Naruto © Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC (no warning, no bad Naruto here)

"Sepertinya hujannya akan lama."

Sasuke melihat ke luar jendela, menghela nafas. Untuk kesekian kalinya ia mengerling jam tangannya. Jam setengah sepuluh; ia sudah menghabiskan lima potong kroket dan dua cangkir teh. Sedangkan Sakura, bahkan sepotong kue kejunya belum habis disantap. Gadis itu diam saja dari tadi, memandangi motif yang tergambar pada pinggiran ceper. Tangannya dilipat di atas pangkuannya, dengan postur tubuh kaku sekali.

Sasuke menghela nafas lagi, kemudian bersandar ke belakang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan memandangi gadis di hadapannya.

"Kenapa kau diam saja?"

Tidak ada jawaban.

Sekarang Sasuke mulai merasa seperti sedang berhadapan dengan manekin. Ternyata diacuhkan seperti ini tidak menyenangkan. Dan ia sering sekali mengacuhkan orang-orang di sekitarnya. Baru ia tahu bagaimana rasanya.

"Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba mengacuhkanku seperti ini. Apa sekarang kau membenciku karena aku berteman dengan Naruto lagi?" Ia memicingkan sepasang mata onyxnya, bertanya dengan nada curiga.

Saat itu Sakura mengangkat kepalanya, memandanginya sebentar sambil mengerjapkan sepasang mata emeraldnya, lalu kembali melihat ke ceper yang begitu menarik dan menggelengkan kepalanya. Seperti orang bodoh.

Ya, seperti itu.

Sasuke jadi ingin meninju muka memelas Sakura. Atau memakinya. Atau menciumnya. Entahlah, mungkin ia akan memilih alternatif yang paling tidak menyakitkan; alternatif terakhir.

"Lalu kenapa? Kenapa kau tidak mau bicara padaku?" Nada bicaranya melembut.

Sakura masih belum mau bicara juga. Pegangannya pada cangkir mengerat, tapi Sasuke tidak sempat melihat.

"Tsk!" Kali ini ia sengaja mengeraskan decakan lidahnya, menghempaskan badannya ke sandaran kursi di belakang. Berhasil menimbulkan bunyi mendecit dari kaki kursi yang beradu dengan lantai, mundur dua inci.

Sebelumnya ia tidak keberatan didiamkan begini. Seperti beberapa waktu yang lalu di atap sekolah setelah ia menculik Sakura dan membawanya kabur dari tempat persembunyiannya di toilet yang bau. Saat itu semuanya terasa begitu pas. Ia bisa sedikit memahami bahwa air mata dapat mengungkapkan apa yang tidak dapat diucapkan oleh kata-kata. Namun bagaimana pun juga, ia bukan paranormal yang dapat membaca pikiran orang. Kalau sekarang ia tidak menangis seperti waktu itu, Sasuke tidak tahu apakah Sakura sedang merasa terganggu atau tidak. Ia merasa iya, tapi kalau gadis itu tidak mau bicara maka tidak ada yang bisa dilakukannya.

Sasuke menghela nafas. Saat-saat seperti ini ia ingin mengeluh seperti yang sering dilakukan oleh Shikamaru. Merepotkan. Ia jadi mempertanyakan lagi tentang perasaannya; apakah benar ia sudah jatuh cinta pada gadis yang suka mempersulit dirinya sendiri seperti Sakura?

Sasuke kembali meluruskan posisi duduknya dan baru akan membuka mulutnya untuk bicara saat tiba-tiba ponsel dalam saku celananya bergetar.

Tanpa perlu melihat layarnya pun ia sudah tahu dari siapa panggilan itu berasal.

Menekan tombol bergambar telepon warna hijau, Sasuke tidak langsung menempelkan ponselnya ke telinga; membiarkannya dulu dalam genggaman tangan, dalam jarak aman yang cukup jauh dari telinganya. Samar-samar terdengar suara teriakan dari seberang. Sasuke mengernyitkan kening. Setelah dirasa cukup aman, ia baru menggenggam ponselnya dengan benar.

"Ada apa, Aniki?"

"Heh, kau tahu jam berapa ini?! Kenapa belum pulang? Pasti keluyuran ke tempat game. Iya, kan?!"

Ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, melempar pandangan kepada Sakura yang melihat ke arahnya dengan sedikit heran. Diteriaki oleh kakakmu dari telepon hingga suaranya sampai terdengar ke telinga orang lain cukup memalukan juga. Apalagi di hadapan gadis yang kau sukai.

"Tidak usah teriak-teriak, aku tidak tuli."

"Kalau kau tidak tuli, jawab pertanyaanku! Kenapa belum pulang juga?! Jangan bilang kau pergi minum-minum!"

Ia mendecakkan lidah. "Jangan sembarangan. Aku terjebak hujan karena tidak membawa payung."

"Salahmu sendiri tidak mau membawa payung! Sekarang katakan di mana kau bersembunyi, anak muda! Aku akan menyeretmu pulang dengan segera!"

"Toko kue Konoha. Tapi awas saja kalau kau sampai mempermalukanku di depan umum!"

"Heh, kau jajan di toko kue mahal itu? Tidak tahu diri! Kau pikir uang tumbuh dari pohon di belakang rumah?! Kenapa kau boros-" Sasuke mengakhiri panggilan dengan cepat. Ia tidak punya waktu untuk mendengarkan omelan Itachi. Atau mereka akan berakhir bertengkar di telepon seperti pasangan muda. Dan ia tidak mau hal itu terjadi di depan Sakura.

"Kakakmu?"

Sasuke menganggukkan kepala, menenggelamkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya.

Akhirnya gadis itu mau bicara juga, walaupun sebenarnya Sasuke berharap ia tidak akan berkomentar mengenai obrolan telepon memalukan barusan. Ah, sekarang ia sibuk berharap Itachi tidak akan benar-benar menyeretnya dari tempat ini. Atau mengomelinya. Atau menjentikkan jari mengenai jidatnya. Atau mengatakan akan memotong uang sakunya dengan keras. Atau menjewer telinganya. Apa pun. Yang penting tidak di sini. Tidak di tempat umum seperti ini. Tidak di depan Sakura.

Ia jadi sedikit khawatir dan merasa was-was. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan Itachi? Kakaknya itu tidak bisa diprediksi, apalagi saat sedang marah. Sasuke tidak akan heran jika pemuda itu muncul dengan menendang pintu dan langsung meneriakkan namanya dengan lantang tanpa melihat-lihat sekeliling.

Sekarang Sasuke juga ikut terdiam. Ia sedang menimbang-nimbang apakah akan tetap tinggal di sini dan menunggu Itachi datang menjemputnya dengan kemungkinan besar akan mempermalukannya di depan Sakura atau kabur menerobos hujan. Tapi ia tidak mungkin meninggalkan Sakura di sini sendiri. Tidak mungkin juga mengajak gadis itu berlari-lari menerjang derasnya hujan. Kalau saja hujannya sedikit reda mungkin tidak apa-apa. Bukankah berjalan berdua di tengah rintik-rintik gerimis di bawah lindungan blazer terkesan romantis?

Sasuke menggelengkan kepalanya. Yang seperti itu klise dan menjijikkan sekali. Tidak sesuai dengan gayanya. Blazernya terlalu mahal untuk dijadikan payung. Lagipula ia hanya punya satu dan kalau sampai kotor dan basah, apa yang akan ia kenakan untuk esok hari? Berdua di bawah naungan payung jauh lebih baik daripada itu.

Ia mengawasi keadaan luar dan menolehkan kepalanya tiap kali mendengar bunyi lonceng di atas pintu. Ia pikir akan sempat mencegah Itachi melakukan tindakan yang akan mempermalukannya di depan umum.

Dan sekarang ia yang terlihat seperti orang bodoh.

"Oh, Sasuke!"

Ia menolehkan kepalanya mendengar suara yang begitu familiar. Suara yang terakhir ia dengar tak lebih dari dua jam yang lalu.

Naruto.

