HunHan
.
M!
.
"Berikan ponselnya pada Luhan." Sehun memerintahkan di seberang telepon, dan Kyungsoo segera melaksanakan perintah Tuannya itu. Memberikan ponsel pada Luhan yang sejak tadi duduk di sampinya. Mata berbinar si mungil menatap kagum interior gedung kantor milik suaminya sebelum ia menoleh ketika Kyungsoo memberitahu Luhan jika Sehun ingin bicara dengannya.
Luhan menerima ponsel Kyungsoo dan dengan semangat bicara pada Sehun melalui itu. "Sehun! Aku ada di lobi kantormu,"
"Ya, aku tahu. Kyungsoo baru saja mengatakannya," kata Sehun. "Apa kau sudah makan?"
"Belum." Luhan menjawab. "Tapi aku membawakan makan siang untukmu, kita bisa memakannya bersama di kantormu," katanya melanjutkan, tidak peduli pada wanita yang terus menatapnya dibalik meja resepsionis.
"Kau yang masak?"
"Ung..." Luhan mengangguk, namun kemudian menyadari Sehun tidak bisa melihat gesturnya, dia menjawab. "Iya,"
"Bagaimana jarimu?"
"Huh?" Berkedip, Luhan melihat jarinya. "Jariku?"
"Plester motif apa yang kali ini Kyungsoo berikan? Hello kitty?"
Mendengar itu, Luhan cemberut. "Aku tidak mengiris jariku kali ini Sehun!"
"Aku tidak yakin tentang itu,"
"Kau bisa melihatnya sendiri! Tanganku bersih!" kata Luhan jengkel. "Sekarang bagaimana aku ke kantormu?"
"Tunggu disana. Aku akan menjemputmu."
Beberapa saat kemudian setelah sambungan telepon terputus, Luhan melihat Sehun dari kejauhan berjalan ke arahnya. Senyumnya segera mengembang dengan mata berbinar senang, ia bangkit dari duduknya dan melambai pada Sehun. "Sehun!"
"Aish, kenapa kau tidak pakai sarung tangan? Cuaca sudah mulai dingin sekarang," kata Sehun ketika tiba di hadapan mereka, pandangannya segera beralih pada Kyungsoo yang segera berdiri gugup di kakinya.
Menyadari Sehun akan menyalahkan Kyungsoo, Luhan berkata. "Jangan salahkan Kyungsoo hyung Sehun, aku memakainya tadi, tapi melepasnya saat masuk kemari, lagipula disini cukup hangat. Lihat!" Luhan menunjukan sepasang sarung tangannya yang ia masukan ke sakunya beberapa saat lalu, kemudian menunjukan tangannya yang kecil di depan wajah Sehun. "Dan lihat tanganku! Tidak ada luka di tanganku 'kan?"
"Lebih baik begitu karena jika iya, aku akan memecat Kyungsoo!"
Kyungsoo di samping Luhan segera memucat.
"Sehun!" Luhan memukul Sehun di lengan, lagi-lagi ia menggunakan Kyungsoo untuk mengancamnya.
Kemudian Sehun menyuruh Kyungsoo menunggu di mobil sementara mereka berdua pergi ke kantor Sehun dengan lift khusus CEO. Luhan tidak menyadari pandangan orang-orang ketika Sehun menggenggam tangannya. Mereka yang bertanya-tanya tentang inikah pasangan CEO mereka yang misterius itu?
Selagi menunggu pintu lift terbuka, Sehun memojokan Luhan dan menciumnya. Lift ini hanya untuk Presdir jadi mereka tidak harus khawatir liftnya akan terbuka tiba-tiba di lantai selain lantai yang mereka tuju. Tidak akan ada orang yang memergoki mereka, kecuali mungkin CCTV. Tapi siapa memangnya yang peduli?
