SPRING LOVE
By Ansianner
Ini bukan sebuah kebetulan,
dimana aku bertemu, jatuh cinta, dan mengusirmu menjauh.
Akan tetapi inilah takdir.
Takdir dimana aku harus menahan segala bentuk penyesalan,
dengan sosokmu yang entah berlari ke arah mana. – Spring Love 2018
.oOo.
4 Tahun telah berlalu.
Kehidupan berubah terlalu banyak, hingga terbesit rasa khawatir pada benak kebanyakan orang. Satu persatu hal yang tak ingin muncul silih berganti. Rasa khawatirpun berganti menjadi rasa takut. Ketakutan akan banyak hal, sementara diri belum bersiap. Padahal kematian dan kiamat menjadi rahasia terbesar Tuhan YME, namun banyak dari mereka yang masih hanyut dalam perjalanan duniawi. Dengan demikian, rusaknya dunia ini adalah karena ulah mereka sendiri yang hanyut dalam perjalanan sementara.
Musim semi telah kembali. Bunga-bunga di sepanjang jalan nampak bermekaran. Semuanya tampak masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja orang-orang yang berlalu-lalanglah yang berubah banyak. Entah itu dari segi fisik maupun batin. Satu hal yang mungkin berubah lagi adalah perasaan tahun ini. Lebih tepatnya perasaan yang tersampaikan melalui musim semi yang mungkin berbeda. Terutama untuk sosok Chanyeol Park yang kini menjadi CEO sebuah perusahaan yang menawarkan jasa homeschooling ternama.
Banyak cerita pernah Chanyeol lalui dalam musim semi setiap tahunnya. Berbahagia, bersedih serta kehilangan. Musim semi tahun ini, rasanya kembali berbeda baginya. Untuk perasaan nya yang selalu menang, Chanyeol akhirnya jujur bahwa ia merasa kesepian dan rindu pada saat yang bersamaan.
Bukan. Bukan karena Sehun dan Luhan yang kini sudah menjadi sepasang Suami-Isteri, lalu berbulan madu di Indonesia –meninggalkam Chanyeol. Ataupun bukan karena ia kini hanya sekedar mengurus berkas-berkas di atas meja, bukan terjun langsung memberikan materi pada peserta didik di luar sana.
Melainkan sosok Baekhyun Byun, itulah alasan mengapa Chanyeol nyaris setiap harinya menitikan air mata ketika ia membayangkan segala kenangan bersama mantan kekasih terbaiknya itu. Ya, ia sudah menyerah dengan egonya. Ia memilih perasaannya, karena ia yakin bahwa Tuhan memberikan perasaan untuk menjadi pertimbangan dalam setiap pilihannya.
Sayangnya waktu seolah tak mengizinkan lagi Chanyeol untuk sekedar menatap kedua manik Baekhyun.
My tears remember
It fills up your seat again
I try erasing but I can't erase you
You've become my everything
You, I can't see you, I can't hear you
But I'm okay
Goodbyes are sad, my heart aches
But if you happy, if you can smile, then I…
I will miss you the more I erase you
I will shed more tears than today
Like fate, I won't ever have anyone like you
Only you, only you
As much as my tears, I hope you are happy
Goodbye my love…
My heart already knew
This feeling of loneliness that's about to explode
I try to hide it but I can't hide it
You've become my heart
You, I can't have you, I can't touch you
But I'm okay
Endless pain, tears shed again
But if you are happy, if you can smile, then I…
I will miss you the more I erase you
I will shed more tears than today
Like fate, I won't ever have anyone like you
Only you, only you
As much as my tears, I hope you are happy
You will think of me at least once
That's all I need
Until the day we meet again
I'll wait,
It's only a momentary goodbye
Goodbye my love…
(Goodbye My Love by Ailee)
Musik itu kembali diputarnya. Maka saat itu jugalah terdengar suara yang lembut memecahkan keheningan kantor pribadinya. Chanyeol menutup matanya seraya menyenderkan tubuhnya pada penyangga kursi.
Lirik yang begitu emosional, dan permainan musik yang penuh perasaan –begitulah kiranya deskripsi dari lagu yang tengah Chanyeol dengarkan itu. Tanpa izinnya, tiba-tiba air mata jatuh seketika membasahi pipinya. Ia merindukan segala hal tentang Baekhyun. Apalagi jika ia mendengarkan salah satu lagu yang dikirim Baekhyun 4 tahun yang lalu sebelum gadis itu benar-benar menghilang entah kemana.
