Hari yang ditunggu-tunggu oleh para Murid Seigaku pun tiba. Festival olahraga akan diselenggarakan hari ini di dalam stadion Kota Tenipuri. Pada tahun-tahun sebelumnya, acara tersebut diselenggarakan di lapangan sekolah. Akan tetapi, atas permintaan dari salah satu orang tua siswa yang berkata akan membiayai festival tersebut, akhirnya lokasi acara pindah ke dalam stadion. Meski awalnya pihak sekolah agak keberatan, namun setelah mendengar antusiasme keluarga siswa yang tinggi, akhirnya mereka pun setuju. Karena mereka pikir lapangan sekolah saja tidak akan mampu menampung semua orang yang datang.
Pukul enam pagi Ryoma dan Momo sudah bangun dengan sendirinya tanpa harus dibangunkan Syuko. Mereka segera berganti pakaian dan pergi sarapan. Syuko dan Fuji pun sudah sibuk di dapur sejak pukul empat. Mereka membuat berbagai jenis makanan untuk dibawa ke festival.
Pada pukul tujuh, keluarga Seishun sudah siap untuk berangkat. Sebuah mobil yang sengaja Sadaharu sewa untuk hari ini pun sudah terparkir di depan rumah. Karena ini kali pertama mereka menghadiri festival olahraga, jadi semua orang tampak sangat bersemangat.
"Ibu, geser sedikit duduknya!"
"Sudah tidak bisa Ryoma. Sudah ibu bilang kan biar ibu pangku saja."
"Tidak mau! Aku ingin duduk di depan saja dengan kakek!"
"Kakek kan sudah duduk dengan Kaoru chan. Sudah, kamu di sini saja!"
"Maaf ya aku hanya bisa menyewa mobil kecil ini."
"Tidak apa-apa Sadaharu san. Masalahnya bukan ada di mobilnya. Tapi sepertinya Syuko yang bertambah gemuk."
"Apa?! Benarkah itu, bu?"
"Haha bercanda, kok."
Mobil keluarga Seishun akhirnya sampai di depan stadion. Setelah diparkirkan dengan rapi, semua bergegas keluar dari sana. Terlihat rombongan keluarga siswa lain sudah mulai ramai berdatangan. Ternyata tidak hanya Ryoma saja yang membawa kakek neneknya serta. Bahkan satu anak ada yang membawa sepuluh orang dari anggota keluarganya.
Ryoma dan Momo yang terlalu bersemangat mulai berlari menuju gerbang stadion. "Ayo, cepat!" teriak mereka.
"Hei, hati-hati menabrak orang!"
Syuko akhirnya memegang tangan Ryoma agar anaknya itu tidak lari dengan sembarangan. Sementara Momo bergandengan tangan dengan Fuji. Dan beberapa saat sebelum melangkah masuk melewati gerbang, terdengar bunyi klakson mobil yang nyaring. Semua orang tidak bisa untuk tidak melirik ke arahnya. Terlihat sebuah mobil putih mewah yang baru saja berhenti. Tanpa melihat ke dalamnya, keluarga Seishun dapat langsung mengetahui siapa yang ada di sana.
"Ryoma kun dan Momo chan ternyata sampai duluan, da ne!"
"Shinya!" sapa Momo sembari melambaikan tangannya.
"Selamat pagi, kak," Yuta yang baru saja keluar dari mobil bergegas mendekati Fuji.
"Hai, Yuta. Akhirnya kita bertemu lagi."
"Iya, ya. Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Fuji san! Ufufu." Mizuki turut menyapa, namun Fuji langsung mengabaikan kehadirannya begitu saja.
"Bagaimana jika kamu dan Shinya makan bersama kami nanti?"
"Boleh saja, kak."
"Tidak kusangka kamu akan datang, Akazawa."
"Ya, berkat kabar yang mengatakkan bahwa kamu akan datang."
