil bergurau.

Scorpius dan Rosabelle masih berdiri di tempatnya ketika Rhaella serta Ballard berjalan ke arah mereka dengan menggunakan piyama dan jubah tidur juga. Rhaegar memperhatikan kedua sauadaranya itu lalu menatap bergantian ke kedua pasangan itu. Begitu juga dengan Rhaella yang sedikit terkejut dengan keberadaan saudara-saudaranya yang lain itu dan juga kebaeradaan Lily di antara mereka. "Apakah kau dan Ballard tak nyenyak tidur karena mengkhawatirkan keadaan Dad?"

Seakan dibaca pikirannya oleh Rhaegar, ia mengangguk. Adiknya itu membuka tangan seperti menunggu kakaknya itu untuk memeluknya. "Welcome to the club," balas Rhaegar yang membuat Ballard serta Rhaella tersenyum.

000

Pagi menjelang saat Rose terbangun di pelukan Scorpius di sofa yang tepat menghadap perapian itu. Dinginnya kota ini membuat ia tetap bergumul di bawah selimut serta dekapan hangat suaminya. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Rhaella serta Ballard di sofa sisi kirinya yang masih tertidur dengan Rhaella yang tampak dengan sangat nyaman memeluk perut suaminya itu. Sementara Rhaegar juga masih memejamkan matanya dengan sangat rapat. Ia masih mengenakan kemeja putih saat pernikahan Rhaella kemarin minus jas hitamnya yang sudah tergeletak nyaman di lengan sofanya. Dan terakhir mata Rose mencari sosok Lily yang sudah tak berada di antara mereka seperti tadi malam.

Tepat setelah Rhaella dan Ballard bergabung dengan mereka di ruang tengah itu, Magnus datang menyambagi dengan membawa berbagai macam kudapan dan minuman pada mereka untuk terjaga hingga pagi. Tetapi, satu per satu dari mereka menyerah saat kantuk menyerang di kala fajar. Pintu suite Draco Malfoy terbukan dengan Lily yang keluar dari sana. Dia membawa sebuah cawan berisi jarum suntik dan alat kesehatan lainnya. Dia membuang sampah itu ke tempatnya sebelum tatapan mereka bertemu. "Selamat pagi, Rose," sapa Lily.

Rose hanya mengangguk untuk menjawabnya lalu menjetikkan tongkatnya untuk membuka gorden ruangan ini. Hari masih begitu gelap meski waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Suara rintik hujan juga masih santer terdengar dari luar sana. "Bagaimana keadaannya?" tanya Rosabelle yang mengacu pada keadaan ayah mertuanya.

"Dia stabil dan sudah sadar sejak beberapa saat yang lalu," jawab Lily yang kembali berlutut di meja itu untuk membereskan buku-bukunya.

Mendengar jawaban dari Lily tadi, Rose mengangguk. Perlahan ia melepaskan pelukan dari Scorpius di perutnya lalu merapihkan jubah satin hitamnya. "Aku tak akan kembali ke manor hari ini. Doc akan menggantikanku. Ia akan datang sebentar lagi," ujar Lily yang lagi-lagi hanya mendapat anggukan dari Rosabelle.

"Kau sudah bangun?"tanya Rose pada suaminya yang sudah mengerjap-ngerjapkan matanya lalu mengangguk.

Jika mereka tengah di kamar pribadinya, pastilah sekarang Scorp tengah kembali menarik Rose ke pelukannya dan memeluk istrinya itu hingga mereka benar-benar harus meninggalkan kamar itu. Tetapi, kali ini berbeda. Mereka tengah berada di ruangan yang dipenuhi saudara-saudara mereka dan Scorp tak mau mengambil resiko untuk dikutuk Rose sepagi ini. "Ayahmu sudah bangun," tambah Rose yang membuat Scorpius semangat di pagi hari sedingin ini.

Baru saja Lily bangkit dari karpet itu, matanya teralihkan pada kakak lelaki dan sahabatnya yang sudah berdiri di dekat ruangan ini. "Lily," ujar Albus terkejut.

"Albus, kau datang kesini pagi sekali," balas Lily yang langsung berpamitan pada yang lainnya untuk bekemas meninggalkan manor ini.

"Tinggalah untuk sarapan," ujar Rose.

Lily hanya tersenyum lalu menggeleng untuk menolaknya dengan sopan. "Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan pagi ini. Lagipula Doc akan segera datang. Aku permisi."

Ponsel sihiri Lily berbunyi dan keningnya sedikit mengerut karena tak mengenali nomor yang tertera di layarnya. "Lily Potter," ujarnya.

Raut wajahnya seketika berubah dan ia mengangguk pada suara dari seberang sana. Dengan cepat ia menutup sambungan itu dan berjalan ke arah Albus. "Ada masalah?" tanya kakaknya itu.

Lily menggeleng. "Aku pergi sekarang. Bye, Albus."

"Bye, Lil."

Ketika Lily sudah menghilang dari pandangannya, tatapan Albus beralih pada Rhaella yang masih meletakkan kepalanya dengan begitu nyaman di paha pria yang sudah sah ia panggil suami itu. Sementara itu Ballard baru saja membuka matanya dan sedang beradaptasi dengan apa yang terjadi di ruangan. Terburu-buru Albus membuang wajahnya dari pemandangan pagi ini dan Niklaus sadar betul apa yang tengah dialami oleh sahabatnya itu. "I'm sorry," bisik Niklaus.

"Shut up, Nik."

Scorpius bangkit dari sofa itu sambil mengikat jubahnya lalu berjalan ke arah mereka."Apakah kalian mengadakan pyjama's party dan kami tak diundang, mate? Kau keterlaluan," ujar Niklaus yang sudah tampak sangat rapih di pagi buta seperti ini.

Pertanyaan konyol yang enggan dijawab Scorp tapi berhasil membuatnya terkekeh. "Bagaimana keadaan ayahmu?" tanya Albus kali ini.

"Adikmu mengatakan bahwa keadaannya sudah stabil."

Kedua sahabatnya saling mengangguk. "Apa yang kalian lakukan di manor sepagi ini?" tanya Scorp pada akhirnya.

Albus bertukar pandang pada Niklaus sebelum menjawabnya. "Ada masalah di Essex. Ada gang war disana yang salah satu pihaknya mengatasnamakan The Sociaty. Beberapa pengawal kita terbunuh dan dua Captain kita luka parah. Hal yang paling penting adalah kejadian ini terendus oleh Auror dan kakakku sendiri yang memimpin penyelidikan," jelas Albus.

