Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

Ucul Note :

Mantika Mochi : Wah makasih ya mau terus baca fic ini *Terharu*

Mira Cahya 1 : Hihi maaf ya klo bikin pusing ^^ semoga pertanyaan2 itu terjawab di chap ini. Kakashi sm Akatsuki saya suruh istirahat dulu :3

East Robo : Wah kamu salah nyogok sih, coba klo nyogok pake Taka mungkin bisa aku pertimbangkan :p

Dinayasashii7 : Diusahakan ya ^^ hehe dan ini lanjutannya.

Shita15 : Hihihi semoga teka-tekinya terjawab di chapter ini ya ^^

Yoktf : Sipppp gmn, udah ngerti blom? Hehe

Muzsuke : Maaf ya chap ini malah lebih pendek huhuhu dan soal endingnya hmmm kita liat aja nanti ya hohoho

Herocyn Akko : Jaringannya bisa flu juga hehe HAH! Sasuke tmbah imut *mikir* imut sebelah mananya hehe dan PLAK! Jangan cium2 pipi suamiku, dosa! :P

Evellyn Ayuzawa : Iya iya gpp.. makasih ya udah ripiu ^^

Ferrish0407 : Hihi makasih y udah suka crt ini ^^ maaf klo updatenya ngak kilat huhu

Annisa852 : Oh selamat lebaran juga y ^^ iya ya, zaman2 kekaisaran gt bikin ribet ya hehe

Guest : Hihihi emang sengaja pas chap ke berapa gt Sasusaku dijadiin dulu (Ucul ratu tega) haha... anggep aja lagi ujian cinta :p

Kyuaiioe : Hihihi makasih udah suka yaa ^^

Ikalutfi97 : Jadi kita sehati nih ya hehhe... Aku juga maunya Sasuke jujur ajah tapi tau sndiri kan dia orangnya gitu, susah dibilangin (Elu yng buat keles) hahaha... makasih ya udah nunggu crt ini trs ^^

Suket alang-alang : Ini udah majuuu.. iya sama2 maaf lahir batin ya ^^

Dytantri : Duh smoga chap ini juga ngak bikin tambah pusing ya hehe... makasih buat semangatnya ya ^^

Virinda : Makasih siraman airnya,, skrg apinya udah padam hahaha... Makasih loh udah nunggu dan semangatnya juga ^^

Misakiken : Aaaaaa ya jadi gitu deh hehehe

Ha Ni : Sama2 ya, makasih juga ripiunya ^^ duh aku emang ngegemesin sih *salahfokus*

KuroNeko10 : Maaf ya, smoga chap ini ngak semakin memusingkan dirimu ya huhu dan makasih semangatnyaaa ^^

Mariyuki Syalfa : Hihihi bikin pusing ya? Duh maaf ya, emang nih si ucul orangnya begitu dia :D

Septemberstep : Malah tambah joss kan hahahaha... jadi ujian buat mereka gt hahaha

Eysha Cherryblossoms : Hahaha harus ngikutin script soalnya, jd emang harus di cut haha ohh Jadi Shogun itu artinya adalah jendral/Panglima. Nah sedangkan Keshogunan itu (klo misal shogun itu sultan maka keshogunan itu kaya kesultanannya) dan tiap zaman/era, keshogunan itu memiliki fungsi yang berbeda. Sedang yang saya pakai dicerita ini yang berada dibawah kuasa Kaisar, jadi keputusan tertinggi tetap ada ditangan Kaisar.

Guest : Ini udah dilanjut ^^

Vanny-chan : Maaf klo chap ini lebih pendek huhu dan ini adegan Sasusakunya udah dibanyakin loh huahahaha

Nikechaann : Hehe ngebolang itu kaya main gitu, ngak dirumah (Aku nyebutnya ngebolang) haha sudah sudah memang sudah takdir Sasusaku nya begitu haha

Sagasar : Ayo tebakanmu sama ngak nih hehe ^^ dan maaf ya chap ini lebih pendek huhu

Aiko Asari : Hihi smoga kali ini ngak bingung ya hehe dan semoga perangnya nanti seru yak haha iya sm2 minal aidzin walfaidzin ya ^^

Aitara Fuyuharu 1 : Hmmm disini gak ada kunai adanya katana hohoho jadi dijamin ngak ada todong2an kunai deh haha...