Ketika tiba di kantor Sehun, Luhan melihat seorang wanita duduk di depan meja Sehun, sepertinya ada tamu penting. Wanita itu menoleh, berdiri dan membungkuk, kemudian tersenyum. Luhan meremas tangan Sehun. "Apa aku mengangganggumu Sehun? Sepertinya ada tamu penting."
Sehun mengerutkan dahinya tidak setuju. "Kenapa berpikir seperti itu? Tentu saja tidak." Ia mendudukan Luhan di sofa. "Nah, tunggu disini oke? Sebentar lagi aku selesai." Kemudian ia berjalan ke arah wanita itu dan duduk di kursinya. "Maaf untuk interupsi sampai dimana kita tadi?"
Sementara Sehun kembali ke mode 'CEO'nya, Luhan duduk disana, pandangannya terus melihat Sehun yang tampak serius bicara dengan wanita itu, kemudian Luhan mulai bosan, ia meletakkan kepalanya di lengan sofa, menguap berkali-kali, mendengar pembicaraan mereka yang tidak satupun Luhan mengerti.
"Baiklah, Mr. Oh, saya harap Anda bisa mempertimbangkannya, jika kerja sama ini terlaksana itu akan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan kami, dan perusahaan anda juga tentunya."
Luhan menegakkan tubuhnya, mengira Sehun sebentar lagi akan selesai, kemudian ia melihat Sehun menjabat tangan wanita itu, memberikan senyum sebelum mempersilahkan ia untuk keluar dari ruangannya. Luhan memutuskan untuk ia tidak menyukai senyum wanita itu, atau senyum di wajah Sehun yang pria itu berikan padanya.
Ketika Sehun mendekat pada Luhan dan hendak menarik bekal makan siang yang ia bawa, Luhan lebih dulu menjauhkan bekal itu dari tangan Sehun.
"Ada apa?" tanya Sehun tidak mengerti.
"Kau harus cuci tangan dulu Sehun!"
"Aku akan pakai sumpit." Sehun berdalih
Namun Luhan bersikeras. "Tetap saja, kau harus cuci tangan dulu!"
Sehun memutar mata. "Merepotkan saja." Namun ia tetap melakukan keinginan si mungilnya.
Makanan yang dimasak Luhan terasa lebih enak dari masakan apapun atau siapapun di dunia ini yang pernah ia makan, Sehun pikir.
"Aku tidak tahu kau bisa masak masakan lain selain omelette,"
"Kau tidak tahu karena kau memang tidak pernah membiarkan aku masak." Luhan menuduh.
Sementara Sehun terkekeh. "Ya, karena itu kukira,"
"Enak?"
"Tidak seenak masakan Kyungsoo,"
"Oh,"
"Bercanda." Sehun tersenyum, mengusak rambut Luhan. "Masakanmu lebih enak dari masakan Kyungsoo,"
"Tidak mungkin." Luhan cemberut. Apa itu sarkasme?
"Setidaknya untukku." Sehun menambahkan, tapi Luhan tampak tidak terlalu percaya dengan itu.
"Oh Sehun yang aneh!" kata Luhan.
Kemudian pandangannya tertuju pada dinding di satu sudut ruangan, menghadap tepat ke meja Sehun. Disana sebuah pigura besar terpajang dengan poto Luhan yang sedang tersenyum berlatarkan laut dengan langitnya yang biru cerah. Luhan tidak menyadari keberadaan itu sebelumnya karena dia membelakanginya sejak tadi—dan mungkin juga karena fakta jika ia terlalu fokus pada Sehun yang berbicara dengan wanita itu sehingga tidak mempedulikan hal-hal lain selain wajah Sehun. Ia beranjak, dan mendekat.
"Ini..."
Luhan ingat poto ini. Ini adalah poto yang diambil saat liburan mereka minggu lalu di sebuah pulau tropis yang indah nan eksotis milik Sehun.
Melihat poto ini mengingatkan Luhan pada momen menyenangkan nan erotis mereka. Seminggu di kepulauan yang tenang, bersenang-senang, dan bercinta sepuasnya dimanapun dan kapanpun. Di balkon, di dapur bahkan di pantai pribadi Sehun yang ia beri nama Hunhan. Oh, Luhan memerah hanya dengan membayangkannya.
