Game of Deception
Chapter 14
Hasil pemeriksaan tabib membuat Ino kaget. Keringat dingin membasahi dahinya yang pucat. Ia merasa tertekan dan tidak ingin percaya pada ucapan sang tabib. Bisa saja sang tabib salah mendiagnosis penyakitnya. Ia hanya lelah, mual dan muntah. Apa dewa sekejam itu hingga sampai hati membiarkan dirinya mengandung anak dari pria yang keberadaannya dikutuk oleh banyak orang.
"Anda salah tabib, Saya terkena flu." Ucapnya menyanggah pendapat tabib istana. Sebuah penyangkalan adalah satu-satunya yang bisa mengobati kegalauannya.
Sang tabib mengelus jenggotnya yang berwarna putih. "Yang Mulia, Maaf saya bertanya. Kapan terakhir kalinya anda datang bulan."
Wanita pirang itu mencoba mengingat-ingat. Lalu dia terenyak. "Hari ke berapa sekarang?"
"Hari ke dua puluh lima." Jawab Itachi
Ino semakin memucat menyadari haidnya terlambat datang. Jadi benar, ia tak bisa mengelak dari semua ini.
Melihat Ino tertegun. Itachi langsung bisa menebak perkataan tabib tidak salah. "Jadi memang hamil."
"Sebaiknya mulai sekarang anda harus banyak beristirahat. Masa awal kehamilan begitu riskan." Saran tabib pada Ino.
Ino menjadi bertambah tegang, Kehamilan itu sangat berbahaya. Ia mendengar banyak wanita meninggal saat melahirkan dan Ino takut harus meregang nyawa karena anak Itachi. Seperti yang telah terjadi pada ibunya sendiri.
"Tabib, Apa yang kau ketahui sekarang tidak boleh tersebar. Bila aku mendengar seseorang membicarakan tentang kehamilan Ratu Naboo. Aku akan memenggal kepalamu. Silakan pergi."
"Baiklah, Yang Mulia. Hamba tak akan berani. Perihal ini akan menjadi rahasia."
Setelah sang tabib pergi, tinggal mereka berdua berhadapan satu sama lain dalam kebisuan. Itachi tak berkomentar. Ia hanya menatap Ino yang terlihat risau.
Ino mencoba untuk tidak panik, ia harus bisa menerima karena hal ini di luar . Dia sedih dan kesal, tapi ia harus mencoba untuk tenang dan optimis. Meski dia hamil ia tetap akan bebas kan? Gaara sedang dalam perjalanan dan bila Itachi memegang kata-katanya maka pria itu tak akan menyentuhnya lagi. Sebuah kelegaan bila Itachi meninggalkannya sendirian. Ia khawatir, tanpa ada siapa-siapa di dekatnya. Ia akan menjadi lemah dan mengantungkan diri pada pria yang menawannya. Bagaimanapun Ino ingin hidup lebih lama.
Awalnya Ino yakin ia tak akan kembali ke Naboo dengan selamat, ia yakin Itachi akan membunuhnya. Dia beruntung meski kejam, pria itu bersikap logis dengan membiarkannya hidup. Sekarang harapannya untuk bebas semakin besar. Dengan adanya bayi dalam perut Ino. Pria itu akan berpikir dua kali untuk menyakitinya dan Gaara sudah dekat. Ino akam bertahan sebab dia sangat yakin Itachi tak punya kekuatan lagi untuk memenangkan perang ini.
Ino ingin segera bisa kembali ke Naboo dan memperbaiki situasi. Ia merasa berat hati untuk menyerahkan mandat pada Kakashi sebab dia adalah orang yang sebenarnya diinginkan Inoichi untuk menjadi raja Naboo berikutnya. Ayahnya seperti hanya anggota senat lainnya berniat menikahkan Ino dengan pewaris keluarga Hatake. Ino tidak mau karena bila sang jenderal jadi suaminya maka sudah pasti Ia tak akan dibiarkan berperan aktif dalam pemerintahan.
Peraturan Naboo menetapkan kedudukan raja dan bangsawan hanya diturunkan kepada anak laki-laki. Ayahnya tak pernah menyandangkan gelar putri mahkota padanya atau berusaha mengubah peraturan itu. Ayahnya berdalih kekuasaan hanya akan membebaninya dan sepenuhnya mengabaikan ambisi Ino untuk berpolitik dan memerintah Naboo.
Ketika ayahnya divonis ia pun mengambil langkah serius dengan mempercepat kematiannya. Dia tak merasa bersalah. Sebab Inoichi mulai sakit-sakitan dan hilang akal. Ia pun tak mau melihat ayahnya menderita begitu lama.
Ino ingin mengutuk para dewa akan nasib buruk dan cobaan yang dihadapkan padanya. Semenjak ia menjadi ratu. Para bangsawan Naboo dan pejabat menekannya. Lalu ia terpaksa harus menikahi musuhnya, menjadi ratu boneka dan sekarang tertawan di sini. Dinodai dan direndahkan hingga ia harus hamil. Andai saja ia terlahir pria, hidupnya akan jauh lebih mudah. Bukannya menjadi piala yang bisa digilir begitu saja. Meski perbuatan itu membuat tubuhnya merasakan kenikmatan tetapi tetap saja itu adalah sebuah pemaksaan. Hal yang salah, amat salah. Meski ia juga sadar Itachi tak sepenuhnya suka memperlakukannya seperti itu. Mereka adalah musuh. Dua pihak yang berperang. Ino tak boleh simpati padanya dan Itachi juga tak bisa bersikap lemah hanya karena dia wanita. Hanya salah satu dari mereka yang bisa menang.
"Apa kau sudah puas? Aku mengandung anakmu dan tepati janjimu untuk tidak menyentuhku lagi mulai sekarang." Pintanya pada sang raja dengan tegas. Ino tak mau lagi disentuh olehnya, tak ingin lagi merasakan bagian dari lelaki itu dalam tubuhnya. Kadang ia berpikir mungkin hal ini adalah karma buruk yang harus dia jalani karena telah melumuri tangannya dengan darah. Penghinaan demi penghinaan. Ya, mungkin dia layak untuk disiksa.