Ayuniejung : Maaf ya bikin pusing tingkat dewa, dan yah begitulah keputusan Sakura hehe

Annisa Alzedy : Yang terjadi, terjadilah (Apaan sih) Minato hmmm ikutan ngak ya *dilempar* ya silakan baca chap ini ya ^^

PinkRamen : Hooh abahnya si Sasu itu Teng Tong hahha

6934soraoi : Bukan Cuma Sasuke doank kok yg harus dikasianin :D betul sekaliiiiiii kalo dalangnya sih ada dibawah tuh jawabannya ^^ dan makasih udah dikasih tau typonya hehe ^^

Ciheelight : Tentu saja, saya inget ada yg nunggu crt ini sih ^^ aiihhhh aku seneng klo dipanggil begitu, kamu bisa aja deh ah ^^

Wowwoh Geegee : Duh, maaf ya jadi menyebalkan gini huhu udah tuntutan script sih hehe jadi ngak bisa berkutik.. tapi mksh ya ^^

Hanazono yuri : Disini otak Itachi isinya cm bales dendam aja, tapi ttp kok dia sayang banget sm Sasuke dan smoga aja sayang sm saku juga :P

Arisahagiwara chan : Iya ini udah dilanjut ^^

Yuie : Iya aku bacanya juga ikutan bingung hehe dan maaf ngak bisa kabulin bagian itu huhu

Darkcrowds : Huehehehe biar penasarn gitu :p

Kura cakun : Iyah ini udah dilanjutin ^^

Egha714 : Maaf ya klo bingung sm chap kmrn hehe jadi yg kmrn2 kurang romantis ya.. aku kurang jago bikin adegan romantis huhuhu

Fiiyuki : Konfliknya Cuma itu aja kok, ngak banyak, dan perangnya dikit lagi ^^

Dianarndraha : Lanjutnya skrg nih hahha

Guest : Hihihi udah saya jelasin nih di chap ini hehe dan maaf ya, bagian itu ngak bisa dikabulkan haha

Cherryhime85 : Kayanya chap ini masih rumit ya haha tenang perangnya dikit lagi muncul, klo tamatnya gtw dichap brp hehe... makasih, duh seneng dipanggil gitu :p

Princess948 : Makasih udh suka sm crt ini *terharu*

Imphyslonely sugar : Huaa maaf chap ini malah lebih sedikit wordnya huhu

Luchaai : Sama aku juga dikampung, klo mlm sinyal suka susah *eaacurhat* smoga chap ini bisa memperjelas yak hehe makasih ya ^^

Istrinya Soujiro : Iya donkkk,, hayo km kemana aja? Liburan ya? *taboked krn kepo*

Ash shey : Tau nih kok jadi panjang gini ya klo dijadiin bentuk chapter (klo dipikiran kayanya singkat gt) Oh gitu ^^ baiklah salam kenal ya ^^

Milan Arizawa : Hihihi Itachi sm Sakura ngak ada hubungan apa2 hehe

Hotarubi-chan : Aku juga seneng dpt ripiu dr hota makanya aku juga bales ripiu hota ^^ masa? Yah padahal pgn ntn itu anime juga... wah knp tuh? Salah email kali hehe, gpp kok kepanjangan, aku suka kok bacanya ^^

SantiDwiMw : Trus aku ngak didukung nih? *ngambek* hehhe becanda :P

Meiko Fujiwara : Siaaaappp ^^

Gita Zahra : Hai gita, minal aidzin wal faidzin juga ya ^^ iya klo ngak gitu nanti ngak mau baca lagi hehe

Ulfia8324 : Wuahhh makasih loh ^^ aku juga suka dari kelas 1 SMP smpe skrg (Sensor bagian umur :P) Duhhhh , makasih udah suka sm cerita ini *Terharu* *NangisdipelukanTaka* hehe

Makasih buat kalian, kalian bener2 sumber semangat aku. Sekaligus sumber pengingat untuk lanjutin cerita ini hehhee.. makasih selalu dukung kami ya ^^ *peluk atu2* Maaf klo ada yg terlewat, pokonya bilang aja ama aku ya ^^

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

[Di tempat Naruto]

"Apa kau juga ada sangkut pautnya dengan runtuhnya Kekaisaran Haruno?"

"Katakan padaku apa yang telah kau ketahui?" Mata biru milik Minato menajam. Menatap marah pada putranya, "Apakah kabar itu benar? Bahwa kaulah yang membunuh Hidan?"

"Kau seharusnya menjawab pertanyaanku tou-san! Bukan malah melemparkan pertanyaan lagi padaku."

"Jika aku menjawab tidak, apa kau akan memercayainya?" tanya Minato yang sudah kembali tenang. Melihat raut wajah Naruto barusan, membuat Minato menelan kembali amarahnya.

"Kalau begitu, masih bisakah aku memercayaimu?" tanya Naruto setengah putus asa.

"Aku adalah tou-san-mu, bukan? Jadi bukankah sudah seharusnya seorang anak memercayai tou-san-nya?"

Tatapan mata biru itu lantas berubah sendu, "Jika melihatnya dari sisi Hinata, maka aku akan mengatakan itu tidak seharusnya. Seorang ayah pun juga bisa menipu anak-anak mereka," jawab Naruto yang sudah memalingkan wajahnya.

"Jadi ini berhubungan dengan Kaisar Hyuuga?"

"Ya, orang paling egois di balik runtuhnya Kekaisaran Haruno."

[Di Tempat Sasuke]

"Tidak. Aku tidak bisa," jawabnya tegas.