Kemudian Luhan merasakan tangan Sehun memeluknya dari belakang.
"Bukankah itu sangat indah?" Ia berkata, mengistirahatkan dagunya di helaian surai halus Luhan. "Aku sangat menyukai poto ini, bagaiamana denganmu?"
Luhan berbalik menghadap Sehun, matanya sudah memerah, ia tampak akan menangis namun bibirnya tetap tersenyum. "Sehun..." Tangan kecilnya meremas kemeja Sehun. Luhan benar-benar ingin mencium suaminya.
Menangkup wajahnya, Sehun menghapus air mata di pipi Luhan, dan melingkarkan tangannya di pinggang si mungil kemudian menciumnya. Sehun sedikit mengangkat tubuh kecil Luhan semetara si mungil berjinjit dengan tangan melingkari leher Sehun.
"Ya, aku juga suka Sehun." Luhan berbisik ketika ciuman mereka terlepas.
Sehun tersenyum, tangannya masih melingkari pinggang Luhan. "Kita harus, kesana lagi bersama adik bayi nanti,"
"Ung..." Luhan mengangguk semangat.
Melepaskan pinggang Luhan, Sehun berjalan kembali ke mejanya dan bicara pada sekertarisnya melalui telepon.
"Kalau ada yang ingin menemuiku bilang aku tidak ada."
Kembali pada Luhan yang masih berdiri di tempatnya, Sehun menciumnya kembali sementara mendorong si mungil untuk berbaring di atas sofa. Tangannya tergelincir ke bawah hendak membuka celana Luhan ketika tangan kecil itu menahannya dan ciuman mereka terlepas.
"S-Sehun, t-tunggu dulu!"
"Ada apa?" tanya Sehun, menatapnya heran. Ia merasakan tangan Luhan berusaha mendorong dadanya dan dia mengerti, mendudukan diri di sofa sementara Luhan bergerak dan berlutut di bawah kursi tepat diantara selangkangan Sehun. Dengan wajah merah si mungil berusaha menurunkan risleting celana Sehun. Sehun pikir Luhan menjadi lebih berani sekarang setelah liburan mereka kemarin. Dan itu cukup bagus meskipun.
Menatap tubuh bagian bawah Sehun yang telah ia bebaskan, Luhan menelan ludah dengan mata terbuka lebar. Perlahan ia mendongakkan kepalanya meminta ijin. "Bolehkah?"
Sehun menyeringai mengusak rambut Luhan. "Lakukan yang kau suka."
Beberapa saat setelahnya penis besar dan keras itu sudah menohok tenggorokannya, dan memenuhi mulutnya yang kecil sementara tangannya meremas bagian yang tidak muat masuk ke mulutnya.
"Argh, Luhan!" Sehun menggeram menahan diri untuk tidak menekan kepala Luhan. Mulut kecil Luhan terasa hangat dan nikmat, lidahnya bergerak menjilati batangnya. Dan Sehun mendapatkannya tak lama kemudian.
Pipi Luhan mengembung dengan mulut yang penuh cairan Sehun yang sebagian menetes di ujung bibirnya. Dengan susah payah dan nyaris tersedak ia menelan semuanya.
Sehun mengangkat tubuh kecil Luhan berdiri. "Sudah cukup. Selanjutnya aku ingin keluar di dalammu," katanya sebelum menurunkan celana Luhan sementara si mungil melepaskan pakaiannya sendiri. Setelah sepenuhnya telanjang, Sehun menempatkan Luhan mengangkang di pangkuannya.
Melihat perut telanjang Luhan yang agak mengembung, Sehun mengulurkan tangan untuk mengusapnya. Ini adalah bulan ketiga kehamilannya, dan harusnya Luhan menjadi semakin rentan dan sensitif.