Ia memandang Itachi yang tak berhenti menatapnya. Mata mereka beradu dan pria itu membisu seakan kehabisan kata-kata. Mengapa dia tak tampak senang dan memamerkan arogansinya? Ino tak mengerjapkan mata, sekilas ia melihat rasa khawatir menghiasi raut wajah yang biasanya dingin laksana sebuah topeng.
Itachi tak mengharapkan berita ini karena situasi mereka sudah berbeda. Mustafar terdesak dan Pasukan Aliansi sedang bergerak ke wilayahnya. Rencananya hanya bisa berjalan dengan asumsi Mustafar menang. Andai ia kalah, nasib buruk sudah jelas akan menanti dia yang memiliki darah Uchiha. Kesadarannya tak menginginkan darah dagingnya menderita. Meski ia berkata tak peduli tapi ia tak bisa menutup mata.
Begitu banyak skenario yang terlintas di kepala Itachi dan surat berisi tuntutan dari Sabaku Gaara membuatnya khawatir. Dia telah meremehkan Jakku. Negara yang keberadaannya tak ia pedulikan karena begitu jauh. Dua kemenangan membuat pangeran Jakku berada di atas angin. Haruskan ia memenuhi tuntutannya?
Dia bisa membarter Ino dengan keselamatan rakyatnya, Tapi Ino sedang hamil sekarang. Mengandung anaknya, Dia yang menjadi musuh semua orang. Apa Sabaku Gaara bersedia menerima Ino yang seperti itu dan menepati isi perjanjiannya?
Tiba-tiba dia menjadi begitu ragu untuk membebaskan Ino. Bukankah keselamatan rakyatnya di atas nyawanya dan keinginannya, tapi mengapa ia tak bisa membayangkan menyerahkan Ino dan anaknya pada musuh.
Itachi menarik nafas panjang. Mungkin jalan yang mudah tidak selalu tepat. Ia akan mempertahankan apa yang sudah ia rebut. " Aku tak akan menyentuhmu sampai anak itu lahir dan kau tetap di sini menjadi tawanku. Aku tak akan mengembalikanmu ke Naboo meski pangeran Jakku mengancamku."
"Mengapa kau keras kepala begitu? Kau bisa menukar keselamatanmu dan Mustafar dengan diriku." Ino berteriak marah. "Apa kau tak lihat kalau kau akan kalah. Dia berhasil merebut Naboo dan Jakku."
" Maka kau akan bebas ketika panji-panji Mustafar terbakar habis. Aku tak akan lari dari pertempuran dan mengajarkan rakyatku untuk menjadi pengecut. Kami adalah pejuang."
"Menyerah bukan berarti pengecut, hanya mengambil tindakan rasional. Lihat saja. Aku menyerah pada kalian dan menikahi Sasuke demi rakyatku. Mengapa kau tak bisa melakukan hal yang lebih mudah. Aku tak berarti apa-apa bagimu. Setujui permintaan Gaara. Bebaskan aku." Ino tak ingin melihat prajurit gugur sia-sia. Dia menyukai penduduk Mustafar dan dia juga mengerti kesulitan mereka. Mereka tak layak menanggung akibat kebijakan invasi yang dilakukan raja mereka.
"Apa kau meragukan pangeran Jakku. Ia adalah kesatria terhormat. Gaara tak berniat untuk menguasai negerimu. Ia hanya ingin menolongku. Ia pasti memegang kata-katanya."
"Aku tak mempercayai Sabaku Gaara, apalagi mempercayaimu penilaianmu yang terbukti telah berkhianat. Mengapa kau bersikeras memaksaku menyerah. Apa kau diam-diam peduli padaku hingga kau tak mau aku mati?"
"Demi tuhan! Aku tak peduli padamu Itachi, tapi aku peduli pada orang-orang Mustafar. Pada negeri ini. Ke mana kebijaksanaanmu pergi? Jika perang ini meluas rakyatmu yang paling menderita." Jerit Ino frustrasi.
"Tidak ada harapan Ino, Perang ini adalah segalanya bagai kami. Usaha terakhir untuk bisa bangkit dari puing-puing dan debu. Bila aku kalah kali ini biarlah Mustafar terkubur bersamaku."
Ino bisa melihat penderitaan di wajahnya. Kesedihan melihat semua impian dan ideologinya runtuh. Kegagalan untuk menyejahterakan rakyatnya. Jauh di lubuk hatinya Ino mengerti Itachi tak sepenuhnya jahat. Ia memiliki niat dan keinginan luhur dan berdedikasi penuh pada negerinya. Di mata Negeri yang ia serang, Itachi adalah penjahat. Tetapi di mata rakyatnya dia adalah pahlawan yang berhasil menyatukan Mustafar yang pecah dan bergejolak. Raja yang berusaha dengan segala cara untuk membangkitkan kembali negerinya. Ino tak dapat menyalahkan Itachi. Dia bersikap kejam pada musuh-musuhnya. Begitu pula Ino. Ia belajar Cinta dan kejujuran tak bisa mengamankan kekuasaan karena panggung politik dipenuhi gerombolan ular berbisa. Kau memotong mereka atau mereka akan membelitmu.
"Aku punya seribu alasan untuk tertawa bila kau terbunuh. Semua yang kau lakukan secara pribadi padaku membuat aku marah dan membencimu, tapi aku tidak bisa membenci rakyat Mustafar yang tak memiliki dosa padaku. Mereka masih membutuhkanmu karena itu aku tak ingin kau mati. Izinkan aku menulis surat untuk Gaara. Aku akan memohon padanya agar tak menyerang orang tak bersenjata."
Itachi tersenyum lemah. "Itulah perbedaan antara kau dan aku. Aku tak pernah merasa kasihan pada musuhku. Kau memikirkan semua pihak sedangkan aku hanya fokus pada tujuanku sendiri."
