We Are Family
Chapter 14
Sakura menimang-nimang kertas di tangannya sambil beberapa kali menghela napas panjang. Meski ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, namun rupanya usaha itu tidak berhasil. Mengingat ia telah berjanji untuk tidak meninggalkan Naruto lagi; ia tidak mungkin mengingkari janjinya. Mungkin ia bisa saja membawa ikut serta Naruto ke Kiri, tapi bagaimana nanti dengan hal-hal lain seperti sekolahnya; pindah sekolah berarti harus membayar biaya lagi dan ia tidak yakin punya cukup uang untuk mengurus hal itu, belum lagi harus mencari tempat penitipan anak yang baru, juga tempat tinggal sewaan yang harganya terjangkau. Semua itu terasa begitu sulit baginya.
Di sisi lain, Sakura berpikir bahwa kesempatan besar ini belum tentu datang dua kali. Ini adalah langkah awal untuk mencapai cita-citanya menjadi dokter. Namun wajah tertawa Naruto berkelebatan dalam pikirannya. Ia tidak ingin membuat wajah polos Naruto sedih lagi. Lagipula janji adalah hutang. Meski Naruto hanyalah anak kecil, janji tetaplah janji.
Gadis itu tertunduk dan melipat kertas di tangannya. Angin sepoi-sepoi menggerakkan helaian rambut merah mudanya. Kedai belum kedatangan pelanggan lagi sehingga Sakura memilih untuk duduk sejenak di tangga teras belakang kedai yang mengarah ke taman kecil yang sejuk. Tanpa disadari, tempat itu menjadi tempat favoritnya untuk berpikir dan beristirahat.
Masalah ini terus menggelayuti pikirannya. Sebenarnya Sakura ingin membicarakan ini dengan Ino, namun ia tidak ingin melibatkan gadis itu dalam masalahnya. Ino-lah yang telah membujuknya untuk mengikuti tes di kampusnya, sudah pasti sahabatnya itu ingin ia mengambil beasiswa itu. Sakura jadi merasa tidak enak hati.
"Sakura-chan, kau sedang luang? Bisa membantu di dapur sebentar?" Suara maskulin Minato cukup membuat Sakura terhenyak. Buru-buru ia berdiri dan memasukkan kertas yang dipegangnya ke dalam saku celana, lalu berbalik dan segera menghampiri Minato.
"B-baik, Minato-nii. Aku segera ke sana," jawab Sakura agak kikuk. Ia pun membungkukkan badan lalu setengah berlari menuju dapur kedai. Minato menatapnya heran. Dirinya berpikir kalau gerak-gerik Sakura agak sedikit aneh.
Sebelum sempat beranjak dari tempatnya, iris biru Minato mendapati secarik kertas di lantai kayu teras tepat di hadapannya. Ia lalu membungkuk dan mengambil kertas yang sudah tampak kusut itu kemudian membacanya dalam hati. Matanya sedikit melebar melihat tulisan yang tertera di sana. Begitu selesai membacanya, Minato melipatnya kembali dan membawanya. Ia akhirnya mengerti kenapa Sakura sedikit aneh hari ini.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Waktu yang singkat memaksa Sakura harus segera membuat keputusan hari ini juga. Lusa adalah saat dimulainya upacara untuk mahasiswa baru. Dan besok adalah hari Minggu, maka Sakura tidak punya waktu untuk berpikir lebih lama. Ia juga belum menjawab percakapannya dengan Ino yang sempat diputusnya saat itu. Semuanya ini membuat kepala Sakura terasa mumet.
Maka malamnya Sakura mencoba untuk menghubungi Ino. Meski ia sempat ragu, namun ia harus mengabari sahabatnya itu. Sakura tahu Ino pasti menanti keputusannya. Dan seperti yang sudah bisa diduganya, Ino pasti heboh begitu mendengar jawabannya.
"APAAA?! Jangan bercanda, Sakura! Kau serius?" Lagi, suara nyaring Ino membuat Sakura menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Pelan-pelan, Pig!" rutuk Sakura seraya mengusap telinganya. "Aku sudah berpikir berulang kali dan sudah kuputuskan―"
"Tapi kenapa? Ini kesempatanmu, Sakura! Kau tidak bisa menyia-nyiakannya begitu saja. Ini demi masa depanmu!" potong Ino.
"Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi… aku tidak bisa meninggalkan Naruto lagi. Aku sudah janji padanya."
"Naruto? Adikmu? Bukankah kau bilang dia sudah tinggal bersama ibunya?"
"Memang, tapi itu hanya beberapa hari. Sekarang Naruto sudah tinggal kembali bersamaku. Banyak yang sudah terjadi, Ino. Naruto tidak mau tinggal bersama ibunya. Dia menangis setiap hari, meminta pulang, tidak mau makan sampai akhirnya sakit. Aku jadi merasa bersalah padanya. Karena itu aku tidak ingin membuatnya sedih lagi," jelas Sakura; tangannya terulur untuk menyingkirkan poni Naruto yang menutupi matanya. Bocah kecil itu kini tertidur pulas di tempat tidur Sakura. Semenjak pulang kembali, Naruto selalu meminta untuk tidur bersamanya. Sepertinya ia masih takut kalau Sakura meninggalkannya lagi.
Ino terdiam beberapa saat mendengar jawaban itu. Sakura dapat membayangkan bagaimana ekspresi Ino di seberang telepon. Ia juga pasti merasa kecewa dengan keputusan yang diambilnya. Bukannya Sakura tidak ingin, ia juga rindu menghabiskan waktu bersama sahabatnya itu, apalagi kalau bisa satu kampus, pasti akan menyenangkan.
"Bagaimana kalau kau ajak Naruto ke Kiri saja? Kau bisa tinggal bersamaku. Memang sih tidak begitu luas, tapi cukup untuk kita bertiga," tawar Ino akhirnya.
"Terima kasih, Ino, tapi aku tidak mau merepotkanmu. Bukan cuma itu saja masalahnya. Aku belum punya cukup uang kalau harus mengurus kepindahan sekolah Naruto."
Ino terdengar menghela napas. Ia mengerti ini pilihan yang sulit untuk Sakura. Padahal gadis merah muda itu pasti sudah menantikan kesempatan ini. Tanpa kedua orangtuanya, Sakura tidak bisa bergantung selain pada dirinya sendiri. Tapi, ia tidak menyangka juga kalau adik tirinya itu justru tidak ingin tinggal bersama ibu kandungnya. Aneh memang. Tapi mungkin itu membuktikan kalau Naruto benar-benar sayang pada Sakura sampai tidak ingin terpisah darinya. Bagi Sakura juga kebahagiaan Naruto lebih penting dari masa depannya. Ia jadi merasa ikut iba. Kenapa Tuhan seakan membuat kehidupan sahabatnya begitu sulit, sampai bertambah-tambah.
Dan meski sedikit kecewa, namun sebagai sahabat, Ino harus tetap mendukung Sakura, karena keputusan ini pasti jauh lebih berat bagi Sakura.
"Kau… benar-benar yakin dengan keputusanmu? Apa tidak ada jalan lain?" Ino kembali memastikan dengan suara yang terdengar lemah. Ia berharap Sakura berubah pikiran.
"Ya. Maafkan aku, Ino… padahal kau sudah membantuku dengan memberitahu beasiswa itu…"
"Apa yang kaukatakan, Sakura? Jangan meminta maaf. Aku tahu ini jauh lebih berat untukmu. Yah, memang aku sedikit kecewa, tapi ini juga di luar rencana, bukan? Tapi kuharap kau jangan menyerah dulu. Masih ada tahun-tahun berikutnya. Kalaupun tidak di sini, mungkin di tempat lain. Siapa tahu, kan? Jangan pernah berhenti berharap, Sakura."
"Hm, terima kasih, Ino. Kau memang yang terbaik."
Ino hanya membalasnya dengan suara cekikikan.
"Baiklah kalau begitu, meskipun aku juga masih ingin ngobrol banyak denganmu, tapi besok pagi aku masih harus bekerja," lanjut Sakura.
