New Savior
.
.
Maaf nih, Updatenya buru-buru, jadi gak sempat balaw review dan gk sempat ngeditnya... Aku benar-benar sibuk, tugas menumpuk..
.
.
.
Naruto bukan kepunyaanku.
Power
"Hello Naruto Kun..." Suara itu terdengar datar, tanpa ekspresi. Suara yang pernah Naruto pernah dengarkan sebelumnya.
Flashback
Komplek Uchiha.
"Mikoto Kaa Chan... " Terdengar suara menggema di dalam kediaman kepala klan Uchiha, fugaku Uchiha.
"Kaa Chan ada di dapur Naru Chan.." Terdengar suara jawaban dari arah dapur rumah itu. Naruto saat itu berusia 7 tahun berjalan kearah dapur.
"Kau akan pergi latihan?" Tanya Mikoto yang sedang membersihkan piring makan di dapur. Dapur Uchiha klan terlihat seperti dapur biasanya, khas japanese. Tidak ada meja makan disana seperti kediaman Kushina Uzumakui. Adat di rumah itu sangat kental, begitu juga kedisiplinan. Fugaku mengajarkan kedisiplinan sejak Naruto berusia dini, sehingga terbawa sampai saat ini, meski sesekali uzumakinya terlihat.
"Hai..." Gumam Naruto duduk bersila di depan meja selutut tempat biasa klan uchiha sarapan pagi. "Uhm.. Dimana yang lainnya?" Lanjutnya.
"Oh... Fugaku seperti biasa ke kantor polis Uchiha mengurusi anggotanya. Itachi kun mengantarkan sasuke chan ke akademi Ninja. Hari ini adalah hari pertamanya di akademi" jawab mikoto membalikan wajahnya tersenyum manis menatap Naruto.
"Ouh.. " Gumam sedih Naruto. Ia juga ingin ke akademi Ninja, bersama dengan bocah seumurannya, tapi sayangnya fugaku tidak mengizinkannya. Mikoto tau perasaan Naruto dan menatapnya iba.
"Kaa Chan akan memasakkan ramen kesukaanmu sebelum kau melakukan latihan pagi ini.. Bagaimana kedengarannya?" Tanya mikoto tersenyum.
Naruto langsung mengangkat wajahnya kembali, terlihat sangat senang mendengarkan usulan Mikoto. "Yosh... Tiga miso Jumbo ramen tebayou.." Ungkap semangat Naruto mengangkat tangannya ke udara.
'Kau sangat mirip dengannya Naru Chan' pikir senyum Mikoto menganggukan kepalanya. "Dan panas seperti biasanya.." Ucap Mikoto. Naruto meresponnya dengan grin yang lebih lebar lagi. "Jadi bagaimana dengan latihanmu melemparkan shuriken?"
"Oh... Masih sedikit susah, tapi aku pasti bisa dengan latihan keras tebayou.." Jawab semangat Naruto. Mikoto menganggukan kepalanya setuju.
"Hai... Apapun yang tidak bisa, pasti akan bisa dilakukan dengan kerja keras dan tidak putus asa.. " Tambah Mikoto. "Itachi kun sangat pandai dalam melempar senjata. Bagaimana kalau Kaa Chan minta dia untuk mengajarkanmu?" Lanjutnya.
Naruto menatap mikoto serius. "Kau serius kaa chan?" Tanya Naruto agak ragu.
"Hai.. Dia adalah anakku, jadi aku tidak mungkin bohong" jawab senyum Mikoto memasukan beberapa bungkus ramen ke dalam panci air mendidih.
"Tapi kan.. Itachi Nii San sangat sibuk, apa dia bisa meluangkan waktunya untuk melatihku?" Tanya Naruto ragu.
"Heh... Jika dia tidak melakukan perintah Kaa Chan, maka aku tinggal akan menghajarnya sampai ia mau melakukannya.." Ungkap Mikoto mengangkat sendok sayur semangat.
"Hehehe.. Apa Kaa Chan bisa mengalahkan Itachi Nii San?" Tanya Naruto penasaran
"Hah.. Begini-begini, Kaa Chanmu ini juga adalah seorang Shinobi, sebelum akhirnya pensiun setelah menikah dengan Fugaku. Itachi membutuhkan waktu 180 tahun lagi untuk bisa mengalahkan yang mulia Mikoto Uchiha" jawab Mikoto smbil mengaduk-aduk ramen buatannya.
"Sungguh? " Tanya Naruto lagi di jawab anggukan oleh Mikoto . "Bagaimana dengan Shiasui Nee Chan? Apa Kaa Chan juga bisa mengalahkannya?" Tanya Naruto penasaran.
"Hum... Aku mendengar Shisui kun sekarang mendapatkan gelar Shunshin No Shisui karena kecepatan Shunshinnya yah.. " Gumam Mikoto di jawab anggukan Naruto. "Tapi tetap saja ia tidak bisa mengalahkan Kaa Chanmu ini Naru Chan.." Lanjutnya.
"Hum... Apa Kaa Chan sungguh sekuat itu?" Tanya Naruto tidak percaya.
"Sebelum Kaa Chan pensiun, Kaa chanmu ini adalah seorang Jounin juga. Aku, dan Kushina Chan sering melakukan misi bersama, menghajar banyak Ninja yang berandalan.." Cerita Mikoto dengan bahagia.
"Kushina?" Gumam Naruto bingung karena nama itu adalah nama pertama yang ia dengar.
Mikoto sedikit kaget, lalu tersenyum nerves. "Eto.. Lupakan saja... Itu cerita masa lalu.." Jawab Mikoto cepat.
'Kenapa Kaa Chan begitu Nerves? Tidak biasnya ia seperti itu. Siapa itu Kushina?' Pikir penasaran Naruto mengamati ibunya.
"Oh ya.. Kenapa kau memanggil Shisui dengan sebutan Nee Chan dan itachi kun dengan Nii San? " Tanya Mikoto mengalihkan pembicaraan.