"..." Tezuka mulai merasa akan ada sesuatu yang terjadi hari ini.
Keluarga Seishun dan Keluarga Rudolph pun masuk ke dalam stadion bersama-sama. Sangat jelas keduanya terlihat begitu antusias mengikuti rangkaian kegiatan di festival hari ini.
Sejauh mata memandang, sudah banyak sekali orang yang datang. Hal itu membuat mereka kesulitan untuk menemukan tempat duduk. Hingga akhirnya seseorang datang membawa penyelesaian masalah bagi mereka. "Selamat pagi!" sapanya.
"Eh? Barusan ada yang bicara padaku?" tanya Syuko kepada keluarganya yang berdiri di belakang. Namun semua orang menggeleng.
"Syuko chan, ini aku!"
Akhirnya Syuko melirik ke arah yang tepat saat seseorang menepuk bahunya. Ternyata Minami sudah berdiri si sana. "Ah, Minami san! Sejak kapan?"
"Ahaha..." Minami hanya tertawa dipaksakan.
"Selamat pagi, Minami san," Fuji turut menyapa.
"Selamat pagi, semua. Senang sekali kalian ternyata datang juga."
"Iya, karena event ini jarang ada jadi kami tidak ingin melewatkannya."
"Aku dan Higashi pun berpikir seperti itu."
"Oiya, apa Minami san sudah dapat tempat duduk?" tanya Syuko.
"Ya, tentu saja! Meski aku kesulitan mendapatkannya, tapi Ako benar-benar bisa diandalkan. Dia menemukan lokasi yang bagus sekali. Itu di sana!" Minami menunjuk ke sisi lapangan dimana sebatang pohon besar tumbuh dengan lebatnya.
Semua orang melirik ke arah yang ditunjukkan Minami. Dan mereka pun akhirnya dapat melihat Ako juga keluarganya sedang melambaikan tangan ke arah mereka. "Bagaimana kalau kalian bergabung saja? Kebetulan tempatnya luas."
"Wah, terima kasih!"
Akhirnya keluarga Seishun dan Rupdolph pun bergabung dengan keluarga Yamabuki. Di dalam satu tempat, mereka membentangkan tikar masing-masing. Karena satu tikar hanya cukup ditempati oleh satu keluarga saja.
Acara akan dimulai pada pukul delapan, jadi masih ada banyak waktu bagi mereka untuk berbincang-bincang. Keluarga teman-teman Ryoma dan Momo yang lain pun masih belum terlihat kehadirannya.
"Ngomong-ngomong, Minami san," Fuji tampak penasaran terhadap sesuatu. "Kenapa ya lahan di sebelah sini tidak ada yang mau menempati lagi selain kita?"
"Oh, soal itu. Aku sengaja meminta Ako mengosongkan sisi sebelah sini."
"Untuk apa?"
Minami tersenyum penuh arti. "Karena aku pikir akan seru jika kita semua bisa berkumpul lagi seperti dulu."
"Oh, begitu... Aku mengerti," balas Fuji sembari turut tersenyum.
Tak lama kemudian, Kiyoko yang menyadari kedatangan sang teman mulai melambaikan tangan. "Aoi kun! Sini!"
Dari kejauhan, Aoi kun yang sadar Kiyoko memanggil bergegas mengajak keluarganya untuk menemui temannya itu. Saking semangatnya, Aoi akhirnya berlari lebih dulu meninggalkan ayah ibu dan nenek kakeknya yang terpaksa mengikutinya.
"Itu Fuji ya? Benar Fuji kan?" ucap Sae yang baru saja tiba di hadapan keluarga Seishun.
"Sae!" sahut Fuji dengan gembira saat bertemu dengan salah satu sahabat terbaiknya itu.
"Akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian lama!"
Sementara Fuji dan Sae sedang asik bernostalgia mengenai masa mudanya, Mizuki yang menyadari kehadiran Ryoko bergegas memeluk anak perempuan itu."Akhirnya kita bertemu lagi!" ucapnya.