Sakura memutuskan bahwa ia tidak bisa menerima keputusan Sasuke. Rencana itu, Sakura tidak bisa menerimanya. Kali ini masalahnya bukan hanya dendam Itachi dan Sasuke, tapi sudah menyangkut seluruh hidup masyarakat banyak.

"Kali ini, aku tidak bisa," sambung Sakura.

Rahang Sasuke mengeras. Jawaban Sakura membuat sesuatu di dalam dadanya seperti dipukul keras-keras. Sebuah penolakan tegas dari perempuan yang ia harapkan untuk bisa selalu mendukungnya. Untuk mau menerima semua hal yang ia pilih, meskipun itu adalah jalan kehancuran.

Tapi nyatanya, perempuan merah muda itu menolaknya tanpa ada keraguan sedikitpun. Membuat seluruh tubuh Sasuke menggigil saking tidak bisa menerimanya. Menahan kuat-kuat rasa kecewa itu. Pikirannya lantas kalut seketika. Buyar. Buram. Semuanya berantakan. Segala ego pun tidak bisa ia pertahankan lagi. Runtuh seketika kala ia tersadar bahwa penolakan Sakura adalah titik awal kehancurannya.

"Aku tidak akan membunuh Hinata sesuai keinginanmu. Aku janji padamu, aku akan membiarkannya hidup. Aku akan menjamin keselamatannya, termasuk dengan Naruto. Aku janji tidak akan bertarung melawannya. Karena itu tetaplah untuk berada di sisiku," ucap Sasuke dengan tergesa-gesa. Tidak lagi datar atau tenang seperti biasanya.

Baru kali ini di dalam hidupnya Sasuke memohon pada seseorang. Seseorang selain ibunya. Saat itu permintannya berakhir sia-sia, wanita itu—kaa-san-nya, tetap pergi meninggalkannya.

Dan kali ini Sasuke sedang melakukan hal yang sama. Ia baru saja memohon pada Sakura untuk tidak pergi meninggalkannya. Sasuke tidak bisa kehilangan sosok yang ia cintai untuk ke dua kalinya. Membayangkannya saja ia tidak bisa.

Mata hijau itu tetap tegas, meski ada sedikit rasa perih yang mencubit batinnya kala melihat wajah Sasuke. Pria yang terlihat kalut sekarang. Ditambah dengan ucapannya yang kembali mengingatkan Sakura betapa rapuhnya Sasuke ketika memintanya untuk tidak pergi.

"Apa kau masih tidak mengerti? Ini bukan hanya tentang Hinata dan Naruto, tapi banyak orang yang akan menjadi korban di sini. Hentikan rencana penyerangan Kekaisaran Hyuuga, dan aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Sakura yang kembali melembut. Menenangkan.

Berharap bahwa Sasuke akan menuruti keinginannya. Sakura tahu kali ini mereka sama-sama egois. Namun kali ini Sakura sudah membulatkan tekadnya untuk tidak mengalah.

Sasuke menggeram frustasi, "Keputusan itu sudah bulat. Rencana itu sudah tidak bisa lagi dihentikan."

Mata hijau Sakura mendadak sayu. "Jadi, kau lebih memilih Itachi?" Suara yang keluar pun terlampu lemah.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tidak mengerti.

Entah benar tidak mengerti atau hanya berpura-pura. Bukankah sudah jelas, jika keduanya sama-sama tidak bisa mengalah, maka menurut Sakura satu-satunya jalan keluar yang ada hanyalah perpisahan. Benar begitu 'kan?

"Sudah jelas, bukan?" Sakura mengalihkan pandangannya, "Tujuan hidup kita berbeda, jadi aku tidak mungkin bisa—"

Sasuke segera mencengkram erat bahu Sakura, bahkan tanpa sadar mendorong tubuh itu hingga menabrak pintu kamar dengan kasar.

"Tidak!" ucap Sasuke mengancam. Mata hitamnya menatap marah pada Sakura.

"Kau tidak akan pergi!" Bentaknya kasar.

Sasuke merasa darah di dalam tubuhnya seketika mendidih mendengar ucapan Sakura. Ujung kalimat yang terasa akan membunuhnya saat itu juga jika Sasuke mendengarnya.

Sasuke tidak bisa lagi mengontrol segala emosinya. Membayangkan Sakura akan meninggalkannya, membuat dirinya terbakar amarah. Bukan, bukan ini yang ia rencanakan. Perhitungannya kali ini meleset jauh.

Sakura sempat memejamkan matanya sesaat kala tubuhnya membentur kayu dengan keras. Cengkraman Sasuke di bahunya terasa menyakitkan. Sasuke sungguh-sungguh menggunakan tenaga pada cengkramannya kali ini. Tapi bukan itu yang sebenarnya yang menjadi masalah Sakura. Masalahnya terletak pada tatapan Sasuke. Pada mata hitam yang memandanganya kini. Raut wajah itu.

Pria itu terluka.