"James Potter maksudmu?" tanya Rosabelle yang belum bergerak dari sofa itu.

"The one and only, Rosabelle," jawab Albus.

Ballard yang akhirnya bergabung dengan mereka ikut menghela napas. "Kalian langsung saja ke ruang belajar. Kami akan menyusul setelah melihat kondisi ayah kami," balas Scorp yang mewakili istri dan kedua saudara lelakinya.

Albus dan Niklaus mengangguk lalu berjalan menuju ruang belajar mereka. "Shit! Apalagi ini," umpat Ballard yang mendapat kedikan bahu oleh Scorp.

000

Sementara Scorpius dan Rhaegar turun langsung dalam menangani masalah di Essex ini, Ballard sengaja tinggal di manor sesuai rencana untuk selalu bersama ayah mereka bersama Rhaella. Selama ayahnya mereka sakit dan berada di manor, salah satu dari anak-anaknya harus selalu bersamanya. Seperti pagi ini, Ballard dan Rhaella akan sarapan bersama di suite Draco Malfoy ini. Sambil menikmati matahari yang terkesan malu-malu keluar dari sarangnya, Ballard dan Draco tengah menikmati tehnya. Tak ada tubuh yang lemah dan terbaring di ranjang, Draco sudah terlihat rapih dengan kemeja biru mudanya yang juga dilengkapi dengan jaket berwarna biru tua. Mereka duduk di patio yang sudah di sihir menjadi hangat meski suhu di luar sana sangat menggigit. Rhaella sendiri masih berada di dapur untuk memasak sendiri menu untuk ayahnya karena ia harus memastikan sendiri makanan apa yang boleh dan tidak serta bagus untuk kesehatan lever ayahnya.

Ballard menyilangkan kakinya sambil membaca koran pagi ini. Berita tentang gang war itu sudah menjadi headline pagi hari ini dan ia berharap agar Rhaegar serta Scorpius dapat segera menyelesaikannya. Tatapan Ballard beralih pada Paxan-nya yang terlihat memejamkan mata dan meskipun ia tak dapat membaca pikiran tapi ia tahu bahwa pria yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri ini tengah menahan sakit. "Kau baik-baik saja?" tanya Ballard

Draco membuka matanya lalu tersernyum kemudian mengagguk. "Tentu."

Ballard tak mau beragumen meski ia tahu bahwa Paxan tengah berbohong. Ia lebih memilih untuk menyesap tehnya dan kembali membaca koran pagi itu. Perlahan Draco menutup koran pagi yang juga tengah ia baca. "Kau ingat saat aku memberi nama Liam untukmu?" tanya Draco yang tetiba mengangkat topik pembicaran ini.

Kening Ballard mengerut saat mendengarnya. Ia bingung dengan perubahan topik secara mendadak ini, namun ia mengangguk. "Tentu aku ingat."

Ketika Draco menemukannya di salah satu lorong dingin dan kotor dengan luka-luka lebam selepas bertarung itu, Ballard tak menjawab sama sekali tentang siapa namanya. Ia hanya mengatakan bahwa namanya Ballard karena setahunya semau orang memanggil nama keluarganya seperti itu. Setelah Draco membawanya ke manor, nama Liam-lah yang diberikan oleh pria yang ia panggil Paxan itu. "Kau tahu mengapa aku memberi nama Liam padamu?" tanya Draco yang dijawab dengan gelengan oleh Ballard karena ia juga tak pernah bertanya akan hal ini.

"Aku tahu kau berasal Irlandia saat pertama kali bertemu denganmu dan saat kau katakan bahwa kau tak memiliki nama depan, nama Liam adalah yang pertama kali terlintas di kepalaku," ujar Draco sambil mengeratkan jaketnya.

Sadar bahwa suhu perlahan menurun karena mantra yang dirapalkan juga perlahan memudar, Ballard kembali menjetikkan tongkat dan suhu kembali menghangat. "Aku yakin kau akan loyal kepadaku meski aku belum lama mengenalmu dan nama Liam sangaat cocok denganmu. Kau tahu apa arti namamu?" tanya Draco yang kembali dijawab dengan gelengan oleh Ballard.

"Liam memiliki arti pelindung. The Protector dalam bahasa Irlandia kuno. Aku tahu kau akan melindungi dan keluarga ini serta kedua adikmu dan istrimu begitu juga Rosabelle. Aku mempercayakan mereka kepadamu, Liam," tambah Draco dengan tersenyum.

Mata Ballard seakan panas dan air matanya dapat tumpah sewaktu-waktu jika ia tak menahannya. "Paxan," panggilnya.

Draco masih tersenyum lalu menggeleng. "Kau tahu bahwa Hermione sangat menyayangimu, bukan? Saat kau akan kupindahkan ke Novosibirks dia kesal kepadaku dan bertanya mengapa meski dirimu seperti kau masih di bawah umur dan tak dapat menjaga dirimu sendiri. Aku dan Hermione sangat mencintaimu, Liam."

Dan air mata Liam Ballard tak dapat terbedung lalu menetes begitu saja. "Kau mungkin bukan anak kandung kami yang lahir langsung dari rahim Hermione, tapi kau anak kandung kami yang lahir dari hatiku dan Hermione. Maybe Scorpius is our first born, but you're our first son, Liam. Take care our family with your life. I'll still count on you, son," akhirnya Draco mengakhiri perkataanya.

Tepat di saat yang bersamaan Rhaella masuk ke suite itu dan berjalan ke patio dimana ayah serta suaminya berada. "Breakfast is ready. Maaf jika membuat kalian menunggu lama," ujar Rhaella dengan ceria.

Liam Ballard langsung menyeka air matanya dan bangkit dari kursinya. Hal ini membuat Rhaella mengerutkan keningnya. "Ada apa?"

"Aku harus ke tolilet sebentar dan secepatnya kembali kesini."

Rhaella hanya mengangguk melihat punggung suaminya yang menghilang ke dalam suite itu.