"Mizuki! Kembalikan anakku!" Haruka bergegas merebut kembali Ryoko dari pangkuan Mizuki. Sementara si anak yang diperebutkan hanya terdiam tanpa bereaksi apapun.
"Maaf, apa kami boleh duduk di sini?" tanya Ishiki dengan sangat sopan.
"Iya, tentu saja. Sudah sengaja disiapkan untuk kalian juga," jawab Syuko.
"Wah, terima kasih banyak!"
Sementara anggota keluarganya saling mengobrol, Ryoma dan teman-temannya mulai bercanda sembari menanti teman-teman yang lain. Saat itu, mereka tampak senang saat melihat keluarga Fudoumine, Shitenhouji dan Gin yang datang hampir bersamaan. "Kinta! Zaizen!" Momo paling dulu berteriak menyambut temannya yang langsung berlari ke arahnya itu.
"Aduh Kinta kun~ jangan lari-lari dong~" Koharu bergegas menyusul dengan berlari kecil.
"Wah, wah kalian ternyata sudah datang mendahului aku ya?" Kurako yang baru saja tiba langsung berjalan ke arah Fuji dan Sae yang sedang asik mengobrol.
"Kurako chan!" sambut Sae. Terlihat jelas bahwa dia dan Fuji amat bahagia dapat bertemu kembali dengan sahabatnya itu.
"Rasanya senang sekali saat aku membayangkan akan bisa bertemu kalian di sini. Bahkan sejak semalam aku tidak bisa tidur," ujar Kurako.
"Aku juga benar-benar tidak menyangka!"
"Karena kita bertiga sudah berkumpul, berarti hanya tinggal dia ya?"
"Iya, sebentar lagi dia pasti akan segera sampai."
Keluarga Shitenhouji pun akhirnya bergabung di tempat yang sama. Koharu bergegas menggelar tikar dan bergabung dengan Syuko serta ibu-ibu lainnya. Sementara itu, Chitose mendekat ke arah Tezuka yang sedang duduk bersama Ishiki, Higashi dan Akazawa.
"Rasanya baru saja kemarin kita bertarung di lapangan ya, Tezuka?"
"Waktu berlalu begitu cepat."
"Iya, tidak terasa sekarang kita sudah mulai beruban." Chitose duduk di samping Tezuka.
"Kalau kamu ada, berarti dia juga pasti datang kan?"
"Tentu saja. Dia pasti akan sampai di sini dalam empat puluh detik," Chitose berkata dengan penuh percaya diri.
Ternyata benar saja, keluarga Fudoumine langsung tiba beberapa saat setelahnya. "Hmm... semua berkumpul di sini ya... kalian beruntung sekali bisa mendapat tempat yang bagus. Enaknya... aku juga pasti akan langsung memilih tempat ini juga..." Shinji bergumam seperti biasanya.
"Shinji san, keluargamu boleh bergabung juga kok. Kami sengaja menyiapkan tempat untuk kalian juga."
"Benarkah itu? Terima kasih banyak, lho Syuko san!" sahut Mori.
"Tidak, tidak. Berterima kasihlah pada Ako san."
"Ohh..." ucap Tachibana pertama kali saat sampai di tempat teman-teman lamanya berkumpul. "Jadi ini alasan kenapa Chitose ingin sekali datang ke acara ini ya?"
"Sudah kubilang berapa kali, kan. Tezuka memang sudah kembali ke kota ini!"
"Iya, iya. Sekarang aku percaya."
"Senangnya! Senangnya!" Aki mulai melompat-lompat.
"Aki kelihatannya bahagia sekali!" komentar Momochan.
"Tentu saja! Soalnya ayah ibu, bahkan kakek nenek juga datang ke sini. Kalian juga pasti senang kan?"
"Iya, kamu benar!" sahut teman-temannya yang lain.