Detik selanjutnya, Chanyeol kembali mengingat setiap detik yang pernah ia lalui dengan Baekhyun. Ia baru tersadar betapa berharganya seseorang setelah ia kehilangan seseorang itu sendiri dari sisinya.
From : springgirlhyunnie1
Subject : goodbye letter
Halo, Oppa? Bagaimana kabar mu hari ini? Oppa tahu, sudah 4 bulan kita tidak berjumpa. Aku sudah mendengarnya dari Eomma dan Appa, bahwa mereka sudah membatalkan semua kegiatan homeschoolingku. Maka pasti aku benar, Oppa juga menghilang karena mereka membatalkan kegiatan pembelajaran musik ku darimu, bukan? Sejujurnya, aku sangat terluka dan kecewa. Bahkan aku sudah menangis ketika aku mengetik nama e-mail mu. Aku harap pesan ini akan sampai padamu.
Oppa, tugasmu. Aku sudah menyelesaikannya bersamaan dengan pesan ini. Maka jika seandainya pesan ini benar-benar tidak sampai padamu, maka tugasku juga tak akan pernah sampai. Kau harus tahu Oppa, aku menulis liriknya sembari memikirkan tentangmu. Tak jarang bahkan aku sering menangis ketika aku merekam suaraku, jadi maaf jika ada suara yang fals atau semacamnya. Aku sudah tak memiliki waktu banyak untuk merekam dan mengeditnya hingga sempurna.
Oppa, aku merindukanmu. Oppa, aku mencintaimu. Oppa, aku sangat menyayangimu. Oppa, terima kasih atas waktu yang pernah kau berikan padaku, hingga sampai saat ini aku masih mengetahui bagaimana rasanya jatuh cinta dan dicintai. Aku sangat berterima kasih. Tapi Oppa, aku bukan seorang gadis yang murahan. Aku tak menginginkan semua sentuhanmu seperti yang kau bilang. Bahkan aku sangat tak menyukai hal-hal seperti itu. Yang aku inginkan adalah merasa dicintai, merasa diperlukan, dan merasa bahwa hidupku di dunia ini benar-benar berharga serta ada gunanya untuk orang lain. Itu saja sebenarnya sudah cukup membuatku lebih tenang. Jadi seharusnya Oppa tidak perlu berpikiran bahwa cinta adalah tentang sentuhan fisik. Jika boleh sekali lagi aku tegaskan, aku mencintai Oppa apa adanya. Sayangnya, sepertinya aku tak lagi bisa memiliki mu, bukan? Karena Oppa juga sudah menjauh sejauh-jauhnya dariku. Dengan demikian, hari ini, aku akan merelakan Oppa pergi. Satu harapanku, semoga Oppa berbahagia dengan apa yang akan Oppa lakukan. Dan semoga, kelak ada gadis selain aku yang bisa menjelaskan bahwa cinta itu tentang perasaan yang sejati, bukan hanya obsesi ataupun nafsu diri. Aku akan mengenangmu di dalam hati ini sampai ajalku akhirnya tiba.
Oppa, sebenarnya hari ini aku akan pindah ke New York. Kemungkinan besar aku menetap disana. Itu pilihan Eomma dan Appa. Jadi, Oppa tidak perlu khawatir dengan keberadaan ku, eum? Setelah ini kau akan berada sangat jauh dariku, jadi kau tidak perlu takut berpapasan denganku kemanapun kau pergi di Korea sini. Ya, asalkan Oppa tidak di New York. Karena aku takut, Oppa bisa bertemu denganku jika pergi ke sana.
Akhir kata, Oppa jaga diri. Dan selamat berbahagia. Aku akan pergi. Aku harap, akan ada waktu dimana kita bisa saling mencinta lagi, maka saat itulah aku akan memperbaiki diri dan menjadi sosok gadis impianmu. Meskipun kemungkinan dari hal itu sangat kecil. Aku tak bisa menulis lebih jauh lagi, rasanya dadaku semakin sesak. Dengan begitu, terima kasih dan selamat tinggal. Last a letter from me.
"Bukan. Seharusnya bukan kau yang berusah merubah diri untuk ku, Hyunnie-yah. Tapi akulah yang harus merubah diri untukmu. Bolehkah aku berharap kau kembali kesini?" Chanyeol mengusak rambutnya frustasi. Pipinya sudah basah, dan dadanya bergemuruh menahan rindu yang tak pernah bisa disampaikan.