000

Rasa penat menyelubungi Rhaegar hari ini. Sejak pagi ia sudah disibukkan dengan masalah gang war yang terjadi di Essex yang dengan sangat kurang beruntungnya melibatkan para Auror. Meski kini Scorp dan dirinya sudah menyelesaikan semua masalahnya, tapi masih ada hal yang mengganjal malamnya. Pertama masalah di club malam miliknya dan kedua adalah masalah kesehatan dari ayahnya. Setiap hari sejak ia mengetahui bahwa ayahnya mengidap lever cancer, dia selalu merutuki dirinya yang seakan tak pernah peduli apa yang tengah terjadi pada ayahnya itu. Ia sibuk dengan segala urusannya. Ia sibuk berpesta sementara ayahnya perlahan sedang meregang nyawa. Dan malam ini, setelah masalah di Essex itu berakhir ia berdiri di depan suite ayahnya. Rasa ragu apakah ia akan mengganggu istirahat ayahnya membuat ia berhenti dan tak berani mengetuk pintu ganda bewarna hijau emerald itu.

Namun keraguan itu terjawab karena secara sihir pintu itu terbuka dan suara ayahnya terdengar dari arah kamarnya. "Masuklah, kakimu akan lelah jika terus berdiri disana, Rhaegar," ujar Draco Malfoy dari ranjangnya.

Rhaegar masuk ke suite itu dan langsung menuju kamar ayahnya. Ayahnya terlihat sedang membaca buku dengan penerangan seadanya dan kacamata yang membingkai wajahnya. Damn it! Ia terlihat sangat mirip dengan Scorpius sekarang.

"Apakah masalah di Essex sudah selesai?" tanya ayahnya lalu menutup buku yang tengah berada di pangkuannya.

Rhaegar mengangguk dari tempatnya. "Lalu urusan di club malammu?" tanya ayahnya lagi.

Kali ini ia mengedik. "Dalam proses penyelesaian," jawab Rhegar.

"Kau mau berdiri disana sampai kapan? Kemarilah," ujar ayahnya lagi.

Rhaegar berjalan ke arah ranjang ayahnya lalu duduk di sisinya. "Bagaimana kabarmu, oldman?" kali ini giliran Rhaegar yang bertanya.

"Never been better," jawab ayahnya.

Suasana tetiba saja hening. Sejujurnya Rhaegar tak pernah memiliki percakapan panjang dengan ayahnya kecuali ia dalam masalah dan sedang membicarakan pekerjaan. Tak seperti Rhaella yang selalu menemukan cara untuk dekat ayahnya, Rhaegar tak pernah melakukan hal itu. Walaupun seperti itu, ia tahu kasih sayang ayahnya tetaplah sama pada ia, Scorpius, Rhaella bahkan kepada Ballard. "Jika aku telah tiada nanti, kau harus ingat untuk meredam amarahmu dan tak selalu terabawa emosi dalam mengambil semua keputusan. Aku tak mau keputusan dan tindakanmu berujung pada petaka pada dirimu sendiri, Rhaegar Kraver," ujar ayahnya.

"Kau tak perlu mengatakan hal ini, Dad. Kau tak akan mati dalam waktu dekat. Aku tak mau kau berbicara seperti itu," balas Rhaegar dengan cepat.

Draco Malfoy tersenyum. "Baiklah. Anggap saja aku tengah menasihatimu. Kau mengunjungiku di kamar seperti ini adalah hal langka, bukan? Jadi, dengarkan saja apa yang akan dikatakan oleh oldman-mu ini," jawab Draco.

Rhaegar tak menjawabnya dan membiarkan Dad-nya itu kembali membuka suara. "Aku tahu kau sudah dewasa, tapi tak ada salahnya untuk mendengarkan kakak-kakakmu. Scorpius, Ballard, Rose, serta Rhaella. Kembalilah pada mereka jika kau memiliki masalah. Remember family comes first, son."

Bungsu keluarga Malfoy itu menelan ludahnya ketika mendengar apa yang baru saja terlontar dari mulut ayahnya. Perasaanya bercampur aduk dan ia tak tahu harus menjawab apa. Rasanya seakan disiram oleh air es yang membekukan lidahnya. "Son," panggil ayahnya.

"Mengapa kau berbicara seperti ini? Mengapa kau berbicara seakan kau sedang berpamitan padaku dan akan pergi meninggalkanku selamanya, Dad?"

Kembali Draco Malfoy tersenyum. "Kita memang seorang penyihir, Rhaegar, tapi kita bukan Tuhan. Kita tak tahu kapan akhir dari usia ini. Aku tak mau pergi dari dunia ini tanpa berpamitan padamu. Tanpa mengatakan bahwa aku mencintaimu, son."

Dan kali ini Rhaegar benar-benar sudah tak sanggup menjawabnya. Bibirnya kelu dan hanya ada air mata yang dengan bersemangat ingin jatuh dari pelupuk matanya. "Kembalilah ke suite-mu. Beristirahatlah. Aku baik-baik saja," tambah ayahya yang kembali membuka buku yang tadi ia baca.

Seakan tahu betul apa yang diinginkan oleh ayahnya, Rhaegar bangkit dari sisi ranjangnya itu dan bersiap untuk meningglkan suite ini. "Jangan berjaga di depan suite-ku lagi malam ini. Katakan hal ini pada kakak-kakakmu juga," ujar Draco tanpa melepaskan tatapannya dari buku yang tengah ia baca.

Rhaegar tersenyum mendengarnya. Bukan Draco Malfoy namanya jika tak tahu apa yang dilakukan anak-anaknya. Baru saja Rhaegar berada di ambang pintu kamar itu, ayahnya kembali membuka suara. "Jika kau menyukai Lily Potter, katakan padanya sebelum kau menyesal pada akhirnya."

Pria itu langsung menatap kesal pada ayahnya. "You and Scorpius, please stop interupting my mind. That's private," balas Rhaegar.

Ayahnya hanya tertawa. "Belajar pintarlah seperti Ballard dan Rose. Mereka selalu menggunakan occlumency saat berada dekat denganku."

Rhaegar melengos. "Goodnight, oldman."

"Goodnight, Rhaegar Kraver."

000

Pagi hari Scorpius dan Rosabelle sudah berada di suite ayah mereka karena tahu betul bahwa Draco Malfoy adalah morning person. Dan benar saja, Draco sudah duduk di sofa suite-nya dengan The Daily Prophet serta teh di hadapannya. "Hai Dad," sapa Scorpius.

"Hai, kiddos," sapanya pada anak dan puteri menantunya itu.

Selain tubuhnya yang semakin mengurus dan kantung matanya yang semakin menghitam, penampilan ayah mereka ini masih tetap sama seperti biasanya. Tak ada adegan seperti di acara-acara opera sabun muggle yang membuat para pasien cancer tampak menyedihkan dengan sweater tebal dan topi rajutan untuk menutupi rambutnya yang rontok akibat chemotherapy. Hal yang terlihat sama adalah napas ayahnya yang terlihat sesak dan ia batuk yang sesekali terdengar dari mulut ayahnya. "Apa yang kalian inginkan di suite-ku?" tanya ayahnya.

