Balas Review! :D

SR: Yah begitu deh... -w-a Ini udah lanjut... -w-/

Happy Reading! :D


Malam Minggu Thanata: Tebakan di Tengah Kemacetan


Thanata menghentak-hentakkan kaki kirinya yang bebas seiring dengan irama lagu dari radio di saat kaki kanan menahan pedal mobil. Gadis pirang itu menyandarkan kepalanya di atas setir.

Jalanan malam ini tumben-tumbennya sangat macet sampai Thanata pun tidak kuasa menahan bosan.

Di kursi penumpang tepat di samping Thanata, duduklah seorang pemuda bernama Zeptrun. Berbeda dengan Thanata yang sudah memasang tampang bosan nan suntuk, pemuda itu justru asyik menyenandungkan nada lagu dari radio sambil menatap keluar jendela.

Jalanan yang macet memang tidak selalu menjadi pemandangan yang enak dilihat, tapi menurut pemuda itu, mobil yang saling bersahut-sahutan klakson lebih baik daripada wajah bete Thanata.

Dua manusia yang terjebak macet ini adalah sepasang kekasih yang sudah beberapa bulan pacaran dan kebetulan keduanya sama-sama tidak ingat siapa yang menyatakan perasaan duluan. Ada yang bilang Thanata yang terlebih dahulu menyatakan perasaan, ada juga yang bilang Zeptrun duluan.

Karena tidak ada pihak yang tau mana yang jujur ataupun bohong, lebih baik tidak usah kita bahas kisah pernyataan mereka pramasa pacaran ini. Tapi intinya, kini kedua sejoli itu menjalin hubungan kasih. Habis perkara.

Secara kepribadian, keduanya agak saling melengkapi. Thanata suka melontarkan lelucon-lelucon tidak jelas nan garing, sementara Zeptrun punya selera humor yang... Entah rendah atau tinggi, pokoknya pemuda itu mudah sekali dibuat tertawa. Sedikit saja Thanata bertingkah konyol, tawanya akan terlontar hingga tiga hari tiga malam.

Ehmm, tidak sebegitunya juga sih...

"Zep-kun." panggil Thanata sambil menolehkan kepalanya keluar jendela, belum ada tanda mobil depan akan maju sesenti pun.

"Ya?" sahut Zeptrun sambil mengecilkan volume radio dan menatap lawan bicaranya. Meskipun Thanata tidak balik menatapnya, setidaknya Zeptrun sudah berusaha menerapkan sopan santun untuk menatap lawan saat berbicara.

"Tebak-tebakan yuk."

Thanata bosan, Zeptrun tau persis. Kalau sampai gadis itu mengajaknya main tebak-tebakan dengan wajah madesu seperti saat ini, artinya dia sudah benar-benar penat.

Mau bagaimana lagi? Kemacetan ini memang sanggup membuat orang dengan otak tersehat sekalipun menjadi gila.

"Ayo." jawab Zeptrun setengah antusias sambil memperbaiki posisi duduknya, posisi duduk terbaik saat merespons tebak-tebakan garing dari Thanata adalah dengan duduk tegak menghadap ke depan. "Aku siap."

Thanata berdehem. Dia mengangkat kepalanya dari setir dan mencoba menggunakan otak brilian di balik rambut pirang itu untuk mengundang tawa Zeptrun. "Benda apa yang... Dari jauh kelihatan biru, dari dekat ternyata hijau?"

"Gunung?"

"Yap." Thanata mengangguk tanpa ekspresi.

Sepertinya tebak-tebakan garingnya tidak mengundang tawa hari ini, terkadang emosi membuat Thanata gagal terlihat lucu.

"Kurang asyik ya?"

"Hmm... Terlalu serius." jawab Zeptrun jujur dengan senyum tipis.

Sebenarnya dia ingin tertawa, tapi tidak bisa karena kotak tertawanya tidak tergelitik.

"Kalau begitu..." Thanata berdehem lagi, sepertinya mood bercanda gadis itu mulai kembali. "Tinta apa yang tidak pernah habis kecuali saat ajal menjemput?"

"Hah?" Zeptrun mengerutkan dahi, memangnya ada tinta yang terus-terusan ada? "Tinta pulpen atom?"