"Baiklah. Kapan-kapan aku akan mampir lagi ke rumahmu kalau sedang libur. Aku juga ingin bertemu Naruto lagi," jawab Ino sambil tertawa kecil.
"Aku tunggu."
"Sampai jumpa lagi kalau begitu. Tetap semangat, Forehead."
"Trims, Ino. Sampai jumpa."
Sambungan pun diputus. Sakura meletakkan ponselnya di atas bufet . Ia terdiam sejenak lalu kembali menatap Naruto. Anak itu terlihat damai dalam tidurnya. Sepertinya lusa dia sudah mulai bisa bersekolah lagi mengingat kondisinya sekarang sudah benar-benar sehat.
Sakura merendahkan kepalanya untuk mencium kening Naruto, lalu merebahkan diri di sampingnya. Namun belum sampai lima menit, Sakura kembali terbangun untuk meraih celana bekas bekerja tadi yang belum sempat ia masukkan ke keranjang cucian. Ia juga teringat memasukkan kertas pengumuman itu ke dalam sakunya.
Ketika dirogohnya, gadis itu tertegun begitu mendapati kertas itu tak ada di sana. Ia mencoba mengingat kembali dimana terakhir kali meletakkannya ―yang Sakura yakin sebenarnya menyimpannya di saku celananya. Ia pun beralih pada tasnya dan membongkar semua isinya, namun tetap tidak menemukannya juga.
Tak ingin berhenti sampai di situ, Sakura mencoba mencari di semua tumpukan buku di kamarnya. Lalu diteruskan mencari sampai ke ruang tengah dan ruang tamu; yang hasilnya nihil juga. Ia terdiam beberapa saat lalu menepuk jidatnya. "Tidak ada…," desahnya. "Apa mungkin terjatuh?"
Tak ingin ambil pusing, Sakura mengendikkan bahu. Toh ia sudah memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa itu, jadi ia tidak membutuhkan kertas itu lagi.
Kembali menghela napas, gadis itu menjejakkan langkahnya kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Menarik selimutnya perlahan, Sakura menjatuhkan kepalanya pada bantal lalu sesaat menatap langit-langit. Hanya suara napas Naruto yang tertidur di sampingnya yang kini terdengar. Seperti kata Ino, ia tidak boleh menyerah. Meski ia tidak tahu kapan, tapi Sakura tidak boleh patah semangat. Jalannya masih panjang dan ia harus tetap percaya masih ada kesempatan lain yang mungkin menunggunya. Untuk saat ini ia hanya harus terus berusaha.
Perlahan, kelopak matanya memberat dan tak lama kemudian Sakura akhirnya tertidur.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Minato mengecek kembali barang belanjaannya yang kini sudah menumpuk di troli. Pagi ini Minato sengaja berbelanja kebutuhan kedai yang sudah habis di supermarket, mumpung hari Minggu dan ia tidak punya acara. Rencananya, setelah ini ia akan berkunjung ke rumah Sakura untuk mengembalikan kertas yang sepertinya tertinggal itu. Ia berharap bisa membantu apa yang menjadi pikiran gadis itu. Minato tahu Sakura pasti tengah merasa kebingungan. Mungkin gadis itu juga merasa enggan untuk membicarakan ini dengannya.
Berjalan kembali untuk mencari kebutuhan terakhir di daftarnya, Minato menyusuri rak dan mengambil beberapa bungkus gula pasir lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Sampai kemudian suara wanita mengalihkan perhatiannya.
"Ah, Anda… bukankah Anda yang bersama Sakura di taman bermain waktu itu?"
Minato pun menoleh dan mendapati seorang wanita berambut kuning panjang. Kedua alisnya mengerut, mencoba mengingat-ingat. Tak lama kemudian, Minato pun akhirnya tahu siapa wanita di hadapannya ini. "Ya. Anda… ibunya Naruto-chan ya?"
"Benar. Benar sekali," jawabnya sambil tertawa kecil. "Aku Uchiha Naruko. Meski bertemu satu kali, tapi aku masih bisa mengingat Anda."