Deru napas Sasuke menerpa wajah Sakura. Wajar karena jarak mereka kini sangat dekat. Tidak ada lagi kelembutan di mata hitam itu. Udara dingin yang menerpa mereka tidak mampu mengalahkan tatapan dingin dari mata Sasuke.

Sakura menelan ludahnya sebelum ia mulai berbicara, "Sa- Sasuke," panggil Sakura pelan. Jujur saja, Sakura takut pada pria di hadapannya sekarang. Dia, bukan Sasuke-nya.

Ucapan Sakura bagai terbawa oleh angin. Hilang sebelum sampai ke indera pendengaran Sasuke, karena sepertinya pria itu hanya bergeming. Kemarahan sudah menguasainya.

Bahkan cengkramannya semakin menguat kala ia kembali berbicara.

"Tidak, kau tidak akan pergi ke manapun," ucap Sasuke dingin dan tajam.

Mata Sakura menyipit kala sakit di bahunya tidak bisa lagi ia tahan, "Le- lepas," rintihnya pelan, "Sa- sakit … Sasuke!" Dan Sakura menaikkan nada biacara ketika menyebut nama pria di hadapannya.

Barulah saat itu Sasuke tersadar pada apa yang telah ia lakukan. Dengan segera ia melepas kedua tangannya yang mencengkram dan juga mendorong tubuh Sakura kuat-kuat. Setelahnya kedua tangan Sakura kini memeluk tubuhnya sendiri. Mengelus lembut, berusaha mengurangi rasa sakit itu.

Hening beberapa saat. Sasuke sendiri mengalihkan pandangan matanya. Berusaha untuk meredakan amarahnya. Rasa sesal pun langsung datang menghampirinya.

"Tidurlah, besok kita akan pergi lagi." Ucapan itu tidak sedingin dan setajam sebelumnya.

Sakura sendiri hanya menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Sasuke. Sakura lebih memilih diam. Tidak menanggapi dan terkesan menurut karena kini ia sudah membalikkan tubuhnya, berniat masuk ke dalam kamarnya.

Namun baru saja Sakura menggeser pintu kamar itu, dua tangan sudah melingkar di bahunya. Memeluk tubuhnya lembut.

"Maaf sudah menyakitimu." Meski pelan, namun Sakura dapat mendengarnya dengan jelas. Sasuke tepat mengucapkan kata itu di samping telinga Sakura. Embusan napasnya bahkan juga ikut menerpa leher Sakura. Hangat. Sama seperti pelukannya saat ini.

Inilah Sasuke-nya.

"Tolong jangan katakan lagi kalau kau akan pergi," sambung Sasuke yang semakin mengeratkan pelukannya.

Sakura masih terdiam bahkan saat kedua tangan Sasuke terlepas dari bahunya. Hingga pintu kamar itu akhirnya kembali tertutup rapat pun Sakura tidak juga mengeluarkan suaranya. Sakura berdiri di balik pintu itu. Satu tangannya kini bertugas menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar.

Benar. Sakura kini menangis. Bukan karena perlakuan kasar Sasuke, tapi karena ucapan terakhirnya barusan. Ucapan yang kembali keluar dari mulut Sasuke-nya. Permintaan maaf yang kemudian disusul oleh sebuah permohonan.

Permohonan yang sayangnya tidak bisa Sakura penuhi. Karena itulah Sakura meneteskan air matanya. Pilihan egoisnya akan menyakiti Sasuke. Hal yang sebenarnya tidak ingin Sakura lakukan.

Tapi Sakura harus memilih. Meski pilihannya akan menyakiti Sasuke, dan juga dirinya sendiri.

Bukankah Sakura sudah membulatkan tekad untuk tidak mengalah? Maka kali ini ia akan benar-benar melakukannya. Tidak sekarang. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat.

Sasuke sendiri masih terdiam menatap pintu kamar Sakura. Matanya menatap sayu, disusul helaan napas meluncur dari mulutnya. Ia lantas membalikkan tubuhnya dan bersandar pada pintu itu.

Ia sudah keterlaluan. Sasuke tahu itu. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Hal itu terjadi karena Sasuke tidak bisa kehilangan Sakura. Sebenarnya bukan berarti ia tidak bisa memenuhi permintaan Sakura. Sasuke rela melakukan apa saja agar Sakura terus berada di sisinya.

Hanya saja ia tidak bisa.

Kesepakatan itu telah terjadi. Dan ini demi keegoisannya. Keegoisannya demi memiliki Sakura. Agar Sakura tetap bersamanya.

"Kalau begitu cukup rahasiakan hal ini darinya," jawab Sasuke cepat. Bahkan tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Kaupikir bisa semudah itu? Bagaimana jika aku mengatakan kebenaran ini padanya?"

"Jangan mencoba untuk mengancamku!"