"Oh... Itu.. " Jawab Naruto melipat kedua tangan di dadanya bersikap sok dewasa sebelum menjelaskan alasannya. "Hum.. Kalau bersama Shisui Nee Chan, aku bisa bersantai dan tidak terlalu serius. Aku juga menikmati waktu bersama dengan Shisui Nee Chan. Ia juga sudah kuanggap seperti kakak kandungku, atau mungkin lebih. " Naruto berhenti sejenak berpikir.
"Kalau Itachi.. Apa dia juga bukan kau anggap sebagai kakakmu?" Tanya Mikoto berbalik menatap Naruto.
"Bukan begitu Kaa Chan" ungkap Naruto cepat menyalahkan pendapat mikoto. "Ka-kalau bersama Itachi Nii san, aku tidak seperti bersama Shisui Nee Chan.. Maksudku.. Itachi Nii San selalu serius dan jarang tersenyum, jadi aku sedikit segan jika bersamanya dan tidak terlalu me"-
"Jadi kau mau mengatakan kalau aku ini membosankan?" Suara terdengar dari belakang Naruto terdengar jelasn Naruto melebarkan matanya dan keringatan dingin tidak berani menoleh. Suara langkahan kaki terdengar mendekati Naruto dan seorarng Itachi Uchiha yang saat itu berusia 14 tahun duduk di sampingnya.
"Hello Naruto kun.." Sapanya datar
"Bu-bukan seperti i-itu" jawab Naruto super nerves masih mengingat perkataannya tadi tentang Itachi. 'Kami Sama pasti membenciku saat ini.. Sial... Itachi Nii San akan membunuhku..' Pikir ketakutannya.
"Iyakah... Bukankah kau tadi mengatakan kalau Itachi itu kaku, datar, stoic, tanpa ekspresi seperti robot... "Komen Mikoto memanas-manasi Naruto.
Trak...
Suara hati Naruto terbagi menjadi dua, kemudian menjadi puluhan pecahan dan menjadi butir-butran kecil di terbangkan oleh angin sekitar. Ia tidak mampu berkata lagi karena itachi menatapnya serius. Ieringat dingin mengalir terus dari tubuhnya ketakutan.
"Apa benar seperti itu" tanya Itachi sangat serius.
"Ti-tidak... Eto.. Kaa Cha- bukan Mikoto Sam- bukan Mikoto Kaa Sama berkata ti-tidak benar Nii Chan.. Sungguh" ungkap Nerves Naruto mencoba membela dirinya.
"Hahahahha... GUAHAHAHAHAHA" tawa keras Mikoto meledak sedangakan itachi terlihat senyum tipis saat menatap ekspresi rasa bersalah Naruto.
"Hey.. Apa yang lucu tebayou.." Ungkap Naruto kesal langsung berdiri menunjuk Mikoto.
"Kau.. Hahahaha.. Kau lucu kalau di kerjai.. Hahahahaha..lihat tampangmu itu.. Hahaha" tawa Mikoto masih mengejek Naruto. Parahnya lagi Itachi menganggukan kepakanya setuju akan pendapat ibunya.
End
"I - Itachi... Uchiha.." Gumam Naruto. Angin berhembus sepoi memainkan rambutnya dan rambut poni Itachi. Sang uchiha dewasa mengenakan jubah hitam polos. Tingginya sekitar 175 cm dengan mengenakan Hita-itae Konoha di garisi Horizontal pada lambang Konohanya.
"Lama tidak bertemu Naruto Kun.." Ucap datar si Uchiha dewasa.
Naruto perlahan menggerakan tangannya, mendorong tubuhnya sekuat tenaga, memaksa otot-ototnya bekerja untuk berdiri meski ia sudah sangat kelelahan. Seluruh tenaganya hampir habis terkuras di pertarungannya tadi.
"Apa yang kau inginkan Itachi... Apa kau datang untuk mengambil nyawaku, menyelesaikan apa yang tidak kau selesaikan tiga tahun lalu" tanya tegas Naruto mengepal erat tangannya menatap benci si Uchiha dewasa itu.
"Awalnya aku tidak percaya saat mendengar kabar kalau kau masih hidup setelah apa yang terjadi padamu. Aku lalu memastikan dengan mata kepalaku sendiri dan memang kenyataannya kau masih hidup. Aku tidak tau bagaimana caranya tapi... Aku datang kesini bukan untuk membunuhmu atau Sasuke" ucap datar itachi seperti biasa.
"Lalu.. Apa tujuanmu datang kesini... Kau tidak mungkin datang ke Konoha hanya untuk menyapaku" komen serius Naruto.
"Kau memang jauh berbeda dengan adik bodohku.. Kau masih bisa menggunakan otakmu sebelum melakukan tindakan." Ucap Itachi memuji uchiha muda yang tidak memperdulikannya.
"Aku tidak perduli dengan perkataanmu Itachi, katakan saja apa maumu" tanya Tegas kembali Naruto. Itachi tertawa kecil mendengarkan perkataan tegas Naruto itu. "Apa yang lucu Itachi? " Tanyanya dengan sharingan tiga tomoenya aktif.
"Tidak ada... Hanya saja, kau cukup hebat menahan amarahmu, meski aku bisa melihat dengan jelas kau sangat ingin membunuhku dari matamu" ungkap Itachi.
"Tch... Memang aku akui kalau aku sangat ingin membunuhmu. Tapi dengan kemampuanku yang sekarang, aku hanya membuang tenaga saja. Aku tidak mungkin bisa mengalahkanmu bahkan jika aku masih menjadi jinchuuriki kyuubi mennggunakan chakranya untuk menghabisimu" ucap pelan Naruto menutup matanya.
"Lagi pula.. Aku tau kalau Kaa Chan tidak akan tenang di alam sana jika melihat anak-anaknya saling membunuh satu sama lainnya" lanjut Naruto.
"Kau masih memiliki ideologi kasih sayang bodohmu itu.." Komen datar Itachi.