"Bukannya kau tak merasa iba. Kau tak membiarkan dirimu memiliki perasaan. Bukankah begitu Itachi?"
"Emosi dan empati tak memberikan keuntungan. Aku menumpahkan banyak darah demi membuat kedamaian di Negeri ini. Negri yang penuh konflik harus dipimpin oleh raja yang tanpa kompromi."
"Kita sama-sama tahu begitu banyak hal yang harus dikorbankan untuk kekuasaan, tapi bukan berarti kita harus membekukan hati dan pura-pura berhenti merasakan. Sungguh disayangkan kita berdiri berseberangan. Di lain cerita Mustafar bisa menjadi sekutu Naboo dengan damai."
"Aku rasa tidak. Katakan padaku Ino, akankah kau memilih pria yang tak punya apa-apa dan sekarat untuk ditawarkan sebagai suami? Tentunya tidak. Mereka menganggap kami pecundang, kerajaan sekarat yang tak layak ditolong dan aku sudah membuktikan kami orang Mustafar muak diabaikan dengan menghancurkan kota-kota kalian."
"Kau salah dan kami juga sama salah. Perang ini pecah akibat ketidakpedulian." Sahut Ino dengan wajah sedih. Bila semua peduli dan saling bantu hal seperti ini tak akan terjadi.
" Setelah perang ini aku harap semua orang akan menemukan kedamaian. Aku akan meninggalkan tabib istana di sini untuk menjagamu." Itachi berdiri untuk meninggalkan Ino.
"Bagaimana dengan nasib bayi ini?" tanya Ino.
"Aku tidak tahu, Bila aku kalah dan mati di medan perang semua terserah padamu. Kau bisa membunuh atau membuang anak itu bila kau mau. Aku tak berharap kau mau membesarkannya."
Ino menggenggam selimutnya lebih erat. Pikiran untuk membunuh janinnya tampak menggoda, tapi ia tak ingin membuat lebih banyak dosa. Ibu mana yang begitu kejam membuang darah dagingnya sendiri. Itachi memang bersalah, tapi tidak anak dalam perutnya.
"Aku berjanji akan membesarkannya. Anak ini tidak berdosa. Apa kau sadar aku sedang mengandung pewaris kerajaan ini?"
"Tidak...Aku tidak lupa fakta itu, tapi siapa yang akan percaya? Lebih baik kau bilang itu anak Sasuke orang-orang akan menerimanya. Pernikahan kalian sah."
" Begitu pula pernikahanmu denganku. Bukankah itu membuatku menjadi ratu Mustafar?"
Hal itu tak pernah terpikir olehnya. Sebagai seorang raja ia tak pernah punya gundik, selir dan anak di luar nikah. Jadi pernikahannya dengan Ino membuat wanita itu berada di posisi menguntungkan sekarang. "Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Bila raja mangkat, Maka Ratu akan memimpin kerajaan hingga pewarisnya cukup usia. Bukankah begitu? Aku berniat mengambil alih negeri ini bila kau kalah. Aku akan menjadikan Mustafar bagian dari pemerintahanku. Aku rasa kerajaan lain akan setuju."
Itachi tertawa. "Tak semudah itu. Kau harus menunjukkan bukti kalau kita menikah. Aku sama sekali tak pernah berpikir situasinya akan berbalik. Mustafar menjadi koloni Naboo adalah hal terakhir dibenaku. Aku selalu yakin akulah yang akan menjadi pemenang, tapi ternyata aku tak bisa menang hanya dengan niat."
"Bukankah Lebih baik aku yang memimpin dari pada Mustafar dibagi-bagi oleh pihak yang menang dan lenyap dari peta. Aku berjanji akan bertindak adil pada rakyatmu. Mereka sudah banyak menderita. Kau tahu, Aku mengerti sekali niatmu, tetapi aku tak mau mengikuti jalanmu. Aku punya solusi sendiri."
"Rakyatku begitu keras kepala, situasi politik dan beratnya kehidupan membuat mereka tidak mudah percaya. Memimpin negeri ini tidak mudah."
"Aku bisa membuat adikmu yang dingin jatuh cinta padaku, mungkin aku juga bisa memenangkan hati orang-orang Mustafar."
Perkataan Ino tidak salah, beberapa bulan wanita itu menjadi penghuni istananya. Keadaan sudah langsung berubah, tapi ia tak mau mendengar rencana yang melibatkan kematiannya. Ia akan berusaha menang. "Simpan saja rencanamu untuk diri sendiri. Aku belum mati jadi aku tak ingin mendiskusikannya. Kau bicara seakan-akan kematianku adalah hal yang pasti."
"Oh, Sadarlah. Satu kakimu sudah masuk liang kubur."
"Tidak, Aku sedang menggali kuburan untuk Sabaku Gaara."
"Gaara tidak mudah dikalahkan. Bahkan oleh Sasuke sekalipun."
"Kelihatan sekali kau menaruh harapan besar pada pangeran Jakku. Jujur padaku Ino ke mana hatimu berlabuh? Apa kau pernah punya perasaan pada adikku atau kau hanya mempermainkannya?" Itachi merasa perlu tahu. Belakangan ini ia sering dihinggapi rasa bersalah pada Sasuke karena bersikap sedikit lembut. Ino tak layak mendapatkan perhatiannya, tapi ia tak bisa berhenti untuk memikirkannya.
Ino membuang nafas panjang. "Aku tak tahu, tapi aku pernah berpikir kami bisa hidup bahagia berdua dalam pernikahan itu. Hanya saja kau menjadi penghalang di antara kami."
"Aku? Mengapa aku?"
"Cinta dan kesetiaan Sasuke padamu jauh lebih besar dari perasaannya padaku. Dia memilih mengikutimu dari pada mendukungku karena itu dia harus mati." Ucap Ino penuh penyesalan. Bila saja Sasuke meninggalkan Mustafar, Ino pasti akan berusaha untuk mencintainya dengan sungguh-sungguh. Hubungan mereka sebagai pihak yang berseberangan membuat segalanya tak mungkin dan harus berakhir dengan tragedi.