Suaranya kedua pria itu sama-sama meninggi, seakan tidak ingin mengalah antara satu dengan lainnya. Keduanya kini saling mengatur napas, sekaligus berusaha utuk meredam emosi mereka. Mereka sadar tidak ada gunanya memakai emosi dalam perbincangan ini.

Dua pasang mata itu masih saling menatap tajam.

"Maka kita selesaikan rencanaku."

"Saat ini aku bukan sedang meminta persetujuan darimu, tapi anggap saja ini adalah sebuah kesepakatan," sambung Itachi.

Sasuke merasa, ia tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Bukan karena alasan agar dendamnya terbalaskan. Hal itu sudah tidak memiliki pengaruh lagi pada Sasuke. Tapi lebih kepada rahasia yang ingin ia simpan rapat-rapat dari Sakura. Rahasia kelam miliknya yang tidak ingin diketahui oleh perempuan merah muda itu.

Mata hitam itu terpejam sesaat.

Sasuke sadar harusnya ini tidak ia lakukan. Tapi rasa takut akan kehilangan Sakura menjadi pemicu besar persetujuan kesepakatan itu. Lagi pula jika ia bisa menghabisi Kekaisaran Hyuuga, maka rahasia ini pun bisa tersimpan rapat. Semakin memperkecil kemungkinan Sakura untuk mengetahui tentang Kekaisaran Haruno. Terutama kematian ayahnya.

Terlihat egois memang, tapi kini Sasuke tidak peduli. Bayang-bayang mengerikan itu, Sasuke tidak mau lagi mengalaminya lagi. Maka kali ini, Sasuke membiarkan keegoisan memimpin dirinya. Asalkan itu bisa membuat Sakura terus bersama dengannya.

Matanya sekali lagi melirik pintu kamar itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi. Pergi dengan mengingat kembali percakapannya dengan Itachi. Kenyataan yang kini telah ia ketahui. Rahasia yang ingin ia sembunyikan dari Sakura.

"Kenapa?" tanya Sasuke, "Katakan padaku, kenapa Tou-san melakukan itu?"

Satu pertanyaan paling utama yang sangat ingin Sasuke ketahui.

"Karena dia menginginkan kedudukan Kaisar," jawab Itachi yang telah kembali tenang.

Dan jawaban Itachi barusan tidak pernah terbayang sebelumnya dalam benak Sasuke.

"Dia menolak dengan keras ide Kaisar Haruno yang ingin bekerja sama dengan pihak asing untuk membangun bangsa ini. Pikirnya, bisa saja pihak asing akan memanfaatkan Kaisar. Berpura-pura menyetujui kerja samaitu, namun mereka sendiri akan mencari celah untuk menghancurkan bangsa ini. Lalu pertentangan pun terjadi, dan tentu saja pendapat Tou-san kalah," jelas Itachi.

Sedangkan Sasuke memilih mendengarkan dalam diam. Meski tidak bisa ia pungkiri ada perasaan tak menyenangkan muncul kala ia mendengarkan penjelasan Itachi. Seperti itukah Tou-san-nya?

"Meski begitu Tou-san masih tidak bisa menerimanya. Ia melacak sendiri mengenai kecurigaannya pada pihak asing. Sampai suatu hari salah satu pejabat Kaisar, Hiashi Hyuuga memiliki pendapat yang sama dengan Tou-san. Ia menyetujui dan mendukung penuh pendapat itu. Ia bahkan mencari dukungan dari para daimyo yang berkuasa pada zaman Kekaisaran Haruno. Namun meski telah mendapat banyak dukungan, tetap saja pendapat itu tidak mengoyahkan keputusan Kaisar Haruno sendiri. Menurutnya, bangsa ini akan semakin berkembang dan maju jika bisa menjalin kerja sama dengan pihak asing.Situasi semakin memanas sehinggamuncul sebuah ide gila yang berasal dari Hiashi Hyuuga. Dia menyarankan untuk meruntuhkan Kekaisaran Haruno, menggulingkan secara paksa kekaisaranbesar yang sudah memimpin bangsa ini selama hampir 200 tahun. Keinginan kuat Tou-san untuk melindungi bangsa ini dimanfaatkan penuh oleh pria itu, sehinggaakhirnya Tou-san pun menyetujui ide itu. Tou-san kita bahkan memutuskan untuk juga membunuh keluarga Kaisar Haruno. Membunuh habis keturunan haruno tanpa tersisa."

Itachi berhenti sesaat. Pancaran kedua mata hitamnya kini tidak setenang ucapannya.

"Di hari itu, Tou-san berhasil menghabisi nyawa Kaisar Haruno. Ia telah berhasil menjalankan rencana kudeta itu, tapi tidak disangka—"

.