Kemudian ia segera menoleh kepada Sakura. Gadis itu terlihat tegang, kepalanya menunduk dalam. Sasuke melihat lagi ke arah Naruto, memperhatikan sebentar bagaimana tangan kiri pemuda itu bertautan dengan tangan mungil Hinata. Ternyata orang itu tidak bohong soal kencannya dengan Hinata. Dan sejak kapan ia berbohong kalau akan bertemu dengan pacarnya? Ia berharap tiba-tiba Itachi masuk sambil menendang pintu dan menyeretnya pergi dari sini. Tentu ia akan menyeret Sakura juga.

Kalau tidak memperhatikan, mungkin ia tidak akan menyadari bagaimana langkah kaki Naruto sempat terhenti saat hendak menuju ke mejanya. Sebelumnya pemuda itu mungkin tidak menyadari keberadaan Sakura. Tapi hal itu agak mustahil, mengingat warna rambut pink lembut seperti itu terlihat sangat mencolok dan mudah dikenali. Mungkin saja Naruto terlalu asyik dengan pacarnya.

"Sasuke-kun." Hinata tersenyum dan menganggukkan kepala menyapanya. Sasuke tersenyum kecil.

Hyuuga ini adalah teman mereka waktu SMP dan merupakan pacar Naruto yang bertahan paling lama, bahkan sebelum Yamanaka. Ia adalah siswi SMU putri yang sangat ketat peraturannya di kota seberang, sehingga jarang sekali bisa bertemu dengan Naruto. Itulah awal mulanya si playboy berkepala durian itu berpacaran juga dengan Yamanaka dan gadis-gadis lain selama di SMU.

"Kukira kau akan langsung pulang." Naruto melirik ke arah Sakura dengan tidak suka.

"Tiba-tiba saja hujan deras. Aku tidak bawa payung."

Sasuke tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk mengatasi kecanggungan seperti ini. Sakura masih belum mau mengangkat kepalanya untuk menyapa, dan Naruto beserta Hinata berdiri di depan meja mereka saja.

Canggung sekali.

Ia tidak tahu apakah harus menawarkan mereka berdua untuk bergabung atau pamit pulang duluan dan mengajak Sakura pergi dari sini. Tapi hujan di luar masih begitu deras. Ia benar-benar berharap Itachi muncul dari balik pintu sekarang juga. Kemana perginya kakaknya itu saat darurat seperti ini?

"Kenapa kita tidak duduk di sini saja, Naruto-kun? Tidak apa-apa kan, Sasuke-kun?"

Mana mungkin ia berkata tidak dan melarang mereka berdua untuk duduk.

"Ah, tentu saja. Duduklah."

Sasuke berdiri, berpindah tempat duduk di samping Sakura. Hinata tersenyum dan mengucapkan terima kasih, kemudian duduk berhadapan dengan Sakura. Sementara Naruto duduk menghadap Sasuke, masih mengenakan tampang tidak suka pada wajahnya.

Seorang pelayan mendatangi meja mereka, membuat Sasuke sedikit bernafas lega. Setidaknya ada sedikit pengalih perhatian dari pandangan tajam Naruto yang diarahkan kepadanya.

"Kau mau pesan apa, Sayang?" Naruto bertanya pada Hinata, melihat ke arahnya dengan ekspresi wajah yang berbeda.

"Kue mandarin ini kelihatannya enak. Aku ini saja. Dan teh hijau."

"Baiklah. Kue mandarin dan teh hijau untuk dua orang. Sasuke, kau mau tambah sesuatu?"

"Tidak usah. Aku sudah kenyang."

Pelayan itu pun pergi. Suasana canggung lagi.

Sekarang ia merutuki Itachi yang tak kunjung datang. Tapi ia sedikit bersyukur karena yang bersama Naruto bukan Yamanaka. Gadis berambut pirang itu tentu akan banyak bicara dan membuat semuanya tambah tidak mengenakkan.

"Pacarmu, Sasuke-kun?"

Pertanyaan seperti itu yang ditakuti oleh Sasuke. Padahal seingatnya dulu Hinata sangat pemalu sekali dan tidak pernah bertanya yang macam-macam menyangkut orang lain.

"Bukan. Teman sekelasku."

"Belum, tapi segera." Naruto menambahi dengan cepat. Memamerkan cengirannya seperti biasa. Tapi tatapan matanya tidak sama.