Minato balas tersenyum. "Namaku Namikaze Minato. Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Anda, Uchiha-san."
"Ya. Dunia ini begitu sempit, ya?" canda Naruko.
Minato menimpalinya dengan tersenyum.
Keduanya lalu berbincang ringan setelah keluar dari supermarket. Minato sebenarnya tahu kalau Sakura tidak begitu suka terhadap wanita di hadapannya ini, namun Minato tidak lantas ikut-ikutan menjaga jarak dengan Naruko. Menurutnya, Naruko orang yang cukup baik.
"Kudengar Naruto-chan sudah kembali tinggal dengan Sakura-chan ya? Maaf, pasti Anda merasa sedih."
Raut wajah Naruko berubah menjadi sendu. Meski begitu ia berusaha untuk memasang senyuman. "Begitulah, Namikaze-san. Sepertinya Naru-chan belum bisa menerimaku. Yah, memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa meluluhkan hatinya. Tapi sekarang aku tidak merasa keberatan. Sakura-chan juga adalah anakku. Meski agak sedih, tapi aku merasa lega. Aku akan tetap menjaga mereka."
"Ya. Mereka berdua memang tidak bisa dipisahkan sepertinya," Minato terkikik pelan.
Naruko hanya mengangguk dan tersenyum. "Aku bersyukur karena Sakura-chan mempunyai teman yang baik seperti Anda, Namikaze-san. Aku tahu selama ini dia berjuang sendirian, tanpa orangtua yang membimbingnya. Dia pasti mengalami banyak kesulitan. Terima kasih karena selama ini Anda selalu membantunya."
"Anda tidak perlu berterima kasih, Uchiha-san. Aku membantu apa yang kubisa. Aku juga tidak sampai hati membiarkannya sendirian. Dia memang gadis yang kuat." Tiba-tiba saja Minato teringat sesuatu. Ia pun mengeluarkan secarik kertas dari tasnya. "Oh ya, Uchiha-san, apa Anda sudah tahu mengenai hal ini?"
"Apa ini?" tanya Naruko setelah menerima kertas itu. Ia pun lalu membaca setiap kalimat yang tertulis di sana. Matanya seketika membulat. "Sakura-chan berhasil menerima beasiswa di Universitas Kiri? Hebat! Aku baru tahu hal ini, Namikaze-san."
"Sebenarnya aku berniat mengembalikannya hari ini pada Sakura-chan. Sepertinya Sakura-chan tidak sengaja menjatuhkannya sewaktu di kedai. Tapi aku jadi berpikir, sepertinya Sakura-chan merasa kebingungan."
"Kebingungan? Kenapa? Bukankah ini berita bagus?"
"Ya. Menurutku Sakura-chan ragu, antara mengambil beasiswa ini dengan menjaga Naruto. Aku melihatnya berwajah sedikit muram."
Naruko tampak tercenung. "Benar juga, Namikaze-san. Sakura-chan tidak mungkin membawa Naru-chan ke Kiri. Tapi waktunya hanya tinggal 1 hari, apa Sakura-chan sudah mengambil keputusan?"
"Sayang sekali aku tidak mengetahui hal itu, Uchiha-san. Kertas itu baru kemarin terjatuh, jadi aku belum sempat bertanya apa-apa padanya."
"Sakura-chan pasti memilih untuk tidak meninggalkan Naru-chan. Tidak boleh. Aku tidak bisa membiarkannya menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Apa yang akan Anda lakukan, Uchiha-san?"
"Aku akan bicara dengan Sakura-chan sekarang." Mata Naruko tampak berkilat penuh keyakinan. "Namikaze-san, terima kasih sudah memberitahuku. Aku harus melakukan sesuatu untuk Sakura-chan. Aku harap ia tidak keras kepala seperti biasanya."
Minato mengangguk dan akhirnya membatalkan niatnya untuk ke rumah Sakura. Naruko pun kemudian berpamitan pada Minato dan langsung bergegas menuju mobilnya untuk menemui Sakura.