"Aku lihat kau menyesal. Sepertinya kau memang punya perasaan untuknya." Mengapa ia merasa dadanya begitu sesak menyadari Ino mempertimbangkan sebuah masa depan dengan adiknya. Apa dia cemburu? Tidak..Ia tak pernah menginginkan perhatian Ino.
"Bukankah kau juga menyesal, Itachi. Menjadikan adikmu sebagai tumbal dalam permainan ini."
Tatapannya turun ke lantai. Perang belum sampai di Mustafar, tapi Itachi sudah terlihat seakan telah kalah. Beban yang semakin berat membuat semangatnya sedikit surut.
"Bila aku bertemu dengan Sasuke di alam baka. Aku akan minta maaf padanya karena telah menjadi saudara yang buruk." Sang Raja akhirnya menutup pintu meninggalkan Ino sendirian.
Sementara Ino yang semakin gundah berbaring kembali di ranjang. Bila mereka menang Ino akan memohon pada Gaara untuk membiarkan Mustafar seperti apa adanya. Ia harus bisa meyakinkan raja-raja lainnya untuk membantu membangun negeri ini bukan menghancurkannya. Mereka semua sudah cukup banyak mengalami masalah dan sudah saatnya mereka berhenti bersikap masa bodoh.
.
.
Sasuke berjalan melintasi koridor kosong. Kakaknya tidak ada di istana dan tak seorang pun tahu dia pergi ke mana. Apa yang dilakukan Itachi menghilang begitu saja padahal keadaan sedang gawat. Juru tulis istana berkata belakangan ini sang raja sering menghilang bahkan sampai berhari-hari.
Sasuke mencoba berpikir positif, Mungkin kakaknya mencoba merekrut pasukan tambahan yang akan mereka perlukan. Ia sudah melihat sendiri kekuatan militer Gaara. Pria itu serius membawa lima puluh ribu prajurit hanya untuk Ino. Sekarang ia menyesal tidak memprovokasi pria itu untuk berduel dan membunuhnya.
Sasuke berniat mencari Tobi, tapi ia melihat burung burung gagak di halaman istana beterbangan akibat dua ekor kuda melaju dengan cepat memasuki istana. Dia buru-buru ia turun untuk melihat siapa yang datang. Benar dugaannya Itachi sudah kembali. Sasuke merasa sedih melihat kakaknya tampak kurus dan lelah. Dua kekalahan ini pasti membuatnya tertekan. Bila saja ia tak termakan bujuk rayu wanita sial itu. Ini semua tak akan terjadi.
Itachi turun dari pelana. Tak menyadari seseorang berdiri menyambutnya.
"Kakak." Panggil Sasuke.
Itachi terpana, tak mempercayai apa yang dia lihat. "Sasuke?"
"Aku kembali."
Itachi tak lagi menyembunyikan emosinya. Ia memeluk sang adik yang ia yakini sudah tiada. "Kau masih hidup? Aku tak percaya." Setitik air mata haru menyelinap di sudut matanya. Ini keajaiban.
Sasuke heran mengapa kakaknya begitu terkejut. Dia sudah menulis surat beberapa bulan yang lalu.
"Apa kau tak menerima suratku?"
"Surat? Surat apa? Sasuke kenapa lenganmu?" Itachi terkejut melihat lengan tunik yang kosong.
"Aku kehilangan tanganku dan semua kemampuan bertarungku karena wanita itu. Di mana dia? Aku harap kau sudah memberikannya keadilan."
"Ino, Aku membawanya ke suatu tempat. Istana tak lagi aman. Ada penyusup dan mata-mata. Aku tak mau kehilangan tawanan berharga."
"Apa yang kau lakukan padanya?"
Itachi mengepalkan tangan dan menggigit bagian dalam pipinya memikirkan sebuah jawaban yang tak menimbulkan kecurigaan. "Aku sedikit menyiksanya. Apa kau keberatan? Aku tak tahu pasti sejauh mana Ino terlibat dalam rencana pembunuhanmu. Jadi aku memaksanya bicara."
"Kakak, Wanita jalang itu layak disiksa. Dia merayuku lalu meracuniku sebelum membiarkan seorang asassin menghabisku. Dia harus mati dan aku akan membunuhnya sendiri atas pengkhianatannya. Aku tak menyangka Ino sama saja seperti yang lain."
Itachi tak pernah melihat adiknya begitu emosional. Perasaan Sasuke untuk Ino pastinya begitu besar karena Sasuke tampak begitu sakit dan terluka. Hal ini membuat dirinya merasa tak nyaman sebab ia menikahi dan meniduri wanita yang ternyata masih bersuami. Ia tak yakin Sasuke akan menerima berita ini dengan baik jadi Itachi memilih menutup mulutnya.
"Kita tak bisa membunuhnya sekarang. Sabaku Gaara hanya mau menarik pasukannya bila kita mengembalikan Ino. Kau tahu ratu Naboo begitu penting."
"Apa kau pikir kita akan kalah?" tanya Sasuke pada Kakaknya.
Ia menarik nafas panjang. "Besar kemungkinan hal itu terjadi. Kita tak punya panglima yang benar-benar peduli untuk membela kita. Seharusnya aku tahu aku tak bisa mengandalkan Akatsuki. Apa kau tahu Hidan dan Kakuzu meninggalkan prajurit kita begitu saja di Alderaan."
"Bagaimana dengan Kisame dan Tobi?" tanya Sasuke.
"Aku bisa mempercayainya Kisame, tetapi pasukan Uzumaki dan Hyuga begitu merepotkannya. Mereka sudah berhenti menyerang dan sepertinya menunggu bergabung dengan pasukan Gaara dan Tobi, Aku tak tahu dia mau membantu atau tidak. Kau tahu sendiri dia hanya bergerak bila diperintah kakek Madara."