"Pria itu—Hiashi Hyuuga, memanfaatkan Fugaku Uchiha demi keinginannya. Berkedok sebagai pendukungnya. Diam-diam di balik kekuasaan Fugaku, ia sedang menunggu saat yang tepat untuk mewujudkan keinginannya. Setelah Fugaku berhasil mengkudeta Kekaisaran Haruno dengan melenyapkan seluruh sanak keluarga maupun saudara yang memiliki garis keturunan Haruno. Dia sendiri telah menyiapkan serangan untuk menghabisi Fugaku Uchiha. Di hari yang sama dengan kematian Kaisar Haruno, Hiashi Hyuuga yang juga berada di sana langsung membunuh Fugaku Uchiha. Memainkan peran seakan ia berusaha menyelamatkan Kaisar," jelas Naruto, yang berusaha menahan perasaan emosi yang terasa ingin meledak saat ini. Emosi itu terpancar jelas di kedua matanya.

Informasi yang telah ia peroleh sebenarnya hampir tidak bisa ia percaya. Namun inilah kenyataannya meskipun itu pahit. Kenyataan yang kini ia beritahukan pada ayahnya, Minato Namikaze.

"Hiashi memutarbalikkan semua fakta yang terjadi. Bersama dengan seluruh pengikutnya—para daimyo yang telah diiming-imingi kedudukan oleh Hiashi. Ia memainkan peran yang membuat ia terlihat layaknya seorang pahlawan. Memanipulasi semuanya. Mencuci bersih kejahatannya," sambung Naruto.

.

"LaluHiashi mengatakan bahwa Ke-shogun-an Uchiha adalah pengkhianat besar Kaisar yang harus mendapatkan hukuman yang sama. Di hari itu pula sudah diputuskan, bahwa seluruh keluarga dan sanak saudara yang memiliki garis keturunan Uchiha harus mati dengan cara yang sama. Itulah hari di mana aku tidak dapat menemukan kalian. Salah satu pengawal setia Tou-san mungkin berhasil memberitahukan kabar ini pada Kaa-san, sebelum akhirnya kediaman kita dibakar oleh pesuruh Hyuuga," lanjut Itachi.

Terlihat tenang di luar, namun ada gejolak kebencian di dalam benaknya. Membakar kembali perasaan dendamnya. Perasaan yang sudah mengakar di dalam dirinya.

"Kemudian sehari setelahnya, semua pun setuju untuk mengangkat Hiashi Hyuuga sebagai kaisaryang baru. Menggantikan Kaisar Haruno karena tidak ada lagi keturunannya yang tersisa."

.

"Tidak hanya sampai di situ. Ia perlu menyempurnakan semuanya, semua rencananya termasuk perjanjian yang telah ia buat dengan para daimyo. Ia lantas memulai aksinya untuk melengserkan semua para pejabat istana peninggalan Kaisar Haruno, di mana hal itu juga ia gunakan untuk menutupi sejarah yang sebenarnya. Menghilangkan semua jejak Uchiha dari sejarah bangsa ini. Para pejabat peninggalan Haruno yang telah tewas mulai diganti dengan para daimyo pendukungnya, yang sebagian besar kini telah dihabisi oleh Itachi Uchiha. Anak sulung dari Fugaku Uchiha yang berhasil selamat."

Tanpa sadar Naruto mengepalkan kedua tangannya, "Dan pada kenyatannya, Hiashi Hyuuga sendiri menyetujui untuk menjalin kerja sama dengan pihak asing."

"Pria yang selama ini menjadi pemimpin bangsa ini, tidak lain hanyalah seorang pria berengsek yang gila akan kedudukan! Pria yang telah berhasil menipu kita semua, termasuk dengan keluarganya sendiri. Bahkan pada anak yang selalu menatap bangga padanya!"

Naruto meluapkan semua emosinya. Emosi yang tidak bisa ia tahan lagi ketika semua kenyataan ini juga menyangkut pada Hinata. Sosok perempuan yang selama ini selalu bangga pada ayahnya. Perempuan yang selalu berharap bisa menjadi seorang pemimpin seperti ayahnya.

Harus bagaimana?

Kenyataan yang kini ia tahu adalah alasan sebenarnya mengapa Itachi melakukan ini semua. Balas dendam. Bukan tentang kedudukan seperti yang selama ini tersebar luas. Semua kenyataan yang telah Naruto ketahui kini membuatnya tidak mengerti. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Lalu di manakah Naruto seharusnya berdiri?

Kini Naruto tahu bahwa Hiashi Hyuuga adalah orang yang tidak pantas untuk ia lindungi. Pria itu harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah ia lakukan di masa lampau. Tapi apakah ia lantas mendukung jalan Itachi dan juga Sasuke? Tidak! Naruto tahu jalan itu pun juga bukanlah jalan keluar yang benar.

Lantas haruskah ia melindungi Hiashi Hyuuga?

Jawabannya pun juga tidak. Jelas sekali Naruto tidak akan melakukan itu. Melindungi pria keji itu, Naruto kini tidak lagi sudi. Jadi apakah itu artinya ia akan membiarkan Hiashi terbunuh?

Lalu membuat Hinata bersedih. Membuat Hinata menangis.

Kedua tangannya terkepal erat.