"Aku tidak akan berubah sampai kapanpun juga. Aku juga yakin akan ajaranmu, 'terkadang apa yang dilihat oleh mata dan yang dengarkan hanyalah sebuah ilusi, berbeda dengan kenyataan'. Aku tidak percaya kalau kau membantai klan Uchiha hanya karena mengukur kekuatanmu" lanjutnya kembali membuka matanya masih dengan Sharingan tiga tomoe.
Itachi menyipitkan kedua matanya. "Jadi kau sudah bertemu dengan adik bodohku jika kau telah mengetahui alasanku melakukan itu. " Gumam Itachi datar.
"Begitulah.. Tapi aku tidak seperti dia, termakan dendam dan ambisi untuk membunuhmu. Aku akan mencari alasan kenapa kau melakukannya, mengungkap kebenaran sebelum aku memutuskan apa yang harus aku lakukan" jelas Naruto.
"Jadi kau tidak percaya yah.. " Ucap itachi.
"Jika kau ingin membunuh semua Uchiha yang ada di dunia ini, maka kau tidak akan membiarkan Sasuke hidup" komen lanjut Naruto.
Itachi kembali tertawa tipis. "Kau masih tetap naïve, kau tetap Naruto yang polos seperti dulu, tidak bisa melihat kenyataan" naruto menyipitkan matanya menatap serius Itachi.
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto
"Berarti Shisui tidak mememberitahukanmu semua yang ia ketahui tentang Sharingan." Respon pelan Itachi.
"Tentang Sharingan?" Tanya bingung kembali Naruto.
"Sharingan adalah doujutsu kuat Uchiha klan yang ditakuti oleh seluruh dunia Shinobi. Kekuatan terbesar Sharingan pernah di tunjukan oleh Madara Uchiha saat melawan Senju Hashirama dipertarungan mereka berapa puluh tahun yang lalu." Ucap Itachi memulai menjelaskan tentang Sharingan.
"Sharingan memiliki kemampuan unik yang membedakannya dari byakugan. Sharingan berevolusi dari tomoe pertama sampai ketiga. Tapi tidak herhenti di situ, karena evolusi Sharingan terakhir adalah.."-
"Mangekyou Sharingan... Kekuatan yang bisa mengendalikan Biju" potong Naruto.
"Jadi kau sudah mengetahui tentang mangekyou.. Dugaanku kau juga telah mengetahui tentang Mangekyouku.." Naruto menganggukan kepalanya. "Uchiha klan akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar dengan mata itu. Namun.. Bagaimanapun juga Mangekyou Sharingan memiliki sebuah kelemahan fatal bagi penggunanya" lanjut Itachi.
"Sebuah kelemahan?" Gumam Naruto bertanya
"Bagi yang memiliki Mangekyou Sharingan, akan diberikan kekuatan yang besar, tapi sebagai bayarannya, ia akan mengalami resiko kebutaan permanen, dan membutuhkan cahaya baru menggantikan cahaya lamanya. Madara Uchiha mengungkapkan rahasia Mangekyou setelah mengambil mata adiknya dan mentranplasikan ke matanya menciptakan Eyin Mangekyou Sharingan, memberikan penglihatan baru, penglihatan dengan kekuatan abadi tanpa adanya resiko kebutaan" jelas Itachi.
Naruto melebarkan matanya mendengarkan penjelasan Itachi. Ia tau kemana arah pembicaraan mereka saat itu. "Ja-jadi.. Ka-kau membiarkan Sasuke.." Gumamnya Shok
Itachi langsung menyeringai evil mengetahui kalau anaruto telah membaca pikirannya. "Yeah.. Itulah alasanku kenapa aku tidak membunuhnya, karena ia adalah sumber kekuatanku di masa depan..." Jawab Itachi menyeringai evil. Naruto sangat terkejut tidak menyangka akan melihat Itachi yang seperti itu.
"Ada satu cara membangkitkan kekuatan itu, yaitu dengan membunuh orang terdekatmu atau sahabatmu. Pada saat itu. Kau akan memiliki kekuatan itu.. Kekuatan MANGEKYOU SHARINGAN... " Lanjut Itachi menyeringai semakin mengerikan. Naruto bahkan jatuh berlutut tak kuasa menahan rasa sakit di dadanya.
"MANUSIA MACAM APA KAU BANGSAT, YANG TEGA MEMBANTAI KELUARGANYA HANYA DEMI KEKUATAN... "Teriak murka Naruto menatap Itachi dengan sharingan tiga tomoenya. Ia kemudian berdiri kembali tanpa mengalihkan pandangannya, serius menatap Itachi.
"Kau sudah mengetahui kenyataan ini Naruto.. Kau sudah mengetahui kenyataan tentang Sharingan.. Jadi aku akan mengatakan alasanku datang menemuimu" Itachi berhenti sejenak menatap Naruto sambil menyeringai. "Aku datang untuk... Matamu.." Lanjutnya.
Deg ..
Jantung Naruto berdetup kencang, begitu juga matanya yang langsung melebar mendengarkan perkatan Itachi. "Mataku... Jadi kau akan mengambil mataku untuk koleksimu atau sebagai cadangan jika kau gagal mengambil mata Sasuke?" Tanya Naruto menggenggam erat kepalang tangannya sangat emosi.
"Bukan... Untuk mendapatkan Ein mangekyou Sharingan hanyalah dari mata orang yang memiliki hubungan darah yang sama. Aku tidak mengambil matamu untukku.." Lanjutnya.
Naruto kembali melebarkan matanya, sangat geram kali ini, sampai urat di mata putihnya terlihat jelas. "Takaji... Uchiha.." Gumam Naruto.
"Jadi kau sudah mengetahuinya?" Tanya datar Itachi.
"Jadi kau selama ini bersama bangsat itu... JADI KAU SELAMA INI BERSAMA BANGSAT ITU MERENCANAKAN SEMUA INI BANGSAT.. AKAN KUBUNUH KALIAN BERDUA.." Teriak geram Naruto sudah bersiap melompat menyerang Itachi. Tapi sebelumnya, itachi melakukan kontak mata dengannya.