"Tentu mengunjungimu, Sir," jawab Rosabelle.

Draco tersenyum. "Jangan memperlakukan seakan-akan aku sangat lemah, Rosabelle. Aku masih akan menang darimu jika kau mengajakku duel saat ini," balas Draco.

Baru saja Rosabelle dan Scorpius akan mengambil tempat duduk di seberang sofa itu, Draco kembali terbatuk dan memegang perut bagian tengahnya. "Dad, kau tak apa-apa?" tanya Scorpius panik dan langsung memegang kedua bahu ayahnya.

"Panggil Doc sekarang, Rose," pinta Scorpius.

Tanpa menunggu untuk kedua kalinya, Rose langsung keluar untuk memanggil Doc ke manor secepatnya.

"Aku tak apa-apa, Scorpius," balas Draco yang sudah dipastikan bahwa ia tengah berbohong.

Dengan cepat Scorp menggendong ayahnya itu kembali ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Ayahnya tampak kesakitan dan Scorp merasa sangat lemah karena tak dapat melakukan apapun untuk membuat ayahnya merasa lebuh baik. Tak beberapa lama kemudian Doc masuk ke kamar itu dan mulai melakukan tindakan kepada ayahya dan Scorp serta Rose hanya mampu menatap dari kejauhan saja. Selang infus dan selang oksigen kembali terpasang di tubuh Draco Malfoy dan ia tampak memejamkan mata setelah Doc memasukan obat ke dalam tubuhnya.

Doc memberi sinyal pada Scorp dan Rose untuk keluar dari kamar itu. "Apakah kondisinya semakin melemah?" tanya Scorpius.

Doc menangguk. "Kondisinya menurun setiap harinya. Sel cancer-nya menyebar hingga paru-paru hal itulah yang membuat ia kesulitan bernapas," jelas Doc.

"Lakukan sesuaatu, Doc. Kami percaya kepadamu," balas Rose.

"Aku ingin melakukan sesuatu tapi ayahnya sudah menandatangani ini," balas Doc sambil mengeluarkan sebuah surat yang langsung diambil oleh Rose melihat suaminya yang masih terguncang melihat keadaan ayahnya.

"Do Not Resuscitate Letter?" tanya Rose tak mengerti.

Doc mengangguk. "DNR adalah surat yang menyatakan bahwa jika ayah kalian mengalami kondisi kritis, aku sebagai Healer tak dapat dan tak boleh melakukan tindakan untuk mengembalikannya kembali. Ia ingin mati secara natural."

"That's a bullshit, Doc. I'm his legal guardian. I make decision for his procedure," balas Scorp.

"Ia menandatangani surat ini saat ia benar-benar sehat dan dapat menentukan keputusannya sendiri. Jadi, kau tak dapat menentangnya," jelas Doc.

Penjelasan yang mampu mengunci kedua mulut anaknya itu. "Temuilah ayah kalian. Ia sadar saat ini," ujar Doc lalu keluar dari suite itu.

Tanpa menunggu panjang lebar lagi, Rose dan Scorp masuk ke kamar ayah mereka denga Draco yang tengah memejamkan matanya. "Jangan menatapku seperti itu, son," ujar Draco yang membuka matanya lalu menutupnya kembali.

Scorpius berjalan dan duduk tepi ranjang ayahnya. "Kenapa kau menandatangi DNR letter itu, Dad?" tanya Scorp yang terdengar seperti berbisik.

Ayahnya tak menjawabnya. Ia masih memejamkan matanya, namun Scorp tahu bahwa ayahnya tengah mendengarkannya. "Apakah sangat sakit hingga kau merasa ingin menyerah?" Scorpius kembali bertanya.

Kali ini ia benar-benar membuka matanya untuk menatap anak sulungnya sementara Rose hanya berani menatap momen ayah dan anak ini dari kejauhan. Draco berusaha tersenyum namun terasa gagal karena ia terlihat begitu sekuat tenaga menahan sakitnya. "Kau tahu Scorpius, kau juga bertanya seperti itu pada ibumu dulu."

"Jadi, apakah kau merasa sesakit itu? Apakah kau sudah berencana meninggalakan kami seperti ini?" tanya Scorpius.

"Memperpanjang perawatanku dan menyelamatkanku setiap aku mengalami masa kritis hanya akan menjadi beban bagi kalian. Aku aku tak mau keberadaanku menjadi beban bagi kalian," jawab Draco.

Dengan cepat Scorp menggeleng. "Kau ayahku. Kau ayah kami. Selamanya kau tak pernah menjadi beban bagi kami, Dad."

Kali ini Draco yang menggeleng. "Aku berjanji pada ibu kalian bahwa aku akan bertahan hidup hingga kau dan adik-adikmu dapat berdiri di kaki kalian masing-masing. Dan aku sudah berhasil sekarang. Kau sudah menjadi King dengan Rosabelle yang begitu kau cintai dan mencintaimu. Ballard sudah berbahagia dengan Rhaella dan semua usaha yang telah ia jalani. Sementara Rhaegar aku mempercayai dirinya pada kau dan Ballard."

"You and Rose have to protect each other, protect this family with whole your life. Remember family comes first, champion," tambah Draco lagi.

"Jadi, kau benar-benar siap untuk meninggalkan kami?" tanya Scorp.

Ayahnya menangguk. "Apakah kau dapat mengikhlaskanku?"

Scorpius mengangguk perlahan. "Jika itu akan mambuatmu bahagia dan hal itu yang kau inginkan, aku ikhlas, Dad."

"Great. Pergilah aku akan beristirahat."

Scorpius bangkit lalu keluar bersama istrinya.

000

St,Mungo Hospital

Mengikuti apa yang menjadi ucapan ayahnya tadi malam, Rhaegar sudah berada di pelataran parkir St,Mungo pagi ini untuk menemui Lily. Persetan dengan keinginan Albus yang mengatakan bahwa ia tak menginginkan adiknya terbawa ke dalam dunia mereka. Setidaknya ia harus mencoba sekali saja sebelum benar-benar merelakan Lily selamanya jika wanita itu tak menginginkannya.