Thanata tergelak.

Pulpen atom adalah pulpen yang tidak perlu diisi tinta, tapi bukan berarti tintanya abadi.

"Salah!"

"Apa dong?" Zeptrun mengetuk dagu dengan telunjuk kanan. "Tinta yang bahannya air laut?"

"Memangnya ada tinta seperti itu?"

Zeptrun mengangkat bahu. "Aku menyerah deh!"

"Jawabannya adalah... JENG JENG JENG!" Thanata menggoyang-goyangkan tangan kanannya. "Tintaku padamu!"

Webek, webek...

"Tidak lucu ya?"

Setelah ditanya begitu, Zeptrun di luar dugaan malah terpingkal-pingkal saking gelinya. Dia menepuk pundak Thanata sebagai tanda terhibur.

Sepertinya tidak sia-sia Thanata membaca buku humor semalam.

"Mau lagi?" tanya Thanata di sela tawa Zeptrun.

Ah, akhirnya mobil depan melaju juga meskipun hanya beberapa meter.

"Mau!"

Sudah lama Zeptrun tidak tertawa sepuas ini karena dia juga sudah lama tidak bertemu Thanata si pacar yang absurd nan ajaib itu.

"Oke." Thanata memutar mata, dia berusaha mencari tebak-tebakan yang tepat sambil menyetir. "Ini berkaitan dengan judul film lama."

"Boleh, aku cukup update soal film lama."

Rupanya macet tadi karena lampu lalu lintas yang rusak. Setelah polisi datang, lalu lintas pun kembali lancar.

"Kamu susun lima kata yang akan aku sebut setelah ini ya?" Thanata memutar setir. "Cinta, daku, kejarlah, kutangkap, kau."

Zeptrun memutar otak sejenak, kemudian memberi jawaban mantap. "Kejarlah Daku Kau Kutangkap."

"Itu hanya empat kata, Cinta-nya mana?"

"Eh?" Zeptrun terkejut, dia juga baru sadar. "Kalau begitu... Kejarlah Cinta Daku Kau Kutangkap?"

"Salah."

"Kutangkap Kau Cinta Daku Kejarlah?"

"Apaan tuh?"

"Hmm... Kutangkap Kau Kejarlah Cinta Daku?"

"Salah juga."

"Cinta Kejarlah Daku Kau Kutangkap?"

"Salah juga."

"Memangnya jawaban yang benar apa?" Zeptrun bertanya balik sambil menopang dagu, dia sudah tidak sanggup berpikir lagi.

"Kejarlah Daku Kau Kutangkap."

"Eh? Itu kan sama dengan jawaban pertamaku tadi!" protes Zeptrun sambil menepuk pundak Thanata dengan kesal. "Lalu cintanya mana?"

"Lho? Kamu kan cintanya!"

Wajah Zeptrun langsung memerah dan dia kembali memukul pundak Thanata dengan tenaga yang lebih besar. "A-apaan sih? Norak!"

Thanata tertawa sambil terus menyetir mobilnya ke asrama, dan berakhirlah tebak-tebakan garing mereka pada malam itu.


Special Omake:

1. Goreng Telur

"Kaaaak! Aku mau masak telur, tapi gasnya abis! Mau beli malah nggak ada! Gimana nih?" seru Nova panik pada Roland yang sedang minum jus.

"Pegang dulu jusnya, jangan diminum!" Roland menyerahkan jusnya pada Nova dan mengeluarkan sebuah setrika. "Aku cuma nunjukin ini sekali, jadi perhatiin!"

Dia meletakkan setrika di atas meja, meletakkan wajan di atas setrika, dan menaruh telur di atas wajan. Ajaibnya, cara itu cukup berhasil untuk menggoreng telur.

"Waaaaaaaat?!" Nova langsung shock seketika melihat itu.


2. First Kiss Tastes Like Chocolate

"Hey, apa kalian pernah mendengar pepatah 'ciuman pertama terasa seperti cokelat'?" tanya Saphire suatu hari. "Punyaku berasa roti selai kacang."

"Ehmm... Aku rasa itu bermakna kesan manis..." jawab Vience. 'Punyaku terasa seperti saus tomat.'