Tsokuyomi' gumam pelan Itachi. "Selamat datang di duniaku Naruto kun.. Ini adalah kekuatan mangekyou Sharinganku" ucap itachi. Naruto berada di dunia tsokuyomi Itachi dalam keadaan tersalib, sedangkan Utachi berdiri di hadapannya dalam keadaan melayang.
"Disini aku adalah raja, aku yang mengendalikan semua yang ada di duniaku, termasuk waktu dan ruang" gumam Itachi.
'Genjutsu ini kuat... Sangat kuat..' Pikir Naruto mencoba keluar dari dunia genjutsu menggunakan kekuatan Sharingannya.
"Percuma saja Naruto kun.. Hanya mangekyou Sharingan yang dapat meloloskan diri dari genjutsuku ini. Sekuat apapun kau mencoba, hasilnya sama saja.. " Ucap Itachi mentao datar Naruto diantara banyaknya bangau yang beterbangan di atas kepalanya.
Naruto terdiam, tidak tau apa yang harus ia lakukan saat itu. Ia pasrah dengan apa yang akan terjadi. "Lakukan semaumu apa yang kau inginkan di dunia genjutsumu ini. Aku tidak perduli, karena ini hanyalah sebuah ilusi" ucap Naruto.
"Sunghuh?"Gumam itachi "bagaimana kalau aku memperlihatkan sesuatu yang menarik padamu.. "Lanjutnya.
Dengan cepat suasana di sekitar berubah. Naruto berada di tengah hutan, dimana Itachi memegang katana akan menyerang Shisui. "Itachi... Mengapa kau lakukan ini?" Tanya Shisui membersihkan darahnya di sekitar wajahnya. Naruto memperhatikannya seperti kenyataan, tidk terlihat sedikitpun kalau itu genjutsu.
"Aku melakukannya karena kekuatan... Dengan membunuhmu.. Aku akan memiliki mangekyou" ucap Evil itachi.
"Ta-tapi.. Bukannya kita adalah sahabat?" Tanya Shisui sedikit ketakutan
"Karena kita Sahabat maka dengan pengorbananmu, aku akan mendapatkan kekuatan.. Sekarang matilah.." Ucap itachi meluncur cepat langsung menghunuskan katananya ke dada Shisui tembus sampai kepunggungnya.
'Tidak.. Semua ini hanyalah ilusi.. Semua ini hanyalah ilusi..' Pikir geram Naruto mencoba menutup matanya tapi tidak bisa ia lakukan.
"Na-naruto.. Tolong aku.." Gumam Shisui yang kini tergeletak di atas tanah, mengangkat tangannya ke arah Naruto.
"Percuma saja... Ia tidak akan menolongmu.. Jadi matilah.." Gumam datar itachi kembali menusukkan katana itu, kali ini ke perutnya.
"TIDAK... HENTIKAN... HENTIKAN KAU BANGSAT ITACHI... HENTIKANNN..." Teriak naruto yang langsung melompat ingin membantu Shisui, tapi dahan dan ranting pohon dengan cepat menahannya.
"Naruto... " Gumam Shisui lemah bersimbah darah menatap Naruto. Mata Naruto melebar kembali melihat Itachi kembali menusukkan katananya ke dada Shisui.
"TIDAK... HENTIKAN... HENTIKAN SEMUA INI BANGSAT.. HENTIKAN.." Teriak Naruto tidak kuasa melanjutkan apa yang ia lihat, tapi apa daya ia tidak bisa menutup matanya. Ia dipaksa melihat kejadian yang ingin tidak ingin ia lihat.
"Ini baru saja permulaan Naruto Kun.. Sekarang babak kedua" suara itachi terdengar jelas. Kini scane berubah, mereka berada di ruangan Uchiha klan dimana mikoto di tusuk menggunakan katana yang sama oleh Itachi.
"MIKOTO KAA CHAN... " Teriak Naruto keras berlari ingin menolong mikoto, tapi lagi-lagi ia tertahan oleh akar pohon yang muncul dari dalam tanah. "HENTIKAN INI BANGSAT.. HENTIKAN... " Teriak naruto semakin menggila dengan bola mata yang hampir keluar dari matanya.
Terlihat Mikoto juga mengangkat tangannya, meminta bantuan pada Naruto. Lagi-lagi itachi melakukan hal yang sama pada mikoto terlebih dahulu menyeringai menatap Naruto, kemudian menusuk kembali tubuh ibunya sendiri. Naruto mengerang kesakitan, menahan amarah, kebencian dan sebagainya berpadu menjadi satu.
"Aku bilang... HENTIKAN KAU BANGSAT.. AKAN KUBUNUH KALIAN BERDUA... HENTIKANN...' Teriak keras Naruto. Tanpa ia sadari kalau ia telah mengeluarkan air mata darah di dalam dunia nyata dan akhirnya langsung pingsan, tierbanting di atas dahan pohon besar tidak sanggup melakukan apa-apa lagi.
'Misi.. Selesai.. Sekaranga tinggal mengambil mata itu' pikir Itachi melangkah mendekati Naruto. Ia juta mengeluarkan darah dari mata kirinya, kelebihan menggunakan mangekyou Sharingan miliknya. Ia mengambil sebuah gulungan lalu di buka di atas tanah, berisi perlengkapan madics, memulai operasi pengangkatan bola mata.
"Hey.. Apa yang terjadi di sini?" Gumam shok Sonosuke menatap ke sekitarnya, dimana sekitar 30 meter area tandus. Masih terlihat beberapa sissa bara api menyala di sana, menandakan pertarungan baru saja selesai.
"Ini bekas pertarungan... " Komen Karin berdiri di sampingnya.
"Tapi tidak mungkin ada genin yang bisa melakukan perusakan seperti ini. Bagaimanapun juga pertarungannya, tidak mungkin beraktibat seperti ini" gumam serius Arashi memperhatikan kerusakan area itu.