"Eh, Kinta kun! Keluarga Jackal tidak berangkat bersama?" tanya Momo yang masih mengkhawatirkan temannya yang satu itu.
"Sebentar lagi pasti datang kok! Nah, itu mereka!" Kinta menunjuk ke arah pintu gerbang. Terlihat Jackal berjalan di antara orang tuanya sembari bergandengan tangan. Anak botak itu terlihat tidak henti-hentinya tersenyum bahagia.
"Niichan! Niichan!"
"Hmm?"
"Keluarga botak datang!" bisik Momo chan spontan. Hal itu tidak henti membuat Ryoma tertawa kecil.
Keluarga selanjutnya yang datang adalah Higa. Kai, si anak perempuan yang tidak pernah mau diam langsung menyadari keberadaan temannya dan memutuskan untuk bergabung. Pada awalnya sang kakek berkata akan mencari tempat lain, namun setelah menyadari ada seseorang yang ingin ditemuinya di sana, dia bergegas menyusul Kai.
"TEZUKA!" ucapnya pertama kali saat bergabung dengan keluarga lain. Seakan dalam matanya hanya ada Tezuka yang bahkan tidak bereaksi apapun.
/
/ T / E / N / I / P / U / R / I /
/
Tempat di sekitar keluarga Seishun sudah mulai terisi penuh. Hanya saja masih ada yang mereka tunggu untuk melengkapi kekosongan yang ada.
"Hmm!"
"Ada apa, Tezuka?" tanya Chitose. Dia merasa Tezuka sedang merasakan sesuatu.
"Dia datang," jawab Tezuka singkat.
Dari arah gerbang stadion, terdengar hiruk-pikuk orang-orang yang tampak membicarakan sesuatu. Pandangan mereka semua seakan tertuju kepada satu titik yang sama. Tentu saja keluarga Seishun dan yang lain pun turut melirik ke sana dan menebak-nebak siapa yang baru saja sampai.
Beberapa saat kemudian, terlihat seorang anak lelaki berambut keriting yang berlari. Dia tampak memanggil-manggil orang tuanya dengan tidak sabar.
"Akaya!" seru anak-anak yang ada.
Akaya yang sadar namanya dipanggil pun segera meminta keluarganya untuk bergabung bersama teman-temannya. Rombongan keluarga Rikkai akhirnya tiba dengan disambut oleh ratusan pandangan yang tak henti menatap ke arah mereka.
"Aduh, rasanya jadi tegang begini," komentar Kenya yang terlihat malu-malu.
"Kamu harus mulai membiasakan diri dengan keadaan seperti ini, Kenya." ujar Renji.
"Itu benar. Semua ini sudah sewajarnya terjadi. Karena kita adalah keluarga Rikkai!" sambung Sanada yang berjalan dengan gagahnya.
Dari kejauhan, Yuki sudah dapat melihat ketiga sahabat yang melambaikan tangan kearahnya. Melihat hal tersebut dia seakan ingin berlari ke sana. Hanya saja sebagai bagian dari keluarga Rikkai, dia harus tetap menjaga wibawa.
"Selamat datang, Yuki!" sambut Fuji saat orang terakhir yang dinantinya tiba.
Sementara itu, Sanada yang berjalan paling belakang mulai fokus ke satu titik dimana Tezuka berada. Hingga akhirnya mereka berdua pun bertemu pandang dan saling menghunuskan tatapan tajam. "Kamu masih punya nyali untuk kembali ke sini ternyata," ucapnya pertama kali saat sampai di hadapan Tezuka.
"Kamu sendiri masih saja bernyali untuk menemuiku di sini," balas Tezuka.
Untuk beberapa saat keadaan terasa seakan-akan perang besar akan terjadi. Namun beberapa saat kemudian, Sanada dan Tezuka saling berjabat tangan. Senyuman kecil muncul dari bibir keduanya. Sang Ouja Rikkai pun turut duduk bersama di sana.