Tidak. Naruto tidak bisa melihat Hinata menangis.

Jadi, apa yang harus ia lakukan?

Melihat kebimbangan yang jelas tergambar pada pancaran mata biru itu. Keresahan dan kekalutan yang kini sedang dialami oleh Naruto. Perasaan yang Minato dapat pahami secara jelas tanpa harus Naruto utarakan padanya. Situasi ini memang terlampau sulit, termasuk untuk Minato sendiri. Sebagai Pemimpin Ke-shogun-an Namikaze yang kini telah mengetahui seluruh kebenarannya. Minato juga memikirkan bagaimana ia harus menyikapi perihal ini. Namun sebelum memikirkannya lebih jauh, ada hal lain yang perlu Minato ketahui kebenarannya dari Naruto. Kabar yang sempat memancing amarahnya.

Minato pun menepuk bahu sang anak dengan sedikit bertenaga. Membuat mata biru itu akhirnya menatap ke arahnya. Saling berpandangan.

"Jawablah dengan jujur. Apa kau yang membunuh Hidan demi mendapatkan informasi ini?" tanyanya pelan.

Naruto menggeleng pelan, "Itu semua murni sebuah kecelakaan. Aku hanya berniat mengancamnya. Hidan mati oleh tangannya sendiri."

"Apa aku bisa memercayainya?" Tanya Minato menatap dalam mata biru di depannya.

"Aku adalah anakmu. Bukankah sudah seharusnya seorang ayah memercayai anaknya? Sebagaimana aku memercayaimu."

Minato menghela napasnya. Sejak kapan anaknya pintar membalikkan kata-katanya, "Baiklah aku percaya padamu."

"Perlu kau tahu. Sebenarnya beberapa belakangan ini aku mempelajari pola pembunuhan Itachi. Awalnya aku percaya penuh akan ucapan Kaisar mengenai Itachi, namun akhirnya aku pun menemukan kejanggalan. Tapi kau hebat bisa menemukannya secepat ini."

"Ini semua berkat cerita Itachi dan juga seorang perempuan keturunan Haruno."

Raut wajah kedua pria itu kembali serius. Terlebih bagi Minato setelah mendengar kata "Keturunan Haruno" terlontar dari mulut putranya.

"Untuk sementara ini bersikaplah seperti biasanya. Mengenai masalah kematian Hidan akan kucoba selesaikan. Kita akan membicarakan hal ini kembali setelah kau menyelesaikan urusanmu dengan Kaisar Hyuuga."

Minato tidak ingin menambah masalah Naruto jika ia tertahan lama di sini bersamanya. Lagi pula ia juga harus menyelesaikan masalah kematian Hidan. Laporan yang ia terima ketika ia menginjakkan kakinya di kediaman miliknya. Laporan yang sempat membuatnya murka karena Naruto menjadi tersangka utama di balik tewasnya Hidan, meski mereka belum menemukan bukti yang cukup.

Karena itu saat Naruto pergi menghadap Kaisar, ia akan meluruskan perihal kematian Hidan.

Naruto pun mengangguk setuju. Pria kuning itu juga harus memberikan laporan mengenai perjalanan mereka pada Kaisar.

"Kuharap kau bisa menahan emosimu, Naruto. Jangan bertindak gegabah. Kau tahu 'kan?"

"Tentu saja," jawab Naruto, yang kemudian pergi menuju kekediaman Kasiar Hyuuga. Orang yang sebenarnya paling enggan untuk ia temui sekarang.

.

.

Pagi telah datang. Sasuke melangkahkan kakinya menuju kamar di mana Sakura berada. Semalam Sasuke memutuskan untuk tidak beristirahat di tempat yang sama dengan Sakura. Bukannya ia bermaksud untuk menghindar, hanya saja ia sengaja memberi waktu bagi Sakura setelah apa yang ia lakukan kemarin.

Terlebih Sasuke juga ingin memberi waktu untuk dirinya sendiri. Memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sebenarnya ide Itachi sepenuhnya tidak Sasuke setujui. Entah mengapa tentang perasaan dendamnya pun kini tidak lagi membakar jiwa Sasuke. Tapi bukan berarti juga menghilang. Hanya saja ada suatu hal lain yang terasa lebih penting dari itu. Dan Sasuke tahu hal apa itu.

Perasaan lain yang lebih penting dibandingkan perasaan dendamnya. Perasaan yang ia miliki untuk Sakura.

Kini ia telah berdiri tepat di depan pintu kamar Sakura. Semua tampak seperti biasanya. Sasuke mengetuk pelan pintu tersebut, memberi tanda pada Sakura bahwa ia datang untuk menjemputnya.

Tidak ada jawaban. Dan tidak jua Sakura membuka pintu itu—menampakkan dirinya. Sasuke mengetuk pintu itu sekali lagi, namun masih juga tidak mendapat tanggapan. Kali ini ia memanggil nama perempuan itu.

"Sakura." Diiringi ketukan yang lebih kencang dari sebelumnya.