"Tch... Jika kita sampai lebih cepat mungkin kita bisa mengetahui siapa yang bertarung di sini. " Gumam Sonosuke sesikit kehilangan nafsu. "Hey karin.. Bisakah kau melacak keberadaan Naruto yang kita cari? Kita sudah mendapatkan gulungan yang kita cari, jadi tinggal memfokuskan pada misi" lanjutnya.
"Sono benar Karin... Kesempatan sangat langka bisa berbicara langsung dengannya tanpa di ketshui ninja Konoha" tambah Arashi setuju.
"Ow... Kau mimpi apa semalam, setuju dengan perkataanku?" Tanya terkejut Sonosuke.
"Ssst... Jangan mulai lagi Sono.. Biarkan karin Konentrasi" tegas Arashi, tidak tertarik untuk melakukan pertikaian dengan rekannya itu. Terlihat haku melakukan handseal tiger melacak keberadaan Naruto. Baru 5 detik ia melacak, ia kembali membuka matanya dalam keadaan terkejut.
"Ada apa karin?" Tanya Arashi penasaran. Soni juga menatapnya meminta jawaban. Karin mengabaikan dua sosok itu lalu menatao ke bagain kanannya, menunjuk kearah dahan pohon, sekitar 50 meter dari mereka.
"Itu.. Dia" gumam Terkejut Karin. Disana terlihat seorang pria berambut merah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Mara ketiganya melebar sangat terkejut.
"Sial... Kenshin Sama bisa mebunuh kita jika ia tewas.."Ungkap Sonosuke langsung melompat kerah Naruto bersama rekannya.
"Bukannya ia sangat kuat? Tidak mungkin ia kalah dengan genin" ucap Arashi.
"Jika melihat kerusakan akibat pertarungan mereka, maka tidak mungkin ia melawan seorang Genin. Yang ia lawan paling tidak seorang Jounin.." Gumam Karin yang akhornya mendarat terlebih dahulu di dahan tempat Naruto terbaring.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya penasaran Sono. Di wajah Naruto terlihat masih ada bekas drah yang mengental, sedangkan di kedua matanya di perban rapi. Selain itu tidak ada luka lain yang fatal.
"Siapa yang melakukan ini?" Tanya karin langsung jongkok memeriksa kedaan Naruto.
"Siapapun yang melakukan ini, pasti ia mengingnkan mata Naruto. Dengan kata lain menginginkan sharingan" gumam Arashi berada di bagian kepala Naruto.
"Yeah.. Tapi bukankah sangat aneh jika kau berniat mengambil mata musuhmu tapi kau memperlakukannya dengan baik? Memperban matanya cukup rapi. Apakah ini tidak aneh?" Gumam Sonosuke mengamati perban di mata Naruto.
"Ia masih hidup... Chakranya terkuras habis, dan dia juga sangat lemah. Ia terlihat tidak sadarkan diri..." Gumam Karin setelah melakukan pemeriksaan keadaan Naruto.
"Tapi siapa yang menyerangnya? Ini berarti ada yang meng-" belum sempat Sonosuke menjelaskan pendapatnya, terlihat Arashi telah menghunus katananya, lalu dengan cepat ia menggerakan katananya menangkis puluhan jarum es yang menyerang mereka tiba-tiba.
"Apa yang kalian lakukan pada rekan kami.." Suara Haku terdengar saat itu. Ia berdiri di dahan pohon lain bersama Sai di sampingnya.
"Sepertinya Naruto terluka parah.. " Gumam Sai. Mereka masih belum melihat perban di mata Naruto saat itu karena terhalangi Karin yang melakukan Ninjutsu madic mencoba mengobati Naruto.
"Kalian berdua... Tolong jangan salah paham.. Kami tidak melakukan apapun padanya. Kenyataannya kami menemukannya di sini dan merawatnya" jelas Arashi mencoba menenangkan Haku dan Sai.
"Aku idak tau apa aku harus percaya atau tidak, tapi kenyataannya kita sedang melakukan ujian chunin. Kita semua disini adalah musuh dan tidak ada alasan bagi kita untuk saling menolong." Tegas Haku kembali masih tetap tidak mempercayai Arashi.
"Oi... Kami sudah memiliki dua gulungan yang kami cari, jadi tidak memusingkan masalah itu. Lagi pula kami tidak kan mungkin menyerangnya.." Ucap malas Sonosuke memperlihatkan sepasang gulungan di tangan kanannya.
"Sepertinya mereka benar Haku San.. Wanita itu juga terlihat sedang mengobati Naruto " ucap Sai berpendapat. Pada awalnya Haku tidak percaya, tapi karena melihat Karin melakukan ninjutsu madic, ia meluluh.
"Baik.. Aku akan mempercayai perkataan kalian" ungkap Haku melompat kearah dahan dimana Naruto terbaring. Ia melangkah bersama Sai di belakangnya tetap waspada mendekati Naruto. Langkahnya terhenti daat melihat perban di kedua matanya. "Ap-apa yang terjadi padanya... " Ucap Haku Shok, menggeser Sono suke , langsung duduk jongkok memegangi wajah Naruto.
"kami juga tidak tau.. Pada saat kami sampai di sini.. Naruto san sudah seperti ini.. " Jawab Haku tetap Fokus pada ninjutsu madicnya.
"Dari mana kau tau kalau namanya Naruto?" Tanya Sai serius.
"Sekarang bukan saatnya tanya jawab. Kondisi Naruto sekarang sangat parah, hari juga sudah hampir malam, jadi kita harus segera membawanya kemenara untuk di lakukan tindakan lebih lanjut lagi." Tegas Karin menyudahi ninjutsu madicnya.
"Sial... Kenapa ia selalu melakukan hal bodoh seperti ini.. Kenapa ia selalu menolak bantuan dan merasa kuat .. Baka..." Gumam Haku meneteskan air mata menatap kondisi sadis Naruto.