"Kupikir kamu akan menjadi yang paling akhir sampai," Tezuka mulai kembali berbicara.
"Memangnya kenapa?"
"Berarti perasaan tidak enakku tadi bukan berasal darimu."
"Hmm... karena kamu berkata seperti itu, aku jadi merasakan perasaan yang sama."
"Kira-kira apa yang akan dia lakukan kali ini?"
"Kamu masih ingat saat dia datang naik kereta kuda di hari kelulusan?"
"Hmm... tidak mungkin aku lupa."
Tiba-tiba, semua orang merasa angin hari ini berhembus sangat kencang. Bahkan terus bertambah kencang seakan sedang ada badai yang mendekat. Semua orang mulai berteriak panik, namun tak lama setelahnya mereka baru sadar dari mana angin besar tersebut berasal. Sebuah helicopter sedang berusaha mendarat dengan perlahan ke tengah stadion. Semua orang yang semula berada di sekitar sana bergegas lari ke pinggir lapangan.
"Si pembawa firasat buruk itu datang..." komentar Tezuka.
Angin yang dihasilkan helicopter membuat semua orang menutup matanya hingga baling-baling benda raksasa itu berhenti berputar. Setelah itu barulah mereka bisa melihat dengan jelas sebuah sebuah helicopter berwarna putih biru yang bertuliskan 'HYOUTEI' pada ekornya.
Jiro dan Wakashi melompat keluar dari dalam heli. Mereka langsung bergabung dengan teman-temannya yang lain. "Selamat pagi, semua!" sapa Jiro dengan ceria.
"Uwaa, Jiro kun keren!"
"Pasti itu pesawat kakeknya Jiro ya?"
"Kenapa keluarga Jiro kun keren sekalai? Lucky!"
"Aku ingin naik pesawat itu juga!"
"Bikin mata pedih saja..."
Semua anak mulai bersahut-sahutan. Sementara Jiro sendiri hanya tertawa senang tanpa ada maksud untuk pamer sedikitpun. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan sang ibu yang baru saja turun dari dalam heli. "Duh, apa kedatangan kita terlalu biasa ya?" tanya Mukahi.
"Kamu bicara apa, Mukahi san... Semua orang pasti terkejut melihatnya," timpal Toriko.
"Yang penting, apa mereka terkejut juga? Annh?" Sang pemegang kekuasaan tertinggi di keluarga Hyoutei akhirnya turun dari dalam helinya. Tentu saja pandangannya langsung tertuju ke arah Tezuka dan Sanada.
"Kamu sepertinya tidak berubah ya, Tezuka."
"Kamu juga masih saja senang membuat kejutan, Atobe."
"Tentu saja. Ore sama ini memang penuh kejutan."
Di saat yang sama, Taki mulai memerintahkan pegawainya untuk menyiapkan tempat duduk di tempat yang sejajar dengan keluarga Seishun. Sebuah karpet merah yang mewah dengan hiasan berwarna emas di sisinya pun digelar. Terlihat sangat kontras dengan tikar milik keluarga lainnya. Beberapa buah bantalan duduk di susun di atasnya.
Sebelum helicopter kembali terbang, si anjing besar Kabaji melompat keluar. Dengan santai dia berjalan ke tempat dimana Eiji, Muro, dan Jack (anjing Jackal) berada. Keempat hewan itu pun duduk dan saling berpandangan dengan wajah serius.
Akhirnya kesembilan sahabat lama beserta keluarganya telah berkumpul. Untuk beberapa saat sebelum festival dimulai, mereka sedikit melupakan tujuan sebenarnya mereka datang ke tempat tersebut. Namun pada akhirnya, mereka kembali sadar setelah sebuah suara terdengar dari pengeras di tengah stadion.
"Festival olahraga Seigaku ke lima puluh tiga akan segera dimulai."