Salju sudah turun sejak tadi malam dan jarak pandang menjadi sangat terbatas. Hal ini yang membuat Rhaegar memasang matanya secara awas agar ia tak melewatkan kehadiran Lily sedetikpun. Rhaegar tersenyum bodoh saat melihat dua gelas kertas berisi kopi yang masih mengepul di sisi mobilnya. Minuman khas Amerika kesukaan Lily yang jarang sekali disentuh olehnya. Penantian Rhaegar berbuah manis saat ia melihat Lily berjalan ke arah ER dengan terburu-buru dalam balutan jaket dan jubahnya. Rhaegar berjalan ke arahnya dengan dua gelas kertas itu. "Healer Potter," panggil Rhaegar yang sontak membuat Lily terkejut.

Wanita itu sampai mencengkram handrail di teras ER itu. Dengan cepat Lily membuka earphone yang ia gunakan untuk mendengarkan musik itu. "Kau tampak sangat terkejut sekali ketika melihatku?" tanya Rhaegar.

Seperti mencoba mengumpulkan kembali nyawanya yang sempat tercecer akibat kemunculan Rhaegar tadi Lily mengangguk. "Aku hanya tak berekspektasi akan bertemu denganmu saat ini."

Rhaegar tak berkomentar dengan apa yang dikatakan Lily tadi, ia hanya menyerahkan gelas kertas berisi kopi panas itu kepadanya. "Kau shift pagi, bukan?" tanyanya yang dijawab dengan anggukan.

"Terima kasih," jawab Lily cepat.

Rasa canggung menyelimuti kedua orang itu dan Rhaegar sadar ada seseuatu yang salah saat ini. Ia menatap Lily dengann intense saat wanita itu menyesap kopi yang tadi ia berikan. "Jangan menatapku seperti itu,"pinta Lily.

"Seperti apa?" tantang Rhaegar.

"Seperti aku adalah mangsamu."

"Berarti kau salah mengartikannya, Potter. Apa yang terjadi? Kau seperti berubah begitu saja dari terakhir kali aku bertemu denganmu di manor," balas Rhaegar.

Lily tampak berpikir lalu kembali menyesap kopi itu. Ia mebatap Rhaegar dengan mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki. "Apa yang kau inginkan dariku, Mister Malfoy?" tanya Lily begitu saja.

Kening Rhaegar mengerut. "Apa maksudmu?" ia justru berbalik tanya.

"Kau mengetahui semua jadwal pekerjaanku dan kau datang tiba-tiba seperti ini dengan membawakanku minuman yang bahkan kau tak menyukainya," balas Lily.

"Alih-alih marah kepadaku dan mempertanyakan apa yang menjadi motifku, bukankah sebaiknya kau berterima kasih padaku," ujar Rhaegar.

Tak mau berbasa-basi lagi dengan pria di hadapannya, Lily langsung mengutarakan apa yang ada di benaknya. "Aku melihat rekaman CCTV saat Mikhail masuk ke dalam mobilmu. Dan keesokan harinya ia dinyatakan hilang lalu beberapa hari kemudian ia ditemukan tewas di sebuah danau dengan luka tembakan di kepalanya."

Shit!

"Darimana kau mengetahui bahwa ia masuk ke mobilku?" tanya Rhaegar dengan begitu tenang meski ia ingin sekali meledak saat ini.

"Auror menunjukan rekaman itu padaku dan mobil yang kau gunakan sama persis dengan mobil yang dinaiki oleh Mikhail hari itu."

Rhaegar mengepal tangannya sebelum kembali membuka suaranya. "Ada banyak mobil seperti ini di London. Kau pasti salah mengenalinya."

Lily menggeleng. "Tapi aku mengenali rambut pirangmu," jawab Lily.

Pria itu tersenyum licik dan ikut menggeleng. "Kau pasti salah mengenali, Potter. Atau mungkin kau tengah berhalusinasi tentang diriku saat kau melihat rekaman itu," balas Rhaegar.

"Siapa kau dan keluargamu sebenarnya?" tanya Lily.

"Kau tak perlu tahu siapa kami sebenarnya, Potter. Dan sebaiknya kau menghindari kasus kematian kekasihmu sebelum kau terbawa begitu jauh dan berkakhir membahayakan nyawamu sendiri. Selamat pagi, Miss Potter," jawab Rhaegar.

Rhaegar baru saja akan kembali ke pelataran parkir itu, namun terhenti saat Lily membuka suaranya. "Apakah kau yang membunuh Mikhail?" tanyanya.

Rhaegar kembali menatapnya lalu menggeleng. "Aku tak membunuhnya."

"Apakah keluargamu yang membunuhnya? Aku tahu sejak awal kalian bukanlah keluarga pengusaha biasa, Rhaegar Malfoy."

Mendengar hal ini, Rhaegar sontak kembali menghampiri Lily. "Kau tak tahu apapun tentang kami, Miss Potter. Jadi, menjauhlah dari hal ini jika kau ingin hidupmu kembali normal. Jika kau masih keras kepala aku tak dapat menjamin apa yang menjadi takdirmu. Bahkan James Potter dan Albus tak akan mampu membantumu," jawab Rhaegar.

Ia mundur beberapa langkah. "Jangan kembali lagi ke manor. Aku akan meminta Doc mencari penggantimu. Selamat pagi, Healer Potter."

Rhaegar berjalan menuju mobilnya dengan sejuta perasaan di dadanya. Bukan hal seperti ini yang ia harapkan untuk memulai harinya.

000

Malfoy Manor

"Draco."

"Draco."

Draco Malfoy mengerjapkan mata lalu membukanya perlahan dan sedikit terkejut dan tak percaya dengan siapa yang ia dapati tengah duduk di sisi ranjangnya. Ia bangkit dari tidurnya dan secara menakjubkan tak ada rasa sakit yang menerpa perut dan bagian tubuh lainnya. Ia masih duduk di tempatnya dan masih tak percaya dengan sosok yang berada di hadapannya.

"Kau tak mau menyapaku setelah sekian lama?" tanya sosok itu lagi.

"Hermione," ujar Draco pada akhirnya.

Wanita berambut cokelat ikal itu tersenyum padanya sementara Draco masih mengedarkan pandangannnya ke seluruh penjuru kamar ini untuk mencari pembenaran tentang apa yang tengah terjadi padanya. Ia masih di kamar dimana suite-nya berada, namun ia tak lagi merasakan sakit dan tak ada lagi selang infus dan oksigen yang menempeli tubuhnya dan Hermione dengan begitu cantik tengah duduk di hadapannya. "Kau tak nyata, Hermione. Apakah aku tengah bermimpi? Atau apa mungkin aku telah meninggal dunia?" tanya Draco pada istrinya itu.