"Kita terpojok karena diriku, andai saja aku tak terpikat padanya ini tak akan terjadi. Aku begitu bodoh, kakak. Kini aku kembali dalam keadaan tidak berguna."
"Asal kau tahu, dia begitu menyesal membunuhmu. Kesetiaanmu padakulah yang menghancurkan hubungan kalian. Kau bisa saja memilih Ino dan hidup bahagia. Aku minta maaf padamu."
Mendengar hal itu, Amarah Sasuke menguap. Berganti dengan kerinduan. Ia sendiri tak paham dengan perasaannya yang kontradiktif. Dia memang mencintai Ino, tapi cinta wanita itu padanya hanya sebuah kebohongan. "Dia tak pernah mencintaiku. Semua ini hanya permainannya. Aku menginginkan keadilan."
"Tahan emosimu, Adikku. Aku paham kau marah dan sakit hati, tapi apa kau benar-benar ingin dia mati? Tak ada keadilan dalam perang. Kita menjajah Naboo dan wanita itu hanya berusaha membalikkan situasi dengan memanfaatkan kelemahan kita."
"Mengapa kau membelanya?" Sasuke bingung, Itachi seharusnya dingin dan kejam. Mengapa malah membela Ino yang sudah mencoba membunuhnya.
"Aku tidak membelanya. Kita membutuhkan Ino hidup-hidup, sebagai jaminan keselamatan rakyat Mustafar. Kau bisa menemuinya untuk berbicara. hati-hati jangan sampai ada yang mengikutimu. Tikus masih berkeliaran di istana."
"Di mana kau mengurung Ino?"
"Rumah peristirahatan ibu, Satu lagi Sasuke. Berjanjilah, Jangan coba menyakiti Ino. Wanita itu sudah mendapat cukup banyak siksaan dari diriku. Kita tak bisa merusaknya lebih dari ini."
Sasuke mengangguk, tapi dia sedikit heran. Mengapa Itachi memiliki kepedulian yang cukup berlebihan pada tawanannya. Biasanya tak ada alasan yang menghentikan Itachi untuk membunuh. Apa wanita licik itu mempengaruhi kakaknya juga? Sasuke meragukan pemikirannya. Itachi tak pernah tergoda oleh apa pun. Kakaknya hanya sedang bersikap logis.
"Aku akan mengadakan rapat persiapan perang. Aku berharap kau bisa ikut." Itachi melangkah ke ruang kerjanya.
"Tentu saja. Aku ikut."
.
.
.
Beberapa hari berlalu tanpa kejadian berarti. Ino duduk di depan perapian membolak-balik halaman buku yang diberikan Madara. Tanpa ia sadari, ia telah membaca kepingan masa lalu Uchiha bersaudara. Beberapa paragraf membuat Ino menangis. Nasib putra mahkota begitu buruk. Jika saja Ino berada di tempat dan kejadian itu. Ia pasti akan berusaha melindunginya, memberikan kehangatan yang tak pernah diizinkan untuk dirasakan. Kasihan sekali mereka tumbuh dalam lingkungan tanpa cinta. Pada akhirnya sang Ibu merasa menyesal tak bisa melindungi anak-anaknya. Ino meletakkan buku itu di sampingnya dan tanpa sadar meletakkan tangan di atas perutnya yang rata.
Apa yang kelak ia rasakan untuk anak ini? Cinta, kebencian, sesal, amarah mungkin juga kebahagiaan? Bisakah dia melihat bayi yang dikandungnya lebih dari sekedar dosa sang ayah? Ino tak akan bisa lupa bagaimana Itachi memenggal kepala Shion atau bagaimana pria itu mengintimidasi dan menakutinya, tetapi sendirian dan terasing di sini membuat wajah Itachi menjadi satu-satunya hal yang familier. Apa dia sedang merindukan orang yang mengakibatkan dirinya hidup dalam nestapa? Demi dewa, dia tak seputus asa itu kan.
Ketika api perapian mulai padam, Pendeta yang biasa menemaninya datang.
"Ratu, Anda diperkenankan untuk menulis surat. Silakan titip pada saya. Petugas istana akan mengirimkannya."
"Terima kasih kakek pendeta, Aku akan menulis suratnya segera dan menyerahkannya pada anda." Ino ke kamarnya. Duduk di meja tulis. Dia menggosok tinta dan menyapukan ujung runcing bulu unggas di atas secarik kertas.
Wanita pirang itu tersenyum kecil. Ternyata Itachi mengabulkan permintaannya. Ia mencoret dan mengulangnya berkali-kali. Bingung harus menuliskan apa pada Gaara? Ia tak bisa menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dalam sepucuk surat. Sebab mungkin saja ada pihak lain yang akan membacanya sebelum sampai ke tangan Gaara.
Dia akhirnya menulis lima kalimat saja. Ino tak tahu apa ia merindukan Sabaku Gaara. Semakin lama ia semakin tidak mengerti tentang pilihan hatinya. Bukankah dia yakin saat pesta dansa itu Gaara adalah cinta sejatinya? Sekarang ia sadar. Ia lebih memikirkan keselamatan Itachi daripada keselamatan pria yang dengan tulus membawa prajuritnya datang menyeberangi benua demi membebaskannya. Dia tak pernah berpikir Gaara bisa kalah, tetapi bila kedua pria itu terlibat duel. Ino tahu Itachi tak akan segan membunuh pangeran Jakku bila ia bisa.
Ino menarik nafas panjang , lalu melepas cincin di jarinya. Batu permatanya berpendar dalam cahaya lilin. Itu adalah cincin pernikahan dengan lambang Uchiha berukirkan namanya. Ia sama sekali lupa mengapa ia mengenakan cincin yang mengikatnya dengan Sasuke selama ia tinggal di Mustafar. Padahal biasanya ia tak sudi mengenakan cincin itu bila tidak dibutuhkan. Ino memasukkan logam itu ke dalam amplop bersama surat yang ia tulis dan menyegelnya. Ia kembali dan menyerahkan surat itu pada sang pendeta.