::
~R.I.N.Z.U.1.5~
::
Sakura baru saja selesai menjemur pakaian di halaman belakang rumah. Ia pun lalu beranjak ke dalam. Dilihatnya Naruto tengah asyik dengan buku abjadnya sambil sesekali mengeja huruf-huruf yang ada di dalamnya. Gadis itu tersenyum kecil melihatnya.
Baru saja ia hendak mengambil minum, tiba-tiba saja seseorang memencet bel rumah. Sakura segera ke depan dan membukakan pintu. Tampak Naruko berdiri di depan pintu dengan napas sedikit terengah. Sakura terkejut dengan kedatangannya.
"Naruko-san, apa―"
"Sakura-chan, kau harus mengambilnya!" seru Naruko tanpa basa-basi. Kedua tangannya memegang bahu Sakura. Sakura semakin bingung.
"Maksud Anda?"
"Ini!" Naruko membeberkan selembar kertas di hadapan Sakura. "Kau tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini!"
Sakura tampak tercengang mendapati kertas beasiswa itu ada pada Naruko. "Bagaimana bisa…?"
"Namikaze-san yang memberitahuku. Dia menemukannya di kedai tempatmu bekerja. Dia bilang kau tidak sengaja menjatuhkannya."
'Ah, ternyata memang terjatuh di kedai. Kenapa harus Minato-nii yang menemukannya?' batin Sakura.
Setelah mempersilakan Naruko masuk, Sakura segera membuatkan secangkir teh manis untuk ibu tirinya itu. Naruto yang merasa terinterupsi oleh suara-suara di ruang tamu segera keluar dari ruang tengah dan terkejut saat melihat Naruko kini duduk di sofa. Ia pun segera berlari menghampiri Sakura dan memeluknya erat. Sepertinya bocah kecil itu takut kalau Naruko mengajaknya untuk kembali ke apartemen miliknya.
"Ahh, Naru-chan! Kau baik-baik saja, Sayang?" sapa Naruko. Melihat Naruto yang bersembunyi di belakang Sakura membuat Naruko tersenyum iba. Ia masih merasa bersalah pada buah hatinya itu. Mungkin Naruto masih trauma padanya.
"Narurin, salam dulu pada mamamu," ujar Sakura. Namun Naruto justru mencengkeram baju Sakura lebih erat.
"Naru nggak mau ikut lagi. Naru mau sama Sakura-chan," Naruto bergumam pelan, namun masih bisa terdengar oleh kedua perempuan itu. Mereka hanya saling berpandangan tidak enak.
"Naru-chan, jangan khawatir ya. Mama ke sini bukan mau mengajak Naru-chan untuk ikut dengan mama."
"Hei, ayo sini, Narurin." Sakura mengangkat Naruto dan membawanya duduk di pangkuannya. Naruto segera memeluk leher Sakura dan menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, seakan-akan tidak mau lepas darinya.
Naruko hanya mendesah pelan. Ia harus memperbaiki hubungannya dengan Naruto pelan-pelan. Perhatiannya pun lalu kembali tertuju pada Sakura. "Jadi, apa keputusanmu, Sakura-chan? Kau akan mengambil beasiswa ini, kan?"
Sakura menunduk, mencium puncak kepala Naruto. "Tidak, Naruko-san. Aku memutuskan untuk merawat Naruto di sini."
Jawaban Sakura sama persis dengan dugaan Minato. Naruko menggeleng pelan. "Tidak boleh, Sakura-chan. Ini kesempatanmu. Ini masa depanmu."
"Walaupun aku ingin, tapi aku tidak bisa meninggalkan Naruto. Aku sudah janji."
"Begini saja, kita pergi siang ini ke Kiri dan mencari sebuah rumah sewaan. Nanti biar aku yang menanggung biaya sewa rumahnya. Aku juga akan mengurus kepindahan sekolah Naruto dan membayar babysitter untuk menjaga Naru-chan selama kau kuliah. Bagaimana? Dengan begitu kau tidak punya alasan lagi untuk membatalkan beasiswa ini, bukan?"
Sakura tercengang mendengar keputusan gila Naruko. "M-mana bisa begitu, Naruko-san!"