Alih-alih menjawab pertanyaanya, Hermione menjulurkan tangannya. "Berjalan-jalanlah denganku. Sudah lama sekali aku tak berbincang denganmu," ujar Hermione.

Draco tampak ragu lalu menerima uluran tangan itu. Ia begitu terkejut karena tangan Hermione begitu nyata dirasakannya. Tak seperti hantu-hantu di kastil Hogwarts dulu. "Relax, Draco. Aku tak akan melukaimu," ujar Hermione.

"Kau mencuri kalimatku, Hermione."

Wanita itu hanya tertawa renyah. Tawa yang dirindukan selama berpuluh-puluh tahun ke belakang ini. Hermione memimpin jalan keluar dari kamar ini dan Draco dikejutkan dengan pemandangan yang sudah menunggunya saat pintu kamar itu terbuka. Tak ada hawa dingin dan salju seperti yang tengah terjadi di London. Semua itu berganti dengan deru ombak dan semilir angin sejuk. "Kita di Dorset?" tanya Draco tak percaya.

Hermione mengangguk. "Tempat kau selalu membawaku saat aku menginginkan laut ketika mengandung Scorpius dulu," jawab Hermione yang terus berjalan hingga mereka menemukan bangku yang berada tepat di pinggir pantai ini.

Hermione menatap Draco sendu. "I apology that I left you so soon, Draco."

Draco menggeleng saat mendengarnya. "Apology accepted, Hermione. But you have to know the moment you left me, my heart was split into two sides. One side was filled with your memories and another was died with you. Remembering you is easy, I do it everytime in my life. But missing you is killing me softly. I hold you tightly in my heart and there you'll remain. You see life has gone on without you, but it'll never be the same for me. But now you're here. You're come back to me, Hermione."

"Of course I come to you."

Tak henti-hentinya Draco memandang istrinya itu. Rasa bahagia yang meletup-letup amat terasa di hatinya. Ia tak tahu bahwa hari seperti ini akan kembali ia rasakan. Duduk di tepi pantai dengan ibu dari anak-anaknya, satu-satunya wanita yang ia cintai. Namun sesaat kemudian ia sadar bahwa hal ini tidak nyata. Ia seharusnya berada di ranjangnya di London dengan salju yang tengah mengguyur serta selang oksigen dan infus yang setia menempeli tubuhnya. "Apakah kau datang untuk menjemputku, darling?" tanya Draco pada Hermione.

Hermione menggeleng. "Aku datang untuk mengucapkan terima kasih padamu," ujar Hermione yang menangkup wajah suaminya itu.

Mata cokelat hangatnya itu menatap Draco dengan begitu lekat. Tatapan yang tak pernah mati dimakan waktu. "Terima kasih karena sudah menepati janjimu padaku. Terima kasih sudah bertahan untuk anak-anak kita. Terima kasih sudah menjadi ayah yang baik bagi Liam, Scorpius, Rhaella dan Rhaegar. Terima kasih untuk segala yang kau lakukan saat aku tak lagi dapat mendampingimu."

Hermione membelai pipi Draco dengan begitu lembut. "Kau tak pernah gagal untuk membuatku jatuh cinta padamu setiap harinya."

Draco tersenyum. Senyuman yang juga begitu dirindukan oleh Hermione. "I love you long after you gone, gone, gone. Did you remember that, Hermione?" tanya Draco yang menggenggam kuat tangan istrinya.

"Of course I remember that song. Thats's my favorite song until now."

"Aku masih selalu mendengarkannya saat duduk di perpustakaanmu atau selepas berkunjung ke makammu," balas Draco.

Istrinya itu tersenyum dengan semilir angin yang menggoyangkan rambut ikalnya. "Tentu aku tahu. Aku selalu berada di setiap langkahmu, Draco."

Tetiba saja sebuah getaran hebat dirasakan oleh Draco dan sontak ia menatap Hermione yang masih tampak begitu tenang di hadapannya. "Ada apa ini?" tanya Draco curiga dengan ketenangan dari Hermione.

"Keadaanmu kembali kritis, Doc pasti tengah berusaha membangunkanmu kembali," jawab Hermione.

"Tetapi aku telah menandatagani DNR Letter. Tak seharusnya ia membangunkan saat aku sudah menyerah seperti ini."

"Kau lupa bahwa kau memiliki anak-anak yang keras kepala. Mereka pasti memaksa Doc untuk menyelamatkanku."

Draco hanya diam dan menatap deru ombak di hadapannya dengan tangannya yang masih bertaut nyaman pada Hermione. Sekali lagi getaran itu terasa dan bagai mengguncang tubuh Draco. "Apakah aku akan mati?" tanya Draco.

"Apakah kau takut akan kematian?" Hermione berbalik tanya.

Draco menggeleng dengan mantap. "Kau sudah tahu aku ingin sekali menyusulmu sejak hari pertama kau meninggalkanku," jawab Draco.

Hermione tersenyum dan mengangguk. "Kembalilah pada mereka untuk berpamitan lalu kau dapat kembali kesini, kepadaku . Jika hal itu yang kau inginkan," ujar Hermione.

"Kau akan menungguku?" tanya Draco yang dijawab dengan anggukan oleh istrinya itu.

"Pasti, Draco."

"I love you, Hermione."

"I love you, Draco."

Wajah Hermione perlahan memudar dan suara dari monitor jantung kembali dapat ia dengar. Tubuhnya terasa terguncang dan ia kembali dapat mendengar suara Doc. "Come on, Malfoy."

Ia paham betul suara itu. Suara itu yang selalu ia keluarkan saat akan menyelamatkan salah satu anggota keluarga Malfoy. Dari kejauhan ia juga dapat mendengar suara isakan Rhaella. My poor baby girl. Setelah hentakan entah kesekian kalinya Draco membuka matanya. "Thank God," desah Doc.

Kelima anaknya langsung kembali mengerubungi ranjang itu. "Dad!" pekik Rhaella saat menatap ayahnya itu kembali membuka matanya.

Ia kembali merasakan selang oksigen di hidungnya, selang infus di tangannya dan entah selang apalagi yang menempelinya. Hawa laut tadi seakan hilang begitu saja dan ia kembali kepada realita, namun satu hal yang menjadi pusat perhatiannya bahwa Hermione tak mengingkari janjinya. Ia sudah berdiri dengan begitu anggun di ambang pintu sana. Draco mengalihkan pandangannya kepada kelima anaknya serta Blaise Zabini yang juga sudah berada di kamar ini. "Kau tak mendengarkan permintaanku, Scorp?" tanyanya dengan suara parau.