Ada kalanya Sehun merasa khawatir pada bayi mereka. Berpikir jika Luhan masih terlalu muda untuk mempunyai seorang anak. Si mungil yang ceroboh dan terkadang tidak bisa menjaga dirinya sendiri harus menjaga kehidupan lain di perutnya, itu agak terdengar berbahaya.
Tapi tentu saja, selama ada Sehun disisinya, ia akan memastikan mereka berdua baik-baik saja.
"Sehun..." Suara lembut Luhan menyadarkan Sehun dari lamunannya.
"Hmm?"
"Apa..." Luhan menggigit bibir, tampak ragu untuk bicara. "Eh, tidak jadi.." katanya kemudian seraya menggeleng ribut.
Sehun mengangkat alis padanya. "Ada apa? Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?"
"T-tidak ada." Luhan memalingkan wajahnya ke samping. Ia berbohong, dan Sehun tahu itu.
"Sungguh." Ia meyakinkan menyadari Sehun menatapnya tidak yakin.
Menelan kembali pertanyaannya tentang siapa wanita tadi, Luhan meraih tangan besar Sehun dan mulai menjilatinya dengan mata tertutup, melupakan segala kekhawatiran yang perlahan muncul entah dari mana.
Luhan bukan seorang pencemburu dan terlalu posesif pada pasangan, namun entah bagaimana ia merasa pandangan wanita itu pada Sehun agak tidak biasa. Itu adalah pandangan kekaguman dan keinginan untuk memiliki dan ia agak khawatir tentang itu.
Luhan terus menjilati tangan Sehun, membasahi kelima jari suaminya dengan liurnya. Itu tampak seperti Luhan seorang bayi yang sedang menjilati mainannya.
Setelah merasa tangan Sehun sudah cukup licin, si mungil mengarahkannya ke belahan bokongnya dan memasukan dua jari besar Sehun sekaligus. Dia memekik ketika jari Sehun sepenuhnya tenggelam dalam lubangnya.
Sementara menggerakan jari jarinya di dalam tubuh Luhan, Sehun mencumbu si mungil, menarik tubuh telanjangnya yang mulai tidak bisa diam semakin menempel padanya yang masih berpakaian lengkap dengan satu tangannya yang bebas.
"Aku senang jika kau merasa cemburu." Sehun berbisik tepat di telinga Luhan sementara mendengar itu, Luhan segera membuka matanya yang sebelumnya tertutup.
"S-Sehun." Ia menatap Sehun yang terkekeh sebelum kemudian menenggelamkan wajahnya di leher Sehun. Merasa ini cukup memalukan. Sehun memang selalu tahu apa yang dia pikirkan.
"Itu normal. Kau tidak harus malu tentang itu,"
"Aku tidak—A-akh Sehun!" Luhan memekik ketika sehun mempercepat sodokannnya dan dia tidak bisa mengatakan apapun lagi setelahnya.
"Jangan berpikiran hal-hal mustahil seperti itu, itu tidak sehat untukmu."
Luhan menyahut dengan lenguhan dan anggukan lemah di dada Sehun.
Merasa sudah cukup pelumas dan Luhan sudah siap, Sehun mengeluarkan jari-jarinya dan menggantikan posisi jari-jarinya itu dengan penis besarnya.
.
.
.
"Besok aku akan mengantar makan siang untukmu lagi Sehun." Luhan bicara dengan antusias sementara Sehun mengikatkan syal di lehernya.
"Cuaca sudah mulai dingin, aku tidak ingin kau keluar terlalu sering, itu akan membuatmu masuk angin,"
"Aku akan pakai mantel tebal dan sarung tangan." Sehun memasangkan earmuff di telinga Luhan. "Dan earmuff juga."
"Tetap tidak Luhan! Aku tidak ingin kau sakit. Ingat kehamilanmu!" Sehun tetap pada pendiriannya. "Dan sepertinya aku harus menyuruh Kyungsoo untuk melarangmu ikut belanja lagi. Nah selesai,"
"Sehun!" Luhan cemberut tidak senang, tangannya bergerak memeluk perutnya. "Ada apa memangnya dengan kehamilanku? Aku akan baik-baik saja, begitu juga anakku!"