"Kau tidak boleh menolak, Sakura-chan. Ini adalah permintaanku. Aku harap kau mau menerimanya."
Tanpa disadari cairan bening meleleh dari mata Sakura. Ia memeluk Naruto dan kembali menundukkan kepala, mencoba menahan air matanya, namun sia-sia. Tetesan itu justru semakin deras. "Kenapa? Kenapa kau melakukan ini, Naruko-san. Aku tidak mau merepotkan siapapun."
"Karena aku ingin melakukan sesuatu untukmu, Sakura-chan. Kau adalah putri kesayangan Kizashi, aku juga menyayangimu sama seperti ayahmu. Aku tidak ingin membuat kesalahan lagi. Aku yakin orangtuamu pasti berharap kau mendapatkan yang terbaik, termasuk masa depanmu. Mereka tidak ada di sampingmu untuk membantumu, maka aku yang akan menggantikan mereka. Meski jauh dari sempurna tapi aku akan selalu bersamamu, Sakura-chan."
Naruto mengangkat kepalanya dan bingung melihat Sakura yang menangis. Ia tidak mengerti apa yang kedua orang dewasa ini bicarakan. Naruto belum pernah melihat Sakura menangis. Dan ini sedikit membuatnya cemas. "Sakura-chan…?"
Naruko mendekat dan mengelus rambut Sakura, berusaha menenangkan gadis itu.
"Aku tidak tahu… apa yang harus aku lakukan sekarang. Bagaimana aku bisa membalasmu nanti…" suara Sakura terdengar putus-putus.
"Kau hanya harus belajar sungguh-sungguh demi mewujudkan cita-citamu, Sakura-chan. Kau tidak perlu bekerja untuk membiayai Naru-chan. Semua itu biar aku yang mengurusnya. Permintaanku hanya satu… tolong tetap awasi Naru-chan untukku. Sekarang, kalian berdua adalah hartaku yang paling berharga." Naruko memeluk Sakura dan Naruto bersamaan.
"Terima kasih. Terima kasih."
Naruko tersenyum lega. Ini hal kecil yang bisa ia lakukan saat ini. Melihat Sakura dan Naruto bahagia membuat dirinya ikut bahagia.
Sebuah foto yang terpajang di dinding ruang tamu menjadi perhatian Naruko. Iris birunya meneduh melihat dua sosok tersenyum yang ada di dalam gambar. Mendiang Kizashi dan Mebuki. Meski banyak dari masa lalunya yang membuatnya menyesal, namun ada banyak juga masa depan yang bisa memperbaikinya. Naruko kembali tersenyum.
'Kizashi, aku harap kau memaafkanku. Aku akan menjaga Sakura dan Naruto untuk membalas kesalahanku dulu. Semoga kalian berdua tenang di sana.'
End of chapter 14
A/N : Meski ini udah selesai, tapi next ada epilog. Maaf karena lama update, aku kehilangan mood menulis lagi… Aku juga masih harus menyelesaikan Sakura dan Kerajaan Sihir Konoha. Aku baru bisa menghasilkan setengah porsi cerita dan masih banyak yang harus dipikirkan, hehe… Tapi aku bakal berusaha untuk menyelesaikannya. Maaf untuk segala kekurangan dan kesalahannya.
Special thanks to:
Kim Ri Ha • MysteriOues Girl • samsulae29 • spring field sakura : makasih sarannya. Masuk pertimbangan dulu ya. Nanti coba aku pikirin lagi • Guest • Redcas • heztynha uzumaki : pertanyaanmu sudah terjawab di sini^^ • MJ • Fumiko Miki NaSa • Sitsuka Haruka • harunami56 • gui gui MIT • dhia : Hehe, aku ga marah kok. Maaf kalo minasaku bikin km kecewa, tapi meski gitu ada banyak juga yang suka minasaku^^. Yah, selera orang beda-beda. Fic juga tidak selalu ngikutin canon. Lagipula minasaku di sini bukan jadi sepasang kekasih, bukan? Jadi kita sama-sama saling menghargai aja, ok! Makasih :D • Minji-blackjack • Silvery Athena • Lsamudraputra •