Scorpius tak menjawabnya dan hanya menatap ayahnya sambil mengengam erat tangan istrinya. "Relakan aku, kiddos. Waktuku sudah tiba," tambah ayah mereka lagi.

"Stop talking, Dad," ujar Rhaegar.

"Simpan energimu dan kembalilah pada kami," isak Rhaella.

Draco menggeleng pelan. "Kemarilah. Duduklah bersamaku."

Kelima anaknya itu saling bertukar pandang lalu masing-masing duduk di pinggir ranjangnya kecuali Rose. "Kau juga Rosabelle," ujar Draco yang membuatnya duduk di sisi Scorp.

Draco menjulurkan kedua tangannya lalu kelima anaknya itu menerima uluran tangan itu. "Ingat permintaanku pada kalian. Protect each other, protect this family. Always remember family comes first."

"Dad," ucap Rhaella yang sudah melelehkan air mata sedari tadi.

Kembali Draco menggeleng. "Jangan menangis, sweetheart. Berbahagialah untukku. Relakan aku karena ibu kalian sudah menjemputku," ujarnya lalu menatap ambang pintu.

Hermione masih menunggunya disana sementara tak satupun dari anak-anaknya dapat melihat sosok yang tengah ditatapnya. Tatapan Draco beralih pada Blaise yang masih berdiri di belakang Rhaegar tepat di sisi ranjang itu. "Hello, mate. Aku tak akan memberimu tangggung jawab untuk menjaga kelima anakku. Awasi saja mereka untukku dan ingatkan mereka jika mereka melakukan hal secara berlebihan."

Blaise mengangguk. "Of course, mate. I'll watch them for you and send my regard to my sister, Hermione."

Draco tersenyum dan mengangguk. "I love all of you kiddos. And please let me go. "

"Go, Dad. Find your happiness with Mum," ujar Scorpius yang langsung mendapatkan tatapan tak percaya dari yang lain.

"Great. I'm ready, Hermione," ujar Draco yang perlahan memejamkan matanya.

"Kita tak boleh egois. Dad sudah lama menahan sakitnya. Jika melepaskannya adalah satu-satunya cara membuat ia terlepas dari rasa sakitnya, hanya itu yang dapat kita lakukan," jawab Scorp.

Ballard mengangguk mendengarnya. "Aku akan sangat merindukanmu, Paxan."

"Kau harus berhagia dengan Mum disana, Dad," tambah Rhaegar.

"Kau tahu aku sangat mencintaimu. Be happy for us from everywhere you end up with, Dad," tambah Rhaella.

"Terima kasih sudah menganggapku seperti puteri kandungmu, Sir. Aku akan merindukanmu," kali ini Rose yang membuka suaranya.

Napas Draco tampak teratur saat ia sudah memejamkan matanya seutuhnya. Tetapi, detak jatung yang terpantau dari monitor yang dipasang Doc saat ia masuk dalam masa kritis mengalami penurunan. Suara monitor itu tampak begitu mengganggu dan Doc dengan sigap mematikannya. Napas Draco tampak tersendat dan detak jantungnya menghilang perlahan. Tak ada lagi gelombang teratur di monitor itu. Semuanya sudah berganti dengan garis lurus. "He's gone," bisik Blaise dengan air mata yang tumpah pada akhirnya.

"Time of dead is 00.01," Doc mendeklarasikan waktu kematian dari Draco Malfoy.

Rhaella kembali terisak sementara ketiga anak lelaki yang lain hanya mematung di tempatnya. Rose masih menggenggam tangan suaminya dan tak melepaskannya sama sekali. Tetiba saja Scorpius tersenyum menyadari sesuatu. "Dad meninggal di hari yang sama dengan Mum."

Saudara-saudaranya baru menyadari hal itu dan ikut tersenyum di balik air mata itu. "Dia benar-benar mencintai Mum sebesar ini," bisik Rhaella.

"Goodbye, Dad. We'll miss you," ujar Scorp lalu menunduk untuk mengecup kening ayahnya itu.

000

Semua anggota The Sociaty mendatangi misa kematian Draco Malfoy di gereja pribadi mereka sebelum dikebumikan tepat di sisi makam istrinya. Semua orang mengucapkan rasa bela sungkawanya dan mengatakan bahwa Draco Malfoy adalah pemimpin yang sangat loyal bagi anggotanya. Namun Scorp tak mengucapakan sepatah katapun. Bahkan ia hanya mengangguk dan tersenyum dan melakukan gesture seperlunya saja saat Rose bertanya dan berbicara padanya.

Setelah pemakaman berakhirpun ia masih tak mau membuka suaranya. Ia hanya langsung masuk ke suite-nya dan duduk di hadapan perapian. Apa yang ia lakukan persis saat Rose kehilangan Maurizio apa yang tengah dialami suaminya, Rose menghampiri Scorp lalu memeluknya. Ia kemudian menuangkan wine kepadanya. Mereka menyesap wine itu dalam diam. Scorp meletakkan gelasnya lalu mengambil tangan Rose untuk digenggamanya. "Maafkan aku karena mendiamkanmu," ujar Scorp pada akhirnya.

"Tak apa. Tak ada yang perlu kumaafkan," balas Rose.

Istrinya itu ikut meletakkan gelasnya lalu kembali memeluk Scorpius. Ia berlutut di sofa itu lalu meletakkan kepala suaminya di dadanya sambil menepuk-nepuk punggung Scorpius. "Menangislah, Scorpius. Aku tahu kau ingin melakukannya."

Scrorpius menarik tubuh Rose agar semakin erat kepadanya dan perlahan Rose merasakan lelehan air mata di lekuk lehernya tanpa terdengar sedikitpun isakan. "Menangislah hingga kau merasa lebih baik," ujar Rose.

"Dad sudah meninggal, Rose."

"Aku tahu dan ingat kau sudah berjanji untuk merelakannya."

Scorpius mengangguk lalu melepaskan pelukan mereka. Rose mengusap air mata Scorpius dengan ibu jarinya. "Are you ready to moving on?" tanya Rose.

Dan kembali Scorp mengangguk. "Great. That's my husband, dickhead."