"Aku akan memapahnya... Semakin cepat kita ke menara maka akan semakin baik.. " Ucap Sai mengangkat Naruto perlahan lalu diletakan di punggungnya. Mereka kemudian melompat dari dahan kedahan menuju ke arah Menara.
"Sebenarnya siapa kalian dan kenapa kalian membantu kami? Aku bahkan tidak pernah melihat lambang di Hita-itae yang kalian kenakan, kecuali itu sedikit mirip dengan lambang Konoha" tanya Haku serius.
"Kami... Kami adalah Shinobi Uzushiogakure, namaku adalah Uzumaki Karin, dia Uzumaki Arashi dan dia Uzumaki Sonosuke" jawab karin yang memperkenalkan satu persatu rekannya.
"Tunggu dulu... Kalian uzumaki, sama dengan Naruto?" Tanya sedikit terkejut Haku.
"Hey... Apa ada yang salah dengan uzumaki? Dia juga berambut merah sama seperti kami." Jawab Sonosuke.
"Bukan begitu.. Tapi.." Gumam Haku bingung.
"Naruto adalah salah satu anggota uzumaki klan dan sia di Konoha bukan di Uzushiogakure seperti kalian. Bisa kalian jelaskan kenapa bisa seperti itu?" Tanya Sai. "Jika ia memang berasal dari klan yang sama dengan kalian, lalu kenapa kalian terpisah?"
"Untuk itu kami tidak bisa menjawabnya. Yang jelas adalah keselamatan Naruto Baka ini merupakan tanggung jawab kami, cuma itu yang bisa kami katakan sekarang" kali ini Arashi yang menjawab. Ia berada di bagian depan dari kelompok kecil itu. "Sekarang giliran kami yang bertanya... Kenapa Naruto terpisah dari kalian?"
"Dia menyuruh kami berpisah dengannya karena... Ia akan melakukan sesuatu yang menariknya, dan.. Inilah yang baka ini dapatkan. Ia selalu saja merepotkan kami, menempatkan dirinya di depan hanya untuk menjauhkan kami dari masalah.. Sial.. Aku juga bingung kenapa ia tidak pernah mempercayai kami" Jawab Haku kesal, meneteskan air mata.
Karin yang melihat Haku membersihkan air matanya, memikirikan sesuatu. 'Apa dia marah pada Naruto? Atau dia menyesal karena tidak bisa membantu Naruto?' Pikir Haku penasaran.
"Sekarang yang menjadi pertanyaan utamanya adalah.. Kenapa orang yang menyerang Naruto mengambil matanya.. " Karin bertanya pada rekannya. "Apa Naruto memiliki doujutsu sehingga matanya diambil?"
"Sepanjang pengetahuan kami, Naruto tidak memiliki doujutsu. Kami juga tidak pernah melihatnya mengaktifkan doujutsunya atau apapun itu bahkan ia melawan Jounin elit Konoha." Jawab Haku.
'Naruto tidak memiliki Doujutsu, atau ia tidak memperlihatkannya? Danzo sama berkata kalau Naruto adalah mantan prodigy Uchiha tapi tidak di ketahui apakah ia masih memiliki Sharingan atau tidak. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Dan siapa yang menyerang Naruto?' Pikir penasaran Sai.
"Kecuali Naruto menyembunyikannya dan saat melawan orang ini ia menggunakannya. Sosok yang menyerang Naruto pasyilah berada di level Jounin keatas sehingga ia bisa melumpuhkan Naruto seperti ini" ungkap Haku.
"Huh.. Kau serius?.. Apa ia sekuat itu? Aku tidak melihatnya kuat selain dia hanyalah Bocah Emo biasa" komen Arashi.
"Ayolah Arashi.. Kau jangan mulai lagi.. Kau akui saja kalau memang Naruto lebih kuat darimu" ejek Sonosuki.
"Tch... Aku bahkan bisa mengalahkannya tanpa berkeringat" ungkap penuh percaya diri Arashi.
"Oh yah... Aku tidak berp"-
"Bisakah kalian berdua diam" Tiba - tiba Karin menghentikan pertiakaian biasa dua rekannya. "Jika menilai dari jumlah chakra, aku yakin kalau berada di atasnya, Arashi. Anggap saja kalau kau bisa mengalahkannya dengan mudah.. Ok.. " Tegas Karin kesal. "Dan kau.. Kenapa kau mengatakan kalau lawannya adalah Jounin keatas?" Lanjutnya menatap Haku.
"Kami adalah teamnya, jadi kami tau batas kekuatannya. Ia adalah Monster dalam Genjutsu bahkan tidak menggunakan Sharingan jika memang ia memilikinya. Ia berhasil mengecoh Hatake Kakashi, Jounin elitr Konoha, mengalahkannya bahkan tanpa mengeluarkan kerongat" jawab Haku.
"Natuto tipe orang yang bertarung dengan perencanaan sempurna sebelum memulai aksinya. Ia terlebih dahulu akan mengecohmu dengan Genjutsu tanpa kau sadari, kemudian dia akan melanjutkan serangan beruntun tanpa kau sadari ia akan menggiringmu ke serangan terakhirnya yang telah ia rencanakan. Tidak ada genin atau chunin yang bisa selamat dari taktik pertarungannya" tambah Sai datar menganalisa dari sekian lama pertarungan Naruto.
"Yah.. Dia juga tidak akan bertarung melawan temannya sendiri bahkan itu sparing atau semacamnya. " Haku menyelesaikan penjelasan tentang kemampuan Naruto.
'Dia sangat mirip dengan Kenshin Sama.. Pantas saja ia menginginkan bocah ini berada di pihak uzu. Ia memiliki sifat dan kepemimpinan seorang Uzumaki' pikir Karin menatap punggung Naruto yang masih tidak sadarkan diri.