"Chanyeol-ssi, maaf, tapi Keluarga Tuan Byun sudah berangkat kemarin sore." Jelas Maid Shin yang baru saja keluar dari rumah Baekhyun seraya menjinjing tas besar yang Chanyeol yakini berisi baju-baju wanita tersebut.
Chanyeol membisu, "Apa yang terjadi? Kenapa keluarga Byun tiba-tiba pergi?" Tanyanya dengan nada suara yang sarat akan kesedihan dan ketidakrelaan.
Maid Shin sejenak menyimpan tasnya di atas lantai, "Nona Byun, kondisinya mendadak drop. Bahkan kondisi tubuhnya berada di tingkat dimana Nona Byun selama ini tidak pernah sesakit itu."
"Maksud, ahjumma?"
"Sebenarnya, sedari kecil, Nona Byun sudah mengidap depresi ringan. Ia sering menangis atau mengurung diri di kamar. Bahkan, ia sering kehilangan nafsu makannya secara tiba-tiba. Maka dari itu, Nyonya dan Tuan Byun tidak rela jika Baekhyun harus bergaul dengan banyak orang karena depresinya itu. Mereka takut jika depresi Nona Byun akan naik secara tiba-tiba, dan tidak menutup kemungkinan jika ada tekanan dari orang-orang di sekitarnya bisa membuat Nona Byun berpikiran bahwa hidupnya tak berguna lalu memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri. Tapi, malam itu, Nona Byun datang dengan kondisi yang bisa dikatakan sangat buruk. Bahkan depresinya meningkat ke tahap sedang, dan itu disebabkan oleh broken heart syndrome. Seminggu lamanya Nona Byun pingsan. Dan terakhir yang Ahjumma dengar, Nona Byun kembali lagi di kondisi yang tidak stabil, maka dari itu Nyonya dan Tuan Byun memutuskan untuk pindah ke New York." Ujar Maid Shin panjang lebar, membuat Chanyeol ternganga dan merutuki dirinya sendiri dalam diam.
"Sepertinya Tuan muda Chanyeol juga harus mengetahui ini," Maid Shin menghela nafasnya dalam dengan setitik air mata akhirnya jatuh, "Nona Byun kembali pingsan kemarin sore. Pihak dokter menyatakan jika Nona Byun mengalami koma hingga waktu yang tidak bisa diprediksi." Tambahnya dengan suara yang bergetar hebat, menahan kepiluan bercampur rindu pada sosok gadis yang periang dengan sejuta luka dalam dirinya.
Chanyeol memukul dadanya. Ia kembali tertekan dan merasa begitu bersalah. Ia sudah salah paham. Mengingat penjelasan Maid Shin 4 tahun yang lalu, ditambah penjelasan singkat Sehun setelah mereka berbaikan menghantam keras keegoisannya dan keamarahannya. Dia merasa terlalu bodoh untuk menanggapi setiap kata yang Baekhyun ucapkan di pertemuan terakhirnya.
Baekhyun kala itu tengah menjelaskan bahwa ia baik-baik saja sekalipun Chanyeol selalu bermain dengan jalang, karena gadis itu paham bahwa dirinya tak mampu memberikan kesuciannya hanya untuk seseorang yang tak pasti –meskipun Chanyeol telah resmi menjadi kekasihnya. Tak hanya itu, Baekhyun juga sebenarnya tengah menjelaskan bahwa ia berharap Chanyeol tak menyuruhnya untuk pergi, karena bisa membuat gadis itu merasa hidupnya sekedar membuat orang lain risih. Sebenarnya banyak pesan tersirat yang Baekhyun katakan, tapi kala itu Chanyeol kalap. Dengan demikian, pikirannya tak lagi bisa mengartikan semuanya dengan jelas dan benar.
"Baekhyun, bagaimana keadaanmu sekarang? Bolehkah aku meminta untuk berjumpa denganmu?" Chanyeol kembali memejamkan matanya yang sejenak terbuka karena memikirkan sosok Baekhyun, "aku merindukanmu, aku membutuhkanmu, aku menyayangimu, dan aku mencintaimu. Jadi, bisakah aku kembali pada pangkuanmu?" Bisiknya parau.
Drrt.
Ponsel Chanyeol yang berada di atas meja bergetar tanda ada sebuah pesan masuk. Setelah mengusap sisa air matanya yang jatuh, ia segera mengambil ponselnya –bermaksud memeriksa apa isi dari pesan tersebut.
From : Sehun
Aku yakin kau akan bahagia jika mendengar kabar ini. Itupun jika kau masih seorang manusia dengan hatimu yang busuk itu.