"Tidak tau. Tidak pernah mencium siapapun." timpal Daren datar.

Saphire dan Vience saling berpandangan dengan wajah skeptis.

"Umm... Dary, kau berkencan dengan Kaila selama hampir setahun kan?" (Saphire)

"Jadi?" (Daren)

"Kecuali ciuman, apa yang kalian lakukan sebagai pasangan?" (Vience)

"Tidak tau. Kami jarang kencan karena sama-sama sibuk. Kami hampir tidak pernah berpelukan atau hubungan kontak lainnya karena kami saling menghargai ruang masing-masing..." (Daren)

Mereka bertiga langsung hening seketika, sampai tiba-tiba...

"JANGAN JADI MAKHLUK EGOIS!" pekik Saphire sambil melempar bantal ke wajah Daren. "Aku tau kalian tidak bisa bermesraan, tapi apa intinya menjadi pasangan jika kau tidak pernah melakukan apapun? Hanya menandai satu sama lain sebagai 'milikku' dan lalu apa? Mulailah memikirkan masa depan kalian bersama! Dia setuju denganmu selama ini karena mungkin kau seperti mengatakan 'jika kau tidak menyukaiku seperti itu maka kita akan putus'. Cobalah lebih terbuka dan jujur padanya! Serius, aku merasa kasihan padanya!"

"BERIKAN GADIS ITU SEDIKIT CINTA!" sembur Saphire sebal.

"Ahaha, tenanglah Saphire." Vience menahan Saphire dan menatap Daren dengan senyum miris. "Tapi Dary, aku setuju dengan apa yang dia katakan... Kami tau kau mencintainya, jadi setidaknya cobalah untuk terlihat seperti itu, bahkan hanya untuknya?"

'Ini tidak seperti aku tidak menyukainya... Ini lebih seperti aku tidak tau bagaimana cara melakukannya...'


Di tempat lain pada jam dua malam...

Teng teng!

"Ugh, apa dia tidak lihat aku sedang tidur?!" gerutu Kaila sebal sambil mengambil handphone-nya. "Hah? Daren?"


Kemudian...

"Jadi... Ada urusan apa kau memanggilku jam segini?" tanya Kaila dengan wajah setengah mengantuk dan rambut berantakan.

"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan..." jawab Daren sambil menepuk tempat tidurnya sebagai tanda meminta Kaila untuk duduk di sebelahnya.

Kaila duduk di sebelahnya dengan sedikit curiga dan Daren hanya memasang tatapan 'aku tidak akan menggigit', kemudian suasana mulai hening.

"Hey..." Daren mencoba memecah kesunyian. "Apa kau mau ciuman?"

"Hah?" Kaila langsung bingung.

"Kakakku mengatakan kalau aku sedikit egois dalam hubungan kita dan membuat hubungan kita..." Daren berhenti sejenak dan mulai gugup. "Sedikit terlalu membosankan. Jadi... Aku merasa... Ingin membuat sedikit perubahan... Mungkin... Dengan... Sedikit... Ciuman? Hanya jika kau mau, jika tidak maka kita akan menemukan cara lain..."

Kaila ikut gugup. "Eh... Uh... Aku tidak tau... Ma-maksudku ini tergantung pada-"

"Ini bukan 'ini tergantung padamu'! Ini tergantung padamu sekarang!" potong Daren sebal.

"Baik! Ya, aku mau! Jadi apa?!" balas Kaila kesal.

"Ayo lakukan..."

Wajah mereka saling berdekatan dan rona merah mulai muncul di wajah masing-masing.

"Kau tidak punya penyakit menular kan?"

"Aku rasa..."

"Kau tidak makan-"

"Diamlah!"

Bibir mereka mulai bersentuhan dan ciuman pun menjadi semakin panas, tapi...


"Peraturan pertama: Jangan melakukan sex sampai kalian menikah!" nasihat Naomi.

"Hah? Ma-maksudku, baiklah..." balas Kaila bingung.


"AAAAARGH!" jerit Kaila yang segera melepaskan diri.

"Hey, ada yang salah?" tanya Daren bingung.

'Di-dia tidak menyadarinya atau...' Wajah Kaila langsung merah padam. "A-aku hanya tidak ingin ini berakhir menjadi sesuatu yang akan kau sesali nanti..."