Kesunyian yang didapat Sasuke memunculkan sebuah perasaan tidak menyenangkan yang langsung hinggap dalam benaknya. Memainkan pikirannya yang sudah membayangkan berbagai hal buruk tentang Sakura.

Masih mencoba untuk menepisnya, Sasuke kembali mengetuk pintu kamar itu dan memanggil nama Sakura sekali ini. Mungkin terakhir kali. Karena jika masih tidak juga ada tanggapan yang ia terima dari perempuan itu, Sasuke terpaksa membuka—menggeser pintu kamar itu tanpa seizin Sakura, seperti yang sedang ia lakukan sekarang.

Dan mata hitam itu seketika melebar sempurna kala menemukan tidak adanya sosok yang ia tunggu sedari tadi. Ruangan kamar itu kosong. Kosong dalam artian tidak ada siapapun di dalamnya.

Sakura tidak ada.

TIDAK ADA!

Tanpa basa-basi lagi Sasuke berlari ke kanan area penginapan itu, menuju tempat pemandian. Apakah Sakura berada di sana?

Meski di dalam hatinya sudah menyakini bahwa Sakura benar-benar pergi. Pergi meninggalkannya, namun Sasuke masih mencoba untuk memungkiri hatinya sendiri. Berharap bahwa Sakura berada di sana. Sakura tidak mungkin pergi meninggalkannya.

Namun sosok itu tidak juga muncul. Sasuke langsung berlari menanyakan perihal keberadaan Sakura pada para pegawai penginapan yang ia temui. Hanya gelengan kepala yang ia dapat sebagai jawaban. Mereka tidak melihat sosok itu. Termasuk dengan pegawai yang berjaga di depan pintu masuk.

Kuso!

Mata hitam itu menatap nanar area luar peninapan itu. Tangannya menggenggam erat handel katana-nya. Hanya ada angin yang membelai tubuh Sasuke, sedangkan yang lainnya terasa kosong untuknya.

Tidak dapat dipungkiri lagi. Sosok merah muda itu telah pergi. Sakura telah pergi meninggalkannya.

Sakura memilih pergi darinya.

Bertubi-tubi perasaan bersalah dan juga penyesalan datang mendera Sasuke tanpa bisa lagi ia tahan. Seandainya saja Sasuke memilih untuk tetap bersama Sakura. Seharusnya ia tidak meninggalkan Sakura sendiri.

Bodoh. Tolol.

Jika sudah seperti ini, lalu apa yang harus ia lindungi lagi? Kalau orang yang ingin ia lindungi saja telah meninggalkannya. Untuk apa ia menyembunyikan rahasia ini lagi, jika orang itu sudah pergi?

Sakura telah pergi darinya. Tapi kenapa?

"Sudah jelas, bukan?" Tujuan hidup kita berbeda—"

Tujuan hidup? Batin Sasuke bertanya.

Memangnya apa tujuan hidupmu, Sakura?

Apakah tidak ada aku di tujuan hidupmu?

Bersambung.

Curcul :

Haiiii ^^

Maaf ya udah bikin kalian pusing sm chap kemarin, kayanya chap ini juga masih bikin pusing ya? Jadi ceritanya ucapan yang ada diingatan Sasuke sm ucapan Naruto itu nyambung, gitu. Jadi crt mereka isi nya sama (Ngerti kan ya?) hehehehe

Trus maaf kalo akhirnya aku telah memisahkan Sasusaku huahahaha *ketawajahat* *ditampol* abis gimana donk? emang udah gitu naskah ceritanya :p , Jadi skrg tergantung Sasuke maunya gmn hahaha...

Dan karena Sasusaku lagi pisah, jadi chap besok gilirannya naruhina (Dipisahin juga?) lah kapan mereka bersatu wkwkwk. Bukannya aku ngak sayang Sasusaku loh, bukan berarti aku dominan ke Naruhina tapi emang peranan mereka juga penting :D walau pun pisah Sasusaku tetap muncul kok, beda tempat tapi haha...

Dan bagaimana soal perang? Ya, ditunggu aja. Oh, apa ngak ada yang nanya ada death chara apa engga? Hihihihi

Maaf klo chap ini pendek ya, aslinya chap ini selesai dalam beberapa jam *lirikHana* aku dikerjain sama dia eh becanda deng hehe entah knp tiba2 (selalu tiba2) ada ide buat publish bareng, dan aku terpaksa ngebut ngetik chap ini krn Hana update FIc dia hari ini Fiuh *lapkeringet*

Soalnya aku itu ngak punya draft2an gitu, klo emang mau publish ya asli baru diketik hehehe (Duh malah curhat) okelah abaikan aja ya hihihi….

Sampai ketemu chap depan ya. Maaf klo ada perkataan aku yang menyinggung. Semoga suka ceritanya ya ^^

31 – 07 – 15

.

[U W] —Istri sah Taka, One Ok Rock :* —