Chanyeol menyerngit membaca pesan sinis Sehun, dan lekas menjawabnya.
To : Sehun
Apa yang kau inginkan? Aku bukanlah Chanyeol yang dulu.
Tak beberapa lama kemudian, sebuah balasan dari Sehun kembali masuk ke dalam ponselnya. Chanyeol kembali mendesah singkat, dan dengan malas membuka pesan itu kembali.
From : Sehun
Jangan bersikap sok dingin dan ketus! Menjijikan!
Nyaris saja Chanyeol membanting ponselnya ke lantai, guna melampiaskan amarahnya yang melonjak seketika dengan pesan tak berguna yang dikirimkan oleh Sehun.
Daripada membuat pikirannya sendiri kacau, Chanyeol memutuskan untuk tak membalas pesan dari Sehun. Kaki jenjangnya mulai keluar dari kantornya –berniat mencari udara. Sejujurnya ia sudah pengap dengan perasaan bersalah sekaligus perasaan rindu yang selalu membuatnya sesak. Ya, Chanyeol sudah mengetahui dengan jelas mengapa dadanya selalu terasa sakit di saat-saat tertentu. Itu karena, ia terlalu merindukan sosok Baekhyun.
Kini semuanya terasa hampa berwarna kelabu. Ceritanya kini hanyalah sebatas apa yang ia lakukan, tidak ada orang lain yang terlibat jauh dengan kehidupannya. Semenjak kehilangan Baekhyun, Chanyeol menutup diri pada siapapun. Ia tak lagi sudi bermain jalang ataupun masuk ke dalam club. Ia seketika membulatkan tekad untuk menjadi seorang laki-laki yang pantas meminang seorang tuan puteri.
Jalanan seperti biasanya ramai lancar oleh kendaraan yang hilir mudik, dan berhiaskan pejalan-pejalan kaki. Setelah menyempatkan diri untuk membeli satu cangkir ice chocolate, Chanyeol melanjutkan perjalanannya yang tertunda menuju Sungai Han.
Sesekali mata Chanyeol berpencar segala arah, menikmati kesibukan orang lain yang selalu ia lakukan akan tetapi tak kunjung mampu melupakan sosok Baekhyun dalam benaknya. Ia terbelenggu dengan kenangan kelam yang terlalu indah untuk dikubur. Selain itu, ia juga merasa sangat khawatir, apakah Baekhyun sudah tersadar dari komanya? Atau… Chanyeol selalu membuang pikirannya jauh-jauh jika menyangkut hal-hal yang tak ia inginkan.
Tak beberapa lama kemudian, Chanyeol akhirnya sampai di sebuah kursi di pinggiran Sungai Han. Ia duduk seraya menyilangkan kakinya. Sesekali, ia menikmati minuman favoritnya itu. Ditatapnya satu persatu para pengunjung yang berada di Sungai Han, pada dasarnya semuanya terlihat bahagia. Untuk detik selanjutnya, matanya seolah terperangkap pada sesosok gadis dengan surai rambut yang panjang berwarna coklat tua. Ia mengenakan dress putih bersih. Chanyeol terpaku. Tak diduga, ia kembali menitikan air matanya kala memandang sosok itu. Sosok Baekhyun yang berada cukup jauh dari tempatnya berdiri, namun ia begitu mengenalnya.
~NEXT or END?~
Pesan Athor : Apakah yang dilihat Chanyeol hanyalah kiasan dari rasa rindu yang terbelenggu dalam hatinya? Ataukah sosok Baekhyun yang sebenarnya? Entahlah.
Aku ingin meminta maaf, jika selama ini aku sering tidak tepat waktu dalam mengupdate FF ini. Aku sibuk dengan sekolahku. Tugas setiap harinya ada, sedangkan aku sering pulang sore. Terima kasih atas segala yang sudah kalian berikan padaku. Itu akan selalu berharga untukku! Sampai jumpa! Itupun jika kalian ingin melihat kelanjutan dari cerita ini kekeke~
Tapi, kalian berhasil membuat aku semangat dengan komentar-komentar kalian. Sebenarnya sosok Chanyeol itu gabungan dari tiga sifat cowok yang menjadi sketsa dari FF ini. Aku tidak menyangka, jika sikapnya bisa begitu mengesalkan. Tapi selama ini, tiga cowok itu masih dicintai orang lain sementara sosok Baekhyun di kehidupan nyatanya selalu berusaha memaafkan segala yang telah mereka lakukan tanpa mengindahkan apa yang ia rasakan.