"Tolong kirimkan surat ini pada sekretarisku di istana."
"Baiklah, Akan saya sampaikan."
Dalam perjalanan ke istana Madara membaca isi surat Ino dan tersenyum puas. Mustafar masih memiliki harapan. Begitu pula dengan cucunya.
.
.
Sai berhasil menemukan Ino. Dia membuntuti pendeta yang sering bersama Tobi. Pak tua itu sering keluar masuk istana dan insting Sai untuk mengikutinya benar. Dari atas atap bangunan itu ia mengamati Ino berbicara dengan sang pendeta. Sai lega melihat ratunya tampak baik-baik saja. Setelah Ino sendirian. Pria berpakaian serba hitam itu melompat turun dan menyelinap.
Ino kembali ke ruang tidurnya dan bingung melihat jendela yang terbuka. Sang ratu pun melangkah untuk menutup kembali jendelanya. Ia tak mau suhu kamarnya jadi terlalu dingin. Sebuah tangan tiba-tiba membekap mulutnya.
"Sht...t, Jangan berteriak, Yang mulia."
Ino mengenal suara itu. Dia pun mengangguk paham.
"Sai, Kau selamat?"
"Saya tidak akan mati sampai tugas saya selesai. Apa anda ingin pergi dari sini?"
"Apakah itu mungkin?" Tanya Ino penuh harap.
Sai mengangguk. "Kabur dari tempat ini jauh lebih mudah dari istana." Dalam waktu singkat Sai telah mempelajari sistem pengamanan di tempat terpencil ini. Ia bisa mengatasi dua puluh orang prajurit yang disiagakan oleh Itachi dan hutan lebat di sekeliling mereka bisa menjadi tempat bersembunyi.
Ino berpikir sejenak, menimbang apa yang akan ia dapatkan bila melarikan diri. Pertama, dia khawatir Itachi akan murka dan mengejar mereka. Kedua, Dia tidak dalam kondisi optimal untuk melarikan diri, kemungkinan akan menjadi kesulitan tersendiri. "Sai, Kau sudah tahu Gaara dan Kakashi sedang kemari?"
"Iya, Selama ini saya juga yang memberi intel tentang Mustafar kepada pangeran Gaara."
"Aku tak akan pergi, Sai. Aku rasa aku akan baik-baik saja di sini, tetapi jika kau bisa. Aku ingin kau berjaga di dekatku hingga perang ini berakhir. Aku takut Itachi berubah pikiran."
"Baiklah, Saya pasti akan menjaga keselamatan anda yang mulia. Kalau begitu saya permisi."
"Sai aku senang kau selamat."
Sang assasin berwajah dingin itu pun tersenyum.
Beberapa hari berikutnya Ino benar-benar merasa sakit. Semua yang dia makan, kembali ia muntahkan. Tubuhnya terlalu lemas bahkan untuk bisa sekedar duduk. Ino menghabiskan seluruh waktunya di tempat tidur. Dia pun menceritakan kehamilannya pada Sai yang menyamar menjadi salah satu pengawal. Sang kesatria Dathomir tidak berkomentar, dia hanya meyakinkan Ino semua akan berjalan baik untuknya.
Tak ada kunjungan dari Itachi, Ino berharap pria itu muncul hanya karena ia ingin memakinya. Wanita itu berbaring menyamping memandang jendela yang menampakkan warna langit senja. Pintu di belakangnya berderit. Tak ada orang lain yang berani masuk ke kamarnya tanpa mengetuk selain manusia itu.
"Itachi, Akhirnya kau muncul. Apa surat yang aku titip sudah dikirimkan ke Naboo?" ucap wanita itu memunggungi sosok yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Surat? Sepertinya Itachi bermurah hati padamu."
Suara itu langsung membuat Ino tersentak. Dengan perlahan ia berbalik hanya untuk melihat hantu. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Apa ia tertidur dan mengalami mimpi buruk lagi? Ino pun duduk menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Dia memejamkan mata dan mengucapkan doa singkat, tapi sosok Sasuke masih berdiri di sana "Kau tidak nyata dan kau sudah mati." Ucap Ino meyakinkan dirinya sendiri tiap kali ia melihat bayangan Sasuke.
"Dewa kematian tidak menginginkan nyawaku, Sayang. " Sasuke melangkah pelan mendekati ranjang.
Nafas Ino tertahan di paru-parunya. Rasa panik membuat tubuhnya kaku. "Kau masih hidup, Sasuke." Ratu Naboo ketakutan. Perasaan yang sama ia rasakan ketika hantu dalam mimpi buruknya mencekik leher dan meneriakkan balas dendam. Bagaimana bisa seseorang masih bisa bernafas setelah mengonsumsi racun belladona, tertusuk pedang dan jatuh dari jurang masih hidup? Ini mustahil.
Sasuke mengulurkan tangan kirinya meraih leher Ino. Sang ratu mencoba menghindar, tapi tubuhnya yang lemah membeku
"Aku kembali untuk memberikan pelajaran. Tak seorang pun bisa mempermainkan Uchiha dan tetap hidup."
Tangan Itu pun melingkari lehernya.
Di dekat kamar Ino, Itachi berdiri mematung. Ia tak bisa mengganggu pertemuan Sasuke dengan istrinya. Ia juga tak bisa menduga apa yang Sasuke akan lakukan. Sang raja Mustafar menyandarkan punggungnya di dinding dan menanti. Dia begitu khawatir Sasuke akan menyakiti Ino. Adiknya adalah seorang pendendam. Ia tak akan membiarkan Ino begitu saja setelah menyakiti hatinya dan mencoba membunuhnya.
"TIDAK..!" Ino berteriak.
Itachi meski tidak ingin ikut campur, tapi dengan seketika ia menghambur ke dalam ruangan setelah mendengar teriakan Ino. "Sasuke, Jangan sakiti Ino."
Ino mengira dirinya akan dicekik, tetapi Ibu jari Sasuke malah membelai garis rahangnya. Rona menghilang dari wajah Ino tergantikan oleh pias pucat dan ketegangan. Dia hampir menangis.
