Author note di awal fanfic
Kayaknya sindrom setelah buka mata setelah tidur dan langsung pegang laptop untuk ngerjakan tugas itu gak segampang itu buat dihilangkan ya? Tapi tugas besar sudah selesai dan karena tahu gak ada deadline untuk minggu ini, jadinya saya ngetik fanfic saja. Lumayan untuk tahu berapa banyak yang bisa saya tulis sebelum kelaparan menyerang perutku dan memaksa saya untuk berhenti.
Dan saya tahu sekarang apa yang memicu untuk menulis rate M dan bagaimana cara mengatasinya. Tapi aku sedang malas menuliskan rate M di sini karena fanfic OS 10k punyaku juga rating itu. Sepertinya itu dipublish tahun depan, well balik lagi sama mood sih sebenarnya mau mengerjakannya kapan (yang 10k dan rate M itu).
Dan ini nyambung dengan Kiss It Away.
.
.
Love Song
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Standar warning. Tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan fanfic ini. Menggunakan first POV.
[Akashi Seijuuro] x [OC]
Love Song © tsaforite
.
.
N—New Love
I can be whatever you like—Maroon 5
Aku bilang karma, dia bilang cinta sejati. Aku bilang ini hal bodoh, dia bilang ini hal berharga. Aku tidak mau, dia memaksa.
Dan itu adalah aku dan Akashi.
Aku tidak tahu apa yang merasuki Akashi setelah aku melakukan dare konyol itu. Tiba-tiba dia memutuskan semua pacar-pacarnya, membuang kartu teleponnya dan menggantinya dengan yang baru dan yang paling menyebalkan diantara semua itu adalah sekarang sasaran flirting lelaki itu adalah aku!
"Sei-kun ...," panggilku kesal saat aku melihat semua asisten mangaku malah tidak bekerja akibat menganggu semua asistenku yang memang bergender perempuan.
"Ya darling?" tolong, tahan aku untuk tidak mengambil tongkat kasti yang berada di pojok ruangan untuk aku hantamkan ke kepala Akashi sekarang. Siapa tahu fungsi otak Akashi geser dan jika dipukul dengan tongkat itu bisa kembali dengan normal lagi.
"Berhenti mengangguku dan terutama asistenku," desisku kesal dan menatap Akashi tajam dan malah membuatnya menyeringai.
"Kenapa Mizu-chan? Kau cemburu?" tanyanya sembari tangannya memainkan sedkkit rambutku dan berakhir dengan mencium rambutku.
Aku hanya memutar kedua bola mataku dengan bosan. Gombalan murahan ini tidak akan mempan padaku. "Kau mengangguku. Dan asal kau tahu saja, rambutku belum aku keramas dua hari ini, jadi jangan kau pikir akan sebagus perempuan yang biasa menjadi mainanmu."
"Tapi bagiku rambutmu selalu wangi," aku mendengarnya pura-pura muntah dan Akashi semakin menyeringai senang.
"Peringatan terakhir, kau duduk di sofa itu dan menjadi anak baik atau aku akan memberimu pelajaran," ancamku dan menunjukkan sofa merah yang berada di pojok ruangan dekat dengan tongkat kasti yang ingin aku gunakan untuk memukul kepala Akashi tadi. Dan kenapa sofanya berwarna merah sementara aku menyukai warna hijau, salahkan saja lelaki itu yang seenaknya merubah pesanan sofaku di detik-detik terakhir pengiriman dan sofa itu tidak bisa ditukarkan lagi meskipun aku ingin.
Akashi memang menurutiku untuk duduk di sofa itu. Namun baru saja aku berbalik dan berjalan dua langkah, suara cekikikan perempuan yang merupakan suara asistenku membuatku kesal. Aku langsung berbalik dan menuju tempat Akashi yang posisinya sedang duduk di pojok sofa yang posisinya persis di pojok ruangan.
Dia melihatku hanya tersenyum menggoda sebelum wajahnya melongo tidak percaya dengan yang aku lakukan. Sebelah tanganku memegangi bahu sofa yang berada di pojokkan dan sebelah tanganku menahan wajah Akashi untuk mempermudahku untuk menciumnya. Dan aku tentu saja menciumnya hanya untuk membuatnya diam dan tidak pecicilan, bukan karena dare konyol apalagi untuk perasaan konyol bernama cinta.
"Bagus kau tahu caranya untuk diam sekarang," ucapku datar dan masih belum beranjak dari posisiku. Aku tidak peduli bagaimana semua asistenku menjerit entah karena shock, senang atau entahlah di dalam pikiran mereka yang absurd itu. "Dan jangan pikir hanya kau saja yang bisa melakukan semua hal semaumu dengan sekitarmu. Aku juga bisa,"
Aku beranjak dari posisi itu dan kembali lagi ke ruanganku yang khusus menggambar. Meninggalkan Akashi yang wajahnya semerah warna rambutnya. Kupikir dengan hal yang aku lakukan tadi, dia bakalan menjadi anak baik untuk hari itu. Dan memang benar, setelah kejadian itu dia langsung pergi keluar dari tempat kerjaku yang merupakan salah satu dari sekian banyak ruangan di rumahku yang besar ini.
Tapi jika masalah yang ditimbulkan Akashi sudah selesai, ternyata salah besar. Karena besoknya, aku selalu diteror untuk diajaknya menikah dan kepalaku benar-benar sakit sehingga aku benar-benar membawa tongkat kasti kemanapun aku melangkah. Aku tidak peduli dilihat seperti apa oleh orang-orang, tapi sifat Akashi benar-benar membuatku sakit kepala.
Karena aku tidak tahu, efek ciuman yang aku maksudkan untuk membungkam mulutnya malah membuat Akashi benar-benar jatuh cinta padaku.
tsaforite
31/12/2014