"Hm? Oh... Baiklah..."

"Se-selamat malam..." Kaila langsung pergi.

"Ah, malam." Daren menjilati bibirnya. 'Terasa seperti susu vanila. Dia punya pengontrol diri yang baik.'


3. Tebak-Tebakan di Keluarga Avelon

Ketika keenam orang di Mansion Keluarga Avelon sedang bosan, mereka berusaha mencari sesuatu untuk menghilangkan kebosanan.

"Aku mau bertanya pada semua orang di sini. Mangga apa yang berbahaya?" tanya Yorei tiba-tiba.

Semua orang langsung memasang pose berpikir.

"Mangga beracun?" tanya Adelia.

"Bukan!" balas Yorei.

"Mangga yang digigit ular?" (Oberia)

"Ya nggaklah! Emangnya ada ular yang makan mangga?" (Yorei)

"Mangga busuk?" (Jioru)

"Bukan!" (Yorei)

"Terus apa dong?" tanya Eiuron penasaran.

"Jawabannya adalah... MANGGARUK-GARUK PANTAT SINGA! Buahahahaha!" Yorei langsung ngakak guling-guling dengan humor garingnya.

Eira juga ikut tertawa saat Yorei bilang "pantat singa", karena dia langsung bayangin singa lagi boker.

"ITU MENGGARUK, BUKAN MANGGARUK!" pekik saudara lainnya (min Eira dan Adelia) sewot.

Kedua makhluk yang sedang tertawa pun berhenti.

"Sekarang giliran Eira!" Yorei menunjuk Eira.

Yang ditunjuk berpikir dan langsung dapat ide. Tapi entah kenapa, Eira malah menahan tawa. "Pertanyaannya adalah... Pfftt... Superman pakai celana dalam dimana?"

"DI LUAR!" Mereka semua langsung ngakak guling-guling.

"Oke, sekarang giliranku. Wajah siapa yang penuh adonan kue?" tanya Jioru.

"Nggak tau." jawab yang lain.

"Oh, aku tau!" seru Yorei.

"Oh ya? Siapa?" tanya Jioru.

"Wajahmu!" balas Yorei sambil melempar sebuah adonan kue yang entah dapat dari mana ke wajah Jioru.

Yang bersangkutan langsung mengejar Yorei, sementara yang lainnya tertawa melihat wajah Jioru yang penuh adonan kue.


4. Melenceng

Tugas biologi tentang berbagai macam penyakit pada hewan, cari di internet.

Hyamia menatap rentetan tulisan itu dengan malas. Meskipun mendapat julukan sebagai murid teladan sekelas, tetap saja ada rasa malas pada dirinya. Tapi mau bagaimana lagi?

Dia menyalakan laptop Acer berwarna hitam miliknya, kemudian meng-klik ikon berbentuk planet yang dipeluk rubah merah. Helaan nafas muncul dari bibirnya.

Awalnya Hyamia berniat mengetik rentetan tulisan itu di Mbah Google, tapi niatnya buyar ketika melihat pemberitahuan di salah satu sosmed-nya dan pada akhirnya, dia menghabiskan malam dengan berseluncur di dunia internet.

Masa bodoh soal tugas, Hyamia terlalu lelah menjadi siswa teladan.


5. Mie Gelas

Ketika Xyagna membuka mie gelas yang dibelinya...

"Lho, kok nggak ada minyaknya? Ah biarlah, minyak doang ini!"


Seminggu kemudian...

"Lha, bumbunya kemana? Ya udah deh, hari ini makan mie tawar aja!"


Seminggunya lagi...

"Pantesan lebih ringan dari biasanya, ternyata nggak ada isinya! Apa ini kutukan gara-gara garemin seluruh anak OSIS ya?"

Omake End!


OC of the Day:

Yamine Thanata

Umur: 16

Tanggal lahir: 9 Agustus

Zodiak: Leo

Warna rambut/mata: Pirang/merah

Hero: Blade

Kelas: Rare

Fakta unik:

-Pacarnya Zeptrun.

-Itu aja deh! *plak!*


Yah, buntu ide memang menyebalkan... -w-a

Review! :D