000

A Month Later

Suasana duka sudah perlahan memudar. Semua pekerjaan dan kegiatan sudah kembali normal. Rose sudah kembali pada peran gandanya sebagai Capo dari Cosa Nostra dan Queen dari The Sociaty. Begitupula denga Scorp, Ballard dan Rhaegar. Segalanya sudah kembali normal. Sangat normal. Seperti malam ini, selepas makan malam di manor dan sepulangnya Niklaus serta Albud dari kantor AlNik ketiga sahabat itu duduk sambil menyesap minumannya di beranda manor. Sudah lama rasanya mereka tak melakukan hal ini dan sekarang segalanya terasa begitu damai dan menenangkan.

"Scorp."

"Yes, Nik."

Niklaus meletakkan rokoknya yang masih menyala di sebuah asbak lalu meminum whisky di tangannya. "Ada sesuatu yang ingin minta darimu," jawabnya.

Scorp dan Albus sontak bertukar tatapan. "Aku ingin izin untuk ke Moscow selama beberapa saat."

"Untuk apa?" tanya Scorp.

"Kau ingat saat kau memintaku untuk memenangkan hati Katya dulu?" jawab Nik.

Scorp mengangguk. "Tentu."

"Aku ingin memenangkannya saat ini. Aku ingin bersamanya di Moscow sekarang."

Kening Scorp mengerut. "Lalu tanggung jawabmu disini?"

"Aku bisa melakukannya sekaligus tapi untuk sementara aku akan bermukim di Moscow. Dan untuk masalah AlNik aku akan menyerahkan perusahaan itu padamu, Al."

Albus seakan tersedak dari wine yang tengah ia sesap. "What a great news, arsehole," balas Albus.

"Oh come on, Al."

Albus dan Scorpius tertawa. "Baiklah. Kejar cintamu sampai ke Russia sana," jawab Albus.

"Berjanjilah untuk kembali saat kami membutuhkanmu," tandas Scorp yang dijawab dengan anggukan oleh Niklaus.

"Kalian benar-benar sahabatku."

"Shut up, Niklaus," ujar Scorpius dan Albus berbarenagan.

Tawa mereka lenyap saat Rosabelle dan Rhaella datang ke beranda itu. Setelah sekian lama, Albus tetap tak sanggup berada di satu ruangan dengan Rhaella berlama-lama. "Hey, boys," sapa Rhaella.

"Hey, Rhaella," jawab Niklaus.

Secara berbarengan pula Niklaus dan Albus bangkit dari tempat duduknnya lalu berpamitan pada yang lainnya untuk melakukan kegiatan mereka selanjutnya. Rhaella duduk di sisi bangku lainnya sementara Rose mengambil tempat di sisi Scorpius. Tepat tak beberapa lama kemudian, Rhaegar dan Ballard bergabung dengan mereka. "Apakah tadi Nik dan Al kemari?" tanya Rhaegar yang dijawab dengan anggukan oleh Scorp.

"Damn it! Padahal ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mereka," jawab Rhaegar.

Rhaella beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah Ballard kemudian melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu. "Kami punya berita untuk kalian," ujar Ballard.

"Aku hamil!"pekik Rhaella yang disambut dengan suara meriah dari Rhaegar.

"Wow! I'm gonna be an uncle. It's amazing, sister," ujar Rhaegar bersemangat.

Rose dan Scorp memeluk mereka satu per satu. "Congratulation," ujarnya pada Ballard.

"Thank you, Scorp."

Di tengah euforia ini Rose tampak terdiam sampai Scorp melingkarkan tangannya di pinggang istrinya itu. "Aku baik-baik saja, jika hal itu yang ingin kau tanyakan. Aku ikut senang dengan kabar ini," jawab Rose

Scorpius tersenyum. "Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu besok."

"Kenapa tak hari ini?"

"Sudah terlalu malam. Besok Sanbtu, kosongkan harimu untuku," bisik Rose lalu menyentuh hal tersensitif milik suaminya itu dengan sangat menggoda lalu masuk ke manor itu.

"Contessa."

"Aku akan menunggumu di suite, dickhead."

000

Tepat di pagi hari Rose sudah membawa Scorp ke landasan pribadi mereka. Setelah menyapa Roman mereka masuk ke dalam jet pribadi keluarga Malfoy itu. "Kau tak mau mengatakan kemana kita akan pergi sebenarnya?"

"Dimana kejutan itu berada jika aku membocorkannya padamu, dickhead?"

Tak seperi protokol yang biasa dilakukan oleh Roman saat mereka akan mendarat, kali ini pilot pribadi mereka itu sama sekali tak mengatakan kota tujuannya. Rose langsung menutup mata Scorp dan ber-Apparate menuju tujuannya tanpa menggunakan mobil sihir mereka. Lalu ia meminta Scorp untuk tetap menutup matanya. "Jika kau membuka mata sebelum waktunya aku tak akan membiarkan kau menyentuhku sampai waktu yang belum kutentukan, dickhead."

"Kau kejam."

Rose hanya tertawa. Scorp sudah dapat merasakan semilir angin dan perlahan tangan Rose terlepas dari matanya. "Kau dapat membuka mata sekarang."

Ia tak percaya pada apa yang ia lihat. Hamparan tumbuhan anggur terlihat dengan jelas dari beranda rumah bernuansa pedesaan tempat ia berpijak. Ia menatap kebun itu dan Rose secara bergantian. "Welcome to our home in Tuscany, wine farmer."

"Dan ini hadiahku padamu," tambah Rose.

"Kau mengingatnya?"

"Tentu aku mengingatnya."

Scorp menarik Rose untuk memeluknya. "Kau tak perlu memberiku hadiah sebesar ini."

Rose menggeleng. "Hal ini sangat kecil dibandingkan dengan apa yang kau berikan kepadaku, Scorpius. Kau memberikanku keluarga dan terlebih lagi kau memberikanku cinta."

Scorp tak sanggup membalasnya. "Terima kasih sudah memilihku sebagai Queen bagimu," bisik Rose.

"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena sudah mendampingiku di masa-masa tersulit dalam hidupku, Rose."

"The feeling is mutual, Scorp."

Rose mengecup lembut bibir suaminya. "Are you ready for our future?" tanya Rose.

"So ready. I love you until die do us a part, Contessa."

"I love you more than just you imagine, dickhead."

000

A/N : Who's ready for epilogue next week? Please still leave me your review. And I couldn't be more grateful enough to say thank you for all of you guys. Thank you for read, alert and favorite. You guys always made my day. I love you till die do us a part *Scorpius' style hehe. See you in next week *sob* . I LOVE YOU XOXO