"Mengapa kau peduli, kak? Wanita ini jahat."
"Bukankah kita lebih jahat? Jangan menyesatkan diri dalam emosi. Hidupnya masih berharga untuk kita."
"Sejak kapan kau berubah kakak? Kau yang dengan mudah menebas kepala orang tua kita. Memilih membiarkan Ino hidup. Apa aku tak penting bagimu? Apa aku tak pantas mendapatkan keadilan."
"Sasuke, Tak ada keadilan dalam perang. Lihatlah Ino, Dia juga menderita. Kau dan aku tahu bagaimana rasanya memiliki tangan yang berlumur darah. Tanyakan apa dia merasa lega atas kematianmu?"
Sasuke melepaskan cengkeramannya di leher Ino. "Apa kau benar-benar menyesal mencoba membunuhku?"
Manik aquamarine-nya tak dapat menghindar dari tatapan dalam Sasuke. "Aku menyesal." Ucapnya terbata. "Sungguh menyesal."
Sasuke berlutut di sisi tempat tidur. Menggenggam tangan istrinya. Niatnya untuk membunuh Ino luntur melihat bulir air yang menetes dari sepasang mata yang tampak memerah.
"Mengapa kau melakukan ini padaku, padahal aku sangat mencintaimu. Kau mempermainkan aku hingga seperti ini. Alasan aku tetap hidup hanya untuk kembali padamu dan menuntut balas, tapi aku bahkan tak sanggup melakukannya karena hatiku begitu lemah." Ada separuh kebencian yang terarah pada dirinya sendiri sebab kali ini pun ia membiarkan hatinya bicara lebih keras dari logika. Sebuah kesalahan fatal seakan ia tak pernah belajar dari apa yang ia dapatkan dengan mempercayai Ino. Jauh di dalam lubuk hati Sasuke masih ingin berpegang pada sebuah asa.
"Maafkan aku Sasuke. Rakyatku lebih penting dari apa pun bahkan nyawaku sendiri. Kau seorang penjajah dan aku adalah ratu dari negeri yang kau taklukkan. Mencintaimu akan menjadi sebuah pengkhianatan. Musuh tidak bisa saling mencintai."
Sasuke tertunduk. "Aku tahu, Seharusnya aku tak perlu begitu percaya seorang musuh mau berusaha untuk mengerti diriku. Aku selalu berpikir kau wanita yang tulus."
Giliran Ino yang terisak, Keinginannya untuk menolong Sasuke benar adanya. Meski Ino mengerti dan simpati pada penderitaan Sasuke selama ini. Ia tidak bisa bertindak dan merangkulnya dengan tulus dan yang lebih membingungkan ia merasakan hal yang sama bagi Itachi. Kedua pria itu ibarat sesuatu yang rusak dan Ino ingin sekali memperbaikinya. Dia ingin menunjukkan pada mereka ada cinta bagi setiap orang dan membagi pandangan positifnya.
Itachi yang berdiri di sana, merasa luar biasa bersalah. Dia lah penyebab semua kekacauan ini. Jika saja ia tak memulai perang, jika saja ia tak meminta Sasuke pergi ke Naboo. Maka ia juga tak akan bertemu dengan Ino dan terjebak dalam perasaan ini. Adiknya benar-benar mencintai ratu Naboo. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Melihat Sasuke berlutut di depan wanita yang menangisi takdir buruk ini membuatnya serasa seperti orang luar. Itachi Uchiha tak pernah merasa iri hati hingga hari ini. Hal itu membuatnya sadar bahwa dia juga telah jatuh cinta pada Yamanaka Ino, tetapi ia tahu pendosa dan terkutuk seperti dirinya tak pantas mendapatkan cinta dan ketulusan. Apalah arti perasaannya. Dia bahkan tak layak untuk berharap. Ia tahu cinta bukanlah hal yang bisa dimenangkan. Sasuke sudah membuktikannya.
"Sasuke. Ayo kita pergi. Ino harus beristirahat." Mereka semua begitu emosional dan Itachi mengkhawatirkan bayi Ino.
Sasuke melepaskan genggamannya pada tangan Ino dan menghapus air mata yang jatuh di pipinya. "Aku membiarkanmu sekarang karena kau terlihat menyesal, tapi lain kali aku bisa saja berubah pikiran."
"Aku minta maaf. Atas semua ini."
"Kata Maaf tak bisa menghapus luka hati. Sebenarnya kau tak pernah menginginkanku." Sasuke berdiri dan berpaling dari wanita berambut pirang itu. Luka pengkhianatan Ino tak akan pernah pudar, Ia terjebak dalam dilema. Hatinya meski terluka masih menginginkan Ino, logikanya ingin membencinya setengah mati dan ia sendiri tak mau memaafkan. Sedihnya lagi ia masih sedikit berharap.
Ino diam membisu. Bertanya pada dirinya sendiri bila keadaan diabaikan siapa yang sebenarnya dia inginkan. Itachi, Sasuke atau Gaara? Dia tak bisa menjawabnya. Ino tak pernah memikirkan apa yang dia inginkan. Sebagai ratu ia harus memikirkan kepentingan banyak orang. Wanita pirang itu pun melirik Itachi. Pria yang berada diposisi yang sama dengannya. Apa dia juga punya dilema?
Di saat yang bersamaan Itachi juga melirik Ino. Pandangan merek bertemu sesaat. Itachi berharap untuk bisa bicara empat mata dengan Ino, tetapi dengan adanya Sasuke rasanya tak mungkin. Ia mengajak adiknya berjalan keluar meninggalkan Ino sendirian. Kedua bersaudara itu sibuk memikirkan konflik batin masing-masing dengan objek seorang wanita yang sama.
"Apa yang harus aku lakukan kakak?"
"Maafkan saja. Ino." Jawab Itachi datar. Keputusan yang menurutnya masuk akal.