"Dan kita harus segera sampai di Menara sebelum semuanya terlambat. Aku merasakan punggungku basah kembali dan ini adalah pendarahan yang berasal dari mata Naruto" ucap Sai. Mereka kemudian berhenti di dahan pohon, kembali menidurkan Naruto. Haku dengan cepat melanglah ke samping Naruto memeriksa keadaanya.
"Sial... Darahnya terus saja mengalir... Naruto bisa kehabisan dafah jika ia dibiarkan seperti ini. Sial.. " Gumam Kesal Haku dengan air mata kembali berlinangan, menatap perban di mata Naruto sudah tidak putih lagi melainkan telah berubah menjadi merah darah.
"Tidak bisakah kita membuka perban dimatanya dan melihat apa yang sebenarnya ter- oh.. Maaf.." Ucap Sonosuke yang langsung bungkam saat Karin menatapnya sangat serius.
"Apa kalian tidak ada yang memiliki hewan Kuchiyese untuk memantu kuta lebih cepat ke Menara?" Tanya Karin berada di hadapan Haku langsung melakukan Ninjutsu madic, mencoba menghentikan pendarahan di kedua mata Naruto. 'Sial.. Darahnya tidak mau berhenti mengalir..' Pikirnya depresi.
Dia Genin Konoha diam dan menggelengkan kepala mereka karen memang tidak memiliki jenis Kuchiyese yang Karin tanyakan. Haku semakin depresi, membersihak darah di wajah rekannya itu yang terus mengalir tanpa Henti, sedangkan Karin terus pada Ninjutsu madicnya.
"Aku memiliki satu jutsu yang bisa mengantar kita ke Konoha.. "Ucap Sai. Seluruh mata yang ada di tempat itu langsung melototinya. "Tapi jutsu ini belum terlalu kukuasai.. Aku hanya bisa melakukannya sekitar 5 menit.." Lanjutnya dengan senyum anehnya.
"Sial.. Jika kita tidak sampai selama 5 menit, apa yang akan terjadi Sai?" Tanya Haku.
"Aku tidak tau.. Mungkin kita akan terjatuh ke tanah. Jutsuku adalah menciptakan burung dari dalam lukisan, lalu akan membawa kita cepat ke Konoha. Aku baru mempelajarinya dua minggu yang lalu" jelas Sai.
'Sial.. Jika terus melakukan perjalanan seperti ini, maka Nyawa Naruto juga tidak akan terselamatkan. Tapi jika mengambil kesempatan pada sai, hasilnya malah akan lebih parah. Sial... Apa yang harus kulakukan...' Pikir Haku menatap deprsei darah Naruto yang kembali keluar bak air mata.
"Sebaiknya kau ambil kesempatan lebih cepat. Jika dalam 5 menit kalian bisa sampai maka Naruto akan selamat, dan jika salah perhitungan maka... " Karin berhenti sejenak.
"Kita akan mati" lanjut Sonosuke.
"GAH... KENAPA AKU HARUS DI TUGASKAN MENGAWASI BANGSAT LEMAH YANG SOK KUAT SEPERTI BOCAH INI.. " Teriak Kesal Arashi depresi.
"Aku tidak tau siapa kalian sebenarnya dan bagaimana kalian bisa mati kalau Naruto tidak selamat. Tapi aku tidak akan membiarkan Naruto mati. " Ungkap tegas Haku membersihakan air matanya menatap Sai. "Sai.. Siapkan jutsumu dan lakukan cepat.. Kita akan menggunakan jutsumu" peintah Haku.
Sai mengangukan kepalanya mengerti, kemudian mengambil gulungan tempatnya biasa melakukan ninjutsu lukisannya. Ia menggabar burung di kertas kosong itu, kemudian melakukan handseal ram.
'Choju Giga' pikir Sai. Keluarlah burung dari lukisan itu, sempat terkejut dilihat dari ekspresi wajah para ninja uzushiogakure, tapi setelah itu menghilang berganti senyuman.
"Sekarang.. Sai... "Tegas Haku. Sai mengangkat brisal style Naruto lalu melompat ke atas punggung burung lukisan itu, menyusul Haku. "Kurasa kita berpisah disini.. Terima kasih.." Ucap Haku sebelum akhirnya mereka terbang tinggi menuju ke Menara.
"Apa itu seperti fuinjutsu?" Gumam Sonosuke bingung akan jutsu Sai.
"Siapa yang tau.. Yang jelas kita harus segera ke menara menyusul yang lain. Kita harus memastikan Naruto selamat" tegas Karin melompat mengikuti arah burung Jutsu Sai di ikuti dua rekannya.
Di tempat tidak di ketahui, terlihat orachimaru terbaring di sebuah tempat tidur lemah. Ia menatap ke arah lampu yang menerangi kamarnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang akan sangat penting.
"Uhuk... Uhuk uhuk.." Orachimaru batuk batuk kembali sambil mengeluarkan darah segar dari mulutnya
"Orachimaru sama" teriak sosok berkacamata berlari menuju ke arah orachimaru mendekatinya dan membantunya duduk
"Kenapa kau begitu lama kabuto?" Tanya orachimaru. Rupanya benar dugaan naruto bahwa kabuto adalah bawahan dari orachimaru
"Maaf, tapi banyak sekali anbu yang menjaga sekitar hutan kematian.. Siapa yang melakukan ini orachimaru sama?" Tanya kabuto menatap khawatir orachimaru.
"Kukuku.. Dia adalah calon tubuh terkuatku, uzumaki naruto" jawab orachimaru dengan seringai di wajahnya menatap kabuto. Kabuto melebarkan matanya tak percaya kalau tuannya di kalahkan oleh seorang genin bernama uzumaki naruto.
"Aku sudah mencoba melawannya, namun dia terlalu kuat bahkan untuk chunin. Dia bisa mengalahkanku mudah padahal aku memilimi 50 % chakraku sebelum akhirnya aku kabur" jelas orachimaru dengan wajah senyum di bibirnya puas melihat kemampuan calon tubuhhya itu. Berbeda halnya dengan kabuto yang sangat shok melihat tuannya di kalahkan sampai separah itu
'Ti-tidak mungkin orachimaru sama di kalahkan seperti itu' pikir kabuto menatap orachimaru
"Bagaimana tubuh barunya kabuto? Aku membutuhkan penyesuan pada tubuhku" ucap orachimaru menghancurkan lamunan kabuto.