"Benarkah? Ah, tapi bukankah kalian berdua juga satu kelas, Naruto-kun? Siapa nama― nya?" Hinata sedikit ragu untuk bertanya karena Sakura terlihat tidak mau berinteraksi sama sekali.

Diam-diam Sasuke menyenggol kaki Sakura dengan kakinya, memberi tanda padanya untuk sedikit membuka diri. Karena ia merasa tidak akan pantas jika gadis itu duduk diam saja sementara mereka bertiga mengobrol dengan akrab.

Si pemilik mata emerald mengangkat kepalanya pelan.

"Sakura Haruno." Sasuke melirik ke arah Naruto dengan waspada. Pemuda berambut kuning itu tersenyum begitu mereka beradu mata. "Mereka berdua ini sedang dekat, Sayang. Kau tahu, Sasuke belum pernah berpacaran sama sekali, aku jadi sedikit kasihan padanya."

Sasuke sedikit berjengit mendengar bagaimana Naruto membuka aibnya dengan santai tanpa merasa bersalah sama sekali. Haruskah hal seperti itu diumbar di tempat umum?

"Ah, benarkah? Sasuke-kun itu orang yang sangat baik, Sakura-san. Dia pasti akan menjagamu dengan baik." Hinata tersenyum saat mengatakannya dengan sepasang mata berbinar-binar. Ia seperti sedang memberi selamat kepada orang yang baru menikah.

"Aku yakin beberapa hari setelah kelulusan nanti kita akan menerima undangan pernikahan." Kemudian Naruto pun tertawa.

Saat seperti ini Sasuke tidak tahu harus merespon seperti apa. Ia tidak tahu apakah ada sesuatu di balik pernyataan Naruto. Entah itu maksud terselubung seperti balas dendam, ejekan, atau memang hanya gurauan semata, ia tidak bisa membedakannya. Baru hari ini ia berbaikan dengan Naruto, jadi ia ragu kalau pemuda itu benar-benar sudah bersikap seperti biasanya.

"Secepat itu? Ah, tapi bukankah kau bisa tetap kuliah sambil bekerja? Jadi kurasa tidak apa-apa."

Yang lebih mengherankan lagi adalah sikap Hinata. Gadis itu terlalu polos sampai membuatnya gemas. Mulutnya sedikit gatal ingin membeberkan kebusukan Naruto di belakangnya, hanya agar kedua mata gadis itu terbuka dan menyadari kalau kekasihnya itu tidak seperti yang ia kenal. Ia lupa masih ada gadis yang jauh lebih bodoh dari Sakura. Apakah hobi Naruto memacari gadis-gadis clueless seperti mereka atau karena yang seperti itu yang mudah ditipu? Entahlah, ia tidak tahu dan tidak mau tahu.

"Benar, kan? Aku tidak sabar ingin segera melihat keponakan kita, Sayang!"

"Ah, pasti menggemaskan sekali."

"Kira-kira apa warna rambutnya, ya? Hitam-biru? Pink?"

"Bisa jadi dua-duanya. Atau campuran."

"Hm, bagaimana kalau laki-laki berambut pink? Tidakkah itu menggelikan?"

"Tsk, dari mana datangnya perbincangan tentang pernikahan ini?" Sasuke memotong obrolan lepas Naruto dan Hinata dengan urat berkedut di pelipisnya. Lupakan tentang maksud terselubung di balik sikap Naruto. Ternyata pemuda ini hanya mengejeknya seperti yang biasa ia lakukan di depan pacar-pacarnya.

"Ah, maaf kalau kami sudah membuatmu merasa tidak nyaman, Sakura-san. Umm, aku hanya― eh, aku bahkan belum menyebutkan namaku! Aku Hinata Hyuuga, senang bertemu denganmu."

Sepasang mata emerald itu mengerjap, kemudian ia menyambut uluran tangan Hinata dan berjabat tangan dengannya. "…Sakura Haruno."

Sasuke menghela nafas.

AN: Semester ini gila-gilaan… Saya minta maaf kalo fic ini jadi terbengkalai dan isinya jadi nggak jelas orz orz orz

Semester depan udah nggak begitu sibuk sih, tapi sebagai mahasiswa tingkat akhir sepertinya saya harus mulai mikir penelitian –curhat- *mati