Sasuke tampak syok mendengar kakaknya mengucapkan kalimat itu. "Mengapa kau mengatakan itu? Kau yang tak mengenal kata maaf dan ampun."
"Sebab aku baru sadar cara berpikir dan bertindakku hanya membuat lebih banyak kemalangan. Kekejamanku menumpahkan darah, darah melahirkan dendam menjadi sebuah siklus yang tak akan berhenti. Pertumpahan darah telah menjadi fondasi negeri ini dan seharusnya aku sadar bila aku menginginkan sebuah reformasi aku tak bisa memerintah seperti ayah dan para pendahuluku."
"Aku tak tahu bisa memaafkannya atau tidak."
"Manusia bisa berubah. Aku tak ingin kau hidup menderita dalam sesal dan dendam karena membunuh Ino. Ada satu hal yang aku rahasiakan dari semua orang, tapi kau berhak tahu."
Mereka berhenti berjalan dan duduk di taman. Tempat yang menyimpan sedikit kenangan indah tentang satu-satunya wanita yang melimpahkan kasih sayang pada mereka. Pandangan Itachi jatuh pada bunga-bunga lili yang mekar sambil berpikir apa dia harus mengatakan yang sebenarnya apa memelintir cerita.
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
"Ino tidak sakit. Dia sedang hamil."
"Bagaimana bisa?" Sasuke terkejut dan bingung.
"Kau tidur dengannya kan? Karena alasan penting itu aku melarangmu untuk menyakitinya."
"Sudah berapa lama?"
"Empat bulan." Jawabnya cepat setelah mengingat kembali kapan ia pergi ke Naboo.
"Aku tak menyadarinya. Perut Ino tak terlihat membesar."
" Dengar Sasuke. Aku minta kau tak ikut bertempur dalam perang ini. Mereka semua tahu kau mati dan biarlah Sasuke Uchiha tetap mati."
"Mengapa kakak? Biarkan aku membantumu, Apa kau menganggapku tak berguna?" Sasuke tertunduk lesu. Selama ini ia selalu menginginkan pengakuan dari kakaknya. Ia mengikuti jejak Itachi tanpa pernah bertanya. Apa kakaknya tak menghargainya sama sekali.
Itachi meletakkan tangannya di pundak Sasuke. " Bila Mustafar runtuh aku ingin menanggungnya sendiri. Kau berhak mendapatkan sebuah kesempatan untuk memulai hal baru. Aku hanya ingin kau bahagia. Jadilah orang bebas. Jangan mengikutiku lagi Sasuke. Kau bukan lagi bagian dari pasukanku."
"Aku tak mengerti mengapa kakak jadi seperti ini."
" Karena aku ingin kau hidup dan membesarkan anak itu. Mengajarkan dia sejarah tentang kerajaan ini."
"Aku membenci Ino dan dia tak menginginkanku. Bagaimana bisa kau membuat permintaan yang mustahil."
"Aku akan menemukan caranya. Hiduplah untuk anakmu. Harapan Mustafar." Dalam hati Itachi begitu merana. Dia ingin melihat Ino dan bersamanya. Ia ingin melihat anaknya dan jadi dewasa. Ia ingin memiliki kebahagiaan, tapi dia tak memiliki wanita itu. Dia bahkan tak punya hak untuk mengungkapkan perasaannya. Sang raja Mustafar merasa ia tak akan kembali dalam perang ini. Bila ia tak akan pernah bahagia maka ia ingin adiknya menemukan kebahagiaan itu bagi mereka.
"Kakak, Kau terdengar seolah akan mati." Sasuke merangkul kakaknya.
"Seorang kesatria tidak lari dari pertempuran." Itachi juga merangkul Sasuke. Entah sudah berapa lama ia tak pernah menunjukkan emosi pada adikknya. "Aku menyayangimu, Sasuke. Aku minta maaf sudah memaksamu mengikuti jejak langkahku."
"Tidak Kakak, Akulah yang ingin mengikutimu."
Itachi telah berbohong dan ia harus memberitahu Ino untuk tidak buka mulut tentang pernikahan mereka atau anak itu. Biarlah seperti ini. Sasuke kembali menjadi suami sah Ino dan menjadi ayah dari anaknya.
.
.
.
Garaa menerima dua surat. Satu di kirimkan dari Naboo satu lagi dari Mustafar. Sebuah jawaban negatif dari Itachi Uchiha. Ia sudah menduga pria itu tak akan menyerahkan Ino.
"Jenderal Kakashi. Siapkan pasukan kita. Tujuh hari lagi kita akan menyerbu Mustafar. Itachi menolak untuk menyerah dan mengembalikan Ino."
"Baiklah, Apa isi surat dari Naboo pangeran?"
Dahi Gaara berkerut. Ia menemukan cincin dalam amplop itu dan membaca pesan yang begitu singkat. "Ini ditulis oleh Ino." Ungkap sang pangeran. "Tapi aku tak mau percaya dia menulis karena keinginannya sendiri."
"Apa kata beliau?"
"Ino menyampaikan dia baik-baik saja dan memintaku untuk tidak menyerang rakyat sipil."
"Terdengar seperti beliau. Yang mulia Ino penuh belas kasih. Ia tak menginginkan korban yang tak perlu."
"Aku tahu, tapi permintaan terakhirnya tak masuk akal. Ia memohon padaku untuk tidak membunuh Itachi Uchiha. Aku yakin pria itu memaksa Ino untuk menulisnya. Sungguh tak tahu malu. Ia menantangku untuk duel, tapi menyuruh Ino memohon menyelamatkan nyawanya."
"Apa anda akan melakukannya pangeran?"
"Membiarkan Itachi Uchiha hidup? Tidak bisa Kakashi. Kita harus membunuhnya. Demi seluruh kerajaan di benua barat ini. Seorang diktator yang jahat tak boleh dibiarkan hidup."
Gaara pun membakar kedua surat yang telah ia baca. Sang pangeran tersenyum. Selangkah lagi Ino akan menjadi miliknya.