"Semua sesuai dengan apa yang di rencanakan orachimaru sama. Tubuh baru anda telah siap digunakan" jawab kabuto sambil menngangkat kacamatanya
"Kerja bagus kabuto.. Kau tidak usah lagi ke hutan kematian. Identitasmu telah di ketahui oleh naruto kun" ucap orachimaru menatap obito
"Bagamaimana mungkin?" Tanya kabuto shok menatapa tuannya itu. Dia tentu telah melakukan berbagai cara untuk menutup identitasnya sebagai mata mata orachimaru. Dia sudah di ketahui oleh naruto, tapi bagaimana mungkin?
"Untuk sekarang kau jangan mengganggunya dulu. Dia mungkin bisa serival denganmu, tapi kecepatannya diatasmu. Dia juga menguasai sharingan dengan baik kabuto, jadi biarkan saja dia untuk sementara sampai aku memberikan curse mark padanya. Dengan begitu dia akan menjadi milikku. Kukukuku" ucap orachimaru menjelaskan pada obito.
"Baik orachimaru sama" jawab kabuto.
"Naruto kun.. Sekarang mungkin kita tidak bisa main main sejenak, namun percaya saja kalau aku akan segera menemuimu' pikir kabuto sambil menatap orachimaru dan memperbaiki kacamatanya.
Bersama Haku dan Sai.
"Itu menaranya.." Ucap Haku menunjuk kearah sebuah menara tepat di tengah hutan kematian. Sai mengangguk lalu mengarahkan burung itu ke menara yang masih berda sekitar 200 meter.
"Oh tidak..." Gumam Sai menatap ekor buringnya sudah mulai menghilang.
"JANGAN SEKARANG SAI... TINGGAL SEDIKIT LAGI.. BERTAHANLAH.." Teriak Haku menyemangati Sai. Bocah Root ini melakukan heandseal ram mempertahankan jutsunya.
"Chakraku tidak mencukupi... Beban terlalu berat dan juga angin terlalu kencang... Sial..." Gumam Sai masuh berusaha keras menerbangkan burung lukisan jutsunya.
Haku memperhatikan jarak menara semakin dan semakin dekat, juga sayap burung perlahan-lahan menghilang. Ia mencoba menebak kapan burung itu akan menghilang dan mereka akan terjatuh ke tengah hutan. Mereja berada di ketinggian sekitar 100 meter diatas tanah.
"Sai.. Turunkan kita, terbang lebih rendah" perintah Haku. Sai mengangguk dan burung itu perlahan teerbang miring menuju ke menara, semakin dekat dan juga semakin cepat. Akibatnya jutsu Sai juga semakin terkikis dan yang tersissa hanya 1/3 sedangkan jarak mereka dengan menara masih sekitar 50 meter.
"Sial... Aku tidak bisa lagi... Haku.. Maaf" dengan itu jutsu burung menghilang dan mereka melayang di udara. Haku memeluk naruto, meletakan wajah Naruto di antara belahan dada mungilnya.
'Sial... Jika naruto menghadap angin maka akan memperparah pendarahannya.. Sial...' Pikir depresi Haku. Ia memaksa otak kecilnya berpikir, menatap Sai yang tidak jauh dari dia. Sebentar lagi mereka akan mendarat kasar di atas pohon dan jika itu terjeadi, kemungkinan Naruto akan... Mati...
'Sial... Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak ingin kehilangan Naruto.. Aku tidak ingin kehilangan orang yang mirip denganku.. Aku tidak ingin... ' Pikir Depresi Haku meneteskan air mata. 'Aku harap ini bekerja.. Kali ini.. Kuharap bekerja.. ' Pikirnya. Ia memeluk Naruto menggunaian lengannya sedangkan kedua tangannya melakukan heanseal.
Hyuton : Sayap Malaikat' pikir Haku. Perlahan muncul es dari bahunya yang sedikit demi sedikit memanjang, membentuk keranka sayap. Haku menutup kedua matanya lebih fokus pada jutsunya. Kecepatan pembentukan sayap itu bertambah dan akhirnya mencapai sempurna, terbentuklah sayap di punggungnya seperti malaikat.
'Wow.. ' Pikir Sai kagum langsung menangkap kaki Haki. Haku membentangkan sayapnya, kemudian meluncur kearah menara dengan kecepatan cukup cepat.
"Pegangan Sai.. Sebentar lagi kita akan mendarat.." Ucap Keras Haku menatap dinding menara semakin dekat didepan matanya. Haku memeluk erat Naruto, lalu memutar tubuhnya cepat dan..
Booomm
Ia mendarat di Menara menggunakan sayap esnya sebagai tameng. Dinding menara itu langsung rusak, sehingga Haku dan Naruto di pelukannya terlempar masuk kedalam menara,menghancurkan beberapa hiasan Menara sampai kedalam sebuah ruangan.
"Apa itu..." Ucap terkejut seorang dengan pakaian serba putih. Haku dihentikan oleh dinding ruangan itu. Ia perlahan mebuka matanya menatap seseorang dihadapannya. Matanya agak buram tapi ia bisa melihat jelas kalau di pakaian orang itu terdapat tanda salib, palang merah.
'Tepat waktu.. ' Pikirnya yang langsung tidak sadarkan diri. Ia juga mengalami luka parah di punggungnya dengan bongkahan es yang menyebar di seluruh ruangan itu.
"Hey.. Nona.. Hey.. " Haku masih sempat mendengar suara seseorang memanggilnya. "ADA PASIAN YANG TERLUKA PARAH DISINI... SEGERA SIAPKAN PERALATAN.. "Teriak keras sosok itu.
End
Hope you like this. I am So sorry for typo...