"Itu bukan hanya anakmu tapi anakku juga, aku berhak untuk mengkhawatirkannya." Sehun berdalih.
"Kekhawatiranmu berlebihan dan tidak masuk akal!"
"Bagian mananya yang tidak masuk akal?"
"Bagian aku yang tidak boleh ke kantormu lagi,"
"Aku 'kan sudah bilang itu karena aku tidak ingin kau sakit!"
"Hanya duduk beberapa menit di dalam mobil untuk sampai ke kantormu tidak akan membuatku sakit Sehun!"
Sehun mengela napas. "Astaga, kau benar-benar susah di atur sekarang." Memijit pelipisnya, ia mendesis. "Terserahlah, lakukan apapun yang kau suka! Aku tidak peduli!"
Mendengar ia bicara seperti itu, Luhan menjawab dengan jengkel. "Oh, yasudah!" Ia berjalan menjauh dari Sehun dan hendak menuju pintu ketika tangan besar Sehun menahan lengannya.
"Kau pikir kau akan kemana?"
"Aku mau pulang!"
"Tunggu sebentar lagi, Jongdae akan datang membawakanku setelan baru. Aku tidak mungkin turun dengan pakaian kusut dan basah seperti ini." Melihat ke bawah dan menyadari itu adalah cairannya yang membasahi kemeja Sehun, Luhan memerah. Mata berbinarnya bergerak gugup berusaha menghidari tatapan Sehun. Oh, dia sudah kembali menjadi Luhan yang pemalu.
"T-tidak perlu, kau tidak perlu mengantarku Sehun. Aku bisa turun sendiri!" Luhan berusaha melepaskan pegangan Sehun di lengannya namun tidak berhasil. "Lepaskan!"
"Tidak. Aku akan mengantarkanmu dan memastikan kau menemui Kyungsoo dengan selamat!"
Luhan hanya mengembuskan napas dramatis. Berpikir, terkadang dicintai seseorang terlalu berlebihan itu menjengkelkan juga, terlebih jika orang yang sangat mencintaimu itu manusia posesif semacam Oh Sehun.
.
.
.
Hallo~~
Sebenernya uda dari kemaren-kemaren nyelesein bab 14, tapi bukan yang ini. Itu pas adegan Hunhan yang liburan ke Ohseh cay(pulau punya Sehun—pffft). Cuma selalu gak yakin ketika mau di publish, ngerasa disitu karakter Sehunnya agak gak seimbang dan gombalnya kebangetan.
Yodah deh akhirnya memutuskan untuk bikin ulang bab 14 dan liburannya di terangkan secara tersirat aja. Inipun entah uda berapa kali di rombak. Duh.
Untuk bab ini terisnpirasi dari salah satu adegan di captivated(inget pan yang Luhan nganter makanan ke kantor Sehun yang di salah satu side story-nya itu yang Luhan ngeliat lukisannya dipajang di kantor Sehun?) sama terinspirasi dari salah satu Hetalia dj yang aku baca dengan pairing Gerita(masih sodaraan sama gurita dan cumi-cumi*coret* Germany x Italy) judulnya Night watch. Gak ada adegan yang sama sih, cuma aja pas baca adegan enceh disana langsung kepikiran bikin adegan enceh untuk ini 하하하~~
Oh ya, dan lagi disini aku ngebayangin ukuran Sehun sama Luhan itu sama kayak ukuran si Jerman sama Italia, makanya aku pan selalu ngegambarin Luhan mungil dan Sehun besar. Meskipun aslinya ukuran mereka gak sekontras itu ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ~~
Oke, ini cuma baru sekali di edit, semoga gak ada typo.
Ps: Selamat lebaran buat kamu yang merayakan yorobun^^
.
.
.
.
.
520!
